Bismillah Buku Talenta

ii Laila, Gale, Kania, Rakha, Delisha GALERI IMAJINASI Merangkai Cerita, Menyulam Makna: Karya Guru dan Pelajar SMPIT Darul Abidin GALERI IMAJINASI Laila, Gale, Kania, Rakha, Delisha

iii GERAKAN LITERASI NASIONAL GAREULIS Guru Siswa Masyarakat dan Keluarga, Menulis dan Berliterasi Galeri Imajinasi Penulis : Laila, Gale, Kania, Rakha, Delisha QRCBN : Penyunting : Media Gareulis Tata Letak : Media Gareulis Desan Cover : Media Gareulis Diterbitkan oleh CV. Geliat Gemilang Abadi Media GAREULIS Penerbit CV Geliat Gemilang Abadi

iv Media GAREULIS Anggota IKAPI Cetakan Pertama: Juli, 2026 ============================================================== Hak Cipta dilindungi undang-Undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan bentuk dan cara apa pun tanpa ijin tertulis dari penerbit.

v KATA PENGANTAR Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga buku kumpulan cerpen ini dapat terselesaikan dengan baik. Buku ini lahir dari semangat belajar, berimajinasi, dan berkarya yang tumbuh dalam diri empat siswa/i bersama seorang guru pembimbing. Setiap cerita yang tersaji dalam buku ini merupakan hasil proses belajar yang penuh tantangan sekaligus menyenangkan. Melalui kegiatan menulis, kami belajar mengamati kehidupan, merangkai kata, mengembangkan imajinasi, serta menyampaikan nilai-nilai kebaikan dengan cara yang menarik. Meskipun ditulis oleh penulis yang berbeda, seluruh cerita dalam buku ini disatukan oleh semangat yang sama, yaitu keberanian untuk berkarya dan berbagi inspirasi kepada pembaca. Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Namun, kami percaya bahwa setiap karya memiliki cerita dan proses yang berharga. Oleh karena itu, kami berharap buku ini dapat menjadi langkah kecil yang membuka jalan menuju karya-karya yang lebih baik di masa mendatang. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, motivasi, dan kesempatan sehingga buku ini dapat terwujud. Semoga setiap cerita yang terdapat di dalamnya mampu menghibur, menginspirasi, dan menumbuhkan kecintaan terhadap dunia literasi. Selamat membaca dan menikmati setiap kisah yang kami hadirkan. Semoga buku sederhana ini dapat meninggalkan jejak kebaikan di hati para pembaca Depok, Juni 2026 Tim GLS SMPIT Darul Abidin

vi PENGANTAR KETUA DEWAN PEMBINA Assalamualaikum Wr. Wb. GLN Gareulis adalah sebuah Pokja Literasi dari komunitas sosial yang hadir sebagai bentuk kepedulian dan tanggungjawab masyarakat terhadap peningkatan indeks literasi dan meliteratkan masyarakat. Sebagai komunitas yang bergerak secara mandiri dan sukarela tentunya tidak mudah melakukan upaya tanpa ada keterlibatan dari masyarakat, instansi pemerintah dan swasta, khususnya Dinas Pendidikan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab/ Kota/ Provinsi. Keterlibatan pakar pendidikan, tokoh masyarakat, instansi, sebagai pelindung, pengarah, pembina, dan penasihat, GLN Gareulis sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program yang dicanangkan. Salah satu program utamanya yaitu TALENTA (Tantangan Literasi Nusantara) yang saat ini memasuki tahun ke-3, sangat meningkatkan semangat peserta untuk melakukan pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran dalam bidang literasi khusunya dalam upaya meningkatkan budaya dan minat baca di sekolah, keluarga dan masyarakat. Kami mengapresiasi lahirnya buku-buku hasil karya peserta program TALENTA yang luar biasa. Semoga kehadiran buku tersebut dapat memperkaya perbukuan di Indonesia. Serta menjadi bukti kepedulian pegiat literasi terhadap isu pendidikan, sosial, budaya dan teknologi yang berkembang di masyarakat, serta menunjukkan ekspresi dan apresiasi peserta terhadap perkembangan budaya dan sastra bangsa melalui tulisan. Tetap bergerak, meliteratkan, dan menghasilkan karya. Wassalamualaikum Wr. Wb. Bandung, Mei 2026 Ketua Dewan Pembina GLN GAREULIS H. Syahrir, S.E. M.I.Pol. Komisi I DPRD Jawa Barat

vii PENGANTAR KETUA UMUM Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Salawat dan salam mari kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan kerabatnya. Semoga kita termasuk dalam golongan umatnya sampai akhir jaman. Amin. GLN Gareulis lahir sebagai bentuk kepedulian terhadap implementasi gerakan literasi di sekolah, keluarga dan masyarakat. Salah satu program untuk mewujudkannya melalui program Tantangan Literasi Nusantara TALENTA yang digulirkan 10 Februari 2026 dengan menyelesaikan 10 jenis tantangan literasi. Membuat buku adalah salah satu tantangan literasi yang harus diselesaikan sebagai bukti hasil cipta, rasa, dan karsa peserta tantangan literasi. Kami mengapresiasi lahirnya buku-buku tersebut. Semoga kehadiran buku ini menjadi booster bagi lahirnya karya lain dalam menambah koleksi bacaan buku bermutu untuk dimanfaatkan di pojok baca sekolah, perpustakaan keluarga, TBM, perpustakaan desa, kelurahan, dan instansi di Indonesia. Lahirnya buku ini menjadi bukti keberhasilan implementasi dan keterlibatan peserta TALENTA GLN Gareulis dalam upaya meningkatkan kreativitas dalam berliterasi, mengapresiasi, dan mendayagunakan seluruh potensi baca tulis sehingga bisa termanfaatkan dan terdokumentasikan. Sekali lagi selamat atas lahirnya karya buku luar biasa ini. Semoga buku ini memberikan manfaat, menginspirasi, dan menjadi bukti bahwa keberhasilan hanya dapat diraih melalui kerja keras dan kesabaran. Mari membaca, segeralah menulis, ikatlah ilmu dengan tulisan. Jadilah teladan dalam mewujudkan pribadi dan generasi literat yang tangguh dan berdayaguna. Semoga Allah SWT meridhoi segala upaya meliteratkan generasi bangsa. Aamiin. Wassalamualaikum Wr. Wb. Bandung, Mei 2026 Ketua Umum GLN Gareulis Hj. R. Yulia Yulianti, M.Pd.

viii PENGANTAR KETUA PELAKSANA TALENTA 2026 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam Literasi untuk kita semua! Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya penyusunan buku Tantangan Literasi Nusantara (Talenta) 2026. Buku ini adalah wujud nyata dari kerja kolektif para peserta yang selama periode tantangan telah menulis, merefleksi, dan merayakan keberagaman gagasan melalui kata. Talenta 2026 merupakan kegiatan periode ketiga yang diselenggarakan oleh GLN Gareulis. Sebelumnya, periode pertama dan kedua telah melahirkan buku-buku karya peserta yang kini menjadi arsip semangat dan jejak tumbuhnya komunitas literasi di berbagai penjuru Nusantara. Kehadiran buku ini melanjutkan estafet tersebut,bahwa literasi bukan kegiatan musiman, melainkan proses yang terus berlanjut, saling menguatkan, dan menumbuhkan. Buku ini kaya akan suara: ada keresahan yang jujur, harapan yang jernih, kritik yang membangun, dan imajinasi yang membebaskan. Setiap tulisan adalah bukti bahwa ketika ruang disediakan, talenta akan tumbuh. Para peserta telah menunjukkan bahwa literasi tidak hanya soal membaca, tetapi juga soal berani menuliskan pengalaman, memperluas wawasan, dan menyumbang gagasan bagi kemajuan bersama. Atas nama panitia, saya menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada GLN Gareulis sebagai penyelenggara, kepada seluruh peserta Talenta 2026 atas dedikasi dan keberaniannya, serta kepada para pembina, mitra, dan pembaca yang telah mendukung perjalanan ini sejak periode awal hingga kini. Semoga buku ini menjadi inspirasi untuk lebih banyak orang agar mulai menulis, mulai berbagi, dan mulai percaya bahwa suaranya penting bagi Nusantara. Selamat membaca, dan selamat melanjutkan tantangan literasi di ruang dan waktu masing-masing. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Subnag, Mei 2026 Ketua Talenta 2026 Abas, M.Pd.

ix DAFTAR ISI Kata Pengantar ………………………………………………………………………………..……..………….v Pengantar Ketua Dewan Pembina……………………………………………………………..…..…vi Ketua GLN GAREULIS ……………………………………………………………………………….……..vii Ketua Penyelenggara TALENTA 2026 …………………………………………………….…..…. viii Daftar Isi ………………………………………………………………………………………..………………… ix Bangun Pagi dan Berolahraga…………………………………………….…………..…... 10 Laila Fitri Berfikir Sebelum Bertindak……………………………………………………………………19 Kharaenk Galezunk Maqrizhaqhy Bersabarlah……………………………………………………………………..……………………26 Kharaenk Galezunk Maqrizhaqhy Alarm Milik Dewa……………………………………………………………..………………….29 Kania Humaira Irawan Bekal Berwarna Anila……………………………………………………………………………30 Kania Humaira Irawan Pahala Untuk Arjuna……………………………………………………………..……………..32 Kania Humaira Irawan Hadiah Atau Sahabat……………………………………………………………………………34 Kania Humaira Irawan Moga Si Pemalas dan Gaga…………………………………………………………………..36 Kania Humaira Irawan Kerja Bakti Berhadiah……………………………………………………………………………38 Kania Humaira Irawan Bangun Pagi Ku……………………………………………………………………………………..39 Kania Humaira Irawan Tantangan Dari Bu RT…………………………………………………………..……………….40 Kania Humaira Irawan Keran di Depan Pagar…………………………………………………………………..……….41 Kania Humaira Irawan Karna Dia, Aku Berubah……………………………………………………………..……….42 Mochammad Rakha Athaya Buku Dibawah Meja………………………………………………………………………..……55 Delisha Femalia Azzahra Tentang Penulis ………………………………………………………………………….…………..….…..62 Sinopsis ………………………………………………………………………………………..…………………63

10 Bangun Pagi dan Berolahraga Laila Fitri Hai, kenalkan nama ku Rachel, Rachel Gemilang. Mahasiswa semester awal dan sedang asik- asiknya mencoba berbagai hal baru. Seperti misalnya keliling Jakarta dengan membawa lensa kamera yang aku punya, memotret kehidupan di ibu kota. Entah sejak kapan aku mulai menyukai fotografi, sejak abang ku memutuskan untuk tidak menggunakan kameranya lagi, mungkin. Aku mulai mengikuti Pendidikan fotografi di tahun 2019, hitung-hitung mengisi waktu luang juga setelah kuliah. Kurang lebih satu tahun aku belajar hingga menghasilkan karya yaitu sebuah pameran. Penyesuaian waktu menurut ku yang paling susah dalam hal ini, kenapa? Karena aku terbiasa bangun siang. Kebiasaan bangun siang ini terjadi semenjak aku lulus SMA. Saat itu aku tidak lolos daftar PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang ku inginkan. Hal ini mengakibatkan aku menjadi pengangguran selama satu tahun. Jam tidurku pun berubah, mulai malam hingga tengah malam akan ku gunakan untuk belajar, dan pagi setelah subuh akan aku gunakan untuk tidur. Sangat tidak sehat bukan? “Ping” “Ping” “Ping” “Kamu sudah dimana?” “Hel, Kamu dimana si? Sudah jam berapa ini? Aku sudah bangun dari jam 6.” “Kamu sebenernya jadi atau tidak untuk memotret? Semakin siang semakin panas, jalanan akan semakin padat” “Aku sudah rapi dari tadi, Astagfirullah Rachelllll……”

11 Begitulah isi pesan yang dikirim kepada ku dari farha, teman motret ku. Aku terkejut saat teman di sebelahku membangunkan ku, “Rachel, bangun angkat telfonnya atau matikan alarm mu, itu sangat mengganggu” ujar fath dengan malas-malasan dan sedikit marah, pemilik kos yang sedang aku inapi. “Astagfirullah jam 9?!!!!” kata ku, buru-buru ku angkat telpon yang masuk yang entah sudah keberapa kali. “Assalamualaikum, ya ya jadi, 5 menit aku bersiap”, langsung saja kumasukkan telfonku sebelum ia mengoceh lebih lama lagi. “Aku sudah menelponmu berkali-kali dari jam 7, kalo jalan jam segini kan kita tidak bisa ketempat lainnya, hanya cukup satu tempat saja”, ujar farha yang masih terus mengomel di jalan. “Iya, aku minta maaf aku gatau kenapa aku begitu pulas sehingga tidak terbangun” alasanku dengan nada memelas agar dia berhenti mengomel. Kali ini kita memang mendapat tugas memotret berita. Itu artinya kita harus keliling mencari berita apa yang sedang hangat terjadi atau berita yang menyesuaikan tema kita, seperti manfaat tanaman hidroponik, jika di dalam jurnalistik itu masuk kedalam “General News”. Sesampainya di Lokasi aku berdoa semoga kali ini tidak zonk lagi beritanya. Seperti biasa , sebelum kita berangkat kita mencari referensi di portal-portal berita. ketika sampai. Aku mulai curiga, kenapa? karena tempat yang kita kunjungi nampaknya tidak buka atau tutup. Kita mulai berjalan sedikit demi sedikit bertanya pada orang-orang yang lewat, barangkali ada yang mengetahui ruko yang kami cari. “Permisi bu, apa ibu tau kerajinan tangan bunga ini dimana?”, ujar Farha “waduh, Ibu kurang tau” Kami terus bertanya kepada setiap orang yang lewat, dan hasilnya nihil. Tidak ada yang mengetahui keberadaan toko tersebut. Kami memeriksa kembali portal berita yang kami akses

