DANDELIONPDF

DANDELION A NOVEL BY ARANDARAS

2 | D a n d e l i o n PROLOG “Kakak, awas jatuh. Tanahnya licin habis hujan!” Suara tersebut begitu lembut namun terdengar sangat lantang sehingga anak kecil yang berada di kejauhan dapat mendengar suara tersebut. Suara-suara kendaraan yang lewat silih berganti seperti tidak terdengar dan tertutup oleh suara lantang tersebut. “Bu, tapi aku belum selesai mainnya.” Balasan tersebut berasal dari anak kecil yang sedang sibuk melompati kubangan air yang berada di pinggir jalan depan rumah. Dari kejauhan sesosok perempuan muda yang baru saja memasuki kepala tiga itu menggelengkan kepala, tersenyum melihat tingkah anak semata wayangnya yang berumur lima tahun tersebut. Ia dengan segera menutup payung yang terpakai akibat hujan deras yang membasahi daerah tempat mereka tinggal dan melangkah cepat menyusul anak kecil tadi agar tidak terlepas dari padangannya.

3 | D a n d e l i o n “Bu, kenapa kalau hujan selesai turun jadi buat kolam?” tanya anak kecil tersebut dengan raut wajah polosnya sembari menunjuk ke arah genangan air yang ada di pinggiran jalan. Perempuan yang dipanggil ibu tersebut tersenyum simpul seketika setelah ia berada di samping anaknya dan menggenggam tangan mungil anaknya. “Soalnya itu jadi tanda kalau hujan pernah turun di sini.” “Kalau gitu, aku boleh dong bikin tanda di sini?” “Kakak memang mau buat tanda apa?” “Aku mau buat tanda cinta biar orang-orang tau aku sama ibu pernah ada di sini,” ucap anak kecil itu dengan mata berbinar dan senyum di wajahnya. Perempuan tersebut mengangguk. “Tapi, kakak mau buat pakai apa? Kalau hujan, kan, pakai air. Kalau kakak?” tanyanya. “Kakak pakai tanah, biar nanti mudah diingatnya!” Anak kecil tersebut berjalan antusias, melepas genggaman tangan ibunya dan mengambil gumpalan tanah dengan tangan kecilnya itu. Ia mulai membangun

4 | D a n d e l i o n sesuatu seperti sebuah miniatur ataupun bisa dibilang lebih terlihat seperti sebuah tanah yang bertumpuk membentuk seperti sebuah batu. "Ibu, aku sudah selesai!” seru anak kecil tersebut. Pakaiannya yang tadinya bersih sudah mulai kotor dan basah akibat dari terkena tetesan air hujan yang masih ada dan tanah lunak yang sudah bercampur dengan air hujan. Wajah dan tangannya yang bersih dan mungil itu pun juga ikut ternodai dengan tanah tersebut. Ibu dari anak kecil tersebut hanya berdiri sembari menggelengkan kepala melihat tingkah anak kandungnya tersebut. Namun, kebahagiaan itu tak berjalan dengan lama. Tiba-tiba saja dengan waktu yang secepat kilat muncul mobil sedan berwarna merah dengan kecepatan tinggi menghantam dengan keras sesosok perempuan yang berdiri di pinggir jalan tersebut. Suara hantaman itu begitu keras dan memekakan telinga membuat siapa saja yang ada di sekitar daerah tersebut mengarahkan atensinya ke tempat lukasi kejadian. “Eh, eh, ada kecelakaan!” “Iya, ada tabrakan itu. Kencang banget lagi.” “Saya lihat tadi kayaknya ada korban deh.”

5 | D a n d e l i o n “Aduh, gimana itu korbannya? Selamat gak ya? Tadi kencang banget suaranya.” Kumpulan suara-suara tersebut muncul seketika setelah lautan manusia mulai berkumpul mengelilingi lukasi tempat kejadian tersebut. Raut wajah mereka terlihat panik, takut, ataupun gelisah setelah melihat sebuah kejadian mengerikan di depan mereka. Namun, mereka tak berani mendekat menuju sedan merah yang sudah terdiam itu karena dari bawah sedan merah tersebut terlihat mulai mengalir sebuah cairan berwarna merah pekat dengan intensitas yang banyak dimana semua manusia tahu bahwa kemungkinan besar korban dari kejadian itu tidak akan selamat. Suara riuh dari sekumpulan manusia yang penasaran membuat perhatian anak kecil yang sejak tadi sibuk memainkan tanah tersebut teralihkan. Ia menjadi penasaran kenapa banyak sekali orang dewasa yang berada di sekitar ibunya. Anak kecil tersebut bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju keramaian tersebut. “Ibu!” panggil anak kecil polos tersebut. “Ibu, aku sudah selesai membuatnya.” “Ibu, ayo main lagi.”

6 | D a n d e l i o n “Ibu! Kenapa ibu tidak menjawab?” Teriakan-teriakan polos yang keluar dari mulut anak kecil tersebut sukses membuat sekumpulan orang- orang disana mengalihkan atensinya ke arah anak kecil tersebut. Tatapan-tatapan yang tadinya panik dan ketakutan mendadak menjadi tatapan bisu yang penuh pilu melihat anak kecil dengan noda tanah di tangan, wajah, hingga bajunya berjalan ke arah mereka. “Kakak, kenapa ada disini? Mau main juga ya? Ihh ramai, ya, yang mau ikut main sama aku sama Ibu,” tanya anak kecil itu sembari menarik narik pelan pakaian yang dipakai oleh salah satu manusia diantara sekumpulan manusia yang setia menatap anak kecil tersebut dengan penuh iba. Mereka pun mulai berbisik-bisik entah membicarakan anak kecil tersebut atau membicarakan korban yang ternyata adalah ibu dari anak kecil tersebut. Seseorang yang dipanggil kakak tadi tentu saja menorehkan seluruh atensinya ke arah anak kecil tersebut. Mengenaskan. Mungkin itu adalah salah satu kata yang sangat menggambarkan anak kecil tersebut.

7 | D a n d e l i o n Anak kecil tersebut akhirnya digendong oleh seorang lelaki yang dilihat dari wajahnya masih cukup terbilang muda. Lelaki tersebut hanya menggendong anak kecil tersebut sembari mundur beberapa langkah. Menjauh dari suara-suara berisik sirine mobil polisi yang mulai datang serta ucapan orang-orang yang berada di sekitar itu tak membuat anak kecil di gendongan pria tersebut menjadi panik dan berteriak ataupun menangis kencang layaknya anak kecil lain seumurannya. Mungkin karena lelaki tersebut berada di barisan paling belakang. “Adek, tenang ya. Ibumu lagi pergi, kok.” Sebuah kalimat penenang yang sangat klise namun cukup ampuh untuk kapasitas otak seorang anak kecil yang belum mengetahui banyak makna. Anak kecil tersebut tentu saja menatap seorang lelaki dewasa di depannya dengan mata berbinar yang menyimpan banyak sekali harapan. “Kok, Ibu mainnya udah gak ajak aku lagi? Ibu mainnya sama polisi, ya? Tapi, kan, Ibu bukan orang jahat.” Shock.

8 | D a n d e l i o n Siapapun orang yang mendengarnya sekarang pasti terdiam, berdiri dengan kaku mendengar kalimat yang keluar dari seorang mulut anak kecil tersebut. Lelaki muda yang menggendongnya terlihat bingung juga, bagaimana cara dia mengalihkan atensi anak kecil tersebut agar tidak jatuh ke arah polisi yang sekarang masih sibuk mengevakuasi korban yang tak lain dan tak bukan adalah ibu dari anak kecil itu sendiri. “Adek, namanya siapa?” lelaki itu lantas mengeluarkan suaranya lagi, bertanya dengan lembut sembari berjalan menjauhi lautan manusia yang masih berkumpul tersebut. “Namaku Bintang, kak.” “Nama panjangnya?” “Reza Bintang Arthaya.” ***

9 | D a n d e l i o n 01 PERTEMUAN KLISE *** "Dek, bangun. Udah siang ini," ucap seorang pemuda dengan tinggi yang hampir menyerupai pintu yang ada di hadapannya. Pemuda tersebut mengetuk pintu kamar di depannya berkali-kali. Mendapati tidurnya yang terganggu oleh suara ketukan pintu, pemilik kamar tersebut langsung menghempaskan selimutnya dan bangkit dari alam bawah sadarnya dengan malas. "Iya, iya, Bang. Ini udah bangun." Setelah mendengar jawaban dan suara dari sang pemilik kamar, pemuda tersebut tersenyum penuh kejahilan. Ia memikirkan kata-kata apa yang bagus untuk membuat kesal sang pemilik kamar. “Kalau lama turun, abang yang makan semua nasi goreng ibu.” “Abang!!” Teriakan dari penghuni kamar sukses membuat pagi hari yang tenang di rumah itu pecah. Pemuda yang diyakini adalah saudara kandung atau kakak dari sang pemilik kamar beranjak dari depan pintu tersebut dan berjalan menuju arah tangga,

10 | D a n d e l i o n menuruni lantai dua yang berisi deretan kamar serta bergegas mengambil sarapannya. Oh, ya, kalian perlu mengenal terlebih dahulu siapa pemilik kamar yang berteriak tadi. Namanya adalah Ananda Bianna Alvaro, anak bungsu dari dua bersaudara. Pemuda yang tadi membangunkannya dan menjahilinya adalah kakak laki- lakinya yang bernama Fernandez Daniel Alvaro. Bian bangkit mengambil handuk yang ada di kamarnya lalu menuju kamar mandi dan kemudian bersiap siap menyiapkan peralatan sekolah. Ia sebenarnya belum sepenuhnya sadar dari alam mimpi ditambah kakak laki lakinya –Bang Daniel— yang menjahilinya membuat kadar emosi di dalam dirinya meningkat di pagi hari yang seharusnya damai dan tentram. Setelah ia dengan peralatan sekolahnya sudah siap, Bian bergegas turun menuju ruang makan. Ketika sedang asyik menuruni tangga, Bian tanpa sadar tidak menginjak salah satu anak tangga terakhir sehingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Dirinya jatuh terduduk dan terdiam menatap ayah, ibu, dan kakaknya yang diam mematung menatap Bian dengan raut terkejutnya. "Haduh, nih tangga reseh amat, sih!" kesal Bian sambil memukul salah satu anak tangga dan mengelus pantatnya yang

11 | D a n d e l i o n sudah mencium lantai. Wajahnya memerah, menahan malu karena keluarganya menonton kecerobohannya di pagi hari ini. Dari ujung matanya, ia dapat melihat kakaknya berusaha menahan tertawa, sedangkan ibunya menghampiri dirinya untuk menolung Bian untuk berdiri. "Dek, dek, makanya mata tuh dibuka malah nyalahin tangganya. Cepat 15 menit lagi udah mau masuk, luh," ucap Ibu Bian. Bian membuka matanya lalu berlari dengan cepat ke meja makan kemudian memakan sarapannya. Ayah Bian sudah pergi terlebih dahulu setelah Bian berdiri dari jatuhnya meninggalkan dirinya dengan Daniel yang sekarang sedang membersihkan bekas makan dan ibunya yang sedang membereskan ruang tamu sekaligus ruang keluarga mereka. "Bang Iel! Anterin adek!" Bian berteriak memanggil kakaknya setelah ia menghabiskan sarapannya dan melihat Daniel berjalan menuju pintu depan. "Males, siapa suruh lama. Berangkat aja sendiri!" balas Daniel menghiraukan teriakan adiknya itu. Memang, ya, punya kakak laki-laki kelakuannya 11 12 kayak setan.

12 | D a n d e l i o n Bian mendecak, bangkit berdiri menuju pintu depan dan menarik daun telinga kakaknya yang sedang memakai sepatu. "Anterin adek atau adek gak beliin abang jeli lagi!" "Iya, iya dek. Eh, udahan tarikannya. Sakit tau." Bian pun melepaskan tarikannya setelah kakaknya meringis kesakitan -yang ia tahu hanya bercanda saja- dan pergi menuju garasi diikuti oleh kakaknya. “Bu, kami pamit dulu, ya!” seru Bian berpamitan dengan ibu mereka yang berada di dalam rumah. Kakak beradik itu kemudian berangkat ke sekolah meninggalkan rumah kecil mereka. "Bang, cepetan atuh. Udah mau tutup nih gerbangnya," teriak Bian sambil menepuk nepuk bahu abangnya. Bang Daniel hanya memutar bola mata malas sembari menaikkan kecepatan motor yang ia kendarain. Jantung Bian menjadi berdetak kencang. "Bang Iel, pelan-pelan, ah." "Lah, katanya suruh cepetan? Gimana, sih?" teriak Bang Niel. Bian hanya mencibir di balik helmnya, terdiam berpegangan erat di pinggang kakaknya. Ia merapalkan doa agar sampai di sekolah dengan tidak terlambat dan selamat. "Bangun, dek. Udah sampe ini, jangan tidur lagi."

13 | D a n d e l i o n Daniel memberhentikan motornya ketika sudah sampai di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup. Bian membuka pejaman matanya kemudian turun dari motor dengan lemas. Hadeh telat Daniel yang melihat reaksi Bian seperti itu, menepuk kepala Bian dan mengelusnya, "lain kali bangun itu lebih pagi, jangan nonton drakor malam-malam." "Ihh, tapi kan enak malam-malam adek gak diganggu abang. Kalau habis pulang sekolah mah, abang selalu ganggu," keluh Bian kemudian menyingkirkan tangan Daniel perlahan dari kepalanya. Daniel tertawa kecil. "Dinasehatin malah ngeyel. Udah sana manjat gerbang. Gurunya belum masuk ke kelas kan jam segini?" saran Daniel kemudian menghidupkan mesin motornya dan pergi dari hadapan Bian meninggalkan dirinya dalam kebingungan. Bian menghembuskan nafas pelan dan membalikkan badannya. Baru saja membalikkan badannya, ia tiba tiba dikejutkan dengan pemuda berseragam sama dengannya yang mencoba lompat dari gerbang. Pemuda yang seumuran dengannya itu sama terkejut bukan main melihat ada seorang wanita berdiri terdiam menatapnya dengan penuh tanda tanya. Ia langsung turun dan

14 | D a n d e l i o n mencoba merapikan pakaiannya, bertingkah seolah olah barusan bukan dirinya yang melakukannya. "Lu bolos, ya?" tanya Bian menaikkan salah satu alisnya dan menatap lelaki itu tajam. Laki-laki yang ditatap Bian itu malah mengamati wajah Bian dengan teliti. "Lu habis dibedakin? Berantakan banget itu muka lu." Bian melongo terkejut, menahan malu. "Emang iya? Perasaan gue apply bedak tipis doang, deh. Aduh, mana sih kaca gue." Dirinya sibuk menunduk, mencari kaca yang biasanya ia bawa di dalam tas sembari menyembunyikan rasa malunya. Laki-laki yang di hadapannya kini memalingkan wajahnya dengan bibirnya yang terkatup rapat, bergetar menahan tawa akibat reaksi lucu Bian. "Gue bercanda.” Laki-laki itu bersuara kembali setelah melihat Bian yang tidak kunjung selesai mencari barang di tasnya. Perempuan dengan tinggi sedadanya itu mengangkat wajahnya dengan raut wajah kesal, "lu, ya. Semua cowo sama aja, bikin gue marah mulu," ujar Bian merapikan tas dan juga rambutnya. Laki-laki dihadapannya mengusap tengkuknya dan menjulurkan salah satu tangannya. "Kenalan dulu deh, gue Bintang anak IPA 3. Nama lu siapa?"

