1Akidah Akhlak | Kelas X MA BAB I MENUMBUHKAN RASA CINTA KEPADA ALLAH SWT. MELALUI SIFAT-SIFATNYA Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), Tema Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), dan Delapan Profil Lulusan (DPL) Capaian Pembelajaran Memahami sifat wajib bagi Allah (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah), sifat mustahil bagi Allah Swt. , sifat jaiz bagi Allah Swt. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini kalian diharapkan mampu; 1. Menyebutkan sifat- sifat Allah Swt. dalam beberapa dalil baik naqli maupun aqli,untuk meningkatkan cinta kepada ilmu; 2. Melihat fenomena dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah, dan menunjukkan perilaku orang yang mencerminkan beriman kepada sifat wajib, sifat mustahil dan sifat jaiz Allah Swt.; dan 3. Menunjukkan keutamaan mempelajari sifat-sifat Allah Swt. ,untuk meningkatkan cinta kepada lingkungan. 4. Menganalisis sifat wajib, mustahil Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma’ani, dan ma’nawiyah) dan sifat jaiz Allat Swt., untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Kurikulum Berbasis Cinta Cinta kepada Allah Swt., Cinta kepada Ilmu, Cinta kepada Lingkungan Dimensi Profil Lulusan Beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bernalar Kritis, Kreatif, Kolaboratif, Mandiri, dan Komunikasi Kata Kunci: Wajib, Mustahil, Jaiz, Cinta
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 2Akidah Akhlak | Kelas X MA Peta Konsep
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 3Akidah Akhlak | Kelas X MA Setiap planet berputar mengelilingi porosnya dan bersama-sama mengelilingi matahari. Setiap planet berputar tanpa ada gesekan dan tabrakan. Mengapa dapat terjadi demikian? Sementara masih sering terjadi kecelakaan kereta api, padahal sudah menggunakan sistem dan teknologi yang canggih. Silakan kalian diskusikan fenomena tersebut! Alam yang indah dan menyejukkan pandangan mata. Mereka hidup secara teratur dengan bertasbih memuji-Nya. Bagaimana alam ini bertasbih memuji Allah Swt.? Silakan diskusikan bersama dengan teman kalian! A. Sifat Wajib bagi Allah Swt. Allah Swt. adalah Sang Khalik sehingga Dia mempunyai sifat yang khas dan tidak ada yang menyamainya. Mengimani sifat-sifat yang ada pada Allah Swt. merupakan bentuk beriman kepada Allah Swt. Hudarrohman dalam karyanya yang berjudul Rukun Iman menerangkan bahwa yang dimaksud dengan sifat wajib bagi Allah Swt. adalah sifat kesempurnaan yang ada pada Allah Swt. Tugas manusia adalah tetap mengimaninya walaupun tidak mampu membayangkan wujud dari sifat Allah Swt. tersebut, karena kemampuan akal manusia tidak mungkin dapat menjangkau sifat Allah Swt. Kita wajib meyakini sifat-sifat Allah Swt., karena Allah Swt. pasti bersifat sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah Swt. Kita dapat lebih mengenal dan menyembah Allah Swt. dengan benar melalui pemahaman sifat-sifat wajib Allah Swt. tersebut. Berikut ini sifat wajib yang ada pada Allah Swt. Gambar 1.2. Alam Semesta Ciptaan Allah Swt. Sumber: Tim illustrator BTU 2025 Gambar 1.1. Tata Surya Sumber: Tim illustrator BTU 2025 Apersepsi Materi dan Kegiatan Pembelajaran
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 4Akidah Akhlak | Kelas X MA Tabel 1.1 Sifat Wajib Allah Swt. No Sifat wajib Allah Swt. Arti 1 Wujūd Ada 2 Qidām Terdahulu 3 Baqā’ Kekal 4 Mukhālafatu lil hawādiṡ Berbeda dengan makhluk ciptaannya 5 Qiyāmuhu binafsihi Berdiri sendiri 6 Wahdāniyah Esa atau tunggal 7 Qudrah Berkuasa 8 Irādah Berkehendak 9 ‘Ilm Mengetahui 10 Ḥayāt Hidup 11 Samā’ Mendengar 12 Baṣar Melihat 13 Kalām Berfirman 14 Qādiran Maha Kuasa 15 Murīdan Maha Berkehendak 16 ‘Āliman Maha Mengetahui 17 Ḥayyan Maha Hidup 18 Samī’an Maha Mendengar 19 Baṣīran Maha Melihat 20 Mutakalliman Maha Berfirman Sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. yang berjumlah 20 tersebut, dibagi menjadi 4 sifat yaitu: 1. Sifat Nafsiyah, yaitu sifat wajib yang dimiliki oleh Allah Swt., berhubungan langsung dengan Zat Allah Swt., melekat dan menyatu dengan Zat-Nya. Sifat wajib Nafsiyah bagi Allah Swt. hanya ada satu, yaitu Wujūd yang artinya Ada. Allah Swt. adalah Zat yang pasti ada, berdiri sendiri, dan tidak ada Tuhan selain Allah Swt. Dalil tentang Allah Swt. bersifat Wujūd terdapat pada surah QS. As-Sajadah ayat 4 sebagai berikut: ا"# $ُاﻟ(ِﺬْيَﺧﻠ"َﻖاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮِتَواَْﻻْرَضَوَﻣﺎَﺑ>َْﻨُﻬَﻤﺎA BِCِْﺳﺘﱠِﺔا"GﱠﺎٍمُﺛﻢﱠاْﺳَﺘٰﻮىَﻋN"اﻟOَﻌْﺮشSَۗﻣﺎﻟ"U Vْﻢﻣﱢْﻦ ُدْوِﻧٖﻪِﻣْﻦوﱠ]ِCﱟوﱠَﻻَﺷِﻔْﻴﻊcۗا"َﻓَﻼَﺗَﺘَﺬﻛ (ُﺮْوَن Allah Swt. adalah Zat yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy) Bagimu tidak ada seorang pun pelindung dan pemberi syafaat selain Dia. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As-Sajadah: 4)
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 5Akidah Akhlak | Kelas X MA Ayat tersebut merupakan salah satu dalil yang menegaskan sifat Wujūd Allah Swt. yang menekankan bahwa keberadaan Allah Swt. adalah mutlak sebagai pencipta segala sesuatu. 2. Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang menghilangkan atau menolak sifat-sifat yang tidak layak atau tidak sesuai dengan kesempurnaan Allah Swt. Sifat Salbiyah ini menunjukkan perbedaan antara sifat Allah Swt. dengan sifat yang dimiliki oleh manusia. Sifat Salbiyah ada lima, yaitu: a. Qidām (Terdahulu) Qidām artinya dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Swt. adalah terdahulu dan tidak didahului oleh sesuatu yang diciptakannya. Dalil adanya sifat Qidām bagi Allah Swt. terdapat dalam QS. Al-Hadid ayat 3 sebagai berikut. ُﻫَﻮاَْﻻوﱠُلَواْٰﻻِﺧُﺮَواﻟﻈ (ﺎِﻫُﺮَواﻟOlَﺎِﻃُۚﻦَوُﻫَﻮoِp VﻞﱢrsَCٍْءَﻋِﻠuٌْﻢ Dialah Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zahir, dan Maha Batin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al-Hadid: 3) Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah Swt. adalah Sang Pencipta, yang keberadaan-Nya tidak memiliki awal dan tidak akan pernah berakhir karena Dia kekal selamanya. Allah Swt. juga merupakan Yang Zahir, yang mengetahui segala sesuatu yang tampak, serta Yang Batin, yang mengetahui hal-hal tersembunyi dan isi hati manusia. Kedekatan-Nya dengan makhluk melebihi kedekatan makhluk terhadap dirinya sendiri, dan pengetahuan-Nya meliputi seluruh isi alam semesta. b. Baqā’ (Kekal) Baqā’ artinya kekal. Jadi Allah Swt. kekal selamanya, tidak akan rusak, punah atau binasa. Dalil bahwa Allah Swt. Swt memiliki sifat Baqā’ terdapat QS. Al-Qashash ayat 88 sebagai berikut. َوَﻻَﺗْﺪُعَﻣَﻊا# $ِِاﻟyًﻬﺎاyَﺧَۘﺮَٓﻻِاﻟyَﻪِاﻻﱠُﻫَۗﻮ} VﻞﱡrsَCٍْءَﻫﺎِﻟٌﻚِاﻻﱠَوْﺟَﻬۗ ٗﻪﻟ"ُﻪاﻟOُﺤp Oُﻢَوِاﻟ"uِْﻪُﺗْﺮَﺟُﻌْﻮَن Jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain (selain Allah). Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan. (QS. Al-Qashash: 88)
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 6Akidah Akhlak | Kelas X MA Ayat tersebut menerangkan bahwa jangan menyembah Tuhan selain Allah Swt., karena Dia adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, segala sesuatu akan binasa kecuali Dia, dan segala keputusan ada dalam kekuasaan-Nya. c. Mukhālafatu lil hawādiṡ (Berbeda dengan makhluk) Mukhālafatu lil hawādiṡ artinya berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya. Sebagai pencipta Allah Swt. memiliki sifat berbeda dengan yang diciptakan yaitu makhluknya. Karena tidak mungkin sesuatu yang mencipta akan sama dengan hasil yang diciptakan/ makhluk ciptaannya. Dalil bahwa Allah Swt. memiliki sifat Mukhālafatu lil hawādiṡ terdapat pada surat Al-Ikhlas ayat 4 sebagai berikut: َوﻟ"ْﻢGَ Vْﻦﻟ(ٗﻪﻛ Vُﻔًﻮاا"َﺣٌﺪ Serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. (QS. Al-Ikhlas: 4) Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah Swt. tidak serupa dan sama dengan apapun; Maha Suci Allah Swt. Tuhan seluruh alam. Baik dalam nama- Nya, sifat-Nya, maupun perbuatan-Nya. d. Qiyāmuhu binafsihi (berdiri sendiri) Qiyāmuhu bināfsihi artinya berdiri sendiri. Allah Swt. berdiri sendiri tanpa bantuan dari makhluknya. Allah Swt. menciptakan segala sesuatu dengan kekuasaannya. Dalil Allah Swt. bersifat qiyāmuhu bināfsihi terdapat pada QS. Al- Ankabut ayat 6 berikut ini: َوَﻣْﻦَﺟﺎَﻫَﺪَﻓِﺎﻧﱠَﻤﺎGَُﺠﺎِﻫُﺪِﻟَﻨْﻔِﺴۗ ٖﻪِان ﱠا# $َﻟ"َﻐBِCﱞَﻋﻦSاﻟOٰﻌﻠ"ِﻤْBَ Siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh (untuk berbuat kebajikan), sesungguhnya dia sedang berusaha untuk dirinya sendiri (karena manfaatnya kembali kepada dirinya). Sesungguhnya Allah Swt. benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan suatu apa pun) dari alam semesta. (QS. Al-Ankabut: 6) Ayat tersebut menjelaskan bahwa siapa pun yang berjuang dengan sepenuh tenaga untuk meninggikan nama Allah Swt. dan berkorban dengan penuh kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, maka hasil dan ganjaran dari perjuangan itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Amal tersebut sama sekali tidak memberikan manfaat kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Swt. Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya, termasuk seluruh isi alam.
