MATA KULIAH KOMUNIKASI KELUARGAPATRIARKI DI MEJA MAKAN: SIAPA YANG MEMILIKI KUASA DALAM KELUARGA? PATRIARKI DI MEJA MAKAN: SIAPA YANG MEMILIKI KUASA DALAM KELUARGA?Pengaruh Budaya Patriarki Pada Pola Komunikasi Keluarga
KATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga modul yang berjudul "Patriarki Di Meja Makan: Siapa Yang Memiliki Kuasa Dalam Keluarga?" ini dapat diselesaikan dengan baik. Modul ini disusun untuk memberikan pemahaman mengenai budaya patriarki dalam keluarga serta pengaruhnya terhadap pola komunikasi dan relasi antaranggota keluarga. Melalui modul ini, pembaca diharapkan dapat memahami dinamika yang terjadi dalam keluarga secara lebih kritis dan reflektif. Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Keluarga serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan modul ini. Kami menyadari bahwa modul ini masih memiliki berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan sebagai bahan perbaikan di masa mendatang. Semoga modul ini dapat memberikan wawasan, menambah pemahaman, serta menjadi bahan refleksi bagi pembaca dalam melihat dinamika komunikasi dan relasi gender dalam keluarga.Purwokerto, 23 Juni 2026 Tim Penyusun
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .........................................................................i DAFTAR ISI ........................................................................................ii PENDAHULUAN ...............................................................................1 ANALISIS ISU, TEORI KOMUNIKASI KELUARGA, DAN PEMBAHASAN .................................................................................6 DAMPAK ISU, SOLUSI, DAN STRATEGI ..................................11 PENUTUP ...........................................................................................16 IDENTITAS KELOMPOK ................................................................18
PENDAHULUANHUB01
Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat. Menurut tipenya, keluarga itu dibagi atas dua; yaitu keluarga batih yang merupakan satuan keluarga yang terkecil yang terdiri atas ayah, ibu, serta anak (nuclear family) dan keluarga luas (extended family) yang terdiri dari ayah, ibu, anak, kakek, nenek, paman, bibi, dan yang lain. Nah, karena itu pola komunikasi yang diterapkan dalam keluarga memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan individu dan kualitas hubungan antaranggota keluarga. Dalam kehidupan masyarakat, pola komunikasi keluarga tidak terlepas dari pengaruh budaya yang berkembang di lingkungan sekitarnya. Salah satu budaya yang masih banyak ditemukan adalah budaya patriarki. APA SIH YANG DIMAKSUD DENGAN KELUARGA?02 Keluarga dipahami sebagai kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah, hubungan perkawinan, dan adopsi.SEBERAPA PENTING PERAN KELUARGA ITU? Pada dasarnya, keluarga itu memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter, nilai, sikap, dan pola komunikasi individu. Melalui interaksi yang terjadi dalam keluarga, seseorang belajar cara menyampaikan pendapat, menghargai orang lain, menyelesaikan konflik, serta memahami peran dan tanggung jawab sosialnya.
MENGENAL APA ITU PATRIARKI03Karena budaya patriarki dan patriarkal selalu dinormalisasi dari generasi ke generasi melalui norma sosial dan konstruksi agama atau adat yang kaku.Faktanya, budaya patriarki sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan bukan merupakan sifat alami manusia, melainkan sebuah sistem sosial yang dibentuk oleh sejarah panjang. KENAPA BUDAYA PATRIARKI SELALU ADA? SEJAK KAPAN SIH PATRIARKI ITU ADA? DARI " DULU " ATAU "BARU SEKARANG " ? Patriarki berasal dari kata patriarkat, berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala-galanya. Dalam budaya patriarki, laki-laki memiliki peran sebagai kontrol utama di dalam masyarakat, sedangkan perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh atau bisa dikatakan tidak memiliki hak pada wilayah-wilayah umum dalam masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, politik, dan psikologi, bahkan termasuk di dalamnya institusi pernikahan dan berkeluarga.Praktik budaya patriarki menyebabkan berbagai masalah sosial di Indonesia seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan seksual, angka pernikahan dini, kekerasan pada anak, stigma mengenai perceraian.Perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan sering kali dianggap sebagai hal yang wajar dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Kondisi ini dapat memengaruhi pola komunikasi dalam keluarga, seperti munculnya dominasi dalam pengambilan keputusan, keterbatasan ruang bagi anggota keluarga untuk menyampaikan pendapat, serta terbentuknya stereotip gender yang membatasi kebebasan individu.
