Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 13 Generasi Rabbani: Kearifan Al-Qur’an dan Kebangkitan Kepemimpinan Moral Melawan Fenomena Public Enemy Angger Sulistyarini Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin anggersulistyarini12@gmail.com Abstract: The rabbani generation is a group of individuals who emerged as a response to various "public enemy" phenomena that threaten social and moral order in society. They see the Koran as the main source of guidance in building strong moral leadership. In facing the challenges of the times, the Rabbani generation explores the wisdom of the Qur'an to develop effective moral leadership strategies. This research will review the important role of the Qur'an in shaping the character and moral leadership of the Rabbani generation. In addition, it will discuss their efforts to deal with various phenomena of "public enemies," such as corruption, violence, and moral degradation, through the application of al-Qur’an values in daily life. Through this approach, generations of rabbani seek to strengthen the moral foundations of society, inspire positive change, and pave the way for a revival of sustainable moral leadership. Keywords: Rabbani generation, moral leadership, public enemy Abstrak Generasi rabbani adalah kelompok individu yang muncul sebagai respons terhadap berbagai fenomena "public enemy" yang mengancam ketertiban sosial dan moral dalam masyarakat. Mereka memandang al-Qur’an sebagai sumber utama panduan dalam membangun kepemimpinan moral yang kuat. Dalam menghadapi tantangan zaman, generasi rabbani menggali kearifan al-Qur’an untuk mengembangkan strategi pemimpin moral yang efektif. Penelitian ini akan mengulas peran penting al-Qur’an dalam membentuk karakter dan kepemimpinan moral generasi rabbani. Selain itu, akan dibahas upaya mereka dalam menghadapi berbagai fenomena "public enemy," seperti korupsi, kekerasan, dan degradasi moral, melalui penerapan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan ini, generasi rabbani berusaha memperkuat fondasi moral masyarakat, menginspirasi perubahan positif, dan merintis jalan menuju kebangkitan kepemimpinan moral yang berkelanjutan. Kata Kunci: Generasi rabbani, kepemimpinan moral, public enemy Pendahuluan Generasi rabbani adalah gerakan kebangkitan spiritual berdasarkan ketuhanan dan tauhid yang bertujuan untuk menghidupkan kembali kearifan al-Qur’an dan memperkuat kepemimpinan moral dalam masyarakat (Maliki, 2018). Gerakan ini muncul sebagai respons terhadap fenomena public enemy yang semakin merajalela di tengah-tengah masyarakat modern. Fenomena public enemy ini meliputi berbagai masalah sosial seperti korupsi, kekerasan, narkoba, penyebaran berita palsu (hoax), pornografi, serta tindakan-tindakan lainnya yang merusak moral dan etika masyarakat. Jurnal Ibn Abbas Vol. 6 No 1 April – September 2023
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 14 Generasi rabbani mengajarkan bahwa al-Qur’an adalah sumber kebijaksanaan dan panduan hidup yang dapat membantu manusia untuk mengatasi berbagai masalah sosial dan moral. Gerakan ini juga menekankan pentingnya kepemimpinan moral yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam yang universal. Dalam konteks ini, generasi rabbani menawarkan solusi yang holistik dan komprehensif untuk mengatasi fenomena public enemy yang semakin kompleks dan sulit diatasi. Beberapa riset mengatakan bahwa pola kepemimpinan itu berpengaruh terhadap generasi yang akan dicetak, sehingga perlu adanya sistem pembelajaran yang variatif dan beradaptasi dengan teknologi agar generasi rabbani dapat memberikan manfaat yang luas terhadap masyarakat layaknya membangkitkan ilmuwan-ilmuwan dan pemimpin-pemimpin terdahulu yang berada peradaban kejayaan Islam (Rizaldi dkk., 2022). Dalam artikel ini, peneliti akan membahas lebih lanjut tentang generasi rabbani, kearifan al- Qur’an, dan kepemimpinan moral sebagai solusi untuk mengatasi fenomena public enemy. Peneliti akan melihat bagaimana gerakan ini dapat membantu masyarakat untuk membangun kembali moral dan etika yang kuat, serta mengembangkan kepemimpinan yang berlandaskan pada nilai- nilai Islam yang universal. Metode Penelitian Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini menggunakan metode studi pustaka (literature review) yang berkaitan dengan kajian teoritis serta referensi-referensi yang berkaitan dengan pemahahaman obyek yang akan diteliti sesuai dengan situasi sosial (Sugiyono, 2020). Peneliti mengumpulkan data dari sumber kepustakaan yang meliputi sumber primer dan sekunder. Setelah terkumpul, data pustaka kemudian disajikan dengan memberikan artikulasi yang menunjukkan tentang fakta tema yang sedang dibicarakan. Kemudian, fakta-fakta tersebut dianalisis hingga menghasilkan sebuah informasi yang berbentuk ilmu pengetahuan. Adapun analisis yang dilakukan ialah secara deduktif dan induktif melalui pendekatan analisis isi (content analysis) untuk menarik sebuah kesimpulan (Darmalaksana dkk., 2019). Hasil Penelitian dan Pembahasan Makna Generasi Rabbani Generasi rabbani adalah istilah yang digunakan untuk menyebut generasi unggul yang diciptakan melalui pendidikan agama dan menekankan hubungan antara manusia dengan Tuhan berdasarkan al-Qur’an dan sunnah (Rizaldi dkk., 2022). Kata "rabbani" berasal dari bahasa Arab "Rabb" yang berarti "Tuhan" atau "Pencipta. Generasi rabbani mengacu pada generasi yang berakar kuat pada nilai-nilai dan ajaran agama, khususnya yang terdapat dalam al-Qur’an. Revitalisasi nilai- nilai ini penting untuk memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tidak hilang atau terlupakan seiring berjalannya waktu. Al-Qur’an banyak memuat ajaran moderasi yang merupakan nilai penting untuk ditanamkan pada generasi muda (Ritonga, 2021). Berdasarkan hal tersebut, tokoh seperti seorang guru memegang peranan penting dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan pada generasi muda, khususnya di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) (Saputro, 2020). Pentingnya pendidikan al-Qur’an dalam mengembangkan peradaban Islam juga ditekankan dalam kajian tentang pentingnya kajian al-Qur’an dalam mengembangkan kesadaran nilai-nilai agama di kalangan masyarakat. Secara keseluruhan, al- Qur’an banyak memuat ajaran nilai-nilai agama yang penting untuk ditanamkan kepada generasi muda, dan guru serta TPA berperan penting dalam proses ini (Amir, 2022).
