6. Gek widya Aku Belajar Bertanggung Jawab ayu era adnyani

View 6. Gek widya Aku Belajar Bertanggung Jawab ayu era adnyani flipbook.

AKU BELAJAR BERTANGGUNG JAWAB I Gusti Ayu Widya Vanita, IV B Hai namaku Gek Widya, aku anak terakhir dari empat bersaudara. Kalau diantara saudara-saudara yang lainnya aku mendapatkan tugas paling sedikit untuk membantu pekerjaan rumah, itupun aku kadang tidak malakukannya, semua saudara-saudaraku kadang komplin, mereka bilang aku anak yang paling disayangi, tapi aku cuek saja. Dulu, aku sering berpikir kalau menjadi mandiri itu harus biasa melakukan sesuatu yang besar. Ternyata salah, setelah aku menjalaninya sendiri, aku sadar kalau menjadi mandiri bisa dimulai dari hal-hal yang sering kita anggap sepele. Dulu hampir setiap malam ibu selalu membantu meyiapkan keperluan sekolahku. Menyiapkan buku Pelajaran sesuai WLP, yang disiyapkan oleh ibu, seragam sekolah, kaos kaki, sepatu yang sudah dirapikan dan ditaruh ditempat yang mudah diambil. Aku tinggal bangun pagi, mandi, memakai seragam, sarapanpagi, lalu berangkat ke sekolah. Rasanya praktis banget karena ada ibu yang selalu membantu. Tapi sekarang aku mulai mencoba melakukan sendiri, sebelum tidur aku melihat jadwal pelajaran untuk besok, setelah itu mencari buku-buku yang dibutuhkan dan memeriksa apakah ada PR, dan setelahnya aku memasukkannya ke dalam tas. Aku juga belajar menyiapkan seragam sendiri, kadang memang masih ada lupa atau ketinggalan, tapi ibu selalu membantu mengingatkan, dari situ aku belajar untuk lebih teliti. Selain menyiapkan buku dan seragam, sekarang aku juga mulai terbiasa mencuci kotak bekalku sendiri, setelah pulang sekolah yang dulunya sering aku menaruh begitu saja, dan akhirnya ibu yang mencuci. Memang cuma mencuci kotak bekal tapi rasanya ada keputusan sendiri karena aku bisa belajar mengurus barang yang sudah gunakan. Hal kecil lainnya adalah menaruh sepatu pada tempatnya. dulu, setelah pulang sekolah, aku asal melepas sepatu dan meninggalkannya di depan teras sekarang aku mulai membiasakan diri untuk menaruhnya kembali ke rak sepatu. Kelihatannya sederhana, tapi kebiasaan ini membuat rumah menjadi lebih rapi, dan aku juga belajar bertanggung jawab dengan barang- barangku sediri. Awalnya aku merasa malas, kadang aku ingin bilang “Nanti saja’’ atau berharap ibu yang akan mengerjakannya. Tapi ibuku yang selalu sabar mengingatkanku dan

selalu bertannya kapan lagi belajar biar jadi anak yang mandiri, dan tidak boleh menunda- nunda pekerjaan atau tugas kecil. Dari hal-hal itu, aku mulai merasakan perubahan dalam diriku. Aku jadi tebiasa mengurus keperluanku sendiri dan tidak selalu menunggu bantuan dari ibu. aku juga mulai sadar dan mengerti kalau ibu selama ini sudah banyak membantu dan menyediakan keperluanku. Sekarang salah satu caraku menghargai ibu adalah dengan cara melakukan hal-hal yang bisa aku lakukan sendiri. Mungkin bagi orang lain menyiapkan buku, seragam sekolah mencuci kotak bekal, menaruh sepatu pada tempatnya bukanlah sesuatu yang istimewa, tapi bagiku semua itu adalah langkah kecil untuk menjadi lebih baik dan mandiri. Aku juga sadar kalau aku belum belum sempurna, masih adakalanya aku lupa, malas, atau harus diingatkan. Tapi setidaknya aku aku sudah mau melakukan dan belajar menjadi lebih baik ternyata menjadi versi terbaik dari diri sendiri tidak harus langsung berubah menjadi seseorang yang hebat. Cukup mulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Terimakasih ibu sudah dengan sabar mendidik, mengingatkanku dari hal-hal kecil, biar jadi anak yang madiri dan bertanggung jawab.