View Laporan Ilmu Sejarah dengan Bab IV flipbook.
LAPORAN PENGANTAR ILMU SOSIAL “ILMU SEJARAH” Disusun Oleh: Aura Fadlika Afwa A1A226058 Dosen Pengampu: Reka Seprina M.Pd PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI SEPTBER 2026
i KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan yang berjudul “Ilmu Sejarah” ini dapat diselesaikan dengan baik. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial. Ilmu sejarah merupakan salah satu cabang ilmu yang memiliki peranan penting dalam memahami kehidupan manusia. Sejarah tidak hanya membahas peristiwa yang terjadi pada masa lampau, tetapi juga mengkaji manusia, perubahan masyarakat, hubungan antarkelompok, serta berbagai sebab dan akibat yang melatarbelakangi suatu peristiwa. Dalam laporan ini dibahas mengenai latar belakang munculnya ilmu sejarah, tokoh-tokoh yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu sejarah, perkembangan ilmu sejarah, pendekatan dalam ilmu sejarah, metodologi penelitian sejarah, serta peran ilmu sejarah bagi ilmu sosial lainnya. Penyusunan laporan ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai sejarah sebagai ilmu dan membantu memahami pentingnya kajian masa lalu dalam kehidupan masyarakat pada masa sekarang. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk menyempurnakan laporan ini. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca. Jambi, September 2026 Penulis Aura Fadlika Afwa
DAFTAR ISI Kata Pengantar i.................................................................................................................. Daftar Isi ii.......................................................................................................................... BAB I Latar Belakang dan Perkembangan Ilmu Sejarah 1.................................. A. Latar Belakang Munculnya Ilmu Sejarah 1.......................................................... B. Tokoh-Tokoh Ilmu Sejarah 2................................................................................ 1. Herodotus 2.................................................................................................... 2. Thucydides 3.................................................................................................. 3. Ibn Khaldun 3................................................................................................ 4. Leopold von Ranke 4..................................................................................... 5. Marc Bloch 5................................................................................................. C. Perkembangan Ilmu Sejarah 5.............................................................................. BAB II Pendekatan dan Metodologi Ilmu Sejarah 7................................................ A. Pendekatan Ilmu Sejarah 7................................................................................... 1. Pendekatan Kronologis 7............................................................................... 2. Pendekatan Diakronis 7................................................................................. 3. Pendekatan Sinkronis 7.................................................................................. 4. Pendekatan Sosial 7....................................................................................... 5. Pendekatan Ekonomi 7.................................................................................. 6. Pendekatan Politik 7...................................................................................... 7. Pendekatan Budaya 8..................................................................................... B. Metodologi Ilmu Sejarah 8................................................................................... 1. Heuristik 8..................................................................................................... 2. Kritik Sumber 8............................................................................................. 3. Interpretasi 9.................................................................................................. 