Sulami Sibua, Draft Jurnal KEMBARA Sinta 2

Penerapan Model Explisit Instruction bagi Peningkatan Keterampilan Menjelaskan pada Pengajaran Mikro, Prodi PBSI Universitas Khairun 1*Sulami Sibua, 2 Nasrulla La Madi Prodi. Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Khairun. Jl. Bandara Babulla, Akehuda Ternate, Indonesia. Kode Pos: 97735 *Corresponding Author e-mail: sulamisibua71@gmail.com Received: Month Year; Revised: Month Year; Published: Month Year Abstract Pengajaran Mikro adalah salah satu mata kuliah yang mempersiapkan mahasiswa memliki kemampuan pedagogik, dalam hal ini adalah untuk membentuk mahasiswa agar terampil mengajar. Salah satu kompetensi guru yang penting dikuasai mahasiswa dalam kegiatan mengajar adalah keterampilan menjelaskan. Rendahnya kemampuan menjelaskan terlihat dari masih banyak mahasiswa saat praktek mengajar masih dengan cara menghafal kata-kata atau materi tanpa menguraikan secara detail maksud teori atau prinsip, mengajar hanya dengan membaca PPT, pengunaan kata dan imbuhan yang tidak tepat, penjelasan yang tidak sistematis, penjelasana disertai contoh dan ilustrasi yang kurang jelas, dengan gesture dan mimic yang monoton. Keadaan ini sangat urgen, karena menyebabkan pembelajaran menjadi tidak menarik, monoton dan tidak efektif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menjelaskan mahasiswa saat melakukan praktek pembelajaran pada mata kuliah Pengajaran Mikro, yang merupakan satu dari delapan keterampilan mengajar yang harus dikuasai seorang calon guru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif, dengan objek penelitian adalah mahasiswa yang memprogram mata kuliah Pengajaran Mikro, kelas A dan kelas B sebanyak 27 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan tes mengajar. Data diperoleh lewat hasil observasi praktek mengajar mahasiswa tahap I dan tahap II. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan rumus presentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keterampilan menjelaskan mahasiswa pada tahap II setelah peneliti menerapkan model explicit instruction pada praktek mengajar tahap I. Terlihat dari hasil penilaian keenam aspek keterampilan menjelaskan yaitu di tahap I rata-rata yang berkualifikasi baik sebesar 50% meningkat menjadi 92% di tahap II. Keywords: keterampilan menjelaskan; explicit instruction; Pengajaran Mikro How to Cite: First author., Second author., & Third author. (20xx). The title. Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmu Pendidikan: e- Saintika, vol(no), xx-xx. doi:https://doi.org/10.36312/e-saintika.vxix.xxx https://doi.org/10.36312/e-saintika.vxix.xxx CopyrightΒ© xxxx, First Author et al This is an open-access article under the CC-BY-SA License. INTRODUCTION Pengajaran Mikro adalah mata kuliah yang dilaksanakan di semester empat dengan tujuan membentuk mahasiswa yang memiliki berbagai keahlian atau keterampilan dasar mengajar dan penerapannya dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Salah satu tugas pokok guru dalam Undang-undang Sisdiknas tahun 20023, adalah melaksanakan pembelajaran atau megajar. Sebagai pekerjaan professional, salah satu hal penting yang harus dikuasai guru adalah 8 keterampilan mengajar, yang salah satu diantaranya adalah ketrampian menjelaskan. Penguasaan keterampilan menjelaskan tentu sangat membantu guru dalam upaya membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. Mata kuliah Pengajaran Mikro selain membekali mahasiswa semua kompetensi guru secara teoritis, juga melaksanakan praktik mengajar secara langsung yang dilaksankan di ruang kelas, di depan teman mahasiswa lainnya dalam kelompok kecil, hingga kelompok yang lebih besar. Mahasiswa melaksanakan praktek mengajar dengan memperhatikan semua aspek keterampilan mengajar. Ketrampilan meenjelaskan adalah keterampilan menyajikan bahan belajar yang diorganisasikan secara sistematis sebgai satu kesatuan yang berarti sehingga