15 | D a n d e l i o n Bian menerima uluran tangan itu. "Gue Bian, anak IPS 1. Salam kenal," balasnya. Laki-laki yang bernama Bintang itu mengangguk dan tersenyum. Senyum yang sepertinya Bian sering lihat. Senyum yang persis seperti abangnya, eye smile. Setelah sesi perkenalan itu selesai, mereka menjadi canggung. Bintang yang ingin membolos dan kabur tak tega melihat raut wajah Bian yang cemas dan kebingungan karena terlambat. "Bian, boleh gue bantu gak?" panggil Bintang menawarkan bantuan. Bian menoleh dan menggeleng. "Gak usah, Bin, gue nunggu satpamnya ajalah. Biarin gue kena marah, yang penting habis ini gue gak kena marah di rumah." Dengan entengnya Bian mengucapkan itu lalu mendekati gerbang sekolah, menjinjit sedikit mencoba mengintip di celah-celah besi gerbang yang terlihat sudah lama dan sedikit berkarat, mengamati apakah ada satpam atau guru yang lewat. Namun, ia dikejutkan dengan Bintang yang tiba-tiba memegang kaki kecilnya. "Ish … apaan sih, Bin, dasar mesum ya lu!" seru Bian memukul pelan bahu dan kepala Bintang yang mulai perlahan lahan mengangkatnya. "Ini biar gampang, Bian, lu masuk. Kebetulan guru-guru gak ada, kan? Gue kalau mau nyari tangga juga kelamaan, di

16 | D a n d e l i o n sekitar sini mana ada tangga," ucap Bintang dengan santai yang malah membuat Bian kesal. Untungnya rok sekolah yang ia pakai berada di bawah lutut, jadi tidak terlalu malu-malu amat. "Turunin gue, Bintang!" "Engga mau. Lu mau telat atau mau bolos sama gue?" Perkataan Bintang membuat Bian tersadar. Benar juga, kalau dia ikut Bintang bolos adanya dia bisa cepat cepat darah tinggi. Selain itu juga, orang tuanya akan memarahinya terlebih kakak laki-lakinya jika mengetahui adik perempuannya malah bolos sekolah. "Gue pilih pilihan pertama aja deh," ujar Bian. Bintang tersenyum dan dengan perlahan dan hati-hati mengangkat tubuh kecil Bian menuju sisi gerbang sekolah yang tak terlalu tinggi. Ia tidak ingin membuat seorang perempuan yang baru bertemu dengannya secara tak terduga memiliki luka lecet di tubuhnya. Di sisi lain, Bian berpegangan di bahu Bintang dan memejamkan matanya, mencoba melawan ketakutan dan kegugupannya. "Bian, buka mata lu. Gapapa, lu gak bakalan jatuh kok." Bintang mencoba menenangkan Bian yang gugup. Bian menghembuskan nafasnya pelan dan perlahan membuka pejaman matanya, mencoba mulai mempercayai Bintang. Badannya terasa ringan saat diangkat. Saat tubuhnya sudah setara dengan ujung atas gerbang, dengan perlahan

17 | D a n d e l i o n Bintang melangkah lebih dekat kearah gerbang. "Jadi, habis ini gue ngapain?" tanya Bian bingung. Bintang berpikir sejenak. "Ya, turun, disana ada kursi kan?" Bian menggeleng dengan wajah polos. Bintang terdiam. "Kalau lumpat langsung gimana? Lu berani, kan?" Pertanyaan Bintang membuat Bian tertegun. Sejauh ini memang aman-aman saja. Sebenarnya Bian tidak terlalu takut melakukan apa yang dikatakan Bintang. Namun, satu hal yang membuatnya khawatir adalah bagaimana kalau ketahuan sama guru yang lewat? Atau ketahuan sama satpam sekolah yang bisa saja tiba-tiba muncul? Bintang mengernyit heran. Perempuan di depannya ini tidak menjawab pertanyaannya dan malah melamun. "Masih takut nanti kalau ketahuan guru? Udahlah turun aja, bukannya lu harusnya paham jam berapa guru keliling?" Bian melirik Bintang tajam. "Berisik. Ya udah, terima kasih atas bantuannya." Setelah mengucapkan terima kasih dengan nada acuh tak acuh, Bian langsung melompat dari atas gerbang dan berlari meninggalkan Bintang yang tersenyum mengejek. "Itu siapa yang ada di luar gerbang!?"

18 | D a n d e l i o n Setelah mendengarkan teriakan dari satpam sekolah, Bintang lekas berlari dan kabur dari sana. ***

19 | D a n d e l i o n 02 SEANDAINYA *** Diiringi sebuah lantunan lagu dengan instrumen yang menenangkan, Bintang sedang asyik mengupas sebuah buah apel dan memberikannya ke wanita paruh baya yang sedang berupaya bangkit dari tidurnya. "Terima kasih ya, Nak. Maaf banget udah repotin kamu selama ini." Terdengar ucapan rintih dari wanita dengan kisaran umur yang sebentar lagi menginjak separuh abad. Terlihat wajah pucatnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan berbagai alat medis yang tak pernah Bintang mengerti. Bintang tersenyum dan mengangguk. Ia meraih tangan wanita yang sangat rapuh dan mulai memunculkan keriput- keriput yang sangat menganggu pikiran Bintang dan mengusapnya perlahan. "Ibu nggak ngerepotin Bintang kok, malah Bintang senang kalau di dekat ibu seperti ini." Mendengar itu membuat hati wanita tersebut menghangat. Wanita paruh baya itu tersenyum kecil, mengelus rambut anak kandungnya itu. "Lalu, bagaimana dengan sekolahmu, Nak? Apa kamu tidak tertinggal pelajaran kalau

20 | D a n d e l i o n seperti ini terus? Sekolahmu itu lebih penting daripada ibumu yang penyakitan ini." Hati kecil Bintang tersinggung. Ia menggeleng, menangkup tangan ibunya dengan kedua tangannya. "Ibu, gak boleh ngomong gitu. Bintang pasti bisa kok buat mengejar pelajaran sekolah yang tertinggal, yang paling penting ibu sehat dulu." Sosok yang dipanggil ibu tersebut meringis. Bahkan dirinya sendiri tidak yakin bisa lepas dengan segala urusan yang berkaitan dengan rumah medis ini. Anaknya sangat pandai sekali menenangkan hati ibunya yang tak pernah berhenti untuk mengkhawatirkan masa depan anaknya. Pintu kamar rawat tersebut berdecit. Muncul sesosok pria tinggi yang terlihat masih awet muda walaupun sudah memasuki kepala empat dengan senyumnya membawa sebuah kantong plastik kresek putih berisi snack dan keperluan lain. Ia berjalan menghampiri Bintang dan ibunya. "Anak ayah, kan sudah ayah bilang biarkan ayah dan perawat-perawat di sini merawat ibumu. Kenapa masih bandel, sih? Sekolahmu ituluh lebih penting daripada kami," ucapnya enteng sembari mengelus elus rambut Bintang dan istrinya bergantian.

21 | D a n d e l i o n Bintang hanya tersenyum menanggapi perkataan ayah kandungnya itu. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi selain menurut, mengambil tas, dan mengucapkan salam kepada kedua orang tuanya. Tak lupa juga ia mencium tangan ayah dan ibunya yang sudah termakan usia. "Hati-hati nanti di jalan, ayah pastikan ibumu bakal baik- baik aja disini." Mendengar sedikit nasihat dari ayahnya membuat hati Bintang menghangat. Ia menghembuskan nafas berat, kemudian menggenggam gagang pintu kamar rawat tersebut. Rasanya sangat berat hanya untuk melangkah selangkah saja dari ruangan itu. Bintang berusaha menahan air matanya dan pergi dari sana. Ia berusaha untuk tetap kuat. Seandainya saja keluarganya yang sekarang sehangat itu. *** "Bian, kalau misalnya nanti Seojun beneran pacaran sama Jukyung lu terima gak?" "Ya, jelas lah nerima masa enggak." "Yah, gue kira lu mau bilang nggak," kata perempuan di sebelah Bian sembari mengunyah makanannya dengan ekspresi cemberut yang dibuat buat. Bian hanya mendengus geli. "Siapa

22 | D a n d e l i o n tau ada plot twist, ternyata Seojun sama Suho kembar terus Jukyung nya dibagi dua." "Ngawur." Bian tertawa mendengar balasan temannya. Mereka sedang menghabiskan waktu istirahat mereka di halaman sekolah yang begitu luas. Terdapat jejeran bangku di samping bangku yang mereka duduki. Pohon-pohon terlihat rindang dengan daun-daun yang perlahan jatuh tertiup angin. "OI, AYU!" Sebuah teriakan terdengar berasal dari seorang murid laki-laki dengan almamater merah maroon-nya yang menutupi dasi dan seragam sekolah menghampiri mereka berdua. Wajahnya nampak sangat cerah dengan senyum yang lebar. "Ayu, anime yang kemarin kita bahas itu apa sih? Yang ada scene berantemnya? Judulnya apa? Yang gue inget nama karakternya ada Narto Nartonya gitu." Ayu, perempuan yang berada di samping Bian sejak tadi, yang tadi dipanggil oleh siswa laki-laki di depan mereka menepuk jidatnya. "Banyak ya, Alvy, anime yang ada scene itu. Itu Naruto anjir judul animenya, bukan Narto. Lu kira dia orang Depok?" ketus Ayu. "Depok itu di mana? Nama negara? Kok lokal banget?" Siswa laki laki itu bertanya balik.

23 | D a n d e l i o n Ayu menghembuskan nafas, lalu menarik telinga siswa tersebut dengan kesal. "ALVYYYY, LU BENERAN NGESELIN YA!" teriaknya tepat di telinga siswa tersebut. Siswa yang dipanggil Alvy tadi sontak saja terkejut dan menghindar dari sana. "Gue nanya baik-baik juga, malah dijewer." Bian yang melihat itu hanya tertawa. Walaupun Bian berbeda kelas dengan Ayu, namun ia suka dengan dinamika pertemanan mereka. Perutnya seperti terlilit sekarang melihat kelakuan kedua orang yang berseteru di depannya. Ia bahkan sudah tidak ada suara untuk tertawa lagi. "Udah-udah woi, buruan balik bentar lagi bel bunyi!" Bian menengahi perdebatan mereka dan mengajak Ayu untuk bangkit berdiri berjalan menuju kelas masing-masing. Alvy menatap Bian dengan wajah sedih dibuat buat. "Yahh, gue masih belum puas." "Belum puas apaan?" tanya Ayu menyahuti pernyataan Alvy. "Belum puas bikin pipi lu merah." Seketika Ayu beranjak dari tempat duduknya, mengejar Alvy yang sudah lebih dulu berlari. Bian menggeleng geleng kepala, sudah biasa dengan tingkah konyol mereka yang semakin hari semakin menjadi jadi.

24 | D a n d e l i o n Di saat ia sedang berjalan santai sembari membawa bekalnya melewati gerbang belakang sekolah, muncul Bintang yang tiba-tiba entah darimana sudah berada di sampingnya. Bian yang melihatnya, menatapnya heran. "Shht, diam, ya?" "Ha?" Bian bingung. "Diam, ya? Jangan bilang ke guru." Bian hanya mengangguk, tak paham dengan jalan pikiran seorang siswa di depannya ini. Ia masih bingung kenapa Bintang kembali lagi ke sekolah. Setahu Bian, kalau seperti di sinetron-sinetron gitu siswa yang bolos biasanya pergi jauh banget entah itu nongkrong atau main permainan online. Lah, kenapa manusia satu ini lebih memilih Kembali ke sekolah? Untung saja suasana di gerbang belakang sekolah sudah tidak ramai dan terlihat sepi. Hanya tersisa satu sampai tiga anak yang masih berada di halaman belakang gedung sekolah ini dan semuanya sibuk dengan obrolan atau urusan masing masing sehingga tidak melihat mereka berdua. "Lu ngapain balik? Bolos mah bolos aja," celetuk Bian. Bintang yang mendengar celetukan Bian hanya mendecak. "Itu mah buat siswa yang nakal aja. Gue bolos bukan berarti gue nakal," jelas Bintang.

25 | D a n d e l i o n Bian semakin terheran heran. "Loh, jadi selama ini lu begini dikira bukan anak nakal? Sejak kapan ada namanya siswa bolos baik-baik?" tanya Bian balik. Bintang semakin bingung. "Mana gue tau. Selama ini gue selalu balik, kok. Gak pernah ketahuan juga." Bintang menggaruk garuk kepalanya kemudian memasang ekspresi heran. "Aneh." Sesaat setelah satu kata terakhir itu Bian ucapkan, ia pergi meninggalkan Bintang yang menatapnya penuh tanda tanya. "Jadi, selama ini dia udah termasuk list anak nakal?" ***

26 | D a n d e l i o n 03 PULANG SEKOLAH *** Terik matahari begitu menyengat saat bel pulang berbunyi. Para siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas menuju gerbang sekolah yang mulai terbuka. Lorong sekolah seketika ramai dengan para siswa maupun siswi yang sangat antusias untuk pulang. Nampak Bian sedang berjalan sendiri menuju tangga sembari sesekali menyapa siswa yang sekilas ia kenal namanya. Saat ia sedang menyapa salah satu siswa, ia melihat sosok yang nampak tak asing sedang membawa tumpukan kardus di hadapannya. Tumpukan kardus itu menjulang tinggi sehingga pandangannya terhalang. "Mau gue bantu?" Bian menghampirinya sembari menawarkan bantuan. Siswa yang membawa kardus tersebut berhenti melangkah dan sedikit mengarahkan kepalanya ke arah samping. "Luh… Bian?" "Bintang? Ngapain lu bawa kardus sebanyak ini?" Bian bertanya sembari berusaha mengambil sebagian kardus yang dibawa Bintang.

27 | D a n d e l i o n "Eh, lu ngapain anjir. Ini tugas gue, lu gak usah bawa!" seru Bintang. Bian tidak mendengarkan ucapan Bintang. Ia tetap berusaha mengambil sebagian kardus. Melihat Bian sedikit kesusahan, Bintang berinisiatif menurunkan badannya sedikit agar Bian bisa mengambil sambil bergerutu dalam hati. Bian menggenggam erat dua buah kardus yang kini berada di hadapannya. "Jadi, kardus-kardus ini mau dibawa kemana?" tanyanya. Bintang kembali menegakkan tubuhnya dan berjalan terlebih dahulu. "Ke ruang osis yang baru," jawab Bintang. Bian mengangguk. "Isi kardus-kardus ini apa Bin? Kenapa elu yang bawa?" tanya Bian lagi. "Gue disuruh Pak Danis bawa kardus isinya peralatan osis yang baru," sahutnya. Bian kembali mengangguk. Mereka berdua tetap berjalan sambil diselimuti keheningan. Sesampainya di ruangan osis baru, nampak ada lima orang kakak kelas —terlihat dari kain kuning di lengan mereka— sedang melakukan pengecheckan dan bersih-bersih. Bian yang masih berada di pintu menjadi segan dan canggung. Ia tak pernah sekali pun berinteraksi dengan anggota-anggota osis yang menurutnya menyeramkan.

28 | D a n d e l i o n Bian pun tidak tahu pikiran tersebut muncul darimana. Mungkin ia kebanyakan melihat tontonan drama ataupun buku- buku yang menggambarkan osis-osis di sekolah itu sangat berkuasa dan punya senioritas tinggi khususnya kepada adek kelas mereka. "Permisi, kak, kardus-kardus ini ditaruh di mana ya, kak?" ucap Bintang ramah, tak lupa juga dengan senyum yang membuat matanya hilang. "Diletakkan di sebelah sana aja ya, Bin!" Salah satu dari lima orang tersebut memberikan perintah terhadap mereka berdua. Dengan cekatan dan sigap, mereka meletakkan kardus- kardus itu dan meninggalkan ruangan tersebut. Namun, baru saja berada di garis pintu, salah satu dari mereka berteriak. "Bin, itu cewe lu?" "Gak usah fitnah deh lu, kak!" Bintang membalasnya dengan sanggahan. Bian yang mendengar itu malah geli sendiri. Baru kali ini ia dikira seorang pacar oleh orang lain. Oh, tidak. Apa ini Bian? Bukannya harusnya menyanggahnya juga. "Bian, gak usah dengar omongan kak Kawin. Anaknya suka ngadi-ngadi kalau ngomong."

29 | D a n d e l i o n Kakak kelas yang tadi disebutkan namanya itu berteriak kencang. "NAMA GUE KAI, BUKAN KAWIN YA TATANG!!" "KAK KAWIN YANG MULAI DULUAN." "Huss, Kai. Cepat itu diberesin, bentar lagi udah mau jam empat." Salah satu dari kakak osis yang berada di ruangan itu menegurnya. Dengan tertawa, Bintang menutup pintu ruangan osis tersebut dan berjalan menuju tempat yang seharusnya sejak awal tadi Bian sampai. Parkiran. "Eum, emang nama lengkapnya siapa, Bin?" Bian bertanya sambil mereka berdua berjalan menuju parkiran. Sebenarnya Bian tak peduli, tak ingin juga, tetapi rasa ingin tahunya mengalahkan rasa ketidakpeduliannya sehingga ia harus meluntarkan pertanyaan seperti itu. Bintang menoleh. "Namanya Kawindra. Orang orang sering panggil dia Kai, kecuali gue sama teman gue yang bernama Hans lebih sering manggil dia dengan panggilan tadi," jelasnya. Bian mengangguk dan sedikit terkejut. "Wah, berarti lu punya banyak teman ya?" Bian kembali bertanya namun ia malah mendapatkan hembusan nafas berat dari Bintang.

30 | D a n d e l i o n Bintang menolehkan wajahnya ke kanan, menghindari tatapan penasaran Bian dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Lumayan sih," ucapnya santai. Lalu Bintang mengecilkan sedikit volume suara dari mulutnya. "Tapi yang beneran mah sedikit." Suara Bintang terdengar sangat lirih hingga Bian yang berdiri tepat di sampingnya tidak dapat mendengarkan satu kalimat yang dikeluarkan. "APA?" "Ha, apa?" Bintang kembali menatap wajah Bian dengan santai. Bian yang tadi mendengar sesuatu, menatap Bintang dengan tajam dan penuh tanda tanya. "Lu tadi ngomong apaan?" "Yang mana?" tanya Bintang balik. "Itu... Yang tadi." "Yang mana sih?" "Yang tadi luh. Yang sebelum gue ngomong apa." "Lumayan sih." "Enggak, setelah itu." Bian tetap bersikukuh ingin mendengar ulang perkataan Bintang tadi. "Apasih. Engga ada." Bintang menyangkal dan melihat Bian dengan aneh.