KDRT (terhadap istri) 59.1% Female Breadwinner s 34.7% Kekerasan Anak 6.1%DATA PATRIARKI DI INDONESIA PADA TAHUN 2023-2026Berdasarkan data Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan yang dirilis Maret 2026, tercatat ada 376.529 kasus kekerasan akibat patriarkal terhadap perempuan sepanjang tahun 2025, di mana mayoritas mutlak atau 59,1% (sekitar 337.961 kasus) terjadi di ranah personal (KDRT dan relasi intim).Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa budaya patriarki masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi relasi kuasa yang tidak seimbang, terutama dalam lingkungan keluarga. Kondisi ini dapat membatasi kebebasan, mengabaikan persetujuan (consent), serta menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan.0204
MELIHAT PERBANDINGAN PATRIARKI DI INDONESIA DAN DI JEPANG DI INDONESIA SEPERTI APA? Patriarki dipandang sebagai budaya yang mengandung kekerasan dan subordinasi nyata. Pembatasan sosial, fisik, dan ekonomi perempuan lebih nyata dirasakan, dengan angka kekerasan berbasis gender yang tinggi menunjukkan bahwa patriarki telah mempengaruhi hubungan kekuasaan dalam keluarga dan masyarakat secara berbahaya. Di Indonesia patriarki adalah akar kekerasan dalam rumah tangga. SEMENTARA DI JEPANG... Patriarki beroperasi dalam bentuk ketidaksetaraan struktural dan budaya kerja yang menghambat perempuan berkarier dan menempatkan beban domestik di perempuan. Terlepas dari tingkat pengembangan sosial-ekonomi yang tinggi, norma kultural seperti ryōsai kenbo dan tekanan sosial tetap menjadi penghalang perubahan. Persoalan utama adalah pembagian kerja rumah tangga yang tidak seimbang dan budaya kerja keras laki-laki yang menyepelekan peran ayah dalam pengasuhan (Gunawan, 2024). Sebenarnya budaya patriarki di Jepang dan Indonesia memiliki persamaan yang mendasar yakni, menempatkan laki-laki pada posisi dominan dan perempuan sebagai bawahan. Oleh karena itu modul ini dibuat untuk melihat jahatnya budaya patriarki mempengaruhi kehidupan terlebih dalam keluarga.05
ANALISIS ISUHUBTeori Komunikasi Keluarga dan Pembahasan Teori Komunikasi Keluarga dan Pembahasan06
CARA KITA BERBICARA DI RUMAH MEMBENTUK “SIAPA KITA”07Setiap keluarga memiliki cara yang berbeda dalam berkomunikasi. Ada keluarga yang terbiasa berbagi cerita dan berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari pengalaman sehari-hari hingga persoalan yang lebih serius. Di sisi lain, ada pula keluarga yang lebih mengutamakan kepatuhan terhadap aturan dan keputusan orang tua. Perbedaan-perbedaan tersebut sering kali membentuk suasana keluarga yang unik dan memengaruhi hubungan antaranggota keluarga.Memahami Family Communication Patterns Theory (FCPT)Perbedaan pola komunikasi tersebut dijelaskan melalui Family Communication Patterns Theory (FCPT) yang dikembangkan oleh Mary Anne Fitzpatrick dan David Ritchie. Teori ini menjelaskan bahwa cara anggota keluarga berkomunikasi dapat memengaruhi hubungan, proses pengambilan keputusan, hingga cara mereka memahami berbagai persoalan dalam kehidupan keluarga.Orientasi Percakapan :Orientasi percakapan mengacu pada keterbukaan anggota keluarga dalam berbagi cerita, pendapat, dan perasaan. Semakin tinggi orientasi percakapan, semakin besar kesempatan setiap anggota keluarga untuk didengar dan terlibat dalam diskusi keluarga.Orientasi KonformitasOrientasi konformitas menunjukkan sejauh mana keluarga menekankan kesamaan nilai dan kepatuhan terhadap aturan. Semakin tinggi orientasi konformitas, semakin besar harapan agar anggota keluarga mengikuti nilai dan keputusan yang dianggap terbaik bagi keluarga.Kombinasi kedua dimensi tersebut membentuk empat tipe pola komunikasi keluarga, yaitu consensual, pluralistic, protective, dan laissez-faire. Di antara keempat tipe tersebut, protective family sering dikaitkan dengan budaya patriarki karena menempatkan orang tua, terutama ayah, sebagai figur otoritas utama dalam suatu keluarga.
