Created in Canva
WAJIB BELAJARWAJIB BELAJAR Jenjang SMPPraktik Baik Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah (PP ATS) Jenjang SMP Tahun 202613 tahun13 tahun
i
Judul : Wajib Belajar 13 Tahun Jenjang SMP Sub Judul: Praktik Baik Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah (PP ATS) Jenjang SMP Tahun 2026 Hak Cipta © 2026 pada Direktorat Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Penafian: Buklet ini diterbitkan sebagai media berbagi informasi, inspirasi, dan praktik baik mengenai pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun pada jenjang SMP. Seluruh artikel, infografis, dan dokumentasi disusun berdasarkan data, kebijakan, serta pengalaman implementasi yang tersedia pada saat publikasi ini diterbitkan. Berbagai program, praktik, dan inovasi akan terus berkembang seiring dengan penguatan kolaborasi dan implementasi di berbagai daerah. Kami mengundang seluruh pembaca untuk turut memperkaya gerakan ini melalui gagasan, pengalaman, dan praktik baik demi menghadirkan kesempatan belajar yang semakin luas bagi setiap anak Indonesia. Pengarah Dr. Maulani Mega Hapsari, S.IP., M.A. (Direktur Sekolah Menengah Pertama) Penanggungjawab Roelly Herdiyanto, S.E., M.Si. (Kasubag TU Direktorat Sekolah Menengah Pertama); Diana Herawati, S. Sos., M. A. (PPK Satker Direktorat Sekolah Menengah Pertama) Tim Penyusun i : : Penulis Artikel Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis : : : : : : : : “Bayan Bercahaya: Gerakan Desa Literasi Peduli Anak Tetap Sekolah” 1. Dr. Muhammad Kosim, MA (UIN Imam Bonjol Padang) 2. Sulastri, S.Pd. M.Si (Direktorat SMP) “Kreasi Banyuwangi Peduli Anak Tetap Sekolah: Sepuluh Program yang Menginspirasi” 1. Dr. Muhammad Kosim, MA (UIN Imam Bonjol Padang) 2. Dr. Syamsul Alam (Direktorat SMP) “Tasikolasi: Inovasi Sinjai Agar Anak Sekolah Kembali” 1. Dr. Muhammad Kosim, MA (UIN Imam Bonjol Padang) 2. Dr. Fathnuryati Hidayah, S.E., M.Pd. (Direktorat SMP) “Tak Sekadar Mengembalikan ke Sekolah, Wonosobo Bangun Ekosistem Penanganan ATS” 1. Esha Tegar Putra, M.Hum. (Rumah Kreatif Padang, Jakarta) 2. Erwan Nur Arief, S.Pd. (Direktorat SMP)
Tim Penyusun ii Penulis Artikel Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis Judul Penulis : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : “Kunjungan Rumah, Ikhtiar SMP Satap 1 Batu Brak Menjaga Masa Depan Anak” 1. Esha Tegar Putra, M.Hum. (Rumah Kreatif Padang, Jakarta) 2. Kader Revolusi H.P, S.E. (Direktorat SMP) “Deteksi Dini dan Pendampingan Keluarga, Kunci Mencegah Anak Putus Sekolah” 1. Esha Tegar Putra, M.Hum. (Rumah Kreatif Padang, Jakarta) 2. Andi Andangatmadja, S.E, M.A (Direktorat SMP) “SMP Terbuka Tanjung Priok 1 Jakarta Utara Jaga Harapan Anak Tetap Bersekolah” 1. Billy Antoro, S.Pd., M.Pd. (Perhimpunan Literasi Indonesia Jakarta) 2. Joko Susilo, S.E., M.M. (Direktorat SMP) “Lima Strategi SMP Kristen Krista Citra Parakan Cegah Anak Putus Sekolah” 1. Billy Antoro, S.Pd., M.Pd. (Perhimpunan Literasi Indonesia Jakarta) 2. Tri Mulya Purwiyanti, S.E, M.A.(Direktorat SMP) “Strategi SMP Satu Atap Negeri 1 Kuwawur Cegah ATS dan ABPS” 1. Billy Antoro, S.Pd., M.Pd. (Perhimpunan Literasi Indonesia Jakarta) 2. Feri Widyantoko, S.T., M.Si. (Direktorat SMP) “Dari Bandung Hingga Kudus, Menjaga Anak Tetap Sekolah demi Memutus Rantai Kemiskinan” 1. Billy Antoro, S.Pd., M.Pd. (Perhimpunan Literasi Indonesia Jakarta) 2. Nurul Fauziah, S.Pd. (Direktorat SMP) “Menyatukan Langkah, Menjaga Anak Tetap Belajar” 1. Dr. Syamsul Alam (Direktorat SMP) 2. Wily Ariwiguna, S.E., M.Pd. (Ruang Belajar Aqil) “Menguatkan Kapasitas Daerah, Menjaga Setiap Anak Tetap Belajar” 1. Sulastri, S.Pd. M.Si (Direktorat SMP) 2. Wily Ariwiguna, S.E., M.Pd. (Ruang Belajar Aqil) Bersama Menjangkau Lebih Banyak Anak” 1. Wily Ariwiguna, S.E., M.Pd. (Ruang Belajar Aqil) 2. Erwan Nur Arief, S.Pd. (Direktorat SMP) “Kebijakan yang Menggerakkan Perubahan” 1. Wily Ariwiguna, S.E., M.Pd. (Ruang Belajar Aqil) 2. Andi Andangatmadja, S.E, M.A. (Direktorat SMP) “Menghubungkan Data, Layanan, dan Kesempatan Belajar” 1. Wily Ariwiguna, S.E., M.Pd. (Ruang Belajar Aqil) 2. Joko Susilo, S.E., M.M. (Direktorat SMP) “Dukungan yang Menguatkan Setiap Langkah Belajar” 1. Wily Ariwiguna, S.E., M.Pd. (Ruang Belajar Aqil) 2. Dr. Fathnuryati Hidayah, S.E., M.Pd. (Direktorat SMP)
Kontributor Artikel Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo, Desa Bayan Lombok Utara, SMP Terbuka Tanjung Priok 1, SMP Kristen Krista Citra Parakan, SMP Satu Atap Negeri 1 Kuwawur, SMP Negeri 5 Kudus, SMP Satap 1 Batu Brak, Musofa (Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo), Lina Kamalin, M.Pd. (Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur), Muhammad Ridwan (Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal, Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan), Satradi, S.P. (Kepala Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi NTB), Maya Siti Zahira (Kepala SMP Terbuka Tanjung Priok 1, Jakarta), Kelik Yan Pradana (Kepala SMP Kristen Krista Citra Parakan), Aziz Effendhi (Kepala SMP Satu Atap Negeri 1 Kuwawur), Siti Fatimah (Kepala SMP Negeri 5 Kudus), Siti Zuhro (Kepala SMP Negeri Satu Atap 1 Batu Brak), Nurhoiriyah (Wakil Kepala Bagian Kesiswaan SMP Negeri Satap 1 Batu Brak), dan Andini (SMPN 5 Cimaung, Kab. Bandung). Penyusun Infografis Mohamad Roland Zakaria, S.S., M.A. (Direktorat SMP), Lambang Taufiq, S.E.