4. Historiografi 9................................................................................................ BAB III Hubungan Ilmu Sejarah dengan Ilmu Sosial Lainnya 10.......................... A. Peran Ilmu Sejarah bagi Ilmu Sosial Lainnya 10................................................. 1. Peran Sejarah bagi Ilmu Sosiologi 10............................................................ 2. Peran Sejarah bagi Ilmu Politik 10................................................................ 3. Peran Sejarah bagi Ilmu Ekonomi 10............................................................ 4. Peran Sejarah bagi Ilmu Antropologi 10....................................................... 5. Peran Sejarah bagi Ilmu Geografi 10............................................................. 6. Peran Sejarah bagi Ilmu Pendidikan 10......................................................... B. Peran Sejarah dalam Memahami Perubahan Sosial 11......................................... BAB IV Teori Sosial dalam Memahami Gerakan Reformatif 12............................. A. Teori Nasionalisme Indische (Ernest Douwes Dekker) 12................................... B. Teori Konflik Kelas (Karl Marx) 12..................................................................... C. Teori Identitas (Henri Tajfel) 13........................................................................... D. Keterkaitan Teori dengan Gerakan Reformatif 13............................................... Daftar Pustaka 14................................................................................................................ ii
1 BAB I LATAR BELAKANG DAN PERKEMBANGAN ILMU SEJARAH A. Latar Belakang Munculnya Ilmu Sejarah Sejarah merupakan kajian mengenai kehidupan manusia dan berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Sejarah tidak hanya berupa kumpulan cerita tentang masa lalu, tetapi merupakan hasil penelitian dan interpretasi terhadap berbagai bukti yang tersedia. Dalam perkembangannya, sejarah menjadi bidang ilmu yang memiliki metode dan prosedur tertentu untuk merekonstruksi serta menjelaskan masa lalu. Pada masa awal, pengetahuan mengenai masa lalu banyak disampaikan melalui tradisi lisan, cerita, mitos, dan ingatan masyarakat. Seiring berkembangnya kemampuan menulis, manusia mulai mencatat berbagai peristiwa yang dianggap penting. Catatan tersebut kemudian menjadi salah satu bahan bagi generasi berikutnya untuk memahami kehidupan masyarakat pada masa sebelumnya. Perkembangan penulisan sejarah dapat dilihat sejak masa Yunani Kuno. Herodotus sering dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan penulisan sejarah karena Histories memberikan narasi mengenai konflik Yunani-Persia sekaligus memuat perhatian terhadap masyarakat, budaya, dan geografi. Kajian akademik modern juga mengakui kontribusi Herodotus terhadap perkembangan sejarah, etnografi, dan geografi (Branscome, 2019). Tokoh lain yang penting adalah Thucydides. Dalam menulis sejarah Perang Peloponnesos, Thucydides memberikan perhatian besar terhadap kesaksian, pemeriksaan informasi, sebab-akibat, dan ketelitian dalam menjelaskan peristiwa.
2 B. Tokoh-Tokoh Ilmu Sejarah 1. Herodotus Herodotus merupakan sejarawan Yunani yang hidup pada abad ke-5 sebelum Masehi. Ia sering disebut sebagai salah satu pendiri tradisi historiografi Barat. Karya utamanya adalah Histories, yang membahas konflik antara bangsa Yunani dan Persia. Herodotus tidak hanya mencatat peristiwa politik dan militer. Dalam karyanya, ia juga memberikan perhatian terhadap adat istiadat, kebudayaan, geografi, dan kehidupan berbagai masyarakat. Oleh sebab itu, kontribusinya tidak hanya berkaitan dengan sejarah, tetapi juga memiliki hubungan dengan kajian etnografi dan geografi (Branscome, 2019). Karya utama: Histories Kajian yang dikembangkan: Herodotus mengembangkan penulisan sejarah dalam bentuk narasi yang menghubungkan berbagai peristiwa dengan kondisi masyarakat, kebudayaan, wilayah, dan konflik politik. Ia menjadi tokoh penting dalam perkembangan historiografi awal.