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 15 Kontribusi generasi rabbani dalam konteks masyarakat modern sangat besar, khususnya di bidang pendidikan dan pembangunan sosial. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia telah berperan penting dalam membentuk karakter bangsa dan menghasilkan individu yang memiliki nilai intelektual dan moral yang kuat. Nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren menjadi modal utama santri untuk menyikapi dan menghadapi tuntutan masyarakat modern, sehingga mampu eksis dan berselancar di tengah kekacauan. Organisasi Muhammadiyah dan Pondok Pesantren Ulumuddin merupakan contoh lembaga yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendidikan dan pembangunan sosial di daerahnya masing-masing. Selain itu, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan sosial, seperti program Hi-Dayah, telah membantu menanamkan kecintaan terhadap al-Qur’an dan menyebarkan nilai-nilai Islam di kalangan anak-anak (Novialdi dkk., 2021). Secara keseluruhan, kontribusi generasi rabbani sangat penting dalam membentuk karakter bangsa dan mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masyarakat modern. Kearifan Al-Qur’an dalam Masyarakat Kontemporer Al-Qur’an memiliki peran penting sebagai panduan bagi umat Muslim dalam menghadapi berbagai masalah sosial, termasuk hoax (Ansari & Abdillah, 2022). Al-Qur’an juga dapat diintegrasikan dengan dunia digital dan mempengaruhi perilaku beragama dalam ruang sosial (Wafi dkk., 2022). Abdullah Saeed, seorang cendekiawan Muslim terkemuka, mengeksplorasi penafsiran isi etika-hukum al-Qur’an sambil mempertimbangkan sifat perubahan dunia modern. Pemahaman al-Qur’an saat ini harus mempertimbangkan konteks penafsiran historis dan kontemporer (Kaukab, 2021). Dalam masyarakat kontemporer yang hidup penuh dengan materialis dan prakmatis, manusia harus ingat bahwa semua tindakan, perbuatan, diam, dan gerakan bergantung pada Allah dan bukan pada manusia (Amiruddin, 2021). Kemudian, memahami al-Qur’an secara holistik itu penting karena memahami ajaran al- Qur’an secara menyeluruh dan utuh, tidak hanya memahami ayat-ayat secara terpisah atau parsial. Hal ini meliputi pemahaman terhadap bahasa Arab, sejarah, politik, budaya, kecendekiawanan, spiritualitas, dan kitab suci itu sendiri (Mollah, 2017). Pemahaman holistik juga mencakup penggunaan pendekatan yang lebih luas dan komprehensif dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, sehingga dapat menghasilkan pemahaman yang lebih utuh dan mendalam (Zabidi, 2020). Dalam memahami al-Qur’an secara holistik, juga perlu memperhatikan konteks sosial, budaya, dan sejarah pada saat ayat-ayat tersebut diturunkan, serta memahami nilai-nilai yang terkandung dalam ayat- ayat tersebut secara keseluruhan. Berikut ini adalah ayat al-Qur’an yang menjelaskan pentingnya mewujudkan generasi rabbani.َ َقُول َ لِلنهاسِ كُونُوا عِبَادًا ل ِمِن ْ دُون ِ ا َّلله ِ وَلَكِنْ كُونُوا رََّبه نِيِني هة َ ُثُه يُو ُّب ُؤْتِيَه ُ ا َّلله ُ الْكِتَاب َ وَا ْلُْكْم َ وَالن كَان َ لِبَشَر ٍ أَن ْ ي ِ مَا ْ َّبِلْكُفْر ُكُمَّْبََّبً أ ََيَْمُر َتهخِذُوا الْمَالئِكَة َ وَالنهبِيِني َ أَر َكُم ْ أَن ْ تَيَْمُر ) وَال79ْتُم ْ تَدْرُسُون َ ( كُن ُعَلِمُون َ الْكِتَ اب َ و َِبَِا ْ تُم ْ ت كُن ِبَِا َ ْتُم ْ مُسْلِمُون َعْد َ إِذ ْ أَن ب “Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, "Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata), "Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani, karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya, dan (tidak wajar pula baginya) menyuruh kalian menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kalian berbuat kekafiran di waktu kalian sudah (menganut agama) Islam.'' (Qs. ali-Imran ayat 79-80)