(Direktorat SMP), Anto Yuniarto (Direktorat SMP), Ahmad Manan Setiadi (Direktorat SMP), dan Erwin Tri Setiawan (Direktorat SMP). Reviewer Miftahussururi (Praktisi Pendidikan Jakarta), Zidny Ziaulhaque (Praktisi Pendidikan Jakarta), dan Elis Cahyati, M.Pd. (SMPN 1 Kragilan, Kab. Serang), Evi Maharani (Direktorat SMP), dan Nuril Hazami (Direktorat SMP). Illustrator Muhammad Azzam Rahmatullah (Teknologi Pendidikan UNJ), Anggita Zulfa Anis (Teknologi Pendidikan UNJ), dan Nanda Husodo (Direktorat SMP) Penata Letak Muhammad Azzam Rahmatullah (Teknologi Pendidikan UNJ), Anggita Zulfa Anis (Teknologi Pendidikan UNJ), dan Nanda Husodo Jati (Direktorat SMP) Penerbit Kementerian Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Dikeluarkan oleh: Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Gedung E lantai 15, Jalan Jenderal Sudirman, Kompleks Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta 10270 Cetakan Pertama, 2026 vi, … hlm: 14,8 cm x 21 cm Tim Penyusun iii
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, Salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan. Pendidikan yang berkesinambungan merupakan fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Melalui kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, pemerintah berkomitmen memastikan setiap anak memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang menengah. Komitmen tersebut tidak hanya diwujudkan melalui perluasan akses, tetapi juga melalui upaya sistematis mencegah anak meninggalkan pendidikan dan menghadirkan layanan yang mampu menjangkau mereka yang telah berada di luar sekolah. Jenjang Sekolah Menengah Pertama memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi fase transisi yang menentukan keberlanjutan pendidikan seorang anak. Oleh karena itu, penguatan pencegahan Anak Berisiko Putus Sekolah (ABPS), penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), serta dukungan terhadap keberlanjutan pendidikan harus dilaksanakan secara terpadu melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan berbagai mitra pembangunan. Buklet ini disusun sebagai media informasi sekaligus referensi yang menggambarkan arah kebijakan, strategi, praktik baik, dan berbagai bentuk kolaborasi dalam mendukung pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun pada jenjang SMP. Harapannya, publikasi ini dapat memperkuat pemahaman bersama serta mendorong lahirnya berbagai inisiatif yang semakin adaptif terhadap kebutuhan daerah dan karakteristik setiap anak. Semoga ikhtiar bersama ini menjadi bagian dari langkah nyata menghadirkan pendidikan yang bermutu, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh anak Indonesia. Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Sambutan Gogot Suharwoto, S.Pd., M.Ed., Ph.D. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Pendidikan Nonformal, dan Informal iv
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, Salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan. Wajib Belajar 13 Tahun menghadirkan kesempatan yang semakin luas bagi setiap anak untuk menyelesaikan pendidikan menengah pertama sebagai bagian dari fondasi pembelajaran sepanjang hayat. Pada jenjang SMP, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan pengembalian Anak Tidak Sekolah (ATS), tetapi juga bagaimana membangun sistem yang mampu mengenali lebih awal, mendampingi, dan mempertahankan murid agar tetap melanjutkan pendidikannya hingga selesai. Direktorat Sekolah Menengah Pertama mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan pencegahan Anak Berisiko Putus Sekolah (ABPS), penguatan layanan pendidikan, peningkatan kapasitas pemerintah daerah dan UPT, penyediaan perangkat implementasi bagi satuan pendidikan, serta penguatan pemanfaatan data untuk mendukung pengambilan keputusan. Seluruh strategi tersebut dilaksanakan melalui kemitraan yang erat dengan berbagai kementerian, pemerintah daerah, sekolah, masyarakat, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan mitra pembangunan. Buklet ini disusun untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai arah kebijakan, strategi implementasi, praktik baik, infografik, serta berbagai contoh kolaborasi yang telah berkembang di berbagai daerah. Kami berharap publikasi ini menjadi rujukan yang mudah dipahami sekaligus menginspirasi lahirnya inovasi-inovasi baru dalam memperkuat keberlanjutan pendidikan pada jenjang SMP. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun. Semoga buklet ini memberikan manfaat dan memperkuat semangat kolaborasi dalam memastikan setiap anak Indonesia memperoleh haknya atas pendidikan yang bermutu. Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Kata Pengantar Dr. Maulani Mega Hapsari, S.IP., M.A. Direktur Sekolah Menengah Pertama v