3 2. Thucydides Thucydides merupakan sejarawan Yunani yang dikenal melalui karyanya mengenai Perang Peloponnesos antara Athena dan Sparta. Ia hidup sekitar abad ke-5 sebelum Masehi. Thucydides memiliki perhatian besar terhadap ketepatan informasi dan penyebab suatu peristiwa. Dalam menulis sejarah, ia berusaha membandingkan informasi dari berbagai kesaksian dan menghindari penerimaan informasi secara sembarangan. Pendekatannya kemudian menjadi salah satu contoh awal penting mengenai penggunaan kritik terhadap kesaksian dalam penulisan sejarah (Rutherford, 2012). Karya utama: History of the Peloponnesian War Kajian yang dikembangkan: Thucydides memberikan perhatian pada hubungan sebab-akibat, konflik politik, strategi, dan perilaku manusia dalam peristiwa sejarah. 3. Ibn Khaldun Ibn Khaldun adalah seorang pemikir dan sejarawan Muslim yang hidup pada abad ke-14. Ia dikenal melalui karya besarnya Al-Muqaddimah, yang menjadi pengantar bagi
4 karya sejarahnya. Ibn Khaldun memberikan perhatian terhadap faktor sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan dalam menjelaskan perkembangan masyarakat. Ia juga mengembangkan konsep asabiyyah, yang berkaitan dengan solidaritas kelompok dan dapat digunakan untuk memahami munculnya serta perkembangan kekuasaan politik. Pemikirannya menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya berkaitan dengan pencatatan peristiwa, tetapi juga dapat digunakan untuk menjelaskan pola perubahan masyarakat. Oleh karena itu, pemikiran Ibn Khaldun memiliki hubungan yang kuat dengan perkembangan ilmu sosial. Karya utama: Al-Muqaddimah Kajian yang dikembangkan: Kajian Ibn Khaldun mencakup perubahan masyarakat, solidaritas kelompok, perkembangan kekuasaan, kehidupan ekonomi, dan faktor sosial yang memengaruhi naik turunnya suatu masyarakat. 4. Leopold von Ranke Leopold von Ranke merupakan sejarawan Jerman yang hidup pada abad ke-19 dan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan historiografi modern. Ranke dikenal karena penekanannya terhadap penggunaan sumber sejarah dan penelitian arsip. Perkembangan historiografi pada abad ke-19 di Jerman mendorong sejarah menjadi disiplin yang lebih profesional dan berbasis penelitian sumber (Pires, 2011). Karya utama: History of the Latin and Teutonic Nations The History of the Popes
5 Kajian yang dikembangkan: Ranke menekankan penelitian terhadap dokumen dan sumber sejarah sebagai dasar dalam menyusun rekonstruksi masa lalu. Pemikirannya berpengaruh besar terhadap perkembangan penelitian sejarah modern. 5. Marc Bloch Marc Bloch merupakan sejarawan Prancis dan salah satu tokoh penting dalam perkembangan Annales School. Ia lahir pada tahun 1886 dan meninggal pada tahun 1944. Bloch berusaha memperluas kajian sejarah. Menurut pendekatan yang dikembangkannya bersama para sejarawan Annales, sejarah tidak hanya perlu membahas politik, perang, dan tokoh besar, tetapi juga kehidupan masyarakat biasa, ekonomi, budaya, mentalitas, serta struktur sosial. Karya utama: The Historian’s Craft Feudal Society Kajian yang dikembangkan: Bloch memperluas ruang lingkup penelitian sejarah dengan menghubungkan sejarah dengan ilmu sosial lainnya. Pendekatannya membantu perkembangan sejarah sosial dan sejarah ekonomi. C. Perkembangan Ilmu Sejarah Perkembangan ilmu sejarah berlangsung dalam waktu yang panjang. Pada masa awal, sejarah lebih banyak berbentuk cerita mengenai raja, peperangan, perjalanan, dan kejadian penting. Penulisan sejarah pada masa tersebut belum memiliki prosedur penelitian yang sama seperti penelitian sejarah modern.
6 Pada masa Yunani Kuno, Herodotus dan Thucydides memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan historiografi. Herodotus menyusun narasi sejarah yang mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, sedangkan Thucydides memberikan perhatian lebih besar terhadap bukti, kesaksian, dan analisis sebab-akibat. Pada masa Abad Pertengahan, penulisan sejarah di berbagai wilayah banyak dipengaruhi oleh agama. Sejarah sering digunakan untuk menjelaskan perkembangan umat manusia berdasarkan keyakinan keagamaan. Pada masa Islam, terdapat pula perkembangan tradisi historiografi yang menghasilkan karya-karya sejarah penting, termasuk karya Ibn Khaldun. Memasuki masa Renaisans dan Pencerahan, manusia dan rasionalitas mendapatkan perhatian yang lebih besar. Sejarawan mulai memberikan perhatian terhadap sumber-sumber klasik dan melakukan kajian secara lebih kritis. Pada abad ke-19, sejarah berkembang menjadi disiplin akademik. Penelitian arsip, kritik sumber, dan pembentukan institusi pendidikan sejarah semakin berkembang. Ranke merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan tersebut. Pada abad ke-20, ruang lingkup sejarah semakin luas. Sejarawan tidak hanya meneliti politik dan perang, tetapi juga ekonomi, masyarakat, budaya, gender, lingkungan, kehidupan sehari-hari, dan kelompok masyarakat yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.