Dalam banyak keluarga di Indonesia, komunikasi masih dipengaruhi oleh budaya patriarki, yaitu pandangan yang menempatkan ayah sebagai pihak yang memiliki otoritas terbesar dalam keluarga. Segala perkataan atau apa yang Ayah “minta” memiliki pengaruh kuat di dalam keluarga. Ketika sebuah keputusan hanya diputuskan sepihak oleh Ayah tanpa adanya komunikasi dua arah, maka tidak akan pernah tercipta komunikasi terbuka antar anggota keluarga. Karna budaya patriarki yang kuat ini, keputusan ayah sering menjadi keputusan akhir, sementara ibu dan anak memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menyampaikan pendapatnya.Jika terjadi terus-menerus, pola tersebut dapat membuat anggota keluarga, terutama perempuan dan anak, menjadi kurang berani menyampaikan pendapatnya. Perlu disadari bahwa menghormati ayah bukan berarti mengabaikan suara anggota keluarga lainnya. Keharmonisan keluarga tidak dibangun dari dominasi satu pihak, melainkan dari kemampuan seluruh anggota keluarga untuk saling mendengar, menghargai, dan mengambil keputusan secara bersama-sama.08KENAPA PENDAPAT AYAH SERING JADI KEPUTUSAN AKHIR DI KELUARGA?
MENGAPA BUDAYA PATRIARKI DAPAT MUNCUL DAN Patriarki tidak muncul begitu saja. Awalnya, pembagian peran antara laki-laki dan perempuan banyak dipengaruhi oleh kondisi masyarakat pada masa lalu. Namun, lama-kelamaan pembagian peran tersebut berubah menjadi kebiasaan, aturan, dan cara pandang yang terus diwariskan. Sejak kecil, anak- anak belajar tentang apa yang dianggap "tugas laki-laki" dan "tugas perempuan" dari keluarga, sekolah, lingkungan sekitar, hingga media. Karena terus diulang, banyak orang akhirnya menganggap pembagian peran tersebut sebagai sesuatu yang normal dan sudah seharusnya begitu.Agama dan Patriarki: Mendukung atau Menantang?Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Quisque eu leo interdum mauris luctus lacinia. Proin id massa eros. Etiam fermentum lectus tortor, eget pharetra libero scelerisque non. BERTAHAN DALAM MASYARAKAT?09 Banyak orang menganggap patriarki berasal dari agama, padahal kenyataannya lebih kompleks. Agama tidak otomatis menempatkan laki- laki lebih berkuasa daripada perempuan. Perbedaan sering muncul dari cara ajaran agama ditafsirkan. Ada penafsiran yang mendukung dominasi laki-laki, tetapi ada juga yang menekankan keadilan dan kesetaraan (Safriyanto et al., 2024). Selain agama, budaya, adat, pendidikan, dan lingkungan sosial juga berperan dalam membentuk pandangan tentang peran gender. Karena itu, patriarki lebih tepat dipahami sebagai hasil dari berbagai faktor yang saling memengaruhi. Faktor Sosial, Ekonomi, dan Politik yang Membuat Patriarki Sulit Hilang Patriarki masih bertahan sampai sekarang karena didukung oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan politik. Perempuan sering menghadapi akses yang tidak setara dalam pendidikan, pekerjaan, maupun sumber daya ekonomi. Di bidang politik, perempuan juga masih menghadapi tantangan lebih besar untuk mendapatkan posisi penting atau diterima sebagai pemimpin (White et al., 2024). Karena nilai-nilai patriarki sudah lama melekat dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar sehingga pola ini terus bertahan di masyarakat.