Membangun Gerakan Nasional (narasi pengantar menuju artikel naWajib Belajar 13 Tahun bukan hanya tentang kebijakan, tetapi juga tentang aksi nyata. Melalui booklet ini, berbagai upaya, praktik baik dari berbagai daerah, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan bersama disajikan sebagai inspirasi untuk mewujudkan pendidikan yang lebih merata.sional) vi
3Apa itu Anak Tidak Sekolah (ATS) dan Anak Berisiko Putus Sekolah (ABPS)? Faktor Penyebab ATS ATS adalah Anak usia 6 (enam) sampai 18 (delapan belas) tahun yang tidak pernah bersekolah, putus sekolah tanpa jenjang pendidikan, atau putus sekolah tanpa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sedangkan ABPS adalah anak yang masih bersekolah narnun berpotensi untuk tidak sekolah karena berbagai faktor kerentanan atau faktor dominan yang bersumber dari sekolah, keluarga, ataupun masyarakat.Pernikahan DiniPernikahan Dini Kesulitan EkonomiKesulitan EkonomiKurang MotivasiKurang MotivasiAkses Sekolah Jauh Akses Sekolah Jauh Perundungan/Konflik Sosial Perundungan/Konflik SosialMasalah Keluarga Masalah Keluarga Bekerja Membantu Keluarga Bekerja Membantu Keluarga Kurangnya Dukungan Keluarga Kurangnya Dukungan Keluarga 1
Keberhasilan Wajib Belajar 13 Tahun tumbuh dari kapasitas daerah yang kuat, kolaborasi yang erat, dan komitmen yang berkelanjutan. Melalui penguatan kapasitas UPT serta Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Direktorat SMP bersama berbagai kementerian dan lembaga membangun pemahaman, memperkaya praktik, dan mendorong lahirnya langkah nyata untuk mencegah Anak Berisiko Putus Sekolah (ABPS) serta menangani Anak Tidak Sekolah (ATS) di seluruh Indonesia. Keberhasilan Wajib Belajar 13 Tahun tumbuh dari kapasitas daerah yang kuat, kolaborasi yang erat, dan komitmen yang berkelanjutan. Melalui penguatan kapasitas UPT serta Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Direktorat SMP bersama berbagai kementerian dan lembaga membangun pemahaman, memperkaya praktik, dan mendorong lahirnya langkah nyata untuk mencegah Anak Berisiko Putus Sekolah (ABPS) serta menangani Anak Tidak Sekolah (ATS) di seluruh Indonesia. Menyatukan Langkah, Menjaga Anak Tetap Belajar Menyatukan Langkah, Menjaga Anak Tetap Belajar 2
Direktorat Sekolah Menengah Pertama memandang bahwa keberhasilan Wajib Belajar 13 Tahun harus dibangun melalui beragam program oleh beragam pemangku kepentingan. Oleh karena itu, Rapat Koordinasi Penguatan Kapasitas UPT menjadi ruang untuk menyatukan arah kebijakan, memperkuat kolaborasi, dan membangun kesepahaman antarkementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta berbagai mitra pembangunan dalam pencegahan dan penanganan ATS. etiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh melalui pendidikan. Di balik angka Anak Tidak Sekolah (ATS), terdapat beragam cerita yang membutuhkan perhatian bersama. Ada anak yang belum pernah bersekolah, ada yang berhenti di tengah perjalanan, dan ada pula yang belum melanjutkan ke jenjang berikutnya.S Setiap data mewakili seorang anak. Setiap anak berhak memperoleh kesempatan untuk terus belajar. 3
olaborasi tersebut memperlihatkan bahwa setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi. Bappenas menghadirkan arah kebijakan nasional agar Wajib Belajar 13 Tahun menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Kementerian Dalam Negeri memperkuat tata kelola pemerintah daerah sehingga koordinasi lintas sektor dapat berjalan semakin efektif. Sementara itu, Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikdasmen menghadirkan sistem data ATS yang membantu pemerintah mengenali anak berdasarkan kategori belum pernah bersekolah, putus sekolah, maupun lulus tidak melanjutkan. Data tersebut menjadi dasar dalam menyusun intervensi yang tepat sesuai kebutuhan setiap anak. Pemanfaatan data yang akurat kemudian diperkuat oleh Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil melalui dukungan verifikasi identitas anak. Di tingkat desa, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal mendorong keterlibatan pemerintah desa dalam pendataan, pendampingan keluarga, serta penguatan dukungan bagi keberlanjutan pendidikan. Rangkaian peran tersebut memperlihatkan bahwa penanganan ATS dimulai dari data yang berintegritas, dilanjutkan dengan koordinasi yang kuat, dan diwujudkan melalui layanan yang hadir hingga lingkungan tempat anak bertumbuh.K Kolaborasi menghubungkan kebijakan, data, layanan, dan pendampingan agar semakin banyak anak dapat melanjutkan pendidikan. Ekosistem tersebut semakin lengkap melalui keterlibatan Kementerian Agama. Madrasah memperkuat layanan pendidikan melalui berbagai program afirmasi, sedangkan pesantren mengembangkan rekognisi pendidikan, penguatan kelembagaan, integrasi data santri, serta pemanfaatan Nomor Induk Siswa Nasional. Berbagai langkah tersebut memperluas pilihan layanan pendidikan sekaligus memastikan lebih banyak anak memperoleh pengakuan atas proses belajar yang mereka jalani. Praktik baik dari Provinsi Nusa Tenggara Barat menunjukkan bagaimana kolaborasi tersebut bekerja di lapangan. Penguatan data, koordinasi lintas sektor, pendampingan keluarga, serta keterlibatan pemerintah daerah menghadirkan layanan yang semakin responsif terhadap kebutuhan anak. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa kebijakan nasional memperoleh makna ketika diterjemahkan menjadi aksi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. 4