31 | D a n d e l i o n Bian menghela napas, menyerah. Ia tidak mau mengeluarkan tenaga yang tidak seberapa hanya untuk berdebat dengan seorang siswa laki-laki yang terus menerus secara kebetulan ia temui di sekolah ini. Bintang yang mendengar helaan napas itu tersenyum lebar. Sesampainya di parkiran, mereka menjadi terpisah. Bintang berjalan menuju ke arah kiri, tempat motor siswa maupun karyawan dan guru ditempatkan sedangkan Bian ke sebelah kanan tempat mobil, sepeda terpakir beserta pos satpam dan gerbang masuk keluar sekolah. "Oi, Bin." Panggilan dari seseorang yang sangat ia kenal suaranya membuatnya menoleh. "Kenapa Vi?" tanyanya. "Hari ini gue bakal nonton pertandingan bola basket antara SMA Taruna lawan SMA Angkasa. Kebetulan gue punya dua tiket, lu mau ikut nonton?" ajak Alvy. Namun ajakan Alvy ditolak oleh Bintang. "Gue gak bisa. Bapak gue hari ini pulang lebih awal. Sebelum gue pulang juga, masih harus ngurus ibu di rumah sakit. Maaf ya, Vi," ujar Bintang. Alvy menurunkan bahunya yang tadi nampak antusias. Kecewa? Jelas. Tapi, apa boleh buat, keluarga memang harus dinomor satukan dan pada kasus ini Alvy sendiri tahu kondisi

32 | D a n d e l i o n keluarga Bintang seperti apa. "Okedeh, gapapa. Titip salam ya buat ibu lu, semoga cepat sehat dah." Bintang tersenyum dan mengangguk. Setelah memberi pesan itu, Alvy meninggalkan Bintang dan menemui gerombolan temannya yang sepertinya akan ikut untuk menonton basket tadi sedangkan Bintang memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya kemudian keluar dari parkiran sekolah. Namun, sesaat setelah ia keluar dari parkiran, ia melihat seseorang perempuan yang sedang berjalan sendiri. Entah inisiatif darimana, Bintang menggerakan motornya menuju perempuan yang sepertinya ia kenali. Saat ia berhenti di samping perempuan itu dan membuatnya terkejut, sekilas ia tahu kalau tebakannya benar. "Oi." "Asem!! Siapa lu?" tanya Bian galak. Bintang membuka helmnya. "Gue Bintang anjir, masa gak kenal gue." "Dih, sapa tau lu abang-abang tukang gorengan yang suka nagihin utang ke anak SMA. Lagian, lu ngagetin sih!" seru Bian.

33 | D a n d e l i o n Bintang tertawa kencang mendengar seruan itu. “Berarti, lu pernah ngutang dong sama abang-abang gorengan? Beli 2 ngambil 5, bayar hanya Rp 5.000,- doang.” Bian yang tadinya sudah kesal menjadi tambahlah kesalnya saat melihat Bintang malah tertawa dan menggodanya. "BINTANG!!" Teriakan Bian membuat Bintang menghentikan tawanya dan tersenyum mengejek. Bian menggerutu. "Terus, lu ngapain disini? Gak pulang?" tanya Bian. "Ya, ini gue mau pulang. Seharusnya gue yang tanya lu daritadi, siapa yang jemput lu? Memangnya rumah lu gak jauh dari sekolah?" Bintang kembali bertanya balik. Bian berdecak kesal. "Santai, gue minta jemput abang gue, kok. Lumayan jauh sih sebenarnya dari rumah. Kebetulan tadi gue udah telpon abang gue yang lagi kuliah, mungkin sebentar lagi datang,” ucap Bian menjelaskan serinci mungkin. Bintang yang mendengar merasa kasihan. "Gue anterin, mau?" tawarnya berusaha membantu. Sayangnya, usahanya untuk membantu gagal ketika ada sebuah mobil menghampiri mereka berdua. "Dek!! Mau pulang engga? Itu gummy bear kesukaan lu ada di rumah. Gue habisin nih!" Teriakan seseorang dari dalam

34 | D a n d e l i o n mobil dengan kacanya yang sudah diturunkan membuat obrolan mereka berdua terpaksa berhenti. Bian tersenyum. "Makasih ya, Bin, tawarannya. Gue duluan ya," ucap perempuan itu dengan antusias menuju mobil. Bintang mengangguk. Tanpa sengaja atensi nya tertuju pada seorang laki-laki berkacamata hitam dengan baju kaos berwarna hitam juga menatap ke arah dirinya. Namun, perhatian itu tentu saja tidak lama. Atensinya berhenti ketika mobil itu sudah bergerak dan menampakkan Bian yang sudah melambaikan tangan ke arah dirinya. Bintang membalas lambaian tangan itu dan menatap mobil itu dengan sendu. "Hm... Kakak ya." ***

35 | D a n d e l i o n 04 JARAK *** Seperti sore kemarin-kemarin, sore itu tetap menjadi sore yang biasa dan melelahkan bagi Bintang. Kedatangannya di rumah seperti biasa hanya sapaan dari adiknya, Jeka, dan bunyi si Mercy, burung jenis jalak suren kesayangan mereka berdua. "Sudah pulang, kak?" Jeka bertanya dengan nada mengejek saat melihat raut wajah Bintang yang nampak lelah. "Pertanyaan macam apa itu, Jek? Jelas-jelas tubuhku di sini. Apa kamu ingin aku menghancurkan lukisan yang ada di kamarmu?" balas Bintang. Jeka memelutotkan matanya. "Kak binbin, jangan macam-macam ya!" Ia berjalan menuju ke arah kamarnya dan langsung mengunci pintu. Bintang tertawa melihat kelakuan adiknya itu. Umur mereka yang hanya berbeda dua tahun tak lekas membuat mereka canggung. Bahkan mereka sangat dekat seperti layaknya saudara kembar–menurut orang lain–, karena itu sudah sangat biasa dan menjadi sebuah rutinitas untuk melontarkan candaan satu sama lain.

36 | D a n d e l i o n Rumah sederhana dengan satu lantai tersebut sebenarnya cukup ramai dan berisik. Hanya saja setiap ayah mereka datang– yang entah bisa dipanggil ayah atau tidak oleh Bintang dan Jeka–suasana rumah tersebut menjadi suram dan hening. Tak akan ada yang berani untuk meramaikannya. Bukan, bukan tidak berani untuk meramaikan, tetapi di mata ayahnya mereka seperti ngengat penganggu. Ayah mereka adalah seseorang yang sangat sibuk, emosional, dan terlebih lagi suka bergonta-ganti pasangan. Mengapa Bintang tau akan hal tersebut? Entahlah, dia menyadarinya dulu ketika umurnya sudah mulai menginjak 8 tahun. Saat ia tak sengaja melihat ayahnya pulang membawa perempuan yang berbeda-beda setiap bulannya dan dengan polosnya ia mengira itu ibunya. Mengenang itu, Bintang tertawa bodoh sembari membuka pintu kamar miliknya. Apa yang bisa ia harapkan dari seorang ayah tirinya? Tidak ada. "Kak." Panggilan Jeka yang setengah berbisik dari celah pintu kamarnya yang terbuka membuat Bintang menoleh. "Apa?" tanyanya. Jeka menghela napas. "Besok sekolahku ada lomba dan aku ditunjuk untuk ikut. Boleh ajarin aku gak?" tanya Jeka.

37 | D a n d e l i o n Bintang memberhentikan tangannya yang membuka engsel pintu dan dengan sepenuhnya mengarahkan arah tubuhnya ke Jeka sembari menaikkan alis. "Lomba apa?" "Eum… anu... lomba IPA." Bintang tersenyum. "Ya sudah, nanti malam kamu ke kamar kakak." Setelah berkata seperti itu, Bintang masuk ke kamarnya meninggalkan Jeka yang tersenyum dengan mata berbinar. *** Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun tidak ada tanda-tanda ayah mereka akan pulang. Rumah tersebut masih dipenuhi dengan suara dua insan kakak beradik tersebut. Untung saja Bintang sudah selesai mengajari Jeka materi untuk lumba besok. Jeka terlihat sudah tertidur di kamarnya. Tidurnya sangat lelap. Oleh karena mengajari materi lomba membutuhkan cukup tenaga, Bintang berjalan menuju dapur untuk memakan sedikit cemilan. Tepat berada di depan kulkas, ia mendengar pintu depan rumah terbuka dan menampakkan sesosok pria berpostur tinggi dengan dasi dan baju yang berantakan diikuti juga oleh rambutnya yang sedikit panjang itu. Aroma alkohol tercium sangat kuat hingga dapat membuat satu rumah tersebut menjadi

38 | D a n d e l i o n sebuah alkohol. Ia tahu, pria yang baru saja masuk tersebut masih dibawah pengaruh alkohol. Mood Bintang untuk memakan cemilannya turun seketika. Sejak kelas delapan SMP, hubungan mereka benar benar berantakan. Selalu bertengkar, selalu bersikap dingin, dan saling menatap dengan penuh rasa amarah dan dengki. Bahkan Bintang tak pernah merasakan yang namanya kasih sayang ataupun sapaan lagi sejak saat itu. Mereka berdua benar benar terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh. Sayangnya, hanya Bintang yang membuat jarak itu sedangkan ayahnya terus berusaha mendekatinya agar ia mau menerima dan memaafkan kesalahan yang pria itu lakukan dengan setulus hati. Siapa coba yang mau memaafkan lelaki bajingan yang bahkan rela meninggalkan anak-anaknya dan sibuk berpesta untuk bergonta ganti pasangan? "Nak." Sialan. Suara itu lagi. Hanya satu kata, namun sangat berdampak kedalam emosional diri Bintang. Emosinya naik dan campur aduk, antara ia ingin bahagia atau justru merasa marah dan kesal. "Nak, gimana sekolahnya?" Sial.

39 | D a n d e l i o n Pria itu benar benar membuat perasaan Bintang campur aduk sekarang. Ia tidak ingin membuang tenaganya hanya untuk meluapkan emosinya. Menghembuskan napasnya pelan, Bintang membalas pertanyaan ayahnya itu dengan deheman. "Seperti biasa, tidak ada yang menarik." "Apa aku harus mencarimu pacar agar kau tertarik dan hidupmu tidak biasa saja?" tawar pria itu, terkekeh kecil. Bintang menghela nafas, menutup pintu kulkas itu pelan. "Tidak usah, aku bisa mencarinya sendiri dengan benar. Mereka bukan barang yang hanya dicoba coba untuk dipacari," ketusnya meninggalkan ayahnya yang terdiam. "Bener-bener anak gak sopan." Mendengar gerutuan itu, Bintang hanya tersenyum. Tersenyum dengan penuh luka. "Andai ayah sadar." Bintang menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghindari pemikiran itu dan segera masuk ke kamarnya. Mungkin esok? Atau lusa? Atau nanti sikap ayah akan berubah? Atau beberapa tahun kemudian? Entahlah, Bintang hanya tak ingin terlalu berharap lebih lagi tentang perubahan ayahnya.

40 | D a n d e l i o n Mungkin hari ini ia dan ayahnya sedang mencoba menahan emosi masing-masing. Besok? Kita lihat saja, apakah ayahnya itu akan membentaknya. *** Sarapan pagi itu hanya berisi keheningan. Bintang, Jeka dan ayah saling terdiam menunduk menikmati makanan buatan Bintang dan Jeka. Sebenarnya, Bintang tidak terlalu menikmati makanannya, terlebih lagi orang di hadapannya kali ini menatapnya tajam. "Ayah, mau tau gak? Hari ini aku ada lumba luh di sekolah," celetuk Jeka berusaha mencairkan suasana. Hanya deheman dan elusan di kepala yang dilakukan ayah mereka, lalu bangkit berdiri pergi bekerja meninggalkan mereka. Setiap hari selalu seperti ini. Bintang sangat muak. Ia menggenggam sendok di tangannya dengan sangat kuat, sedangkan Jeka hanya menatap punggung ayahnya dengan tatapan sendu. "Jek, berhentilah berharap dengannya." Bintang berusaha memperingati Jeka. Jeka yang tadinya menatap punggung ayah mereka sendu, kini memandang Bintang dengan tatapan kesal. "Aku tau dia tidak akan pernah menjawab. Tetapi kenapa tidak? Ayah

41 | D a n d e l i o n pasti berubah." Ia berusaha meyakinkan kakaknya dan juga dirinya sendiri. Bintang mengeraskan rahangnya. "Jeka, ayah tidak akan berubah sama sekali. Dia akan tetap menjadi seperti itu. Berhentilah berharap atau kau akan–" "Akan kecewa berat dengannya? Engga. Aku yakin ayah bakal berubah. Di dunia ini apa sih yang engga mungkin, kak?" sela Jeka. Bintang membanting sendoknya dan bangkit berdiri. "Cepat selesaikan makananmu dan kita berangkat. Aku tidak ingin perdebatan kita terus berlanjut." Setelah mengatakan itu, Bintang mencuci piringnya dan beranjak keluar disusul oleh Jeka yang mendengus kesal. Pria itu benar benar memancing emosinya kali ini. Apa tidak cukup jarak yang ia berikan untuknya agar tidak mendekatinya lagi? Apa tidak cukup ia selalu bersikap dingin kepada anak anaknya, walaupun itu bukan anak kandungnya sendiri? Apa tidak cukup selalu mengulang ulang kesalahan yang ia lakukan? ***

42 | D a n d e l i o n 05 PLESTER *** Kata orang, kalau kita terluka itu harus diobati. Tapi, kalau luka yang tidak bisa diobati bagaimana cara untuk sembuh? Hanya dua kalimat. Tidak lebih. Dua kalimat dari buku yang dibaca Bian membuat otaknya di pagi hari harus bekerja lebih keras. Bergeming di dalam kelas dengan iringan bunyi dari mulut ke mulut membuat otak Bian kian mengebul. Bukankah semua luka pasti ada obatnya? Tidak mungkin tidak ada luka yang tidak bisa diobati. Menghela nafasnya, Bian berjalan keluar kelas menuju sebuah ruangan yang Bian yakin siswa maupun siswi tidak akan berani ke sini kecuali mereka memang dipanggil karena masalah atau hal lainnya. "Permisi, bu," ucap Bian sembari perlahan membuka pintu ruangan yang sudah lumayan tua tersebut. "Iya, Nak, silahkan masuk." Sahut seseorang wanita paruh baya dari dalam ruangan.

43 | D a n d e l i o n Dengan langkah pelan, Bian masuk dan duduk di hadapan wanita paruh baya yang sedang menyesap teh hangat di pagi hari. "Apa ada cerita yang menarik kembali, nak Ian?" Bian mendengus geli mendengar nama panggilan tersebut. "Tidak ada, bu. Saya hanya ingin mampir," tutur Bian. Wanita paruh baya tadi hanya tersenyum dan melanjutkan kembali pekerjaan di depannya. Sudah menjadi kebiasaan Bian untuk datang ke sebuah ruangan kecil ini. Ruangan yang hanya berisi sebuah meja dan kursi yang ditempati oleh wanita paruh baya tadi, lukisan- lukisan kecil di dinding serta sebuah sofa dan meja kecil dengan tanaman hias di atas meja tersebut. Bukan tidak sopan, kebetulan sekali wanita paruh baya yang memanggilnya Ian tadi adalah tetangga depan rumahnya yang sering bertegur sapa jadi wajar saja kalau ada jam kosong di kelas atau istirahat Bian datang kesini. Bahkan, wanita tersebut sudah menganggap Bian sebagai anak kandungnya sendiri. "Ibu dan Ayah di rumah sehat kan, Ian?" tanya wanita tersebut membuka pembicaraan di ruangan yang sangat hening tersebut. "Puji Tuhan, sehat bu," balas Bian. Wanita itu mengangguk. Setelah pembicaraan singkat itu, mereka sama-sama fokus. Bian sangat fokus melihat ponselnya, melihat informasi-

44 | D a n d e l i o n informasi terbaru dari berbagai portal berita atau sekedar membaca cerita fiksi di sebuah aplikasi favoritnya. Keheningan ini hanya berlangsung singkat dikarenakan suara derit pintu yang membuat atensi mereka teralih menuju ke arah pintu. Pintu tersebut terbuka menampilkan sosok pria paruh baya dengan sesosok siswa memakai jaket denimnya. Bian nampak terkejut. Ia bukan terkejut dengan kedatangan siswa bersama guru paling dihindari satu sekolah melainkan ia melihat sebuah lebam di bagian mulut kiri dan sebuah bekas tamparan di pipi yang sangat membekas. Bian tau, tamparan tersebut pasti sangat keras sekali. "Bu Ina, tolung urus dia kembali. Dia ketahuan datang terlambat dengan babak belur seperti ini." Pria tadi memerintah dan sekejap keluar menyisakan siswa tadi yang duduk di sofa tanpa ada niat untuk menaikkan kepalanya. Bu Ina, ialah nama dari tetangga Bian. Beliau adalah seorang guru BK di sekolah Bian. Umurnya sudah mendekati kepala empat namun wajahnya tetap cantik dan terlihat muda. Bu Ina bangkit dari tempat duduknya. Menghela nafas, ia menghampiri siswa tersebut dan mengelus kepalanya tanpa ragu. Satu sifat yang Bian suka dari beliau. "Nak Bintang, bertengkar lagi?"