7 BAB II PENDEKATAN DAN METODOLOGI ILMU SEJARAH A. Pendekatan Ilmu Sejarah Dalam mengkaji masa lalu, ilmu sejarah menggunakan berbagai pendekatan agar suatu peristiwa dapat dipahami secara lebih menyeluruh. 1. Pendekatan Kronologis Pendekatan kronologis mempelajari peristiwa berdasarkan urutan waktu. Pendekatan ini membantu sejarawan memahami perkembangan suatu peristiwa dari awal hingga akhir. Contohnya adalah penelitian mengenai perkembangan perjuangan kemerdekaan Indonesia dari masa pergerakan nasional hingga Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. 2. Pendekatan Diakronis Pendekatan diakronis menempatkan suatu fenomena dalam perkembangan waktu yang panjang. Pendekatan ini digunakan untuk melihat perubahan dan kesinambungan suatu fenomena dari satu periode ke periode berikutnya. 3. Pendekatan Sinkronis Pendekatan sinkronis mempelajari suatu keadaan dalam ruang dan waktu tertentu secara lebih mendalam. Fokusnya adalah melihat berbagai aspek kehidupan masyarakat dalam satu periode tertentu. 4. Pendekatan Sosial Pendekatan sosial digunakan untuk memahami hubungan antara individu dan kelompok dalam masyarakat. Dengan pendekatan ini, sejarah dapat membahas kehidupan masyarakat biasa, perubahan struktur sosial, konflik sosial, dan hubungan antarkelompok. 5. Pendekatan Ekonomi Pendekatan ekonomi digunakan untuk memahami bagaimana produksi, perdagangan, pekerjaan, kekayaan, dan distribusi sumber daya memengaruhi kehidupan masyarakat dan perkembangan sejarah.
8 6. Pendekatan Politik Pendekatan politik menitikberatkan perhatian pada kekuasaan, pemerintahan, negara, kebijakan, konflik politik, dan hubungan antarkelompok politik. 7. Pendekatan Budaya Pendekatan budaya digunakan untuk memahami nilai, kepercayaan, tradisi, bahasa, seni, dan kebiasaan masyarakat dalam konteks sejarah. Penggunaan berbagai pendekatan tersebut membuat ilmu sejarah dapat berhubungan dengan disiplin ilmu sosial lainnya. Sejarah dapat memanfaatkan konsep dari sosiologi, ekonomi, politik, antropologi, geografi, dan bidang ilmu lainnya untuk menghasilkan pemahaman yang lebih luas. B. Metodologi Ilmu Sejarah Metodologi sejarah merupakan seperangkat cara yang digunakan sejarawan untuk melakukan penelitian dan menghasilkan tulisan sejarah. Penelitian sejarah tidak sekadar mengumpulkan cerita masa lalu, tetapi memerlukan proses pencarian, pemeriksaan, interpretasi, dan penyusunan hasil penelitian. Salah satu bagian penting dalam penelitian sejarah adalah penggunaan sumber. Sumber sejarah dapat dibedakan menjadi sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer merupakan bahan asli yang berasal dari masa yang sedang diteliti, seperti surat, dokumen resmi, foto, peta, catatan harian, artefak, dan rekaman. Sumber sekunder merupakan tulisan atau penafsiran yang dibuat setelah peristiwa terjadi, misalnya buku dan artikel ilmiah. Metode sejarah dapat dijelaskan melalui beberapa tahap utama. 1. Heuristik Heuristik merupakan tahap mencari dan mengumpulkan sumber yang berkaitan dengan topik penelitian. Sejarawan dapat mencari sumber di perpustakaan, arsip, museum, koleksi pribadi, situs sejarah, dan berbagai basis data. Sumber yang dikumpulkan harus relevan dengan pertanyaan penelitian. Peneliti juga perlu mencatat identitas sumber agar dapat digunakan dalam proses penelitian dan penulisan.