Melalui semangat gotong royong tersebut, Wajib Belajar 13 Tahun terus berkembang menjadi gerakan bersama. Ketika kebijakan, data, layanan, dan pendampingan berjalan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan, semakin banyak anak Indonesia memperoleh kesempatan untuk tetap belajar, menyelesaikan pendidikan jenjang SMP, dan menyiapkan masa depan yang lebih baik.Arah kebijakan dibangun oleh Bappenas dan Kementerian Dalam Negeri. Data dan identifikasi diperkuat melalui Pusdatin Kemendikdasmen serta Ditjen Dukcapil. Perluasan layanan pendidikan didukung oleh Kementerian Agama melalui madrasah dan pesantren. Pendampingan implementasi dilaksanakan oleh BBPMP, BPMP, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan agar setiap kebijakan dapat diwujudkan menjadi layanan yang dirasakan langsung oleh anak dan keluarga. Kolaborasi dalam Satu EkosistemKolaborasi dalam Satu Ekosistem 5
Lima Strategi SMP Kristen Krista Citra Parakan Cegah Anak Putus Sekolah Lima Strategi SMP Kristen Krista Citra Parakan Cegah Anak Putus Sekolah Untuk mencegah hal tersebut, SMP Kristen Krista Citra Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menekankan komunikasi hangat dengan anak dan orang tua. Sejumlah cara ditempuh untuk menjembatani komunikasi tiga arah. Sebab, pada akhirnya, saling memahami dan percaya merupakan kunci utama untuk menjauhi anak dari potensi putus sekolah. Untuk mencegah hal tersebut, SMP Kristen Krista Citra Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menekankan komunikasi hangat dengan anak dan orang tua. Sejumlah cara ditempuh untuk menjembatani komunikasi tiga arah. Sebab, pada akhirnya, saling memahami dan percaya merupakan kunci utama untuk menjauhi anak dari potensi putus sekolah. Salah satu penyebab utama anak putus sekolah (ATS) adalah renggangnya komunikasi antara anak, orang tua, dan sekolah. Masing-masing seolah punya kesibukan sendiri yang kemudian menempatkan anak sebagai korban keadaan. Anak kehilangan rasa percaya diri dan keberanian untuk mengungkapkan harapan di dalam benaknya. Salah satu penyebab utama anak putus sekolah (ATS) adalah renggangnya komunikasi antara anak, orang tua, dan sekolah. Masing-masing seolah punya kesibukan sendiri yang kemudian menempatkan anak sebagai korban keadaan. Anak kehilangan rasa percaya diri dan keberanian untuk mengungkapkan harapan di dalam benaknya. Pola komunikasi yang hangat antara sekolah, orang tua, dan anak membuat kemungkinan anak putus sekolah sangat kecil. Pola komunikasi yang hangat antara sekolah, orang tua, dan anak membuat kemungkinan anak putus sekolah sangat kecil. 6
Kunjungan ke Rumah Murid Kepercayaan dibangun melalui kedekatan dan saling memahami. SMP Kristen Krista Citra Parakan mengawalinya dengan berkunjung ke rumah murid baru. Satu atau dua bulan setelah tahun ajaran baru berjalan, guru-guru berkunjung ke rumah setiap murid. Sebelumnya, sekolah menyampaikan pemberitahuan dan menyepakati pertemuan dengan orang tua. Sekolah kemudian meliburkan pembelajaran untuk memastikan pertemuan berjalan tanpa hambatan. Kepercayaan dibangun melalui kedekatan dan saling memahami. SMP Kristen Krista Citra Parakan mengawalinya dengan berkunjung ke rumah murid baru. Satu atau dua bulan setelah tahun ajaran baru berjalan, guru-guru berkunjung ke rumah setiap murid. Sebelumnya, sekolah menyampaikan pemberitahuan dan menyepakati pertemuan dengan orang tua. Sekolah kemudian meliburkan pembelajaran untuk memastikan pertemuan berjalan tanpa hambatan. Di rumah itu, guru, murid, dan kedua orang tua berdialog, menjalin komunikasi intens dengan berdiskusi ringan seputar program sekolah, kebiasaan anak, hingga relasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Menurut Kelik Yan Pradana, Kepala SMP Kristen Krista Citra Parakan, guru perlu mengetahui lebih dalam perilaku seorang anak baik di sekolah maupun di rumah. Di rumah itu, guru, murid, dan kedua orang tua berdialog, menjalin komunikasi intens dengan berdiskusi ringan seputar program sekolah, kebiasaan anak, hingga relasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Menurut Kelik Yan Pradana, Kepala SMP Kristen Krista Citra Parakan, guru perlu mengetahui lebih dalam perilaku seorang anak baik di sekolah maupun di rumah. “Kadang perilaku anak di rumah dan sekolah sangat kontras. Nah, itu perlu kita selaraskan,ˮ Kelik Yan Pradana, Kepala SMP Kristen Krista Citra Parakan- Guru juga jadi tahu kebiasaan anak dalam menggunakan gawai, aktivitas bermedia sosial, dan frekuensi bermain gim. Sebagian orang tua berharap guru memberi nasihat kepada anaknya karena telah putus asa diabaikan mereka. Diskusi santai dan hangat membuat suasana cair. Imbasnya, tambah Kelik, kunjungan itu memakan waktu lama. “Satu rumah jadi bisa lama karena banyak orang tua curhat,” ungkapnya. Guru juga jadi tahu kebiasaan anak dalam menggunakan gawai, aktivitas bermedia sosial, dan frekuensi bermain gim. Sebagian orang tua berharap guru memberi nasihat kepada anaknya karena telah putus asa diabaikan mereka. Diskusi santai dan hangat