Salah satu contoh nyata bagaimana budaya patriarki bekerja di Indonesia bisa dilihat dari masyarakat Bali. Di beberapa wilayah Bali, sistem garis keturunan sepenuhnya kepada anak laki-laki, sehingga perempuan harus mengikuti perintah dan aturan laki-laki dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan hal itu dianggap sudah lumrah karena dipandang sebagai “kodrat perempuan”. Ketika perempuan Bali menikah, ia akan meninggalkan keluarganya dan tidak mendapat hak waris, tapi di sisi lain ia justru terikat penuh pada keluarga suami dalam aspek pekerjaan, peran, maupun budaya (Swari, 2023). Kondisi ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari sistem yang sudah tertanam sejak lama dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.Budaya patriarki juga tidak cuma berhenti diranah rumah tangga, tapi juga merambah ke ranah sekolah, karir, hingga cara perempuan bersosialisasi di ruang publik. Perempuan tumbuh dengan batasan yang tidak tertulis tapi nyata adanya, karena sejak kecil mereka sudah diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan ekspetasi masyarakat, bukan dengan keinginan sendiri. Padahal, setiap individu seharusnya memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya tanpa dibatasi oleh peran dan harapan yang dibentuk oleh budaya patriarki.10HIDUP DI BAWAH EKSPEKTASI YANG TIDAK KAMU PILIH: SAMPAI KAPAN?Melihat budaya patriarki di Bali
DAMPAK ISU, SOLUSI & STRATEGIHUB 11
1. Menurunnya kualitas hubungan emosional Adanya budaya diposisikan pada salah satu pihak dominan, akan menyebabkan komunikasi satu arah saja. 2. Budaya patriaki yang terus diwariskan Pola komunikasi tidak seimbang yang terus menerus berulang, maka akan dianggap normal oleh generasi selanjutnya sehingga akan menjadi budaya yang tidak terputus. 3. Meningkatkan risiko terjadinya konflik bahkan kekerasan Ketidakseimbangan kuasa dalam keluarga akan mengakibatkan perilaku kontrol berlebihan, diskriminasi, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) karena adanya anggapan laki-laku memiliki hal lebih besar untuk mengatur anggotata keluarga lainnya. 4. Munculnya fenomena Self Silencing Dalam keluarga patriakial, seorang anak maupun perempuan sering memilih untuk menahan rasa emosi atau pendapatnya demi menghindari konflik. Kondisi ini dikenal sebagai self silencing yaitu kecenderumgan untuk membungkam diri sendiri. Jika terus menerus dilakukan maka akan mempengaruhi kesehatan psikologis bagi individu. 5. Terhambatnya pembentukan iklim komunikasi yang sehat Keluarga yang sehat merupakan keluarga yang saling suportif, terbuka satu sama lain, dan saling menghargai. Namun adanya budaya patriaki cenderung mendorong orientasi konformitas yang tinggi serta kualitas percakapan yang rendah. Akibatnya, anggota keluarga akan lebih fokus pada rasa patuh daripada harus saling terbuka menyampaikan pendapat dan perasaannya.12DAMPAK BUDAYA PATRIARKI DALAM KELUARGA!
1. Mengembangkan Active Listening dalam keluarga Mendengarkan dengan baik dengan memberikan perhatian akan memberikan rasa takut dihakimi dan merasa dihargai. 2. Meluangkan waktu untuk Quality Time bersama keluarga Terkadang karena orang tua dan anak yang sibuk dengan aktivitasnya sendiri, seringkali membuat frekuensi interaksi semakin mengecil. Maka perlu bagi keluarga meluangkan waktu masing-masing dan menyediakan waktu hanya untuk menghabiskan waktu bersama dengan tujuan untuk saling berbincang. 3.. Mengurangi nada kasar saat konflik Penggunaan nada tinggi merupakan hal normal disaat situasi emosional. Namun perlu diingat penggunaan kata-kata kasar, membentak, bahkan menyalahkan akan menambah buruk situasi. 4. Memberikan apresiasi kepada anggota keluarga Ucapan kecil seperti terima kasih atau pujian kepada anggota keluarga akan membuat rasa dihargai. Kebiasaan kecil namun akan memberikan dampak baik untuk kualias hubungan dalam keluarga. 5. Meningkatkan pengelolaan emosi Kemampuan menyampaikan pendapat disertai dengan mengelola emosi yang tepat sangat penting dalam keluarga untuk menyelesaikan konflik SOLUSI DAN STRATEGI APA YANG BISA DITERAPKAN? SOLUSI: 13
1. Memberikan pendidikan keseteraan gender sejak dini Dapat dimulai dari pembagian tugas rumah tangga yang tidak berpatok dengan kelamin, dan memberikan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan05STRATEGI:STRATEGI: 14 2. Menerapkan pengambilan keputusan secara partisipatif. Keputusan keluarga sebaiknya melibatkan seluruh anggota keluarga yang terdampak oleh keputusan tersebut. Hal ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa dihargai. 5. Memberikan dukungan disaat anggota keluarga sedang mengalami kesulitan. Dukungan kecil dengan mendengarkan atau memberi semangat akan membuat anggota kelurga tidak merasa sendirian dalam menghadapi masalah. 3. Jangan ragu untuk mengungkapkan perasaan. Cobalah untuk lebih jujur terhadap perasaan sendiri kepada anggota keluarga dan sampaikanlah dengan baik. 4. Tidak membandingkan anggota keluarga dengan orang lain Membandingkan hanya akan membuat anggota keluarga merasa tidak dihargai.