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 7Akidah Akhlak | Kelas X MA e. Wahdāniyah (Esa/Tunggal) Wahdāniyah artinya Esa atau Tunggal. Allah Swt. tunggal, tidak berbilang, dan tidak memiliki sekutu. Dalil bahwa Allah Swt. memiliki sifat wahdāniyah terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 163 berikut ini: َوِاﻟyُﻬp Vْﻢِاﻟyٌﻪوﱠاِﺣٌۚﺪَٓﻻِاﻟyَﻪِاﻻﱠُﻫَﻮاﻟﺮﱠْﺣٰﻤُﻦاﻟﺮﱠِﺣuُْﻢ Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 163) Ayat tersebut memuat perintah Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. untuk menyampaikan kepada kaum musyrik yang bertanya tentang sifat dan asal-usul Allah Swt. dengan maksud menghina, bahwa Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak memiliki sekutu, dan tidak terbagi dalam nama, sifat, maupun keilahian-Nya. 3. Sifat Ma’ani adalah sifat wajib Allah Swt. yang berhubungan dengan perbuatan atau kehendak-Nya, yang menggambarkan kebesaran dan kekuasaan serta kesempurnaan Dzat Allah. Sifat ma’ani dapat dipikirkan oleh akal manusia. Jika sifat ini dimiliki oleh makhluknya, maka akan berbeda maknanya, persamaannya hanya pada lafalnya saja. Ada tujuh sifat ma’ani yang dimiliki Allah Swt., yaitu: a. Qudrah (Berkuasa) Qudrah artinya berkuasa. Allah Swt. berkuasa atas segala sesuatu dan tidak ada yang dapat menandingi kekuasaannya. Allah Swt. berhak melakukan apapun terhadap makhluknya sesuai keinginannya. Dalil bahwa Allah Swt. memiliki sifat Qudrah terdapat pada QS. Al-Baqarah ayat 20 berikut ini: GَU "ﺎُداﻟOَُْقGَْﺨَﻄُﻒا"oَْﺼﺎَرُﻫۗ ْﻢ} Vﻠ(َﻤﺎا"َﺿﺎَءﻟ"ُﻬْﻢﻣﱠَﺸْﻮاِﻓuْۙ ِﻪَوِاَذاا"ﻇ Oﻠ"َﻢَﻋﻠ"ْﻴِﻬْﻢَﻗﺎُﻣْﻮۗ اَوﻟ"ْﻮَﺷﺎَءا# $ُ ﻟ"َﺬَﻫَﺐَِﺴْﻤِﻌِﻬْﻢَوا"oَْﺼﺎرSِﻫۗ ْﻢِان ﱠا# $ََﻋNy} VﻞﱢrsَCٍْءَﻗِﺪْﻳٌﺮ Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu. Apabila gelap menerpa mereka, mereka berdiri (tidak bergerak). Sekiranya Allah Swt. menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Swt. Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 20) Ayat tersebut menggambarkan kondisi orang munafik yang tergoda oleh tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. tetapi kembali kepada kekufuran setelah merasa tertarik sementara waktu. Mereka seperti orang yang berjalan di bawah kilat yang terang, tetapi berhenti penuh keraguan ketika kegelapan kembali menyelimuti. Allah Swt. berkuasa penuh atas segala sesuatu dan dapat saja
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 8Akidah Akhlak | Kelas X MA menghukum mereka dengan menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka, tetapi Allah Swt. menangguhkan hukuman tersebut hingga waktu yang ditentukan. Allah Swt. kemudian menyeru manusia untuk beragama dengan benar, yaitu dengan hanya beribadah kepada-Nya. b. Irādah (Berkehendak) Irādah artinya berkehendak. Jika Allah Swt. berkehendak terhadap sesuatu maka terjadilah hal tersebut dan tidak ada makhluk manapun yang dapat menolak atau menghalanginya. Dalil bahwa Allah Swt. memiliki sifat Irādah terdapat pada QS. Yasin ayat 82 berikut ini: ِاﻧﱠَﻤﺎا"ْﻣُﺮٓٗەِاَذاا"َراَدَﺷْﻴۖﺎا"ْنGﱠُﻘْﻮَلﻟ"ٗﻪﻛ Vْﻦَﻓuَ Vْﻮُن Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah (sesuatu) itu. (QS. Yasin: 82) Ayat tersebut menjelaskan kebesaran dan kemudahan bagi Allah Swt. untuk menciptakan segala sesuatu, cukup dengan satu perintah jadilah, maka jadilah. c. ‘Ilmu (Mengetahui) ‘Ilmu artinya Mengetahui. Allah Swt. Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Baik yang tampak maupun yang tersembunyi, maupun segala sesuatu yang ada di dalam hati manusia, sebagaimana firman Allah Swt. berikut: ُﻫَﻮاﻟ(ِﺬْيَﺧﻠ"َﻖاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮِتَواَْﻻْرَضA BِCِْﺳﺘﱠِﺔا"GﱠﺎٍمُﺛﻢﱠاْﺳَﺘٰﻮىَﻋN"اﻟOَﻌْﺮشSۗGَْﻌﻠ"ُﻢَﻣﺎGَِﻠُﺞA BِاَْﻻْرضS َوَﻣﺎGَْﺨ£ُُجِﻣْﻨَﻬﺎَوَﻣﺎَﻳBْBSُلِﻣَﻦاﻟﺴﱠَﻤﺎِءَوَﻣﺎGَْﻌ£ُُجِﻓْﻴَﻬۗﺎَوُﻫَﻮَﻣَﻌU Vْﻢا"ْﻳَﻦَﻣﺎﻛ Vْﻨُﺘْۗﻢَوا# $ُoَِﻤﺎَﺗْﻌَﻤﻠVْﻮَن oَِﺼٌْۗ Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian, Dia bersemayam di atas ʻArasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya serta apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Allah Swt. Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4) Ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah Swt. menciptakan segala sesuatu yang turun dari langit seperti air hujan, dan yang naik ke langit seperti amal kebajikan dan doa manusia. Kita harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt. senantiasa ada dan selalu menyertai kita di mana pun berada.