mudah dipahami oleh peserta didik (Damanik,dkk., 2021) Mata kuliah ini adalah mata kuliah pertama diterima mahaiswa yang tujuannya mempersiapkan mahasiswa bisa mengajar. Sering ditemui banyak mahasiswa sangat kesulitan dalam ketrampilan menjelaskan. Kurangnya rasa percaya diri mahasiswa dalam mengungkapkan ide atau pikiran mereka sendiri dan menanggapi pertanyaan mahasiwa lain yang berperan sebagai siswa, banyak yang mengajar menggunakan teknik hafalan atau hanya membaca isi power poin yang ditayangkan, penggunaan kata imbuhan yang kurang tepat, juga gesture tubuh dan mimic yang monoton sehingga tidak menarik saat menjelaskan bahan ajar. Penerapan model Explicit Intruction (pengajaran langsung) dipilih karena sangat membantu mahasiswa dalam proses berpraktik. Selain menguatkan mahasiswa dari sisi teori, juga sangat membantu mahasiswa bisa lebih mengembangkan keterampilan mengajar mereka lewat praktik langsung di kelas dilanjutkan kegiatan reflektif atas kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa lain dan dievaluasi oleh dosen. Masalah utama dalam pelaksanaan prakrek mengajar adalah dosen seringkali lebih menkankan pada bagaimana praktek pembelajaran sudah sesuai dengan tahapan atau urut-urutan praktek pembelajaran, mulai dengan kegiatan membuka pelajaran, inti pembelajaran dan kegiatan menutup pelajaran, apakah semua komponen dari setiap tahapan sudah dilaksanakan atau belum. Padahal hal penting yang perlu juga diperhatikan adalah penguasaan materi dan proses menjelaskan fakta, prosedur, dan prinsip dari materi yang diajarkan karena menjadi penentu keberhasilan pencapaian pembelajaran pada tingkatan HOTS. Untuk mengatasi masalah tersebut, saat pelaksanaan Pengajaran Mikro akan digunakan model Explicit Instruction dalam upaya meningkakan keterampilan menjelaskan mahasiswa. Model Explicit Instruction merupakan model pembeljaran yang dilaksanakan secara langsung, mahasiswa berpraktek secara langsungdan dievaluasi dosen dan mahasiswa lain sehingga meningkatkan keterampilan yang diinginkan. Keunggulan yang dimiliki model pembelajaran explicit instruction yaitu konsep pembelajaran yang menekankan pada pemahaman konsep secara keseluruhan yaitu pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah serta penyampaian materi dengan bahasa yang jelas dan ringkas, sehingga dengan awalnya terbentuk pemahaman secara factual (kognitif), kemudian pemahaman terhadap tahapan prosedural (keterampilan) (Nisa, H., & Widarwati, S., 2021) Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menjelaskan mahasiswa saat melakukan praktek pembelajaran pada mata kuliah Pengajaran Mikro, yang merupakan satu dari delapan keterampilan mengajar yang harus dikuasai seorang calon guru. peneliti akan memfokuskan pada upaya melakukan peningkatan keterampilan menjelaskan pada mahasiswa yang melakukan praktek pembelajaran mikro lewat latihan-latihan menejalaskan materi dengn ilustrasi yang lebih memudahkan peserta belajar lebih mudah memahami dan bisa melakukan praktek atau terapan dari materi yang diajarkan. Tentu saja berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. METHODE Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuntitatif. Peneltian deskriptid adalah penelitan yang dilakukan untuk memberikan gambaran secara jelas tentang objek penelitian terkait proses dan hasil penelitian dengan menggunakan kata atau angka. Arikunto dalam Hidayat R, dkk. (2021) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang hanya menggambarkan keadaan atau status fenomena. Analisis data dilakukan secara kuantitatif, setiap data dikonversi ke dalam bentu angka, dianalisis dengan menggunakan rumus presentasi. Upaya mengungkapkan hasil keterampilan menjelaskan mahasiswa, dilihat dari enam aspek atau indikator penilaian yang tergambar pada table berikut ini:

Table 1. Rubrik Penilaian Ability Type Criteria Good Not yet good Kecukupan Materi Ajar Kesesuaian contoh /ilustrasi Tempo Berbicara Mimik/Gestur Kemampuan Menjabarkan/me nguraikan materi Pilihan Kata Pengambilan data penelitian dilaksanakan sebanyak dua tahap saat pelaksanaan perkuliahan Pengajaran Mikro pada mahasiswa semester IV Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia sebanyak 27 mahasiswa. Tahapan pengambilan data pertama dilakukan saat mahasiwa melaksanakan praktek mengajar setelah mereka melalui tahapan kegiatan perkuliahan terkait komponen Praktek mengajar, 8 keterampilan mengajar dengan menganalisis tayangan video mengajar guru-guru bahasa Indonesia di You tube. Setiap mahasiswa ditugaskan mengajarkan 1 topik bahasan mulai membuka, inti, hingga menutup pelajaran. Sebelum mengajar, mahasiswa diminta untuk menyiapkan perangkat pembelajaran berupa Modul Ajar, LKPD, bahan Ajar, dan media pembelajaran. Praktek mengajar dilaksanakan pada pertemuan ke-11 hingga 16. Praktek pembelajaran dilaksanakan di Laboratorium Micro Teaching Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan di ruang kuliah Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, karena fasilitas pendukung di laboratorium micro teaching kurang memadai. Setiap mahasiswa mendapat kesempatan mengajar maksimal 30 menit. Satu pertemuan diisi dengan praktek mengajar dua sampai tiga mahasiswa diikuti dengan pengamatan, evaluasi dan refleksi. Sedangkan penilaian praktek mengajar tahap kedua dilaksanakan lewat video pembelajaran yang dibuat oleh mahasiswa karena sudah memasuki waktu libur semester. Pada pelaksanaannya, mahasiswa yang mengajar berlaku sebagaimana layaknya guru mengajar, dan mahasiswa lainnya bertindak sebagai peserta belajar layaknya seorang siswa yang belajar, dan dosen/ peneliti sebagai pengamat, evaluator dan mediator dalam kegiatan ini dengan fokus pada penerapan model Explisit Instruction (Pengajaran Langsung). Pengamatan saat mahasiswa melakukan praktek mengajar dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang berisi enam aspek penilaian dengan kualifikasi nilai mahasiswa diklasifikasi ke dua kategori yaitu baik dan kurang baik. Yang baik masuk di kualifikasi bagi mahasiswa yang mendapat skor 65 sampai 100, dan yang mendapat nilai 0 sampai 64 termasuk dalam kualifikasi kurang baik. Pengamatan paraktek mengajar dengan focus pengamatan pada keterampilan mengajar dilakukan oleh dosen, juga menggunakan pengamatan sejawat yaitu pengamatan yang dilakukan oleh sesama teman mahasiswa lainnya. Sehingga begitu mahasiswa selesai praktek, tidak hanya dosen saja yang melakukan evaluasi dan refleksi ke praktikan, tetapi sesama mahasiswa juga menyampaikan hasil evaluasi mereka.

Tahapan pelaksanaan penelitian ini lebih jelas dapat dilihat pada diagram berikut ini: Teknik analisis data menggunakan rumus presentase yang dikemukakan Arikunto (2002:83) Sebagai Berikut : Nilai = βˆ‘ π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘π‘’π‘Ÿπ‘œπ‘™π‘’β„Žπ‘Žπ‘› π‘ π‘–π‘ π‘€π‘Ž βˆ‘ π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘šπ‘Žπ‘ π‘–π‘šπ‘Žπ‘™ Hasil yang diharapkan adalah terjadi peningkatan keterampilan menjelaskan mahasiswa yang melaksanakan pengajaran Mikro dengan penerapan model Explicit Instruction. RESULTS AND DISCUSSION 1. Hasil Penilaian Praktek Mengajar Tahap Pertama Pengamatan dalam praktek mengajar meliputi kegiatan membuka, inti dan menutup pelajaran dengan memperhatikan keterampilan menjelaskan mahasiswa. Aspek penilaian pada praktek mengajar bagi pengamatan kemampuan menjelaskan mahasiswa yaitu Kecukupan Materi Ajar, Kesesuaian contoh/Ilustrasi, Tempo Bicara, Mimik dan Gestur, Kemampuan menjabarkan Materi Ajar, dan Pilihan Kata. Hasil pengamatan proses menjelaskan oleh mahasiswa sangat bervariasi pada setiap aspek penilaian. Adapun hasil pengamatan tahap ini dapat dilihat pada penjelasan tabel berikut ini: Tabel 2. Hasil Pengamatan Kemampuan Menjelaskan Mahasiswa pada Mengajar Tahap Pertama Ability Type Criteria Good Not yet good Kecukupan Materi Ajar 66,7% (18 orang) 33,3% (9 orang) Kesesuaian contoh /ilustrasi 11,1%( 3 orang) 88,9% (24 orang) Observasi Awal Penyiapan Proposal dan Instrumen Penelitian Pemeaparan Konsep Keterampilan Menjelaskan Praktek Mengajar tahap I dan Penerapan Model Explicit Instruction Analisis Data Hasil Pengamatan Tahap I Praktek Mengajar tahap II Analisis data Praktek Mengajar tahap II Kesimpulan

