Modul Sosiologi Pemberdayaan Komunitas Berbasis Kearifan Lokal

View Modul Sosiologi Pemberdayaan Komunitas Berbasis Kearifan Lokal flipbook.

Pemberdayaan Komunitas Berbasis Kearifan Lokal Tujuan Pembelajaran dan Topik Panca Cinta (TPC) : 1. Menjelaskan keterkaitan antara konsep komunitas dan kearifan lokal dengan nilai religius dalam kehidupan masyarakat sebaga wujud cinta kepada Tuhan. 2. Merancang kegiatan pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal yang berorientasi pada kelestarian lingkungan sebagai wujud cinta kepada alam. 3. Menganalisis strategi pemberdayaan yang menumbuhkan nilai solidaritas, empati, dan gotong royong di tengah arus globalisasi sebagai wujud cinta kepada sesama manusia. 4. Mengembangkan ide pemberdayaan komunitas yang berfokus pada pelestarian dan penguatan budaya lokal sebagai wujud cinta kepada bangsa dan budaya. 5. Merancang dan mempresentasikan proyek pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal secara kreatif dan inovatif sebagai wujud cinta kepada ilmu pengetahuan.

Apersepsi Gambar 4.2 Pemberdayaan dapat mengangkat kearifan lokal salah satunya membatik Amatilah gambar di atas. Saat ini pemerintah gencar menggalakkan program pemberdayaan masyarakat. Program pemberdayaan bertujuan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Contoh pemberdayaan masyarakat pada gambar 4.2. Pada gambar tampak pemberdayaan kaum perempuan melalui keterampilan lokal yaitu membatik. Pemberdayaan dapat dilaksanakan dengan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dalam masyarakat. Melalui kearifan lokal, program pemberdayaan dapat sejalan dengan kebudayaan masyarakat. Tahukah Anda, apa itu kearifan lokal? Bagaimana strategi pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal? Temukan jawabannya pada pembahasan bab ini. Petunjuk Guru: Bapak/Ibu Guru menjelaskan kepada peserta didik bahwa program pemberdayaan masyarakat diperlukan untuk menghadapi tantangan era globalisasi. Program pemberdayaan masyarakat penting dilakukan agar masyarakat mampu bersaing dan unggul terhadap setiap perubahan sosial yang terjadi di berbagai bidang kehidupan. Pemberdayaan dapat dilakukan dengan memanfaatkan kearifan lokal dalam masyarakat. Pemberdayaan berbasis kearifan lokal bertujuan agar program sejalan dengan kebudayaan masyarakat. Kata Kunci: - Komunitas - Kearifan lokal - Strategi pemberdayaan komunitas - Pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal

MATERI ESENSIAL Pada era global saat ini, pemerintah perlu melakukan program pemberdayaan agar masyarakat mampu bersaing dan unggul terhadap setiap perubahan sosial yang terjadi di berbagai bidang kehidupan. Contoh kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat Anda lihat pada gambar 4.2. Upaya pemberdayaan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Selain itu, pemberdayaan berbasis kearifan lokal penting dilakukan untuk mengembangkan dan melestarikan kearifan lokal masyarakat setempat. Untuk memahami lebih dalam terkait pemberdayaan komunitas dan kearifan lokal, simak pembahasan berikut. A. KOMUNITAS DAN KEARIFAN LOKAL Komunitas dan kearifan lokal memiliki hubungan erat. Kearifan lokal berkembang dalam sebuah komunitas/masyarakat. Kearifan lokal mengandung nilai-nilai luhur yang dijadikan sebagai pedoman bertingkah laku komunitas/masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai komunitas dan kearifan lokal, simak pembahasan berikut. 1. Komunitas Era globalisasi menjadi peluang sekaligus tantangan dalam kehidupan masyarakat. Globalisasi menuntut setiap masyarakat atau komunitas saling bersaing secara kompetitif. Masyarakat yang memiliki kualitas diri kompeten dapat memanfaatkan globalisasi untuk meningkatkan perekonomian. Sebaliknya, masyarakat yang kurang kompeten akan kalah bersaing secara global. Kondisi tersebut perlu diatasi melalui kegiatan pemberdayaan komunitas. a. Pengertian Komunitas Komunitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam masyarakat. Kehidupan masyarakat terdiri atas berbagai komunitas. Gambar 4.3 Komunitas Pandawara melakukan aksi bersih-bersih sungai (Sumber : www.matamata.com) Perhatikan gambar 4.3! Apakah Anda pernah tergabung dalam komunitas seperti tampak pada gambar? Gambar 4.3 menunjukkan komunitas pencinta lingkungan melakukan gerakan bersih-bersih sungai. Komunitas pencinta lingkungan terbentuk atas dasar persamaan tujuan untuk melestarikan lingkungan. Saat ini kondisi lingkungan alam semakin memprihatinkan akibat maraknya eksploitasi terhadap sumber daya alam. Kondisi tersebut menggerakkan individu-individu untuk menjaga kelestarian alam dengan bergabung dalam komunitas pencinta lingkungan. Komunitas berasal dari bahasa Inggris, yaitu community yang berarti masyarakat setempat yang memiliki cakupan wilayah sama. Anggota masyarakat setempat memiliki jalinan interaksi kuat dan persamaan kebudayaan. Dengan demikian, komunitas merupakan sekelompok orang yang saling peduli. Dalam komunitas, hubungan antaranggota terjalin sangat erat karena memiliki kesamaan kepentingan (interest) atau nilai yang dianut (values). Menurut Conyers (dalam Soetomo, 2013, 82), kriteria-kriteria komunitas sebagai berikut. 1) Memiliki komponen-komponen fisik yang menggambarkan adanya kelompok manusia di daerah tertentu dan saling berinteraksi. 2) Memiliki beberapa kesamaan ciri khas yang menyebabkan antaranggota mengidentifikasi diri sebagai bagian sebuah kelompok.

3) Memiliki keserasian dasar dalam hal perhatian dan aspirasi. Berdasarkan pengertian tersebut, komunitas dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk kelompok sosial. Komunitas cenderung lebih eksklusif dalam menyebut sekelompok individu yang memiliki kesamaan daerah, ciri khas, hubungan emosional, kesadaran, dan kepentingan bersama. Selain itu, dilihat dari ukurannya, keanggotaan komunitas cenderung tidak terlalu besar karena antaranggota kelompok saling mengenal dan saling bekerja sama dalam melakukan kegiatan secara efisien (Soetomo, 2013, 83). Berikut pengertian komunitas menurut beberapa ahli. 1) Menurut George Hillery Jr., komunitas merupakan sekelompok orang yang tinggal di daerah dan memiliki hubungan untuk berinteraksi satu sama lain. 2) Menurut Koentjaraningrat, komunitas merupakan suatu kesatuan hidup manusia yang menempati suatu wilayah dan saling berinteraksi berdasarkan sistem adat-istiadat yang mengikat komunitas tersebut. 3) Menurut Spradley, komunitas merupakan sekumpulan orang yang saling bertukar pengalaman penting dalam kehidupan. 4) Menurut WHO, komunitas merupakan kelompok sosial berdasarkan batas-batas wilayah, nilai-nilai keyakinan dan minat yang sama, serta saling mengenal dan menjalin interaksi antaranggota masyarakat. Komunitas adalah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki keterkaitan yang sama. Ditandai dengan adanya ikatan kuat antar anggota yang disebut perasaan komunitas (community sentiment). Pemberdayaan komunitas merupakan suatu proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial guna memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan komunitas memiliki dimensi atau pendekatan, yaitu sebagai berikut : 1) Bebas memenuhi kebutuhan baik dalam bentuk pendapat, kebutuhan pendidikan, kesehatan, perbaikan lingkungan, peningkatan kualitas rumah, pangan, papan, dan sebagainya. 2) Menyangkut sumber-sumber produktif sehingga mereka memiliki kemampuan untuk memperoleh barang-barang dan jasa yang mendukung kehidupannya. 3) Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka. b. Kekuatan pengikat komunitas 1) Memudahkan dalam berkoordinasi antar individu 2) Antar individu dapat saling memberi semangat dan motivasi 3) Mampu meningkatkan kesejahteraan dalam jangka waktu yang panjang dan berkelanjutan 4) Mampu meningkatkan dan memperbaiki kehidupan masyarakat dan kelompok baik di bidang ekonomi maupun sosial 5) Penggunaan sumber-sumber daya alam dan potensi yang ada lebih efektif dan efisien 6) Proses pembangunan lebih demokratis dan aspiratif karena melibatkan banyak orang c. Jenis-jenis komunitas Komunitas dalam kehidupan masyarakat beraneka ragam. Terbentuknya komunitas disebabkan oleh persamaan antarindividu, seperti minat, hobi, dan kepentingan. Menurut Soerjono Soekanto (2014, 132–133), kriteria utama dalam komunitas yaitu hubungan sosial antaranggota. Soerjono Soekanto mengklasifikasikan komunitas berdasarkan empat kriteria berikut. 1) Jumlah penduduk. 2) Luas, kekayaan, dan kepadatan penduduk. 3) Fungsi khusus komunitas terhadap masyarakat. 4) Organisasi masyarakat yang bersangkutan.

Keempat kriteria tersebut dapat digunakan untuk membedakan komunitas antara masyarakat kota dan desa. Komunitas masyarakat kota memiliki struktur organisasi yang lebih kompleks daripada masyarakat desa. Kompleksitas tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti teknologi. Kecanggihan teknologi memudahkan masyarakat kota melakukan interaksi dan mobilitas sosial sehingga mereka memiliki jangkauan lebih luas daripada masyarakat desa. Komunitas dalam masyarakat beraneka ragam, misalnya : 1) Komunitas Adat ( Suku Badui, Suka Sasak, Suku Dayak, dll) 2) Komunitas Lokal ( komunitas lokal di sekitar pabrik, kantor desa, kota tertentu, dll) 3) Komunitas Berdasarkan minat ( komunitas pecinta sepeda, pencinta hewan, pemerhati kelestarian hutan, dll) Gambar 4.4 Komunitas Adat Suku Badui Dalam (Sumber : regional.kompas.com) Amatilah gambar 4.4! Gambar 4.4 menunjukkan masyarakat Suku Badui Dalam masih melestarikan adat istiadat dan tradisi yang diwariskan oleh para leluhurnya. Sebagai contoh, ketika bepergian masyarakat Suku Badui Dalam memilih menempuhnya dengan jalan kaki. Pola hidup Suku Badui Dalam tersebut disebabkan ketaatan terhadap aturan adat yaitu larangan menggunakan teknologi. Masyarakat Suku Badui Dalam merupakan salah satu contoh komunitas masyarakat tradisional yang ada di Indonesia. Contoh lain komunitas masyarakat tradisional seperti komunitas suku, komunitas adat, dan komunitas petani. Komunitas dalam masyarakat modern memiliki kelembagaan sosial yang lebih kompleks dibandingkan masyarakat tradisional. Kompleksitas komunitas masyarakat modern didorong oleh perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi memudahkan komunitas untuk saling berinteraksi. Komunitas masyarakat modern didasarkan pada kesamaan minat, profesi, atau hobi. Contoh lain komunitas masyarakat modern, seperti komunitas vlogger, komunitas peduli literasi, dan komunitas pencinta lingkungan. Adakah komunitas yang Anda ikuti? Bagaimana pengalaman Anda selama tergabung dalam komunitas tersebut? Kemukakan pengalaman Anda secara santun agar mendapatkan tanggapan dariguru dan teman-teman. d. Unsur-unsur komunitas Komunitas dalam masyarakat terbentuk atas dasar unsur-unsur tertentu. Unsur-unsur komunitas menentukan kuat atau renggangnya solidaritas sosial yang terjalin antaranggota komunitas. Menurut Soerjono Soekanto (2014, 131–132), terdapat tiga unsur komunitas sebagai berikut. 1) Seperasaan Setiap anggota mengidentifikasikan dirinya menjadi bagian atau tergabung dalam komunitas. Anggota komunitas akan menyebut dirinya sebagai ”kami” atau ”kelompok kami”. Seperasaan

muncul akibat adanya kesamaan kepentingan/tujuan sama antaranggota untuk memenuhi kebutuhan hidup. 2) Sepenanggungan Setiap anggota komunitas memiliki kondisi, nasib, atau keadaan yang sama. Oleh karena kesamaan tersebut, terbentuk ikatan antaranggota. Selain itu, kondisi yang demikian mendorong antarindividu memiliki kesadaran akan peranannya dalam komunitas. 3) Saling Memerlukan Setiap anggota komunitas memiliki hubungan erat satu sama lain. Kondisi demikian mendorong timbulnya perasaan ketergantungan antaranggota terhadap komunitas untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis. Hubungan erat antaranggota terjadi akibat proses interaksi antarindividu dalam komunitas. Oleh karena itu, setiap komunitas selalu memiliki rasa solidaritas dan kekeluargaan yang kuat. Ketiga unsur tersebut mendorong terbentuknya berbagai komunitas sosial yang ada dalam masyarakat. Apabila ketiga unsur tersebut dijiwai oleh setiap anggota komunitas maka hubungan sosial antaranggota kelompok dapat terjalin erat. 2. Kearifan Lokal Indonesia merupakan negara yang kaya akan kearifan lokalnya. Banyak negara yang berusaha ingin menemukan local wisdom yang bercirikan negara itu. Local wisdom mampu membentuk sebuah nilai karakter masyarakat. Setiap masyarakat memiliki ciri khas berbeda dengan masyarakat lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat berdasarkan adat istiadat dan tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Adat istidat dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat didasarkan atas nilai-nilai kearifan lokal. Lantas, apa yang dimaksud kearifan lokal? Bagaimana proses terbentuknya kearifan lokal masyarakat? Untuk mengetahuinya, simak penjelasan berikut. a. Pengertian Kearifan Lokal Gambar 4.5 Upacara Sedekah Laut dalam masyarakat Jawa (Sumber : www.ilmubudaya.com) Amatilah aktivitas pada gambar 4.5! Aktivitas pada gambar menunjukkan upacara Sedekah Laut. Upacara Sedekah Laut sering disebut juga ‘nyandran laut’ yaitu membuang atau melarung sesaji ke tengah laut. Upacara ini dilakukan rutin setiap tahun sekali tepatnya pada bulan Sura dan di hari Jumat Kliwon. Apakah Anda pernah mendengar istilah kearifan lokal? Istilah kearifan lokal sering dikaitkan dengan kekayaan budaya masyarakat Indonesia. Kearifan lokal dalam bahasa Inggris disebut local wisdom. Local berarti setempat, sedangkan wisdom berarti kebijaksanaan. Adapun beberapa pengertian kearifan lokal dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Menurut Undang-Undang No.32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, kearifan lokal merupakan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk melindungi dan mengelola kelestarian lingkungan hidup.