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 9Akidah Akhlak | Kelas X MA d. Ḥayāt (Hidup) Ḥayāt artinya Hidup, Allah Swt. akan hidup selama-lamanya dan tidak akan pernah mati. Dalil bahwa Allah Swt. memiliki sifat Ḥayāt sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt. berikut: َوَﺗَﻮ¥ (ْﻞَﻋN"اﻟO¦َCﱢاﻟ(ِﺬْيَﻻGَُﻤْﻮُتَوَﺳﺒﱢْﺢoَِﺤْﻤِﺪٖۗەَو© "ªBٰoِٖﻪoُِﺬُﻧْﻮِبِﻋlَﺎِدٖەَﺧِﺒًْا Bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Hidup yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Furqon: 58) Ayat tersebut mengajarkan agar kita senantiasa berserah diri kepada Allah Swt. yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati, serta memuji-Nya dengan penuh keagungan. Allah Swt. Maha Mengetahui segala perbuatan dan mengampuni segala dosa-dosa hamba-Nya. e. Samā’ (Mendengar) Samā’ artinya mendengar, Allah Swt. mendengar segala sesuatu yang terucap maupun yang tidak terucap. Semua suara akan terdengar tanpa terlewatkan begitu juga seseorang yang berdoa dalam hatipun Allah Swt. akan mendengar, sebagaimana firman Allah Swt. berikut: ُﻗْﻞا"َﺗْﻌlُُﺪْوَنِﻣْﻦُدْوِنا# $َِﻣﺎَﻻGَْﻤِﻠُﻚﻟ"U Vْﻢ¬Bَاوﱠَﻻَﻧْﻔًﻌۗ ﺎَوا# $ُُﻫَﻮاﻟﺴﱠِﻤْﻴُﻊاﻟOَﻌِﻠuُْﻢ Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mengapa kamu menyembah selain Allah Swt. sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kepadamu mudarat dan tidak (pula) manfaat?” Allah Swt. Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah: 76) Ayat tersebut berisi tentang kesesatan orang-orang yang menyembah selain Allah Swt., yang tidak memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat, dan mengingatkan bahwa Allah Swt. Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. f. Baṣar (Melihat) Baṣar artinya Melihat, Allah Swt. dapat melihat segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, sebagaimana firman Allah Swt. berikut: ِان ﱠا# $َGَْﻌﻠ"ُﻢَﻏuَْﺐاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮِتَواَْﻻْرضSَۗوا# $ُoَِﺼٌْۢoَِﻤﺎَﺗْﻌَﻤﻠVْﻮَن Sesungguhnya Allah Swt. mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Allah Swt. Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hujurat: 18)
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 10Akidah Akhlak | Kelas X MA Ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah Swt. mengetahui segala hal yang gaib (tidak tampak) di langit dan bumi, serta Maha Melihat segala yang dikerjakan manusia walaupun tersembunyi dan Allah Swt. akan memberikan balasan atas segala amal perbuatan manusia. g. Kalām (Berfirman) Kalām artinya berfirman, sifat kalam adalah sifat Allah Swt. untuk berbicara dan berkata secara sempurna tanpa ada batasan dan tanpa bantuan dari makhluk-Nya. Bukti bahwa Allah Swt. Memiliki sifat kalam adalah adanya kitab- kitab yang diturunkan kepada para rasul-rasul-Nya, sebagaimana firman Allah Swt. berikut: َوﻟ"ﻤﱠﺎَﺟﺎَءُﻣْﻮrِٰﻟِﻤuَْﻘﺎِﺗَﻨﺎَو¥ "ﻠ(َﻤٗﻪَر°ﱡۙٗﻪَﻗﺎَلَربﱢا"رS±BِCْٓا"ْﻧﻈ Vْﺮِاﻟ"uَْۗﻚَﻗﺎَلﻟ"ْﻦَﺗٰﺮﯨBِCَْوﻟyِﻦSاْﻧﻈ Vْﺮِا]" اﻟOَﺠlَِﻞَﻓِﺎِناْﺳَﺘَﻘﺮﱠَﻣU "ﺎَﻧٗﻪَﻓَﺴْﻮَفَﺗٰﺮﯨBِCَْۚﻓﻠ"ﻤﱠﺎَﺗَﺠN$َر°ﱡٗﻪِﻟﻠOَﺠlَِﻞَﺟَﻌﻠ"ٗﻪَد¥´ﺎوﱠَﺧﺮﱠُﻣْﻮrَٰﺻِﻌًﻘۚﺎ َﻓﻠ"ﻤﱠﺎا"َﻓﺎَقَﻗﺎَلُﺳlْٰﺤَﻨَﻚُﺗ¶ُْﺖِاﻟ"uَْﻚَوا"َﻧﺎ¸ا"وﱠُلاﻟOُﻤْﺆِﻣِﻨْBَ Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan- Nya) pada gunung itu) gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman. (QS. Al-A’raf: 143) Ayat tersebut menguraikan bahwa Nabi Musa a.s. berdoa selama empat puluh malam sesuai perintah Allah Swt. Ia meminta untuk melihat Allah Swt. secara langsung, tetapi Allah Swt. menjelaskan bahwa tidak mungkin bagi manusia dapat melihat-Nya di dunia dengan mata telanjang (melihat secara langsung). Allah Swt. memberikan contoh dengan gunung yang lebih kokoh dari Musa a.s., ketika Allah Swt. menunjukkan keagungan-Nya kepada gunung tersebut, gunung itu hancur luluh lantak, dan Musa a.s. pun pingsan. Setelah sadar, Musa a.s. menyadari keterbatasannya, bertobat, dan mengakui keagungan-Nya. Kemudian Allah Swt. menghibur Musa a.s. dengan mengingatkan bahwa Musa a.s. telah dipilih untuk menerima risalah-Nya secara langsung tanpa perantara, sebagai nikmat besar yang harus disyukuri. Kisah ini menekankan kebesaran Allah Swt. yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia serta pentingnya bersyukur atas nikmat Allah Swt.
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 11Akidah Akhlak | Kelas X MA 4. Sifat Maknawiyah merupakan sifat kelaziman dan tindak lanjut dari dari sifat Ma’ani. Ada tujuh sifat Allah Swt. yang termasuk pada sifat maknawiyah yaitu: a. Qādiran Qādiran artinya Maha Kuasa, atas segala sesuatu yang ada di alam semesta, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt. berikut: GَU "ﺎُداﻟOَُْقGَْﺨَﻄُﻒا"oَْﺼﺎَرُﻫۗ ْﻢ} Vﻠ(َﻤﺎا"َﺿﺎَءﻟ"ُﻬْﻢﻣﱠَﺸْﻮاِﻓuْۙ ِﻪَوِاَذاا"ﻇ Oﻠ"َﻢَﻋﻠ"ْﻴِﻬْﻢَﻗﺎُﻣْﻮۗ اَوﻟ"ْﻮَﺷﺎَء ا# $ُﻟ"َﺬَﻫَﺐَِﺴْﻤِﻌِﻬْﻢَوا"oَْﺼﺎرSِﻫۗ ْﻢِان ﱠا# $ََﻋNy} VﻞﱢrsَCٍْءَﻗِﺪْﻳٌﺮ Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu. Apabila gelap menerpa mereka, mereka berdiri (tidak bergerak). Sekiranya Allah Swt. menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Swt. Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 20) ºَُﺴﺒﱢُﺢ#ِ $َِﻣﺎA BِاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮِتَوَﻣﺎA BِاَْﻻْرضSۗﻟ"ُﻪاﻟOُﻤﻠOُﻚَوﻟ"ُﻪاﻟOَﺤْﻤُۖﺪَوُﻫَﻮَﻋNy} VﻞﱢrsَCٍْءَﻗِﺪْﻳٌﺮ Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Milik-Nyalah segala kerajaan dan segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. At-Tagabun: 1) َﺗََٰكاﻟ(ِﺬْيِﺑuَِﺪِەاﻟOُﻤﻠOُۖﻚَوُﻫَﻮَﻋNy} VﻞﱢrsَCٍْءَﻗِﺪْﻳٌۙﺮ Maha Berkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Mulk: 1) Ketiga ayat tersebut berisi tentang kekuasaan Allah Swt. terhadap makhluk-Nya, yaitu semua makhuk tunduk dan patuh terhadap semua perintah- Nya. b. Murīdan Allah Swt. bersifat Murīdan yang artinya Maha Berkehendak. Jika Allah Swt. berkehendak dengan sesuatu maka tidak ada satu makhluk pun yang mampu menolaknya, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya berikut: ا"َوﻟ"ْﻢَﻳَﺮْواا"ﻧﱠﺎَﻧﺄO±½ِاَْﻻْرَضَﻧْﻨُﻘُﺼَﻬﺎِﻣْﻦا"ْﻃَﺮاِﻓَﻬۗﺎَوا# $ُGَْﺤp Vُﻢَﻻُﻣَﻌﻘ ﱢَﺐِﻟُﺤp Oِﻤٖۗﻪَوُﻫَﻮ¾َS¿ــْــُﻊ اﻟOِﺤَﺴﺎِب Apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi daerah-daerah (orang yang ingkar kepada Allah), lalu Kami kurangi (daerah-daerah) itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Allah Swt. menetapkan hukum (menurut kehendak- Nya) tanpa ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; Dia Maha Cepat perhitungan-Nya. (QS. Ar-Ra’d: 41)