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 16 Adapun tafsir ayat tersebut yakni:ِ َقُول َ لِلنهاسِ كُونُوا عِبَادًا ل هة َ ُثُه يُو ُّب ُؤْتِيَه ُ ا َّلله ُ الْكِتَاب َ وَا ْلُْكْم َ وَالن كَان َ لِبَشَر ٍ أَن ْ ي ِمَامِن ْ دُون ِ ا َّلله Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” هٍ وقال ابن ُ عَبهاس ومجاعة ٌ من املفسِرين : بل اإلشارة ُ إىل النب ِ صلى هللا عليه وسلم ؛ وسبب ُ نزول ِ اآلية ِ أنَّب رافِع أ هد ُ ،َيَ ُمَُم َنَْرَان َ : قال للنب ِ صلى هللا عليه وسلم حِني َ اجتمعت األحبار ُ من يهود َ ، والوَفْد ُ مِن ْ نصارىهالقُرَظِيَ إَّنهَا َنَْر هئِيس ُ مِن ْ نصارىَقَال َ الر كَمَا عَبَدَت ِ النصارى عيسى ، ف َتهخِذَك َ إ َلَا ً ، َعْبُدَك َ وَن ُ تُرِيد ُ أَن ْ نهدَيَ ُمَُم ُ َ ان َ : أَو َ ذَاك َ تُرِيد َقَال َ النهب ُِّ صلى هللا عليه وسلم : ” مَعَاذ َ ا َّلله ِ! مَا بِذَلِك َ أُمِرْت ُ ، وَال َ إلَيْه ِ دَع ، وَإلَيْه ِ تَدْعُو َنَ؟ فوْت ُ ” ، فنزلَت ِ اآلية Ibn Abbas dan para mufasir lainnya menerangkan sebab turun ayat ini adalah ketika pendeta yahudi dan kelompok nshrani Najran berkumpul di hadapan Rasul SAW, Abu Rafi al-Qurazhi berkata: hai Muhammad kayanya engkau menghendki agar kami menyembahmu dan mempertuhankanmu seperti kaum nashara menyembah Isa? Pimpinan Nashrani Najran berkata: Ataukah anda berkehandak demikian? Kepada itukah engkau menyeru kami? Rasul SAW bersabda: Aku berlindung kepada Allah! Aku tidak diperintah untuk itu. Aku tidak menyeru untuh hal yang demikian! Tidak lama kemudian turunlah ayat ini. Diriwayatkan oleh Ibn Athiyah, Abu Hayan dan al-Tsa’albi. Dengan demikian, secara historis ayat ini menegaskan bahwa seorang manusia yang mendapat kitab, ilmu dan kenabian tidak mungkin mengajak umat untuk mempertuhankan dirinya. Jika ada orang yang beranggapan demikian, itulah kebohongan besar. Kemudian,َ وَلَكِنْ كُونُوا رََّبه نِيِني Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Penggalan ayatَ وَلَكِن ْ كُونُوا رََّبه نِيِني bermakna ولكن يقول َلم كونوا رَّبنيني (yang layak mereka katakan kepada umatnya adalah: “jadilah kalian generasi rabbani“). Menurut Ibn Zaid ma’na ayat ini َّبستعمالكم أمر هللا تعاىل ومواظبتكم كا ً وعلماءكم إىل أن تكونوا ملوكم إىل أن تكونوا عبادا ً ل ، ولكن أدعوال أدعو على طاعته (aku tidak mengajak kalian menyembahku, tapi aku menyeru agar kalian menjadi pemimpin, ulama dengan bepegang pada aturan Allah dan tetap dalam menaati-Nya.) Perkataanَ رََّبه نِيِني merupakan bentuk jama dariِ ِ رََّبهن (rabbani). Seorang yang bijak tidak akan mendorong umat mengultuskan dia apalagi mempertuhankan dirinya, melainkan mendorong agar umatnya menjadi generasi rabbani karena mengajarkan kitab dan terus menerus mempelajarinya. Fahr al-Din al-Razi (544-606H), mengutip berbagai pendapat tentang pengertianَ رََّبه نِيِني sebagai berikut: 1) Imam Sibawaih berpendapat bahwaِ رََّبهن merupakan bentuk kata jadian dari رَب (Tuhan) ِبعىن كونه عاملا ً به ، ومواظبا ً على طاعته (yang mengandung arti menjadi orang yang tahu tentang
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 17 Tuhannya dan setia menaati-Nya). Terkadang diistilahkan رجل إَلي jika ia benar-benar mengenal Tuhannya secara tepat dan benar serta menaati-Nya dengan disiplin. Perkataan رب menjadiِ رََّبهن huruf alif dan nun yang disisipkannya berfungsi penguat untuk menunjukkan kesempurnaan sifat. 2) al-Mubarrid berpendapat bahwaِ رََّبهن bermakna أر َّْبَب العِلْم (pemelihara, penguasa ilmu), yang mengurus ilmu, dan yang mengurus manusia, yaitu yang mengajar, membina keshalihan dan yang bertanggung jawab tentang urusan manusia. Dengan demikian kalau pendapat Sibawaih menisbatkanِ رََّبهن pada رَب yang mengenal Tuhan dan menaati-Nya secara disiplin, dan al- Mubarrid menisbatkannya pada الَّته ْبِية yang memelihara ilmu dan mendidik manusia. 3) Ibn Zaid berpendapatِ رََّبهن bermakna . هو الذي يرب الناس ،فالرَّبنيون هم والة األمة والعلماء orang yang mengurus manusia memimpin umat dan ulama. Ini berakitan dengan ayat lainnya :ُ ٰهُم ْهَى َن لَوْال َ يَ ٱهبهٰنِيُّونَلروُ ٱُألَْحْبَارَو َْلِِم عَن قُِْثَْ ٱُإلوَأَكْلِهِمَ ٱَۚلسُّحْتَعُون كَانُوا ۟ يَصْن لَبِئْس َ مَا٦٣ Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. (Qs. al-Maidah ayat 63). Ayat ini mengecam keras pemimpin umat seperti pendeta yang membiarkan umatnya berbuat kebohongan dan memakan yang haram. Dalam ayat ini pemimpin umat disebutَ هَّبه نِيُّونالر, sebagai salah satu pengertiannya. 