Di sebuah dapur rumah tua yang selalu beraroma ikan asin, hiduplah Tomi, seekor kucing berbulu oranye yang gemuk, dan Ciko, tikus kecil yang amat cerdik. Saban hari, Tomi punya satu tugas dari pemilik

Created in Canva

Di sebuah dapur rumah tua yang selalu beraroma ikan asin, hiduplah Tomi, seekor kucing berbulu oranye yang gemuk, dan Ciko, tikus kecil yang amat cerdik. Saban hari, Tomi punya satu tugas dari pemilik rumah: menangkap Ciko. Namun, rahasia besarnya adalah Tomi sebenarnya terlalu malas untuk berburu, dan Ciko terlalu pintar untuk tertangkap. Bagi mereka, aksi kejar- kejaran setiap siang hanyalah rutinitas formalitas agar pemilik rumah senang. Suatu sore, pemilik rumah memasang perangkap kayu baru yang diumpani sepotong keju cheddar yang sangat harum. Ciko, yang tergiur aroma keju, hampir saja melangkah masuk ke dalam perangkap. Tiba-tiba, Tomi melompat dan menepuk ekor Ciko dengan paw-nya. "Woi, Ciko! Pakai matamu, itu perangkap besi!" bisik Tomi sambil berpura- pura menekan tubuh Ciko ke lantai. cc"Kalau kamu tertangkap, pemilik rumah tidak akan membelikanku makanan kaleng lagi karena menganggap kerjaku sudah selesai. Lagipula, siapa lagi lawan main yang bisa bikin siangku tidak membosankan?"

Di sebuah dapur rumah tua yang selalu beraroma ikan asin, hiduplah Tomi, seekor kucing berbulu oranye yang gemuk, dan Ciko, tikus kecil yang amat cerdik.

Saban hari, Tomi punya satu tugas dari pemilik rumah: menangkap Ciko. Namun, rahasia besarnya adalah Tomi sebenarnya terlalu malas untuk berburu, dan Ciko terlalu pintar untuk tertangkap. Bagi mereka, aksi kejar-kejaran setiap siang hanyalah rutinitas formalitas agar pemilik rumah senang. Suatu sore, pemilik rumah memasang perangkap kayu baru yang diumpani sepotong keju cheddar yang sangat harum. Ciko, yang tergiur aroma keju, hampir saja melangkah masuk ke dalam perangkap.

vTiba-tiba, Tomi melompat dan menepuk ekor Ciko dengan paw-nya. "Woi, Ciko! Pakai matamu, itu perangkap besi!" bisik Tomi sambil berpura- pura menekan tubuh Ciko ke lantai.

cc"Kalau kamu tertangkap, pemilik rumah tidak akan membelikanku makanan kaleng lagi karena menganggap kerjaku sudah selesai. Lagipula, siapa lagi lawan main yang bisa bikin siangku tidak membosankan?"

Ciko terkekeh. Ia lalu menggunakan cakarnya yang kecil untuk menggeser keju dari perangkap tanpa memicu pegasnya, lalu membaginya menjadi dua. Hari itu, di sudut dapur yang tersembunyi dari pandangan manusia, musuh bebuyutan itu duduk berdampingan—menikmati sepotong keju bersama dalam damai.