Tempo Berbicara 81,5 %( 22 orang) 18,5% (5 orang) Mimik/Gestur 40,74% (11 orang) 59,3 % (16 orang) Kemampuan Menjabarkan/me nguraikan materi 25,9% ( 7 orang) 74,1% (20 orang) Pilihan Kata 74,1% (20 orang) 25,9% (7 orang) Data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa (66,7%) saat mengajar sudah mampu mengembangkan materi yang akan diajarkan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan masih ada 33,3 % mahasiswa yang masih kurang dalam mengembangkan materi ajar. Yang dimaksud dengan masih kurang di sini adalah bahwa untuk membantu peserta belajar bisa mencapai tujuan, perlu ada penambahan topik maupun sub topik tertentu, yang bila tidak ada, sangat mengganggu upaya untuk memahamkan konsep tertentu. Aspek kesesuaian contoh atau ilustrasi merupakan hal yang paling banyak tidak dilakukan saat mahasiswa melakukan kegiatan mengajar di tahap ini (88,9%). Sebagian besar mahasiswa mengajar bersifat teoritis hanya terpaku pada upaya menyelesaikan materi ajar yang disiapkan tanpa ada contoh atau ada contoh yang diberikan tetapi tidak cukup untuk memperjelas materi, dan juga ada contoh yang diberikan tapi terlalu umum dan tidak kontekstual, sehingga pembelajaran semakin abstrak, tidak konkrit. Hanya ada 11,1% mahasiswa yang mengajar dengan contoh yang sesuai materi, konkrit dan kontekstual. Kebalikan dari aspek tersebut, Tempo berbicara sebagian besar mahasiswa sudah bagus, terlihat ada 81,5% yang tempo berbicara mereka sudah baik. Sementara ada 18,5 % mahasiswa mengajar terlalu terburu-buru atau terlalu cepat. Mimik atau gestur mahasiswa saat mengajar sangat terkait dengan rasa percaya diri mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki rasa percaya diri tinggi terlihat mengajar dengan mimik dan gesture yang baik (40,74%) dan yang kurang (59,3%) memiliki mimik dan gestur yang ragu-ragu cenderung kaku. Proses menjelaskan materi menjadi tidak menarik, suasana kelas berubah tegang, peserta belajar juga ikut tegang, dan tidak terbangun interaksi yang nyaman antara pengajar dan peserta belajar. Ujung-ujungnya pengajar mempercepat penyajian materi agar proses mengajar cepat selesai, walaupun dosen sudah berupaya mencairkan suasana kelas agar lebih nyaman dengan joke-joke yang membuat suasana menjadi hangat kembali. Kemampuan menjabarkan materi termasuk salah satu aspek yang sebagian besar mahasiswa jarang memperlihatkannya. Sebagian besar dalam menyampaikan materi hanya dengan cara membaca materi yang ada di PPT. Hanya 25,9 % mahasiswa yang mengajar dengan menguraikan, menganalisis setiap poin yang dianggap sulit dipahami peserta belajar. Bahkan ada mahasiswa yang hanya membaca dan kurang paham dengan apa yang dibaca. Sehingga ketika ada pertanyaan dari peserta belajar, pengajarnya tidak mampu menjelaskan materi yang sebenarnya sudah jelas di PPT. Atau sebaliknya ada pengajar yang bertanya dengan pertanyaan yang membingunkan, sehingga ketika ada peserta belajar yang bertanya apa maksud pertanyaan tersebut, pengajar sendiri bingun menjelaskan maksud pertanyaannya. Artinya, kecukupan materi ajar bila tidak ditunjang dengan pemahaman yang cukup dan mendalam, tentu saja akan menyulitkan bagi pengajar untuk menjabarkan atau menguraikannya. Akibatnya peserta belajar sulit untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran. Aspek pilihan kata termasuk aspek yang sudah baik dikuasai mahasiswa. Terdapat 74.1% mahasiswa yang pilihan kata dalam berbicaranya sudah bagus, dan hanya 25,9% yang masih kurang. Terlihat dari