2) Menurut Irene Mariane, kearifan lokal merupakan suatu gagasan konseptual yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan berfungsi mengatur kehidupan masyarakat. 3) Menurut Robert Sibarani, kearifan lokal merupakan kebijaksanaan atau pengetahuan lokal yang mengandung nilai-nilai luhur sehingga dijadikan sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan masyarakat setempat. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal adalah gagasan-gagasan lokal yang bersifat bijaksana dan bernilai luhur serta diwariskan secara turun-temurun untuk mengatur kehidupan masyarakat. Semua bentuk kearifan lokal dihayati, dipraktikkan, diajarkan, dan diwariskan antargenerasi sehingga membentuk pola perilaku atau kebiasaan. Kearifan lokal mengarahkan masyarakat untuk hidup secara harmonis baik kepada Tuhan, sesama manusia, maupun lingkungan alam. b. Proses Terbentuknya Kearifan Lokal Kearifan lokal merupakan sebuah pengetahuan masyarakat lokal terkait kondisi alam, sosial, dan geografis lingkungannya (local knowledge). Kearifan lokal berawal dari pengetahuan lokal mengenai fenomena alam dan sosial yang bersifat subjektif individual atau kesepakatan suatu kelompok masyarakat. Selain itu, kearifan lokal berasal dari proses trial and error dari berbagai pengetahuan ilmiah ataupun nonilmiah sebagai solusi pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari–hari. Selanjutnya, pengetahuan tersebut ditiru dan diikuti anggota masyarakat dan kelompok masyarakat lain. Keikutsertaan kelompok lain menghasilkan kesepakatan bersama sehingga mendorong terbentukannya kearifan lokal dan diwariskan secara turun-temurun. Kearifan lokal merupakan bagian kebudayaan masyarakat dan dibangun dari nilai–nilai sosial yang dijunjung tinggi dalam struktur sosial masyarakat. Adapun unsur-unsur budaya dapat berpotensi menjadi kearifan lokal apabila memenuhi kriteria berikut (Mariane, 2014, 113). 1) Mampu bertahan terhadap budaya luar. 2) Mampu mengakomodasi unsur – unsur budaya luar. 3) Mampu mengintegrasikan unsur budaya luar dan budaya asli. 4) Mampu mengendalikan masyarakat. 5) Memberi arah pada perkembangan budaya. Kearifan lokal dapat bertahan selama warga masyarakat masih menjaga dan menjalankannya. Sebagai contoh, pengetahuan lokal yang dimiliki nelayan tentang penggunaan rasi bintang untuk menentukan arah ketika melaut. Pengetahuan ini sudah diketahui dan diwariskan oleh leluhur sejak masa praaksara.

c. Unsur-Unsur yang Terkandung dalam Kearifan Lokal Kearifan lokal memuat tata kelakuan yang dijadikan dasar sebagai pedoman bertingkah laku masyarakat. Suatu tata kelakuan dikategorikan sebagai kearifan lokal apabila mengandung unsur- unsur tertentu. Berikut unsur-unsur kearifan lokal dalam masyarakat. 1) Nilai Lokal Kearifan lokal memuat nilai-nilai lokal yang disepakati dan dijalankan oleh masyarakat demi kepentingan bersama. Setiap masyarakat dapat mengembangkan nilai-nilai lokal sesuai kesepakatan bersama. Sebagai contoh, masyarakat Jawa memiliki tradisi kenduri. Kenduri adalah perjamuan makan untuk memperingati hari tertentu dan me- mohon kelancaran dalam melaksanaan hajat. Tradisi kenduri mengajarkan masyarakat untuk bersyukur atas nikmat yang telah diberikan dan berdoa kepada Tuhan agar diberikan kelancaran dalam menjalankan hajat. Selain itu, tradisi kenduri juga dapat mem- perkuat hubungan kekeluargaan antarindividu atau meningkatkan solidaritas masyarakat. 2) Keterampilan Lokal Kearifan lokal tidak hanya mengandung nilai dan pengetahuan lokal. Kearifan lokal juga mengandung kemampuan masyarakat dalam mengelola lingkungan alam dan sosialnya. Keterampilan lokal yang dimiliki masyarakat dipengaruhi oleh kondisi geografis tempat tinggal masyarakat tersebut. Kearifan lokal merupakan cerminan nilai dan pengetahuan lokal yang diwujudkan dalam perilaku, kepandaian, dan keterampilan lokal. Contoh kearifan yang memuat unsur keterampilan lokal yaitu cara membatik. Sebagian masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa memiliki keterampilan membatik. Membatik merupakan kegiatan menciptakan corak seni pada kain menggunakan malam (plastisin), canting, dan pewarna alami. Setiap motif yang tergambar pada kain memiliki makna filosofis tertentu. 3) Pengetahuan Lokal Kearifan lokal diperoleh dari generasi sebelumnya dan pengalaman masa kini. Setiap masyarakat memiliki pengetahuan lokal mengenai lingkungan hidupnya. Pengetahuan lokal berkaitan dengan perubahan dan siklus iklim, jenis flora dan fauna, kondisi geografis, demografis, serta sosiografi. Kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungan alam ataupun lingkungan sosial membentuk pengetahuan lokal. Pengetahuan lokal tersebut akan dihayati, dipraktikkan, dan diajarkan kepada anggotanya, bahkan kepada masyarakat lain. Contoh pengetahuan lokal, yaitu pengetahuan para nelayan tentang angin darat dan angin laut. Angin darat dimanfaatkan nelayan untuk melaut menangkap ikan pada malam hari. Adapun angin laut digunakan nelayan untuk kembali ke darat. Contoh lainnya yaitu pengetahuan masyarakat tentang penentuan musim. Masyarakat Jawa mengenal pranata mangsa sebagai pedoman dalam menentukan waktu berdasarkan tanda-tanda alam. Masyarakat Kupang, Nusa Tenggara Timur biasanya mengamati bintang atau disebut nautus untuk menentukan pilihan menanam padi atau jagung. 4) Hukum Lokal Kearifan lokal memuat hukum lokal yang disepakati bersama. Hukum lokal (local law) adalah hukum yang hanya berlaku di daerah tertentu. Hukum lokal dijunjung tinggi oleh kelompok masyarakat tertentu. Hukum lokal biasanya berupa hukum adat yang cenderung tidak tertulis, memiliki kandungan kemasyarakatan, kekeluargaan, dan tidak lepas dari unsur keagamaan. Hukum lokal termasuk satu wujud kearifan lokal karena melalui hukum tersebut masyarakat membuat aturan, imbauan, larangan, dan sanksi bagi anggota masyarakat. Dalam hukum lokal terkandung aturan bersikap ataupun berperilaku yang benar sesuai tradisi masyarakat. 5) Kepercayaan Lokal Kearifan lokal mengandung unsur-unsur kepercayaan lokal masyarakat. Kepercayaan lokal berkaitan dengan pemahaman spiritualitas masyarakat lokal. Kepercayaan lokal hanya dipercaya oleh kelompok atau etnik tertentu. Kepercayaan lokal muncul dan berkembang dari latar belakang masyarakat, tradisi, dan adat istiadat yang berbeda. Oleh karena itu, setiap masyarakat memiliki kepercayaan lokal yang khas satu sama lain. Contoh kepercayaan lokal antara lain Kaharingan dalam masyarakat Dayak, Aluk Tadolo dalam masyarakat Toraja, Tolotang dalam masyarakat Bugis, Kejawen dalam masyarakat Jawa, dan Sunda Wiwitan atau Karuhunan dalam masyarakat Sunda. Kepercayaan lokal biasanya berwujud tradisi-tradisi yang berkaitan dengan ajaran kepercayaan lokal. Meskipun demikian, sebagian kepercayaan lokal tidak sekadar berkaitan

dengan hal gaib atau spiritual. Sebagian kepercayaan dibuat untuk menjaga kelestarian lingkungan alam. Dengan demikian, hubungan manusia dan alam senantiasa harmonis dan seimbang. Kearifan lokal masyarakat dapat memuat lebih dari satu unsur. Unsur yang terdapat dalam kearifan lokal ditentukan oleh kondisi geografis dan kebiasaan hidup. Kondisi tersebut menyebabkan setiap masyarakat memiliki kearifan lokal yang berbeda dengan masyarakat lain. d. Fungsi Kearifan Lokal Kearifan lokal memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat. Menurut Mariane (2014, 112– 113), beberapa fungsi umum kearifan lokal sebagai berikut : 1) Pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kearifan lokal merupakan bagian dari kebudayaan suatu masyarakat. Selain itu, kearifan lokal merupakan pengetahuan yang dipegang teguh oleh masyarakat. Mengingat kearifan lokal terbentuk melalui trial and error serta proses yang lama, generasi berikutnya juga akan mengembangkan kearifan lokal sesuai realitas kehidupan yang sedang dihadapi. Dengan demikian, terjadi perkembangan kebudayaan dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat. 2) Pengembangan sumber daya manusia. Kearifan lokal mendorong anggota masyarakat mempelajari pengetahuan baru dalam masyarakat. Dengan demikian, anggota masyarakat diharapkan dapat menjalankan aturan, hukum, nilai, dan norma sosial yang berlaku di lingkungannya. Sebagai contoh, kearifan lokal Ngayah masyarakat Bali. Tradisi tersebut mengajarkan kepada anggota masyarakat untuk bekerja sukarela demi kepentingan bersama. Tradisi Ngayah diwujudkan dalam bentuk tolong-menolong, berbagi, dan bersosialisasi dengan sesama. 3) Konservasi dan pelestarian sumber daya alam. Kearifan lokal terbentuk akibat interaksi manusia terhadap alam. Masyarakat meyakini bahwa kearifan lokal yang mereka ciptakan dapat menjaga eksistensi atau kelestarian sumber daya alam agar kehidupan manusia dan alam senantiasa seimbang. Sebagai contoh, masyarakat desa adat Tenganan Peringsingan, Bali memiliki aturan adat yang disebut Awig-awig. Awig-awig adalah seperangkat aturan mengenai hubungan manusia dengan lingkungan alam. Sebagai contoh, masyarakat dilarang menebang pohon sekehendak hati dan buah-buahan hanya boleh dimanfaatkan apabila sudah terjatuh dari pohonnya. 4) Sebagai petuah, kepercayaan, dan pantangan. Kearifan lokal memuat nilai dan norma sosial. Masyarakat memiliki sesuatu yang dianggap baik dan dicita-citakan. Melalui kearifan lokal, masyarakat berusaha menjaga pola perilaku untuk bertindak baik dengan menciptakan petuah, kepercayaan, serta pantangan yang telah disepakati bersama. Apabila petuah, kepercayaan, dan pantangan dilanggar diyakini akan menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan. Sebagai contoh, masyarakat Jawa mengenal petuah alon-alon waton kelakon, artinya setiap individu diimbau untuk berhati-hati, ulet, dan berusaha dalam menjalani hidup. e. Kearifan Lokal Cerminan Budaya Bangsa Kearifan lokal merupakan gagasan- gagasan lokal bersifat bijaksana yang diikuti oleh masyarakat. Setiap masyarakat memiliki kearifan lokal yang berbeda dengan masyarakat lain. Akan tetapi, berbagai kearifan lokal tersebut memiliki makna atau nilai luhur luhur yang sama, seperti solidaritas sosial kerja sama, dan tolong menolong. Nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal diwariskan secara turun- temurun. Oleh karena itu, nilai-nilai kearifan lokal bangsa Indonesia dapat mencerminkan budaya bangsa Indonesia.