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 12Akidah Akhlak | Kelas X MA ٰﺧِﻠِﺪْﻳَﻦِﻓْﻴَﻬﺎَﻣﺎَداَﻣِﺖاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮُتَواَْﻻْرُضِاﻻﱠَﻣﺎَﺷﺎَءَر°ﱡَۗﻚِان ﱠَر°ﱠَﻚَﻓﻌﱠﺎٌلﻟÁَﻤﺎُﻳ£S¿ُْﺪ Mereka kekal di dalamnya selama masih ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki. (QS. Hud: 107) Kedua ayat tersebut menunjukkan kekuasaan Allah Swt. Jika sudah berkehendak maka tidak ada satu makhluk pun yang bisa menolaknya dan Allah Swt. pasti akan melaksanakan apa yang dikehendaki. c. ‘Āliman Allah Swt. bersifat ‘Āliman yang artinya Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Dalil bahwa Allah Swt. Maha Mengetahui terdapat pada ayat berikut: ºَْﺴَﺘْﻔُﺘْﻮَﻧَۗﻚُﻗِﻞا# $ُGُْﻔِﺘuْU VْﻢA BِاﻟOU "ﻠyﻠ"ۗ ِﺔِاِناْﻣُﺮٌؤاَﻫﻠ"َﻚﻟ"Ãَْﺲﻟ"ٗﻪَوﻟ"ٌﺪوﱠﻟ"ٓٗﻪاVْﺧٌﺖَﻓﻠ"َﻬﺎِﻧْﺼُﻒَﻣﺎ َﺗَﺮَۚكَوُﻫَﻮَﻳﺮSُﺛَﻬﺎِاْنﻟ(ْﻢGَ Vْﻦﻟ(َﻬﺎَوﻟ"ۚ ٌﺪَﻓِﺎْن} "ﺎَﻧَﺘﺎاْﺛÅََﺘْBSَﻓﻠ"ُﻬَﻤﺎاﻟﺜﱡﻠVÇٰBSِﻣﻤﱠﺎَﺗَﺮۗ َكَوِاْن} "ﺎُﻧْٓﻮاِاْﺧَﻮًة رﱢَﺟﺎًﻻوﱠÉَِﺴﺎًءَﻓِﻠﻠﺬ ﱠﻛ "ﺮSِﻣْﺜُﻞَﺣﻆ ÁاُْﻻْﻧËََﻴْBSُۗﻳَﺒﱢBُا# $ُﻟ"U Vْﻢا"ْنَﺗِﻀﻠÍْﻮۗ اَوا# $ُoِp VﻞﱢrsَCٍْءَﻋِﻠuٌْﻢ Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalālah). Katakanlah, “Allah Swt. memberi fatwa kepadamu tentang kalālah, (yaitu) jika seseorang meninggal dan dia tidak mempunyai anak, tetapi mempunyai seorang saudara perempuan, bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Adapun saudara laki-lakinya mewarisi (seluruh harta saudara perempuan) jika dia tidak mempunyai anak. Akan tetapi, jika saudara perempuan itu dua orang, bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika mereka (ahli waris itu terdiri atas) beberapa saudara laki-laki dan perempuan, bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua orang saudara perempuan. Allah Swt. menerangkan (hukum ini) kepadamu agar kamu tidak tersesat. Allah Swt. Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa : 176) َﻓَﻼَﺗÎBْS°ُْﻮا#ِ $ِاَْﻻْﻣَﺜﺎۗ َلِان ﱠا# $َGَْﻌﻠ"ُﻢَوا"ْﻧُﺘْﻢَﻻَﺗْﻌﻠ"ُﻤْﻮَن Maka, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah Swt. mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 74) Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Swt. mengetahui segala sesuatu, sehingga tidak ada satupun yang terlewat dari perhatian-Nya. d. Ḥayyan Allah Swt. bersifat Ḥayyan yang artinya Yang Maha Hidup. Allah Swt. merupakan Zat yang hidup selamanya dan tidak akan mati, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya berikut:
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 13Akidah Akhlak | Kelas X MA َوَﺗَﻮ¥ (ْﻞَﻋN"اﻟO¦َCﱢاﻟ(ِﺬْيَﻻGَُﻤْﻮُتَوَﺳﺒﱢْﺢoَِﺤْﻤِﺪٖۗەَو© "ªBٰoِٖﻪoُِﺬُﻧْﻮِبِﻋlَﺎِدٖەَﺧِﺒًْا Bertawakallah kepada (Allah Swt.) Yang Maha Hidup yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba- hamba-Nya. (QS. Al-Furqon: 58) Ayat tersebut berisi perintah bertawakal kepada Allah Swt. yang memiliki sifat kekal dan tidak mati, maka bertasbihlah dan mengagungkan nama-Nya atas segala dosa yang kita lakukan. e. Samī’an Allah Swt. bersifat Samī’an yang artinya Maha Mendengar, yaitu mendengar pembicaraan manusia yang keras, pelan, dan juga mendengar setiap doa hamba-hamba-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: َﻣْﻦ} "ﺎَنُﻳ£S¿ُْﺪَﺛَﻮاَباﻟﺪ ﱡْﻧuَﺎَﻓِﻌْﻨَﺪا# $َِﺛَﻮاُباﻟﺪ ﱡْﻧuَﺎَواْٰﻻِﺧَﺮۗ ِةَو¥ "ﺎَنا# $َُﺳِﻤuًْﻌﺎÏoَِﺼًْا Siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah Swt. ada pahala dunia dan akhirat. Allah Swt. Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa: 134) ُﻗْﻞا"َﺗْﻌlُُﺪْوَنِﻣْﻦُدْوِنا# $َِﻣﺎَﻻGَْﻤِﻠُﻚﻟ"U Vْﻢ¬Bَاوﱠَﻻَﻧْﻔًﻌۗ ﺎَوا# $ُُﻫَﻮاﻟﺴﱠِﻤْﻴُﻊاﻟOَﻌِﻠuُْﻢ Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mengapa kamu menyembah selain Allah Swt. sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kepadamu mudarat dan tidak (pula) manfaat?” Allah Swt. Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah: 76) Kedua ayat tersebut berisi tentang sifat Allah Swt. Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui. f. Baṣīran Allah Swt. bersifat Baṣīran yang artinya Maha Melihat segala sesuatu dan mengawasi setiap perbuatan dan tindakan makhluk-Nya yang kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: ُﺳlْٰﺤَﻦاﻟ(ِﺬْٓيا"¾ْٰىoَِﻌlِْﺪٖەﻟ"uًْﻼﻣﱢَﻦاﻟOَﻤْﺴِﺠِﺪاﻟOَﺤَﺮاِمِا]"اﻟOَﻤْﺴِﺠِﺪاَْﻻْﻗَﺼﺎاﻟ(ِﺬْيٰﺑَﺮ© Oَﻨﺎَﺣْﻮﻟ"ٗﻪ ِﻟBُS¿َٗﻪِﻣْﻦاyٰﻳÐَِﻨۗﺎِاﻧﱠٗﻪُﻫَﻮاﻟﺴﱠِﻤْﻴُﻊاﻟOlَِﺼُْ Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 14Akidah Akhlak | Kelas X MA (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra: 1) َو¥ "ْﻢا"ْﻫﻠ" OَﻨﺎِﻣَﻦاﻟOُﻘُﺮْوِنِﻣْۢﻦoَْﻌِﺪُﻧÑْحcَۗو© "ªBِٰﺑ£َ°ﱢَﻚoُِﺬُﻧْﻮِبِﻋlَﺎِدٖەَﺧِﺒًْاÏoَِﺼًْا Banyak generasi setelah Nuh yang telah Kami binasakan. Cukuplah Tuhanmu sebagai Zat Yang Maha Teliti lagi Maha Melihat dosa-dosa hamba-Nya. (QS. Al- Isra: 17) ِان ﱠا# $َGَْﻌﻠ"ُﻢَﻏuَْﺐاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮِتَواَْﻻْرضSَۗوا# $ُoَِﺼٌْۢoَِﻤﺎَﺗْﻌَﻤﻠVْﻮَن Sesungguhnya Allah Swt. mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Allah Swt. Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hujurat: 18) Ketiga ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah Swt. Maha Melihat dan Mengawasi apa yang dikerjakan oleh makhluk-Nya. g. Mutakkaliman Allah Swt. bersifat Mutakalliman yang artinya Yang Maha Berfirman, dengan bukti kitab-kitab suci yang telah diturunkan kepada para Rasul-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya berikut: َوُرُﺳًﻼَﻗْﺪَﻗَﺼْﺼٰﻨُﻬْﻢَﻋﻠ"uَْﻚِﻣْﻦَﻗlُْﻞَوُرُﺳًﻼﻟ(ْﻢ َﻧْﻘُﺼْﺼُﻬْﻢَﻋﻠ"uْۗ َﻚَو¥ "ﻠ(َﻢا# $ُُﻣْﻮrَٰﺗU Oِﻠuًْﻤۚﺎ Ada beberapa rasul yang telah Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu sebelumnya dan ada (pula) beberapa rasul (lain) yang tidak Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu. Allah Swt. telah benar-benar berbicara kepada Musa (secara langsung). (QS. An-Nisa: 164) َوﻟ"ﻤﱠﺎَﺟﺎَءُﻣْﻮrِٰﻟِﻤuَْﻘﺎِﺗَﻨﺎَو¥ "ﻠ(َﻤٗﻪَر°ﱡۙٗﻪَﻗﺎَلَربﱢا"رS±BِCْٓ ا"ْﻧﻈ Vْﺮِاﻟ"uَْۗﻚَﻗﺎَلﻟ"ْﻦَﺗٰﺮﯨBِCَْوﻟyِﻦSاْﻧﻈ Vْﺮِا]"اﻟOَﺠlَِﻞَﻓِﺎِن اْﺳَﺘَﻘﺮﱠَﻣU "ﺎَﻧٗﻪَﻓَﺴْﻮَفَﺗٰﺮﯨBِCَْۚﻓﻠ"ﻤﱠﺎَﺗَﺠN$َر°ﱡٗﻪِﻟﻠOَﺠlَِﻞ َﺟَﻌﻠ"ٗﻪَد¥´ﺎوﱠَﺧﺮﱠُﻣْﻮrَٰﺻِﻌًﻘۚﺎَﻓﻠ"ﻤﱠﺎا"َﻓﺎَقَﻗﺎَلُﺳlْٰﺤَﻨَﻚ ُﺗ¶ُْﺖِاﻟ"uَْﻚَوا"َﻧﺎ¸ا"وﱠُلاﻟOُﻤْﺆِﻣِﻨْBَ Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya Gambar 1.3. Orang Sedang Belajar Membaca Al-Qur'an Sumber: Tim illustrator BTU 2025
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 15Akidah Akhlak | Kelas X MA engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan- Nya) pada gunung itu) gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman. (QS. Al-A’raf: 143) Kedua ayat tersebut menjelaskan tentang peristiwa ketika Allah Swt. berbicara secara langsung kepada Nabi Musa a.s., sebagai bukti bahwa Allah Swt. memiliki sifat Maha Berfirman. B. Sifat Mustahil bagi Allah Swt. Sifat mustahil adalah sifat yang tidak dimiliki Allah Swt. Sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat wajib bagi Allah Swt. Dengan memahami sifat mustahil ini, dapat membuat kita semakin mengenal, mencintai, dan dapat memperkuat akidah serta ketauhidan kepada Allah Swt. Sifat mustahil bagi Allah Swt. berjumlah 20, dan sifat mustahil ini harus kita pahami. Tabel 1.2 Sifat Mustahil bagi Allah Swt. No Sifat Mustahil bagi Allah Swt. Arti 1 ‘Adam Tidak ada 2 Ḥudūṡ Baru 3 Fanā’ Rusak 4 Mumātsalatu lil hawādiṡ Sama dengan makhluk 5 Iḥtiyāju li ghayrihi Memerlukan yang lain 6 Ta’addud Lebih dari satu 7 ‘Ajzun Lemah 8 Karāhah Terpaksa 9 Jahlun Bodoh 10 Mautun Mati 11 Shamāmun Tuli 12 ‘Umyun Buta 13 Bukmun Bisu 14 ‘Ajizan Zat yang lemah 15 Karihan Zat yang terpaksa 16 Jahilan Zat yang bodoh 17 Mayyitan Zat yang mati 18 Ashammu Zat yang tuli 19 A’ma Zat yang buta 20 Abkamu Zat yang bisu Berdasarkan tabel tersebut, mari kita pelajari satu persatu sifat mustahil bagi Allah Swt. sebagai berikut:
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 16Akidah Akhlak | Kelas X MA 1. ‘Adam ‘Adam artinya tidak ada atau tiada. Mustahil bagi Allah Swt. bersifat ‘Adam karena sifat ini kebalikan dari sifat wujūd yang artinya ada. Sifat ini diterangkan dalam ayat berikut: ِان ﱠَر°ﱠU Vُﻢا# $ُاﻟ(ِﺬْيَﺧﻠ"َﻖاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮِتَواَْﻻْرَضA BِCِْﺳﺘﱠِﺔا"GﱠﺎٍمُﺛﻢﱠاْﺳَﺘٰﻮىَﻋN"اﻟOَﻌْﺮشSۗGُْﻐÓsِاﻟ(uَْﻞاﻟﻨﱠَﻬﺎَر GَْﻄﻠVlُٗﻪَﺣِﺜ>ًْﺜۙﺎوﱠاﻟﺸ ﱠْﻤَﺲَواﻟOَﻘَﻤَﺮَواﻟﻨﱡُﺠْﻮَمُﻣَﺴﺨ ﱠٰﺮٍۢتoِﺎ"ْﻣﺮSٖٓە ۙا"َﻻﻟ"ُﻪاﻟOَﺨﻠOُﻖَواَْﻻْﻣُۗﺮَﺗََٰكا# $َُربﱡاﻟOٰﻌﻠ"ِﻤْBَ Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah Swt. yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di atas ʻArasy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk pada perintah-Nya. Ingatlah! Hanya milik-Nyalah segala penciptaan dan urusan. Maha Berlimpah anugerah Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-A’raf: 54) Ayat tersebut menjelaskan tentang kekuasaan Allah Swt. dalam menciptakan langit dan bumi dalam enam masa atau periode, serta mengatur peredaran malam, siang matahari, bulan, dan bintang-bintang. 2. Ḥudūts Ḥudūts artinya baru atau ada yang mendahului. Sifat ini berlawanan dengan sifat qidām. Mustahil bagi Allah Swt. bersifat baru. Dialah yang terdahulu dan menciptakan segala sesuatu, seperti yang dijelaskan pada ayat berikut: ُﻫَﻮاَْﻻوﱠُلَواْٰﻻِﺧُﺮَواﻟﻈ (ﺎِﻫُﺮَواﻟOlَﺎِﻃُۚﻦَوُﻫَﻮoِp VﻞﱢrsَCٍْءَﻋِﻠuٌْﻢ Dialah Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zahir, dan Maha Batin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3) Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah Swt. sebagai pencipta. Dialah yang awal tanpa permulaan. Dia pula yang akhir karena abadi tanpa batas akhir bagi keberadaannya. Selain itu, Dia adalah yang Zahir dan mengetahui apa saja yang tampak, tidak tampak, yang disembunyikan atau tersirat dalam hati. Dia lebih dekat kepada makhluk dari pada dirinya sendiri, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu di alam semesta. 3. Fanā’ Fanā’ artinya rusak, musnah, binasa. Mustahil bagi Allah Swt. akan mengalami kerusakan atau kebinasaan, sebab Allah Swt. bersifat baqā’ yaitu kekal. Semua makhluk ciptaan dan seluruh alam semesta akan rusak dan hanya Allah Swt. yang tidak binasa, seperti yang ditegaskan dalam ayat berikut:
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 17Akidah Akhlak | Kelas X MA } Vﻞﱡَﻣْﻦَﻋﻠ"ْﻴَﻬﺎَﻓﺎٍۖن.وﱠ¿َlْª½َٰوْﺟُﻪَر°ﱢَﻚُذواﻟOَﺠﻠyِﻞَواِْﻻ© Oَﺮاِۚم Semua yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa. (Akan tetapi) wajah (zat) Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. (QS. Ar-Rahman: 26- 27) Ayat tersebut berisi tentang betapa luar biasanya kuasa Allah Swt. dan tidak akan musnah, tetapi kekal dan abadi. 4. Mumātsalatu lil hawādiṡ Mumātsalatu lil hawādiṡ artinya menyerupai makhluk. Mustahil bagi Allah Swt. menyerupai makhluk ciptaan-Nya. Tidak ada makhluk yang serupa atau menandingi- Nya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: َﻓﺎِﻃُﺮاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮِتَواَْﻻْرضSَۗﺟَﻌَﻞﻟ"U Vْﻢﻣﱢْﻦا"ْﻧُﻔِﺴp Vْﻢا"ْزَواًﺟﺎوﱠِﻣَﻦاَْﻻْﻧَﻌﺎِما"ْزَواًﺟۚﺎGَْﺬَرُؤ¥ Vْﻢِﻓuِْۗﻪﻟ"Ãَْﺲ } "ِﻤْﺜِﻠٖﻪrsَCْۚ ٌءَوُﻫَﻮاﻟﺴﱠِﻤْﻴُﻊاﻟOlَِﺼُْ (Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan (menjadikan pula) dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan(- nya). Dia menjadikanmu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syura: 11) Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah Swt. adalah pencipta langit dan bumi, serta menciptakan makhluknya secara berpasangan baik manusia, dan hewan ternak. 5. Iḥtiyāju li ghayrihi Iḥtiyāju li ghayrihi artinya membutuhkan atau memerlukan yang lain. Mustahil bagi Allah Swt. bersifat Iḥtiyāju li ghayrihi karena Allah Swt. bersifat Qiyāmuhu binafsihi yang artinya berdiri sendiri. Allah Swt. mampu mewujudkan dan mengatur segala sesuatu dengan sempurna tanpa bantuan siapa pun, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya berikut: َوُﻗِﻞاﻟOَﺤْﻤُﺪ#ِ $ِاﻟ(ِﺬْيﻟ"ْﻢَﻳﺘﱠِﺨْﺬَوﻟ"ًﺪاوﱠﻟ"ْﻢGَ Vْﻦﻟ(ٗﻪ¾sَS¿ٌْﻚA BِاﻟOُﻤﻠOِﻚَوﻟ"ْﻢGَ Vْﻦﻟ(ٗﻪَو]ِCﱞﻣﱢَﻦاﻟﺬ ﱡلﱢَو© "ْﱢُە َﺗ Oِﺒًْا Katakanlah, “Segala puji bagi Allah Swt. yang tidak mengangkat seorang anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak memerlukan penolong dari kehinaan! Agungkanlah Dia setinggi-tingginya! (QS. Al-Isra: 111) Ayat tersebut mengajarkan kepada manusia untuk memuji Allah Swt. Dia Maha Tunggal, tidak punya anak, tidak diperanakkan, tidak punya sekutu, dan tidak
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 18Akidah Akhlak | Kelas X MA memerlukan pertolongan dari siapapun. Maka kita harus mengagungkan nama-Nya dengan sepenuh hati. 6. Ta’adud Ta’adud artinya lebih dari satu atau berbilang. Mustahil bagi Allah Swt. bersifat ta’adud karena Allah Swt. adalah Wahdaniyah atau Esa. Dia tidak memiliki sekutu, anak, maupun orang tua (tidak terbilang), sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya berikut: ُﻗْﻞُﻫَﻮا# $ُا"َﺣٌۚﺪ.ا"# $ُاﻟﺼﱠَﻤُۚﺪ.ﻟ"ْﻢGَِﻠْﺪَوﻟ"ْﻢُﻳْﻮﻟ"ْۙﺪ.َوﻟ"ْﻢGَ Vْﻦﻟ(ٗﻪﻛ Vُﻔًﻮاا"َﺣٌﺪ Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Swt. Yang Maha Esa. Allah Swt. tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. (QS. Al-Ikhlas :1-4) Ayat tersebut berisi tentang keesaan, kemandirian, dan keagungan Allah Swt. yang tidak sama dengan makhluk-Nya. 7. ‘Ajzun ‘Ajzun artinya lemah. Mustahil bagi Allah Swt. bersifat lemah, karena Dia bersifat qudrah yang artinya berkuasa. Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan tidak ada satu makhluk pun yang dapat melebihi kekuasaan-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya berikut: …….ِان ﱠا# $ََﻋNy} VﻞﱢrsَCٍْءَﻗِﺪْﻳٌﺮ … Sesungguhnya Allah Swt. Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 20) 8. Karāhah Karāhah artinya terpaksa. Mustahil bagi Allah Swt. bersifat karāhah karena Allah Swt. bersifat iradah yaitu berkendak. Tidak ada yang mampu melawan atau menolak kehendak-Nya, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Hud ayat 107 berikut: ٰﺧِﻠِﺪْﻳَﻦِﻓْﻴَﻬﺎَﻣﺎَداَﻣِﺖاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮُتَواَْﻻْرُضِاﻻﱠَﻣﺎَﺷﺎَءَر°ﱡَۗﻚِان ﱠَر°ﱠَﻚَﻓﻌﱠﺎٌلﻟÁَﻤﺎُﻳ£S¿ُْﺪ Mereka kekal di dalamnya selama masih ada langit dan bumi,kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki. (QS. Hud: 107) Ayat tersebut menunjukkan jika Allah Swt. berkehendak maka tidak ada satu makhluk pun yang mampu menolaknya dan Allah Swt. pasti akan melaksanakan apa yang dikehendaki.
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 19Akidah Akhlak | Kelas X MA 9. Jahlun Jahlun artinya bodoh. Mustahil bagi Allah Swt. bersifat jahlun karena Allah Swt. bersifat ‘ilmun. Allah Swt. tidak mungkin bersifat bodoh karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk mengetahui hal-hal yang tidak tampak atau disembunyikan dalam hati, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: وﻟ"َﻘْﺪَﺧﻠ"ْﻘَﻨﺎاِْﻻÉَْﺴﺎَنَوَﻧْﻌﻠ"ُﻢَﻣﺎُﺗَﻮْﺳﻮSُسoِٖﻪَﻧْﻔُﺴۖ ٗﻪَوَﻧْﺤُﻦا"ْﻗَﺮُبِاﻟ"uِْﻪ ِﻣْﻦَﺣlِْﻞاﻟOَﻮرS¿ِْﺪ Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS. Qaf: 16) Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah Swt. Maha Mengetahui apa yang dibisikkan manusia. Ia lebih dekat dengan manusia daripada urat lehernya. Ini menunjukkan kedekatan dan penguasaan Allah Swt. atas ciptaan-Nya. 10. Mautun Mautun artinya mati. Mustahil bagi Allah Swt. akan mati karena sifat maut kebalikan dari sifat Allah Swt. yaitu hayat, hidup kekal dengan keabadiaan kuasaan- Nya. Allah Swt. mengurus makhluknya tanpa henti dan tidak merasakan kelelahan, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: ا"# $َُٓﻻِاﻟyَﻪِاﻻﱠُﻫَۚﻮا"ﻟO¦َCﱡاﻟOَﻘﻴﱡْﻮۚ ُمَﻻَﺗﺄOُﺧُﺬٗەِﺳَﻨٌﺔوﱠَﻻَﻧْﻮٌۗمﻟ"ٗﻪَﻣﺎA BِاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮِتَوَﻣﺎA BِاَْﻻْرضSَۗﻣْﻦَذا اﻟ(ِﺬْيºَْﺸَﻔُﻊِﻋْﻨَﺪٓٗەِاﻻﱠoِِﺎْذِﻧٖۗﻪGَْﻌﻠ"ُﻢَﻣﺎَﺑْBَا"GِْﺪْﻳِﻬْﻢَوَﻣﺎَﺧﻠOَﻔُﻬْۚﻢَوَﻻGُِﺤuُْﻄْﻮَنِÓsَCٍْءﻣﱢْﻦِﻋﻠOِﻤٖٓﻪِاﻻﱠoَِﻤﺎ َﺷﺎَۚءَوِﺳَﻊﻛ Vْﺮِﺳuﱡُﻪاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮِتَواَْﻻْرَۚضَوَﻻَﻳ×ْﻮُدٗەِﺣْﻔﻈ VُﻬَﻤۚﺎَوُﻫَﻮاﻟOَﻌNِCﱡاﻟOَﻌِﻈuُْﻢ Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. (QS. Al-Baqarah: 255) Gambar 1.4. Orang Yang Berpenampilan Bodoh Sumber: Tim illustrator BTU 2025.