penggunaan kata yang kurang bervariasi, juga mengulang-ulang kata tertentu, penggunaan prefik di- yang masih keliru, serta penggunaan suatu istilah tidak sesuai tempatnya di dalam kalimat. 2. Penerapan Model Explisit Instruction ( Pengajaran Langsung). Penerapan model eksplisit intstruction dilaksanakan saat mahasiswa melaksanakan praktek mengajar tahap satu. Sebelum memulai praktek mengajar, mahsiswa dijelaskan terkait tahapan praktek mengajar dan bagaiamana dosen akan menerapkan model ini. Jadi sebelum mengajar, semua mahasiswa diminta untuk mengikuti pembelajaran dengan enjoi, ada dua mahasiswa yang ditunjuk sebagai pengamat utama yang akan mengomentari proses mengajar yang dilakukan temannya, sementara mahasiswa lain tetap sebagai pengamat juga bila nanti ada yang mau direfleksi, mereka juga akan diberi kesempatan untuk merefleksi praktek pembelajaran yang dilakukan temannya. Sebagai dosen pengampu mata kuliah Pengajaran Mikro sekaligus sebagai peneliti, telah menyiapkan lembar pengamatan untuk mengamati selain ketermpilan mengajar, juga fokus pada aspek-aspek pengamatan terkait keterampilan menjelaskan mahasiswa. Suasana perkuliahan dibuat senyaman mungkin agar bisa membantu mahasiswa tenang saat mengajar. Sekali-kali bila ada hal penting yang lupa dilakukan mahasiswa, peneliti langsung mengingatkan dengan cara yang baik agar bisa membantu fokus mahasiswa. Setelah mahasiswa menyelesaikan praktik mengajarnya, diberi aplos atau kata-kata positif agar semangatnya tetap terkendali. Bila praktek direkam, rekamannya diputar ulang agar praktikan bisa melihat lagi dan mengomentari dirinya sendiri dari aspek kelebihan dan kekurangan kegiatan mengajar yang dilaksanakan. Ketika tidak direkam, maka praktikan mengomentari dirinya terkait langkah-langkah mengajar dan kemampuan menjelaskan. Selanjutnya dikomentari oleh teman-teman mahasiswa, dan terakhir oleh dosen memberi penekanan pada aspek penting untuk memperbaiki kekurangan dan mempertahankan kelebihan mahasiswa, menyemangati mahasiswa agar lebih baik lagi saat mengajar dan menjelaskan di praktek mengajar tahap kedua. Mahasiswa diminta mencatat poin-poin yang harus diperbaiki. Hal penting yang harus diperhatikan agar mahasiswa bisa mengajar dengan lancar secara bergantian, adalah tetap mempertahankan suasana nyaman dan ceria dalam praktek perkuliahan. 3. Hasil Penilaian Praktek Mengajar Tahap Kedua Praktek mengajar tahap kedua dilakukan sekaligus menjadi penilaian akhir semester sehingga menjadi motivasi mahasiswa untuk melakukan kembali praktek menjadi lebih baik sesuai dengan catatan refleksi pada praktek mengajar tahap pertama. Kegiatan kedua ini dilakukan lewat pengambilan video karena sudah memasuki waktu libur perkuliahan semester genap 2024-2025, tetapi dengan tetap menghadirkan mahaiswa lain yang bertindak sebagai siswa sehingga suasana pembelajaran tetap terasa. Dengan video pembelajaran, waktu pengambilan data menjadi lebih efisien tanpa mengurangi efektivitasnya karena video yang dimasukkan adalah video tanpa melalui editing, apa adanya. Berbeda dengan jumlah mahsiswa pada tahap pertama praktek mengajar sebanyak 27 orang, pada praktek mengajar tahap kedua, mahasiswa yang melakukan praktek mengajar sebanyak 25 orang. Hasil analisis video praktek mengajar mahasiswa tahap kedua setelah melalui prakterk mengajar tahap pertama dengan pemberlakuan model eksplicit instruction, dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2. Hasil Pengamatan Kemampuan Menjelaskan Mahasiswa pada Mengajar Tahap Kedua Ability Type Criteria Good Not yet good Kecukupan Materi Ajar 96% (24 orang) 4% (1 orang)

Kesesuaian contoh /ilustrasi 100% ( 25 orang) 0% Tempo Berbicara 92% ( 23 orang) 8% (2 orang) Mimik/Gestur 80% (20 orang) 20% (5 orang) Kemampuan Menjabarkan/me nguraikan materi 84% ( 21 orang) 16% (4 orang) Pilihan Kata 100% (25 orang) 0% Data pada tabel 2 menunjukan terjadi peningkatan keterampilan mengajar dan menjelaskan oleh mahasisawa setelah melalui proses penerapan model explicit instruction. Data ini berdasarkan hasil penilaian dengan kriteria baik dan kurang pada setiap aspek penilaian. Terlihat adanya peningkatan kualitas maupun kuantitas pada setiap aspek kemampuan menjelaskan mahasiswa dibandingkan kemampuan menjelaskan mahsiswa pada praktek mengajar tahap pertama. Aspek kecukupan materi ajar yang sudah baik sebanyak 96% dan yang kurang hanya 4 persen. Pada aspek kesesuaian contoh atau