Gambar 4.6 Gotong royong termasuk kearifan lokal yang mencerminkan budaya bangsa Indonesia (Sumber : www.kompas.com) Coba amati gambar 4.6! Apakah Anda sering mengikuti aktivitas seperti tampak pada gambar? Apa peran serta Anda dalam kegiatan tersebut? Coba ceritakan pengalaman Anda di hadapan teman-teman dan Bapak/Ibu Guru secara santun. Gambar 4.6 menunjukkan aktivitas gotong royong dalam masyarakat. Gotong royong merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Indonesia. Gotong royong diwariskan secara turun-temurun sehingga berkembang dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Budaya gotong royong memiliki banyak manfaat bagi kehidupan, seperti meningkatkan kerukunan dan solidaritas sosial dalam masyarakat. Keberadaan tradisi yang menjunjung tinggi kerja sama, tolong-menolong, dan solidaritas dalam kehidupan bangsa Indonesia merupakan sebuah kearifan lokal dan warisan masa lalu (traditional heritage) yang perlu dikembangkan oleh generasi masa kini. Generasi milenial seperti Anda wajib menjaga kearifan lokal tersebut. Berikut kearifan lokal sebagai cerminan budaya bangsa Indonesia. 1) Kearifan lokal merupakan suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup, pegangan hidup ( way of life ) yang mengakomodasi kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup. 2) Kearifan lokal merupakan tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal secara arif dalam berinteraksi dengan lingkungan tempatnya hidup. Kearifan lokal tidak hanya berhenti pada etika, tetapi sampai pada norma, tindakan, dan tingkah laku ,masyarakat. Oleh karena itu, kearifan lokal dapat menjadi pedoman masyarakat untuk bersikap dan bertindak dalam konteks kehidupan sehari-hari. 3) Kearifan lokal adalah kebijaksanaan atau pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Jika hendak berfokus pada nilai budaya, maka kearifan lokal dapat pula didefinisikan sebagai nilai budaya lokal yang dapat dimanfaatkan guna mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif bijaksana. Sudah menjadi kewajiban kamu sebagai generasi penerus bangsa untuk melestarikan kearifan lokal dengan cara mempelajari dan meneruskan kearifan lokal kepada generasi penerus kamu selanjutnya. f. Kearifan Lokal dan Pengaruh Globalisasi Arus globalisasi memengaruhi masyarakat di berbagai penjuru dunia. Globalisasi pada bidang ekonomi ditandai dengan berlangsungnya perdagangan bebas. Di bidang politik, globalisasi ditandai dengan berkembangnya kerja sama internasional. Adapun di bidang sosial dan budaya globalisasi ditandai dengan pertukaran budaya antarnegara sehingga membentuk budaya global. Globalisasi membawa pengaruh besar dalam kehidupan suatu bangsa. Meskipun demikian, tidak setiap kelompok masyarakat mampu mengikuti perubahan dalam globalisasi. Fungsi kearifan lokal perlu diperkuat di tengah arus globalisasi karena kearifan lokal dapat digunakan sebagai pendekatan dalam pembangunan yang berorientasi pada kelestarian lingkungan. Globalisasi dapat berdampak positif dan negatif terhadap upaya pemberdayaan komunitas lokal. Dampak positif globalisasi terhadap upaya pemberdayaan komunitas lokal, yaitu meningkatkan teknologi modern dalam masyarakat. Teknologi modern dapat

meningkatkan efektivitas kerja dalam upaya pemberdayaan komunitas. Adapun dampak negatif globalisasi terhadap upaya pemberdayaan komunitas lokal, yaitu melemahkan daya saing masyarakat lokal dengan masyarakat luar negeri. Kesulitan kelompok/komunitas masyarakat dalam menghadapi globalisasi dapat menimbulkan permasalahan seperti ketimpangan sosial. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan sosial tersebut yaitu melalui program pemberdayaan. Program pemberdayaan dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan kelompok/komunitas masyarakat tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana/media agar masyarakat bersedia menerima program pemberdayaan yang ditawarkan oleh inisiator. Program pemberdayaan dapat dilakukan melalui kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Kearifan lokal merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat. Kearifan lokal dibangun dari nilai-nilai sosial yang dijunjung dalam struktur sosial masyarakat. Kearifan lokal memiliki fungsi sebagai pedoman, pengontrol, dan rambu-rambu bagi masyarakat (Mardikanto, 2013, 109). Tidak semua yang ada dalam masyarakat disebut kearifan lokal. Kearifan lokal dalam pemberdayaan komunitas tidak hanya sebagai bentuk upaya memberdayakan masyarakat, tetapi melestarikan kearifan lokal itu sendiri. Pada era globalisasi, budaya modern tanpa sadar menggerus kearifan lokal dalam masyarakat. Kearifan lokal di suatu daerah dapat menjadi solusi dalam menghadapi pesatnya globalisasi tentunya kearifan lokal tersebut harus memenuhi beberapa kriteria yaitu mampu bertahan terhadap budaya luar, memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar, mempunyai kemampuyan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli, dan mampu memberi arah pada perkembangan budaya. Kearifan lokal mengandung nilai-nilai luhur yang berfungsi menjaga keberlangsungan hidup manusia dan lingkungan sekitar. Anda sebagai generasi penerus bangsa memiliki kewajiban untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dalam masyarakat sekitar. Upaya pelestarian kearifan lokal dapat Anda terapkan dengan mempelajari kearifan lokal di daerah Anda. Aktivitas Siswa B. STRATEGI PEMBERDAYAAN KOMUNITAS DI TENGAH PENGARUH GLOBALISASI Globalisasi menimbulkan berbagai dampak dalam kehidupan masyarakat. Salah satu dampaknya adalah ketimpangan sosial. Pada kegiatan pembelajaran ini kamu akan diajak menganalisis strategi pemberdayaan komunitas di tengah globalisasi, terutama yang berkaitan dengan permasalahan ketimpangan sosial. Melalui upaya pemberdayaan akan tumbuh kemandirian masyarakat untuk berani menghadapi setiap tantangan, dampak atau peluang yang muncul di tengah-tengah globalisasi. Strategi pemberdayaan komunitas diantaranya penyusunan strategi yang

melibatkan komunitas, memampukan warga untuk memecahkan masalahnya dan memenuhi kebutuhan men dasarnya, mendukung keterlibatan warga miskin, kaum perempuan, dan kelompok lemah lainnya, berupaya memanfaatkan potensi sumber daya lokal, peka terhadap nilai-nilai budaya setempat, memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan, tidak menciptakan ketergantungan, dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Strategi Pemberdayaan Komunitas di Tengah Pengaruh Globalisasi meliputi; 1. Inisiator pemberdayaan komunitas Dalam upaya pemberdayaan komunitas dibutuhkan inisiator atau pemrakarsa pelaksanaan. Adapun inisiator pemberdayaan komunitas antara lain : a. Pemerintah, Pemerintah sebagai inisiator akan memberi stimulus kepada masyarakat melalui program yang dilaksanakan, salah satunya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri). Melalui program PNPM Mandiri, masyarakat diharapkan berperan aktif dalam kegiatan pemberdayaan yang telah direncanakan pemerintah. Program lain dari pemeritah yang bertujuan memberdayakan komunitas antara lain program Kredit Usaha Rakyat (KUR), Proyek Penaggulangan Kemiskinan di apaerkotaan (P2KP), Posyandu, dan Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI). b. Swasta, Lembaga swasta seperti perusahaan dan Lembega Swadaya Masyarakat (LSM) berperan besar dalam pemberdayaan masyarakat. Kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh perusahaan dikenal dengan istilah corporate social responsibility (CSR). Pelaksanaan program pemberdayaan dari perusahaan diatur dalam Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 mengenai Kepedulian Perusahaan terhadap Masyarakat. Berdasarkan ketentuan dalam undang-undang tersebut, setiap perusahaan yang menjalankan kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Tanggung jawab sosial dan lingkungan tersebut diwujudkan dengan melaksanakan program pemberdayaan. Selain perusahaan, pihak swasta yang berperan besar sebagai inisiator pelaksanaan pemberdayaan komunitas adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM). LSM merupakan organisasi sosial yang tidak berorientasi profit/keuntungan. LSM melakukan sosialisasi, arahan/bimbingan, dan mewujudkan program-program pemberdayaan kepada komunitas secara mandiri. LSM juga berperan meningkatkan dan memetakan kesejahteraan masyarakat. c. Masyarakat, Kegiatan masyarakat dapat mempererat hubungan sosial masyarakat. PKK merupakan wadah yang menyatukan ibu-ibu dalam satu dusun/daerah untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang bertujuan memberdayakan keluarga. Program pelatihan kerajinan tersebut diharapkan dapat membantu perekonomian keluarga. Biasanya diprakarsai oleh para pemangku kepentingan seperti kepala desa, lurah, ketua RT, ketua RW, tokoh masyarakat, warga masyarakat, pemuda dan hasil musyawarah. Beberapa pemberdayaan komunitas dapat dilakukan oleh salah satu inisiator secara mandiri. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan terjadi kerja sama antarinisiator (pemerintah, swasta, LSM, dan masyarakat) untuk melakukan pemberdayaan. Pemberdayaan hasil kerja sama antarinisiator tentu lebih baik karena saling melengkapi satu sama lain 2. Prinsip pemberdayaan komunitas Dalam proses pemberdayaan komunitas, masyarakat didampingi untuk menganalisis masalah yang mereka hadapi, serta dibantu menemukan alternatif solusinya, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang mereka miliki. Sehingga diperlukan prinsip-prinsip pemberdayaan komunitas, agar pelaksanaannya tetap berkesinambungan.

Gambar 4.7 Bagan Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Komunitas Terdapat empat prinsip pemberdayaan komunitas yaitu; a. Kesetaraan, pemberdayaan komunitas hendaknya memperhatikan prinsip kesetaraan maksudnya pihak pemberdaya dan komunitas yang akan diberdayakan memiliki kedudukan setara. Pihak pemberdaya/pendamping diposisikan secara fleksibel. Selain memiliki tugas berbagi ilmu pengetahuan, mereka mendengarkan dan mengakomodasi pendapat masyarakat. b. Partisipatif, masyarakat diberikan kebebasan memilih dan merumuskan kebutuhan dalam proses pemberdayaan. Masyarakat diajak melihat kemampuannya dalam mencapai tujuan yang diinginkan sehingga harapan antara pemberdaya dan masyarakat yang diberdayakan berjalan beriringan. c. Keswadayaan, proses menghargai kemampuan masyarakat dalam upaya pemberdayaan dengan mengedepankan kemampuan masyarakat. Program pemberdayaan harus dapat menumbuhkan kemampuan kemandirian masyarakat. Prinsip memulai dari hal-hal yang dimiliki masyarakat menjadi panduan untuk mengembangkan pemberdayaan masyarakat. d. Berkelanjutan, program komunitas dirancang secara berkelanjutan, meski proses pemberdayaan selesai. Program pemberdayaan dapat dilanjutkan dan dikelola masyarakat secara mandiri. Peran berbagai pihak seperti peran generasi muda diperlukan untuk mensukseskan upaya pemberdayaan. Prinsip-prinsip tersebut harus termuat dalam setiap program pemberdayaan. Ketika salah satu prinsip tersebut tidak diterapkan dalam pemberdayaan dapat menyebabkan program tidak berjalan dengan baik, lancar, dan tepat sasaran. 3. Implementasi Pemberdayaan Komunitas Pelaksanan pemberdayaan komunias tidak sebatas memberikan ilmu dan keterampilan kepada masyarakat. Menurut Ginanjar Kartasasmita (Sri Najiyati, 2005, 60), program pemberdayaan dapat dilakukan melalui beragam cara. Secara umum cara tersebut sebagai berikut. a. Enabling, yaitu menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat dapat selalu berkembang. Artinya, pemberdayaan menggali potensi masyarakat untuk dapat dikembangkan. b. Empowering, yaitu memperkuat potensi dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dengan menerapkan langkah-langkah nyata, seperti menyediakan sarana dan prasarana, baik fisik maupun sosial. Artinya, pemberdayaan membantu memfasilitasi masyarakat agar lebih kuat.

c. Protecting, yaitu melindungi dan membela kepentingan masyarakat lemah untuk mencegah persaingan dan eksploitasi. Artinya, pemberdayaan membantu proses advokasi atau pembelaan hukum dan memberikan perlindungan kepada masyarakat. Pemberdayaan tidak hanya sebatas memberikan bantuan. Pemberdayaan menekankan partisipasi masyarakat pada bidang yang perlu ditingkatkan, seperti bidang ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan sesuai dengan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. 4. Strategi pelaksanaan pemberdayaan komunitas Untuk dapat melaksanaan pemberdayaan dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan diperlukan strategi yang tepat. Strategi yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan pemberdayaan komunitas sebagai berikut : a. Mempertimbangkan potensi masyarakat Fasilitator/pihak pemberdaya komunitas hendaknya menghargai segala potensi yang dimiliki komunitas.Tujuan pemberdayaan menekankan penguatan (empowering) anggota komunitas untuk mandiri. Dalam mempertimbangkan potensi masyarakat perlu melokalisasi kearifan lokal masyarakat, yang akan digunakan sebagai batu loncatan upaya pemeberdayaan masyarakat. Sehingga masyarakat akan lebih mudah menerima berbagai perubahan dalam proses pemberdayaan. b. Memberikan pendampingan secara berkelompok Pelaksanaan pemberdayaan akan lebih efektif jika dilakukan secara kelompok. Selain mempertimbangkan efisiensi dan keterbatasan waktu serta biaya, pemberdayaan secara kelompok dinilai lebih efektif. Pendampingan masyarakat secara berkelompok dilakukan agar pemaparan program pemberdayaan dapat dirasakan oleh setiap individu. Sebagai contoh, untuk melakukan pemberdayaan petani, inisiator tidak perlu mendampingi petani satu per satu. Inisiator dapat membentuk kelompok tani untuk melakukan sosialisasi pemberdayaan. Dengan demikian, petani yang tergabung dalam kelompok tersebut diberdayakan secara bersama- sama. c. Memberikan pelatihan khusus Dalam pelaksanaan pemberdayaan, terkadang terdapat usulan atau permintaan masyarakat agar mengadakan pelatihan lain. Usulan tersebut biasanya muncul akibat kebutuhan yang harus dipenuhi oleh masyarakat.Untuk menjawab usulan tersebut, inisiator dapat mengakomodasi usulan-usulan masyarakat sehingga tidak mengganggu pelaksanaan program pemberdayaan utama. Dalam konteks ini, inisiator juga dapat bekerja sama dengan pihak lain untuk memberikan pelatihan khusus.Pihak pemberdaya perlu mengakomodasi usulan anggota masyarakat yang meminta dilakukan pelatihan tertentu di luar program pemberdayaan. Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat mampu menganalisis hal-hal yang sebenarnya diinginkan. Contoh, dalam latihan kekriyaan pemuda karang taruna, terdapat beberapa pemuda yang menginginkan diberi pelatihan pembuatan kerajinan tangan. d. Mengangkat kearifan lokal Pihak pemberdaya perlu mengangkat kearifan-kearifan lokal dalam upaya pemberdayaan komunitas. Contoh, masyarakat suku laut di perairan Riau memiliki kearifan lokal berupa larangan mengambil hasil laut secara berlebihan. Bagi pemerintah atau pihak swasta yang ingin melakukan pemberdayaan dapat memanfaatkan kearifan lokal tersebut sebagai pijakan penyusunan program. Contoh, mengajarkan masyarakat membuat dan mengelola tambak ikan. e. Memberikan bantuan sarana dan prasarana Tujuan program pemberdayaan yaitu meningkatkankesejahteraan hidup masyarakat. Tahap awal proses pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan memberi bantuan berupa sarana dan prasarana. Sarana merupakan alat atau fasilitas yang