12 semalam. disitu tertulis beritanya baru naik sekitar 2 minggu yang lalu, seharusnya masih ada bukan? Kami beristirahat sebentar di tengah teriknya matahari. Sambil memoertimbangkan jika berita ini tidak bisa diambil apa yang harus kita lakukan? Pulang atau lanjut mencari berita lain dengan catatan kami harus berkeliling tanpa tau berita apa yang mau diambil karena belum mencari referensi. “Yasudah, kita makan siang saja dulu yuk, aku lapar” Ujarnya. “Ayok deh” Ujar ku sedikit tidak bersemangat. Karena ini kali kedua aku gagal mendapatkan berita. seperti sia-sia saja semuanya. Kami berjalan kembali ke tempat motor dimana kami parkir tadi, cukup jauh ternyata kami berjalan. belum sempat sampai ke tempat kami mengambil motor. Tiba-tiba ada angkot yang berhenti tepat di samping kita. Mungkin berpikir kalau kita akan ikut naik angkot nya karena tidak membawa kendaraan “Angkot neng” Ujar sopir angkot dengan antusias dan kebetulan saat itu memang angkotnya masih kosong “Tidak Pak Terimakasih” Ujarku menolak dengan sopan “Emang mau kemana hayuk bapak antar, jl mawar “ Mendengar pak sopir angkot bilang jalan mawar, aku terpikirkan untuk bertanya dengan beliau. Tidak ada salahnya bukan? “Pak ini benar kan Jl Mawar?” Kata ku “Iya benar ini juga jalan Mawar, kenapa memangnya?” “Apa bapak tahu kerajinan tangan yang ini ada dimana?”, kata ku sambil menunjukkan toko yang ada di handphone ku. “Aduh saya mah ga tau, emang alamatnya dimana ?” “Nah itu dia pak, disini bilangnya di Jalan Mawar pak, tapi saya cari dari tadi tidak ketemu-ketemu pak”

13 “Coba bapak lihat lagi”, Pak sopir itu melihatnya lagi secara seksama, terlihat sedang mencari-cari sesuatu di handphone saya. “eeu Pantes atuh neng ga ketemu, Ini teh Jalan Mawarnya udah baner tapi kecamatannya beda, ini kecamatan setu. sedangkan disini kecamatan melati dekat setu danau” “Loh pak, kecamatan setu dengan setu danau itu berbeda?” Tanya farha dengan raut wajah bingung. “Ya berbeda atuh neng, untuk jalan mawarnya memang sama tetapi lokasinya berbeda, kalo yang toko ini maksud itu berarti neng jalan lurus lagi, nanti ada lampu merah perempatan belok kanan, nah jalan lagi sedikit sampai bertemu gapura bertuliskan jalan Mawar, nah mungkin yang neng cari ada di situ” Ujar pak sopir angkot panjang lebar menjelaskan kepada kami. Aku dan Farha lantas mengucapkan terimakasih dan langsung menuju lokasi yang sudah dijelaskan oleh bapak angkot tadi. Karena waktu semakin siang, tetapi kita belum mendapatkan apa-apa. sebelum sampai ke lokasi. kami singgah dulu di salah satu masjid di jalan tersebut. Karena adzan sudah berkumandang, sekalian kami makan siang dulu, karena tadi tidak jadi makan. Setelah shalat kami bergegas makan siang dan langsung menuju ke tempat kerajinan. Benar saja ternyata tempat tersebut ada disini, tidak perlu bertanya ke orang lain, karena memang tokonya cukup besar. ornamen-ornamen di sekitar toko menunjukkan ciri khas kerajinan tangan seperti tas dari anyaman bambu, topi dari rotan dan lain sebagainya. “Alhamdulillah akhirnya…” Ujar Farha dengan raut senang “Assalamualaikum bu.” Ujarku kepada wanita paruh baya yang tengah menyelesaikan kerajinan dari stik eskrim. “Eh, iya Waalaikumsalam, masuk-masuk silahkan “ sambutan hangat dari bu Halimah, pembuat kerajinan tangan. Kami kembali memperkenalkan diri dan maksud kedatangan kami kesana.

14 Dengan senyum hangat beliau berkata “Boleh, silahkan ibu justru senang kalo toko ibu di liput, jadi nanti mungkin akan lebih banyak yang tau tentang kerajinan tangan ini.” Ujarnya. Aku dan Farha mulai mengeluarkan kamera kami masing-masing, kami dapat 2 berita kali ini. Alhamdulillah, tidak perlu mencari tempat lain jika seperti ini. Aku mengambil kerajinan nya yang masuk kedalam kategori “General News”, yang mengangkat tentang kerajinan apa saja yang ada disini, cara mendapat bahan baku sampai di dsplay di rak penjualan” Sedangkan Farha mengambil berita “Potrait” , lebih merujuk kepada latar belakang pemiliknya, mengulik kisah kehidupannya. Setelah selesai dengan tugas kami masing-masing. kami disuguhkan makanan dan minuman sehat dari bu halimah. “Jangan pulang dulu ya, makan dulu di habiskan, sayang sudah di buatkan” Ujar bu Halimah dengan senyum di pipinya. Dengan malu-malu kami mencicipi hidangan yang sudah tersedia, ada buah, roti, dan air putih dingin yang menyegarkan . “Makasih ya bu, maaf kami jadi merepotkan” Kata Farha, “Gapapa, Ibu senang kalo kalian suka, kalian kan dari jauh, cape juga kan pasti di jalan, nah ini amunisi untuk pulang, harus makan-makanan yang sehat, ibu sudah sering kedatangan wartawan dari berbagai media untuk meliput toko ibu, tapi baru kali ini ada wartawan dari kalangan mahasiswa kalian, jarang-jarang loh, belum pernah ada malah” Kami berbincang cukup lama, tidak terasa waktu ashar sudah tiba, sebelum semakin laut dengan obrolan kami, aku dan farha izin untuk pamit pulang sekaligus shalat di masjid yang tadi kami singgahi “Terimakasih banyak ya Bu, berkah selalu untuk ibu, kami sangat terbantu dengan bantuan ibu yang mau kami liput, hehe “ujar ku “Ibu juga terimakasih lain kali kalo ada waktu mampir lagi kesini silahkan yaa, dan ini kenang- kenangan untuk kalian silahkan diterima ya “

15 “Bu yang tadi makanan dan minuman saja sudah cukup untuk kami, tidak perlu repot-repot bu” Ujar Farha, menolak dengan sopan dan rasa tidak enak hati untuk menerimanya “Sudah ibu ikhlas, ibu senang berbagi terima ya” Sekali lagi kami mengucapkan terimakasih kepada bu Halimah dan pamit untuk pergi pulang. Waktu menunjukkan pukul 17.00 butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai , aku dan farha harus segera bergegas menuju kampus, untuk melakukan penilaian foto, kami seperti jurnalis sungguhan bukan? Setelah mendapat foto, harus segera diolah untuk di nilai, sedikit berbeda dengan pewarta setelah mengolah foto dan beberapa editing maka foto tersebut akan langsung naik menjadi berita. Tepat Ba’da Maghrib aku, farha, dan beberapa teman kami mulai berdatangan, mereka pun sama, habis mencari berita entah ke jakarta atau daerah sekitarnya. Lelah nampak di wajah mereka. “Kamu ambil berita apa hari ini?” tanya ku kepada marisa, teman ku yang cukup ceria. “Tadinya aku mau ambil kehidupan warga rusun, tapi hari ini belum berhasil karena harus membawa surat resmi, ah menyebalkan”, Aku merasakan kecewa yang dia rasakan, bagaimana tidak, ketika kita sudah keluar banyak uang, menyita banyak waktu, namun hasilnya nihil, ya tapi itulah proses dalam hidup bukan? Kadang memang tidak selamanya yang kita mau bisa terwujud saat itu juga. Aku menguatkannya dan meyakinkan jika masih ada hari esok untuk mencoba lagi dan menjelaskan secara detail apa tujuan kamu kesana, jika memang tidak bisa masih banyak berita di luar sana yang dapat kita ambil. “Hari ini, aku berhasil ga pake tripod ambil gambar, keren gaaa ?” Ujar Alvin datang mendekati aku dan marissa. “Ko bisa?” Kata Marisa terheran.

16 “Coba tebak karena apa?” kata Alvin. “Udahlah kasih tau aja” Jawab aku dengan malas-malasan menanggapi tebak-tebakannya alvin, namun disisi lain aku juga penasaran. “Karena hampir setiap hari aku olahraga push up” Jawabnya dengan bangga menunjukkan otot- otot pundak dan tangannya yang menurutku masih tidak terlihat perbedaan…. “Serius? Berarti yang disarankan kaka-kaka pendamping kita bener dong terkait minimal push up 1000x per hari” Ujar marisa kagum. “Iya bener, ya tapi ga 1000 juga si, cukup puluhan aja, nih lihat hasil foto-foto aku” Kata Alvin sambil mengeluarkan kamera dari tas nya mencoba menunjukkan hasil fotonya ke aku dan marisa. Dan ya hasilnya ternyata fokus tidak blur meskipun berfoto di ruang gelap yang kurang cahaya dan membutuhkan speed yang rendah, artinya ketika memakai speed rendah, rentan foto tersebut “blur” atau “shaking”, sehingga hasilnya menjadi tidak fokus. “Prok…prok….prok…prok….prok…” Aku dan Marisa bertepuk tangan heboh melihat hasil fotonya “Keren aku akui hasil foto mu bagus vin” Kata ku kagum dengan karyanya “Ya makanya, rajin olahraga dong, jangan bangun siang terus “ Ujarnya sambil melirik aku dan marisa “Yeuuu iya iya nanti kita ga bangun siang lagi, coba olahraga, gausah sombong juga si ih” ujar Marisa sedikit kesal “Hehe ya maap” kata si Alvin Sambil menunggu pembimbing kami datang, kami menyelesaikan foto-foto kami yang sebelumnya telah kami ambil, diedit dalam bentuk power point untuk nanti dipresentasikan dengan memperhatikan unsur-unsur berita yang sudah dipelajari. Tak lama kemudian beberapa pendamping kami datang, dan dimulailah presentasi kami satu persatu. Semua berjalan dengan baik, kebanyakan dari kami beritanya diterima, hanya saja tulisan kami yang masih banyak catatan entah penempatan kata atau kalimatnya yang masih kurang tepat.

17 Sekitar jam 8 kami sudah selesai dan bersiap pulang, aku balik ke kosan teman ku lagi yang sebelumnya ku inapi, namanya nabila. Ketika sampai di kos pintu masih terkunci, sepertinya dia belum pulang entah pergi kemana. Ku coba hubungi dan ternyata dia sedang pergi bermain dengan temannya, seperti biasa aku izin untuk menginap sehari lagi karena merasa hari ini sangat lelah sekali. Ku ambil kunci yang biasanya ia tinggal di rak sepatu, kurebahkan badanku di kamarnya. Duh rasanya nyaman sekali setelah seharian beraktivitas di luar. Tak lama dering handphone ku berbunyi, menampilkan nama farha disana “Assalamualaikum, kenapa far?” Tanyaku “Besok aku mau ambil berita festival yang ada di jakarta, temani aku ya jangan bangun siang lagi pliss” Ujarnya dengan nada memelas “Hehe iya aku bisa bangun pagi, malam ini aku akan tidur cepat. Memang acaranya jam berapa?” “Jam 9 sudah dimulai, Karena kita akan naik kereta jadi jam 7 kita harus sudah berangkat, agar dapat tempat foto di depan juga sekalian liat-liat keliling cari spot-spot beritanya” “Oke-oke, aku janji akan bangun pagi kali ini dan seterusnya” Ujarku dengan semangat. “Syukurlah, besok ku bawakan sarapan juga dari mamah ya, dah, Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” Besoknya aku menepati janji, jam 7 kurang aku sudah berada di stasiun dan kita segera berangkat. Aku belajar bangun pagi mulai sekarang karena aku merasa ketika bangun sudah siang, pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan di pagi hari menjadi tertunda atau dikerjakan dalam waktu yang lebih singkat . Keterlambatan memulai pekerjaan juga dapat mengganggu jadwal kegiatan berikutnya, menumpuk pekerjaan, dan meningkatkan tingkat stres karena target yang harus dicapai tetap sama meskipun waktu yang tersedia berkurang, seperti misal kemarin aku seharusnya dapat mengambil 2 berita namun hanya 1 berita akibat kesiangan.

18 Oleh karena itu, membiasakan bangun tepat waktu dan memanfaatkan pagi hari secara optimal sangat penting untuk menjaga produktivitas, menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal, dan mencapai hasil yang lebih baik. kebiasaan berolahraga tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga dapat mendukung kemampuan kita dalam menghasilkan foto yang lebih baik serta membentuk karakter positif.