KELUARGA BUKAN TENTANG SIAPA YANG BERKUASA: SEMUA BERHAK DIDENGARSetiap keluarga mempunyai harapan atas hubungan di dalamnya. Yang diharapkan adalah hubungan yang dibangun atas dasar kesetaraan, keterbukaan, dan saling menghargai antaranggota keluarga. Setiap anggota keluarga, baik ayah, ibu, maupun anak, memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapat, memberikan masukan, serta berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Tidak boleh ada dominasi satu pihak. Ayah tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya pihak yang menentukan keputusan akhir, melainkan berperan sebagai pemimpin yang mampu mendengarkan dan mempertimbangkan pandangan anggota keluarga lainnya. Di sisi lain, ibu dan anak juga diberikan ruang yang aman dan nyaman untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, serta kebutuhan mereka tanpa rasa takut untuk diabaikan. Seorang istri tidak dijadikan sebagai bawahan. Seorang anak perempuan tidak diperlakukan rendah oleh anggota keluarganya. Seorang anak laki-laki tidak diperlakukan seperti raja oleh anggota keluarganya.Di dalam keluarga semua memiliki hak berpendapat yang sama dan tidak ada perlakuan yang berbeda, budaya patriarki hanya merusak kehidupan keluarga anda. Budaya patriarki adalah sebuah kejahatan untuk keluarga anda. 15
PENUTUPHUB16
DAFTAR PUSTAKARustina, R. (2014). Keluarga dalam kajian Sosiologi. Jurnal Musawa IAIN Palu, 6(2), 287-322. Safriyanto, R., Ningsih, F., Frederick, J. R., & Isyanawulan, G. (2024). Analisis Budaya Patriarki Terhadap Kesetaraan Gender Perempuan dalam Rumah Tangga. Jurnal Ilmiah Publika (JIP), 12(2), 166-174. https://jurnal.ugj.ac.id/index.php/Publika/article/download/10182/50 39 Sakina, A. I. (2017). Menyoroti budaya patriarki di Indonesia. Share: Social Work Journal, 7(1), 71-80. Sholeh, M., & Juniarti, G. (2022). Studi gender dalam komunikasi keluarga: Problematik yang dihadapi remaja perempuan dalam pengambilan keputusan. Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya, 8(1), 97–108. https://doi.org/10.32884/ideas.v8i1.559 White, S., Warburton, E., Pramashavira, Hendrawan, A., & Aspinall, E. (2024). Voting against Women: Political Patriarchy, Islam, and Representation in Indonesia. Politics & Gender, 20(2), 391-421. https://doi.org/10.1017/S1743923X23000648. Swari, P. R. (2023). Budaya patriarki dan tantangan dalam kebebasan berekspresi (Analisis menggunakan teori konflik Ralf Dahrendorf). Jurnal Dinamika Sosial Budaya, 25(2), 213–218. https://journals.usm.ac.id/index.php/jdsb/article/download/7166/3692/2 4182 17
IDENTITAS KELOMPOKHUB18
IDENTITAS KELOMPOKNAMA: AIKA PUTRI HASNARANI NIM: F1C024016 TTL: CIREBON, 25 SEPTEMBER 2006 INSTAGRAM: @aiibibell 19NAMA: DESI ANGGRAENI NIM: F1C024011 TTL: CILACAP, 10 DESEMBER 2006 INSTAGRAM: @e.dsianggr_NAMA: ASLHIKHATUL MAGHFIROH NIM: F1C024014 TTL: BANYUMAS, 14 JUNI 2006 INSTAGRAM: @liansx_NAMA: KAIYLA ZAHRA MAGHFIRAH NIM: F1C024016 TTL: MAJALENGKA, 26 FEBRUARI 2006 INSTAGRAM: @kaleyshazier_NAMA: ALMA AULIA AFIYAH NIM: F1C024039 TTL: TEGAL, 15 April 2006 INSTAGRAM: @allmyaa