membuat suasana cair. Imbasnya, tambah Kelik, kunjungan itu memakan waktu lama. “Satu rumah jadi bisa lama karena banyak orang tua curhat,” ungkapnya. Suasana dialog dibangun dengan penuh kehangatan. Guru bertanya tentang kebiasaan anak di rumah dan pola komunikasi yang dibangun dengan orang tua. Orang tua juga ditanya tentang pekerjaan, model relasi yang diterapkan kepada anak, dan harapan kepada sekolah. “Tujuannya untuk membuat profil (profiling), mendapatkan data yang menyeluruh dan lengkap,” ucap Kelik. Sering guru mendengar langsung curahan hati orang tua tanpa bertanya lebih dulu. Suasana dialog dibangun dengan penuh kehangatan. Guru bertanya tentang kebiasaan anak di rumah dan pola komunikasi yang dibangun dengan orang tua. Orang tua juga ditanya tentang pekerjaan, model relasi yang diterapkan kepada anak, dan harapan kepada sekolah. “Tujuannya untuk membuat profil (profiling), mendapatkan data yang menyeluruh dan lengkap,” ucap Kelik. Sering guru mendengar langsung curahan hati orang tua tanpa bertanya lebih dulu. 7
Hasil diskusi itu menjadi profil keluarga, bahan bagi sekolah dalam mempertimbangkan sejumlah hal. Di antaranya untuk mendeteksi lebih awal permasalahan yang terjadi pada anak di rumah dan pengaruhnya terhadap perilaku mereka di sekolah. Jika ada keanehan dan hal mencurigakan pada diri seorang anak, guru tinggal membuka dokumen profil sang anak. Hasil diskusi itu menjadi profil keluarga, bahan bagi sekolah dalam mempertimbangkan sejumlah hal. Di antaranya untuk mendeteksi lebih awal permasalahan yang terjadi pada anak di rumah dan pengaruhnya terhadap perilaku mereka di sekolah. Jika ada keanehan dan hal mencurigakan pada diri seorang anak, guru tinggal membuka dokumen profil sang anak. - Komunitas Tumbuh Bersama Agar hubungan antara guru dan murid lebih dekat, sekolah membuat Komunitas Tumbuh Bersama (KTB). Di sini guru menjadi mentor bagi sejumlah murid. Satu kelompok terdiri dari murid kelas 7, 8, dan 9. Agar hubungan antara guru dan murid lebih dekat, sekolah membuat Komunitas Tumbuh Bersama (KTB). Di sini guru menjadi mentor bagi sejumlah murid. Satu kelompok terdiri dari murid kelas 7, 8, dan 9. Pengelompokan tersebut menyebabkan relasi antara kakak dan adik kelas semakin kuat. Hubungan mereka bertambah dekat. Kondisi ini mengurangi gesekan antarkelas. Kecil kemungkinan terjadi perundungan (bullying). Aktivitas KTB berlangsung tiap Jumat. Durasinya sekitar satu jam. Bahkan kadang bisa lebih, tergantung kegiatan tiap kelompok. Pengelompokan tersebut menyebabkan relasi antara kakak dan adik kelas semakin kuat. Hubungan mereka bertambah dekat. Kondisi ini mengurangi gesekan antarkelas. Kecil kemungkinan terjadi perundungan (bullying). Aktivitas KTB berlangsung tiap Jumat. Durasinya sekitar satu jam. Bahkan kadang bisa lebih, tergantung kegiatan tiap kelompok. “Itu juga menjadi kunci untuk keharmonisan antarkelas,ˮ Kelik Yan Pradana, Kepala SMP Kristen Krista Citra Parakan- 8
- Aktivitas KTB berlangsung tiap Jumat. Durasinya sekitar satu jam. Bahkan kadang bisa lebih, tergantung kegiatan tiap kelompok. Di sini, tiap anak dapat menyampaikan beragam hal yang dihadapinya, mulai dari permasalahan di sekolah hingga di rumah. Guru memberi pandangan. Begitu pula teman sekelompok lainnya. Aktivitas KTB berlangsung tiap Jumat. Durasinya sekitar satu jam. Bahkan kadang bisa lebih, tergantung kegiatan tiap kelompok. Di sini, tiap anak dapat menyampaikan beragam hal yang dihadapinya, mulai dari permasalahan di sekolah hingga di rumah. Guru memberi pandangan. Begitu pula teman sekelompok lainnya. Keberadaan KTB tak mengurangi kinerja guru Bimbingan Konseling (BK). Murid- murid beda level bergabung dalam satu kelas mengikuti pelajaran BK. Isu-isu terkini dibahas. Murid-murid pun dapat langsung menyampaikan keluhan dan permasalahannya. Tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pertimbangan dari guru ataupun teman lain. Keberadaan KTB tak mengurangi kinerja guru Bimbingan Konseling (BK). Murid- murid beda level bergabung dalam satu kelas mengikuti pelajaran BK. Isu-isu terkini dibahas. Murid-murid pun dapat langsung menyampaikan keluhan dan permasalahannya. Tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pertimbangan dari guru ataupun teman lain. Mata Pelajaran Character Building Class urikulum sekolah juga didesain untuk ___menguatkan harmoni antarmurid melalui mata pelajaran Character Building Class (CBC). Tiap minggu dua jam pelajaran (JP). Satu kelas berisi satu rombongan belajar yang sama. “Harapannya, penumbuhan karakter ini membekali masing-masing anak agar memiliki hubungan baik dengan yang lain,” jelas Kelik. urikulum sekolah juga didesain untuk ___menguatkan harmoni antarmurid melalui mata pelajaran Character Building Class (CBC). Tiap minggu dua jam pelajaran (JP). Satu kelas berisi satu rombongan belajar yang sama. “Harapannya, penumbuhan karakter ini membekali masing-masing anak agar memiliki hubungan baik dengan yang lain,” jelas Kelik.K Pembelajaran BK dan CBC menjadi penguat murid dalam membentengi diri dari problematika kesehatan mental dan karakter. Menurut Kelik, hanya guru mumpuni yang mampu