4) Abu Ubaidah mengira bahwaِ رََّبهن bukan bahasa Arab asli, tapi Ibrani atau Suryani. Namun baik bahasa Arab atau pun Ibrani merupakan istilah فهي تدل على اإلنسان الذي علم وعمل ِبا علم ، واشتغل بتعليم طرق اخلري (yang menunjukkan pada orang yang berilmu dan mengamalkannya serta sibuk mengajarkan jalan kebaikan). Di samping itu terdapat pula ulama lain yang menafsirkanَ رََّبه نِيِني dengan ulama (orang berilmu dan mengamalkannya) hukama (yang bijaksana) seperti dikemukakan oleh Abu Razim, al-Tsauri. Al-Hasan dan sa’id bin Zubair mengartikannya dengan ُقَهَاء عُلَماء ف (orang berilmu dan faham tentang keilmuaannya). Al- Biqa’iy (809-885H) mengartikannya dengan اتبعني طريق الرب منسوبني إليه بكمال العلم املزين َّبلعمل (yang mengikuti petunjuk Tuhan, maka dinisbatkan kepada-Nya karena kesempurnaan ilmu dan terhiasi amal). Sedangkan dalam kitab ma’ani al-Qur`an diartikan dengan العامل بدين الرب الذي يعمل بعلمه النه إذا مل يعمل بعلمه فليس بعامل (yang faham tentang agama Tuhan, yang mengamalkan ilmunya. Orang yang tidak mengamalkan ilmu sama dengan tidak berilmu). Ibn Abbas menandaskan:َ َبْلَ كِب َّب ِ النهاس َ بِصِغَار ِ الْعِلْم ِ ق ُر هَّبهن ُِّ الهذِي يُقَال ُ الر ُقَهَاء َ وَي ِ كُونُوا رََّبه نِيِني َ حُلَمَاء َ فارِه
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 18 Ibn Abbas berkata: Jadilah rabbaniyin yaitu orang-orang yang penyantun, bijaksana, dan faham betul tentang agama. Rabbani adalah yang mengurus dan mendidik manusia dengan berbagai ilmu sejak dini. Artinya, qur’an surah ali-Imran ayat 79-80 tersebut dapat diambil maknanya bahwa Nabi dan Rasul mengajak umatnya untuk menjadi generasi rabbani, yaitu yang selalu mengkaji ayat Ilahi, mengajarkan, menegakkan hukum syari’ah dan membela kebenaran memberantas kebatilan. Oleh karena itu setiap pemuka agama mesti memberikan dorongan pada jamaahnya untuk bersikap kritis, dan jangan sekali-kali mengajarkan taqlid (Saif, 2013). Kebangkitan Kepemimpinan Moral Kebangkitan kepemimpinan moral mengacu pada bangkitnya pemimpin yang mengedepankan nilai-nilai moral dan etika dalam gaya kepemimpinannya. Konsep ini penting dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan dan politik. Dalam pendidikan anak usia dini, seorang kepala sekolah yang menampilkan kepemimpinan moral-spiritual dapat membantu membentuk karakter anak usia dini (Harahap & Armanila, 2023). Dalam dunia politik, perilaku seorang whistleblower sejalan dengan teori perilaku prososial, dimana perilaku tersebut saling menguntungkan dan bermanfaat bagi orang lain, serta dipengaruhi oleh komitmen anggaran dan intensitas moral (Nalita & Adnan, 2022). Sementara itu, dalam konteks pembentukan pemimpin yang berlandaskan al-Qur’an dan al-Sunnah, Sultan Muhammad al-Fateh merupakan contoh pemimpin muda yang bermoral tinggi, haus ilmu, dan tak henti-hentinya mengasah keterampilan. (Ismail & bin Mohd Poad, 2021). Seorang pemimpin yang efektif dan bermoral hendaknya mempunyai akhlakul karimah yang baik dan melakukan kegiatan-kegiatan yang dianggap baik dan benar oleh masyarakat. Kepemimpinan moral dan pembangunan masyarakat memiliki hubungan yang erat. Kepemimpinan yang baik dapat memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Berdasarkan hasil penelitian, kepemimpinan lokal dan modal sosial memiliki peran penting dalam pembangunan desa. Kepemimpinan yang baik dapat memperluas hubungan kerjasama, baik secara individu maupun kolektif, dan memperkuat hubungan internal dan eksternal (Bahrianoor & Juwita, 2021). Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala desa dapat meningkatkan pembangunan dan partisipasi masyarakat desa. Kepemimpinan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan memberikan motivasi dan inspirasi kepada bawahan dan masyarakatnya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan (Handayani, 2021). Selain itu, hasil penelitian juga ada yang menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala desa dan komunikasi yang santun memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap partisipasi masyarakat dalam pembangunan (Seleman dkk., 2019). Dapat disimpulkan, bahwa pemimpin yang memiliki moral baik dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Fenomena Public Enemy: Tantangan Terhadap Moralitas Fenomena public enemy merujuk pada individu atau kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat atau negara. Mereka seringkali diidentifikasi sebagai musuh publik dan menjadi target kampanye negatif oleh pemerintah atau media massa. Fenomena ini seringkali muncul dalam konteks sosial atau politik, di mana individu atau kelompok tertentu dianggap melanggar nilai-nilai atau norma-norma yang dianggap penting oleh masyarakat atau pemerintah.