ilustrasi, semua mahasiswa sudah bisa menjelaskan materi dengan contoh yang jelas dan kontekstual yang bisa membantu peserta belajar lebih mudah memahami dan mempraktekkan topik yang diajarkan. Tempo bicara mahasiswa juga lebih stabil sebanyak 92% dan hanya 8% yang tempo bicaranya masih terburu-buru. Selanjutnya mimik atau gestur mahasiswa saat megajar sudah banyak yang lebih natural yaitu sebanyak 80% dan masih ada 20% mahasiswa yang masih malu-malu atau tegang karena nervous. Kemampuan menjabarkan atau menguraikan materi sudah sangat meningkat. Hal ini sangat berhubungan dengan kesiapan materi atau penguasaan bahan pelajaran oleh mahsiswa yang lebih baik sehingga penjabaran poin-poin penting terkait konsep, ciri, prinsip, maupu struktur dari topik menjadi lebih konkrik dan mudah dipahami oleah siswa. Paling akhir aspek pilihan kata mahasiswa lebih tertata dan jarang ada lagi kata-kata tidak baku atau dialek, atau pengulangan kata-kata tertentu yang mengganggu konsentrasi peserta belajar. Agar lebih jelas peningkatan keterampilan menjelaskan mahasiswa pada praktek mengajar tahap pertama dan tahap kedua, dapat dilihat pada tabel perbandingan keterampilan menjelaskan pada praktek mengajar tahap pertama dan tahap kedua berikut ini:

Tabel 3. Perbandingan Kemampuan Menjelaskan Mahasiswa Berkualifikasi Baik pada Mengajar Tahap Pertama dengan Tahap Kedua Ability Type Criteria Tahap I Tahap II Kecukupan Materi Ajar 66,7% (18 orang) 96% (24 orang) Kesesuaian contoh /ilustrasi 11,1% ( 3 orang) 100% ( 25 orang) Tempo Berbicara 81,5% ( 22 orang) 92% ( 23 orang) Mimik/Gestur 40,74% (11 orang) 80% (20 orang) Kemampuan Menjabarkan/me nguraikan materi 25,9% ( 7 orang) 84% ( 21 orang) Pilihan Kata 74,1% (20 orang) 100% (25 orang) Rata-rata 50% 92% Data pada tabel di atas menggambarkan bahwa terjadi peningkatan pada semua aspek penilaian setelah penerapan model explicit instruction. 4. Pembahasan Hasil Penelitian Proses penerapan model explicit instruction memperlihatkan hasil yang positif dalam meningkatkan keterampilan mahasiswa ketika melaksanakan praktek mengajar pada mata kuliah Pengajaran Micro. Keunggulan penerapan model ini terlihat dari meningkatnya kemampuan menghubungkan materi ajar yang bersifat teoritis ke dalam jabaran contoh yang kontektual dan konkrit sehingga lebih memudahkan peserta belajar mempraktekkan atau mengerjakan latihan-latihan ketrampilan berbahasa dan bersastra. Pembelajaran bahasa mencakup penguasaan lima keterampilan berbahasa yaitu menyimak , memirsa, berbicara, membaca, dan menulis kebahasaan dan kesastraan yang tentu saja dalam pembelajaran dibutuhkan kemampuan guru dalam memodelkan atau memberikan contoh nyata agar peserta belajar dapat mempraktekkannya juga. Data menunjukkan naiknya kemampuan memberikan contoh atau ilustrasi yang sesuai dari yang awalnya hanya 11% yang bisa, menjadi 100% bisa. Demikian juga pengararuh positif juga terlihat pada kemamampuan mahasiswa dalam menguraikan atau menjabarkan materi yang awalnya hanya 25.9% karena sebagian besar cenderung menghafal kata perkata dari definisi atau struktur materi, juga hanya membaca PPT, setelah melalui tahapan evaluasi dan refleksi, meningkat kemampuan mahasiswa menjadi 84% sudah bisa menjabarkan materi yang dipaparkan lewat PPT. Keunggulan model explicit instruction dalam konteks penelitian ini adalah mahasiswa mengalami atau mengikuti evaluasi dan refleksi yang berulang selain dari hasil evaluasi dan refleksi diri sendiri maupun dari teman-teman yang lain. Artinya mereka melalui pengalaman berulang dan berbeda-beda kasus serta cara mengatasi masalah dari semua mahasiswa yang berpraktek sehingga mengakibatkan mahasiswa semakin paham bagaimana sebenarnya cara mengajar dan menjelaskan yang baik dan benar. Semua mahasiswa yang mengontrak mata kuliah Pengajaran Micro diwajibkan mengajar secara lengkap mulai membuka hingga menutup pelajaran dengan menggunakan media mengajar seperti PPT, video, LKPD, maupun teks puisi atau cerpen yang dibagikan kepada peserta belajar.