mengajarkan materi tersebut dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan khusus bagi guru-guru yang mengampunya. Salah satu tantangan bagi penguatan karakter murid, jelas Kelik, adalah kehadiran murid baru. Bagaimanapun, mereka membawa perilaku dan budaya ‘baru’ ke sekolah. Persinggungan ini merupakan tantangan menarik bagi guru dalam mengenalkan perilaku dan budaya SMPK Krista Citra Parakan kepada mereka. Maka, guru CBC di kelas 7 bekerja ekstra untuk membentuk karakter murid sesuai visi dan misi sekolah. Tentu, profil murid yang didapat setelah kunjungan ke rumah mereka sangat membantu. Pembelajaran BK dan CBC menjadi penguat murid dalam membentengi diri dari problematika kesehatan mental dan karakter. Menurut Kelik, hanya guru mumpuni yang mampu mengajarkan materi tersebut dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan khusus bagi guru-guru yang mengampunya. Salah satu tantangan bagi penguatan karakter murid, jelas Kelik, adalah kehadiran murid baru. Bagaimanapun, mereka membawa perilaku dan budaya ‘baru’ ke sekolah. Persinggungan ini merupakan tantangan menarik bagi guru dalam mengenalkan perilaku dan budaya SMPK Krista Citra Parakan kepada mereka. Maka, guru CBC di kelas 7 bekerja ekstra untuk membentuk karakter murid sesuai visi dan misi sekolah. Tentu, profil murid yang didapat setelah kunjungan ke rumah mereka sangat membantu. 9
-Kelik Yan Pradana, Kepala SMP Kristen Krista Citra Parakan- Pengembangan Kapasitas Pepatah populer Afrika menyebutkan, “Butuh orang sekampung untuk mendidik seorang anak.” SMP Kristen Krista Citra Parakan mentransformasikan pepatah itu dengan kegiatan penguatan kapasitas yang melibatkan guru dan orang tua. Dalam penguatan kapasitas guru, pihak Yayasan dan kepala sekolah memahami bahwa pelayanan totalitas kepada murid- murid dan orang tua memerlukan upaya besar dalam penyiapan guru. Pembinaan dan supervisi yang konsisten tidak sebatas metode mengajar. Kondisi guru apakah, misalnya, cukup kerasan mengajar di sekolah harus dapat terdeteksi. Pepatah populer Afrika menyebutkan, “Butuh orang sekampung untuk mendidik seorang anak.” SMP Kristen Krista Citra Parakan mentransformasikan pepatah itu dengan kegiatan penguatan kapasitas yang melibatkan guru dan orang tua. Dalam penguatan kapasitas guru, pihak Yayasan dan kepala sekolah memahami bahwa pelayanan totalitas kepada murid- murid dan orang tua memerlukan upaya besar dalam penyiapan guru. Pembinaan dan supervisi yang konsisten tidak sebatas metode mengajar. Kondisi guru apakah, misalnya, cukup kerasan mengajar di sekolah harus dapat terdeteksi. “Di sekolah swasta, keluar-masuk guru cukup sering,ˮ Kelik Yan Pradana, Kepala SMP Kristen Krista Citra Parakan- Saat ini, di sekolahnya, masih banyak guru yang lumayan lama mengajar. Kendati demikian, keluar-masuk guru tetap terjadi. Sehingga, sama seperti murid baru, pembentukan ‘guru baru’ juga jadi prioritas penguatan karakter oleh sekolah. Berangkat dari kebutuhan akan pengembangan kapasitas guru, murid, dan orang tua, sekolah mendesain kegiatan penguatan karakter yang komprehensif. Majelis Pendidikan Kristen (MPK) digandeng. Sekolah meminta MPK menyediakan pakar atau psikolog terbaik untuk melayani orang tua dan guru serta murid-murid. Acara digelar tiga sesi pertemuan dalam satu hari; orang tua, murid, dan guru. Saat ini, di sekolahnya, masih banyak guru yang lumayan lama mengajar. Kendati demikian, keluar-masuk guru tetap terjadi. Sehingga, sama seperti murid baru, pembentukan ‘guru baru’ juga jadi prioritas penguatan karakter oleh sekolah. Berangkat dari kebutuhan akan pengembangan kapasitas guru, murid, dan orang tua, sekolah mendesain kegiatan penguatan karakter yang komprehensif. Majelis Pendidikan Kristen (MPK) digandeng. Sekolah meminta MPK menyediakan pakar atau psikolog terbaik untuk melayani orang tua dan guru serta murid-murid. Acara digelar tiga sesi pertemuan dalam satu hari; orang tua, murid, dan guru. 10
- Tahun ke-3, retreat, lebih menekankan kegiatan kerohanian. Sama seperti acara alam dan barak, lokasi kegiatan retreat di sekitar Jawa Tengah karena terkait anggaran. Pola komunikasi yang intens dalam bentuk aktivitas kelompok, fokus pada penguatan mental dan karakter, serta program yang dinamis setiap tahun, menurut Kelik, membuat kemungkinan ada anak putus sekolah sangat kecil. Jangankan berpikir untuk berhenti, sebelum lulus pun mereka sudah punya bayangan tentang tujuan sekolah jenjang berikutnya. Tahun ke-3, retreat, lebih menekankan kegiatan kerohanian. Sama seperti acara alam dan barak, lokasi kegiatan retreat di sekitar Jawa Tengah karena terkait anggaran. Pola komunikasi yang intens dalam bentuk aktivitas kelompok, fokus pada penguatan mental dan karakter, serta program yang dinamis setiap tahun, menurut Kelik, membuat kemungkinan ada anak putus sekolah sangat kecil. Jangankan berpikir untuk berhenti, sebelum lulus pun mereka sudah punya bayangan tentang tujuan sekolah jenjang berikutnya.Kelik Yan Pradana, Kepala SMP Kristen Krista Citra Parakan- Latihan Dasar Kepemimpinan Guna menguatkan komunikasi dan relasi antarwarga sekolah, diperlukan situasi menantang di luar sekolah. Setiap