45 | D a n d e l i o n Jantung Bian tiba-tiba berhenti bekerja sepersekian detik ketika mendengar nama tersebut. Tubuhnya bergeming kaku, menatap sesosok siswa yang sedari tadi menundukkan wajahnya itu. "Bin-" "Ian, boleh keluar dulu sebentar? Ada hal yang harus dibahas berdua saat ini." Baru saja Bian akan bersuara, Bu Ina sudah terlebih dahulu memerintahnya. Tanpa basa-basi ia bangkit berdiri dan berpamitan. Sebelum Bian benar-benar pergi dari ruangan itu, netranya sempat bertemu dengan netra Bintang yang nampak terlihat sayu dan sembab. Dengan berat hati ia keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan sejuta pertanyaan yang mengisi kepala dan hatinya. *** "Jadi anak-anak setelah penjelasan tadi adakah yang ingin ditanyakan?" Bian menggeleng. Sejujurnya, ia tidak terlalu memperhatikan penjelasan materi mengenai permukaan bumi tadi. Pikirannya melayang, berpusat kepada kejadian tadi pagi di ruangan BK. Bertengkar. Setau Bian, Bintang tidak pernah ada kasus bertengkar dengan sekolah lain ataupun dengan siswa di sekolah ini.

46 | D a n d e l i o n Bintang termasuk anak yang humble dan taat dengan peraturan di sekolah. Bahkan namanya jarang masuk ke dalam buku hitam sekolah, lain hal nya dengan teman-teman cowo sekelasnya yang setiap bulannya ada saja kasus yang dibuat. Oke. Sekarang kesampingkan kejadian beberapa hari lalu ketika ia memergoki Bintang melompat dari pagar dan kabur dari sekolah kemudian kembali lagi ke sekolah. Tapi mengingat kata 'lagi' yang diucapkan Bu Ina, membuat Bian kembali berpikir. Apakah kebiasaan bolos Bintang berkaitan dengan luka lebamnya itu? "Ra, itu si Alvy emang beneran udah punya cewe?" bisik teman sebangku Bian membuatnya terkejut. "Ya ndak tau, jangan tanya saya," jawab Bian. Tiba-tiba nanya cewe, anda kira saya lambe turah? Bian bangkit berdiri, memberanikan diri meminta izin ke guru dan keluar kelas menuju toilet. Izinnya hanya sebagai sebuah dalih. Ia berusaha menghirup udara segar sekolah, menetralkan jaringan-jaringan saraf di otak yang sudah seperti benang kusut. Mungkin ini memang sudah takdir mereka berdua kembali bertemu. Tanpa direncanakan, Bintang dan Bian bertemu di depan pintu ruang guru dengan keadaan luka lebam di wajah Bintang yang masih terlihat jelas disana.

47 | D a n d e l i o n "Bintang!" panggil Bian. Bintang yang sedari tadi hanya menunduk, mengangkat kepalanya mencari arah suara panggilan tersebut. "Di sini, Bin!" panggil Bian lagi sembari memelankan intonasi suaranya agar tidak terdengar oleh kelas lain. Bintang menyipitkan matanya, tersenyum kecil saat menemukan tubuh mungil Bian di ujung lorong. Ia melambaikan tangannya, bergeming menunggu Bian yang berjalan menghampirinya. "Tumben lu ketahuan, lagi apes ya? Apa salah strategi?" tanya Bian setelah dirinya sudah berada di hadapan tubuh Bintang. Bintang hanya meringis. "Lagi apes aja gue. Kalau strategi gue benar, ngapain gue bisa berdiri di sini ketemu elu," ucapnya santai. "Ketahuan ye bohongnya, haha," kata Bian tertawa kecil. Bintang mendelik. "Bohong darimana, beneran ini gue jujur." "Terus, habis ngapain keluar dari ruang guru? Ngumpulin buku?" tanya Bian. "Gak, mampir doang mau nyari AC," canda Bintang. "Pantes diusir," lirih Bian. "Maksud lu?" tanya Bintang menatap tajam Bian.

48 | D a n d e l i o n "Udah-udah, gak ada selesainya kita berdebat. Kebetulan gue lagi ada di sini. Nih, buat lu." Bian menawarkan dua buah plester kepada Bintang. Entah sejak kapan tangannya bergerak mengambil dua buah plester di kantongnya. Terlebih lagi, sejak kapan Bian menyimpan plester? "Buat apa?" "Lah, masih ditanya. Ya, untuk itu, ngobatin luka lu," ucap Bian melirik ke arah ujung mulut bagian kiri, memberi isyarat kepada Bintang. Namun, dengan polosnya Bintang mengarahkan telunjuk ke arah isyarat yang diberitahukan Bian. "Ini?" tanyanya polos. Bian mengangguk. "Oh, terima kasih," balas Bintang kikuk menerima pemberian dua buah plester. Suasana menjadi canggung seketika. Mereka berdua terdiam, sama-sama menatap dua buah plester berwarna coklat muda tersebut. "Gak dipakai?" tanya Bian heran. "Emang boleh sekarang?" tanya Bintang kembali. Bian menatap wajah Bintang heran. "Siapa bilang gak boleh? Atau mau gue bantu pakai plesternya?" tawar Bian. Dengan segera Bintang menggeleng, kemudian memakaikan dua buah plester ke arah mulut yang lebam tadi.

49 | D a n d e l i o n "Nah, udah kan? Kalau begitu gue pamit ke kelas duluan," pamit Bian. Bintang mengangguk. "Ngomong-ngomong, panggilan Ian tadi bagus juga," lirih Bintang. Bian yang baru saja melangkah dua langkah membelakangi tubuh Bintang tak sengaja mendengar lirihan dari mulut Bintang. Seketika tubuhnya terdiam dan wajahnya tersipu. Sial, jantungnya malah berdisko ria. "Katanya mau balik? Kok berhenti?" tanya Bintang. Bian terkejut dan dengan segera berlari menuju kelasnya, menahan salah tingkahnya yang terlihat jelas. Bintang yang melihat itu tercengang, menatap heran pundak Bian yang semakin tidak terlihat. Dirinya pun segera kembali ke kelas, sembari memegang ujung mulut yang sudah ditempel plester tadi. Tersenyum kecil, dirinya tersipu mengingat akan kejadian tadi. Ian, kamu lucu juga. ***

50 | D a n d e l i o n 06 BOTOL MINUM *** Mungkin untuk beberapa orang, sebuah botol minum hanyalah barang biasa yang bisa dibeli lagi. Namun, tidak untuk Bian. Seperti ibu-ibu kebanyakan, ibu Bian sudah menganggap sebuah botol tupperware seperti barang berharga layaknya perhiasan dan kali ini nasib sial menghampiri Bian. Dengan kecerobohannya ia meninggalkan botol minum tupperware berwarna hijau miliknya di lapangan basket. Terlebih sialnya lagi, selesai pelajaran olahraga ini adalah pelajaran Ekonomi di mana gurunya ditakuti satu sekolah SMA Mutiara Bangsa. Bukan hanya anak-anak IPS saja, tetapi anak-anak IPA juga pun takut dengan guru tersebut walaupun mereka tidak diajar guru tersebut. Bian berjalan menuju kelas setelah mengganti baju olahraga. Keringat dingin mulai terasa keluar membasahi tubuhnya dan kepalanya yang pusing memikirkan apa alasan yang tepat agar tidak diocehi ibunya saat pulang. Ia bahkan tak sempat mengikuti sesi per-gossip-an teman sekelasnya di jalan menuju kelas. Pikirannya kalut, tercampur antara pelajaran ekonomi dengan botol minumnya.

51 | D a n d e l i o n “Bian, ada masalah?” tanya Alvy menepuk pundak Bian pelan. Jarak kelas Bian dengan toilet memanglah cukup jauh. Ibaratnya dari ujung sekolah ke ujung sekolah lainnya. Namun, setidaknya ia sudah melewati ruang guru yang berarti kelasnya sudah dalam jarak yang lumayan dekat. “Eum… Anu… Gapapa, kok,” sanggah Bian. Alvy yang tak percaya menaikkan satu alisnya, menatap wajah Bian yang nampak panik bersamaan dengan jatuhnya keringat dingin. “Yakin beneran gapapa? Keringat lu keluar banyak, perasaan tadi olahraga lu lebih banyak diamnya,” ucap Alvy membuat Bian dengan cekatan memukul bahu Alvy. “Diam aja lu, ini urusan gue.” “Tupperware ketinggalan?” Wah, pertanyaan Alvy tepat sasaran sekali. Alvy yang melihat wajah Bian yang merah tertawa kecil. “Udah gue duga sih, gak mungkin Bian Alvaro gak panik kalau soal Tupperware. Soalnya hanya ada dua kemungkinan, kalau engga karena Tupperware pasti karena kasus dan kemungkinan kedua sangat tidak mungkin dilakukan Bian,” ejek Alvy. Bian mendengus kesal. Berteman dengan Alvy benar- benar membuat tenaganya habis. Benar kata Ayu, kalau udah ngobrol sama Alvy stok kesabaran harus siap sedia menghadapi

52 | D a n d e l i o n mulut Alvy yang benar-benar asal ceplas-ceplus seperti anak kecil. Anehnya, yang modelan begini kenapa disukai sama satu sekolah sih? “Bisa gak vi, mulut lu difilter?” protes Bian. “Oh, tentu tidak bisa,” sahutnya menggoda. Obrolan mereka terhenti seketika setelah sampai di kelas. Terlihat guru ekonomi tersebut sudah duduk, menunggu teman-teman kelas Bian lainnya yang ternyata belum banyak yang datang. Bian dan Alvy dengan cekatan dan dalam diam menduduki bangku mereka, berjaga-jaga menyiapkan diri apabila guru tersebut marah. *** “Astaga, perasaan disini deh tupperwarenya. Masa hilang lagi?” keluh Bian. Sudah 20 menit ia habiskan hanya untuk mencari botol Tupperware miliknya. Ia terpaksa memotong waktu istirahat yang sangat berharga hanya demi sebuah botol minum plastik biasa. Rasa panik kian menghantui Bian. Ia terhitung sudah empat kali mengelilingi lapangan basket seperti orang aneh. Beberapa meter yang tak jauh dari lapangan basket, netra Bintang tak sengaja memperhatikan Bian. Raut wajah Bian yang panik dan takut menghentikan langkahnya untuk kembali berjalan menuju kelas.

53 | D a n d e l i o n “Bin, kok berhenti?” tanya temannya terheran ketika mereka sadar Bintang tiba-tiba berhenti. Bintang menoleh ke teman sekelasnya. “Gue ada urusan sebentar, kalian duluan aja,” jawab Bintang. “Jangan lupa, habis ini ulangan harian fisika.” “Iya. Gue bisa kok.” Teman-temannya tidak bertanya lebih lanjut lagi dan memilih meninggalkan Bintang sendiri. Setelah memastikan teman sekelasnya sudah pergi, ia berjalan memasuki lapangan basket mendekati Bian yang masih kebingungan mencari sesuatu yang entah apa menurut Bintang. Kalau mau cari bola basket kan, ada di Gudang tinggal di ambil. “Bian.” Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang membuat Bian menoleh. Ia sedikit mendongakkan kepalanya, mendapati Bintang sudah berada di depannya saat ini. “Bintang? Ngapain di sini?” tanyanya kebingungan. “Gue lihat lu lagi cari sesuatu. Ada barang yang hilang?” tanya Bintang peduli sembari mengulurkan tangannya. Bian menerima uluran tangan itu dan bangkit berdiri dengan sedikit bantuan dari tangan Bintang. “Lagi cari botol

54 | D a n d e l i o n Tupperware. Gue gak sengaja tinggalin di sini pas jam olahraga tadi.” Bintang menggangguk paham. “Udah coba cek gudang? Atau coba umumin di radio sekolah? Siapa tahu ada yang nemu,” usul Bintang. Bian berpikir keras. Ia merasa sudah membuang banyak waktu setelah Bintang memberikan saran tersebut kepadanya. Bukan, bukan ia tak terpikirkan tetapi memang dirinya saja terlalu yakin jika botol miliknya masih di sini. “Botol minum lu ciri-cirinya apa?” “Ukuran sedang, kira-kira 750ml, warna hijau lime. Itu aja yang bisa gue ingat ciri-cirinya.” “Gak ada penanda atau apa?” tanya Bintang. Bian menggeleng. “Gak ada. Ibu gue gak suka ada coretan apapun di Tupperware miliknya,” jelas Bian. Bintang mengangguk kecil. “Mau gue bantu?” Diam. Hening. Tidak ada suara. Bintang yang melihat Bian masih bergeming kemudian mengambil sesuatu di saku celananya dan memberikannya ke Bian. Bian yang masih berpikir terkejut bukan main ketika

55 | D a n d e l i o n Bintang memberikan handphone miliknya. Ia menatap heran Binttang. Bintang tersenyum. “Kasih nomor lu, biar gue bantu carikan.” “Lu bukan lagi ngegoda gue, kan?” canda Bian, bermaksud menolak tawaran yang Bintang berikan. Ia merasa tidak enak hati jika ada orang lain malah membantu hasil dari keteledorannya ini. Kali ini Bintang mendecak. “Sekarang udah jam 12.40. Bentar lagi kelas mau mulai lagi. Kalau gak sekarang, mau sampe jam berapa lu cari botol itu?” omelnya memaksakan handphone miliknya yang masih Bintang pegang. Oke. Bian. Ini bukan saatnya untuk berdebat atau bercanda. Ini tentang nyawamu hari ini. Kalau hari ini botol tersebut tidak ditemukan, persentase keselamatan nyawamu di rumah hanya tersisa 1%. Tangan Bian kemudian terulur menerima tawaran Bintang. Ia kemudian memasukkan nama dan nomor telepon miliknya. Setelah disimpan, ia dengan cepat mengembalikannya ke Bintang. “Udah? Lu gak balik ke kelas?”

56 | D a n d e l i o n Bian menggeleng. “Terima kasih atas bantuannya. Mungkin gue akan bertahan disini untuk beberapa waktu ke depan sebelum kembali ke kelas,” ucap Bian. Bintang mengangguk. Setelah berterima kasih atas bantuan Bintang, Bian kembali menelusuri isi dari lapangan basket. Bintang terdiam sebentar, menunduk melihat layer handphone miliknya. Sepertinya ia sedang menghubungi seseorang, meninggalkan pesan, sebelum pergi meninggalkan Bian sendiri di lapangan basket. Kak, bisa bantu gue gak? *** Gelisah. Bian sejak tadi gelisah. Sudah pukul lima kurang lima menit dan belum ada kabar dari Bintang. Ia sudah sengaja mengulur waktu dengan memberitahu kakaknya bahwa ia sedang ada kerja kelumpok di sekolah dan baru akan pulang pukul lima sore. Masalahnya, sebentar lagi kakaknya sampai dan botol minum hijau tersebut masih belum berada di tangannya sampai sekarang. Bian benar-benar mengutuk dirinya sendiri tentang apa yang terjadi hari ini. Botol minum hilang, fokusnya juga di

57 | D a n d e l i o n kelas ikut hilang. Bian hanya bisa berdoa di lain waktu tidak ada kejadian seperti ini lagi. Tiinn… Sial. Suara klakson mobil terdengar dan dirinya masih belum memegang barang berharga itu. Bian menghela nafas berat, sudah sangat siap akan dihujani omelan dari ibunya nanti. Mobil di depannya sekarang menurunkan kaca bagian penumpang depan secara perlahan. Sudah dipastikan, itu kakak Bian yang bertanya tanya mengapa adik tersayangnya belum masuk ke dalam mobil. “Dek, nunggu siapa?” tanya Bang Daniel. Bian menatap wajah kakaknya dengan raut muka yang memelas. “Bang, boleh ya? Tunggu temanku, bentar lagi,” pintanya. Bang Daniel menatap Bian heran. Kebetulan sekali adeknya memintanya untuk menunggu. “Kena-” “Bian!” Panggilan dari Bintang sukses menyela ucapan Daniel yang masih diliputi rasa penasaran. Dari balik kaca spionnya, ia dapat melihat Bintang berlari mengejar mereka yang berada di tepi pinggir jalan depan sekolah.