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 20Akidah Akhlak | Kelas X MA Ayat tersebut menegaskan tentang keesaan dan kekuasaan Allah Swt. yang meliputi langit dan bumi, dan pengetahuan-Nya yang tak terbatas, serta tidak ada yang dapat memberi syafaat tanpa izin-Nya. 11. Shamāmun Shamāmun artinya tuli. Mustahil bagi Allah Swt. tuli karena Allah Swt. Maha Mendengar segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Sifat mustahil shamāmun berkebalikan dengan sifat Allah Swt. samā’, yaitu Maha Mendengar setiap yang diucapkan maupun yang disembunyikan, sebagaimana dalam jelaskan dalam firman-Nya berikut: ُﻗْﻞا"َﺗْﻌlُُﺪْوَنِﻣْﻦُدْوِنا# $َِﻣﺎَﻻGَْﻤِﻠُﻚﻟ"U Vْﻢ¬Bَاوﱠَﻻَﻧْﻔًﻌۗ ﺎَوا# $ُُﻫَﻮاﻟﺴﱠِﻤْﻴُﻊاﻟOَﻌِﻠuُْﻢ Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mengapa kamu menyembah selain Allah Swt. sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kepadamu mudarat dan tidak (pula) manfaat?” Allah Swt. Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah: 76) Ayat tersebut berisi tentang sifat Allah Swt. yaitu Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui. 12. ‘Umyun ‘Umyun artinya buta. Mustahil bagi Allah Swt. bersifat ‘Umyun karena Allah Swt. tidak mungkin buta dengan apa-apa yang terjadi dan yang tersembunyi. Sifat ‘umyun ini berkebalikan dengan sifat Allah Swt. basar, yakni Maha Melihat dan dengan kekuasaannya tidak ada sesuatu di alam semesta yang akan luput dari penglihatan-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: ِان ﱠا# $َGَْﻌﻠ"ُﻢَﻏuَْﺐاﻟﺴﱠٰﻤٰﻮِتَواَْﻻْرضSَۗوا# $ُoَِﺼٌْۢoَِﻤﺎَﺗْﻌَﻤﻠVْﻮَن Sesungguhnya Allah Swt. mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Allah Swt. Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hujurat: 18) Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Swt. mengetahui segala hal yang gaib di langit dan bumi serta Maha Melihat segala perbuatan manusia. Tidak ada yang tersembunyi dari Allah Swt. dan Dia akan memberikan balasan sesuai dengan amal perbuatan manusia.
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 21Akidah Akhlak | Kelas X MA 13. Bukmun Bukmun artinya bisu. Mustahil bagi Allah Swt. bersifat bukmun, Allah Swt. tidak mungkin bisu atau diam, karena Allah Swt. bersifat kalam, yakni berfirman dengan sempurna melalui para nabi dan rasul yang dapat dipercaya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: َوُرُﺳًﻼَﻗْﺪَﻗَﺼْﺼٰﻨُﻬْﻢَﻋﻠ"uَْﻚِﻣْﻦَﻗlُْﻞَوُرُﺳًﻼﻟ(ْﻢَﻧْﻘُﺼْﺼُﻬْﻢَﻋﻠ"uْۗ َﻚَو¥ "ﻠ(َﻢا# $ُُﻣْﻮrَٰﺗU Oِﻠuًْﻤۚﺎ Ada beberapa rasul yang telah Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu sebelumnya dan ada (pula) beberapa rasul (lain) yang tidak Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu. Allah Swt. telah benar-benar berbicara kepada Musa (secara langsung). (QS. An-Nisa: 164) Ayat tersebut berisi tentang kejadian Allah Swt. berbicara langsung kepada Nabi Musa a.s. sebagai bukti bahwa Allah Swt. Maha berfirman. 14. ‘Ajizan ‘Ajizan artinya Zat Yang Lemah. Mustahil bagi Allah Swt. Swt bersifat lemah karena Allah Swt. bersifat qadiran, yaitu berkuasa atas segala alam semesta dan ciptaan-Nya. Kuasa Allah Swt. tidak ada yang dapat menandinginya karena Dia Zat yang paling sempurna, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: َﺗََٰكاﻟ(ِﺬْيِﺑuَِﺪِەاﻟOُﻤﻠOُۖﻚَوُﻫَﻮَﻋNy} VﻞﱢrsَCٍْءَﻗِﺪْﻳٌۙﺮ Maha Berkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Mulk: 1) Gambar 1.5. Ilustrasi Kisah Orang Bisu Sumber: https://kalam.sindonews.com/read/930853/70/kisah-3- orang-tuli-dan-darwis-bisu-ketika-kata-kata-tidak-berguna- 1667452293
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 22Akidah Akhlak | Kelas X MA Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah Swt. merupakan satu-satunya pengendali atau pengatur atas segala makhluk sesuai dengan kehendak-Nya, tidak perlu dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan-Nya karena keperkasaan, kebijaksanaan, dan keadilan adalah milik-Nya. 15. Karihan Karihan artinya Zat Yang Terpaksa. Mustahil bagi Allah Swt. bersifat karihan karena tidak mungkin Allah Swt. bersifat terpaksa atas ciptaan-Nya. Dia bersifat muridan, yaitu memiliki kekuasaan dan berkehendak atas segala sesuatu, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: ا"َوﻟ"ْﻢَﻳَﺮْواا"ﻧﱠﺎَﻧﺄO±½ِاَْﻻْرَضَﻧْﻨُﻘُﺼَﻬﺎِﻣْﻦا"ْﻃَﺮاِﻓَﻬۗﺎَوا# $ُGَْﺤp Vُﻢَﻻُﻣَﻌﻘ ﱢَﺐِﻟُﺤp Oِﻤٖۗﻪَوُﻫَﻮ¾َS¿ــْــُﻊاﻟOِﺤَﺴﺎِب Apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi daerah-daerah (orang yang ingkar kepada Allah), lalu Kami kurangi (daerah-daerah) itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Allah Swt. menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya) tanpa ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; Dia Maha Cepat perhitungan-Nya. (QS. Ar-Ra’d: 41) Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah Swt. menetapkan hukum-Nya dan tidak ada yang dapat menolaknya. Dia Maha Cepat perhitungan-Nya dan mengetahui usaha setiap hamba, termasuk tipu daya orang-orang kafir. 16. Jahilan Jahilan artinya Zat Yang Bodoh. Mustahil bagi Allah Swt. Swt bersifat bodoh karena Allah Swt. bersifat ‘aliman yaitu Maha Mengetahui atas segala sesuatu tanpa batas dan semua ilmu pengetahuan adalah ciptaan-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: …….َوا# $ُoِp VﻞﱢrsَCٍْءَﻋِﻠuٌْﻢ … Allah Swt. Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa: 176) Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah Swt. tidak bodoh karena Maha Mengetahui. 17. Mayyitan Mayyitan artinya zat yang mati. Mustahil bagi Allah Swt. mati, karena Dia bersifat kekal dan abadi dalam kesempurnaan-Nya. Sifat mayyitan berkebalikan dengan sifat Hayyan, yaitu Maha Hidup, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut:
