Dokumen ini berisi materi pembelajaran bahasa Jawa yang membahas prinsip keterampilan berbahasa lisan dan tulis, khususnya tentang unggah-ungguh basa. Mencakup ragam ngoko lugu dan ngoko alus, contoh penggunaannya dalam berbagai situasi, serta kaidah perubahan leksikon.
Dokumen ini adalah materi pembelajaran bahasa Jawa yang disusun oleh Dwi Septiani, S.Pd. Materi ini ditujukan untuk siswa atau peserta didik yang mempelajari unggah-ungguh basa, khususnya ragam ngoko lugu dan ngoko alus. Dokumen ini membahas prinsip keterampilan berbahasa lisan dan tulis serta aplikasinya dalam pembelajaran bahasa Jawa.
Bagian pertama membahas leksikon ngoko lugu, yaitu ragam bahasa Jawa yang paling dasar. Diberikan contoh kalimat seperti 'Adhiku arep tuku lawuh' dan 'Kowe arep tuku lawuh?' serta contoh penggunaan ater-ater dan panandha leksikon ngoko. Jelas disebutkan bahwa ragam ngoko lugu digunakan dalam situasi seperti anak dengan anak, orang tua kepada anak, guru kepada murid, pejabat kepada bawahan, dan saat berbicara sendiri.
Selanjutnya, dokumen memberikan contoh percakapan dalam ragam ngoko lugu. Contoh pertama antara Bakri dan Hana (bocah karo bocah), contoh kedua antara Ibu dan Anak (uwong tuwa marang bocah), contoh ketiga antara Guru dan Murid, serta contoh keempat antara Pejabat dan Andhahan. Setiap contoh menunjukkan penggunaan bahasa yang sesuai dengan konteks sosial.
Bagian berikutnya membahas ragam ngoko alus, yaitu ragam ngoko yang dicampuri dengan krama inggil untuk menunjukkan rasa hormat. Dijelaskan bahwa ngoko alus menggambarkan hubungan yang akrab namun tetap halus dan menghormati lawan bicara. Contoh penggunaannya antara sedulur tuwa marang sedulur enom yang lebih tinggi derajatnya, bojone priyayi marang sing lanang, dan priyayi marang priyayi sing wis kulina.
Dokumen juga menjelaskan titik-titik ngoko alus, yaitu: (a) tembung yang berhubungan dengan lawan bicara menggunakan krama inggil, (b) tembung untuk diri sendiri menggunakan ngoko lugu atau krama andhap, (c) tembung yang diubah menjadi krama inggil hanya tembung lingganya, (d) leksikon krama inggil berupa tembung aran, tembung kriya, dan tembung sesulih, serta (e) wuwuhan tetap ngoko.
Terakhir, dokumen memaparkan paugeran owah-owahan wujud ngoko lugu menjadi ngoko alus. Misalnya, tembung sesulih P2 dan P3 yang berupa ngoko diubah menjadi krama atau krama inggil (kowe menjadi panjenengan), tembung kriya untuk orang lain diubah menjadi krama inggil, tembung kriya untuk diri sendiri diubah menjadi krama andhap, dan tembung aran yang terkait dengan pandarbe P2 dapat diubah menjadi krama atau krama inggil.