Salah satu aspek penting yang harus selalu diperhatikan dan dijaga adalah stabilitas suasana perkuliahan yang penuh kenyamanan dan tidak penuh tekanan ( salah atau benar) ketika berlangsung praktek mengajar atau saat dilakukan evaluasi dan refleksi mengajar mahasisiwa. Bila mahaisiswa tidak nyaman akan berakibat berkurangnya konsentrasi dan kepercayaan diri mahasiswa yang tentu akan berkibat pada praktek mengajar yang penuh tekanan, dan tidak berjalan alami karena mahasiswa semakin nervous. Sebaliknya bila perkuliahan berjalan dengan nyaman dan dosen terus memeberi kesan bahwa kekeliruan merupakan hal yang normal bagi pemula, tentu prkatek mengajar yang dilaksanakan lebih maksimal. Kepercayaan diri menjadi kunci keberanian dan keberhasilan mahasiswa dalam melaksanakan praktek mengajar di mata kuliah Pengajaran Micro atau mata kuliah lain yang mewajibkan mahasiswa melakukan praktek mengajar. Hasil pengamatan menunjukkan rasa percaya diri dan motivasi mahasiswa berpengaruh terhadap mimik dan gestur mahasiswa, berpengaruh pada kemampuan memguraikan materi, tempo berbicara, dan kemampuan memberikan contoh atau ilustrasi ketika mengajar. Tahapan penerapan model ini bisa meningatkan keterampilan menjelaskan mahasiswa karena melalui tahapan yang berjenjang dan intens yaitu diawali dengan penerapan pemahaman tentan bagaimana mengajar dengan dengan menguasai keterampilan menjelaskan yang baik setalah itu, mahasiswa dibimbing dalam pengembangan bahan ajar dan pengembangan media pembelajaran, setelah itu mahasiswa melakukan prakek mengajar terbimbing oleh dosen dengan menerapkan proses dari model expicit instruction, memanfaatkan instrumen pengamatan yang sudah disiapkan dosen. Mahasiswa kemudian mengajar dengan bahan ajar yang sudah disiapkan, media pembelajaran dan LKPD. Setelah mengajar selanjutnya mahasiswa yang mengajar menjelaskan kelebihan dan kelemahannya saat mengelola pembelajaran, termasuk kemampuan menjelaskan, kemudian 2 mahasiswa lain memberikan hasil penilaian mereka, dan ditutup oleh evaluasi dan refleksi dosen dengan tetap memberikan penguatan dan motivasi agar mahasiswa jelas apa yang harus diperbaiki dan tetap percaya diri untuk mengajar di tahap berikutnya. Salah satu kelemahan penggunaan model Explicit instruction adalah dari aspek waktu. Pembelajaran dengan menggunakan metode tugas mandiri akan memakan waktu yang lama untuk melihat proses praktek mahasiswa dari awal hingga akhir karena harus melaihat prosesnya secara komprehensif. Selain itu cenderung menimbulkan kejenuhan bagi mahasiswa yang sudah melakukan praktek, karena harus melalui pembelajaran dengan metode yang berulang. Unruk mengatasi kejenuhan mahasiswa, dapat dilakukan dengan melibatkan secara berkala semua mahasiswa dalam melakukan refleksi. CONCLUSION Berdasarkan uaraian pada hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keterampilan menjelaskan mahasiswa setelah digunakan model explicit instruction. Hal ini terlihat dari hasil perbandingan praktek mengajar mahasiswatahap I bila dibandingkan dengan hasil praktek mengajar mahasiswa tahap II. 2. Model explicit instruction sangat sesuai digunakan dalam meningkatkan aspek psikhomotor siswa. Proses mengulang-ulang informasi, pemberian contoh yang nyata, dan perbaikan keterampilan saat tahapan evaluasi dan refleksi dari setiap mahasiswa akan lebih memperkuat memori dan menunjang keberhasilan perbaikan kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan oleh mahasiswa.