9 2. Kritik Sumber Setelah sumber ditemukan, sejarawan perlu melakukan kritik sumber. Kritik sumber bertujuan mengetahui keaslian dan tingkat kredibilitas sumber. Kritik sumber dapat dibedakan menjadi kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal berhubungan dengan keaslian sumber, sedangkan kritik internal berhubungan dengan isi dan kredibilitas informasi yang terdapat di dalam sumber. Sumber primer juga tidak boleh diterima begitu saja sebagai kebenaran mutlak. 3. Interpretasi Interpretasi merupakan tahap memberikan makna terhadap fakta-fakta yang telah diperoleh dan dikritisi. Pada tahap ini, sejarawan menghubungkan berbagai fakta untuk memahami hubungan sebab-akibat, perubahan, dan konteks suatu peristiwa. Interpretasi harus dilakukan secara hati-hati karena sumber sejarah tidak selalu memberikan gambaran lengkap mengenai suatu peristiwa. 4. Historiografi Historiografi merupakan tahap penulisan hasil penelitian sejarah. Setelah sumber dikumpulkan, dikritik, dan diinterpretasikan, sejarawan menyusun hasil penelitian dalam bentuk tulisan yang sistematis. Penulisan sejarah harus didukung oleh bukti dan argumentasi yang jelas. Sejarawan juga perlu mencantumkan sumber yang digunakan agar pembaca dapat mengetahui dasar dari suatu kesimpulan. Dengan demikian, metode sejarah dapat digambarkan secara sederhana sebagai: Heuristik → Kritik Sumber → Interpretasi → Historiografi Keempat tahap tersebut saling berhubungan dalam menghasilkan karya sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
10 BAB III HUBUNGAN ILMU SEJARAH DENGAN ILMU SOSIAL LAINNYA A. Peran Ilmu Sejarah bagi Ilmu Sosial Lainnya Ilmu sejarah memiliki hubungan yang erat dengan berbagai ilmu sosial. Sejarah memberikan informasi mengenai perubahan masyarakat dari waktu ke waktu sehingga dapat membantu ilmu sosial lainnya memahami perkembangan suatu fenomena. 1. Peran Sejarah bagi Ilmu Sosiologi Sejarah membantu sosiologi memahami bagaimana struktur dan hubungan sosial mengalami perubahan. 2. Peran Sejarah bagi Ilmu Politik Sejarah memberikan informasi mengenai perkembangan negara, pemerintahan, kekuasaan, partai politik, konflik, dan kebijakan. 3. Peran Sejarah bagi Ilmu Ekonomi Sejarah membantu menjelaskan perkembangan sistem ekonomi, perdagangan, industri, pekerjaan, dan distribusi sumber daya. Sejarah ekonomi dapat digunakan untuk memahami bagaimana kebijakan dan kondisi ekonomi masa lalu memengaruhi kehidupan masyarakat. 4. Peran Sejarah bagi Ilmu Antropologi Sejarah dan antropologi sama-sama mempelajari manusia dan kebudayaannya. Sejarah memberikan informasi mengenai perubahan budaya dan masyarakat dari waktu ke waktu, sedangkan antropologi dapat membantu sejarah memahami kebudayaan dan kehidupan sosial suatu kelompok. 5. Peran Sejarah bagi Ilmu Geografi Hubungan sejarah dan geografi dapat dilihat melalui kajian perubahan ruang dan lingkungan. Peristiwa sejarah sering dipengaruhi oleh kondisi geografis seperti lokasi, iklim, sumber daya alam, jalur perdagangan, dan bentuk wilayah. 6. Peran Sejarah bagi Ilmu Pendidikan Sejarah membantu bidang pendidikan dalam memahami perkembangan sistem pendidikan, lembaga pendidikan, kurikulum, serta perubahan pemikiran mengenai pendidikan.