19 Berfikir Sebelum Bertindak Kharaenk Galezunk Maqrizhaqhy Suatu hari di kelas 6E. Kelas sedang santai dan sedikit rusuh, ada yang membaca dan belajar. Namun, ada juga yang agak rusuh karena mereka lupa belajar untuk ujian matematika hari ini. Mereka rusuh saling berbagi catatan dan saling menjelaskan materi-materi yang belum mereka mengerti.Namun, tiba-tiba orang paling tidak terduga masuk ke kelas. Edo melangkahkan kaki ke dalam kelas, menyapa mereka. ‘Edo, hari ini kita ujian matematika kan? ‘Tanya salah satu teman Edo yang sedang rusuh, Safarudin. ‘Hah, ujian? Itu mah besok kali din. Hari ini kita latihan buat ujian dulu sama bu Siti, ‘Edo dengan kepercayaan diri seratus persen bilang dengan lugas. ‘Yakin kamu do? Seingat aku minggu kemarin bu Siti bilang nya kita ujian hari ini deh.’ Timpal teman Edo yang lain. ‘Aku yakin sekali, aku ingat persis apa yang dikatakan bu Siti; ujiannya hari selasa, hari selasa kita latihan soal dulu' Kata Edo dengan membusungkan dada. ‘Dan sekarang masih hari senin kan. Beberapa teman terlihat percaya dengan omongan Edo, namun ada juga yang menatap curiga. ‘Kalau sampai kamu salah awas ya do! ‘ ‘Lakukan apapun yang kalian mau kalau aku salah, aku yakin aku seratus persen benar, ‘ katanya sambil nyengir. Teman-temannya langsung terlihat girang, ada yang langsung ke kantin, main HP, atau belajar untuk pelajaran lain. Edo pun juga ikut ke pojokan bersama teman-temannya untuk mabar game online favorit mereka. Edo yang melihat itu langsung merasa menjadi pahlawan kelas dan terlihat

20 sangat-sangat bangga pada dirinya sendiri. Sampai-sampai ia lupa apa yang benar-benar dikatakan bu Siti kemarin. *** KRINGGG Bel pun berbunyi kencang, bahkan sampai di kelas 6E. Seisi kelas masih terlihat santai karena sesuai apa yang dikatakan Edo, hari ini tidak ujian di pelajaran Matematika. Pasti aman lah, pikir mereka semua. Bu siti masuk ke kelas, tumpukan kertas putih dengan soal yang masih panas tertumpuk di tangannya. Seisi kelas hening. ‘Pagi anak-anak sesuai apa yang ibu bilang kemarin, hari ini kita ujian ya,’ Bu siti dengan girang berseru ke mereka semua, ‘kalian semua tentunya sudah belajar kan?’ Seisi kelas menatap ke Edo, tatapan kosong. Edo merasa detak jantungnya berdetak seratus kali lebih kencang dari biasanya, dan satu tetes keringat jatuh. Ia berseru balik ke bu Siti, ‘Maaf bu, bukannya kita ujiannya hari selasa ya?’ Tanya Edo dengan kepercayaan diri yang berkurang drastis, ‘hari ini kita latihan soal dulu kan bu?’ Bu siti ikut menatap Edo, alisnya mengerut. ‘Kamu tidak baca grup angkatan kah, do?’ Tanya bu Siti, ‘ibu sudah jelas-jelas bilang; Hari senin kita ujian Matematika ya anak-anak, tolong pelajari bab 3-5. Bukankah begitu anak-anak?’ Seisi kelas masih menatap Edo, tatapan tajam. Edo menatap sekeliling kelas, namun langsung menunduk seketika. Ia masih tidak percaya bahwa ia salah lapor ke teman-temannya. Dengan suara bergetar pun Edo masih mencoba membantah, ‘Ibu salah ingat kali bu, saya tidak melihat ibu ada chat seperti itu di grup angkatan.’ Alis bu Siti tambah mengerut, ia langsung membuka hp, lalu menunjukkannya ke seluruh kelas. Persis. chatnya persis apa yang dikatakan bu Siti sebelumnya. Edo kali ini bisa merasakan seluruh badannya diguyur air keringat, terasa dingin sekali. ***

21 Ujian Matematika berlangsung dengan penuh kepanikan bagi kelas 6E. Meski memang ada segelintir orang yang tetap belajar dan tidak mendengar omongan Edo, sebagian besar dari mereka tidak belajar sama sekali dan malah terlanjur berleha-leha. Alhasil mengerti apa yang ada di soal pun mereka tak bisa.Situasi tidak lebih baik bagi Edo, tangannya masih gemetar dan tubuhnya dipenuhi perasaan bersalah serta takut yang bukan bukan main. Tadi Edo, bahkan setelah ditunjukkan bukti chat tersebut masih mencoba membantah; bilang bahwa bu Siti tidak bilang begitu di pertemuan mereka minggu lalu dan baru memberi pemberitahuan itu melalui chatnya tadi malam. Jadi wajar saja mereka lupa. Tapi bu Siti tentu tidak mudah percaya. Ia menunjukkan buku agendanya dan sudah tertulis bahwa hari ini ujian Matematika, dan besok adalah pengumpulan pr matematika. *klik. seketika Edo ingat, yang ia dengar dan ingat minggu lalu itu adalah tanggal pengumpulan pr matematika. Bukan tanggal ujian. Mulut Edo pun langsung tersumpal dan langsung tertunduk diam. Memikirkan apa yang akan ia katakan pada teman-temannya nanti setelah selesai ujian. *** ‘Baik anak-anak Ujian selesai! sudah jam 10.00, waktu kalian habis.’ Bu Siti berseru ke arah mereka. Satu persatu dari mereka mulai mengumpulkan kertas dengan lesu dan cemberut. Beberapa dari mereka langsung menghampiri Edo, dengan alis terangkat dan dahi terlipat. ‘Ya? Ya? MANA Yang kau bicarakan itu EDO!’ Safarudin memukul meja Edo, DOR! ‘YA! MANA YANG TIDAK ADA UJIANNYA EDO!’ Timpal yang lain. ‘GARA KAMU KITA PASTI REMEDIAL SEMUA, DO!’ ‘Aku sih bela-’ ‘POKOKNYA KITA GA PEDULI, KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB EDO!’ ‘YA! dasar pembohong kamu Edo!’ Edo yang dari tadi masih menunduk akhirnya mencoba membuka mulut.

22 ‘Teman-Teman! Aku bukan ingin berbohong pada kalian!’ Edo berseru, membela diri. ‘LALU?’ ‘Aku hanya salah mengingat! Aku pikir hari selasa yang seharusnya merupakan hari kita mengumpulkan tugas adalah hari uji-’ ‘LALU KENAPA KAMU DENGAN PERCAYA DIRINYA BILANG BAHWA BESOK HARI UJIAN EDO?! PADAHAL KAMU SENDIRI BELUM BENAR-BENAR YAKIN!’ ‘Aku-ak-’ ‘Harusnya kamu baru bicara saat kamu benar-benar yakin apa yang akan kamu katakan itu benar, Edo.’ Timpal safarudin. Edo pun terdiam sekali lagi. Teman-temannya yang masih kesal dan kecewa pun pergi meninggalkan Edo sendirian kelas, merenungkan kesalahannya. *** Hari-hari setelah kejadian itu pun tidak berlangsung dengan baik, Edo mendapat banyak karma. Seperti tadi saat Edo mau masuk kelas, ada dua temannya menunggu di depan pintu dan saat Edo masuk, HAA!! mereka langsung mengagetkan Edo sampai ia sanking kagetnya jatuh ke belakang. ‘Rasain tuh!! Dasar tukang hoax!’ Saat Edo masuk pun tidak ada yang mengajaknya bicara, bahkan sekeras apapun ia mencoba. ‘Din, ini yang bagian puisi maksudnya majas itu apa ya?’ ‘...’ ‘Din, please.’ ‘...,’ Udin pun pergi ke meja lain, meninggalkan Edo sendirian. Saat disuruh membuat kelompok tidak ada yang ingin sekelompok dengan Edo.

23 ‘Anak-anak buat materi perkembangan ekonomi indonesia, kalian bikin kelompok 3 orang ya! untuk menganalisis tingkat inflasi tiap era presiden di indonesia.’ Minta mak-Nur. ‘Siap, makkk’ Seru anak-anak serempak. Edo melihat ke sekeliling, ‘Em. Dit mau sama aku gak?’ Adit membalas (tanpa mengalihkan pandangannya ke Edo), ‘maaf ya Edo, aku sebenarnya mau-mau saja. Tapi….’ Edo menghela napas, ‘teman-teman sekelas janjian buat diemin kamu, dan yang gak ikutan bakal didiemin juga.’ Adit pun ikut melangkahkan kaki ke meja yang lain, meninggalkan Edo yang syok. Teman-teman pada janjian buat diemin aku? seriusan nih, gara-gara ujian matematika itu doang? Edo masih denial. Tapi untunglah di rumah Edo punya ibu yang baik, Edo curhat semalaman tentang masalah sekolahnya bilang ini bukan seratus persen salah dia, dan teman-temannya terlalu baperan. Ibu Edo mendengarkan dengan seksama dan tidak memotong sebelum Edo selesai. Dan yah…. Namanya juga ibu, beliau selalu punya jurus sakti yang dapat membuat kita tobat… begitu juga di kasus Edo. Setelah mengeluarkan jurus sakti tersebut ibu Edo bilang bahwa Edo sebaiknya langsung minta maaf ke teman-temannya besok. Tentu Edo awalnya ingin menolak, tapi karena terkena jurus sakti ibunya Edo pun akhirnya nurut. Ia membulatkan tekadnya untuk minta maaf ke teman-temannya besok. *** Keesokan harinya, di kelas matematika. Edo tentu awalnya masih malu-malu, aku sudah membulatkan tekad! tidak ada kata mundur lagi! sekarang atau tidak sama sekali! Edo dengan berani berdiri dari meja.

24 Bu Siti mengerutkan dahinya untuk kesekian kali, ‘Ada apa Edo? Tiba-tiba berdiri.’ ‘SAYA INGIN MINTA MAAF KE TEMAN-TEMAN BU!’ Edo berseru dengan lugas sambil melihat ke arah teman-temannya. ‘Soal yang kemarin ya.. Baik silahkan Edo. Do Your Best.’ Bu Siti tidak mengerutkan dahi lagi, malah tampak tersenyum tipis melihat Edo. Edo maju ke depan. Tiap langkah terasa berat tapi meyakinkan, semua tatapan teman-temannya mengarah ke ia sekali lagi. Tapi yang kali ini! adalah tatapan kaget dan sedikit bahagia? Bukan tatapan tajam ingin membunuh. Edo sampai di depan kelas, tepat di samping bu Siti. ‘MAAFKAN AKU TEMAN-TEMAN!’ Edo berseru dengan badan tegap, walau matanya mulai meneteskan air. Selama 10 menit penuh Edo meminta maaf tanpa henti ke teman-temannya bahkan sempat menghampiri meja satu persatu. terutama di meja safarudin yang mana ia menghabiskan 3 menit sendiri disitu. Edo berjanji tidak akan pernah asal omong lagi tanpa benar-benar yakin kebenarannya. Ia berjanji akan selalu mencatat apa yang diumumkan guru di buku agendanya. Teman-teman Edo langsung beramai-ramai memeluk Edo setelah pidato panjang tersebut. Dasar anak-anak ya, kata bu Siti dalam hati. *** ‘Do, kita ujiannya IPA nya besok kan?’ Tanya safarudin. Edo membuka buku agendanya, membalik-balik halaman di dalamnya, ‘iya besok din, tapi hari ini ada pengumpulan projek gunung api.’

25 ‘Oh iya projek itu!’ Seru Safarudin, ‘dasar kelompok ku.. masa hanya aku sendiri yang mengerjakan.’ bisik udin ke dirinya sendiri. ‘Ada masalah din?’ ‘Oh, tidak-tidak do, terima kasih sudah memberitahu ya! Syukurlah kamu sekarang punya buku agenda.’ ‘Memang kenapa, din?’ ‘Pakai nanya, kalau nggak punya ya nanti bisa-bisa kamu dikucilkan satu kelas lagi’ Mereka berdua pun tertawa. ‘Kantin yuk din, aku yang bayar.’

26 Bersabarlah Kharaenk Galezunk Maqrizhaqhy Dikisahkan ada seorang anak bernama Rara, dia adalah anak perempuan yang ceria tapi.. Dia tidak sabaran. Seperti yang terjadi hari ini. Rara hari itu sedang bersantai membaca buku di teras rumah, sampai kakeknya datang kepadanya. ‘Ra, kakek ada hadiah buat kamu, hadiah yang sangat cocok untukmu,’ Kakek berkata dengan intonasi lembut. Rara langsung tersenyum lebar, ‘Wah, apa itu kek?’ . Kakek tersenyum hangat, mengeluarkan sebuah biji dari kantong kecilnya. Rara makin terlihat penasaran saat melihat biji itu., tidak sabaran ingin memegangnya. Kakek pun menyerahkan biji itu ke tangan Rara. Demi menerima bunga tersebut, Rara langsung melompat-lompat. ‘jika kamu merawat bunga ini dengan baik , Ra, bunga ini akan jadi sangat besar,’ Kakeknya berkata takzim. ‘Wah, yang benar kek?’ Kakeknya mengangguk takzim. ‘Kenapa kamu tidak coba menanam bunga itu ditaman belakang, Ra?’ Kakek berseru pelan, ‘kamu sudah tak sabar untuk melihatnya tumbuh bukan?’ Rara pun langsung mengangguk kencang dan berlarian ke taman belakang. *** Di taman belakang… Rara langsung menanam bunga itu dengan bersemangat. Ia juga menyiramnya dengan air yang banyak, lalu ia menunggu di depannya, tidak sabar menunggunya tumbuh. Rara duduk menunggu… 3 menit… 5 menit…. 10 menit… muka Rara mulai cemberut. ‘Kok tumbuhnya lama sekali sih! aku sudah bosan hanya duduk didepan sini tanpa terjadi apapun!