tahun, SMP Kristen Krista Citra Parakan mengadakan latihan dasar kepemimpinan (LDK). Acara ini diikuti oleh murid-murid kelas 7, 8, dan 9. LDK didesain dalam siklus tiga tahunan. Pada tahun ke-1, murid kelas 7 mengikuti kegiatan alam. Pada tahun ke-2, murid kelas 7 yang naik kelas 8 mengikuti kegiatan barak. Pada tahun ke-3, murid kelas 7 kemudian naik kelas 8 dan kini kelas 9 mengikuti retreat. Guna menguatkan komunikasi dan relasi antarwarga sekolah, diperlukan situasi menantang di luar sekolah. Setiap tahun, SMP Kristen Krista Citra Parakan mengadakan latihan dasar kepemimpinan (LDK). Acara ini diikuti oleh murid-murid kelas 7, 8, dan 9. LDK didesain dalam siklus tiga tahunan. Pada tahun ke-1, murid kelas 7 mengikuti kegiatan alam. Pada tahun ke-2, murid kelas 7 yang naik kelas 8 mengikuti kegiatan barak. Pada tahun ke-3, murid kelas 7 kemudian naik kelas 8 dan kini kelas 9 mengikuti retreat. Tahun berikutnya murid-murid menyambangi barak. Sekolah bekerja sama dengan Koramil atau Yonif yang memang punya program khusus untuk membentuk mental dan karakter peserta didik. Mereka menjalani aktivitas selama 2 hari 1 malam. Semua kegiatan dikawal tentara tanpa melibatkan guru. Tahun berikutnya murid-murid menyambangi barak. Sekolah bekerja sama dengan Koramil atau Yonif yang memang punya program khusus untuk membentuk mental dan karakter peserta didik. Mereka menjalani aktivitas selama 2 hari 1 malam. Semua kegiatan dikawal tentara tanpa melibatkan guru. Pada kegiatan alam, murid-murid menjalani kemping di gunung atau perbukitan. Acaranya 2 hari 1 malam. Menurut Kelik, acara ini lebih longgar, seperti wisata di alam terbuka. Lebih mengutamakan kebersamaan. Pada kegiatan alam, murid-murid menjalani kemping di gunung atau perbukitan. Acaranya 2 hari 1 malam. Menurut Kelik, acara ini lebih longgar, seperti wisata di alam terbuka. Lebih mengutamakan kebersamaan. Belajar dari pengalaman di atas, membangun komunikasi hangat dengan murid dan orang tua adalah keutamaan yang patut dilakukan oleh guru dan kepala sekolah. Dikuatkan dalam bentuk sistem dan kurikulum sekolah. Komunikasi ini menjadi fondasi bagi berlangsungnya keamanan dan kenyamanan bagi murid dalam menjalani pembelajaran. Dengan begitu, potensi anak putus sekolah tidak akan terjadi Belajar dari pengalaman di atas, membangun komunikasi hangat dengan murid dan orang tua adalah keutamaan yang patut dilakukan oleh guru dan kepala sekolah. Dikuatkan dalam bentuk sistem dan kurikulum sekolah. Komunikasi ini menjadi fondasi bagi berlangsungnya keamanan dan kenyamanan bagi murid dalam menjalani pembelajaran. Dengan begitu, potensi anak putus sekolah tidak akan terjadi 11
Bayan Bercahaya:Pukul sebelas malam, Kepala Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Satradi, S.P., bersama beberapa tokoh masyarakat menyusuri jalan menuju kawasan pegunungan. Malam itu mereka tidak sedang menghadiri rapat ataupun kegiatan desa. Tujuan mereka hanya satu: menemui seorang anak yang memutuskan untuk berhenti sekolah. Tak ada yang tahu apakah malam itu mereka akan berhasil membujuknya. Setelah berbincang cukup lama, sang anak akhirnya bersedia turun gunung dan kembali melanjutkan pendidikannya. Pukul sebelas malam, Kepala Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Satradi, S.P., bersama beberapa tokoh masyarakat menyusuri jalan menuju kawasan pegunungan. Malam itu mereka tidak sedang menghadiri rapat ataupun kegiatan desa. Tujuan mereka hanya satu: menemui seorang anak yang memutuskan untuk berhenti sekolah. Tak ada yang tahu apakah malam itu mereka akan berhasil membujuknya. Setelah berbincang cukup lama, sang anak akhirnya bersedia turun gunung dan kembali melanjutkan pendidikannya. Gerakan Desa Literasi Peduli Anak Tetap Sekolah Kisah itu bukan satu-satunya. Seorang siswa SMP pernah berhenti sekolah karena merasa sudah mampu menghasilkan uang sendiri. Berbagai upaya guru membujuknya tidak berhasil. Karena itu, kepala desa bersama tokoh masyarakat, Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), pendamping sosial, dan pihak sekolah mendatangi rumah keluarganya. Satradi mengingatkan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan tidak boleh dipekerjakan hingga putus sekolah. Kisah itu bukan satu-satunya. Seorang siswa SMP pernah berhenti sekolah karena merasa sudah mampu menghasilkan uang sendiri. Berbagai upaya guru membujuknya tidak berhasil. Karena itu, kepala desa bersama tokoh masyarakat, Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), pendamping sosial, dan pihak sekolah mendatangi rumah keluarganya. Satradi mengingatkan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan tidak boleh dipekerjakan hingga putus sekolah. 12