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 23Akidah Akhlak | Kelas X MA ا"# $َُٓﻻِاﻟyَﻪِاﻻﱠُﻫَۚﻮا"ﻟO¦َCﱡاﻟOَﻘﻴﱡْﻮۗ ُم …… …..Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) (QS. Al-Baqarah: 255) Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah Swt. Maha Hidup dan mustahil bagi- Nya akan mati, karena akan terus menerus mengurus makhluk-Nya. 18. Ashamu Ashamu artinya zat yang tuli. Mustahil bagi Allah Swt. tuli karena Allah Swt. bersifat sami’an atau Maha Mendengar. Dia mendengar segala yang diucapkan maupun yang disembunyikan dalam hati makhluk-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: َﻣْﻦ} "ﺎَنُﻳ£S¿ُْﺪَﺛَﻮاَباﻟﺪ ﱡْﻧuَﺎَﻓِﻌْﻨَﺪا# $َِﺛَﻮاُباﻟﺪ ﱡْﻧuَﺎَواْٰﻻِﺧَﺮۗ ِةَو¥ "ﺎَنا# $َُﺳِﻤuًْﻌﺎÏoَِﺼًْا Siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah Swt. ada pahala dunia dan akhirat. Allah Swt. Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa:134) Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah Swt. Maha Mendengar, Maha Melihat, dan mustahil bagi Allah Swt. Zat yang tuli. 19. A’ma A’ma artinya Zat Yang Buta. Mustahil bagi Allah Swt. buta atau tidak dapat melihat karena Allah Swt. bersifat basiran yaitu Maha Melihat dan Mengawasi makhluk ciptaan-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: َو¥ "ْﻢا"ْﻫﻠ" OَﻨﺎِﻣَﻦاﻟOُﻘُﺮْوِنِﻣْۢﻦoَْﻌِﺪُﻧÑْحcَۗو© "ªBِٰﺑ£َ°ﱢَﻚoُِﺬُﻧْﻮِبِﻋlَﺎِدٖەَﺧِﺒًْاÏoَِﺼًْا Banyak generasi setelah Nuh yang telah Kami binasakan. Cukuplah Tuhanmu sebagai Zat Yang Maha Teliti lagi Maha Melihat dosa-dosa hamba-Nya. (QS. Al-Isra’: 17) Ayat tersebut mengingatkan tentang banyaknya umat manusia yang telah dibinasakan oleh Allah Swt. karena perbuatan dosa dan kekufuran atas nikmat-Nya, seperti kaum Nabi Nuh a.s., kaum 'Ad, Tsamud, kaum Nabi Luth a.s., dan lainnya. Dan Allah Swt. Maha Mengetahui dan Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 24Akidah Akhlak | Kelas X MA 20. Abkamu Abkamu artinya zat yang bisu. Mustahil bagi Allah Swt. bisu karena Allah Swt. bersifat mutakalliman, yaitu Maha Berfirman, yang terangkum dalam kitab suci dan telah diturunkan kepada para nabi dan rasul untuk disampikan kepada umatnya masing-masing, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: َوﻟ"ﻤﱠﺎَﺟﺎَءُﻣْﻮrِٰﻟِﻤuَْﻘﺎِﺗَﻨﺎَو¥ "ﻠ(َﻤٗﻪَر°ﱡۙٗﻪَﻗﺎَلَربﱢا"رS±BِCْٓا"ْﻧﻈ Vْﺮِاﻟ"uَْۗﻚَﻗﺎَلﻟ"ْﻦَﺗٰﺮﯨBِCَْوﻟyِﻦSاْﻧﻈ Vْﺮِا]"اﻟOَﺠlَِﻞ َﻓِﺎِناْﺳَﺘَﻘﺮﱠَﻣU "ﺎَﻧٗﻪَﻓَﺴْﻮَفَﺗٰﺮﯨBِCَْۚﻓﻠ"ﻤﱠﺎَﺗَﺠN$َر°ﱡٗﻪِﻟﻠOَﺠlَِﻞَﺟَﻌﻠ"ٗﻪَد¥´ﺎوﱠَﺧﺮﱠُﻣْﻮrَٰﺻِﻌًﻘۚﺎَﻓﻠ"ﻤﱠﺎا"َﻓﺎَق َﻗﺎَلُﺳlْٰﺤَﻨَﻚُﺗ¶ُْﺖِاﻟ"uَْﻚَوا"َﻧﺎ¸ا"وﱠُلاﻟOُﻤْﺆِﻣِﻨْBَ Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu) gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman. (QS. Al-A’raf: 143) Ayat tersebut berisi tentang kejadian Allah Swt. berbicara langsung kepada Nabi Musa a.s. sebagai bukti bahwa Allah Swt. Maha Berfirman. C. Sifat Jaiz Bagi Allah Swt. Sifat jaiz adalah sifat yang boleh ada atau boleh tidak ada pada Allah Swt. Sifat ini merupakan sebuah kebebasan bagi Allah Swt. dengan kehendak-Nya tanpa ada seorang pun yang mampu memaksakan dan mempengaruhinya. Oleh sebab itu, Allah Swt. dapat berbuat atau meninggalkan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Adapun satu-satunya sifat jaiz Allah Swt. adalah ِﻓْﻌُﻞ) *ﻞﱢُﻣْﻤ.ِﻦ0ا2ْوَﺗْﺮ7 *ُﻪ (fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu) yang artinya: Allah Swt. berwewenang menciptakan atau tidak menciptakan (meniadakan) sesuatu. Sebagai contoh sifat jaiz Allah Swt. sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut: ُﻗِﻞاﻟﻠ$ُﻬﻢﱠٰﻣِﻠَﻚاﻟOُﻤﻠOِﻚُﺗْﺆ±½ِاﻟOُﻤﻠOَﻚَﻣْﻦØََﺸﺎُءَوَﺗBْBSُعاﻟOُﻤﻠOَﻚِﻣﻤﱠْﻦØََﺸﺎُۖءَوُﺗِﻌﺰﱡَﻣْﻦØََﺸﺎُءَوُﺗِﺬلﱡَﻣْﻦØََﺸﺎۗ ُء ِﺑuَِﺪَكاﻟOَﺨُْ ِۗاﻧﱠَﻚَﻋNy} VﻞﱢrsَCٍْءَﻗِﺪْﻳٌﺮ Gambar 1.6. Gunung Meletus. Sumber: Amrih Latifah, Canva.
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 25Akidah Akhlak | Kelas X MA Kegiatan Pembelajaran Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imran: 26) Ayat tersebut menunjukkan perintah Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. untuk menyatakan bahwa Allah Swt. Maha Suci dan memiliki kekuasaan tertinggi, Maha Bijaksana dengan tindakan-Nya yang sempurna dalam menyusun, mengatur serta menyelesaikan segala perkara. D. Keutamaan Mempelajari dan Memahami Sifat-Sifat Allah Swt. Mempelajari dan memahami sifat-sifat Allah Swt. mengandung keutamaan dan kebaikan, karena dapat mendekatkan diri kepada-Nya, meningkatkan keimanan, dan menjadi pedoman hidup yang membawa pada kemuliaan. Ada beberapa keutamaan mempelajari sifat-sifat Allah Swt. yaitu: 1. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan; 2. Menumbuhkan rasa mencintai, mengagungkan Allah Swt. dan tidak menyekutukan- Nya; 3. Melapangkan hati dan jiwa menjadi tenang serta memberikan rasa aman dan damai; 4. Meningkatkan kualitas hidup baik duniawi maupun spiritual; 5. Memotivasi diri untuk berbuat baik, lebih bersabar, semangat beribadah, dan takut berbuat dosa; 6. Meningkatkan rasa cinta kepada nama dan sifat-Nya, serta membekas dalam hati; 7. Semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.; 8. Menjauhkan diri dari kemaksiatan; 9. Mendapatkan rida Allah Swt.; dan 10. Fokus menyembah kepada Allah Swt. Setelah mempelajari materi sifat-sifat Allah Swt. diatas, lakukan kegiatan berikut ini ! Murid bekerja dalam kelompok kecil (3-4 orang murid secara acak) dan melakukan langkah-langkah berikut: 1. Identifikasi budaya lokal di daerah sekitar yang menurut kelompok memiliki nilai yang sesuai dengan salah satu sifat Allah Swt. (Wujud, Wahdaniyah, Qudrah, Iradah, ‘Ilm).
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 26Akidah Akhlak | Kelas X MA a. Wujud, upacara syukuran hasil panen sebagai bentuk pengakuan terhadap keberadaan Allah Swt.; b. Wahdaniyah, budaya gotong royong yang menggambarkan nilai persatuan dalam keesaan Allah Swt.; c. Qudrah, tradisi menjaga lingkungan sebagai wujud pengakuan terhadap kekuasaan Allah Swt. atas alam; d. Iradah: semangat kerja keras dalam tradisi lokal menunjukkan kesadaran atas kehendak Allah Swt.; dan e. ‘Ilm: petuah atau pepatah adat mencerminkan kebijaksanaan dan ilmu Allah Swt. 2. Diskusikan makna nilai tersebut dan kaitkan dengan ajaran Islam tentang sifat Allah Swt.. 3. Buat produk sederhana: a. Poster / mind map dengan tema Sifat Allah Swt. dalam Budaya Daerahku; dan b. Atau video pendek (durasi 1–2 menit) yang mendokumentasikan tradisi lokal dan menjelaskan nilai keagamaannya. 4. Presentasikan hasil karya di depan kelas dengan durasi 3-5 menit per kelompok.