27 Kakek pun datang menghampiri Rara, ‘Ada apa Ra? Kok kamu marah-marah?’ kakek bertanya lembut. ‘Ini Kek, biji bunganya tidak tumbuh-tumbuh!’ Kata Rara kesal. ‘Sesuatu yang indah itu butuh waktu untuk tumbuh, Ra,’ Kata kakek, ‘tugas kita adalah merawatnya dengan baik dan sabar tiap hari, bukan memaksanya untuk langsung tumbuh.’ Rara pun menundukkan kepalanya, dia masih merasa kesulitan untuk sabar itu. Rasa-rasanya dia ingin segala sesuatu langsung terjadi tanpa harus menunggu. ‘Justru yang membuat sesuatu itu spesial adalah karena ‘menunggu’ nya Ra.’ Rara melirik kakek, tidak mengerti. ‘Yang membuat pertemuan kamu dan kakek menjadi spesial adalah karena kita hanya bisa benar-benar bertemu saat kamu pulang kampung,’ Kakek berkata pelan, ‘Jika lewat video-call pasti sinyal kakek jelek.’ ‘Tapi itu bukan masalah, justru dengan begitu kamu akan menghabiskan waktu dengan kakek dengan lebih bernilai, karena paling-paling kamu hanya pulang kampung 3 kali setahun.’ Rara mengangkat kepalanya, mulai mengerti. ‘Begitu juga dengan biji bunga ini Ra. Jika langsung tumbuh begitu saja, bunga ini tidak ada bedanya dengan bunga sintetis buatan pabrik. Justru waktu yang dihabiskan untuk bersabar merawat bunga ini, membuat kita merasa bunga itu jadi sangat bernilai saat sudah tumbuh besar. Rara mulai mengangguk-ngangguk pelan. Akhirnya Rara tidak lagi duduk dengan gelisah di depan biji bunga tersebut. Dia menyiramnya di pagi hari, menaruhnya di area paparan sinar matahari, lalu menghabiskan waktu dengan main di sekitaran kampung. Hari demi hari yang itu pun dilalui dengan konsisten oleh Rara. Ia belajar, bahwa di dunia ini tidak ada yang benar-benar bisa mempercepat proses tanpa mengurangi nilai barang jadinya, jadi yang terbaik adalah nikmati saja segala prosesnya ***

28 Hari berganti pekan, tunas hijau mulai muncul di pot tersebut. Pekan berganti bulan, akhirnya bunga itu mekar dengan sehat. Rara yang baru bangun (masih mengantuk) dan ingin menyiram bunganya langsung melek seketika dan pergi memanggil kakeknya. ‘Kek, Kakek! Bunganya sudah tumbuh besar sekali kek!!’ Rara berseru sambil berlarian mencari kakeknya. Rara akhirnya menemukan kakek. ‘Iya-iya Ra, ayo kita lihat bunga mu yang cantik itu.’ Saat mereka pergi ke belakang, betapa terpesonanya mereka melihat bunga tersebut. Dengan kelopak bunga berwarna kuning cerah, dan biji-bijinya di tengah, bunga itu terlihat sangat besar menawan. Rara memeluk pot bunga itu dan mengangangkat-ngangkat nya ke udara. Rara tersenyum lebar, ‘Kakek benar, menunggu itu tidak sia-sia sama sekali. Justru menunggu membuat bunga ini jadi terasa jauh lebih indah!"

29 Alarm Milik Dewa Kania Humaira Irawan Setiap pagi, rumah Dewa selalu saja ramai dengan suara khas ibunya yang melengking. Ibu Dewa juga selalu meneriaki Dewa untuk bangun, “Dewa, ayo bangun! Sudah jam enam lewat!”. Namun Dewa hanya menggeliat, menarik selimut, dan kembali tidur dengan nyenyak. Akibatnya, Dewa sering terburu-buru, lupa membawa buku pelajaran, bahkan seringkali hampir terlambat masuk kelas. Suatu hari, sekolah Dewa mengadakan acara “Anak Indonesia Hebat” yang menghadirkan misi- misi menyenangkan untuk dilakukan seluruh murid, salah satu misinya adalah melatih kemandirian rumah. Dewa ingin sekali mendapatkan hadiah, yaitu pin logo anak hebat dan itu membuat dirinya terdorong untuk mulai hidup mandiri tanpa bergantung kepada orangtuanya. “Bu, mulai malam ini, Dewa mau pasang alarm sendiri, jadi ibu jangan bangunkan Dewa, ya!” ujar Dewa malam itu dengan penuh semangat. Ibu Dewa pun tersenyum hangat dan mengangguk setuju. Dringg!! Dringg!! Alarm berbentuk kubus dengan warna hijau pekat pun berdering nyaring pada pukul lima Subuh. Mata Dewa masih terasa sangat berat untuk dibuka, kasurnya terasa begitu empuk dan hangat. Namun, Dewa teringat janjinya untuk menjadi anak mandiri. Dewa pun langsung duduk dengan tegak dan mengusap matanya agar tetap terbuka sebelum akhirnya mematikan alarm miliknya. Dewa segera merapikan tempat tidurnya sendiri, berinisiatif untuk mandi dan berganti pakaian dengan rapi. Dewa mengecek kembali tas sekolahnya dengan teliti dan tenang. Setelah dirasa semua sudah lengkap, Dewa pun berjalan menuju meja makan. Ibu Dewa pun terkejut melihat Dewa sudah siap dan rapi, tidak seperti biasanya. Ibu pun tersenyum dengan hangat dan menyiapkan sarapan untuk Dewa sambal berkata “Wah.ada yang berhasil bangun dengan mandiri nih..” goda ibu. Dewa pun hanya cengengesan dan sumringah lebar, “Hehe.iya bu, ternyata bangun dengan mandiri itu menyenangkan juga ya..! Tidak perlu buru-buru” Ujar Dewa dengan malu-malu namun bersemangat.

30 Bekal Berwarna Anila Kania Humaira Irawan Setiap jam istirahat sekolah, Anila selalu memperhatikan bekal milik teman-temannya. Erlangga selalu membawa bekal-bekal yang menjadi favorit teman-teman lain seperti sosis goreng dan donat manis yang menggoda. Sementara itu, Anila membuka kotak bekal nya yang berisi nasi merah, sepotong tempe goreng, sayur, dan buah pisang. “Yah, Anila bekalmu kok warna-warni gitu sih, tapi isinya sayur semua!” ledek Erlangga sambal mengunyah donat manis nya itu. Anila pun sempat merasa malu dengan bekal miliknya. Namun, Anila teringat perkataan bunda nya di rumah. “Nak, makanan yang sehat itu ga harus mahal. Seperti tempe dan sayur, mereka membawa semua kebutuhan tubuh kita dan anak hebat itu harus peduli dengan apa yang masuk ke tubuhnya, karena apa yang Anila konsumsi itu menentukan kondisi tubuh Anila.” Ucap bunda dengan lembut dan penuh perhatian. Anila pun menarik nafas dalam-dalam dan menghiraukan ejekan Erlangga. Keesokan harinya, kepala Anila terlintas ide kreatif. Dia meminta bunda untuk menghias bekalnya dan bunda Anila pun setuju dengan permintaan putrinya itu. Bunda Anila pun memotong tempe menjadi bentuk bintang, lalu membuat nasi merahnya berbentuk seperti lapangan badminton dan komponen lainnya dibuat seunik mungkin. Saat jam istirahat tiba, Anila membuka bekalnya dengan bersemangat. Namun, tiba-tiba Bayu datang mendekat. Wajahnya tampak lesu. “Anila, aku bosen makan sosis dan donat terus. Perutku juga agak tidak enak karena jarang makan makanan berserat..” bisik Erlangga malu-malu. “Boleh tidak aku cicip bekalmu itu..?” Anila pun menatap Erlangga sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.

31 “Tentu saja boleh, Erlangga!” jawab Anila ceria. Erlangga pun menyuap potongan tempe dan sayur milik Anila. Matanya langsung berbinar-binar. “Wow! Ternyata tempe dan sayur buatan bundamu enak banget!” celetuk Erlangga dengan senang. Sejak saat itu, Anila tidak pernah malu lagi untuk membawa bekal sehat dari rumah. Malahan, bekal milik Anila membuat teman-teman sekelasnya berlomba-lomba untuk membawa bekal berisi makanan-makanan yang sehat dan bergizi. Mereka juga perlahan mengurangi mengonsumsi makanan atau jajanan instan pinggir jalan.

32 Pahala Untuk Arjuna Kania Humaira Irawan Pada sore hari dengan langit yang cukup mendung, Arjuna berlari cepat menuju masjid. Sembari berlari, tangannya memegangi sebuah koin lima ribu rupiah di dalam kantong celananya agar tidak hilang terjatuh. “Aku harus lebih cepat, agar aku menjadi orang pertama yang mengisi celengan masjid sebelum sholat ashar!” Gumam Arjuna dengan bersemangat dan penuh tekad. Namun saat ia tiba di masjid, ia mendengar suara mengeong yang terdengar sangat lemas sekali. “Meeooong…” Arjuna menghentikan langkahnya dan mencoba untuk mencari sumber suara itu. Matanya menyapu seluruh halaman masjid dengan teliti sebelum pada akhirnya Arjuna menangkap siluet kecil di bawah pohon. Arjuna pun menyipitkan matanya dan sedikit mendekat untuk melihat siluet kecil itu. Siluet kecil itu ternyata adalah anak kucing! Terlihat menggemaskan, namun kondisi anak kucing itu tidak baik-baik saja. Tubuhnya sangat lemas dan terlihat sangat kurus sekali. Anak kucing itu juga sedikit bergetar karena kelaparan. Arjuna pun merasa kasihan dengan anak kucing itu. Ia pun menoleh kanan-kiri dan melihat ada sebuah toko hewan milik Nek Ani di dekatnya. Arjuna pun berdiam diri dan mempertimbangkan sesuatu dengan wajah yang kebingungan. Ia berpikir, kalau dia membeli makanan kucing di toko hewan milik Nek Ani menggunakan koinnya, dia tidak jadi memasukkan uang ke celengan masjid. “Heh, nak Arjuna…?” panggil Nek Ani setelah memperhatikan wajah dan gestur Arjuna yang tengah kebingungan. “Kok malah melamun di situ? Sebentar lagi iqamah, lohh..” ujar Nek Ani sambil berdiri dengan tongkat kesayangannya.

33 Arjuna pun mendekati Nek Ani sambil menggendong anak kucing yang ditemukannya dengan perlahan. “Nek, Arjuna mau tanya..” Gumam Arjuna sedikit ragu. Namun setelah melihat gestur Nek Ani yang hangat, Arjuna pun perlahan mulai mengajukan pertanyaannya. “Nek, kalau uang Arjuna dipakai beli makanan kucing untuk kucing ini, Arjuna masih dapat pahala ibadah gak ya? Kan uangnya gak jadi masuk ke celengan masjid.” Tanya Arjuna Panjang lebar. Nek Ani tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala Arjuna. “Nak Arjuna, ibadah itu bukan cuman memasukkan uang ke kotak celengan masjid, tapi menolong dan peduli dengan makhluk ciptaan Tuhan, seperti anak kucing yang kelaparan ini juga ibadah yang sangat hebat dan banyak pahalanya..” jelas Nek Ani dengan tenang dan sabar. Mata Arjuna langsung berbinar-binar. “Oh, begitu ya, Nek? Kalau begitu, Arjuna mau beli makanan kucingnya satu bungkus deh!” ucap Arjuna dengan bersemangat dan mempunyai niat yang tulus. Arjuna pun memberikan koinnya kepada Nek Ani. Setelah menerima makanan kucing, Arjuna langsung memberikannya ke anak kucing itu dengan hati-hati dan penuh dengan rasa kepedulian yang tinggi. Si kucing pun makan dengan sangat lahap, lalu menggosokkan kepalanya ke tangan Arjuna sambil mendengkur senang. “Terima kasih, anak baik.” gumam Nek Ani penuh dengan rasa bangga dengan sikap Arjuna. Arjuna pun tersenyum lebar. Meskipun koinnya sudah digunakan untuk hal lain selain celengan masjid, hati Arjuna rasanya sangat penuh dan bahagia sekali. Dia tau, Tuhan pasti tersenyum melihat ibadahnya sore ini sebelum melaksanakan sholat ashar. Arjuna pun akhirnya berpamitan dengan Nek Ani dan mengelus kepala kucing itu sebelum akhirnya beranjak ke masjid untuk mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat islam, yaitu sholat.