Ia juga menegaskan bahwa apabila keluarga tetap membiarkan anak bekerja dan tidak kembali bersekolah, pemerintah desa dapat meninjau kembali berbagai bentuk pelayanan administrasi maupun bantuan sosial sebagai bagian dari komitmen melindungi hak anak atas pendidikan. Ketegasan itu sempat membuat suasana hening. Namun perlahan sang anak luluh dan akhirnya memilih kembali ke sekolah karena tidak ingin orang tuanya menghadapi persoalan sosial maupun hukum di desa. Ada pula kisah yang lebih sederhana, tetapi tak kalah menyentuh. Seorang anak berhenti sekolah hanya karena seragamnya robek dan keluarganya tidak mampu membeli yang baru. Pemerintah desa kemudian membantu memenuhi kebutuhan sekolahnya. Kini ia melanjutkan pendidikan di SMA, dipercaya menjadi Ketua OSIS, dan bercita-cita menjadi anggota TNI. Lebih dari Sekadar Mengembalikan Anak ke Sekolah iga kisah itu terjadi di Desa Bayan. Namun di baliknya tersimpan persoalan yang jauh lebih besar: masih banyak anak Indonesia yang belum menikmati haknya atas pendidikan. Data April 2026 menunjukkan terdapat 347.522 anak usia 13–15 tahun yang belum pernah bersekolah dan 360.476 anak putus sekolah. Selain itu, sebanyak 370.318 lulusan SD tidak melanjutkan ke SMP serta 694.544 lulusan SMP tidak melanjutkan ke SMA. Angka-angka tersebut mengingatkan bahwa menjaga anak tetap sekolah tidak mungkin hanya dibebankan kepada guru dan orang tua. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.T 13
Di Desa Bayan, keterlibatan itu berawal dari pengalaman hidup kepala desanya sendiri. Semasa kecil, Satradi harus berjalan belasan kilometer menuju sekolah. Di kampungnya saat itu, hanya ia yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga SMP. "Saya tidak ingin anak-anak Bayan mengalami kesulitan seperti yang saya rasakan," tuturnya. Pengalaman itulah yang membentuk cara pandangnya ketika dipercaya memimpin Desa Bayan sejak 2020. Baginya, mengembalikan anak yang telah putus sekolah memang penting, tetapi mencegah anak meninggalkan bangku sekolah jauh lebih penting. Dari keyakinan itulah lahir gerakan Literasi Bayan Bercahaya. Ada pula kisah yang lebih sederhana, tetapi tak kalah menyentuh. Seorang anak berhenti sekolah hanya karena seragamnya robek dan keluarganya tidak mampu membeli yang baru. Pemerintah desa kemudian membantu memenuhi kebutuhan sekolahnya. Kini ia melanjutkan pendidikan di SMA, dipercaya menjadi Ketua OSIS, dan bercita-cita menjadi anggota TNI. Desa Literasi sebagai Benteng Pencegahan Momentum gerakan ini bermula pada 2024 ketika Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Nusa Tenggara Barat menemukan sekitar 50 anak tidak sekolah di Desa Bayan. Temuan tersebut menjadi alarm bagi masyarakat. Setahun kemudian, tepatnya pada 13 Januari 2025, diluncurkan Sekolah Literasi Bayan Bercahaya sebagai gerakan bersama untuk membangun budaya belajar sekaligus mencegah anak putus sekolah. 14
Menariknya, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai urusan sekolah semata. Hampir seluruh ruang sosial desa dihidupkan sebagai ruang belajar. Karang Taruna, Posyandu, tokoh agama, relawan literasi, kelompok sadar wisata, hingga badan usaha milik desa dilibatkan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. alah satu kegiatan yang paling dekat dengan masyarakat adalah perpustakaan keliling. Program ini berawal dari inisiatif Ustaz Asudin, relawan literasi dari Dusun Dasan Tutul, yang sejak 2016 berkeliling ke dusun-dusun terpencil hanya dengan sepeda motor, satu kotak buku, terpal, dan pengeras suara kecil. Inisiatif tersebut kemudian diadopsi menjadi program rutin Desa Bayan. Setiap satu atau dua minggu, relawan bersama pemuda Karang Taruna mengajak anak-anak membaca, menulis, menggambar, dan bercerita.S Upaya membangun budaya belajar juga dilakukan melalui Berugak Literasi, taman bacaan di kawasan wisata desa, serta perpustakaan yang terintegrasi dengan Posyandu. Anak-anak diajak membaca dan bermain, sementara orang tua memperoleh edukasi mengenai pengasuhan dan pentingnya pendidikan. Remaja pun difasilitasi melalui Forum Anak dan Forum Bajang untuk berdiskusi, mengembangkan keterampilan, sekaligus memahami risiko pernikahan dini. 15
Menurut Zuriatun Thoyibah, Ketua Karang Taruna Bayan periode 2021–2025, berbagai kegiatan tersebut dirancang agar remaja memiliki ruang berekspresi secara positif. "Kalau remaja tidak diberi ruang kegiatan, mereka mudah terjebak pergaulan negatif atau menikah dini. Karena itu kami membuat banyak kegiatan agar mereka berani punya cita-cita," tuturnya. Komitmen itu diperkuat dengan keterlibatan langsung kepala desa yang secara berkala menjadi pembina upacara di SD dan SMP untuk memotivasi siswa agar terus bersekolah. Kepada para remaja, ia selalu mengingatkan pentingnya pendidikan dan bahaya pernikahan dini. Anak-anak yang berprestasi juga diberi penghargaan serta dipublikasikan melalui media sosial desa sebagai bentuk apresiasi sekaligus inspirasi bagi teman-temannya. Pendidikan dijadikan kebanggaan sosial desa. Bayan Bercahaya menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan anak tidak sekolah tidak cukup dilakukan setelah mereka meninggalkan bangku pendidikan. Penanganan harus berjalan beriringan dengan pencegahan. Anak yang telah putus sekolah dijemput kembali, sementara anak-anak lainnya dijaga agar tetap memiliki semangat belajar melalui lingkungan yang mendukung. Keberhasilan sejati bukan hanya membangun desa, tetapi juga menjaga setiap anak tetap mengenyam pendidikan. Keberhasilan sejati bukan hanya membangun desa, tetapi juga menjaga setiap anak tetap mengenyam pendidikan. 16