digunakan masyarakat secara langsung. Sementara itu, prasarana merupakan fasilitas yang menjadi penunjang dari sarana. Prasarana tidak secara langsung digunakan untuk menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi penting untuk menunjang pemanfaatan sarana. Perhatikan gambar berikut! Gambar 4.8 Pemanfaatan pekarangan cegah krisis pangan. (Sumber : lintasgayo.co) Hal tersebut banyak dilakukan masyarakat, terutama di perkotaan memanfaatkan pekarangan sempit untuk lahan berkebun. Walau tujuan program pemberdayaan menginginkan masyarakat dapat mandiri, sebagai proses awal memperkuat kemampuan masyarakat diperlukan pemberian bantuan berupa saran dan prasarana. Contoh, untuk mensukseskan program penghijauan warga perlu dibantu dengan menyediakan alat-alat pertanian, benih tanaman, pupuk dan polybag. Bantuan dari pihak pemberdaya bisa berupa modal stimulant untuk menggerakkan program yang telah disepakati: pengadaan peralatan selama pelaksanaan program berlangsung, bantuan hukum seperti pembebasan lahan/bantuan perizinan menggunakan bangunan dan fasilitas umum. 5. Melaksanakan Pemberdayaan Secara Bertahap Pemberdayaan masyarakat bukanlah proses instan. Meskipun pemberdayaan merupakan bagian dari perubahan, hasil dan tujuan yang hendak dicapai tidak dapat dilihat serta dirasakan secara cepat. Oleh karena itu, upaya pemberdayaan perlu dilaksanakan secara bertahap. Tahapan pelaksanaan pemberdayaan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.Tahapan dalam pelaksanaan pemberdayaan sebagai berikut; a. Perencanaan Perencanaan yang baik akan menunjang keberhasilan program pemberdayaan. Untuk mencapai mutu perencanaan yang baik, diperlukan keterlibatan komunitas sebagai pihak yang memahami prioritas kebutuhan masyarakat. Dalam perencanaan pihak pemberdaya dapat menerapkan metode PRA (Participatory Rural Appraisal) . Ini merupakan metode penelitian/kajian untuk menggali potensi dan permasalahan dalam masyarakat. Kajian dimaksudkan untuk mengumpulkan dan menganalisis berbagai kondisi, potensi dan permasalahan masyarakat, serta merumuskan alternative pengembangan dan solusi permasalahan. Pada penerapan metode ini, masyarakat diberi kesempatan ambil bagian dalam proses analisis kondisi, potensi, masalah, dan perencanaan. Tujuannya agar masyarakat mampu dan terampil dalam menganalisis masalah, mancari solusi dan membuat rencana untuk dirinya dan komunitas. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahapan perencanaan sebagai berikut.

1) Sosialisasi Awal Inisiator terlebih dahulu menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan pemberdayaan terhadap komunitas atau masyarakat yang akan diberdayakan. Inisiator menyampaikan gambaran umum tentang program pemberdayaan. Dalam tahap ini inisiator belum dapat menjelaskan bentuk- bentuk kegiatan yang akan dilakukan. 2) Mengenali Masyarakat Inisiator bersama masyarakat melakukan penelitian terhadap realitas kehidupan masyarakat. Proses penelitian tersebut bertujuan mengenali karakter masyarakat setempat, memahami kelebihan dan kekurangan masyarakat, serta memahami berbagai kearifan lokal dalam masyarakat. 3) Pemetaan Swadaya Inisiator juga perlu memetakan swadaya yang dimiliki masyarakat. Pemetaan dilakukan dengan mensurvei realitas kondisi lingkungan dan kehidupan komunitas. Swadaya biasanya berkaitan dengan proses pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Peran Pendamping Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah, swasta, maupun masyarakat dapat menjadi inisiator pemberdayaan komunitas. Dalam pelaksanaan pemberdayaan, para inisiator perlu membuat susunan kepanitiaan yang bertugas sebagai pendamping pelaksanaan program pemberdayaan tersebut. Pendamping program pemberdayaan memiliki peran yang beragam. Peran tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat/komunitas dan jenis program pemberdayaan yang dilaksanakan. Adapun peran pendamping sebagai berikut. a) Edukator Pendamping berperan sebagai pendidik masyarakat dengan memberikan kesempatan masyarakat untuk menyampaikan pemikiran dan menunjukkan kreativitasnya. Berbagai potensi yang dimiliki masyarakat dapat dijadikan modal utama dalam proses pemberdayaan. b) Motivator Pendamping berperan untuk menumbuhkembangkan kepercayaan diri masyarakat. Pendamping memotivasi masyarakat untuk berani menunjukkan dan mengasah keterampilan yang dimiliki dalam kegiatan pemberdayaan. c) Fasilitator Pendamping dapat berperan sebagai fasilitator. Artinya, pendamping dapat berperan sebagai pihak yang memfasilitasi atau memberikan sarana agar proses pemberdayaan dapat tercapai sesuai tujuan yang telah ditetapkan. d) Konselor Pendamping berperan sebagai konselor. Artinya, pendamping dapat memberikan bimbingan atau bantuan terkait permasalahan yang dihadapi masyarakat. Apabila permasalahan tersebut berada di luar kapasitas pendamping, maka pendamping akan menanyakan kepada narasumber yang kompeten untuk mendapatkan solusi atau pemecahan masalah. e) Mediator Pendamping dapat berperan sebagai mediator. Artinya, pendamping berperan mempertemukan masyarakat dengan pihak ketiga yang akan diajak kerja sama dalam melakukan pemberdayaan. Sebagai contoh, pendamping mempertemukan antara petani dengan mitra usaha agar dapat membuka pangsa pasar baru. b. Pelaksanaan Komunitas sebagai pihak yang merencanaan program pembangunan memiliki cukup pengetahuan untuk melaksanakan program pembengunan. Tahap pelaksanaan atau disebut tahap kapasitasi biasanya dilakukan dengan metode pendampingan serta diadakan kegiatan memfasilitasi program pemberdayaan. Berbekal pengetahuan dari proses perencanaan, komunitas dan inisiator kemudian menyusun program kegiatan serta pelaksanaan pemberdayaan. Adapun kegiatan-kegiatan

yang dilakukan dalam tahapan pelaksanaan sebagai berikut. 1) Pengorganisasian Masyarakat Inisiator melakukan pertemuan dengan anggota komunitas membahas hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai objek pemberdayaan. Inisiator membentuk kepengurusan program pemberdayaan. Inisiator juga berupaya menumbuhkan kesadaran dan memberi motivasi tentang pentingnya program pemberdayaan. 2) Penyusunan Perencanaan Komunitas yang telah setuju terhadap gagasan program pemberdayaan selanjutnya melakukan penyusunan program pemberdayaan. Inisiator dan masyarakat bersama-sama merumuskan program pemberdayaan. 3) Pelaksanaan Kegiatan Masyarakat merealisasikan program pemberdayaan berdasarkan hasil perencanaan yang telah dibuat. Adapun inisiator memfasilitasi kebutuhan- kebutuhan yang diperlukan dalam realisasi program. 4) Pemanfaatan dan Pemeliharaan Inisiator bekerja sama dengan masyarakat melakukan pendampingan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan hasil realisasi program pemberdayaan. c. Evaluasi Setiap program kegiatan yang telah dilaksanakan perlu dilakukan proses evaluasi. Proses evaluasi bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan program pemberdayaan. Selanjutnya, tingkat keberhasilan program pemberdayaan dijadikan landasan menentukan langkah selanjutnyaa untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi program pemberdayaan (Mardikanto, 2019, 264). Evaluasi dapat memberikan gambaran mengenai tingkat keberhasilan program pemberdayaan yang telah dilaksanakan. Proses evaluasi dapat dilakukan selama atau setelah program pemberdayaan dilaksanakan. Langkah selanjutnya membandingkan hasil pengamatan dengan pedoman evaluasi yang telah ditetapkan, dan kemudian dilakukan pengambilan keputusan. Jika program pemberdayaan dirasa berhasil, tahap berikutnya adalah terminasi, yaitu pengakhiran seluruh kegiatan termasuk pendampingan, serta penyerahan tanggung jawab pemeliharaan program pemberdayaan kepada komunitas yang ber- sangkutan. Program pemberdayaan dilaksanakan untuk meningkatkan perekonomian sehingga tercapai kesejahteraan hidup masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaannya perlu dirumuskan dengan baik dan terarah. Program pemberdayaan yang terarah dapat memberikan daya kepada masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan serta mampu menghadapi tantangan hidup akibat globalisasi. Asesmen Formatif Analisis Pemecahan Masalah Bank sampah adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah. Setelah itu, hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan disetorkan ke Bank Sampah dan menjadi rupiah. Ini merupakan salah satu cara mengelola sampah yang dapat menghasilkan dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satunya yang ada di Bank Sampah Asri Banjarasri di Kelurahan Nglorog Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen Jawa Tengah. Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sragen, Edy Sudrajad mengatakan, saat ini secara existing, berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) telah memiliki 245 unit Bank Sampah serta 2 unit Bank Sampah Induk. Menurut Edy, salah satu keunggulan Bank Sampah yang ada di Kabupaten Sragen adalah Bank Sampah Asri, di Kelurahan Nglorog yang dikelola oleh warga dan para relawan setempat. Dikatakannya, untuk sampai ke Bank Sampah, warga memilah sampah organik dan non organik. Sampah berupa plastik,

kertas dan kardus dipisah tersendiri. Selanjutnya, sampah palstik, botol, kertas, kardus, dijual ke Bank Sampah dan dilakukan pencatatan. Hasil penjualan sampah ini, kemudian dimasukkan ke rekening tabungan sampah. “Bank Sampah ini, selain mengurangi sampah, terutama sampah plastik, juga dapat menambah penghasilan masyarakat. Karena saat mereka menukarkan sampah mereka akan mendapatkan imbalan berupa uang yang dikumpulkan dalam rekening yang mereka miliki,” jelasnya. https://www.jatengnews.id/2024/09/10/keren-bank-sampah-asri-banjarasri-sragen-olah- sampah-jadi-rupiah/ Berdasarkan artikel diatas, jawablah pertanyaan berikut. 1. Coba temukan bentuk pemberdayaan dalam artikel diatas! 2. Menurut kamu, dapatkah bank sampah mengatasi ketimpangan sosial ekonomi masyarakat terkait dengan globalisasi? C. PEMBERDAYAAN KOMUNITAS BERDASARKAN KEARIFAN LOKAL Pudarnya nilai-nilai kearifan lokal di sebagian besar masyarakat di Indonesia merupakan suatu kondisi yang sangat memprihatinkan sehingga berdampak terjadinya disintegrasi bangsa. Peristiwa meningkatnya pertentangan antar etnis, antar suku, dan antar kampung sebagai akibat dari pengaruh globalisasi. Nilai-nilai kearifan lokal di Indonesia memang berbeda-beda setiap daerahnya. Namun dipersatukan oleh semboyan Bhineka Tunggal Ika. Masuknya globalisasi ke Indonesia menjadikan perbedaan nilai dan norma yang ada semakin besar. Karena keterbatasan, masyarakat tidak mampu membentengi diri mereka untuk mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal. Dampak yang nyata dalam kehidupan di masyarakat akibat pengaruh globalisasi misalnya kenakalan remaja, perubahan kehidupan sosial ekonomi masyarakat, perubahan kondisi lingkungan, kesenjangan sosial dan sebagainya. 1. Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja Berdasarkan Kearifan Lokal Adanya kenakalan remaja dapat dikarenakan pengaruh globalisasi. Karena itu perlu adanya upaya untuk mengatasi masalah tersebut, dengan berbasis kearifan lokal. Masuknya globalisasi ke Indonesia berdampak pada krisis identitas pada remaja, sehingga mudah mengikuti budaya barat dalam berpakaian, kesenian, dan sebagainya. Dengan masuknya nilai-nilai budaya barat ke Indonesia, seharusnya masyarakat mampu bersikap secara kritis untuk memilih mana yang sesuai dengan nilai dan norma budaya Indonesia. Secara umum kenakalan remaja dapat diatasi melalui beberapa pendekatan, seperti tindakan preventif. Menurut Kartono, tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja adalah: a. Meningkatkan kesejahteraan keluarga b. Memperbaiki kondisi lingkungan c. Mendirikan klinik bimbingan psikologis dan edukatif untuk membantu remaja d. Membentuk badan kesejahteraan anak. e. Mendirikan sekolah unutuk remaja yang kurang mampu. f. Mendirikan tempat latihan untuk menyalurkan kreativitas para remaja. g. Menyelenggarakan bimbingan dan diskusi kelompok. h. Menyediakan tempat rekreasi yang sehat untuk para remaja. Melalui pendekatan kearifan lokal, nilai-nilai kearifan lokal sudah seharusnya dipupuk sejak dini untuk membentuk kepribadian dan identitas diri generasi muda. Nilai dan norma kearifan lokal tidak harus bersifat konservatif tanpa menerima budaya luar. Dan dapat dijadikan sebagai filter dalam menghadapi globalisasi sehingga tidak terpengaruh oleh budaya luar. Sebagai masyarakat Indonesia yang kaya akan kearifan lokal sudah sewajarnya bersikap terbuka dan menerima masukan dari budaya luar untuk memperkaya dan mengimplementasikan nilai dan norma kearifan lokal. Contoh budaya kerja bangsa barat yang disiplin dan menghargai waktu.