11 B. Peran Sejarah dalam Memahami Perubahan Sosial Sejarah memberikan gambaran mengenai proses perubahan masyarakat dari waktu ke waktu. Dengan mempelajari perubahan masa lalu, masyarakat dapat memahami bahwa kondisi sosial tidak bersifat tetap, tetapi dapat berubah akibat berbagai faktor seperti ekonomi, politik, teknologi, budaya, dan interaksi antarmasyarakat. Oleh karena itu, ilmu sejarah tidak berdiri sendiri. Sejarah dapat menjadi sumber pengetahuan penting bagi berbagai ilmu sosial karena memberikan dimensi waktu dalam memahami kehidupan manusia.
12 BAB IV TEORI SOSIAL DALAM MEMAHAMI GERAKAN REFORMATIF Gerakan reformatif pada masa pergerakan nasional awal, seperti Insulinde (1907–1919), tidak cukup dipahami hanya melalui urutan peristiwanya. Sejarah sebagai ilmu sosial memerlukan teori agar sebab, tujuan, dan cara bergeraknya suatu kelompok dapat dijelaskan. Pada bab ini digunakan tiga teori, yaitu Nasionalisme Indische dari Ernest Douwes Dekker, Konflik Kelas dari Karl Marx, dan Identitas Sosial dari Henri Tajfel, kemudian ketiganya dihubungkan dengan gerakan reformatif tersebut. A. Teori Nasionalisme Indische (Ernest Douwes Dekker) Nasionalisme Indische adalah gagasan bahwa semua orang yang lahir dan hidup di Hindia (Indiërs) merupakan satu bangsa, apa pun asal-usul etnis atau ras mereka. Gagasan ini dikembangkan oleh Ernest François Eugène Douwes Dekker (1879–1950). Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), ia mendirikan Indische Partij pada Desember 1912. Partai ini menuntut kesetaraan hak politik bagi seluruh penduduk Hindia dan menolak diskriminasi kolonial (Ricklefs, 2008). Pemerintah kolonial melarang Indische Partij pada 1913 dan para pemimpinnya diasingkan. Menurut Ricklefs (2008), setelah pelarangan tersebut banyak anggotanya bergabung dengan Insulinde, perkumpulan yang berdiri pada 1907 dan pada awalnya banyak beranggotakan orang Indo-Eropa. Pada 1919 Insulinde berganti nama menjadi Nationaal Indische Partij. Dengan demikian, gagasan nasionalisme Indische menjadi bagian penting dalam arah gerakan Insulinde. B. Teori Konflik Kelas (Karl Marx) Karl Marx dan Friedrich Engels menjelaskan bahwa sejarah masyarakat adalah sejarah pertentangan kelas. Masyarakat terbagi menurut penguasaan alat produksi, yaitu kelompok pemilik modal (borjuis) dan kelompok yang bekerja bagi pemilik modal (proletar). Perbedaan kepentingan ekonomi ini menimbulkan ketegangan yang mendorong perubahan sosial (Marx & Engels, 2002). Dalam konteks kolonial, teori ini membantu menjelaskan hubungan ekonomi yang timpang antara pemerintah dan pemilik modal kolonial dengan penduduk yang bekerja di perkebunan dan sektor ekonomi lainnya. Ketimpangan tersebut menjadi salah satu sumber ketidakpuasan pada masa pergerakan awal (Shiraishi, 1990). Teori ini dipakai sebagai alat bantu analisis struktur ekonomi kolonial, bukan untuk menyatakan bahwa Insulinde merupakan gerakan kelas proletar.
