Di sebuah pemukiman yang tenang, Milo, seekor kucing oranye yang cerdik, menghabiskan sebagian besar harinya di atas pagar kayu rumah Nomor 12. Posisinya sempurna untuk berjemur sekaligus mengawasi se

Created in Canva

Di sebuah pemukiman yang tenang, Milo, seekor kucing oranye yang cerdik, menghabiskan sebagian besar harinya di atas pagar kayu rumah Nomor 12.

Posisinya sempurna untuk berjemur sekaligus mengawasi seluruh gang. Namun, ada satu hal yang selalu mengganggu ketenangannya: Bruno, anjing Golden Retriever milik tetangga sebelah yang penuh energi dan selalu ingin mengajak main.

Setiap kali Milo berjalan perlahan melintasi taman, Bruno akan berlari ke tepi pagar, menggoyangkan ekornya dengan kencang, dan menggonggong gembira.

Bagi Milo, tingkah Bruno terlalu berisik dan mengganggu waktu istirahatnya. Milo selalu meresponsnya dengan tatapan dingin, melompat ke tempat yang lebih tinggi, dan membelakangi Bruno.

Suatu sore, hujan deras turun tiba-tiba. Milo yang sedang asyik tidur di bawah pohon taman belakang terkejut dan terjebak.

Tanah di sekitarnya berubah menjadi lumpur licin, dan petir menyambar keras, membuatnya takut untuk berlari menuju teras rumah. Ia mengeong cemas sambil berlindung di balik pot bunga besar yang mulai tergenang air.

Bruno, yang sedang berada di teras rumahnya yang kering, mendengar rengek cemas Milo. Tanpa ragu, Bruno menerobos hujan, berlari melintasi taman, dan menghampiri pot bunga tersebut. Dengan tubuhnya yang besar, Bruno berdiri tepat di samping Milo, melindunginya dari terpaan angin dan hujan deras.

Bruno kemudian menyundul pelan tubuh Milo, memberinya dorongan untuk ikut berjalan di bawah lindungan tubuhnya menuju teras yang aman.

Sesampainya di teras yang kering, Milo gemetar sambil membersihkan bulunya yang basah. Bruno hanya duduk diam di sampingnya, mendengkur pelan untuk menenangkan Milo. Milo menatap Bruno sebentar. Untuk pertama kalinya, ia tidak membelakangi anjing itu. Milo justru mendekat, menyenderkan tubuhnya ke bulu tebal Bruno yang hangat, dan mulai mendengkur halus.

Sejak sore itu, pagar kayu di Nomor 12 bukan lagi pembatas wilayah, melainkan tempat favorit bagi seekor kucing dan anjing untuk berjemur bersama. “Tamat”