Dengan cara memaksimalkan peran pendidikan. Pendidikan berfungsi sebagai wadah untuk mengembangkan potensi dan membentuk karakter,sesuai dengan nilai-nilai dan norma bangsa Indonesia. Dengan demikian setiap daerah yang memiliki kearifan lokal dapat tetap lestari dan terjaga. 2. Upaya Mengatasi Perubahan Kehidupan Sosial Masyarakat Berdasarkan Kearifan Lokal Dalam kehidupan sosial, individu dalam masyarakat akan saling membutuhkan bantuan orang lain. Sehingga diperlukan nilai da norma untuk menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Pada dasarnya globalisasi berkaitan dengan transformasi secara keseluruhan dari pola kehidupan yang masih tradisional (mata pencaharian, kehidupan sosial, teknologi, dsb) atau pra modern kearah pola kehidupan modern. Karakteristik yang umum pada globalisasi berkaitan dengan aspek- aspek sosil demogrofi disebut gerak sosial (sosial mobility). Dampak yang ditimbulkan dari globalisasi yaitu adanya perubahan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Masyarakat saat ini cenderung menjadi konsumtif dalam kehidupan sehari- hari, pergaulan menjadi hedonis, cara berpakaian yang tidak sesuai dengan nilai lokal. Bagi masyarakat yang tidak siap menerima perubahan tersebut,maka akan mundur dari pergaulan, merasa frustasi, dan dapat menimbulkan perilaku menyimpang. Cara mengatasi masalah tersebut,salah satunya dengan memberdayakan komunitas yang berlandaskan kearifan lokal. Mengatasi permasalahan sosial dengan kearifan lokal berarti menggunakan pendekatan kekeluargaan, musyawarah, nilai dan norma lokal yang berlaku dimasyarakat setempat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dengan memberdayakan kelompok-kelompok kecil yang saling berinteraksi dan bersosialisasi. Contoh kelompok Pembinaan Kelompok Keluarga (PKK), PNMP Mandiri, Karang taruna dan sebagainya. 3. Upaya Mengatasi Perubahan Kondisi Lingkungan Berdasarkan Kearifan Lokal Selain berpengaruh pada kehidupan manusia, perubahan sosial juga berpengaruh terhadap kondisi lingkungan. Contohnya, pencemaran lingkungan yang dilakukan manusia. Kita perlu upaya untuk mengatasi masalah tersebut agar tidak membawa dampak negative. Sumber daya alam Indonesia yang melimpah telah membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan sampai saat ini masyarakat masih mengendalkan hidupnya dari alam. Kebutuhan manusia akan terus terpenuhi dan tercukupi bila lingkungan dikelola secara baik, salah satunya dengan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan disegala bidang dengan tetap memperhatikan kualitas dan fungsi dari alam. Pola hidup konsumsi yang menuntut harus terpenuhinya kebutuhan di segala bidang membuat masyarakat tidak puas dan ingin memperoleh yang lebih. Dampaknya sumber daya alam di eksloitasi secara berlebihan tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan. Bentuk kepedulian kelompok masyarakat terhadap lingkungan seperti masyarakat di Bali yang mempertahankan sistem pertanian Subak, masyarakat di Tasikmalaya/ Kampung Naga, Komunitas Kampung Adat Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur, Komunitas Suku Anak Dalam, Jambi, dan Komunitas Nelayan Suku Bajo 1) Pemberdayaan Komunitas melalui Sistem Subak di Bali Subak merupakan sistem pengelolaan irigasi pertanian yang berasal dari Bali. Sudah sejak ratusan tahun yang lalu dan mampu meningkatkan produktivitas pertanian, menjaga ketersediaan air, mengurangi hama, dan sebagainya. Melalui sistem Subak, petani memperoleh air irigasi sesuai kebutuhan yang berdasarkan musyawarah. Secara filosofis keberadaan Subak merupakan implementasi dari konsep “tri hita karana”, bila diartikan adalah tiga penyebab kebahagiaan (Tuhan,manusia dan alam). Konsep mengenai hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan antar manusia. 2) Pemberdayaan Komunitas Kampung Naga Masyarakat di Kampung Naga jauh dari keramaian kota dan tidak mau terpengaruh dengan kehidupan luar. Contoh, masyarakat tidak mau menggunakan sepeda motor, televisi, handphone, dan peralatan elektronik lainnya. Mereka merasa cukup dengan apa yang mereka miliki saat ini. Masyarakat lokal menganggap bahwa lingkungan yang berada

di sekitar mereka telah mampu memberikan kebutuhan sehari-hari. Masyarakat masih patuh pada norma-norma adat yang diwariskan oleh leluhur mereka. Salah satu pantangan yang paling ditakuti adalah menebang kayu di hutan. Hutan dan ekosistemnya dibiarkan apa adanya. Sampai sekarang masyarakatnya masih mematuhi, karena bila melanggar hukumannya berupa pengucilan dari kampung dan keluarga. 3) Pemberdayaan Komunitas Kampung Adat Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur Wae Rebo adalah sebuah kampung tradisional yang terletak di dusun terpencil tepatnya di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kampung adat ini terkenal dengan sebutan ”kampung di atas awan”. Kampung adat Wae Rebo telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) pada 2012. Kenyataan tersebut menyebabkan kampung adat Wae Rebo semakin dikenal dan menarik perhatian wisatawan. Desa Wae Rebo merupakan desa yang masih mempertahankan kearifan lokal dan memiliki keunikan, baik dari segi adat istiadatnya, struktur bangunan, maupun cara hidup. Salah satu kearifan lokal di Wae Rebo berupa tradisi Pa’u Wae Lu’u. Ritual ini dipimpin oleh salah satu ketua adat Wae Rebo yang bertujuan meminta ijin dan perlindungan kepada roh leluhur terhadap tamu yang berkunjung dan tinggal di Wae Rebo. Tidak hanya itu, ritual ini juga ditujukan kepada pengunjung ketika sudah sampai di tempat asal mereka. Bagi masyarakat Wae Rebo, wisatawan yang datang dianggap sebagai saudara yang sedang pulang kampung. Sebelum ritual selesai, para tamu tidak diperkenankan melakukan kegiatan apa pun termasuk mengambil foto. Para pengunjung diwajibkan mengenakan pakaian sopan, dilarang mengumpat dan memaki orang lain, serta diharuskan melepas alas kaki ketika masuk rumah. Terkait program pemberdayaan, Duta Pariwisata Wae Rebo berusaha mengembangkan potensi wisata Wae Rebo. Duta Pariwisata Wae Rebo bekerja sama dengan pelaku bisnis pariwisata, yayasan Rumah Asuh, serta lembaga nonpemerintah yang aktif mengembangkan pariwisata alam dan budaya di Indonesia. Pemberdayaan tersebut mengadakan pelatihan bahasa Inggris agar mereka dapat berkomunikasi dengan wisatawan. Pelatihan ini dilakukan dengan mendatangkan guru dari Inggris. Program pemberdayaan yang dilakukan oleh Yayasan Rumah Asuh berupa pengadaan rumah belajar. Mbaru Niang tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga dijadikan sebagai tempat pemberdayaan masyarakat. Penduduk setempat diajari berbagai keterampilan, antara lain tentang pariwisata, bahasa, dan kuliner. Program pemberdayaan tersebut bertujuan menambah dan meningkatkan perekonomian warga dari sektor pariwisata. 4) Pemberdayaan Komunitas Suku Anak Dalam, Jambi Suku Anak Dalam atau dikenal dengan Suku Kubu atau Orang Rimba adalah salah satu suku minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi. Suku Anak Dalam tinggal dan beraktivitas di dalam hutan. Mereka bersifat nomaden atau dalam istilah mereka disebut melangun. Kearifan lokal suku Anak Dalam berkaitan erat dengan hutan. Suku Anak Dalam memiliki hutan larangan. Pohon yang ada dalam kawasan hutan tersebut tidak boleh ditebang atau dilukai. Selain itu, masyarakat suku Anak Dalam mengenal hompongan yaitu lahan yang bentuknya memanjang dan ditanami karet serta tanaman yang berfungsi sebagai batas bagi masyarakat luar dalam membuka hutan. Suku Anak Dalam memiliki kepercayaan bahwa jalur air adalah jalan bagi dewa dan dewi sehingga kebersihannya harus dijaga. Oleh karena itu, mereka tidak pernah membuang hajat atau membuang limbah di sungai sehingga orang bisa minum langsung air dari sungai. Terkait program pemberdayaan, suku Anak Dalam masuk dalam program pemberdayaan komunitas adat terpencil (KAT). Pemberdayaan yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Sosial seperti pendampingan pendidikan dengan membangun rumah pintar berisi buku-buku bacaan dan pakaian bagi warga suku Anak Dalam, dibangunkan hunian permanen, serta diajarkan pola hidup, bersih, dan sehat (PHBS). Adapun dari pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ikut serta dalam melakukan pemberdayaan. Pemberdayaan tersebut berupa pendampingan pendidikan bagi anak-anak suku Anak Dalam, pemberdayaan ekonomi dengan pemberian bibit pohon buah, dan budidaya

tanaman holtikultura yang ditanam di kawasan suku Anak Dalam untuk meningkatkan perekonomian serta pelestarian tumbuhan pangan bagi suku Anak Dalam. 5) Pemberdayaan Komunitas Nelayan Suku Bajo Suku Bajo tersebar di 21 provinsi di Indonesia dengan memiliki anggota masyarakat puluhan ribu orang. Suku Bajo hidup berpindah-pindah di perairan laut dan teluk di sekitar Pulau Sulawesi, Kalimantan, Sumatra bagian timur, Maluku Utara, dan Kepulauan Nusa Tenggara. Pada masa kini masyarakat suku Bajo mulai tinggal menetap. Kearifan lokal suku Bajo diwariskan dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi (pembelajaran). Bahan ajar dalam proses pembelajaran tersebut tidak tertulis, tetapi dihafal, terutama oleh para tetua adat dan tokoh masyarakat Bajo. Suku Bajo mengemas kearifan lokal mereka berdasarkan pengalaman dalam berinteraksi dengan lao (laut), sama (sesama orang Bajo), bagai (orang asing atau orang di luar etnik Bajo), dan mboatau papu (Tuhan penguasa alam). Beberapa bentuk kearifan lokal masyarakat suku Bajo berkaitan dengan alam, kepercayaan lokal, dan teknologi tradisional. Masyarakat suku Bajo memercayai pamali (larangan) berkaitan dengan laut. Masyarakat percaya bahwa gugusan karang merupakan tempat bersemayam Mbo (dewa penguasa laut). Oleh karena itu, masyarakat suku Bajo melarang membuang sampah ke laut seperti air cucian teripang, arang kayu, abu dapur, dan puntung rokok. Masyarakat suku Bajo memegang teguh adat dan budayanya. Oleh karena itu, usaha pemberdayaan masyarakat juga disesuaikan dengan kebudayaan masyarakat Bajo. Contoh usaha pemberdayaan dilakukan dengan membentuk Kelompok Sadar Lingkungan (KSL) oleh LSM bekerja sama dengan pemuda setempat. Salah satu kegiatan kelompok ini adalah menanam mangrove. Selain itu, pemberdayaan datang dari pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan melakukan pemberdayaan ekonomi agar nelayan suku Bajo tidak lagi bergantung kepada rentenir. Pemberdayaan Komunitas dalam Masyarakat Modern Kehidupan masyarakat modern identik dengan masyarakat yang tinggal di perkotaan. Menurut Anda, apakah semua masyarakat di perkotaan menjalani hidup yang berkecukupan? Ternyata tidak demikian kondisinya. Di tengah kehidupan perkotaan yang serba modern terdapat kelompok atau komunitas masyarakat yang terpinggirkan. Komunitas tersebut yaitu masyarakat yang hidup di kawasan kumuh, kelompok anak jalanan, tunawisma, dan masyarakat miskin pinggiran kota. Istilah yang biasa digunakan untuk menyebut komunitas ini adalah kelompok marginal (terpinggirkan). Setiap kelompok tersebut memang tidak menyatakan diri sebagai komunitas. Akan tetapi, masyarakat luar yang memberi predikat tersebut karena mereka bernasib sama sering terlihat bersama tinggal di lokasi yang sama, dan saling berinteraksi. Mereka adalah contoh komunitas yang perlu mendapat pemberdayaan. Dalam melakukan pemberdayaan, pemerintah, swasta, dan LSM mengembangkan nilai- nilai kearifan lokal yang sudah menjadi budaya nasional bangsa Indonesia seperti solidaritas sosial, empati, toleransi, kerja sama, dan gotong royong. Nilai-nilai kearifan lokal inilah yang diterapkan untuk pemberdayaan komunitas masyarakat modern. Adapun organisasi yang turut membantu melakukan pemberdayaan komunitas dalam masyarakat modern sebagai berikut. a. Sanggar Anak Alam (SALAM) Sanggar Anak Alam (SALAM) merupakan organisasi yang berupaya mewujudkan dan mengedepankan prinsip menyelenggarakan pendidikan tidak hanya dilakukan di dalam ruang kelas antara guru dan peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan proses belajar secara holistik yang terbangun relasi dengan orang tua peserta didik dan lingkungan setempat. Penyelenggaraan proses belajar berasal dari kekuatan dan kemampuan yang dimiliki. Organisasi ini menerima bantuan dari luar, namun tidak bersifat mengikat serta tidak merusak prinsip kemandirian yang menjadi kekuatan. Kemandirian yang dimaksud ialah cara pandang, metode belajar mengajar, media yang digunakan, sumber-sumber logistik, pendanaan, serta adat istiadat yang bersumber dari komunitas setempat.