34 Hadiah Atau Sahabat Kania Humaira Irawan “Satu…dua…tiga…PRIITT!” Theo langsung melesat maju bagaikan anak panah. Sore itu adalah lomba lari memperingati Hari Kemerdekaan di kampungnya. Theo ingin sekali menang agar bisa mendapatkan hadiah piala yang besar dan hadiah-hadiah lainnya yang menarik perhatiannya. Langkah kaki Theo sangat cepat dan lincah. Dia sejak tadi memimpin dan berlari paling depan. Namun, saat ia mendekati garis finis, Theo mendengar suara mengaduh di belakangnya. “Aduuh!” Theo menoleh ke arah belakangnya untuk melihat siapa yang membuat suara mengaduh itu. Alisnya terangkat sedikit ketika ia mengenal wajah orang itu. Ternyata King, sahabatnya, terjatuh karena tersandung batu. King memegangi lututnya sambil meringis kesakitan. “Aduh..sakit..” gumamnya pelan. Theo melihat ke depan sejenak, garis finis tinggal lima langkah lagi. Jika ia terus berlari, dia pasti akan menjadi juara satu. Namun, melihat King yang kesakitan, Theo langsung menghentikan langkahnya. Theo berbalik arah dan berlari menghampiri King tanpa ragu-ragu. “King, kamu gapapa? Ayo, pegang pundakku.” Ujar Theo sambil mengulurkan tangannya untuk menguatkan King. Namun King hanya diam dan menatap sahabatnya itu. “Tapi, nanti kamu kalah, Theo.” Bisik King sedikit ragu-ragu. “Juara bisa di lain waktu, King. Tapi menolong sahabat itu lebih penting!” jawab Theo sambil tersenyum hangat.

35 Theo membantu King berdiri. Dengan perlahan, Theo mulai berjalan dan menuntun King. Mereka berdua berjalan Bersama-sama menuju garis finis. Penonton di pinggir lapangan langsung bertepuk tangan dengan meriah ketika melihat kebaikan hati Theo. Meskipun Mereka masuk ke garis finis di urutan belakang, Theo tetap merasa sangat senang. Di akhir acara, panitia memberikan Theo sebuah medali khusus, yaitu “Medali Sahabat Paling Hebat” King yang melihatnya pun ikut senang dan memberikan jempol kepada Theo.

36 Moga Si Pemalas dan Gaga Kania Humaira Irawan Gaga tampak cemberut di meja belajarnya. Di hadapannya ada buku gambar dan pensil warna. Besok ada lomba menggambar dan menulis cerita di sekolah, tapi Gaga terlalu malas untuk berlatih dan mempersiapkan diri. “Ah, nanti aja latihannya. Main HP ayah aja, pasti lebih seru!” gumam Gaga dalam hati. Tiba-tiba, lampu kamarnya berkedip-kedip dan dari balik tirai jendelanya muncullah sosok makhluk gemuk yang sedang menguap lebar. “Hai Gaga, aku Moga si pemalas..Hoaam.” kata makhluk itu sambil mulai memakan cemilan milik Gaga. “Ayo kita tidur aja, tidak usah belajar. Belajar itu membosankan dan membuat pusing kepala!” Gaga kaget melihat makhluk itu. Namun, saat Gaga melihat ke cermin, ia lebih kaget lagi. Ternyata, pakaian Gaga perlahan-lahan berubah warna menjadi warna gelap dan kusam, sama seperti warna kulit si monster, Moga. “Waduh, kok pakaianku jadi jelek begini sih?” tanya Gaga kebingungan. “Haha! Makin kamu malas, kamu akan makin mirip denganku dan terjebak di pulau malas!” celetuk Moga sambil tidur-tiduran dengan malas. Gaga tak mau menjadi Moga yang malas dan kusam. Ia langsung mengambil pensilnya. Dengan semangat yang baru, Gaga mulai membuka buku gambar miliknya. Ia mencorat-coret membentuk pemandangan gunung dan sawah yang sangat indah. Gaga juga mulai menuliskan cerita pendek di bawah gambar yang sudah ia buat serapi mungkin. Sreet! Sreet! Ajaibnya, setiap kali Gaga menggoreskan pensil warnanya ke kertas, Moga si pemalas itu menjerit. “Aduh, Panas!! Kamar ini terlalu cerah!”

37 Tubuh Moga perlahan-lahan mengecil dan pada akhirnya menghilang begitu saja lewat jendela kamar Gaga. Bersamaan dengan itu, pakaian Gaga kembali bersih dan kembali berwarna cerah. Gaga merasa sangat puas dan bangga melihat hasil karyanya sendiri. Keesokan harinya di sekolah, Gaga berhasil menggambar dengan sangat lihai karena sudah berlatih semalam. Ia pun membawa pulang piala juara kedua. Walaupun tidak mendapatkan juara satu, Gaga tetap merasa puas dengan dirinya sendiri dan bertekad untuk lebih giat latihan lagi di lomba-lomba berikutnya. Sejak saat itu, Gaga menjadi tau kalau punya niat dan tekad untuk belajar bisa mengusir rasa malas dan membuahkan hasil yang manis. Gaga pun bangga dengan dirinya sendiri dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk lebih giat untuk belajar. “Aku berjanji, aku akan lebih rajin!” gumam Gaga dalam hati.

38 Kerja Bakti Berhadiah Kania Humaira Irawan Ahad pagi, warga-warga kampung di perumahanku berkumpul untuk kerja bakti membersihkan setiap selokan yang ada di perumahan kami. Semua orang sibuk bekerja. Ada yang mencangkul lumpur dan ada juga yang menyapu daun kering. Pak Bima, seorang warga yang kurang mampu, bekerja paling semangat. Pakaian yang ia pakai sampai basah karena keringatnya. Di sisi lain, ada Pak RT yang sibuk mengatur pembagian tugas warga. Ditengah terik matahari, datanglah rombongan ibu-ibu membawa nampan. Mereka membawa cemilan dan gelas besar berisi es sirup merah yang sangat segar. “Ayo bapak-bapak, istirahat dulu!” seru ibu-ibu. Semua warga langsung berkumpul di bawah pohon besar, tempat ibu-ibu menaruh cemilan dan es sirupnya. Di sana, tidak ada lagi status masyarakat seperti kaya atau miskin. Pak RT langsung memberikan Pak Bima segelas es sirup. “Ini Pak Bima, minum dulu. Kerja bagus hari ini, selokan depan rumah langsung lancar!" puji Pak RT sambil tersenyum lebar kepada Pak Bima. Pak Bima tersenyum lebar dan meminum es sirup itu sampai habis. Rasa lelahnya langsung hilang seketika. Siang itu, lewat segelas es sirup dan cemilan di piring, warga-warga kami memperlihatkan indahnya kebersamaan. Kerja bakti tidak hanya membuat perumahan mereka menjadi bersih, tetapi juga membuat hubungan antar warga menjadi semakin dekat dan erat.

39 Bangun Pagi Ku Kania Humaira Irawan Alarm kesayanganku berbunyi nyaring pada pukul 5 subuh. Yudis menggeliat malas, namun ia segera memaksakan diri untuk bangun dan membasuh muka. Pagi ini, Yudis berniat mengubah kebiasaan buruknya yang suka bangun kesiangan. Saat membuka pintu rumah, udara dingin langsung mengenai wajah Yudis. Suasana komplek nya ternyata sudah cukup ramai. Di ujung jalan, terdengar suara sapu lidi Mak Yen yang sedang membersihkan halaman depan rumah tetangga. Yudis pun berjalan ke depan gang untuk membeli sarapan. Di sana, warung nasi kuning Mas Pram sudah ramai. “Eh, tumben Nak Yudis jam segini udah rapih?” sapa Mas Pram heran sambil melayani pelanggan lain. “Iya Mas. Aku mau coba bangun pagi-pagi.” Jawab Yudis tersenyum malu. Di warung itu, Yudis melihat orang-orang sibuk walaupun masih pagi buta. Pak RT sedang mengobrol tentang jadwal ronda bersama satpam yang baru selesai bertugas. Beberapa ibu-ibu juga saling menyapa dengan ramah sebelum sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Semua orang yang bangun pagi tampak bersemangat untuk menjalani hari ini dan sangat ramah dengan orang lain. Sambil berjalan pulang membawa nasi kuning yang ia beli, Yudis merasakan seluruh tubuhnya jauh lebih segar dan hatinya jauh lebih tenang dibanding dengan ia sangat bangun kesiangan. Ia menyadari satu hal yaitu, bangun pagi tidak hanya sehat dan menyegarkan bagi seluruh tubuhnya, namun juga mendekatkan dirinya dengan kehangatan warga-warga komplek. Yudis sadar bahwa bangun pagi juga membuat hubungan dengan orang lain lebih erat dan hangat. Yudis pun tersenyum kecil dan lanjut melangkahkan kakinya menuju sekolahnya sambil membawa sarapan nasi kuningnya.

40 Tantangan Dari Bu RT Kania Humaira Irawan Warung sayur Bu Ninik pagi itu mendadak ramai setelah Bu RT mengumumkan sebuah tantangan unik. “Mulai hari ini, kita bikin gerakan makan sehat ya! Ibu-ibu harus memasak makanan sehat dan kurangi minyak!” seru Bu RT bersemangat dengan ide baru nya itu. Bu Sri, salah satu warga yang hobi menggoreng makanan, mengeluh. “Aduh Bu RT, suami dan anak saya mana doyan kalo cuman makan sayur dan buah?” celetuk Bu Sri keberatan. Keesokan harinya, di balai RW, warga berkumpul untuk arisan bulanan. Kali ini, menu makanannya berbeda. Tidak ada gorengan atau makanan minyak lainnya. Di meja, tersaji sup ayam bening, sayur, tahu, tempe, dan buah-buah yang segar. Awalnya, banyak warga termasuk suami Bu Ninik ragu untuk mengambil makanan yang tersaji di meja. Namun, begitu mencicipi sup ayam buatan Bu RT yang segar dan hangat, mangkuk mereka langsung bersih tak bersisa. “Wah, ternyata makanan sehat kalau bumbunya pas bisa enak begini ya?” puji suami Bu Ninik sambil menambah porsi supnya. Bu Ninik pun tersenyum dan langsung meminta resepnya kepada Bu RT. Sejak hari itu, isi belanjaan ibu-ibu di warung Bu Ninik berubah. Sayuran, tahu, dan buah- buahan menjadi barang yang paling cepat habis. Melalui kegiatan yang sederhana itu, warga komplek tidak hanya mendapatkan tubuh yang lebih bugar, tetapi juga menjaga kesehatan keluarga mereka

41 Keran Di Depan Pagar Kania Humaira Irawan Sejak pameran kesehatan di balai desa minggu lalu, Pak RT memasang sebuah keran lengkap dengan sabun cair di depan pagar rumahnya.. Ia juga mengajak warga lain untuk melakukan hal yang sama di rumah masing-masing. Sore itu, Kana dan teman-temannya baru saja selesai bermain bulu tangkis di lapangan rumput. Tangan dan pakaian mereka penuh dengan debu dan tanah. Karena perutnya sudah berbunyi kelaparan, Kana berniat langsung menyantap bakwan di warung dekat lapangan. “Kana, tunggu!” seru Pak RT yang sedang menyiram tanaman miliknya. “Lihat tanganmu! Banyak kuman. Cuci tangan dulu di keran milik bapak!” Kana pun mendengus pelan, lalu menghampiri keran air itu. Pak RT kemudian mengajarkan Kana dan teman-temannya cara mencuci tangan dengan benar. “Nah lihat kan seberapa kotor tangan kalian? Kalau kuman-kuman itu masuk ke perut kalian, nanti kalian bisa sakit perut!” ujar Pak RT. Kana melihat kedua tangannya yang sudah bersih. “Wah, iya Pak RT.” Jawab Kana sambil cengengesan. Sejak hari itu, keran di depan pagar rumah warga menjadi tempat favorit anak-anak sebelum pulang ke rumah. Kebiasaan kecil yang diajarkan oleh Pak RT berhasil menjaga anak-anak dari kuman-kuman berbahaya dan tetap sehat.

42 Karna Dia, Aku Berubah Mochammad Rakha Athaya Tokoh: Elvano, Arka, Bu Ratna, Ayah Elvano, Teman-teman sekelas Arka dan Elvano Bab 1: Semua Orang Kecewa Elvano, ia adalah anak yang hidupnya sedikit berantakan karena ia tidak pernah belajar saat sekolah, yang membuat nilai Elvano di sekolah menjadi buruk. Elvano juga suka sekali bermain game sampai tengah malam yang membuat dia jadi sering terlambat ke sekolah. Di sekolah, ia memiliki sahabat bernama Arka. Tidak seperti Elvano, dia suka sekali belajar dan juga Arka selalu tidur cukup. Dengan kebiasaan baik itu, Arka jadi tidak terlambat masuk sekolah. Meskipun temannya tidak paham pembelajaran di sekolah, Arka tetap mengajari Elvano dengan sabar. Malam itu, Elvano sedang bermain game. Dia lupa bahwa besok dia ada ujian akhir bab. Dia lupa untuk belajar. Saat sedang asyik-asyiknya bermain game, Arka menelepon nya. Arka bilang bahwa besok sekolah dan menyuruh Elvano untuk tidur lebih awal, serta mengingatkan bahwa besok akan ada ujian. Namun, Elvano malah menghiraukan apa yang dikatakan Arka sambil meremehkan ujian itu dan lanjut bermain game. Esok paginya, Elvano terbangun dengan kaget dan menjadi panik saat melihat jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Padahal, sekolah dimulai pukul 07.15. Dengan panik dan tergesa-gesa, ia langsung berlari ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, waktu sudah menunjukkan pukul 07.05. Melihat hal itu, dia semakin tergesa-gesa. Jarak rumahnya yang cukup jauh dari sekolah membuatnya semakin gugup. Elvano segera mengenakan seragam dan memakan sarapan buatan ibunya secepat mungkin. Sesampainya di sekolah, suara bel sudah terdengar sejak beberapa menit lalu. Elvano kembali berlari melewati gerbang dengan napas terengah-engah. Beberapa guru menatap kecewa, bahkan ada yang menegur karena ia terlalu sering terlambat. Ada juga yang sampai menelepon