58 | D a n d e l i o n “Gue dapat, nih, botol lu,” ucap Bintang tergesa gesa. Nafasnya terengah engah, sepertinya dirinya benar-benar berlari dari dalam sekolah mengejar Bian untuk tidak pulang terlebih dahulu. Ia mengambil botol minum warna hijau lime tersebut dari tas miliknya dan memberikannya kepada Bian. Bian yang melihat botol Tupperware warna hijau di tangan Bintang akhirnya tersenyum lega. Matanya berbinar mengambil botol tersebut. “Terima kasih sekali lagi, ya, Bin. Nyawa gue akhirnya bisa terselamatkan di rumah,” ungkap Bian. Bintang mengangguk. “Sama-sama, Bian.” “Gue pulang duluan, ya. Sekali lagi terima kasih.” Bian membuka pintu mobilnya, masuk menduduki kursi penumpang di depan, kemudian menutupnya kembali. Bang Daniel yang masih terheran dengan apa yang terjadi hanya bisa tersenyum ke arah Bintang, kemudian membunyikan klaksonnya dan melenggang pergi. Setelah kepergian mobil Bian, Bintang kembali ke dalam sekolah mengambil kendaraan roda dua miliknya dan melenggang pergi juga menjauhi tempatnya menuntut ilmu tersebut. “Dek, kamu hutang penjelasan ke abang.” Mendengar celetukan kakaknya, membuat Bian meringis. “Tapi, abang jangan kasih tau ibu ya?” pinta Bian.

59 | D a n d e l i o n “Iya. Abang gak kasih tau ibu.” ***

60 | D a n d e l i o n 07 KEINGINAN DAN SELISIH *** “Faktanya, adik dapat juara tiga dan ayah harusnya menyambut adik dengan hangat, dong. Ini adik datang, kenapa ayah malah kusam gitu wajahnya. Aku jadi gak enak hati juga kak buat kasih tahunya.” Malam yang pahit, seperti biasa. Celotehan Jeka setiap malam tak pernah absen dari indra pendengaran Bintang. Deru suara kendaraan roda dua dan roda empat seakan tak mampu menutupi nada suara Jeka yang sangat meledak ledak. Bintang mengangguk, mendengarkan cerita adiknya itu dengan tenang tanpa ada rasa ingin menyela. Ia menatap netra legam berwarna coklat kehitaman itu sembari tangannya bergerak mengambil sedikit daging ikan lele goreng di hadapannya yang mulai mendingin, mencampurinya dengan nasi dan menyuapkannya ke mulut Bintang. Seporsi ikan lele goreng dengan sambal hijau terasi dan nasi putih hangat yang mulai mendingin di sebuah lesehan pinggir jalan, sebuah makan malam yang sangat sederhana dan nikmat. Sengaja. Bintang memang sengaja mengajak adiknya pergi di malam minggu yang ramai dengan manusia-manusia

61 | D a n d e l i o n yang menghabiskan waktu di waktu weekend mereka. Ia tahu, suasana hati adiknya tak baik sejak kemarin—seperti yang sudah Bintang dengar dari celotehannya tadi. Meluangkan waktu sejenak untuk menikmati keramaian kota dan melepas segala permasalahan di rumah, tidak ada yang salah kan? “Kak, makanannya enak banget. Jeka suka.” “Suka banget? Perasaan kakak sering ajak kamu kesini?” Jeka terkekeh. “Kali ini serius, gak bohong, makanannya enak banget. Atau karena aku lagi lapar aja?” Bintang tertawa kecil. “Kalau gak enak kakak gak bakal ajak kamu kesini.” Inilah yang Bintang inginkan, melihat adiknya yang bersemangat dan tersenyum sampai menunjukkan gigi kelincinya tersebut. Pemandangan yang sangat menghangatkan hati Bintang. “Kak Bin, kalau misalnya kakak ketemu orang yang bisa mengabuli permintaan kakak mau minta apa nanti?” tanya Jeka merubah suasana menjadi lebih serius. Bintang tersenyum kecil. Ia paham ke mana arah pembicaraan yang semakin serius ini. “Kalau Jeka sendiri, bagaimana? Jeka mau minta apa?” tanyanya berbalik ke Jeka. “Aku mau kaya biar bisa bahagia kan ayah dan kakak. Biar ayah tidak perlu terlalu sibuk bekerja dan aku juga mau

62 | D a n d e l i o n menghabiskan banyak waktu bersama keluargaku nanti,” tutur Jeka sembari mencuci tangannya. Jeka sudah selesai dengan sajian sederhana nan nikmat di depannya sedangkan piring di hadapan Bintang masih meninggalkan beberapa suapan lagi untuk benar-benar selesai. Bintang menurunkan makanan yang ada di mulutnya menuju kerongkongan. “Permintaanmu mulia dan kakak suka itu. Tapi, pikirkan dulu habis ini kamu mau ke SMA mana. Pembukaan pendaftaran siswa baru sebentar lagi biasanya akan buka.” “Kakak, coba jangan alihin topik pembicaraanku. Aku kan mau dengar permintaan kakak.” Jeka merengek, paham sekali kalau kakak yang berada di hadapannya ini tidak suka sama sekali bercerita. Terlebih lagi topik yang dibawa seperti tadi. “Kakak gak mau, rahasia.” “Kok gitu, kak!? Aku kan udah duluan tadi!” “Kan, udah kakak bilang. Rahasia.” “Gak adil luh, kak Bin!” protes Jeka. Bintang tertawa kecil melihat ekspresi Jeka. Bibirnya bergerak maju, alisnya menekuk memperjelas ekspresi kesal yang ada di raut wajah adiknya sekarang. Kalau suasananya

63 | D a n d e l i o n seperti ini, kakak mana yang tidak bahagia terlebih lagi menggoda adik satu satunya dan melihat reaksinya. Bintang menuntaskan makanannya dengan segera, kemudian mencuci tangannya di sebuah mangkok kecil berisikan air dan menyesap teh hangat yang sudah diminum sedikit di awal tadi. “Mau dengar banget permintaan kakak?” Fokus Jeka yang tadinya teralihkan ke ponsel miliknya kembali menatap saudara tertuanya itu. Ia mematikannya dan menyiapkan alat pendengarannya dengan serius. Jeka tahu kakaknya tidak mungkin hanya asal sebut saja. Sebelum mengucapkannya, Bintang menghela nafas. Ia tahu ini adalah sesuatu yang berat dan sangat sensitif untuk perasaan dan hatinya. “Kakak hanya ingin minta satu hal. Engga, dua atau mungkin tiga. Pertama, kakak mau ibu bisa sembuh.” Ada jeda sebentar dalam ucapan Bintang. Ia menggerakan kepalanya, menatap ke langit-langit tenda lesehan kecil tersebut menahan bulir air mata yang sudah terasa berada di pelupuk matanya. Menarik napas dalam-dalam, ia melanjutkan kembali ucapannya. “Kedua, kakak ingin keluarga utuh yang hangat, bahagia, aman, dan nyaman. Ketiga, kakak ingin adik kakak tersayang yang bernama Jesen Kalandra Arthaya ini dapat

64 | D a n d e l i o n membanggakan kakaknya.” Bintang mengakhiri ucapannya dengan mengelus kepala yang tertutupi rambut hitam legam milik Jeka. Jeka tertegun. Ia diam seribu bahasa. Tanpa ia sadari, bulir air matanya mulai jatuh mendahului bulir air mata yang Bintang sedari tadi berusaha menahannya. Ia tidak akan menyangka permintaan kakaknya akan sedalam ini. Bintang tersenyum kecil. Pahit? Sakit? Memang. Bintang pun tak ingin semua ini terjadi. Perjalanannya sampai di titik ini pun tak mudah. Mungkin, Tuhan sendiri sudah menyiapkan kejutan-kejutan yang lebih banyak di waktu yang akan datang. Dalam lubuk hati Bintang yang terdalam, ia berharap Jeka tidak merasakan apa yang ia rasakan. Bintang mengusap pipi Jeka, menghilangkan jejak air mata tersebut turun kemudian membuka layar ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. “Pulang yuk, Jek. Kita udah hampir sejam di sini. Ayah juga sepertinya sebentar lagi pulang,” ajak Bintang. Jeka mengangguk. Mereka mengemasi barang mereka, membayar makanan yang di pesan kepada sang penjual, kemudian melenggang pergi membelah jalanan kota malam. Suasana langit pun seperti mendukung keheningan diantara Bintang dan Jeka. Tak satupun dari mereka

65 | D a n d e l i o n mengeluarkan celetukannya. Masing-masing insan tersebut menutup rapat mulut mereka, menikmati jalanan dan langit yang hanya menampakkan bulan yang bentuknya tidak penuh dengan awan-awan yang menutupi sinar rembulan tersebut. Rembulan malam saat itu pun menjadi saksi bisu akan rapuhnya kedua insan remaja yang hanya ingin mengingikan kebahagiaan dari sebuah keluarga. Keluarga yang menjadi tempat mereka pulang. *** “Kami pulang.” Decitan pintu yang terbuka disambut dengan suara lantang milik Bintang mengisi keheningan yang menyelimuti rumah tersebut. Mereka berdua memasuki rumah tersebut dan alangkah terkejutnya mereka mendapati kondisi ruang keluarga yang sangat berantakan. Nampak ayah mereka tertidur pulas di lantai dengan posisi menyamping menghadap televisi yang juga masih menyala menampilkan acara televisi kesukaannya. Bintang hanya menggeleng kemudian menyuruh Jeka untuk kembali ke kamar tidurnya dengan gerakan kepalanya. Jeka yang di belakang Bintang hanya menurut, tak berani menginterupsi lebih jauh. Ia tahu ini akan menjadi malam yang panjang di rumah ini.

66 | D a n d e l i o n Bintang menelan ludahnya. Ia sebenarnya tak ingin mengatakan panggilan yang sudah lama ia tak keluarkan. Bahkan, untuk berbicara satu kata saja lidahnya terasa kelu. Tubuhnya memang bergerak mendekati tubuh besar ayahnya tersebut, tetapi seakan akan ada yang mengunci indra berbicaranya. Bintang tahu, perasaan sakit dalam hatinya sangat mendominasi saat ini namun hati kecil dan lugikanya berusaha melawan secara perlahan dan Bintang tidak suka itu. Ia tidak suka mengeluarkan sisi lemahnya di depan manusia yang sedang tertidur pulas dihadapannya. Tubuhnya bergerak mendekat, kedua kakinya ia tekuk sehingga membentuk posisi bersimpuh. Telapak tangannya menyentuh pelan lengan besar berisi lemak dan mengguncang sang pemilik tubuh. “Ayah, bangun. Jangan tidur di sini,” lirih Bintang. Pemilik tubuh tersebut bergeming, tak ada respons untuk bangun sedikit saja. Bintang menghela nafas, berusaha membangunkan kembali sesosok yang sangat melukai hati dan jiwanya tersebut. “Bangun. Tidur di sini gak baik, bisa masuk angin.” Sejak kapan Bintang bisa sepeduli ini? Entah. Bintang pun tidak tahu.

67 | D a n d e l i o n Yang jelas ia harus membangunkan ayah tirinya tersebut agar tidak masuk angin akibat tidur di lantai dalam waktu yang lama. Itu saja. Bintang merasa waktu dan tenagannya terbuang dengan membangunkan ayahnya yang tak kunjung membuka mata. Ia bangkit berdiri, mencari remote televisi dan mematikannya. Bintang yang baru saja melangkahkan kakinya menuju kamar tiba-tiba saja mendengar erangan dari sang empunya suara tadi. Ia terdiam melihat ayahnya ternyata bangkit dari tidurnya, berdiri ke arah dapur dan mengambil gelas kecil untuk diisi air. “Kalian habis darimana?” tanyanya kepada Bintang yang diam tak melangkah lagi. “Habis makan.” Singkat. Jelas. Padat. Dingin. Ayahnya mengangguk, menyesap minumnya sekali lagi kemudian menduduki diri di sofa. “Duduklah,” perintahnya. “Engga akan. Berantakan gitu, habis ngapain di rumah ini?” tanya Bintang dengan nada ketus. Ia kini berdiri sudah menghadap ayahnya yang setia memegang gelas yang sudah tak berisi air.

68 | D a n d e l i o n “Gak ngapa ngapain. Kamu yang gak beresin sore tadi, main terus bisanya.” Mendengar itu darah di tubuh Bintang mulai mendidih. Pria dihadapannya ini sangat senang memancing emosi yang berusaha ia tahan. “Bohong. Aku udah beresin. Kenapa aku mencium aroma parfum wanita di sini?” Pria itu terkekeh. “Kamu kali yang bawa wanita atau jangan-jangan adik kamu yang kamu ajarin aneh-aneh.” “Gak usah fitnah deh. Buktinya apa?” “Tinggal ngaku aja, susah amat.” Telapak tangan Bintang mengepal, menahan emosi yang semakin lama semakin meluap. “Masalah Ayah sama aku itu apasih?! Aku berusaha menghormati Ayah di sini sedangkah Ayah sendiri tidak memperlakukanku sebagai seorang anak. Aku bisa saja kembali ke ibu dan ayahku—” “Hahaha.. Memang mereka bisa kasih kamu tempat tinggal? Makan pun tidak bisa dan Ayah yakin kurang. Kamu harusnya bersyukur ayah bisa merawat kamu sampe sekarang!” Hati Bintang benar-benar panas sekarang. Darahnya berdesir, air mata tertahan di pelupuk matanya. Berani beraninya orang dihadapannya kini menyinggung keluarga kandungnya. Ia menatap tajam ekspresi sombong pria tersebut.

69 | D a n d e l i o n “Ibumu itu tidak akan bisa keluar dari rumah sakit selamanya. Ayahmu juga kerjanya gak jelas. Ngapain masih mau sama mereka? Jelas-jelas enak hidup—" “Tapi saya tidak merasakannya.” Nada Bintang berubah. Terdengar sangat dingin, bukan seperti nada Bintang biasanya. Pria yang berusia sudah akan memasuki setengah abad itu menaruh gelas kecilnya, bangkit berdiri menatap ke arah televisi dan menyilangkan kedua tangannya. “Kamu yang tidak ingin merasakannya.” “Ayah yang tidak paham. Ayah tidak pernah mendengar keinginan Bintang!” seru Bintang. Ia tak setuju kalau ia dianggap tidak ingin merasakannya. Ia ingin tapi bukan seperti ini. “Apasih maumu? Memang begini kehidupan dewasa nanti. Kamu gak usah sok dewasa. Gak usah pikirin ibumu yang selamanya di rumah sakit itu.” Amarah Bintang tak kuat lagi ia tahan. Ia bergerak mendekati ayahnya dan menamparnya dengan satu tamparan yang sangat keras. Suaranya menggema mengitari seisi rumah tersebut dan ia yakini Jeka pun mendengarnya.

70 | D a n d e l i o n Pria itu terdiam memegangi wajahnya dengan salah satu tangan. Kemudian ia menggerakan telapak tangannya tepat ke arah wajah Bintang dan kali ini Bintang perlu akui… tamparan ayahnya lebih keras dibandingkan dirinya. “Semakin hari semakin tidak sopan. Pantas saja, ibumu pasti tidak mengajari adab sopan santun, kan? Iyalah, di rumah sakit terus makanya gak bisa mengajarkan anaknya sopan santun.” Omelan tersebut diikuti oleh tamparan kedua. Bintang meringis, memegang wajahnya perlahan sembari menahan rasa sakit yang ditimbulkan. Pria yang baru saja beberapa menit lalu ia panggil ayah dan membangunkannya seperti sedang kerasukan setan sekarang. “Kamu berani sekali sama ayah yang membesarkanmu, tidak tahu diri.” “Jadi seperti adikmu, penurut. Gak usah banyak ngebantah.” “Teruslah, terus ke ibumu yang di rumah sakit sekarang. Memangnya dia bisa membantumu sekarang?” Tamparan demi tamparan terhadap Bintang dilakukannya dengan perkataan-perkataan yang terus menekan diri Bintang. Bintang tak melawan. Bukan takut, tetapi lebih ke bukan saatnya Bintang melepaskan itu semua. Bintang benci,

71 | D a n d e l i o n benci akan dirinya yang lemah ini. Tapi, ia juga benci akan sosok sok kuat di dalamnya. Bintang tertunduk, menerima seluruh tamparan yang ayah tirinya berikan dan menitikkan air mata. Ia berharap ini semua bisa berakhir sesuai keinginan yang ia ucapkan dengan Jeka ketika makan tadi. Keinginan akan keluarga yang hangat, bahagia, aman, dan nyaman bagi dirinya. ***

72 | D a n d e l i o n 08 SOTO AYAM MANG ABEL *** “Jadi, kemarin lu pergi ke rumah gue, bokap lu tau gak?” “Engga.” “Gimana sama Jeka?” “Aman.” Alvy melengos. “Setidaknya cerita lah, Bin. Lu kemarin datang-datang babak belur sampai mbak Dewi aja kasihan ngelihat lu, tapi lu gak cerita apa-apa lagi ke gue. Langsung tidur sekalinya lihat kasur rumah gue,” cercanya kepada sahabat di depannya yang masih setia menatap layar ponselnya. “Bintang bukan berniat mengacuhkan simpati dari Alvy, tetapi dirinya memang tidak ada niat untuk menceritakan kejadian semalam lebih lanjut. Terlebih lagi, luka di wajahnya juga sudah membaik walaupun masih terasa nyeri di beberapa bagian. Beruntungnya Bintang ketika memasuki kediaman Alvy semalam ia disambut hangat oleh mbak Dewi dan lukanya diobati sehingga siswa atau siswi maupun karyawan di seluruh sekolah tidak akan menaruh kecurigaan terhadapnya.