SALAM meyakini bahwa pendidikan dasar juga merupakan fondasi penting untuk meletakkan sistem berpikir dan sikap yang terbangun sejak anak-anak untuk memahami potensi dan problematika serta realitas kehidupan untuk bekal pada masa mendatang. SALAM berupaya menciptakan ruang bagi anak-anak serta komunitas untuk leluasa melakukan eksperimen, eksplorasi, dan mengekspresikan berbagai temuan pengetahuan dengan memanfaatkan lingkungan di sekitarnya sebagai media belajar. b. Save Street Child Save street child merupakan organisasi yang berupaya menjadi wadah penggerak kepedulian terhadap permasalahan anak jalanan. Kegiatan organisasi ini antara lain kampanye kepedulian tentang anak jalanan. Save street child berusaha memanusiakan anak jalanan, misalnya melalui pelaksanaan program pemberdayaan dalam bidang pendidikan. Save street child mengelola kelas-kelas belajar gratis yang dijalankan oleh tim pengajar. Pengadaan kelas-kelas belajar gratis tersebut diawali melalui mekanisme survei, pendekatan terhadap warga sekitar, dan perencanaan sebelum akhirnya berjalan sebagai pusat belajar mengajar. Organisasi ini juga memiliki cabang di daerah lain. Tercatat save street child tersebar di tujuh belas kota di Indonesia. c. Sahabat Indonesia Berbagi (SIGi) Seperti dikutip dari sigimks.or.id, Sahabat Indonesia Berbagi (SIGi) merupakan komunikasi yang bersifat independen, bebas, serta tidak terikat oleh organisasi dan golongan manapun. Komunitas relawan ini memiliki visi menjadi gerakan sosial berbasis jaringan pertemanan di seluruh Indonesia yang ke depannya akan banyak sahabat yang kurang mampu akan dibantu. SIGi memiliki berbagai program berbagi seperti teater edukasi keliling (teling), gazebo belajar SIGi, dan project berbagi. Komunitas ini bertujuan membagi ilmu dan kebahagiaan kepada anak-anak yang kondisi kesejahteraannya di bawah rata-rata. Saat ini, SIGi tersebar di seluruh Indo- nesia dan memiliki beberapa regional antara lain SIGi regional Jabodetabek, Makassar, Medan, Bandung, Pekanbaru, Mamuju, Majene, Surabaya, dan Palu. d. Ilmu Berbagi Foundation Pemberdayaan tidak terbatas pada pemberian bantuan yang bersifat materiel. Bantuan nonmateriel seperti pelatihan, bimbingan, dan motivasi pun juga dapat diberikan kepada masyarakat seperti yang dilakukan oleh llmu Berbagi Foundation. llmu Berbagi Foundation adalah organisasi nonprofit berbasis komunitas dengan program berbagi dan pelayanan berkelanjutan di bidang sosial, pendidikan dan peradaban masyarakat Indonesia. Terdapat empat pilar komitmen dasar Komunitas Ilmu Berbagi, yaitu berbagi untuk pengembangan karakter, pengetahuan, keahlian, dan kemandirian yang dijabarkan lebih lanjut dalam target capaian organisasi. Untuk mewujudkan target tersebut, komunitas ini menyusun beberapa program seperti program beastudi ilmu berbagi, pelatihan gratis, sekolah binaan, 1 donatur 1 anak asuh, ilmu berbagi goes to school, dan pengembangan taman baca. Komunitas Ilmu Berbagi ini memiliki koordinator wilayah yang tersebar mulai dari Jabodetabek hingga Papua. Komunitas ini juga membantu masyarakat yang secara finansial kurang mampu untuk memperoleh pendidikan. e. Komunitas Historia Indonesia (KHI) KHI merupakan organisasi nirlaba-independen yang bergerak dalam bidang sejarah, kebudayaan, pendidikan, dan pariwisata. KHI memiliki tiga pilar utama dalam setiap gerakannya, yaitu rekreatif, edukatif, dan menghibur. KHI merupakan suatu wadah bagi kaum muda peduli sejarah dan budaya Indonesia yang didirikan di Jakarta pada 22 Maret 2003. Pada awal tahun 2009, KHI mulai menggunakan sarana blog, twitter, dan facebook untuk mengomunikasikan program-program komunitasnya. Kini anggota KHI sudah tercatat lebih dari 23.500 orang yang tersebar di seluruh dunia. KHI tidak hanya berhasil menarik minat banyak anak muda untuk mencintai sejarah, tetapi

berhasil menarik simpati beberapa lembaga dan perusahaan seperti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bagi KHI, sejarah dan budaya bukan sekadar subjek pelajaran di sekolah. Sejarah dan budaya adalah sumber patriotisme dan nasionalisme bangsa. Melalui kreativitas kekinian, KHI menghadirkan berbagai acara yang mampu menarik minat generasi tua dan muda untuk makin mencintai sejarahnya. Program yang cukup dikenal dari komunitas ini adalah Historia Amazing Race, Indonesia Heritage Trail, Wisata Kota Tua Jakarta, Museum Run, Gowes to Museum, Tour de Busway, Wisata Malam Kota Tua, dan Night at The Museum, serta Menginap di Museum. Asesmen Formatif Kerjakan tugas berikut secara berkelompok ! 1. Bentuk kelompok yang terdiri atas 3-5 orang ! 2. Rencanakan sebuah kampanye anti bullying yang bertujuan memberdayakan komunitas lokal di sekitar kalian ! 3. Perencanaan kampanye harus mencakup aspek-aspek berikut : a. Tujuan kampanye (meningkatkan kesadaran akan bahaya perilaku bullying dan mengedukasi mengenai cara mencegah perilaku bullying) b. Target audiens (misalnya remaja dan masyarakat umum) c. Metode dan media yang digunakan (misalnya kegiatan seminar, diskusi kelompok, media sosial, selebaran, atau video edukasi) d. Kolaborasi dengan pihak terkait (misalnya dengan sekolah, tokoh masyarakat, kepolisian, lembaga sosial) e. Jenis kegiatan pemberdayaan (misalnya pelatihan atau fokus diskusi komunitas) 4. Tuliskan hasil perencanaan dalam laporan singkat (1-2 halaman), mencakup strategi, langkah-langkah dan sumber daya yang dibutuhkan untuk kampanye tersebut ! 5. Presentasikan hasil perencanaan kampanye di depan kelas dengan pembagian tugas yang adil dalam kelompok !

Asesmen Sumatif Bab 4 A. Pilihlah jawaban yang paling benar ! 1. Pemberdayaan komunitas yang tepat adalah . . . . a. kegiatan menjaga kelestarian budaya lokal masyarakat b. kegiatan mengatasi permasalahan ekonomi dalam masyarakat c. upaya pemerintah melakukan proses pem- bangunan fisik dalam masyarakat d. upaya memberikan daya kepada masyarakat yang mengalami ketertinggalan e. upaya memanfaatkan sumber daya alam untuk mendorong perekonomian negara 2. Salah satu unsur dalam komunitas yaitu seperasaan. Makna dari unsur tersebut adalah . . . . a. antarindividu memiliki nasib atau kondisi hidup yang sama b. antarindividu dalam komunitas memiliki hubungan yang erat c. antaranggota komunitas memiliki kesamaan kepentingan d. antarindividu memiliki ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan fisik e. antarindividu memiliki ketergantungan dalam memenuhi kebutuhan psikologis 3. Perhatikan kutipan berikut dengan seksama Berdasarkan kutipan artikel tersebut, fungsi kearifan lokal berupa hutan larangan bagi kehidupan masyarakat adalah . . . . a. menjaga kelestarian sumber daya alam b. mengembangkan kebudayaan masyarakat setempat c. mengoptimalkan eksploitasi sumber daya alam d. mengembangkan kualitas sumber daya manusia e. meningkatkan perekonomian masyarakat setempat 4. Pemberdayaan berbasis kearifan lokal tepat dilakukan pada era globalisasi saat ini karena . . . . a. meningkatkan perekonomian nasional melalui kerja sama antarmasyarakat b. meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus melestarikan nilai-nilai lokal c. meningkatkan jumlah produk lokal dengan biaya produksi murah d. membantu masyarakat memasarkan produk lokal ke luar negeri e. meningkatkan kualitas produk lokal agar unggul di pasar internasional 5. Perusahaan swasta memberikan bantuan berupa bibit pohon bakau kepada masyarakat pesisir. Melalui bantuan tersebut diharapkan masyarakat dapat mengambil manfaat dari pohon bakau untuk meningkatkan kesejahteraan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perusahan melakukan pemberdayaan dengan cara enabling karena . . . . a. menciptakan potensi masyarakat untuk dapat dikembangkan b. memberikan bantuan prasarana kepada masyarakat pesisir c. memperkuat potensi sumber daya manusia masyarakat pesisir d. membela kepentingan masyarakat pesisir terhadap eksploitasi e. memberikan perlidungan hukum dalam pemanfaatan hutan bakau 6. Mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) melakukan pemberdayaan dengan mengadakan pelatihan keterampilan membuat pupuk kompos. Keterampilan tersebut diharapkan dapat meningkatkan perekonomian warga dan dapat dilanjutkan secara mandiri sesudah program selesai dilaksanakan. Ilustrasi tersebut menunjukkan salah satu penerapan prinsip pemberdayaan yaitu . . . . a. kesetaraan b. partisipatif c. berkelanjutan d. kearifan lokal e. keswadayaan 7. Perhatikan artikel berikut ! Meningkatnya industrialisasi menyebabkan ketidakberdayaan petani khususnya dalam melakukan negosiasi menentukan harga hasil produksinya. Kondisi tersebut mempersulit usaha meningkatkan pendapatan petani. Pemerintah memiliki peran krusial dalam memberdayakan petani. Terdapat banyak kebijakan yang diharapkan mampu mendukung pemberdayaan petani pada masa depan. Salah satunya kewajiban pemerintah terkait Hutan larangan dalam masyarakat adat Cireundeu masih dilestarikan hingga saat ini. Kelestarian hutan larangan dapat terjaga karena masyarakat Cireundeu mematuhi aturan-aturan adat. Pertama, masyarakat yang memasuki kawasan hutan tidak boleh mengenakan alas kaki. Kedua, hutan larangan hanya boleh dimasuki jika habitat di dalamnya mengalami kerusakan dengan menggelar upacara netepkeun kawilayahan. Ketiga, masyarakat yang memasuki hutan larangan harus berpuasa Mutih. Masyarakat adat Cireundeu mensakralkan hutan larangan demi kelangsungan kehidupan generasi selanjutnya.