43 ibu Elvano dan berkata bahwa Elvano sering sekali terlambat. Mendengar hal itu, ibu Elvano menjadi kecewa. Namun, Elvano hanya menunduk diam dengan menahan rasa malu sambil berjalan menuju kelas. Bab 2: Ujian yang Aku Takuti Sesampainya di kelas, Elvano melihat Arka yang sedang santai belajar di kursinya sambil menunggu guru datang. Lalu, Arka bertanya, "Van, kamu udah belajar belum buat ujian matematika?" Elvano pun menjawab dengan sedikit panik, "Waduh, aku lupa belajar, soalnya aku fokus main game." Setelah percakapan singkat itu, Arka langsung membantu Elvano untuk belajar. Namun, saat sedang dijelaskan, sebenarnya Elvano tidak mengerti sama sekali. Dia hanya mengangguk seakan dia mengerti. Dia terlalu meremehkan ujian hari itu. Tak lama, Bu Ratna datang ke kelas. Arka pun menyiapkan pulpen dan Tip-Ex untuk ujian. Namun, Elvano tidak menyiapkan apa-apa untuk ujian dan malah meminjam pulpen dari Arka. Tak lama kemudian, Bu Ratna membagikan lembar ujian. Elvano panik karena dia tidak mengerti sama sekali tentang pelajaran matematika. Dia pun mengisi nama dan kelas. Saat mengerjakan, Elvano hanya memilih jawaban pilihan ganda dengan asal-asalan dan esai hanya diisi, "Saya tidak paham sama sekali, mungkin jawabannya 65." Sementara itu, Arka sangat fokus dalam mengerjakan ujian matematika itu. Dia sedikit iri kepada sahabatnya itu karena dia bisa mengerjakan ujian tersebut. Bel istirahat pun berbunyi, menandakan waktu ujian sudah habis. Arka dan Elvano mengumpulkan kertas ujian. Lalu, mereka berdua pergi ke kantin sambil berbincang tentang ujian tadi. "Menurutku, ujian matematika tadi tidak terlalu sulit," kata Arka. "Kalau menurutku susah sekali. Banyak yang kujawab asal-asalan," jawab Elvano.

44 Sesampainya di kantin sekolah, Arka memesan nasi telur dan sayur, sedangkan Elvano memesan mi goreng ditambah gorengan. Arka memperingatkan bahwa Elvano harus makan makanan yang sehat, tetapi Elvano hanya mengangguk. Dalam hatinya, menurutnya makanan sehat tidak enak. Bab 3: Aku Sudah Biasa Ditegur Tak lama, bel masuk kelas pun berbunyi. Arka dan Elvano bergegas pergi ke kelas mereka berdua. Saat sampai di kelas, Arka bergegas mengambil buku pelajaran dari tas, sedangkan Elvano hanya menatap keluar jendela karena dia tidak membawa buku. Di tasnya hanya ada satu buku tulis saja. Bu Ratna pun masuk ke dalam kelas dan menyuruh murid-murid di kelas untuk membuka buku pelajaran. Sontak, Elvano agak sedikit gugup dan langsung meminta untuk berbagi buku dengan sahabatnya itu yang duduk di sampingnya. Arka pun dengan senang hati berbagi buku dengan Elvano. Bu Ratna melihat bahwa di satu meja hanya ada satu buku. Meja itu adalah meja dua sahabat tersebut. Guru itu bertanya kepada Elvano, "Elvano, ke mana buku pelajaran kamu?" Saat mendengar pertanyaan itu, Elvano sedikit takut dan menjawab, "E-e, bukuku ada di rumah, Bu. Ketinggalan." Saat mendengar jawaban itu, Bu Ratna hanya mengangguk dengan wajah yang malas untuk menanggapi karena memang Elvano sering sekali tidak membawa buku pelajaran. Apalagi pulpen, dia selalu meminjam kepada sahabatnya. Di akhir waktu pelajaran, Bu Ratna memberi tugas kelompok. Jumlah orang dalam satu kelompok adalah dua orang. Hal itu membuat Elvano senang karena dia berpikir tugas itu bisa dikerjakan oleh sahabatnya yang pintar. Lalu, dia segera mengajak sahabatnya itu untuk berkelompok. Arka pun setuju dengan ajakan dari sahabatnya tersebut. Tak lama dari situ, bel pulang sekolah pun berbunyi. Mereka berdua bersiap-siap untuk pulang. Setelah selesai membereskan meja dan lain- lain, mereka keluar dari kelas bersama.

45 Bab 4: Nilai 34 Yang Merah Besoknya, Elvano datang terlambat dan ia juga lupa untuk sarapan. Sesampainya di kelas, Ibu Ratna yang sedang mengajar menoleh ke arahnya. Ia terlihat marah kepadanya, sedangkan sahabatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Hal itu membuat Elvano meminta maaf kepada gurunya, lalu dia segera duduk di samping Arka. Dia melihat bahwa Arka memegang sebuah kertas, yang ternyata kertas itu adalah kertas ujian kemarin. Setelah melihat Elvano duduk di sampingnya, Arka langsung memberikan kertas ujian itu ke sahabatnya. Dia mengambil kertas itu lalu dia terlihat begitu panik karena dia hanya mendapat nilai 34. Melihat hal itu, sontak Elvano berkeringat dingin karena dia takut dimarahi oleh ayahnya nanti di rumah sambil mendengar teman-teman sekelasnya yang senang karena mendapat nilai yang bagus. Tak lama, bel istirahat pun berbunyi. Arka langsung mengajak sahabatnya untuk ke kantin bersama, tetapi Elvano menolak karena dia sedih akibat nilainya yang jelek itu. Namun, Arka mencoba membujuk Elvano agar mau ke kantin bersama. Mendengar sahabatnya mengajaknya dengan penuh permohonan, akhirnya dia mau ke kantin bersama sahabatnya itu. Sesampainya di kantin, seperti hari-hari sebelumnya Arka dan Elvano memesan makanan yang biasa mereka beli. Selagi makan, Arka memotivasi Elvano agar dia bisa belajar lebih baik dan membuat kedua orang tuanya bangga. Mendengar hal itu Elvano jadi terdiam karena hanya Arka yang memotivasinya selama ini. Teman-teman yang lain malah mengejeknya ketika dia mendapat nilai 34. Dia pun berterima kasih kepada sahabatnya karena sudah memotivasinya. Bab 5: Tantangan untukku Tak lama, bel masuk pun berbunyi. Semua siswa masuk ke kelasnya masing-masing, begitu juga kedua sahabat itu. Mereka pun belajar seperti biasanya sampai bel pulang sekolah pun berbunyi. Tetapi sebelum itu, Ibu Ratna menghampiri Elvano dan berkata bahwa Bu Ratna akan memberikan tantangan untuk membuat Elvano menjadi lebih baik, seperti tidur lebih awal, makan makanan bergizi, dan juga belajar dengan giat. Mendengar hal itu Elvano langsung terdiam

46 dan dia berpikir dengan hal itu dia bisa membuat nilainya jadi lebih baik dan juga tubuhnya lebih sehat. Tak lama Elvano menerima tantangan itu. Setelah itu, Elvano berjanji pada dirinya bahwa esok dia akan mencoba menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dia keluar dari kelas dengan penuh rasa ambisi untuk menjadi baik. Di depan sudah menunggu sahabatnya. Dia bertanya kepada Elvano tentang apa yang dibicarakannya dengan Bu Guru. Dia pun menjawab bahwa dia diberi tantangan untuk menjadi lebih baik. Setelah kalimat itu, dia bertanya kepada sahabatnya itu apakah dia bisa membantu dirinya untuk menyelesaikan tantangan itu. Sambil tersenyum, Arka menjawab bahwa dia sangat ingin membantu karena ia yakin sahabatnya pasti bisa. Mendengar hal itu Elvano langsung bertanya kenapa dia mau membantunya. Arka pun menjawab bahwa dia ingin membuat sahabatnya menjadi sepertinya sambil memeluk Elvano. Setelah percakapan itu mereka pun pulang bersama sambil merencanakan strategi untuk Elvano. Di dalam hati Elvano berkata, “Kenapa Arka masih mau membantuku? Padahal aku selalu membuatnya kerepotan.” Di sepanjang jalan suasana terasa sangat sejuk, membuat Elvano semakin yakin untuk mencoba. Bab 6: Ayahku Sangat Marah Saat sampai di rumah, Elvano langsung melihat ayahnya yang sedang minum kopi dan dia bergegas salim. Lalu ayahnya bertanya, “Nak, kata Bu Ratna ujian matematika sudah diberikan, ya? Ayah mau lihat dong nilaimu.” Elvano yang mendengar itu menjadi takut sekali sambil mengeluarkan kertas ujiannya dan meminta maaf. Ayahnya pun menjadi kesal kepada dirinya dan langsung memarahi serta menyuruh Elvano untuk mandi dan belajar. Mendengar ayahnya marah, Elvano menjadi sangat sedih dan saat itu dia bertekad untuk berubah seperti tantangan yang diberikan Bu Ratna.

47 Elvano bergegas untuk mandi dan langsung menyiapkan buku pelajaran untuk belajar, tetapi dia masih suka merasa bosan dan lebih sering bermain game daripada membaca buku. Dia hanya membaca selama 2–5 menit saja. Tiba-tiba sahabatnya menelepon dan bertanya, “Halo, Van. Kamu lagi ngapain?” Dan dia menjawab, “Oh, aku lagi belajar, tapi aku susah banget lepas dari HP. Gimana ya?” Mendengar hal itu sahabatnya pun tersenyum sambil berkata, “Dulu aku sama kayak kamu, susah fokus. Tapi aku dapat tips dari orang tuaku. Katanya, coba kamu taruh HP kamu di tempat yang agak jauh, terus belajar deh 15 menit, terus istirahat dan lanjut lagi deh.” Dan Elvano menjawab, “Gimana kalau aku pengen main game, Arka?” Sahabatnya pun menjawab, “Perubahan itu nggak harus langsung sempurna. Yang penting kamu lebih baik dari kemarin. Kalau hari ini kamu bisa belajar lima belas menit, besok coba dua puluh menit.” Mendengar jawaban sahabatnya dia terdiam merenung bahwa selama ini dia hanya ingin hal-hal yang instan, padahal semua butuh proses. Setelah percakapan itu Elvano menutup teleponnya dan menaruh HP-nya di atas lemari. Dia bertekad untuk mulai belajar dan segera mengambil buku pelajarannya lagi. Kali ini dia tidak menyerah secepat biasanya. Setelah 15 menit berlalu, dia sadar dia bisa istirahat dan segera mengambil HP untuk mengirim pesan kepada Arka, “Arka aku berhasil 15 menit belajar.” Lalu sahabatnya menjawab, “Wow, keren banget kamu Elvano. Semangat ya.” Dia pun menjawab, “Makasih sahabatku, oh ya kita ada tugas kelompok ya. Itu gimana ya, Arka?” Arka menjawab, “Oh iya yang dari Bu Ratna. Kamu kerjain yang halaman 67 ya, aku udah selesain yang satunya dan besok pengumpulannya, jadi jangan lupa ya sahabat terbaikku.” Elvano pun menjawab, “Oke, Arka.”

48 Setelah itu Elvano melihat ke arah jam dinding. Saat itu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tetapi Elvano masih lanjut bermain game sampai jam 12 malam dan dia lupa mengerjakan tugas yang diberikan oleh Arka untuk dirinya. Bab 7: Dia Sudah Kecewa Dan esok paginya Elvano baru ingat bahwa ada tugas yang belum diselesaikan dan juga hari ini dia bangun telat dan dia tidak sempat sarapan lagi. Sesampainya di sekolah, tidak seperti kemarin Elvano datang ke sekolah pada pukul 7.14 pagi meskipun bel belum berbunyi, tetapi 1 menit lagi Elvano telat. Dia pun langsung ke kelas. Sepanjang jalan dia bertemu guru-guru yang kemarin menegurnya yang sekarang masih menegurnya tetapi tidak separah kemarin. Sesampainya di kelas, bel sudah berbunyi. Dia melihat sahabatnya Arka yang sedang duduk manis sambil berbicara dengan teman sekelasnya. Elvano menghampiri Arka dengan langkah pelan. Ia duduk di samping sahabatnya itu sambil menaruh tas dengan gugup. Setelah dia duduk sahabatnya bertanya, “Eh Van, kamu udah kerjain belum halaman 67-nya?” Elvano menjawab sambil sedikit takut, “E-e aku minta maaf Arka, aku lupa ngerjain.” Dia berkata sambil menunjukkan muka yang sedikit cemas. Mendengar hal itu Arka menjadi kecewa dan dia berkata, “Van aku capek tau ngingetin kamu untuk ngerjain tugas itu, tapi kamu malahan gak ngerjain. Intinya aku gak mau tahu, tugas itu harus selesai.” Mendengar jawaban dari Arka, Elvano langsung meminta maaf sekali lagi dan mengerjakan tugas itu sambil terdiam karena dia sudah membuat sahabat terbaiknya kecewa. Karena hal itu persahabatan mereka sedikit renggang, tetapi Elvano tetap mengerjakan tugas itu meskipun dia tidak dibantu. Dia berusaha, nomor 1, 2, dan 3 dia kerjakan sendiri, tetapi di setiap nomor dia selalu merasa bersalah karena membuat sahabatnya kecewa. Elvano menunduk. Pensil di tangannya berhenti bergerak. Ia melirik Arka yang kini memilih berbicara dengan teman lain. Dadanya terasa sesak. Tak lama Bu Ratna datang dan langsung