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 27Akidah Akhlak | Kelas X MA I. Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1. Sifat wajib yang dimiliki oleh Allah Swt. dan berhubungan langsung, yang melekat dan menyatu dengan Zat-nya disebut dengan sifat …. A. jaiz B. ma’ani C. nafsiyah D. salbiyah E. maknawiyah 2. Sebagai seorang pelajar Farid selalu belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak lupa berdoa kepada Allah Swt. Farid yakin bahwa doa akan dikabulkan. Hal ini menunjukkan keyakinan Farid, bahwa Allah Swt. memiliki sifat …. A. sama’ B. wahdaniyah C. ihtiyaju ligairihi D. qiyamuhu binafsihi E. mukhalafatu lil hawadisi 3. Sebagai bentuk mencintai kepada Allah Swt., Ali selalu berhati-hati dalam berperilaku kepada orang lain karena menyadari bahwa perilakunya akan dilihat Allah Swt. Hal ini wujud iman bahwa Allah Swt. mempunyai sifat …. A. basar B. sama’ C. wahdaniyah D. ihtiyaju ligairihi E. qiyamuhu binafsihi 4. Sifat Salbiyah adalah sifat yang menghilangkan atau menolak sifat-sifat yang tidak layak atau tidak sesuai dengan kesempurnaan Allah Swt. Sifat ini, membedakan antara sifat Allah Swt. dengan makhluk-Nya. Berikut yang termasuk sifat wajib salbiyah bagi Allah Swt. adalah …. A. qidam B. basar C. hayyan D. sami’an E. mutakalliman Uji Kompetensi
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 28Akidah Akhlak | Kelas X MA 5. Andi meyakini bahwa Allah Swt. memiliki sifat yang dapat dipikirkan melalui akal sehat dan dapat dibuktikan melalui pancaindera. Pernyataan yang sesuai adalah …. A. salah satu bukti sifat jaiz B. Allah Swt. memiliki sifat ma’ani C. wujud Allah Swt. sebagai Pencipta D. qudrah termasuk sifat di dalamnya E. pernyataan menunjukkan sifat mustahil 6. Perhatikan ayat di bawah ini! َوﻟ"ْﻢGَ Vْﻦﻟ(ٗﻪﻛ Vُﻔًﻮاا"َﺣٌﺪ Ayat di atas berisi tentang sifat Allah Swt. yaitu …. A. sama’ B. iradah C. wahdaniyah D. qiyamuhu binafsihi E. mukhalafatu lil hawadith 7. Hafid selalu berhati-hati dalam berperilaku kepada orang lain karena menyadari bahwa perilakunya akan dilihat Allah Swt. Sikap Hafid ini merupakan wujud meyakini Allah Swt. bersifat …. A. sama’ B. iradah C. basar D. wujud E. wahdaniyah 8. Di antara sifat wajib yang dimiliki oleh Allah Swt. adalah iradah. Perilaku Ahmad yang menunjukkan keyakinan adanya sifat itu antara lain …. A. berusaha mengubah takdir B. selalu memaksakan kehendaknya C. menuntut ilmu untuk mengubah takdir D. mencegah hal-hal yang tidak menyenangkan E. menerima kehendak allah swt. dengan ikhlas 9. Sifat yang boleh ada atau boleh tidak ada pada Allah Swt. serta merupakan sebuah kebebasan bagi Allah Swt. dengan kehendak-Nya tanpa ada yang memaksakan adalah pengertian sifat …. A. jaiz B. wajib
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 29Akidah Akhlak | Kelas X MA C. nafsiyah D. mustahil E. salbiyah 10. Fajar belajar tentang sifat-sifat Allah Swt. karena ia yakin bahwa mempelajarinya memiliki banyak keutamaan. Salah satu keutamaan mempelajari sifat-sifat Allah Swt. adalah …. A. semakin jauh dari Allah Swt. B. mengurangi kadar iman dan takwa C. semakin berani untuk berbuat keburukan D. selalu ingin bermaksiat kepada Allah Swt. E. takut berbuat maksiat karena yakin Allah Maha Melihat II. Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat! 1. Perhatikan ayat berikut! ُﻫَﻮاَْﻻوﱠُلَواْٰﻻِﺧُﺮَواﻟﻈ (ﺎِﻫُﺮَواﻟOlَﺎِﻃُۚﻦَوُﻫَﻮoِp VﻞﱢrsَCٍْءَﻋِﻠuٌْﻢ Jelaskan sifat wajib Allah Swt. yang terkandung dalam ayat tersebut! 2. Sifat Ma’ani adalah sifat wajib Allah Swt. yang berhubungan dengan perbuatan atau kehendak, kebesaran, kekuasaan, dan kesempurnaan Zat Allah Swt.. Sebutkan apa saja yang termasuk sifat ma’ani! 3. Jika Allah Swt. menghendaki sesuatu hanya berkata, jadilah!, maka jadilah. Berdasarkan pernyataan tersebut, sifat apa yang menjadi bukti kekuasaan Allah Swt.? 4. Bagaimana makna sifat jaiz (mayyitan) dapat membentuk sikap seorang mukmin dalam menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu sesuai dengan keinginannya? 5. Mengapa mempelajari dan memahami sifat-sifat Allah Swt. dapat memengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari?
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 30Akidah Akhlak | Kelas X MA Remidial Kerjakan soal remidial berikut dengan teliti ! 1. Seorang dokter berusaha keras menyembuhkan pasiennya, tetapi tetap berdoa dan berserah diri kepada Allah Swt. Bagaimana peristiwa tersebut mencerminkan pemahaman terhadap sifat Qudrah (Maha Kuasa) dan Iradah (Maha Berkehendak) Allah Swt.? 2. Seorang petani tetap bersemangat menanam padi meskipun cuaca tidak menentu. Ia yakin bahwa hasil panen telah ditentukan oleh Allah Swt. , namun ia tetap berusaha sebaik mungkin. Jelaskan hubungan sikap petani tersebut dengan sifat Iradah dan Qudrah Allah Swt. , serta sebutkan dalil naqli yang mendukung keyakinan tersebut! 3. Salah satu sifat jaiz bagi Allah adalah “Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu” (Allah berkuasa melakukan sesuatu atau tidak melakukannya). Berikan contoh fenomena dalam kehidupan sehari-hari yang menunjukkan pemahaman terhadap sifat jaiz Allah tersebut, lalu jelaskan bagaimana pemahaman itu dapat meningkatkan keimanan seseorang! 4. Seorang ilmuwan menemukan obat baru yang dapat menyembuhkan penyakit langka. Ia menyadari bahwa kemampuan berpikir dan hasil penemuannya adalah anugerah dari Allah Swt. yang Maha Mengetahui. Analisis keterkaitan antara peristiwa tersebut dengan sifat ‘Ilm (Maha Mengetahui) dan sifat Hayat (Maha Hidup) Allah Swt. , serta bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap terhadap ilmu pengetahuan berdasarkan pemahaman sifat-sifat Allah! 5. Allah Swt. memiliki sifat Qidam (tidak berpermulaan) dan Baqa’ (tidak berkesudahan). Jelaskan bagaimana kedua sifat tersebut membedakan Allah Swt. dengan makhluk- Nya, dan apa dampak keimanan terhadap sifat tersebut dalam membentuk sikap rendah hati manusia di era modern! Soal remidial tersedia di barcode berikut ini. Kerjakan dan kumpulkan sesuai instruksi guru masing-masing!
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 31Akidah Akhlak | Kelas X MA Pengayaan Bagi murid yang sudah mencapai tujuan pembelajaran lakukan pendalaman pengetahuan dengan mengerjakan soal-soal sebagai berikut! 1. Dalam diskusi kelompok, seorang murid berpendapat bahwa sifat Qidam (terdahulu) bagi Allah Swt. menunjukkan bahwa Allah Swt. tidak memiliki awal, sehingga mustahil bagi Allah Swt. memiliki sifat Ḥudūṡ (baru). Namun, murid lain berargumen bahwa konsep Qidam hanya relevan dalam kerangka waktu manusia dan tidak sepenuhnya menjelaskan keberadaan Allah Swt. yang transenden (melampaui batas pengalaman biasa). Jelaskan argumen kedua murid tersebut dengan mempertimbangkan sifat Nafsiyah dan Salbiyah Allah Swt. Jelaskan bagaimana pemahaman yang benar tentang sifat Qidam dapat menjawab keraguan kedua murid tersebut dan hubungkan dengan sifat mustahil Ḥudūṡ. 2. Seorang ulama menjelaskan bahwa sifat Hayat (hidup) Allah Swt. termasuk dalam sifat Ma’ani, yang menunjukkan kehidupan Allah Swt. yang sempurna tanpa keterbatasan. Namun, seorang penanya bertanya, “Jika Allah memiliki sifat Hayat, bagaimana kita memahami sifat ini tanpa membayangkan kehidupan seperti makhluk?”. Uraikan bagaimana sifat Hayat sebagai sifat Ma’ani berbeda dari konsep kehidupan pada makhluk. Jelaskan pula keterkaitan antara sifat Hayat dengan sifat Ma’nawiyah seperti Murid (berkehendak) dalam menegaskan keesaan Allah Swt. 3. Dalam sebuah kajian, muncul pertanyaan: “Jika Allah memiliki sifat jaiz, seperti menciptakan dunia atau tidak menciptakannya, apakah ini menunjukkan bahwa Allah Swt. memiliki kebebasan mutlak, atau justru membatasi keagungan-Nya karena ada hal yang ‘tidak wajib’ bagi-Nya?”. Jelaskan konsep sifat jaiz bagi Allah Swt. dengan mempertimbangkan kebebasan mutlak Allah Swt. dan kaitannya dengan sifat wajib seperti Qudrat (kuasa) dan Iradah (kehendak). Jelaskan bagaimana sifat jaiz tidak mengurangi keagungan Allah Swt., tetapi justru menegaskan kesempurnaan-Nya. Soal pengayan bisa kalian lihat melalui scan barcode berikut.
Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah Swt. Melalui Sifat-Sifat-Nya 32Akidah Akhlak | Kelas X MA Muhasabah (Refleksi) Untuk membantu kalian melakukan refleksi, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut! 1. Bagaimana pendapat kalian bahwa mempelajari sifat-sifat bagi Allah Swt. dapat meningkatkan keimanan? 2. Mengapa mempelajari sifat-sifat Allah Swt. penting dan bagaimana pemahaman itu dapat memengaruhi cara kalian bersikap setiap hari? Jelaskan! 3. Apa yang akan kalian lakukan setelah mempelajari materi sifat-sifat Allah Swt.? 4. Dalam situasi sulit, apakah kalian tetap berusaha untuk bersabar dan bertawakal? 5. Bagaimana kalian memaknai kehadiran Allah Swt. dalam kehidupan sehari-hari? Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS. Qaf: 16) Mutiara Hikmah
33 BAB II Akidah Akhlak | Kelas X MA BERAKHLAK MULIA SEBAGAI CERMINAN MENCINTAI DIRI SENDIRI Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), Tema Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), dan Delapan Profil Lulusan (DPL) Capaian Pembelajaran Memahami akhlak terpuji (hikmah, iffah, syaja’ah, dan ‘adalah) Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini kalian diharapkan mampu: 1. Menelaah kandungan dalil akhlak terpuji (hikmah, iffah, syajaah, dan ‘adalah), untuk meningkatkan cinta kepada ilmu; 2. Menguraikan keutamaan induk akhlak terpuji hikmah, iffah, syaja’ah, dan ‘adalah, untuk meningkatkan cinta pada diri sendiri dan orang lain; 3. Menganalisis keutamaan dan penerapan induk akhlak terpuji, untuk meningkatkan cinta kepada ilmu; dan 4. Menerapkan akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi pribadi yang memiliki kesalehan individual dan sosial dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk meningkatkan cinta kepada tanah air. Kurikulum Berbasis Cinta Cinta kepada Ilmu, Cinta kepada Diri dan Sesama Manusia, serta Cinta Tanah Air Dimensi Profil Lulusan Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Kewargaan, Kolaborasi, Kesehatan Dan Komunikasi Kata Kunci: Hikmah, Iffah, Syaja’ah, ‘Adalah