73 | D a n d e l i o n “Lu lapar gak? Kita udah 10 menit disini dan belum pesan apa-apa,” tawar Alvy sembari memegangi perutnya yang sudah berbunyi sejak tadi. Bintang hanya menggangguk, mengiyakan tawaran sahabatnya itu. Dirinya sendiri sebenarnya tidak ada nafsu makan sejak matahari menampakkan sinarnya tadi. Entahlah, mungkin efek pertengkaran semalam mempengaruhi diri Bintang sekarang. Namun, tak dapat dipungkiri jikalau perutnya sekarang sudah berdisko ria menginginkan nutrisi. Alvy menatap Bintang dengan iba. Dengan ide yang terbesit sepintas dipikirannya, ia mendekati wajah Bintang dan menjetikkan jarinya tepat di dahi sahabatnya tersebut membuat sang empunya terkejut bukan main. Ponsel yang berada di tangan Bintang sekarang sudah berpindah ke atas meja mereka dan menimbulkan bunyi yang cukup keras. “Sakit anjir, Vi!” rintih Bintang mengelus elus dahinya yang terasa sedikit sakit. Alvy tertawa. “Kalau ada apa-apa, cerita ke gue. Gak usah sok nyimpan masalah lu sendiri.” “Sok bijak banget deh, lu.” “Lah, peduli gini dibilang sok bijak?” celetuk Alvy. Bintang menghela nafas. “Ya udah, entar gue cerita. Syaratnya traktirin gue dulu, biar impas.”

74 | D a n d e l i o n “Setan! Kalau gitu gak usah sok puitis aku tadi, su.” Protesan Alvy tak dihiraukan Bintang. Ia malah tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. Alvy hanya bisa merengut. “Lu pesan apa jadinya? Ora perlu dadi cowo, kalau masih ngomong terserah.” “Terserah.” “Asu koe!” kesal Alvy beranjak meninggalkan meja mereka menuju salah satu kios yang berada di area kantin sekolah. Bintang tertawa, kali ini lebih keras. Beberapa menit kemudian, Alvy datang kembali ke meja mereka membawa nampan berisikan dua buah mangkok soto ayam lengkap dengan dua buah piring nasi di sebelahnya dan juga condiment-condiment seperti sambal, kecap, saos, dan jeruk nipis. “Ini buat pangeran Bintang, biar cepat sembuh,” ledek Alvy sembari memberikan salah satu mangkok ke hadapan Bintang. Bintang mendelik heran. “Cangkemmu, Vi! Gak ada gue sakit,” sahut Bintang. “Halah, gak usah besar kepala. Buktinya baru bisa ketawa daritadi.”

75 | D a n d e l i o n “Sialan. Sebentar, ini soto dari kios yang mana?” tanya Bintang penasaran sebelum ia melahap sajian yang sangat menggiurkan lidahnya tersebut. Alvy yang sudah duduk di depan Bintang menunjuk ke arah salah satu kios dengan dagunya membuat Bintang menoleh. “Lu tau aja itu soto favorit gue,” puji Bintang. “Lu gak usah pura-pura amnesia, Bin. Gue sama lu udah temenan dari bokap lu masih single sama bokap gue, pasti gue tau lah makanan favorit sahabat gue di kantin sekolah ini,” canda Alvy dengan nada sombongnya menanggapi pujian Bintang. Bintang memutar matanya malas. “Eh, edan. Gue siram ya mulut lu pake kuah soto ini. Gak ada ya bokap gue tau bokap lu dari single. Emang salah gue muji lu.” “Idih, gak ada rasa terima kasihnya. Lu juga edan. Gue sih berterima kasih lu udah mau muji gue.” Alvy mengucapkan rasa terima kasihnya dengan menepuk bahu Bintang sembari tersenyum mengejek. Bintang mendecih. “Najis banget.” Alvy tertawa. Ia sangat senang kalau sahabatnya satu ini dapat kembali bahagia. Mereka berdua kemudian sibuk meracik dan menikmati hidangan soto ayam masing-masing. Hiruk pikuk manusia-manusia di kantin sekolah mereka yang sebelumnya sangat sesak dan ramai berangsur berkurang. Ketika mereka

76 | D a n d e l i o n berdua sedang melahap masing-masing dari soto ayam mereka, netra Alvy tak sengaja menangkap Ayu dan Bian yang baru saja sampai di area kantin. “AYU! BIAN!” panggil Alvy dengan nada lantangnya sambil melambaikan tangan ke arah dua perempuan tersebut.. Tentu saja, Ayu dan Bian yang mendengar suara tersebut langsung menoleh dan menahan malu—terkhusus untuk diri Ayu. Sembari menahan wajahnya yang memerah, Ayu mengajak Bian untuk menghampiri meja tempat duduk Alvy dan Bian. Bintang sendiri yang masih melahap soto ayamnya ikut menahan malu, tak berani menoleh ke arah Alvy memanggil. “ALVY, gue bilang kan kalau lu ketemu gue jangan panggil gue sambil teriak. Malu!” protes Ayu menarik telinga Alvy hingga sang pelaku merintih kesakitan. “Ya, gue kan manggil doang. Salah ya manggil sahabat gue tersayang ini?” sahutnya menanggapi protesan Ayu. Ayu yang diejek seperti itu melayangkan sebuah pukulan di bahu Alvy membuat Alvy kembali merintih kesakitan. “Udah dong, udah. Nanti gue gak ganteng lagi, gimana?” “Bodo amat.” “Ketus banget sih, neng,” “Sekali lagi lu begitu, ini mangkok soto ayam beneran gue lempar ke muka lu.”

77 | D a n d e l i o n Seketika Alvy tergelak. “Eh, eh jangan gitu dong, ah. Belum habis ini. Lu sama aja kayak Bintang, deh.” “Kok gue?” Bintang yang sedang santai menikmati soto ayamnya yang sudah separuh lebih menghilang terheran namanya dibawa bawa oleh sahabatnya itu. “Lu yang mulai duluan soalnya tadi,” lanjutnya memprovokasi Ayu. “Fitnah, anjir! Lu yang mulai duluan.” “Gak usah bohong, Vi. Memang lu yang mulai duluan,” ujar Ayu menyilangkan tangannya di depan dada. Alvy meringis. “Jadi sahabat gue yang bernama Ayu lebih membela sahabat gue yang bernama Bintang daripada sahabatnya sendiri. Bian, bela gue dong,” pinta Alvy sembari memelas penuh drama dengan Bian yang sejak tadi diam saja. Bian tersenyum. “Soto itu berapaan? Kita beli soto ayam itu aja, yuk,” ucap Bian kepada Ayu menghiraukan drama Alvy membuat Bintang tertawa melihat adegan tersebut. “12 ribu aja, Bian. Tempatnya Mang Abel ya. Coba dulu, pasti ketagihan nantinya,” balas Bintang yang juga menghiraukan tingkah laku Alvy. Bian mengangguk. “Oke, Bin.” “Udah lah, emang gue selalu salah,” keluh Alvy. “Memang.”

78 | D a n d e l i o n Setelah menanggapi keluhan Alvy, Ayu menarik Bian menuju kios yang dihampiri Alvy tadi meninggalkan Bintang dan Alvy yang sama-sama menahan tawa mereka. “Lu kenapa gak ngobrol sama Bian?” Celetukan Alvy ini disambut dengan Bintang yang hampir tersedak minumannya. Ia menatap Alvy dengan mata membelalak. “Ngapain? Emang gue harus bahas apa sama dia?” tanya Bintang. Alvy kembali menahan tawanya. “Gue tau lu kemarin ngapain, Bin. Gak usah pura-pura, kan lu sendiri kemarin nanya soal botol minum dia,” jelasnya. “Gue cuman niat untuk menolong,” sanggah Bintang tersipu malu. “Menolong atau ada rasa, hehe.” “Gak ya, gue—” “Permisi tuan-tuan, bolehkan makan di sini?” Ayu menyela obrolan mereka dengan kedatangannya dan Bian membawa hidangan yang sama seperti Alvy tadi. Atensi Bintang menjadi teralihkan ketika mereka berdua datang kembali dan tak sengaja menangkap pemandangan wajah Bian yang berdiri di samping kanannya saat ini. Indah. Lucu.

79 | D a n d e l i o n Kayak boneka barbie. “Boleh dong, cah ayuku. Apa yang gak boleh sama kalian sih,” canda Alvy sembari melirik Bintang yang masih bergeming menatap Bian di sebelahnya. Alvy tertawa kecil sebelum menyenggol tangan Bintang. “Woi, mata woi! Ketahuan engga pernah lihat yang cakep.” Bintang mengerjap, tersadar akan tingkahnya yang tiba- tiba aneh. Bian yang mendengar candaan Alvy pun menoleh ke arah Bintang, memandangnya heran. Bintang pun memalingkan mukanya, menahan semburat merah yang sepertinya sudah keluar sejak tadi di wajahnya. Alvy tertawa kecil kemudian menggeser tubuhnya diikuti Bintang ke bagian kursi yang kosong. Ayu langsung menduduki bangku di sebelah Alvy sedangkan Bian yang tersenyum canggung duduk di bangku sebelah Bintang. “Jadi, kalian berdua habis obrolin apa? Kayaknya seru banget,” ucap Ayu membuka pembicaraan yang sempat terhenti karena kedatangannya bersama Bian tadi. Sebelum Alvy sempat membalas ucapan Ayu, Bintang dengan cepat langsung menyela dengan ucapannya. “Ini bahas kenapa soto Mang Abel enak banget, rasanya kayak masakan di restoran bintang lima gitu. Lain kali gue mau minta ajarin dia.”

80 | D a n d e l i o n Sahutan Bintang yang Alvy tau benar-benar asal bunyi itu mengundang gelak tawa di meja tersebut. “Gue gak tau teman gue punya bakat ngelucu juga,” celetuk Alvy. Bintang mendecak, menatap tajam sahabatnya tersebut yang tertawa sangat bahagia. Bian yang turut mendengarkan hal tersebut tertunduk, menikmati soto ayamnya sambil menahan tawa. Tak sengaja sudut mata Bian menangkap potret Bian yang tertawa secara sembunyi-sembunyi. “Oh iya, memangnya seenak apa, Bin? Sampai lu bilang restoran bintang lima.” “Seenak masakan gue,” sahut Alvy. Mendengar itu, Ayu mencubit lengan kiri Alvy dengan keras. “Gue ngomong sama Bintang, bukan sama lu knalpot resing!” Bintang kembali mendengus kesal, memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Ayu tersebut. Entah sudah keberapa kalinya ia menanggapi hal-hal tidak penting ini. Kenapa sih mereka juga malah percaya? Tuhan, Bintang hanya ingin kabur sekarang meninggalkan Alvy sendirian di sini. “Soalnya gue yang punya resep sotonya,” celetuknya asal.

81 | D a n d e l i o n “Oh ya, kalau gitu sekarang coba kasih tau berapa sendok garam yang ada di soto ayam ini?” Kali ini Alvy yang menyahuti kembali memberikan pertanyaan asal. Benar-benar tidak membiarkan Bintang lolos dengan ucapannya. “Dua setengah sendok teh.” “Berapa kali suwiran ayam yang ada di soto ayamnya?” “Delapan.” “Berapa gram bihun yang dipakai untuk semangkok?” “Satu bakul.” “Lebih duluan mana, bahan-bahan masuk semua atau kuah yang dimasukin duluan?” “Kepala lu yang gue masukin.” “Jahat banget. Terus, sebenarnya lu mau buat soto ayam apa mau sedekah?” “Gak tau.” “Lah, katanya lu yang punya resep?” Bintang menggerutu. “Berhenti gak, Vi. Gue serasa diwawancara MasterChef kayak gini,” keluhnya. Alvy kembali tertawa mendengar gerutuan Bintang. “Lu asal banget sih. Lagian itu dapat bintang lima kan gratis dari gue.” “Lah, lu traktir dia, Vi?” tanya Ayu terkejut merapikan piring dan mangkok soto ayamnya yang sudah terlahap habis. Ia

82 | D a n d e l i o n terheran karena biasanya Bintang yang traktir Alvy bukan Alvy yang traktir Bintang. “Biasa, Yu, bisnis gelap. Dia konsumennya hari ini, kita tukar jabatan sebentar.” Alvy mengucapkannya sembari memberikan tisu yang berada di pinggiran meja kepada Ayu dan tersenyum menaikkan alisnya ke arah Bintang. “Ngawur. Lu yang punya bisnis gelap, gue sih ogah.” Tepat setelah menyelesaikan kalimatnya, botol kemasan air mineral yang sudah sejak tadi di tangan Bintang bergerak ke kepala Alvy membuat Alvy mendesis. “Kepala gue, nyet! Lama-lama habis sama kalian!” seru Alvy namun tak dihiraukan oleh ketiga teman-teman disekelilingnya tersebut. Bian yang baru saja menyelesaikan makannya dengan tenang kemudian merapihkan piring dan mangkok yang berada di meja tersebut dan menggabungkanya. Melihat hal tersebut, tanpa sadar tangan Bintang terulur ikut membantu merapihkan meja mereka. Alvy dan Ayu yang melihat mereka berdua saling bertatapan penuh arti dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Bin. Sebenarnya gak usah dibantu gapapa kok,” ucap Bian ketika tau Bintang menyusun mangkok mereka ber-empat menjadi satu dan membuang kuah yang tersisa pada mangkok paling atas.

83 | D a n d e l i o n “Gapapa. Di rumah lu kebiasaan ngerapihin begini ya?” tanya Bintang. Bian mengangguk. “Kalau gak dirapihin, nyokap bisa marah. Gak marah sih, lebih ke ngedumel aja seharian,” jelasnya. Bintang mengangguk paham. Beberapa saat setelah mereka merapikan seluruh peralatan makan, Mang Abel datang dengan kaos yang dilapisi oleh apron yang terlihat cukup kotor. Mungkin karena setelah melayani banyak siswa yang datang tadi. “Sudah semua, kan? Saya mau bawa ke belakang untuk dibersihkan,” ujar Mang Abel. Mereka ber-empat yang berada di meja tersebut mengangguk dengan serempak. Mang Abel pun bergegas mengambil nampan yang berisikan peralatan makannya dan membawanya kembali ke kiosnya. “Terima kasih ya Mang, soto ayamnya enak terus,” puji Alvy dan disambut dengan senyum bahagia Mang Abel dari kejauhan. “Udah selesai, kan? Balik kelas, yuk. Tadi bel juga udah berdering.” Ajakan dari Bintang mengakhiri sesi istirahat mereka di kantin meninggalkan kisah seporsi soto ayam Mang Abel di meja tersebut.

84 | D a n d e l i o n Mereka ber-empat berjalan beriringan dengan Alvy dan Ayu yang penuh gelak tawa di depan Bintang dan Bian yang malah hening dan canggung. “Kemarin—” “Lu—” Keduanya saling menatap, tersenyum tipis, menunggu siapa yang akan memulai pembicaraan terlebih dahulu. “Lu duluan, Bin.” “Lu duluan aja, Bian.” Bintang mengelus tengkuknya sembari memalingkan muka sedangkan Bian hanya tertunduk menghela nafas. Mereka berdua sama-sama masih menunggu siapa yang akan memulai pembicaraan terlebih dahulu. “Bin.” Panggilan dari Bian seketika membuat Bintang menoleh. Bian kemudian mengangkat kepalanya dan melihat wajah Bintang yang menunjukkan sebuah luka samar diikuti dengan lebam yang juga samar terlihat. Ia mulai menujukkan raut wajah khawatir. “Lu gapapa kan, Bin?” ***

85 | D a n d e l i o n 09 AM I REALLY CARE? *** Susunan berbagai macam pertanyaan masih terus menghantui kepala Bian. Bintang yang hanya menjawab i’m fine atas pertanyaannya tadi siang tak membuat dirinya puas. Ia seperti merasakan something that’s feel wrong. Wajah Bintang dengan luka-luka samar dan sorot matanya yang lelah. Tentu saja, Bian merasa khawatir. Tetapi, siapa Bian yang tiba-tiba peduli dengan permasalahan Bintang? Ia sendiri merasa mereka tidak sedekat itu untuk Bian tahu apa sebenarnya yang sudah dilewati Bintang selama ini. Pertemuan beruntun mereka pun hanya seperti pertemuan biasa, tak ada rasa spesial. Keduanya sama-sama bertemu ketika kondisi mereka saling membutuhkan saja. Tunggu. Bian mengerjap, tersadar akan lamunannya selama guru sejarah peminatan menerangkan di depan kelas. Bukannya fokus ke materi malah memikirkan anak tersebut? Ini kenapa Bian akhir-akhir ini jadi aneh sih? “Oi, ngelamun aja. Mikirin ape lu?”