49 melihat kedua sahabat itu dan berkata dalam hati, “Loh kok tumben Arka dan Elvano tidak bercanda seperti biasanya.” Setelah itu Bu Ratna langsung meminta semua teman-teman di kelas Elvano untuk mengumpulkan tugas kelompok yang diberikan. Satu per satu teman Elvano maju, tetapi kelompok mereka berdua belum mengumpulkan sama sekali. Bu Ratna yang menyadari ada satu kelompok yang belum mengumpulkan langsung berkata bahwa ada satu kelompok lagi yang belum mengumpulkan. Arka yang mendengar Bu Ratna berkata seperti itu langsung mengangkat tangan bahwa kelompoknya belum selesai. Mendengar hal itu Bu Ratna langsung berkata bahwa tugasnya harus segera diselesaikan. Elvano yang sudah di nomor terakhir langsung mengangkat tangan dan berkata, “Bu Ratna, kelompok aku udah Bu, ini tinggal dikumpulkan.” Mendengar hal itu Bu Ratna langsung menyuruh Elvano dan Arka untuk mengumpulkan tugasnya. Bab 8: Kita Dekat Namun Terasa Jauh Pelajaran pun dimulai, tetapi tidak seperti biasanya ketika ada soal latihan yang biasanya Elvano dibantu oleh sahabatnya, sekarang sahabatnya tidak membantu mungkin karena Arka masih kecewa dengan Elvano. Bel istirahat pun berbunyi, tidak seperti biasanya sahabatnya tidak mengajaknya untuk ke kantin yang membuat dirinya menjadi semakin bersalah. Di dalam hatinya berkata, “Apa persahabatan aku dengan Arka sudah putus ya?” Dia pun pergi ke kantin sendiri. Di kantin dia melihat sahabatnya duduk sambil makan bersama teman-teman yang lain. Dia langsung bergegas pergi ke tempat pembelian makanan dan langsung memesan makanan yang tidak biasa dia pesan yaitu makanan yang sehat. Awalnya Elvano sedikit mual karena baru pertama kali makan sayur. “Rasanya seperti makanan yang 5 hari dibeli baru dimakan,” katanya. Satu, dua, tiga suap makanan masuk ke mulutnya. Dia tetap bertahan. Dia ingat akan tantangan yang diberikan Bu Ratna untuk dirinya. Dia ingin berubah. Dia pun tetap berusaha menghabiskan

50 makanan itu. Dari kejauhan sahabatnya melihatnya makan makanan sehat. Dalam hati Arka, dia sangat bangga karena sahabatnya itu sudah menghabiskan makanan sehat, tetapi di dalam hatinya masih ada rasa kesal yang belum bisa dihapuskan. Arka kembali ke kelas lebih awal meninggalkan Elvano sendirian di kantin. Tak lama bel pun berbunyi. Elvano bergegas untuk pergi ke kelas. Di perjalanan menuju kelas dia terngiang-ngiang akan perkataan Arka kepada dirinya, “Van aku capek ngingetin kamu.” Dia pun mempercepat langkahnya. Dia ingin mencoba meminta maaf kepada sahabatnya. Di kelas dia melihat sahabatnya sedang bercanda dan tertawa bersama teman-teman yang lain. Di dalam hatinya dia berkata, “Harusnya aku yang di situ, menemuimu, menghiburmu, dan aku ingin melihat kita berdua seperti dulu lagi.” Elvano duduk di samping sahabatnya dan setelah duduk Bu Ratna masuk. Saat itu sahabatnya segera mengambil buku. Setelah Arka mengambil buku, Elvano berkata kepada dirinya dengan nada yang sangat bersalah, “Arka, a-aku minta maaf ya soal tadi pagi. Aku janji aku gak bakal mengulanginya lagi.” Elvano sangat menyesal, tetapi Arka hanya diam dan dia cuma memperhatikan Bu Ratna mengajar. Karena tidak ada jawaban, Elvano semakin gugup. Di dalam hatinya masih tersimpan rasa menyesal yang sangat dalam. Elvano pun sadar bahwa meminta maaf saja tidak cukup untuk memperbaiki kesalahan. Tidak ingin hal itu terjadi, dia pun mendengarkan Bu Ratna mengajar dengan fokus. Sesekali dia ingin bertanya kepada sahabatnya, tetapi dia mengurungkan niatnya. Bab 9: Aku Ingin Seperti Dulu Lagi, Kawan Tanpa disadari, bel pulang pun berbunyi. Semua teman kelas Elvano sudah pulang menyisakan dia dan sahabatnya. Terdengar suara kipas angin yang menyala. Saking sunyinya kelas itu yang biasanya mereka berdua bercanda, tetapi hari ini hanya diam yang terdengar. Sahabatnya Arka bergegas membereskan tas dan pergi keluar kelas. Saat Arka mau keluar kelas, Elvano berlari dan memegang pundak sahabatnya dan berteriak, “Arka tunggu!”

51 Arka diam sebentar dan Elvano berkata, “Aku benar-benar minta maaf soal tadi pagi, aku tahu aku suka bikin kamu kecewa, tapi kali ini aku minta maaf sebesar-besarnya.” Dengan nada pelan dan sedikit gugup Arka pun menjawab dengan nafas panjang, “Aku bukan marah gara-gara tadi pagi, tapi soal kamu yang ingin berubah. Kamu hanya janji tapi tidak bisa membuktikannya. Itu yang membuat aku kecewa.” Mendengar jawaban itu hati Elvano hancur. Jawaban itu lebih sakit daripada dimarahi guru. Sahabatnya pergi meninggalkannya sendirian di kelas. Dia hanya bisa melihat langkah sahabatnya yang semakin jauh meninggalkannya. Dia sadar akan kesalahannya. “Benar yang dikatakan oleh Arka,” dia berseru di dalam hati. Dia pulang dengan tidak biasa. Yang biasanya terdengar canda, tawa, dan riang gembira di sepanjang jalan yang sangat syahdu itu, tetapi hari ini berbeda. Yang terdengar hanya burung-burung yang berkicauan dan pikiran serta hatinya yang penuh rasa bersalah dan menyesal. Di malam hari, Elvano ingin sekali memegang HP-nya, tetapi ketika dia mau mengambil HP-nya, dia teringat kata sahabatnya. “Van aku capek ngingetin kamu setiap hari.” Kata-kata itu sontak membuat dia terdiam dan mengarahkan tangannya ke buku pelajaran. Untuk pertama kalinya dia tidak bermain game, tetapi matanya fokus kepada buku. Dia membaca. Satu, dua buku pelajaran dipelajari dan dipahami. Sepanjang dia belajar, dia selalu menunggu sesuatu yaitu sahabatnya yang mengingatkannya. Yang biasanya dia diingatkan, tetapi malam itu berbeda. Tidak ada bunyi deringan dari HP-nya. Dia berpikir bahwa sahabatnya ingin dia mencoba sendiri. Elvano sempat memberi pesan kepada Arka untuk membantunya, tetapi pesan itu hanya dibaca.

52 Bab 10: Akan Kubuktikan untukmu Ketika dia sedang membaca materi yang ditulis Arka untuknya dia melihat, di akhir materi tertulis pesan untuknya, “Semangat ya belajarnya sahabatku yang paling kece.” Melihat pesan itu semangat Elvano untuk belajar semakin bertambah. Beberapa kali dia melihat ke arah jam. Dia ingin mencoba untuk tidur lebih awal. Saat sedang melihat ke arah jam tiba-tiba HP-nya berdering. Terdapat pesan yang masuk dari grup kelasnya. Ada teman sekelasnya yang memberi pesan dari Bu Ratna untuk kelasnya yaitu, “Teman-teman, besok hari Senin kita ada ujian lagi. Kita disuruh belajar.” Setelah membaca pesan itu Elvano menjadi semakin semangat untuk belajar dan dia memiliki tekad yang kuat untuk membuat bangga sahabatnya dan orang tuanya. Jam pun menunjukkan pukul 9 malam. Elvano langsung membereskan buku dan memasukkan buku pelajaran ke tas dan untuk pertama kalinya dia tidur lebih awal. Esok paginya, tak seperti biasanya dia bangun pada pukul 5 pagi. Dia langsung ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan bergegas untuk sholat Subuh. Lalu setelah shalat selesai dia berdoa kepada Allah Swt. Dia memohon untuk mempermudah dirinya untuk mengikuti ujian hari ini. Tidak seperti biasanya, dia melewati gerbang sekolah dengan langkah tenang. Guru-guru juga mengapresiasi dirinya karena dia tidak terlambat. Dia pun menuju ke kelas dan duduk di bangku seperti biasa dan langsung belajar untuk ujian hari ini. Tak lama Arka datang dan terkejut karena Elvano datang lebih pagi dan Arka berkata, “Wah kamu sudah datang duluan ya.” Elvano hanya bisa tersenyum saja. Bel sekolah berbunyi. Bu Ratna masuk kelas sambil membawa kertas ujian. Elvano langsung mengeluarkan pensil dan penghapus untuk ujian. Ujian dimulai. Elvano sangat fokus mengerjakan sekarang. Dia sudah paham materi pelajarannya, jadi nomor demi nomor dia lewati dengan mudah. Di nomor terakhir, dia sempat melirik ke sahabatnya dan berkata dalam hati, “Aku akan buktikan kepada dirimu, kepada sahabatku kalau aku bisa berubah.”

53 Bel istirahat pun berbunyi. Arka masih tidak mengajaknya ke kantin, tetapi Elvano hanya mengambil bekal yang disiapkan ibunya untuk dirinya. Dia menikmati makanan yang disiapkan ibunya karena dia dibekali makanan sehat. Sekarang dia jadi lebih sering makan sehat daripada makan yang tidak sehat. Bel berbunyi, menandakan pelajaran selanjutnya mau dimulai. Semua murid masuk ke kelas. Bu Ratna juga masuk ke kelas dan juga dia sudah siap untuk belajar. Dia melihat sahabatnya yang sedang mencari sesuatu sambil kebingungan. Dia pun menawarkan bantuan kepadanya. Ternyata pensil Arka hilang. Tanpa ragu dia langsung meminjamkan pensil untuk sahabatnya. Arka pun tersenyum dan berterima kasih. Bab 11: Aku Tidak Menyangka Tiba-tiba Bu Ratna membagikan sebuah kertas. Kertas itu adalah kertas ujian tadi pagi. Melihat hal itu Elvano menatap Bu Ratna dengan penuh rasa berharap. Dia berharap agar nilainya naik dan ternyata nilai Elvano naik yang awalnya 34 menjadi 95. Sahabatnya yang melihat Elvano senang bertanya, “Kamu dapat nilai berapa?”. Elvano menjawab, “Aku dapat 95. Aku senang banget nilai aku naik.” Mendengar hal itu Arka langsung bergegas memeluk sahabatnya itu sambil berkata, “Aku bangga sama kamu, karena kamu bisa membuktikan perkataanmu. Oh ya, permasalahan kemarin udah aku maafin.” Mendengar jawaban itu, Elvano menjawab dengan nada penuh rasa menyesal, “Maafin aku ya sahabatku. Aku sudah merepotkanmu dari awal masuk sekolah. Sekarang aku janji untuk selalu membantumu ketika kamu susah.” Lalu tiba-tiba, Bu Ratna memanggil Elvano dan menyuruh dirinya untuk maju. “Ibu sangat mengapresiasi Elvano karena nilai Elvano yang paling tinggi di kelas.” Dan semua teman-teman Elvano memberikan tepuk tangan untuk dirinya. Elvano sangat bangga kepada dirinya karena sudah berubah menjadi diri yang lebih baik. Bu Ratna pun memberikan

54 hadiah untuk Elvano yaitu sebuah konsol game, tetapi dia malah memberikan hadiah itu untuk sahabatnya karena berkat sahabatnya itu dia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Persahabatan mereka berdua berjalan dengan mulus sampai hari kelulusan tiba. Mereka berdua memilih sekolah yang berbeda dan juga Arka pindah ke luar kota karena ayahnya dipindahkan tempat kerja. Elvano melambaikan tangan kepada sahabat terbaiknya sambil menangis. Persahabatan mereka tidak berhenti di situ. Mereka masih sering berkirim pesan, sesekali mereka bertemu di suatu tempat dan berbagi pengalaman masing-masing. “Aku tidak menyangka bahwa persahabatan kita bisa sejauh ini,” ujar Elvano. TAMAT Amanat dari kisah Karna Dia, Aku berubah adalah: 1. Semua yang kita inginkan itu tidak instan tetapi, ada prosesnya 2. Jangan meremehkan belajar jika kita belajar kita akan menjadi sukse di masa depan 3. Janji harus di lakukan agar orang-orang jadi percaya kepada kita 4. Kita diberi waktu 24 jam, kita harus bisa membagi waktu mana waktunya untuk belajar mana waktu untuk bermain

55 Buku Di Bawah Meja Delisha Femalia Azzahra Sedetik setelah bel istirahat berbunyi, derap langkah kaki mulai beranjak pergi, Suara ramai pun perlahan mulai meninggalkan isi telingaku selagi menutup lembar buku Fisika. Kini kelas terdengar sunyi. Ku selipkanlah buku itu dibawah meja didekat alat tulis lainnya.”Huuh, selesai juga.”hela nafas lega terbentuk dari mulutku. Dari ujung kelas Aku bisa mendengar Cashya mengajakku untuk pergi jajan “Yurika, jajan Yuk, nanti kita duduk di tempat biasa ya!” suara Cashya menggema dari sudut kelas. “Ayo! Mau jajan apa? Bakso bakar, batagor, atau Mi ayam?” Tanya ku selagi bersiap untuk keluar dari kelas. “Bakso bakar saja deh, lagipula Mie ayam di jam segini pasti sudah ludes dibeli Dika dan kawan-kawan nya itu.” Jawab Cashya yang juga menghampiri ku. “Baiklah kalau begitu.” Aku mengangguk sambil mengacungkan jempol. Cashya ada benarnya juga. Di sekolahku, sudah biasa makanan berat seperti Bakso, Mie Ayam dan Nasi uduk pasti habis di sepuluh menit jam pertama Istirahat. Mungkin karena makanan kantin lebih enak? Aku lebih percaya kalau membawa bekal hanya akan menambah beban di tas mereka (buku pelajaran nya banyak sekali sih) Selagi Aku dan Cashya menyusuri Koridor sekolah, Tak jarang kita melihat banyak Murid duduk di sepanjang Koridor membahas apa saja yang ada di kepala mereka sekarang. bukan berarti Koridor sekolah tidak ramai saat jam Istirahat. Para Murid suka bermain permainan papan untuk meredakan pusing kepala yang sedang dialami (Pasti dari pelajaran Bu Eli, Duh sebut namanya saja Aku sudah merinding sebadan badan!).

