View 5. Wishtra Aku Pasti Bisa flipbook.
AKU PASTI BISA! I GEDE WISHTRA SULAKSANA Halo, nama aku Wishtra. Kali ini aku ingin menceritakan pengalaman aku saat belajar mengendarai sepeda. Dulu, aku sering melihat banyak orang bermain sepeda. Aku melihat mereka bisa mengendarai sepeda dengan mudah hanya dengan dua roda. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, “Kok mereka bisa, ya? Bukankah sepeda hanya punya dua roda? Bagaimana caranya supaya tidak jatuh?” Karena penasaran, aku mulai ingin mempunyai sepeda sendiri. Aku meminta kepada orang tuaku untuk dibelikan sepeda. Setelah beberapa waktu, akhirnya aku dibelikan sepeda. Aku sangat senang ketika sepeda itu sampai di rumah. Aku melihat sepedaku dan membayangkan akan berkeliling dengan sepeda seperti teman-temanku. Tetapi, ketika tiba waktunya mencoba, ternyata aku merasa gugup. Aku takut jatuh. Aku juga berpikir, “Bagaimana kalau aku tidak bisa mengendarainya?” Walaupun takut, aku tetap mencoba. Aku naik ke atas sepeda, memegang setangnya, lalu mulai mengayuh. Baru beberapa saat, sepedaku mulai bergoyang ke kanan dan ke kiri. Aku mencoba mengendalikannya, tetapi ternyata aku belum bisa. Gedebug! Aku jatuh dari sepeda. Saat itu aku merasa kaget dan sedikit sakit. Aku juga mendapat luka karena terjatuh. Aku akhirnya diminta untuk beristirahat sampai lukaku sembuh. Walaupun begitu, keinginanku untuk bisa naik sepeda tidak hilang. Bahkan saat masih sakit ketika berjalan, aku tetap berpikir tentang sepeda. Aku ingin mencobanya lagi dan tidak mau hanya karena pernah jatuh lalu menyerah. Setelah merasa lebih baik, aku kembali mencoba. Kali ini aku mengendarainya lebih pelan. Aku memegang setang dengan kuat
dan mulai mengayuh sedikit demi sedikit. Ternyata aku mulai bisa! Walaupun masih sering goyah, aku terus mencoba. Kalau aku terjatuh, aku naik lagi dan mencoba lagi. Begitu terus sampai akhirnya aku bisa bersepeda. Aku memang belum terlalu lancar, tetapi aku merasa senang karena sudah bisa melewati rasa takutku. Sejak saat itu, aku mulai sering bersepeda di sekitar rumah. Setiap kali bersepeda, kemampuanku semakin bertambah. Aku mulai bisa mengendalikan setang, mengatur kecepatan, berbelok, dan menjaga keseimbangan. Aku pikir aku hanya akan bersepeda di sekitar rumah. Namun, suatu hari ada teman yang memanggilku. “Wishtra!” Aku menjawab, “Iya!” Ternyata temanku mengajakku bermain di lapangan. Tetapi, lapangan itu cukup jauh dari rumahku, sekitar satu kilometer. Temanku bertanya apakah aku mau ikut bersepeda ke sana. Aku sebenarnya gugup. Aku berpikir, “Apa aku bisa bersepeda sejauh itu?” Aku juga merasa sedikit malu karena teman-temanku terlihat sudah cukup pandai mengendarai sepeda. Tetapi, aku pikir aku sudah bisa naik sepeda, sebaiknya aku coba saja. Akhirnya, aku mengangguk dan mengambil sepedaku. Aku keluar dari gerbang rumah dan mulai bersepeda bersama teman-teman. Saat berangkat, aku berada di urutan paling belakang karena teman-temanku lebih cepat dan pintar bersepeda. Aku berusaha mengikuti mereka sambil terus mengayuh sepeda. Ternyata, perjalanan menuju lapangan tidak semudah yang aku bayangkan. Ada beberapa tantangan tidak terduga yang harus aku lewati. Tantangan pertama adalah polisi tidur. Awalnya, aku berpikir perjalanan ke lapangan akan biasa saja. Namun, tiba-tiba aku melihat polisi tidur di depan. Aku sempat takut karena belum terlalu
pintar mengendarai sepeda. Aku memperlambat sepeda dan melewatinya dengan hati-hati. Akhirnya, aku berhasil! Aku merasa lega dan semakin percaya diri untuk melanjutkan perjalanan. Tantangan kedua adalah menyeberang jalan. Aku melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada kendaraan yang lewat. Ketika giliranku menyeberang, aku tidak melihat kendaraan apa pun, jadi aku mulai mengayuh. Namun, ketika hampir sampai di seberang, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. “Tiiin!” Aku sangat kaget dan panik. Ternyata ada mobil yang lewat dan aku tidak melihatnya dari awal. Jantungku terasa berdebar-debar. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Untungnya, teman-temanku membantu dan memastikan aku bisa menyeberang dengan aman. Setelah sampai di seberang, aku merasa lega sekali. Aku kemudian melanjutkan perjalanan bersama teman-teman. Tantangan ketiga adalah hujan. Saat kami sedang bersepeda, tiba-tiba awan gelap datang. Tidak lama kemudian, hujan mulai turun. “Wah, hujan!” kata salah satu temanku. Kami segera mencari tempat untuk berlindung. Kami tidak ingin terus bersepeda karena jalan mulai basah dan licin. Akhirnya, kami menemukan sebuah tempat kecil untuk berteduh. Kami memarkirkan sepeda di sana dan menunggu hujan sedikit reda. Bajuku mulai basah, tetapi aku tetap semangat. Setelah hujan mulai berhenti, kami melanjutkan perjalanan. Namun, ternyata masih ada satu tantangan lagi, yaitu lumpur. Karena hujan, jalan yang kami lewati menjadi berlumpur. Awalnya, aku tidak menyadari kalau ada banyak lumpur di jalan. Aku tetap mengayuh sepeda seperti biasa. Tiba-tiba, aku merasa sepedaku mulai licin. Aku melihat ke bawah dan ternyata roda sepedaku sudah terkena lumpur.
Aku mulai khawatir, tetapi tetap mencoba mengendarainya dengan hati-hati. Ketika aku mulai mengayuh lebih cepat, tiba-tiba sepedaku tergelincir. Aku langsung turun dari sepeda supaya tidak jatuh. Untungnya, aku tidak terluka. Hanya sepedaku yang jatuh dan menjadi kotor karena terkena lumpur. Setelah itu, aku melanjutkan perjalanan sampai akhirnya kami tiba di lapangan dengan selamat. Aku merasa senang karena ternyata aku berhasil bersepeda sejauh itu. Padahal, sebelumnya aku sempat takut tidak bisa. Setelah bermain di lapangan, kami pun pulang bersama-sama. Aku merasa sangat senang karena berhasil melewati semua tantangan itu. Dan ternyata, aku bisa! Awalnya, aku takut jatuh dan terluka, tetapi aku mau mencoba lagi. Sekarang, aku sudah bisa bersepeda bersama teman-teman, bahkan melewati polisi tidur, menyeberang jalan, menghadapi hujan, dan melewati jalan berlumpur. Aku merasa senang dan bangga pada diriku sendiri. Sejak saat itu, aku semakin sering bersepeda dan menjadi lebih percaya diri. Ternyata, kalau terus mencoba, aku bisa melakukan sesuatu yang awalnya aku pikir sulit. Kalau nanti aku menemukan hal yang sulit, aku akan mencoba lagi dan tidak mudah menyerah. Karena sekarang aku tahu satu hal: Aku pasti bisa!