86 | D a n d e l i o n Iya. Itu suara Alvy yang menghampiri tempat duduk Bian dan asal nyeletuk setelah guru tersebut mengakhiri penjelasannya. Sosoknya sudah pergi menghilang dibalik pintu kelas Bian beberapa menit yang lalu. “Gak mikirin apa-apa. Tumben nanya begitu?” Alvy hanya menyeringai. “Gue ini peramal, pasti lu lagi mikirin Bintang, kan?” Tepat setelah meluntarkan kalimat tersebut, Bian melayangkan pukulan kecil di lengan Alvy hingga sang empunya merintih dramatis. “Tuh, kan. Gue benar. Lu gak pintar bohong, Bian.” “Berisik.” “Gak usah salting, deh. Gue tahu lu peduli banget kan sama dia?” Bian hanya mendengus kesal, merapihkan buku-buku yang berada di atas mejanya dan memasukkan ke dalam tas ransel yang hampir menenggelamkan setengah badannya itu. Alvy terus tersenyum jahil kemudian mengambil bangku di depan meja Bian dan duduk menyerong dari hadapan Bian. “Gue tahu, pasti ada banyak pertanyaan yang muncul setelah lu ketemu dia di kantin tadi, kan?” “…”

87 | D a n d e l i o n Bian tetap menghiraukan pertanyaan Alvy. Kalau boleh jujur, hatinya akan mengatakan iya secara lantang di depan wajah teman sekelasnya itu. Namun, mengingat kondisi kelas yang belum benar-benar sepi karena bel sekolah belum berdering dan speaker juga belum berbunyi untuk doa pulang Bian mengurungkan niatnya untuk menjawab. Otaknya masih mendahului logikannya saat ini. Alvy hanya mengkerutkan kedua alisnya. Ia paham, Bian bukanlah anak yang secara cuma-cuma selama hampir setengah jam pelajaran akan melamun dengan ekspresi yang berubah ubah—menurut Alvy sendiri. Pasti ada hal yang mengganggu pikirannya sama seperti ketika ia melihat Ayu yang terus melamun karena ditinggal orang favoritnya pacaran. Iya, Lee Jong Suk. Aktor favorit Ayu mengumumkan hubungannya secara resmi di media dan sukses membuat Ayu jadi galau gundah gulana. Seharian tak ingin keluar kamar sampai-sampai Alvy harus turun tangan buat mentraktirnya es krim. Gak tau juga kenapa Ayu mau aja. “Udah?” Alvy tergelak. “Maksudnya?” “Udah nanyanya?”

88 | D a n d e l i o n Alvy hanya tertawa singkat. “Kalau memang ada yang mau ditanyain, hubungin gue aja. Gue 24/7 kok di chat,” candanya membalikkan badan untuk fokus ke depan dan mengambil sikap doa. Bian menghela nafasnya, sudah malas menanggapi tingkah Alvy yang semakin hari menurutnya semakin aneh to the max. Setelah pulang sekolah ini, Bian sepertinya harus bertanya langsung ke Ayu tentang bagaimana bisa ia bertahan dengan Alvy yang gak jelas dan buaya ini. *** “Kalau gue bilang ada yang khawatir dan peduli sama lu, lu percaya gak, Bin?” Sontak pertanyaan Alvy itu membuat Bintang tersedak dengan cairan yang sedang ia minum. “Lu ngomong gitu pake otak gak sih?!” Kali ini Alvy yang menatap Bintang tajam. “Gue baru bilang begitu, reaksi lu langsung gitu. Jadi, sebenarnya kalian berdua udah sadar?” “Sadar apaan?” “Sadar udah saling peduli satu sama lain.” Bintang menggelengkan kepalanya. “Spekulasi lu aja itu mah. Yang peduli gue kan cuman lu, si Kak Kawindra, sama Hans.”

89 | D a n d e l i o n “Lu salah.” Bintang menatap Alvy dengan tatapan bertanya tanya akan maksud dari kalimat itu. “Maksud lu?” Alvy menutup ponselnya, menyingkirkan setoples makanan ringan dari sofa ke atas meja yang ia lahap sejak tadi. Ia menatap Bintang dengan seksama tanpa ada niatan untuk bercanda. Bintang yang melihat Alvy sepertinya serius mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan kata-kata asal bunyinya. “Semua ini gak mungkin hanya kebetulan, Bin.” Bintang terpaku. Tak satupun ia ingin menyanggah atau membalas kalimat sahabat di depannya ini. “Lu tau, kan, yang gue maksud siapa?” Terdiam. Bintang 100% tau siapa yang Alvy maksud, namun dirinya saat ini masih belum bisa menerima itu. Bukan, bukan Bintang yang ingin menolak tetapi menurut Bintang ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu. Masih banyak hal yang Bintang perlu benahi dulu terutama permasalahan dalam keluarganya sendiri yang tak kunjung ada titik terang. Alvy yang melihat Bintang hanya terdiam menghela nafas pasrah. “Gak usah pura-pura dongo dan nanya siapa. Gue tahu dari melihat gerak gerik kalian sejak di kantin tadi,” jelas Alvy yang kembali sibuk dengan ponselnya.

90 | D a n d e l i o n Bintang melengos, mengambil stik ps yang berada di samping Alvy kemudian menghidupkan layar monitor komputer dan mulai memainkan sebuah game RPG bertema kerajaan kesukaannya. “Gue paham, tapi gue rasa emang kita peduli karena lagi butuh bantuan aja,” ungkapnya pada Alvy yang setia sibuk menatap layar ponselnya. Alvy hanya tertawa kecil. “Lu gak ngerasain kalau ini seperti bukan kebetulan biasa?” “Engga. Emang hanya kebetulan.” “Lu dongo berarti.” Oke, kali ini serius Bintang jadi gak bisa fokus memainkan gameplay nya. Ia menaruh stik ps tersebut dan mengambil tempat duduk di samping Alvy. “Apa yang mau lu omongin sampai lu bilang gue dongo?” tanya Bintang dengan nada serius. “Semua bukan hanya kebetulan.” “Emangnya lu penulis script-nya?” “Engga, tapi orang lain yang paham pasti tahu ini semua bukan kebetulan.” “Oh, ya?” “Iya.”

91 | D a n d e l i o n “Gue juga yakin, lu sama Ayu bisa bareng terus dari kecil bukan kebetulan juga.” “Lu kenapa jadi bawa-bawa Ayu?” Kali ini Alvy sedikit tersinggung dengan ucapan Bintang. “Santai, bro. Gue gak bermaksud. Jadi timpal balik, lah.” Alvy mendecak tak suka. “Kesampingkan gue sama Ayu, yang mau gue bahas lu sama Bian.” Bintang tanpa sadar menaikkan satu alisnya membuat beberapa lipatan di dahinya saat ini. Ia menatap Alvy dengan tatapan yang… susah untuk dijelaskan. Alvy itu orangnya memang aneh dan random, Bintang mengakui itu. Tapi kalau se- aneh ini, Bintang juga curiga. “Lu setiap ketemu dia, keadaan kalian lagi apa?” tanya Alvy menginterogasi Bintang. Ponselnya ia tutup dan dimasukkan ke saku celananya. “Lagi sibuk dan butuh bantuan.” “Misalnya?” Bintang menghela nafas. “Gue bawa kardus isi peralatan osis, dia datang bantuin bawa. Ketika dia kehilangan botol minum, gue bantu nyari.” “Terus?” “Apanya yang terus?”

92 | D a n d e l i o n “Kejadian lu pulang pakai plester coklat muda motif beruang itu, apa? Orang-orang di sekolah gak sebodoh itu tau ada cowo, tukang bolos, tapi nutupin lukanya pake plester lucu begitu.” Mendengar penjelasan Alvy membuat Bintang tertegun. Rasanya seperti ada yang menyetrum dirinya dengan kejut listrik sekarang. “Gue yakin itu semua gak cuman kebetulan, Bin. Bian yang sekadar bertanya lu gapapa aja tadi nandain kalau dia peduli sama lu. Dia bukan perempuan yang lalu lalang ninggalin lu disaat lu terpuruk. Dia benar-benar peduli sama lu.” Bintang seperti di panah. Bukan di panah cintaa, tapi di panah kenyataan. Ia sendiri tidak memikirkan sampai sana. Ia kira Bian selama ini cuman peduli karena memang kebetulan mereka bertemu. “Kenapa lu bisa percaya spekulasi lu itu, Vi?” Bintang masih berusaha menyanggah dan tidak percaya akan penjelasan Alvy. Alvy tersenyum. “Karena gue teman kelas Bian, Bin. Lu gak lupa, kan?” Tentu saja, Bintang tak pernah lupa. Dirinya sendiri yang tak pernah terpikirkan hal tersebut dan untuk saat ini mungkin

93 | D a n d e l i o n juga hanya Alvy atau Ayu juga yang berpikiran seperti itu. Bintang terus menggeleng, menjawab pertanyaan Alvy tersebut. “Tapi—” “Ada apa?” sela Alvy tak kala Bintang mulai bersuara. Tarikan nafas cukup dalam terdengar dari diri Bintang. “Gue rasa gue belum siap.” “Untuk?” “Menerima orang lain masuk di kehidupan gue sekarang.” *** Bian menatap langit-langit kamarnya lama, membiarkan suara dari seberang ponselnya itu terus berbunyi. "Bian!! Dengerin omongan gue gak?" "Dengerin." "Apa coba?" "..." "Tuh, kan. Lu gak dengerin." Bian menghela nafas. Sudah hampir 40 menit dirinya dengan Ayu telponan dan belum ada niatan dari Ayu untuk mengakhiri. Bian sendiri sudah terlalu lelah, entah pikirannya melayang kemana sejak sepuluh menit yang lalu.

94 | D a n d e l i o n Iya, dirinya membiarkan suara Ayu memenuhi ruangannya selama sepuluh menit lalu tanpa mengerti isi dari celotehannya tersebut. “Jadi, gimana?” tanya Ayu diseberang sana. “Entah.” “Lah, piye?” “Otakku wes mumet iki. Gue bahkan gak tau mikirin apa sekarang,” jujur Bian. “Kerjain pr gue aja, niscaya gak bakal mumet.” “Ogah,” tolak Bian mendengar saran dari Ayu tersebut. Terdengar kekehan kecil dari Ayu di sana. “Coba lu cerita, kayaknya daritadi gak fokus, Bi.” “Gimana, ya, Yu. Gue bingung.” Ada jeda sebentar dari ucapan Bian yang membuat suasana menjadi hening seketika. Ayu pun tak langsung menimpali, membiarkan temannya tersebut melanjutkan ceritanya. “Gue gak tahu bisa mulai darimana. Jujur, gue daritadi selalu mikir soal—” “Ciee, mikirin Bintang.” “Gak usah mulai deh, Yu!” protes Bian ketika Ayu menyela ucapannya dan menggodanya. “Iya, iya. Hehe. Lanjutin, dong.”

95 | D a n d e l i o n “Pantes, lu cocok sama Alvy.” “Najis, gak sudi gue cocok sama dia. Lanjutin aja, ah!” Seruan dari Ayu membuat Bian mendengus geli. Ia bergerak, mencari posisi yang nyaman untuk bercerita lebih lanjut. “Gimana, ya. Di satu sisi gue penasaran, tapi di sisi lain gue gak mau dianggap punya rasa lebih.” “Lu penasaran karena ngelihat muka Bintang babak belur lagi, kan?” Bian mengangguk, menjawab pertanyaan Ayu walaupun ia tahu di seberang sana Ayu tak bisa melihatnya mengangguk. “Gue pernah cerita ke lu, kan? Pas gue ketemu dia di ruang BK?” “Iya. Gue ingat cerita yang itu.” “Ya udah, seinget gue Bu Ina juga gak pernah cerita atau seisi sekolah ini heboh sama apa yang terjadi sama Bintang. Semuanya seperti biasa aja.” “Gue paham, Bi. Tapi dari kami juga gak banyak yang tahu dan gak banyak bertanya juga ke Bintang. Even, gue sama Alvy sahabat dari janin, dia gak pernah cerita Bintang kenapa seakan akan ada permasalahan yang memang gak semua orang harus tahu.” Mendengar penjelasan Ayu yang tak memberinya jawaban membuatnya menghela nafas berat. Kalau seperti ini,

96 | D a n d e l i o n rasa penasaran dan sejuta pertanyaan di kepala Bian akan terus ada sampai dirinya mungkin sudah berada di liang kubur. “Jadi, gue harus apa sekarang?” tanya Bian. Nada suaranya terdengar sangat lemas, tidak ada tenaga sama sekali. Hening. Tidak ada suara sejenak dari seberang, entah sang penelpon tersebut masih berada bersama dengan ponselnya atau tidak. Respon diam dari Ayu membuat Bian merasakan pusing yang menusuk kepalanya saat ini. “Tanya aja langsung.” Seketika ide dari Ayu membuat Bintang bangun dari tempat tidurnya dan membanting asal ponselnya. “Lu gila, Yu?!” Engga. Bian gak mau. Dia juga bukan siapa-siapa Bintang, enteng banget kalau tiba-tiba nanya. Dekat juga engga, ketemu juga jarang. “Mau dibantu gak, sih?? Itu ide yang terbaik tau.” “Terbaik matamu. Kalau gue lakukan itu, gue pasti dikira—” “Bentar, Bi. Alvy nelpon gue juga.” Bintang memejamkan matanya, menggerutu dalam hati. Cobaan apalagi yang ia harus hadapi dengan kehadiran Alvy sekarang. “Dia ikut obrolan kita, boleh gak?”

97 | D a n d e l i o n Kan. Sudah tertebak di kepala Bintang, pasti bocah tengil berisik satu itu minta gabung. Bintang rasanya ingin menarik tubuh Ayu kemudian menyuruhnya untuk mematikan telepon Alvy. Rasa-rasanya ceritanya akan berakhir kemana mana malam ini. “Halo, Bian!!” Suara Alvy terus terang membuat Bian menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. Kali ini ia hanya harap-harap cemas berdoa semoga ucapan Alvy tidak ada yang membuat darahnya mendidih. “Bian, ini Alvy. Balas, dong. Jangan dianggurin pangeran sekolah ini.” Bian mau muntah sekarang juga. “Vi, kata gue lu coba jadi tukang parkir di Indomaret dekat sekolah biar pede lu itu kepake,” ucap Bian asal walaupun malas menanggapi kepedean Alvy. Terdengar suara tertawa dari seberang sana. “Anjir, sayang gini ganteng jadi tukang parkir. Jadi ojek aja, deh. Mendingan.” “Lu kesini cuman mau pamer apa gimana, sih, Vi?” Pertanyaan jengkel Ayu menyelamatkan Bian yang malas menimpali kembali ucapan Alvy.

98 | D a n d e l i o n “Gak, dong. Gue di sini, kan, dapat panggilan istimewa, nih. Panggilan dari seseorang yang mikirin sahabat gue.” “Gak usah fitnah! Gue gak ada manggil lu,” sanggah Bian. Memang benar, kan? Alvy yang datang sendiri bukan Bian yang manggil. Padahal waktu sudah mulai menunjukkan larut malam, namun tidak ada tanda-tanda ketiga insan yang masih saling berhubungan via suara itu untuk tidur atau sekadar mengantuk. Bian juga sudah lupa akan jadwal sebenarnya ia harus tidur. “Tapi, bagian mikirin sahabat gue bener, kan?” Untuk bagian tersebut, Bian sudah tidak bisa menyangkal. “Jadi, saran lu apa buat gue, Vi?” tanya Bian berusaha untuk mengembalikan topik menjadi lebih serius. “Hm. Apa ya?” Yang Maha Kuasa Maha Pengasih dan Maha Pengampun, kenapa harus di larut malam seperti ini Bian menghadapi kenyataan pahit dengan berteman bersama kedua orang tak ada logika ini? Bian mendecak tidak suka.