pembiayaan perlindungan dan pemberdayaan petani melalui pendirian bank bagi petani atau lembaga pembiayaan petani. Berdasarkan artikel tersebut, manfaat pem- bentukan bank petani atau lembaga pembiayaan bagi petani terkait dukungan pemerintah bagi kaum petani adalah . . . . a. mendorong para petani di perdesaan gemar meminjam uang b. mengedukasi kaum petani cara meningkatkan hasil panen c. menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan pertanian d. memberikan kemudahan bagi petani dalam mendistribusikan hasil tani e. menyalurkan kredit bagi petani dengan persyaratan sederhana dan prosedur cepat 8. Tahap evaluasi pelaksanaan pemberdayaan, kegiatan musyawarah bersama akan sering dilaksanakan karena memiliki tujuan untuk . . . . a. memaparkan rencana pemberdayaan kepada masyarakat b. mendiskusikan masukan dari warga terhadap rancangan program pemberdayaan c. mendengar tanggapan masyarakat terkait hasil pemberdayaan d. melaksanakan program pemberdayaan secara bersama-sama e. melakukan pendampingan terhadap komunitas yang diberdayakan 9. Banyak sentra kerajinan tenun ikat di Kediri yang gulung tikar. Kondisi ini disebabkan oleh faktor kalah bersaing dan tidak adanya generasi penerus. Oleh karena itu, pemerintah melakukan pemberdayaan bagi kelompok-kelompok perajin kain tenun ikat ini. Tujuan pemerintah melakukan pemberdayaan berdasarkan realitas tersebut adalah . . . . a. mendorong masyarakat memproduksi tenun ikat sebanyak-banyaknya b. mengedukasi masyarakat cara membuat kain tenun menggunakan mesin c. memberikan pelatihan keterampilan dan inovasi motif baru kepada perajin d. mengedukasi masyarakat terutama generasi muda untuk memproduki kain tenun ikat e. membantu masyarakat membuka cabang pembuatan kain tenun ikat di luar daerah 10. Masyarakat Lampung terbagi menjadi dua suku yaitu suku Lampung Pesisir dan suku Lampung Pepadun. Suku Lampung Pesisir bertempat tinggal di sepanjang pesisir Lampung. Sementara itu, suku Lampung Pepadun bertempat tinggal di daerah pedalaman dan dataran tinggi. Meskipun berada dalam satu pulau yang sama tetapi memiliki kearifan lokal yang berbeda. Faktor penyebab terjadinya perbedaan kearifan lokal tersebut adalah . . . . a. perbedaan kondisi lingkungan sosial b. perbedaan struktur sosial masyarakat c. perbedaan kondisi alam setiap wilayah d. ketidaksamaan kebijakan dari pemerintah e. perbedaan jumlah penduduk di setiap wilayah B. Kerjakan soal-soal pilihan ganda kompleks berikut! Jawaban benar lebih dari satu! 1. Sebuah desa wisata mengembangkan program ekonomi kreatif dengan memanfaatkan tradisi lokal seperti kerajinan tangan dan upacara adat. Namun, generasi muda mulai kurang tertarik karena dianggap tidak modern. Upaya yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah … Pilihlah jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.  menghilangkan unsur tradisi agar lebih menarik bagi generasi muda  mengkombinasikan kearifan lokal dengan teknologi digital untuk promosi  melibatkan generasi muda dalam inovasi produk berbasis budaya local  membatasi peran masyarakat lokal agar program berjalan cepat  mengadakan pelatihan kreatif berbasis potensi lokal 2. Dalam suatu komunitas, terdapat konflik antara kelompok yang ingin mempertahankan tradisi dengan kelompok yang ingin modernisasi. Strategi pemberdayaan yang tepat adalah … Pilihlah jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.  mengutamakan modernisasi agar tidak tertinggal zaman  menolak semua bentuk perubahan demi menjaga tradisi  melakukan dialog partisipatif untuk mencari titik temu  mengintegrasikan nilai tradisional dengan kebutuhan masa kini  mengabaikan konflik agar tidak memperlambat program 3. Program pemberdayaan berbasis kearifan lokal dinilai gagal karena kurangnya partisipasi masyarakat. Analisis yang tepat terkait penyebab dan solusi adalah … Pilihlah jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.  program tidak melibatkan tokoh adat atau masyarakat setempat  kurangnya pemahaman terhadap nilai dan norma lokal  program terlalu menekankan bantuan tanpa pemberdayaan

 masyarakat tidak perlu dilibatkan karena bukan ahli program  perlu dilakukan pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat 4. Perhatikan pernyataan berikut terkait konsep pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal! No. Pernyataan Benar Salah 1 Pemberdayaan komunitas bertujuan meningkatkan ketergantungan masyarakat pada pihak luar. 2 Kearifan lokal mencerminkan nilai, norma, dan praktik yang berkembang dalam masyarakat setempat. 3 Program pemberdayaan harus mengabaikan budaya lokal agar lebih modern. 4 Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan pemberdayaan komunitas. 5 Kearifan lokal dapat menjadi solusi dalam menghadapi dampak globalisasi. 5. Perhatikan pernyataan berikut tentang strategi pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal! No. Pernyataan Benar Salah 1 Pengembangan potensi lokal merupakan salah satu strategi pemberdayaan komunitas. 2 Pengembangan potensi lokal merupakan salah satu strategi pemberdayaan komunitas. 3 Pengembangan potensi lokal merupakan salah satu strategi pemberdayaan komunitas. 4 Pengembangan potensi lokal merupakan salah satu strategi pemberdayaan komunitas. 5 Pengembangan potensi lokal merupakan salah satu strategi pemberdayaan komunitas. C. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas dan benar ! 1. Mengapa masyarakat membutuhkan pemberdayaan guna meningkatkan kesejahteraan hidup? Jelaskan pendapat Anda! 2. Tuliskan tiga contoh kearifan lokal yang berfungsi untuk menjaga kelestarian lingkungan alam! 3. Program pemberdayaan komunitas diharapkan dapat dijalankan secara berkelanjutan. Mengapa demikian? 4. Kegiatan pemberdayaan masyarakat perlu memperhatikan kearifan lokal. Benar atau salah pernyataan tersebut? Jelaskan pendapat Anda! 5. Dalam kegiatan pemberdayaan, masyarakat perlu dilibatkan tidak hanya saat pelaksanaan program saja, tetapi juga dilibatkan dalam proses perencanaan hingga evaluasi. Mengapa demikian?

Refleksi Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jujur dan bertanggungjawab. Berikan cek list pada jawaban yang sesuai menurutmu! Asesmen Sumatif Akhir Semester Genap A. Pilihlah jawaban yang paling tepat ! 1. Masyarakat saat ini cenderung lebih menyukai belanja melalui platform e-commerce global daripada mengunjungi pasar tradisional. Hal ini menyebabkan banyak pedagang lokal gulung tikar. Fenomena ini menunjukkan bahwa globalisasi dapat memicu masalah sosial berupa . . . . a. meningkatnya solidaritas mekanik masyarakat b. dominasi ekonomi global yang menggeser kearifan lokal c. terciptanya integrasi sosial yang lebih kuat d. hilangnya krisis identitas dalam masyarakat e. menguatnya nilai-nilai gotong royong 2. Banyak negara berkembang yang memiliki ketergantungan tinggi pada pinjaman luar negeri dari lembaga internasional seperti Bank Dunia, IMF, dan negara-negara donor besar. Pinjaman tersebut seringkali disertai syarat kebijakan ekonomi negara tersebut harus mengikuti kemauan lembaga yang memberi pinjaman. Dalam sosiologi, hal ini dapat dilihat sebagai bentuk... a. kolonialisme klasik b. neokolonialisme c. kerja sama multilateral yang adil d. asimilasi budaya e. pemberdayaan ekonomi mandiri 3. Perhatikan pernyataan berikut! 1) Pembentukan negara boneka di negara bekas jajahan. 2) Peningkatan kualitas SDM di negara berkembang. 3) Intervensi ekonomi melalui pinjaman modal asing. 4) Penyatuan negara-negara yang menuju kemerdekaan. 5) Melancarkan aksi subversif terhadap pemerintahan nasional. Dari pernyataan di atas, bentuk manifestasi neokolonialisme ditunjukkan oleh angka . . . . a. 1,2, dan 3 b. 1,2, dan 4 c. 1,3, dan 5 d. 2,3, dan 4 e. 3,4, dan 5No Pertanyaan Jawaban Ya Tidak 1 Saya memahami pembahasan tentang program pemberdayaan komunitas,berbasis kearifan lokal 2 Saya mampu mengidentifikasi tahapan-tahapan upaya mengatasi kenakalan remaja berdasarkan kearifan lokal dengan pendekatan preventif. 3 Saya mampu mengidentifikasi pendekatan untuk menyelesaikan masalah kenakalan remaja berdasarkan kearifan lokal. 4 Saya mampu menganalisis dampak globalisasi terhadap pemberdayaan komunitas berdasarkan kearifan lokal di Indonesia. 5 Saya memahami upaya mengatasi perubahan kehidupan sosial masyarakat berdasarkan kearifan lokal. 6 Saya memahami upaya mengatasi perubahan kondisi lingkungan berdasarkan kearifan lokal. 7 Saya mampu memberikan contoh upaya mengatasi perubahan kondisi lingkungan berdasarkan kearifan lokal. 8 Saya mampu menyimpulkan mengenai kearifan lokal dalam pemberdayaan komunitas di Indonesia.

4. Di sebuah desa, pemerintah memberikan bantuan komputer canggih untuk setiap balai desa. Namun, karena tidak adanya pelatihan, komputer tersebut hanya dijadikan pajangan atau rusak karena tidak terawat. Fenomena ini merupakan contoh nyata dari . . . . a. cultural lag b. cultural shock c. difusi kebudayaan d. penemuan baru e. globalisasi teknologi 5. Ketimpangan digital antara masyarakat perkotaan yang melek teknologi dengan masyarakat pedesaan yang minim akses internet dapat menyebabkan . . . . a. pemerataan kesempatan kerja secara nasional b. munculnya stratifikasi sosial baru berdasarkan penguasaan informasi c. hilangnya konflik sosial di masyarakat d. percepatan pembangunan di daerah tertinggal e. integrasi budaya yang lebih harmonis 6. Maraknya penipuan berbasis daring (online) dan penyalahgunaan data pribadi di era digital menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu diikuti dengan... a. Kematangan nilai dan etika pengguna b. Ketersediaan infrastruktur jaringan c. Penurunan harga perangkat elektronik d. Meningkatnya konsumerisme masyarakat e. Perubahan struktur politik negara 7. Gaya hidup hedonis dan konsumtif yang dipamerkan di media sosial seringkali membuat individu dengan ekonomi rendah merasa rendah diri atau melakukan tindakan kriminal demi gaya hidup. Masalah ini disebabkan oleh faktor internal berupa . . . . a. Kebijakan pemerintah yang tidak merata b. Perkembangan teknologi transportasi c. Masuknya perusahaan asing ke Indonesia d. Kurangnya infrastruktur internet di daerah e. Keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial secara instan 8. Krisis identitas sosial dapat menyebabkan masalah seperti adanya pandangan yang menganggap suku/kelompoknya lebih baik dibandingkan kelompok lain. Pandangan sempit tersebut dikenal dengan istilah… a. etnosentrisme b. primordialisme c. stereotip d. chauvinisme e. xenofobia 9. Gerakan "Bangga Buatan Indonesia" bukan sekadar aksi ekonomi, melainkan upaya untuk mengatasi masalah sosial akibat globalisasi dengan meningkatkan kecintaan dan penggunaan produk lokal, khususnya UMKM. Hal ini dikarenakan mencintai produk dalam negeri bertujuan untuk... a. menutup diri sepenuhnya dari perdagangan internasional b. meningkatkan ketergantungan pada investasi asing langsung c. memperkuat kemandirian ekonomi dan identitas kolektif bangsa d. menurunkan kualitas standar produk nasional agar lebih murah e. menghilangkan keberagaman budaya di dalam masyarakat 10. Fanny gemar mengoleksi barang bermerek seperti tas, jam tangan, dan sepatu untuk meningkatkan status sosialnya. Kondisi tersebut didorong oleh keinginan daripada memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini merupakan contoh masalah sosial akibat globalisasi, yaitu… a. konsumerisme b. hedonisme c. kapitalisme d. materialisme e. narsisme 11. Seorang individu menerima pesan teks yang mengatasnamakan bank ternama dan meminta korban mengklik tautan palsu untuk memperbarui data pribadi. Praktik kejahatan siber yang bertujuan agar korban membocorkan data-data pribadi tersebut dikenal dengan istilah... a. carding b. cyberstalking c. phising d. hacking e. cracking

12. Banyak buruh pabrik yang kehilangan pekerjaan karena posisinya digantikan oleh robot otomatisasi. Solusi pemberdayaan yang paling tepat untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu . . . . a. melarang penggunaan robot di semua pabrik b. memberikan bantuan tunai selamanya kepada buruh c. membiarkan buruh beralih ke sektor pertanian tradisional d. melakukan reskilling dan pelatihan keterampilan digital bagi buruh e. menutup pabrik yang menggunakan teknologi canggih 13. Proses pembangunan dimana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial guna memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri disebut . . . . a. pemberdayaan komunitas b. pemberian bantuan sosial c. pembangunan sumber daya manusia d. pengentasan kemiskinan e. peningkatan kualitas hidup masyarakat 14. Salah satu tujuan pemberdayaan masyarakat adalah membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Dalam konteks masyarakat desa yang terjerat utang rentenir, esensi utama dari "kemandirian" yang ingin dicapai melalui pemberdayaan ekonomi adalah... a. kemampuan masyarakat untuk meminjam modal dari lembaga internasional b. kebebasan masyarakat dalam menentukan pilihan hidup tanpa ketergantungan pihak lain c. keberhasilan masyarakat dalam membangun infrastruktur fisik yang megah d. kemauan masyarakat untuk mengikuti seluruh instruksi dari fasilitator pemerintah e. perubahan status desa dari desa tertinggal menjadi desa wisata secara instan 15. Kelompok tani di lereng gunung Sindoro-Sumbing memanfaatkan kearifan lokal nyabuk gunung (terasering) untuk menanam komoditas ekspor. Mereka tidak hanya mendapat untung secara ekonomi, tetapi juga berhasil mencegah longsor. Analisis sosiologis yang tepat atas fenomena ini adalah . . . . a. globalisasi menghapus seluruh nilai kearifan lokal masyarakat b. ekonomi modern tidak membutuhkan kearifan lokal untuk berkembang c. pemberdayaan masyarakat hanya bisa berhasil jika dilakukan oleh pihak swasta d. pemberdayaan berhasil mensinergikan ekonomi dengan pelestarian lingkungan e. kearifan lokal merupakan penghambat utama kemajuan ekonomi masyarakat 16. Perhatikan pernyataan berikut! 1) Mampu bertahan terhadap budaya luar. 2) Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar. 3) Mempunyai kecenderungan mudah terbawa arus budaya asing. 4) Mempunyai kemampuan mengendalikan. 5) Memaksakan unsur budaya luar ke dalam budaya asli. Berdasarkan pernyataan di atas, ciri-ciri local genius atau kearifan lokal ditunjukkan oleh a n g k a . . . . a. 1,2, dan 3 b. 1,2, dan 4 c. 1,3, dan 5 d. 2,3, dan 4 e. 3,4, dan 5 17. Di sebuah desa pesisir, terdapat aturan adat yang melarang nelayan mengambil ikan di area terumbu karang tertentu pada bulan-bulan tertentu guna memberikan waktu bagi ekosistem laut untuk beregenerasi. Fenomena ini menunjukkan fungsi kearifan lokal untuk... a. pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan b. pengembangan sumber daya manusia c. konservasi dan pelestarian sumber daya alam d. sarana integrasi sosial antarwarga desa e. pemberian status sosial bagi tokoh adat 18. Dalam program "Desa Wisata", masyarakat setempat dilibatkan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan keuangan. Prinsip pemberdayaan yang sedang diterapkan adalah . . . . a. sentralisasi kekuasaan pada tokoh adat b. pemanfaatan sumber daya alam secara eksploitatif c. ketergantungan masyarakat terhadap pihak swasta d. penyeragaman budaya lokal agar sesuai standar internasional e. partisipasi aktif untuk menumbuhkan rasa kepemilikan (sense of belonging)