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 19 Sebagai contoh, belakangan ini, masyarakat Indonesia dihebohkan oleh perilaku sejumlah dai yang seringkali mengajak kepada ujaran kebencian, pencemaran nama baik, dan penyebaran berita palsu dengan dalih Islam. Citra Islam menjadi menakutkan bukan hanya bagi individu non- Muslim, tetapi juga di kalangan umat Islam sendiri. Ajaran Islam yang seharusnya bertujuan untuk "menyelamatkan" tiba-tiba dipenuhi dengan kebencian yang berpotensi menjalankan kampanye yang merugikan manusia dan alam sekitarnya. Perilaku dai radikal yang sangat konservatif semakin marak di media sosial, di mana mereka dengan percaya diri menyebarkan kebencian, menggunakan bahasa kasar, dan bersikap sarkastik, dengan mudah mengucilkan siapa saja yang tidak sejalan dengan pandangan mereka (Setyawan, 2020). Kemudian, contoh publik yang mencolok juga terkait dengan kurangnya pemahaman agama Islam yang memicu tindakan kekerasan dalam nama agama tersebut. Sebagai contoh, kasus penggunaan bom bunuh diri dan tindakan teror terhadap individu atau kelompok yang dianggap sebagai "musuh Islam," seperti pejabat pemerintah. Contoh yang mencolok adalah peristiwa penusukan Menko Polhukam RI Wiranto pada 10 Oktober 2019, yang dianggap sebagai simbol perlawanan dari kelompok Islam radikal terhadap pemerintah yang dianggap tidak mengikuti ajaran Islam dengan benar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tidak seharusnya ajaran "Islam" mengedepankan kekerasan, bukankah seharusnya Islam berarti "menyelamatkan"? Mengapa justru ada tindakan kekerasan yang diklaim sebagai pembelaan terhadap ajaran Islam? (Setyawan, 2020). Fenomena tersebut tentunya memberikan dampak negatif kepada masyarakat, diantaranya yakni: a) Meningkatkan permusuhan dan konflik antara kelompok atau negara yang dianggap sebagai musuh. Dalam Islam, permusuhan dan konflik seharusnya dihindari dan diselesaikan dengan cara yang damai dan adil. b) Menimbulkan sikap intoleransi dan diskriminasi terhadap kelompok atau individu yang dianggap sebagai musuh. Islam mengajarkan untuk menghormati hak asasi manusia dan tidak melakukan diskriminasi terhadap siapapun. c) Meningkatkan kekerasan dan tindakan terorisme yang dilakukan oleh kelompok yang menganggap diri mereka sebagai mujahidin atau pejuang Islam. Islam mengajarkan untuk tidak melakukan kekerasan dan tindakan terorisme, serta menyelesaikan konflik dengan cara yang damai dan adil. d) Membuat masyarakat menjadi terpecah-belah dan tidak harmonis karena adanya permusuhan dan konflik yang terus-menerus. Islam mengajarkan untuk hidup dalam kebersamaan dan saling menghormati, serta menyelesaikan konflik dengan cara yang damai dan adil. Dalam Islam, konsep jihad tidak sama dengan konsep public enemy. Jihad dalam Islam adalah usaha untuk memperbaiki diri sendiri dan memperjuangkan kebenaran dengan cara yang damai dan adil, salah satunya ialah dengan membangkitkan generasi rabbani agar memunculkan kepemimpinan moral (Ramlan dkk., 2016). Oleh karena itu, konsep public enemy yang menimbulkan permusuhan dan konflik tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tentunya kepemimpinan moral diperlukan dalam menghadapi fenomena public enemy karena kepemimpinan moral dapat membantu membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya yang dihadapi dan mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam upaya penanggulangan. Kemudian, kepemimpinan moral dapat membantu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 20 institusi terkait dalam upaya penanggulangan, serta dapat membantu mengarahkan tindakan yang tepat dalam penanggulangan fenomena public enemy, sehingga upaya yang dilakukan dapat lebih efektif dan efisien. Konvergensi Generasi Rabbani dan Kebangkitan Kepemimpinan Moral Konvergensi generasi rabbani dan kebangkitan kepemimpinan moral adalah sebuah konsep yang menggabungkan dua gerakan yang berbeda, yaitu generasi rabbani dan kebangkitan kepemimpinan moral. Konvergensi generasi rabbani dan kebangkitan kepemimpinan moral menghasilkan sebuah gerakan keagamaan yang lebih holistik dan komprehensif. Gerakan ini menggabungkan aspek-aspek dari kedua gerakan tersebut, seperti penekanan pada nilai-nilai islam yang sebenarnya dan pentingnya memperbaiki moral dan etika dalam masyarakat. Gerakan ini juga menekankan pentingnya pendidikan dan pengembangan diri dalam mencapai tujuan-tujuan keagamaan. Dalam konteks Indonesia, konsep ini dapat diterapkan dalam upaya memperbaiki moral dan etika dalam masyarakat serta memperkuat nilai-nilai Islam yang sebenarnya. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan dan pengembangan diri yang berbasis pada nilai-nilai islam yang sebenarnya. Selain itu, konsep tersebut juga dapat diaplikasikan dalam upaya membangun kepemimpinan moral yang kuat dan berintegritas di berbagai sektor masyarakat. Salah satu upaya mewujudkannya ialah dengan integrasi ajaran al-Qur’an ke dalam kepemimpinan. Mengintegrasikan ajaran al-Qur’an ke dalam kepemimpinan memerlukan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip dan nilai-nilai al-Qur’an. Berikut beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan ajaran al-Qur’an ke dalam kepemimpinan: a) Menanamkan pendidikan karakter berdasarkan cerita al-Qur’an: Cerita-cerita al-Qur’an dapat digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai pendidikan karakter seperti rendah hati, kuat cita- citanya, rajin mencari ilmu, santun, suka menolong, sabar, memaafkan, tanggung jawab, ikhlas, keberanian mengakui kesalahan, cinta kepada Tuhan dan ciptaan-Nya, rasa syukur, tidak musyrik, kasih sayang, ketaatan kepada orang tua, kepemimpinan, dan kepedulian sosial (Rahmat & Karomah, 2020). b) Menghafal al-Qur’an: Menghafal al-Qur’an dapat membantu para pemimpin untuk menginternalisasi ajaran dan nilai-nilai al-Qur’an. Strategi yang dilakukan dalam menghafal al- Qur’an antara lain dengan mengulang-ulang ayat hingga hafal, mendengarkan bacaan al-Qur’an melalui orang lain atau kaset, menghafal dengan memahami isi atau makna ayat, dan menuliskan kata awal ayat pada selembar kertas untuk memudahkan menghafal. Setelah menghafal al- Qur’an, sebaiknya pemimpin menjaga hafalannya dengan membacakannya kepada guru al- Qur’an setiap hari (Zahra, 2019). c) Mendidik anak berdasarkan prinsip-prinsip al-Qur’an: Orang tua dapat menggunakan prinsip dan strategi al-Qur’an untuk mendidik anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi shaleh yang taat kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang tuanya. Pendidikan al-Qur’an hendaknya fokus pada pembentukan aspek spiritual dan mental kepribadian anak (Miskahuddin, 2022). d) Mengintegrasikan ajaran Tamansiswa dengan ayat-ayat pendidikan dalam al-Qur’an: Ajaran Tamansiswa dapat diintegrasikan dengan ayat-ayat pendidikan dalam al-Qur’an untuk menciptakan konsep pendidikan religius-nasionalis. Nilai-nilai ajaran Tamansiswa dan ayat-ayat pendidikan dalam al-Qur’an dapat dianalisis menggunakan metode analisis isi dengan pendekatan tafsir maudhu’i (Hidayatullah & Saputra, 2022).
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 21 e) Menggunakan peer learning dengan flashcards untuk menghafal ayat-ayat al-Qur’an: Peer learning dengan flashcards dapat menjadi strategi yang efektif untuk mengembangkan keterampilan menghafal ayat-ayat Alquran dan maknanya. Flashcard termasuk media visual dalam bentuk grafis atau dua dimensi, media terebut berisi pesan dan informasi untuk mengungkapkan fakta melalui penggunaan kata, gambar, angka serta dalam bentuk simbol atau lambang yang mengandalkan indra penglihatan. Fungsinya adalah menjelaskan materi yang bersifat abstrak menjadi kongkret melalui gambar pada kartu . Strategi ini dapat digunakan untuk mengajarkan siswa menghafal seluruh surah, bukan hanya ayat satu per satu (Adawiyah, 2018). Artinya, mengintegrasikan ajaran al-Qur’an ke dalam kepemimpinan memerlukan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip dan nilai-nilai al-Qur’an. Strategi yang telah disebutkan dapat digunakan untuk mengintegrasikan ajaran al-Qur’an ke dalam kepemimpinan dan pendidikan. Adapun contoh implementasi integrasi al-Qur’an dengan kepemimpinan moral yang dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti pembelajaran integrasi sains-Qur'an pada mata pelajaran tertentu di sekolah, integrasi keilmuan umum dan agama di perguruan tinggi Islam, dan pengabdian kepada masyarakat dengan menerapkan ajaran al-Qur’an. Berikut adalah beberapa contoh implementasi dari berbagai daerah terkait integrasi al-Qur’an dengan kepemimpinan moral: a) Implementasi integrasi al-Qur’an dan hadits pada konsep uang dalam Islam di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam pelaksanaannya, konsep pengertian uang sebagai arus pada akhirnya akan mengubahnya menjadi kekayaan bersama yang tidak boleh dikuasai oleh kelompok tertentu saja. Konsep uang sebagai kekayaan bersama yang mengalir ini diambil dari pemahaman Surah at-Taubah ayat 34, di mana Allah mengancam mereka yang menimbun uang emas dan perak tanpa menggunakannya untuk kebaikan umum (Munir, 2016). b) Implementasi integrasi