99 | D a n d e l i o n “Kalau lu tanya ke gue, lu curang pake jalan pintas. Gue sih sahabat baik, ya. Tidak akan membocorkan rahasia sahabatnya sendiri.” “Maaf, Bian. Harusnya gue gak masukin monyet lepas satu ini.” “Gue monyet lepas, lu gorilla lepas.” “Setan!” “Kata gue pacarana aja lu berdua sekarang.” “Ogah, anjir.” “Boleh.” “Eh, sumpah, Vi. Kita di sini bantu Bian bukan malah ngejek gue, ya!” “Sekalian.” Bian kini memijat dahinya perlahan, menjauh dari ponselnya berada. Harusnya dia langsung keluar saja ketika Alvy masuk ke dalam panggilan. Kalau begini terus, sampai Mang Idoy di Dunia Terbalik rambutnya gak klimis juga gak bakal kelar. “Kali ini serius, beneran.” Ucapan Alvy yang menarik pendengaran Bian kembali seketika merubah posisinya mendekati ponsel tersebut. “Gimana jadinya? Biar rasa penasaran dan pertanyaan ini gak singgah di

100 | D a n d e l i o n kepala gue terus terusan tapi gue gak mau dibilang ada rasa sama dia.” Bian berharap kali ini benar-benar saran bagus yang dapat dirinya terima. “Take care of him, Bi. You should do it slowly.” Kali ini Bian benar-benar ingin membekap Alvy sekarang juga. “Kalau gitu, kelihatannya kayak gue ada rasa sama dia?” “Dari kemarin juga lu peduli sama Bintang, kan, Bi?” Detik itu juga degup jantung Bian berdetak sangat cepat dan seakan akan darahnya berdesir, bergerak ke arah pipinya dengan kilat memunculkan samar rona merah. Ia memandang ponsel yang masih menampilkan dua kontak temannya dalam panggilan dan merenung. Am I really care about him? ***

101 | D a n d e l i o n 10 ACT BEGIN *** Detingan suara sendok dan piring yang saling bertemu memecah kegiatan makan siang di keluarga Bian kala itu. Entah sudah berapa kali Bian memainkan alat makannya dengan ekspresi wajah yang tak bisa dibaca. Terdengar juga helaan nafas yang terus keluar membuat Ibu Bian menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak bungsunya itu. “Kenapa, dek? Ada yang ganggu pikiran kamu?” tanya Ibu Bian. Bian terperanjat. “Gapapa kok, Bu.” Jawaban Bian tentu saja tak langsung membuat ibunya percaya begitu saja. “Cerita aja sama Ibu kalau memang ada yang ganggu pikiran kamu.” Helaan nafas kembali dikeluarkan oleh Bian. Ibunya dengan sabar menunggu cerita anaknya tanpa ada keinginan untuk menyela. Wanita paruh baya tersebut menghampiri Bian dan mengambil posisi duduk di sebelah Bian, memberikan kepercayaan kepada Bian bahwa tidak apa-apa untuk mengeluarkan apa yang selama ini ia pikirkan. “Ibu, pernah punya teman yang misterius?”

102 | D a n d e l i o n Pertanyaan Bian tersebut dibalas dengan senyuman tipis. “Pernah. Ayah kamu dulu orangnya misterius,” jawabnya. “Terus, kok ibu sama ayah bisa dekat?” “Karena usaha ibumu.” “Usaha ibu?” Ibu Bian mengangguk. “Kalau pas kuliah ibu gak punya rasa penasaran yang kuat sama ayahmu, mungkin gak akan seperti sekarang.” Posisi Bian kali ini benar-benar menghadap ibunya dengan pandangan yang berbinar. “Memangnya, ayah semisterius apa dulu?” tanya Bian penasaran dengan kelanjutan masa lalu kedua orang tuanya. “Hm … Gimana, ya?” Ibu Bian membuat postur tubuh yang seolah olah berpikir, seperti berusaha mengingat kilas balik memori yang sudah mulai menua. “Ayahmu itu gak banyak orang yang tahu. Bukan yang pintar banget, tapi selalu berguna di waktu kuliah,” lanjutnya. “Semasa kuliah, Ibu ngelihat Ayah selalu bawa tas laptop gedenya. Tas itu gak pernah lepas. Ayah juga selalu repetitif kalau di kampus, sampai hapal Ibu tempat-tempat yang pasti Ayah datangi.” Pandangan Bian benar-benar teralihkan pada raut wajah ibunya yang tersenyum sangat lebar dan berseri seri. Inikah

103 | D a n d e l i o n namanya jika sudah jatuh cinta dan mengingat memori-memori kala pertama rasa itu ada? “Lalu, Ibu bisa suka sama Ayah gimana? Atau Ibu deketin Ayah gimana?” “Ibu juga dulu sebenarnya gak kenal banget sama Ayahmu, bahkan cuman Ibu yang sering lihat Ayah bolak-balik dekanat ke gedung jurusannya. Waktu pertama kali ketemu pun, kebetulan karena ngurus berkas yang sama waktu itu di dekanat.” “Berkas yang sama?” “Berkas seminar proposal.” Bian terganga. Ia mengira adegan pertemuan itu berada di tengah semester, ternyata sudah di semester tua. “Loh, jadi Ibu dan Ayah pertama kali ketemu ketika udah mau selesai, dong?” tanya Bian memastikan. Ibu Bian membalasnya dengan mengangguk. “Iya. Kami ketemunya di semester akhir. Dari situ Ibu berniat buat dekat dengan Ayah. Awal-awal pun sebenarnya Ayah yang bantu Ibu.” “Ayah duluan?” “Iya. Dulu gak kayak sekarang, bisa banyak informasi dari website atau media sosial. Jadi, mau gak mau harus sering datang ke kampus untuk tahu segala informasi terutama kalau

104 | D a n d e l i o n udah semester tua dan harus cepat lulus. Ayah ngebantu Ibu yang kebingungan ketika berkas-berkas Ibu ada yang kurang. Sejak saat itu, Ibu sama Ayah selalu berhubungan sampai kami berdua akhirnya lulus bareng.” “Kan, tadi Ibu bilang Ayah misterius? Gimana cara Ibu hilangin rasa penasaran Ibu dan tahu hal misterius Ayah selama ini?” “Ibu bilang ke Ayah kalau ada Ibu yang di sampingnya. Ibu gak bakal ceritain ke siapapun apa yang Ayah ceritain ke Ibu. Ibu bangun dulu rasa percaya ke Ayahmu baru Ibu bisa tahu segala hal yang sebenarnya membuat dia jadi se-misterius itu di pandangan Ibu.” Bian mengangguk, paham dengan apa yang ibunya maksud. Ia bergeming, mengulas balik semua memorinya dengan Bintang selama kurang lebih dua minggu ini. Semua memang terasa sangat kebetulan dan misterius. Bintang yang tiba-tiba membantunya, Bintang yang tiba-tiba muncul dengan wajah yang memiliki lebam dan luka, Bintang yang selalu kembali setelah melakukan aksi bolosnya, Bintang dengan senyum pahitnya. Semuanya membuat rasa kepedulian dan penasaran Bian terasa masuk akal sekarang. Ibu Bian yang melihat Bian terdiam menatapnya mengelus rambut anak perempuan satu-satunya itu dengan

105 | D a n d e l i o n lembut. “Kalau memang kamu merasa penasaran dengan orang misterius itu, perlahan dekati dia hingga penasaran-mu hilang. Ibu tahu, suatu saat nanti kamu pasti menemukan jawabannya.” Bian mengangguk, mengiyakan saran ibunya tersebut. Kali ini tekadnya bulat dan yakin, bahwa ia benar-benar peduli dengan Bintang dan Bian akan mencari cara untuk mengetahui banyak hal tentang Bintang. Termasuk dengan menguliti informasi dari sahabat terdekat Bintang, Alvy. *** “Ini semua biar gue yang bayar.” Alvy tersedak, terkejut denga napa yang diucapkan Bian. “Tunggu. Ini bukan sogokan, kan?” “Anggap aja seperti itu,” sahut Bian mengiyakan pertanyaan Alvy. Alvy kini menatap Bian dengan tatapan penuh tanda tanya. Pantas saja setelah pulang sekolah tadi ia diajak nongkrong dan sekarang berada di café yang cukup jauh dari sekolah. Dirinya benar-benar dijauhkan dari orang-orang yang berpotensi mengenal mereka dan tak luput juga Ayu dan Bintang tak diajak oleh Bian. Hanya Alvy dan Bian. Berdua.

106 | D a n d e l i o n Alvy mengusap mulutnya dengan tisu sebelum kemudian beralih kembali kepada ucapan Bian yang kini berada di hadapannya. “Jadi, tujuan lu ajak gue ke sini apa?” tanyanya. “Soal Bintang.” To the point banget menurut Alvy. Hampir ia tersedak dua kali mendengar ucapan Bian. “Kan, udah gue bilang. Gue gak—" “Gue gak bakal cari tahu sampai ke akar-akarnya, Vi. Gue mau ini jadi awal dari langkah gue, biar selanjutnya gue akan usaha sendiri,” jawab Bian sebelum Alvy melanjutkan kalimat penolakannya. Alvy hanya mengangguk, menyesap coffee latte hangat miliknya. Ia memikirkan hal apa yang ia harus ceritakan kepada Bian namun tak menceritakan seluruh permasalahan Bintang yang selama ini dihadapi. “Jadi, mau mulai darimana?” “Bintang itu … orangnya seperti apa?” Suara deheman keluar dari mulut Alvy, menyambut pertanyaan dari Bian. “Bintang itu orangnya kuat, bahkan lebih kuat dari gue. Banyak yang kenal dia, tapi gue sih yang lebih terkenal.” Sombongnya Alvy disambut dengan tatapan tajam dari Bian.

107 | D a n d e l i o n “Iya, iya. Gue serius.” Alvy menopang dagunya dengan sebelah tangannya dan jari-jari dari tangan lainya bermain main di atas meja. “Bintang itu orangnya baik, bahkan lebih baik dari gue. Contohnya ketika lu ketemu dia bawa setumpuk kardus peralatan osis yang cukup berat, ingat kan?” Bian mengangguk, membalas pertanyaan Alvy. “Kalau lu dikasih tahu dia disuruh Pak Danis, lu salah besar. Dirinya sendiri yang menawarkan diri buat bantu osis pindahan. Bintang bisa aja nolak, tapi gue gak pernah lihat dia nolak sesuatu di hadapan gue. Walaupun itu hal seperti ada perempuan yang nembak dia.” “Oh, ada yang ungkapin perasaannya ke dia?” “Sebulan lalu terakhir kali ada yang ungkapin dan Bintang hanya bilang terima kasih tanpa ada ucapan mengiyakan ataupun penolakan.” Bian tercengang, tak menyangka benar-benar ada hati yang murni tak ternodai seperti Bintang. “Lalu, gimana nasib dari perempuan itu?” tanya Bian lagi, memajukan dirinya mendekat kepada Alvy. Alvy tersenyum menyeringai. “Gue pacarin.” “Ha?”

108 | D a n d e l i o n Gila. Sebenarnya Alvy ini apa, sih? Bian sampai ingin memutarbalikkan meja yang memisahkan mereka berdua saat ini setelah mendengarkan penjelasan Alvy. “Lu gila, ya?!” seru Bian. “Engga.” Alvy menyenderkan tubuhnya pada kursi berlengan yang ia duduki, mengambil satu gigitan cheesecake yang tadi dirinya pesan. “Bintang yang suruh.” “Bohong.” “Serius.” Bian menggeleng tidak percaya. “Kenapa lu bilang gitu?” “Kenapa? Bintang gak mau nyakitin perempuan itu kalau jadi pasangannya di kondisi yang Bintang sendiri gak yakin bisa. Jadi, dia kasih gue pilihan buat pacarin atau, ya, terserah gue sih mau ngapain,” jelas Alvy. Gak. Ini gila. Maksud dari Bintang dan Alvy bertindak seperti itu bukannya semakin menyakiti dan tidak menghargai perempuan, ya? Ini sama sekali gak masuk di akal dan logika Bian. Ini pasti hanya karangan dari Alvy. “Bilang ke gue, ini semua hanya cerita khayalan lu,” tegas Bian menatap nyalang Alvy.

109 | D a n d e l i o n Alvy bergidik ngeri, mengakhir satu suapan terakhir dari cheesecake miliknya. Ia mengeluarkan dua jari berbentuk V dan mengangkatnya sejajar dengan wajahnya. “Gue berani sumpah.” Bian mendecak tak suka. Bukan ini informasi yang dia inginkan. Ia ingin paham apa yang Bintang suka dan tak suka jika ada seseorang mendekatinya, bukan informasi kalau misalnya tiba-tiba Bian ungkapin perasaan ke Bintang. Nah, loh, kemana mana kan pembahasannya. Suara dentingan lonceng yang berasal dari pintu café yang terbuka memecah keheningan diantara Alvy dan Bian. Atensi mereka teralihkan menuju ke arah pintu café yang tak jauh dari tempat duduk mereka saat ini. Sosok tersebut nampak tak asing di mata Bian. Ia berusaha kembali mengingat kapan ia bertemu dengan laki-laki yang postur tubuhnya melebihi Alvy dan Bintang. Setelah teringat kembali, betapa terkejutnya Bian dengan kehadiran sosok itu dan teriakan panggilan dari Alvy. “Kak Kai?” Iya. Itu Kak Kawindra. Anggota osis yang berada di ruangan saat itu ketika Bian dan Bintang membantu memindahkan kardus-kardus berisi barang dan peralatan osis dari ruang lama menuju ruang baru.

110 | D a n d e l i o n Bian merutuki dirinya. Sepertinya ia harus memilih opsi tempat lain yang lebih jauh lagi dari sekolah. Padahal, dirinya sudah sangat effort menjelajahi aplikasi Google Maps di ponselnya untuk mendapati café ini dan sialnya masih ada saja anak sekolah yang bertemu dengan mereka berdua. Nama sang empunya yang dipanggil ikut menoleh ke sumber suara dan tersenyum, membalas lambaian tangan Alvy. Ia memesan terlebih dahulu sebelum kemudian berjalan ke tempat Alvy dan Bian berada. “Oh, Alvy? Tumben main kesini, biasanya juga ngumpul di Meraki. Lagi ngapain?” tanya Kawindra. “Ini gue diajak sama teman, biasalah butuh tempat curhat,” balas Alvy. Sesaat Kawindra menoleh dan tersenyum mendapati sesosok Bian sedang mencibir di hadapannya. “Masih inget gue, kan, cewenya Bintang?” “Gue bukan cewenya Bintang, kak,” sanggah Bian membuang wajahnya ke arah berlawanan. “Soon.” Jawaban asal Alvy sukses membuat Kawindra terkekeh. “Lu gak boleh gitu, ah. Udah lama kalian berdua di sini?” “Baru 20 menitan sih, gak lama.”

111 | D a n d e l i o n “Oh.” Kawindra mengangguk menerima jawaban dari Alvy. Ia mengambil kursi dari meja lain yang tak jauh dari mereka, menduduki dirinya dan tersenyum memandangi Bintang yang diam menatap hiruk pikuk jalanan dari balik kaca gedung café. “Lu gak lihat mobil motor itu sedetik pun, gak bakal hilang juga.” Celetukan Kawindra tersebut sukses menggerakan kepala Bian kembali ke arah dalam café—lebih tepatnya menatap diri Kawindra dengan penuh tanda tanya. Kawindra mengulurkan tangannya. “Kawindra Wicaksono, kelas 11 IPS 2. Anggota osis sekbid II, kakak kelas terdekat Bintang.” Bian menatap uluran tangan Kawindra dengan tatapan bertanya sebelum akhirnya ia membalas uluran tangan itu. “Ananda Bianna Alvaro, kelas X IPS 1, teman sekelas Alvy. Bukan cewenya Bintang,” balasnya dengan nada mempertegas di akhir kalimat. “Iya, salam kenal, ya, Bian.” Bian mengangguk. “Kak Kai biasanya suka nongkrong di sini?” tanya Bian memecah kecanggungan di antara mereka bertiga. “Suka iseng aja kayak sekarang, bosan kalau di Meraki terus.”

112 | D a n d e l i o n Obrolan mereka sempat terjeda karena pesanan Kawindra telah datang. Meja tersebut kembali ke dalam suasana hening—lebih tepatnya Bian malu untuk memulai pembicaraan tentang Bintang lagi. Melihat ekspresi Bian yang seperti menahan malu dan rasa kebingungan, Alvy mulai membuka suaranya. “Lu gak perlu khawatir sama Kak Kai. Kalau memang ada yang mau dibicarakan atau ditanya soal Bintang, tanya aja ke dia,” ujar Alvy. Bian memelototi Alvy. Pupil matanya benar-benar membesar berusaha memperingati Alvy untuk menjaga omongannya. Namun, sebelum Bian bisa bersuara Kawindra sudah mendahuluinya menyahuti perkataan Alvy. “Kalian jauh-jauh ke sini mau bahas Bintang?” tanya Kawindra setelah meneguk minuman kopi gula aren yang ia pesan. Alvy mengangguk sedangkan Bian tak bisa mengelak lagi, menahan malunya yang entah sudah setinggi apa. Kawindra tersenyum kemudian memajukan tubuhnya sedikit. “Jadi, Bian. Apa yang kamu ingin ketahui dari seorang Reza Bintang Arthaya?” ***

113 | D a n d e l i o n 11 JKASBKABCK ***