View 9. Nayaka Langkah Kecilku Raden Roro Dyah Mustikaning Pratiwi flipbook.
LANGKAH KECILKU TERNYATA BAGIAN PENTING DARI PERJALANANKU MENJADI VERSI TERBAIK DIRIKU I NYOMAN NAYAKA RAYA WAISNAWA Siapa Aku? Hai, namaku Nayaka. Aku anak dari Bapak dan Ibu arsitek. Aku si bungsu dari 3 bersaudara laki-laki. Kakakku yang pertama lebih tua 6 tahun dariku dan kakakku yang kedua lebih tua 4 tahun. Mari mulai dari Aku 3 tahun yang lalu. Saat itu Aku baru mulai bersekolah di Sekolah Dasar Taman Tirta. Aku di sekolah adalah anak yang pemalu dan hampir tidak bersuara jika diajak bicara oleh orang dewasa atau orang yang asing. Padahal Aku saat itu sudah bisa membaca dan berhitung. Tapi aku terlalu takut untuk berbicara. Ada sedikit rasa takut untuk salah. Padahal tidak ada yang memarahiku saat aku salah. Hanya saja Aku tetap ragu bicara. Tapi Aku dikelilingi teman-teman yang selalu mengajakku bercerita dan juga guru-guru yang mendukungku untuk mulai bersuara serta ikut bergabung dalam setiap kegiatan kelas. Rasa percaya diriku mulai tumbuh perlahan. Walau sekarang pun Aku terkadang masih ragu bicara, tapi Aku sudah berani bersuara menyampaikan pendapat dan jawabanku. Sedangkan, Aku di rumah adalah anak yang ceria dan cukup banyak bicara dengan keluargaku. Aku bahkan ikut mengobrol dengan teman-teman kakakku. Tapi aku kurang percaya diri untuk bersuara di depan orang dewasa walaupun itu adalah saudara- saudara dari orang tuaku.
Mereka sering mengajakku bicara dan menanyakan banyak hal. Salah satunya menanykan apa cita-citaku. Saat itu Aku diam saja, Aku mungkin belum tahu. Ketika aku sebagai anak-anak ditanya, apa cita citaku? Aku tidak tahu. Yang kutahu adalah Aku suka melihat peta dunia. Aku hafal letak negara-negara di dunia. Aku mengingat hampir seluruh bendera negara, apa warnanya, bagaimana coraknya, apa perbedaan di antara beberapa bendera negara yang memiliki kemiripan tersebut. Aku juga tertarik dengan alam dan pemandangan serta apa saja yang ada di negara negara itu. Aku membayangkan suatu saat nanti Aku akan menjelajahi dunia. Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi di negara lain. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menyentuh salju. Apakah sama rasanya dengan es batu? Aku membayangkan diriku terbang menikmati perjalanan, berpindah dari satu tempat indah ke tempat indah lainnya. Dari itu Aku mulai membayangkan sepertinya menjadi pilot atau pun pramugara itu menyenangkan. Mereka bekerja, mendapatkan uang tapi bisa sekalian bepergian. Rasanya menyenangkan. Kata Ibu, cita-cita itu bukanlah sesuatu yang tiba-tiba bisa tercapai. Cita-cita itu berasal dari kumpulan langkah-langkah kecil yang kukerjakan setiap hari bahkan setiap menit dalam hari hariku. Cita-cita juga bukan hasil menang dari bersaing dengan teman sekelas. Cita-cita adalah kemenangan kecil yang kita kumpulkan tiap hari untuk bersaing dengan diri kita sendiri. Kata Ibu, mulailah Langkah kecil itu saat ini, sekarang juga. Paksakan diri membaca sebaris lebih panjang, belajar semenit lebih lama. Menurutku itu tidak mudah, capek dan membosankan. Tapi kata Ibu, besok ulangi lagi. Jangan menyerah!
Langkah kecil saat ini akan menjadi kebiasaan dan menjadi rutinitas masa depan. Langkah kecilku ternyata bagian penting dari perjalananku menjadi versi terbaik diriku. Jadi mulailah berani bersuara, lebih rajin belajar dan lebih lama lagi membaca. Suatu saat kesukaanku akan negara-negara di dunia akan membuatku merasakannya langsung ke sana.