13 C. Teori Identitas (Henri Tajfel) Henri Tajfel bersama John Turner mengembangkan Social Identity Theory. Teori ini menyatakan bahwa sebagian konsep diri seseorang berasal dari keanggotaannya dalam kelompok sosial, beserta nilai dan makna emosional yang melekat pada keanggotaan tersebut (Tajfel & Turner, 1979). Proses pembentukannya melalui tiga tahap, yaitu: 1. Kategorisasi sosial, yaitu mengelompokkan orang ke dalam kategori sosial. 2. Identifikasi sosial, yaitu menerima kelompok tertentu sebagai identitas diri. 3. Perbandingan sosial, yaitu membandingkan kelompok sendiri (in-group) dengan kelompok lain (out-group). Individu cenderung menginginkan kelompoknya dinilai positif. Apabila kelompok dinilai rendah, anggotanya terdorong memperjuangkan perubahan status kelompok tersebut (Tajfel, 1981). D. Keterkaitan Teori dengan Gerakan Reformatif Ketiga teori tersebut saling melengkapi dalam menjelaskan gerakan reformatif Insulinde, sebagaimana diringkas pada tabel berikut. Teori Penjelasan terhadap gerakan Nasionalisme Indische Menyediakan gagasan dan tujuan: persatuan seluruh penduduk Hindia, kesetaraan hak, dan tuntutan pemerintahan sendiri. Konflik Kelas (Marx) Menjelaskan sebab struktural: ketimpangan ekonomi dan politik antara penguasa kolonial dan rakyat memicu tuntutan perubahan. Identitas (Tajfel) Menjelaskan cara kelompok terbentuk dan bergerak: stratifikasi kolonial menempatkan golongan Eropa, Timur Asing, dan pribumi pada posisi berbeda, sehingga identitas bersama sebagai orang Hindia dibangun untuk melampaui sekat tersebut. Dengan kata lain, teori Marx menjelaskan mengapa ketidakpuasan muncul, teori Tajfel menjelaskan bagaimana orang membentuk kelompok dan solidaritas, dan nasionalisme Indische menjadi arah yang diperjuangkan. Perlu dicatat bahwa teori Marx lebih tepat digunakan untuk membaca struktur ekonomi kolonial, sedangkan gerakan Insulinde lebih banyak digerakkan oleh isu kesetaraan dan identitas daripada perjuangan kelas dalam pengertian Marxis.
14 DAFTAR PUSTAKA Branscome, D. (2019). Herodotus and his readers: From Thucydides to the present. In The Wiley-Blackwell encyclopedia of ancient history. Wiley. https://doi.org/10.1002/9781118635193.ctwl0315 Hunter, V. J. (1982). Past and process in Herodotus and Thucydides. Princeton University Press. Marx, K., & Engels, F. (2002). The communist manifesto (G. Stedman Jones, Ed.). Penguin Books. (Karya asli diterbitkan 1848) Newcastle University. (2026). HIS1101: Historical sources and methods. Newcastle University. Pires, F. M. (2011). Ranke and Niebuhr: The Thucydidean apotheosis. Revista de História, (166), 71–108. https://doi.org/10.11606/issn.2316-9141.v0i166p71-108 Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia modern 1200–2008. Serambi. Rutherford, R. B. (2012). Structure and meaning in epic and historiography. In Greek epic and its ancient reception. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780199593262.003.0002 Shiraishi, T. (1990). An age in motion: Popular radicalism in Java, 1912–1926. Cornell University Press. Tajfel, H. (1981). Human groups and social categories: Studies in social psychology. Cambridge University Press. Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. In W. G. Austin & S. Worchel (Eds.), The social psychology of intergroup relations (pp. 33–47). Brooks/Cole. UCLA Department of History. (n.d.). Primary & secondary sources. University of California, Los Angeles.