keilmuan umum dan agama di SMA Islam Al-Azhar 9 Yogyakarta. Integrasi ini dirancang untuk mencapai keunggulan dalam pendidikan dengan menggabungkan konsep ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dengan nilai-nilai spiritual dan keimanan (Imtaq). Dalam proses pembelajaran, mata pelajaran umum selalu dikaitkan dengan ajaran Islam, termasuk ayat-ayat al-Qur’an yang relevan dengan materi tersebut. Dengan demikian, penguasaan materi tidak hanya berfokus pada pengetahuan modern, tetapi juga didasarkan pada kajian al-Qur’an dan al-Hadis sebagai sumber utama pengetahuan bagi umat Islam. (Nurjanah, 2018). c) Pengabdian kepada masyarakat dengan menerapkan ajaran al-Qur’an di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Aktivitas pengabdian yang mengintegrasikan Islam dengan sains teknologi pada hakikatnya adalah perwujudan dari implementasi Islam rahmatan lil ‘alamin, menghadirkan wajah Islam yang kontributif bagi kebutuhan keseharian masyarakat. Implementasi integrasi sains teknologi dengan Islam dalam kegiatan pengabdian dapat menghasilkan perubahan yang signifikan, karena visi pengabdian tidak hanya dilandasi oleh kebutuhan untuk meningkatkan derajat kehidupan masyarakat, namun juga bagian dari penghambaan terhadap Tuhan. Dalam pengabdian kepada masyarakat, implementasi surah al- Ma'un dapat dijadikan sebagai pedoman dalam memberdayakan, membebaskan, dan memajukan umat yang lemah dan terlemahkan, seperti fakir miskin, yatim, dan komunitas marjinal. Dengan mengikuti cara pandang tersebut, kegiatan pengabdian dengan menerapkan sains teknologi adalah wujud dari integrasi Islam dengan sains teknologi (Soehadha, 2020).
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 22 Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwasanya dengan meingimplementasikan al- Qur’an di dalam kehidupan sehari-hari akan mudah bagi suatu negara membangun generasi rabbani yang menciptakan konsep kepemimpinan moral. Kesimpulan Dalam penelitian ini, telah dibahas secara mendalam mengenai peran generasi rabbani dalam mengaplikasikan kearifan al-Qur’an dalam konteks kebangkitan kepemimpinan moral. Mereka muncul sebagai agen perubahan yang kuat dalam melawan berbagai fenomena sosial negatif yang sering disebut sebagai "public enemy." Melalui pemahaman yang mendalam terhadap nilai-nilai al-Qur’an, generasi rabbani telah mampu mempengaruhi masyarakat dalam mengatasi masalah seperti kejahatan, korupsi, intoleransi, dan sebagainya. Dapat disimpulkan bahwa generasi rabbani memiliki peran yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang lebih adil, beretika, dan damai. Mereka bukan hanya memahami ajaran agama, tetapi juga menerapkannya dalam tindakan nyata, membentuk kepemimpinan moral yang kuat, dan menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya untuk berkontribusi positif dalam menghadapi tantangan sosial kontemporer. Dengan demikian, penelitian ini menyoroti betapa pentingnya generasi rabbani dalam mempromosikan perdamaian, toleransi, dan keadilan dalam masyarakat modern. Daftar Pustaka Adawiyah, N. A. (2018). Pengaruh penggunaan media flashcard terhadap prestasi belajar kognitif mata pelajaran Al-Qur’an Hadis siswa kelas III MI Darul Ulum Ngaliyan Semarang. Amir, A. N. (2022). Kepentingan Pengajian Al-Quran dalam Membangunkan Peradaban: Kajian Kes dalam Kelas Pengajian Al-Qur’an, Tajwid & Bahasa Arab untuk Awam di Pusat Bahasa (CELPAD), UIAM. Amiruddin, M. (2021). Takdir Dalam Al-Qur’an. Al-Kauniyah, 2(2), 1–12. Ansari, P., & Abdillah, M. T. (2022). SOLUSI AL-QUR’AN DALAM MENGATASI BAHAYA HOAKS PADA ERA DIGITAL (PERSPEKTIF TAFSIR AL-MISBAH). Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer, 4(2), 79–85. Bahrianoor, B., & Juwita, D. R. (2021). Kepemimpinan Lokal dan Modal Sosial Dalam Pembangunan Desa Pada Masyarakat Eks Transmigrasi Desa Garantung Kecamatan Maliku Kabupaten Pulang Pisau: Local Leadership and Social Capital in Rural Development in Ex-Transmigration Village of Garantung, Sub-District Maliku, Pulang Pisau Regency. Journal of Government Science (GovSci): Jurnal Ilmu Pemerintahan, 2(1), 17–27. Darmalaksana, W., Alawiah, N., Thoyib, E. H., Sadi’ah, S., & Ismail, E. (2019). Analisis Perkembangan Penelitian Living Al-Qur’an dan Hadis. Jurnal Perspektif, 3(2), 134–144. Handayani, S. (2021). STRATEGI KEPEMIMPINAN KEPALA DESA DALAM MENINGKATKAN PEMBANGUNAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DESA. Sawala: Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat, 2(2), 61–73. Harahap, H. S., & Armanila, A. (2023). Prinsip Kepemimpinan Moral Spiritual Sekolah Dalam Pembangunan Karakter PAUD di TK Nurul Hidayah Kabupaten Serdang Bedagai: Principles of School Spiritual Moral Leadership in PAUD Character Building in