56 Setibanya di kantin, aroma gurih kuah bakso bercampur dengan manis Es teh langsung menyambutku. Hampir setiap sudut kantin dihiasi oleh seragam berwarna batik biru keabuan. Bising suara dari mulut ke mulut bercampur aduk dengan hawa panas dari cuaca. Banyaknya siswa yang berkumpul disana, Membuatku dan Cashya berkali kali meminta maaf menyenggol bahu murid lain yang sedang mengantri. Untungnya, Warung Pak Ben tak terlalu ramai saat itu. Tanpa buang waktu Cashya segera mengambil antrian, sementara aku pergi ke tempat biasa untuk menandai kalau “tempat ini sudah diambil” “Yurika, Dapet nih Bakso bakar nya!” “Asyikk tinggal makan deh” baru tanganku menyentuh sisi samping plastik, Bakso bakarnya ditarik lagi. “Loh loh, kok ditarik sih? Aku mau makan tau lapar nih!” “Yeee ini gak gratis kali. Bayar dulu dong.” Dasar Cashya pelit. Walaupun terpaksa, aku tetap memberi uangku untuk mengganti uang Cashya. Aku pun merebut kembali Bakso bakar dari tangan Cashya Dan melahapnya. Tempat biasa yang dimaksud oleh Cashya adalah dibawah pohon Angsana. Rindang yang dihasilkan oleh pohon ini buat Aku, Cashya, dan murid lainnya senang dan akhirnya memilih tempat ini untuk berbagai jenis kegiatan mereka. Pohon Angsana sudah menyelamatkan berapa banyak Murid dari terik panas, dingin hujan, atau amukan Bu Eli (Ups!). “Oh iya Yurika, Aku lupa kasih tahu kamu sesuatu” Penasaran dengan omongan Cashya, Aku segera menelan 3 bakso yang tadi sedang ku kunyah. “Tentang apa?” “Ujian Fisika.” Cashya menjawab santai.

57 Makanku terhenti mendengar kata “Fisika.” serasa tenggorokanku kering untuk menelan bakso yang sedang ku kunyah. Wajahku pucat seketika. Sekarang, yang ada di kepala ku hanya ada satu. “KENAPA KAMU GAK BILANG KE AKU SEBELUM INII?!” “Loh? Bu Eli belum kasih tahu kamu? Senin kemarin saat Kamu gak hadir, Aku minta tolong ke Bu Eli untuk sampaikan Yurika kalau hari Rabu akan ada ujian Fisika.” Lagi, Cashya hanya menjawab santai. “Lagipula pelajaran Fisika yang satu ini gampang kok, rumusnya pendek gak ribet seperti pembelajaran tahun lalu.” “TETAP SAJA FISIKA TETAP FISIKA!” di titik ini Aku sudah benar benci sebenci benci nya dengan fisika. Bakso bakar yang awalnya hangat dan nikmat, kini sudah dingin dan benyek teremas olehku. Kepalaku tidak bisa menerima fakta kalau besok adalah ujian fisika ASLI. “Tenang aja Yurika, percaya deh mudah kok pelajarannya. Pulang sekolah mau belajar bersama gak nih? Sekalian kita bisa main kerumahku.” “Boleh sih…. Tapi….” Nada suraku berubah ragu Mendadak Cashya menarik tanganku “Deal ya Pulang sekolah kita kumpul disini setelah itu kita bisa main kerumahku. Aduh! Aku lupa sudah janji dengan Bu Amel untuk tugas karya menulis, Aku duluan ya Yurika…!” Seru Cashya melangkah menjauh sambil melambaikan tangan padaku. Sejujurnya Aku bukannya mau menolak ajakan Cashya, Aku Cuma tak mau jam pulang sekolah ku yang harusnya bisa santai dan rileks tergantikan dengan melirik tiap halaman buku “Fisika” itu. Akhirnya Aku mengambil keputusan untuk menolak ajakan Cashya, sebagai gantinya Aku bisa belajar mandiri di rumah. Ya itu ide yang bagus! Langit biru sekarang sudah terbentuk jingga. Daun berterbangan di udara hingga jatuh ke tanah. Pagar depan sekolah sudah mulai dibuka.

58 Para murid bersiap menghampiri tas mereka untuk pulang ke rumah masing- masing. Aku pun juga sudah bersiap melangkah kan kakiku untuk keluar kelas, Namun tiba tiba Cashya menepuk kedua pundakku untuk mengajak belajar bersama seperti yang ia katakan pada jam istirahat sebelumnya. “Ayo kita belajar di bawah pohon Angsana seperti biasa!” ujar Cashya sembari membawa setumpuk latihan soal Fisika. Aku memaksakan senyum tipis “Aduh, maaf ya Cashya… Aku lupa hari ini Ibuku meminta untuk…. Ehmm… Untuk…Bantu masak ikan tongkol, Iya! Ikan tongkol, walaupun Aku gak suka masak sih hehe… tapi Ibuku minta tolong jadi, jadi… Aku gabisa belajar bareng sama kamu… maaf ya Cashya…” Berbohong ternyata tak segampang itu ya “Eh? Serius.? yahh kita gak bisa belajar bareng dong… yasudah lain kali saja, semangat ya bantu ibu kamu…” Cashya terdengar kecewa. Rasa bersalah mulai memenuhi isi pikiran ku. Harusnya aku katakan saja yang sebenarnya pada Cashya, tapi kalau ku katakan alasanku yang sebenarnya Ia bisa marah. Ah sudahlah, yang penting Aku ada waktu untuk bersantai di rumah! “Assalamualaikum, Yurika pulang…” Aku spontan mengucapkan salam sesampainya di rumah. Tas ransel punggung ku langsung lempar ke sofa, sementara tas bekal ku taruh di meja depan televisi. “Walaikumsalam. Udah bagus tahu Kamu ngucapin salam, tapi tas punggung dan tas bekal mu jangan ditaruh sini juga kali.” “Bener tuh, awas minggir kita mau duduk. Kamu ke atas saja sana!”

59 Kenapa yang menyambut harus Kakak- kakakku sih? Kasih Aku waktu sebentar dong untuk istirahat! Dua kakakku ini kembar. Kakak nomor satu namanya Ricky, setelahnya Kakak nomor dua bernama Ricko. Aku beda tiga tahun dengan mereka. Mereka berdua gak terpisahkan satu sama lain. Ke sekolah bareng, ke kantin bareng, ke semua tempat bareng. Tapi yang paling membuatku jengkel…. “Pulang sekolah tuh mandi, bukannya malah rebahan” “Ih Yurika jorok pulang sekolah gak mandi, kalah tahu sama kucing” Mereka saling sahut menyahut mengejekku! “Memangnya kucing masuk sekolah?” Aku balas Tanya “Enggak sih, Cuma kucing aja mandi masa kamu enggak?” Jawab kakak ke satu ku alias Ricky. Mereka pun tertawa melihat ekspresi kesal yang terlihat di wajahku. Muak dengan mereka, Aku langsung menyambar Tas punggungku dan langsung menuju ke lantai atas. Tak terasa malam sudah tiba. Aku menghabiskan waktu sore dengan bermain game yang ada di ponselku. “Tring” notifikasi pesan muncul di atas layar ponsel. “Pesan apa ini?” Aku mencoba untuk membacanya. Dan ternyata itu pesan dari Cashya “Hai Yurika! Kamu sudah belajar untuk ujian fisika besok?” ASTAGA AKU BELUM BELAJAR!! Aku mengabaikan pesan dari Cashya dan langsung membuka Tas punggung yang ku letakkan di samping meja belajar. Ku obrak abrik lah Tasku demi mencari buku paket Fisika. Tapi dari sekian banyak nya buku tak ada satupun tanda buku Fisika ku disana. Aku mulai panik “Aduh, dimana ya? Harusnya ada disini…” Gumamku. “Jangan jangan ada di sekolah ya? Hmm….” Aku memutar otakku mencoba mengingat dimana terakhir kali aku menaruh buku itu. Dan ada satu ruangan yang terlintas di pikiranku “YA AMPUN

60 ADA DI BAWAH MEJA AKU LUPA MENGAMBILNYA!!” rupanya teriak yang keluar dari Mulutku terdengar sampai kamar Kakak. Suara Dentuman pintu terdengar terbuka, ” Suara mu pelankan dong, Kakak gak bisa fokus belajar nih!” bentak Kakak ke 2 ku. Secara mendadak Aku memeluk Kakakku, Karena kaget kakakaku hampir terjatuh ke arah belakang. Di saat itu Aku sudah sangat amat bingung dan ditambah panik. Buku paket fisika tertinggal di kelas, Aku tidak bisa melihat materi lengkap nya. Bagaimana kalau Aku dimarahi Bu Eli karena tidak belajar? Dengan suara yang tersedu sedu aku bilang ke Kakakku “Kak… tolong aku bagaimana aku bisa belajar tanpa buku paketku….” Tentunya kakakku tidak mengerti. “H-hah buku apa sih?? Kenapa tiba tiba Kamu peluk Kakak? Lepasin gak!” Terpaksa aku harus menjelaskan dengan lebih detail sekarang. “Besok aku ujian Fisika, Tapi bukunya tertinggal di kelas Aku harus bagaimana?” “Hmmm, jadi begitu ya, Tapi kan Kamu juga bisa belajar lewat internet.” Ujar Kakak. “Kalau di Internet biasanya gak lengkap kak, ditambah Aku lebih nyaman belajar dengan buku” Jawabku. “Kamu mau dapat nilai pas- pasan tidak? Tentu saja aku menjawab “Ih, tidak lah siapa yang mau juga” “Kalau tidak mau belajar saja sana Kakak temani dehh…. Tapi kali ini saja ya” Mendengar itu Aku tidak bisa menolak, Aku terpaksa belajar tanpa menggunakan Buku paket ku. Aku memutuskan untuk Belajar di Ruang tamu, dan tentunya ditemani Kakakku. Aku menuliskan apa yang muncul sesuai dengan apa yang Aku cari. Semenit, Tiga puluh Menit, 1 jam, 2 jam berlalu, Tapi ada 1 hal yang mengganjal di pikiranku. “Kak, Aku mau Tanya” Aku segera bertanya pada Kakak untuk mendapat jawabannya.

61 “Apa lagi” Jawabnya. “Aku hanya penasaran tapi apa sih gunanya belajar?” Kakakku malah Tanya Balik “Kenapa tiba tiba bertanya begitu?” “Kan sudah kubilang Aku hanya penasaran!” Aku mulai merengek untuk mendapatkan jawabannya. “Baiklah kalau Kamu ingin tahu banget, Belajar mengajarkan kita untuk sabar dan tekun. Tidak semua itu hal bisa langsung dikuasai. Kadang kita gagal, kecewa, bahkan ingin menyerah. Tapi justru dari proses itu kita ditempa menjadi pribadi yang lebih tangguh. Melalui belajar, kita juga membuka jendela ke dunia yang luas. Ilmu membuat kita memahami bagaimana sesuatu bekerja mulai dari cara tumbuhan tumbuh hingga bagaimana masyarakat berkembang. Dengan belajar, kita tidak mudah tertipu oleh informasi palsu atau pandangan sempit” Jelasnya. ” Wow, Aku terkesan ternyata Kakakku juga bisa menjelaskan sesuatu yang sangat amat bijak ya” “Yee makannya jangan meremehkan ku” Besoknya Yurika menjalankan ujian dengan mengetahui bahwa Belajar bukan sekadar kewajiban, tapi suatu perjalanan hidup. Ia mengajarkan kita berpikir, merasa, dan bertumbuh. Dunia akan terus berubah, tetapi selama kita mau belajar, kita tidak akan pernah benar-benar tertinggal.

62 TENTANG PENULIS Nama : Laila Fitri (Guru) Instansi : SMPT Darul Abidin Nama : Kharaenk Galezunk Maqrizhaqhy (Siswa) Instansi : SMPIT Darul Abidin Nama: Kania Humaira Irawan (Siswa) Instansi: SMPIT Darul Abidin Nama: Mochamad Rakha Athaya (Siswa) Instansi: SMPIT Darul Abidin Nama: Delisha Femalia Azzahra (Siswa) Instansi: SMPIT Darul Abidin

63