RECOMMENDATION Berdasarkan hasil penelitian dapat direkomendasikan agar dilakukan penelitian terkait peningkatan atau pengembangan rasa percaya diri peserta didik atau mahasiswa dalam berkomunikasi atau berbicara di depan umum. Rasa percaya diri sangat menentukan keberhasilan berkomunikasi. Author Contributions Terima kasih yang tidak terhingga disampaikan kepada Bapak Rektor Universitas Khairun atas program PKUPT atas dukungan dan motivasi hingga terselesaikannya penelitian ini. Juga ucapan yang sama penulis sampaikan kepada Bapak Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Khairun yang juga telah memberikan bantuan finansial bagi terlaksnanya penelitian ini. REFERENCES 1. Amin & Sumendap. 2022. 164 Model Pembelajaran Kontemporer. Bekasi: Pusat Penerbitan LPPM Universitas Islam. 2. Annisa, F., Annisa, R. N., Yunita, T., Rafifah, T., & Vichaully, Y. (2023). Peran MataKuliah Microteaching dalam Mengembangkan Keterampilan Guru Mengajar di Kelas. Journal on Education, 5(2), 1564-1569. 3. Asrivi, Q. E. S., Ulum, M. M., Umami, A. R., & Riani, H. S. (2024). Urgensi Microteaching Terhadap Keterampilan Menjelaskan dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Calon Guru MI/SD. Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 8(3), 947-960. 4. Damanik, Rabukit, dkk. 2021. Keterampilan Dasar Mengjar Guru. Medan: Umsu Press. 5. Hidayat, R., Nugroho, S., & Iqbal, R. (2021). Persepsi Guru Pendidikan Jasmani SMP Negeri Se Purwakarta Terhadap Pembelajaran Jarak Jauh Pada Masa Pandemi. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan , 7 (8), 392-296. 6. Isnaniah, I., & Imamuddin, M. (2022). Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran Mahasiswa Calon Guru Matematika pada Matakuliah Microteaching. JURING (Journal for Research in Mathematics Learning), 5(3), 147- 156. 7. Jundi, M., & Yasin, Z. (2020). Penilaian Sejawat dalam Pembelajaran Keterampilan Dasar Mengajar bagi Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab pada Mata Kuliah Pembelajaran Mikro. Maharaat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 2(2), 51-70. 8. Nisa, H., & Widarwati, S. (2021). Pengaruh Model Pembelajaran Explicit Instruction Terhadap Kemampuan Unjuk Kerja Menggambar Proporsi Tubuh. Prosiding Pendidikan Teknik Boga Busana, 16(1). [9] Syafi'i, M. (2014). Implikasi Pembelajaran Mikro Dalam Pengembangan Keterampilan Mengajar Di Madrasah. Religi: Jurnal Studi Islam, 5(2), 228-250.

9. Semarayasa, I. K., Spyanawati, N. L. P., & Satyawan, I. M. (2021). Penggunaan Video Reflektif Untuk Meningkatkan Keterampilan Menjelaskan Pada Mata Kuliah Microteaching: Persepsi Mahasiswa Penjaskesrek. In Prosiding Seminar Dan Lokakarya Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta (Vol. 4, No. 01, pp. 497-510). 10. Sibua & Suharna. Meningkatkan Kemampuan Literasi Numerasi Mahasiswa Melalui Media Elektronik Flip Bookmaker. Jurnal Pendidikan Guru Matematika. (Vol.4 no.2, hal.172- 176)

Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmu Pendidikan: e-Saintika https://journal-center.litpam.com/index.php/e-Saintika/index Month Year Vol. X, No. X e-ISSN: 2615-6881 pp. XX-XX Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmu Pendidikan: e-Saintika, Month Year Vol. X, No. X ||1