19. Pemberdayaan komunitas dapat dilakukan di berbagai bidang. Contoh pemberdayaan yang dilakukan di bidang pendidikan ditunjukkan oleh pernyataan . . . . a. Tim dosen UPI melakukan pemberdayaan bagi para pelaku seni di Desa Cibuluh. b. Pemerintah menggalakkan pemberdayaan bagi para pelaku UMKM di berbagai daerah. c. Sekelompok mahasiswa melakukan pemberdayaan bagi para penyandang disabilitas dalam budi daya lebah madu. d. LSM Bina Mulia mengembangkan program edukasi di rumah singgah bagi anak-anak putus sekolah di daerah perkotaan. e. Komunitas perajin tenun ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Bone-Bone memperoleh bantuan sarana dan prasarana pemberdayaan. 20. Di sebuah wilayah perkotaan yang padat, seorang fasilitator membentuk "Kelompok Siaga Bencana" yang beranggotakan warga setempat. Warga dilatih untuk memiliki keterampilan mitigasi dan akses komunikasi cepat ke dinas terkait. Aksi pemberdayaan sosial ini bertujuan untuk . . . . a. mengubah status ekonomi warga secara instan melalui bantuan tunai b. meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko lingkungan c. menghapus seluruh perbedaan kelas sosial yang ada di perkotaan d. mengambil alih tugas pemerintah pusat dalam penanggulangan bencana e. menciptakan ketergantungan baru masyarakat terhadap teknologi komunikasi 21. Salah satu contoh pemberdayaan komunitas dalam bidang lingkungan yang bertujuan untuk memperbaiki ekosistem dan mengurangi dalam perubahan iklim adalah . . . . a. kebun sayur komunitas b. pengelolaan sampah c. program penghijauan d. pendidikan lingkungan e. konservasi air 22. Berikut yang dapat terjadi jika individu atau kelompok tidak mampu beradaptasi dengan perubahan sosial, ekonomi, atau teknologi adalah . . . . a. peningkatan kesejahteraan sosial b. ketimpangan ekonomi dan penurunan kualitas hidup c. kemajuan teknologi yang pesat d. meningkatkan inovasi dalam masyarakat e. pengurangan ketidaksetaraan sosial 23. Dalam konsep pemberdayaan komunitas, proses utama yang harus dilakukan adalah . . . . a. memberikan bantuan tanpa melibatkan masyarakat b. memaksakan perubahan dari luar komunitas c. memotivasi masyarakat agar mandiri dan mampu mengelola sumber daya sendiri d. menggantikan semua sistem sosial yang sudah ada e. mengandalkan bantuan pihak luar secara terus-menerus 24. Tujuan utama dari menyusun anggaran kegiatan dalam perencanaan pemberdayaan komunitas adalah . . . . a. Menentukan siapa yang akan bertanggungjawab b. Menyusun jadwal kegiatan c. Mengidentifikasi masalah dalam komunitas d. Menentukan sumber daya finansial yang diperlukan e. Mengkomunikasikan ide kepada anggota komunitas 25. Salah satu landasan evaluasi bagi pentingnya pemberdayaan komunitas yaitu . . . . a. keinginan sesuatu sesuai dengan program yang telah direncanakan b. keingina kelompok bagi pengguna komunitas tertentu c. tolak ukur keberhasilan pemberdayaan komunitas berikutnya d. adanya pedoman dan pijakan bagi pemberdayaan komunitas e. keinginan untuk mencari solusi bila pemberdayaan komunitas bertikai B. Kerjakan soal-soal pilihan ganda kompleks berikut! Jawaban benar lebih dari satu! 1. Di sebuah kota, remaja lebih banyak berinteraksi melalui media sosial dibandingkan secara langsung, sehingga muncul sikap individualisme dan menurunnya kepedulian sosial. Upaya yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah … Pilihlah jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.  mengadakan kegiatan komunitas berbasis budaya local  membatasi penggunaan teknologi secara total  mengembangkan literasi digital dan etika bermedia

 mengabaikan fenomena tersebut karena bagian dari globalisasi  mengintegrasikan teknologi dengan kegiatan sosial masyarakat 2. Sebuah desa mengalami kesenjangan digital yang menyebabkan masyarakat sulit berkembang secara ekonomi. Strategi pemberdayaan yang tepat adalah … Pilihlah jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.  memberikan pelatihan penggunaan teknologi  menutup akses teknologi agar merata  mengembangkan usaha lokal berbasis kearifan local  mengandalkan bantuan terus-menerus dari pemerintah  meningkatkan akses internet di wilayah tersebut 3. Program pemberdayaan komunitas gagal karena masyarakat tidak terlibat aktif dan menolak program tersebut. Analisis yang tepat adalah … Pilihlah pernyataan yang benar pada tabel berikut! Pernyataan Tepat Tidak Tepat Program tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat Nilai dan norma lokal tidak diperhatikan Program terlalu partisipatif Pendekatan bersifat top-down Masyarakat tidak perlu dilibatkan dalam program 4. Dalam menghadapi arus globalisasi, suatu komunitas tetap mempertahankan tradisi lokal namun juga memanfaatkan media digital untuk promosi budaya. Hal ini menunjukkan … Pernyataan Benar Salah Penolakan terhadap globalisasi Adaptasi terhadap globalisasi Integrasi antara tradisi dan teknologi Ketergantungan pada budaya asing Strategi pemberdayaan berbasis kearifan lokal 5. Dampak negatif globalisasi dan era digital dapat diminimalisir melalui peran kearifan lokal. Bentuk penerapan yang tepat adalah … Pilihlah jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.  Menghidupkan kembali nilai gotong royong  Menolak semua budaya asing  Menggunakan media digital untuk promosi budaya lokal  Mengabaikan perkembangan teknologi  Mengintegrasikan nilai lokal dalam pendidikan masyarakat 6. Di sebuah desa, remaja lebih banyak menghabiskan waktu bermain media sosial dibandingkan mengikuti kegiatan adat. Akibatnya, nilai-nilai kearifan lokal mulai ditinggalkan. Upaya yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut berbasis pemberdayaan komunitas adalah… Pilihlah jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.  Membatasi penggunaan internet secara total  Mengadakan pelatihan digital berbasis budaya lokal  Menghidupkan kembali kegiatan adat dengan melibatkan generasi muda  Mengganti budaya lokal dengan budaya global yang lebih modern  Membuat konten media sosial tentang kearifan lokal 7. Globalisasi dan era digital menyebabkan munculnya gaya hidup konsumtif di kalangan masyarakat. Dampak tersebut dapat diatasi melalui strategi pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal, yaitu…  Mengembangkan produk lokal untuk meningkatkan kebanggaan masyarakat  Mendorong masyarakat membeli produk impor berkualitas tinggi  Mengadakan edukasi literasi keuangan berbasis nilai lokal  Menghapus tradisi lokal yang dianggap tidak relevan  Mengembangkan koperasi berbasis komunitas 8. Perhatikan pernyataan berikut: 1) Meningkatnya individualisme 2) Menurunnya interaksi sosial langsung 3) Berkurangnya solidaritas komunitas digital 4) Hilangnya identitas budaya lokal 5) Meningkatnya akses informasi

Dampak negatif globalisasi dan era digital yang memerlukan solusi berbasis kearifan lokal ditunjukkan oleh nomor…  1, 2, 4  1, 3, 5  2, 3, 5  1, 2, 3  3, 4, 5 9. Sebuah komunitas desa wisata memanfaatkan teknologi digital untuk mempromosikan budaya lokal. Namun, terjadi komersialisasi berlebihan yang mengurangi makna budaya tersebut. Langkah yang tepat untuk menjaga keseimbangan antara globalisasi dan kearifan lokal adalah …..  Menutup akses wisatawan luar  Menetapkan aturan berbasis nilai budaya lokal  Melibatkan tokoh adat dalam pengelolaan wisata  Mengutamakan keuntungan ekonomi semata  Mengedukasi masyarakat tentang nilai budaya 10. Di era digital, banyak informasi hoaks yang memicu konflik sosial di masyarakat. Pendekatan pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal dapat dilakukan dengan…  Mengembangkan forum musyawarah masyarakat  Mengedukasi literasi digital berbasis nilai lokal  Menyebarkan informasi tandingan tanpa verifikasi  Menghidupkan nilai gotong royong dalam menyaring informasi  Mengandalkan pemerintah sepenuhnya C. Kerjakan soal-soal berikut! 1. Di era digital, globalisasi membawa banyak perubahan besar dalam masyarakat, tetapi tidak semua individu atau kelompok mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Sebutkan 3 masalah sosial yang muncul akibat ketidakmampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan akibat globalisasi dan era digital! 2. Konsumerisme dan hedonisme merupakan contoh fenomena sosial yang makin berkembang dalam masyarakat modern terutama di era globalisasi. Jelaskan perbedaan antara dua fenomena tersebut! 3. Jelaskan cara yang dapat dilakukan untuk memelihara kearifan lokal di era globaliasi! 4. Mengapa pemberian bantuan modal uang secara tunai seringkali dianggap belum mencapai esensi pemberdayaan masyarakat yang sesungguhnya? 5. Jelaskan 3 contoh kearifan lokal yang terdapat di Indonesia beserta asal daerahnya!

Glosarium akses digital : kemampuan seseorang atau kelompok untuk menggunakan perangkat teknologi dan internet dalam memperoleh informasi dan berkomunikasi anomi : keadaan kacau tanpa peraturan atau norma yang mengatur kehidupan sosial masyarakat cultural lag : perbedaan taraf kemajuan dalam kebudayaan masyarakat sehingga menyebabkan terjadinya ketertinggalan unsur-unsur budaya masyarakat satu dengan lainnya culture shock : kondisi yang menunjukkan seseorang atau masyarakat mengalami guncangan jiwa karena belum siap menerima unsur-unsur kebudayaan baru akibat perubahan sosial discovery : penemuan kebudayaan baru, baik berupa alat baru maupun ide baru yang diciptakan oleh seorang individu disorganisasi sosial : kondisi ketika lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat tidak lagi berfungsi secara efektif sehingga menimbulkan ketidakteraturan sosial. evaluasi : kegiatan yang dilakukan untuk menemukan gambaran atau mengukur keefektifan suatu program hedonisme : paham yang melihat kesenangan atau kenikmatan sebagai tujuan hidup dan tindakan manusia integrasi : proses penyesuaian unsur-unsur sosial berbeda sehingga membentuk suatu kesatuan masyarakat yang serasi kearifan lokal : gagasan-gagasan lokal yang dimiliki sekelompok masyarakat yang berkaitan dengan pengetahuan, keyakinan, pemahaman, wawasan, kebiasaan, dan etika yang menjadi pedoman hidup keberlanjutan : kemampuan suatu program pemberdayaan untuk terus berjalan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang. ketimpangan sosial : perbedaan yang mencolok dalam akses terhadap sumber daya, kekayaan, pendidikan, atau kesempatan dalam masyarakat. monopoli : pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat neokolonialisme : bentuk penjajahan baru yang dilakukan melalui pengaruh ekonomi, politik, dan budaya tanpa penguasaan wilayah secara langsung. partisipasi masyarakat : keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan pembangunan atau pemecahan masalah sosial. pemberdayaan : proses meningkatkan kemampuan, kemandirian, dan partisipasi masyarakat agar mampu mengatasi masalah serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya. proglobalisasi : kelompok yang mendukung upaya terjadinya globalisasi stereotipe : pemberian label yang cenderung 10ndividu secara general kepada 10ndividua tau kelompok transformasi digital : perubahan menyeluruh dalam sistem kerja, komunikasi, dan aktivitas masyarakat akibat pemanfaatan teknologi digital. westernisasi : pola hidup atau gaya hidup yang meniru kebudayaan dari negara-negara barat (pola hidup kebarat-baratan)

Daftar Pustaka Poerwanti HP,Yustinah EJ. 2014. Buku Siswa,Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII. Klaten: Cempaka Putih. Rufikasari, Lia Chandra dan Annisa Nur Rohmah. 2021. Sosiologi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk SMA/MA Kelas XII. Surakarta: CV Mediatama. Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi:Suatu Pengantar.Edisi Baru, Cetakan ke41. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Suwardi. 2015. Sosiologi: Peminatan Ilmu-ilmu Sosial untuk SMA kelas XII. Jakarta: Quadra Slamet S Lia Candra R. 2014. Sosiologi: Peminatan Ilmu-ilmu sosial untuk SMA/MA Kelas XII. Surakarta: Meditama Triyono,Slamet dan Hermanto. 2017. Sosiologi untuk SMA Kelas XII:Kelompok Peminatan Ilmu-ilmu Sosial. Bandung: Srikandi Empat https://www.google.seacrh.image.com https:// www.google.seacrh.pemberdayaan.komunitas.com