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 23 Kindergarten Nurul Hidayah, Serdang Bedagai District. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini, 5(2), 435–446. Hidayatullah, A. S., & Saputra, B. D. (2022). Integrasi Ajaran Tamansiswa dengan Ayat Ayat Pendidikan dalam Al-Quran. SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Humaniora, 8(1), 104–119. Ismail, A. S. B., & bin Mohd Poad, M. I. F. (2021). PEMBENTUKAN GENERASI AL-FATEH BERTERASKAN AL-QURAN DAN AL-SUNNAH. Zulfaqar Journal of Defence Management, Social Science & Humanities, 4(2). Kaukab, M. E. (2021). Al-Qur’an dalam Pemahaman Muslim Kontemporer. Syariati: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Hukum, 7(1), 33–42. Maliki, N. (2018). Generasi Rabbani: Dakwah Melalui Televisi. Tasamuh: Jurnal Studi Islam, 10(1), 189–214. Miskahuddin, M. (2022). Filosofi Pembinaan Anak Shalih dalam Konsep Al-Qur’an. Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah: Media Kajian Al-Qur’an dan Al-Hadits Multi Perspektif, 19(1), 84–101. Mollah, M. K. (2017). Pendidikan Kebahasaan dalam Penafsiran al-Quran Model al-Farā’. EL- BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, 7(1), 166–181. Munir, M. (2016). Implementasi Integrasi Al-Quran dan Hadits: Analisis Tematik Terhadap Konsep Uang dalam Islam. Nalita, F., & Adnan, A. (2022). PENGARUH KOMITMEN ANGGARAN DAN INTENSITAS MORAL TERHADAP KECENDERUNGAN MENJADI WHISTLEBLOWER DENGAN GAYA KEPEMIMPINAN SEBAGAI PEMODERASI (STUDI PADA PEMERINTAHAN KABUPATEN ACEH JAYA). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi, 7(2), 229–242. Novialdi, R., Fauzi, F., Rahmad, R., Ernalis, F., & Diah, M. (2021). Kegiatan Sosial Hi-Dayah: Learn QurAn And English With Fun. RAMBIDEUN: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 78–83. Nurjanah, I. (2018). Implementasi Integrasi Keilmuan Umum Dan Agama Di Sma Islam Al-Azhar 9 Yogyakarta. Rahmat, A., & Karomah, F. F. (2020). Strategi Menanamkan Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Al-Qur’an:(Telaah Terhadap Ayat Qashash al-Qur’an). Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman, 8(02), 243–260. Ramlan, R., Erwinsyahbana, T., & Hakim, N. (2016). The Concept of Jihad In Islam. IOSR Journal of Humanities and Social Science, 21, 35–42. https://doi.org/10.9790/0837-2109073542 Ritonga, A. W. (2021). Konsep Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Bagi Generasi Milenial Berbasis Al-Qur’an. Al-Afkar, Journal For Islamic Studies, 72–82. Rizaldi, N. I. N., Putri, A. S., Fajriansyah, M. A., & Luthfiah, Z. (2022). Adopsi Teknologi pada Pesantren Menuju Generasi Rabbani. IQ (Ilmu Al-Qur’an): Jurnal Pendidikan Islam, 5(01), 125–138. Saif. (2013, September 12). ali-Imran:79-80: JADILAH GENERASI RABBANI. Munkaha. http://munkaha.com/ali-imran79-80-jadilah-generasi-rabbani/ Saputro, F. E. (2020). Upaya Guru Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Agama Pada Siswa Taman Pendidikan Al Qur’an Al-Hikmah Salatiga. At-Ta’lim: Media Informasi Pendidikan Islam, 19(1), 195–208.
Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 Apri - September E- ISSN : 2620-7885 24 Seleman, S., Pramono, J., & Suhita, D. (2019). Hubungan Kepemimpinan Kepala Desa Dan Komunikasi Dengan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Di Desa Botok, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar. Solidaritas: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, 3(1). Setyawan, A. (2020). Dakwah Yang Menyelamatkan: Memaknai Ulang Hakikat Dan Tujuan Da’wah Islamiyah. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan Dan Keagamaan, 15(02), 189–199. Soehadha, M. (2020). Integrasi Islam dan Sains Teknologi dalam Pengabdian Masyarakat; Transformasi Islam dalam Wilayah Praksis Keseharian Masyarakat. Aplikasia: Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama, 19(2), 153–162. Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (I). Alfabeta. Wafi, M. B. F., Ilhami, N., & Taufiqurohman, T. (2022). Transformasi Perilaku Beragama Masyarakat Muslim Kontemporer: Fenomena Al-Qur’an di Era Digital. IN RIGHT: Jurnal Agama dan Hak Azazi Manusia, 11(1), 39–54. Zabidi, A. (2020). METODE AMINA WADUD DALAM PENAFSIRAN ALQURAN. Jurnal Alwatzikhoebillah: Kajian Islam, Pendidikan, Ekonomi, Humaniora, 6(2), 1–9. Zahra, S. T. (2019, Desember 11). STRATEGI MENGHAFAL AL-QUR’AN BAGI SANTRI DI MAAHAD TAHFIZ INTEGRASI MADINATUL HUFFAZ MALAYSIA.