[REV ALL.1] Skripsi Ninda

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BARISAN DAN DERET ARITMATIKA DENGAN PENDEKATAN ETNOMATEMATIKA BERBASIS TRI-N UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SKRIPSI NINDA TRI KURNIANINGSIH NIM. 2022004012 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA 2026

i HALAMAN PERNYATAAN Yang bertandatangan dibawah ini. Nama : Ninda Tri Kurnianingsih NIM : 2022004012 Jurusan : Pendidikan Matematika Judul Skripsi : "PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BARISAN DAN DERET ARITMATIKA DENGAN PENDEKATAN ETNOMATEMATIKA BERBASIS TRI-N UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS” Dengan ini menyatakan bahwa hasil penulisan skripsi yang telah saya buat ini merupakan hasil karya saya sendiri dan benar keasliannya. Semua kutipan dan bahan rujukan yang digunakan dalam skripsi ini telah dicantumkan dalam daftar pustaka. Apabila ternyata di kemudian hari penulisan ini merupakan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap karya orang lain, saya bersedia mempertanggungjawabkan sekaligus bersedia menerima sanksi berdasarkan aturan tata tertib akademik di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tidak dipaksa. Peneliti Ninda Tri Kurnianingsih

ii HALAMAN PENGAJUAN SKRIPSI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BARISAN DAN DERET ARITMATIKA DENGAN PENDEKATAN ETNOMATEMATIKA BERBASIS TRI-N UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS Ditujukan Kepada Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Matematika NINDA TRI KURNIANINGSIH 2022004012 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA 2026

iii HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BARISAN DAN DERET ARITMATIKA DENGAN PENDEKATAN ETNOMATEMATIKA BERBASIS TRI-N UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS Telah Disetujui Untuk Dipertahankan Di Hadapan Tim Penguji Pada Tanggal 18 Juni 2026 Pembimbing I Pembimbing II Dr. Zainnur Wijayanto, M.Pd Betty Kusumaningrum, M.Pd. NIDN. 0509019001 NIDN. 0522019101

iv HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BARISAN DAN DERET ARITMATIKA DENGAN PENDEKATAN ETNOMATEMATIKA BERBASIS TRI-N UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS Telah Dipertahankan di Depan Tim Penguji dan Diterima untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Hari : Jumat Tanggal : 24 Juli 2026 Susunan Tim Penguji Ketua : Prof. Sri Adi Widodo, S.Pd., M.Pd. (………………………..) Sekretaris : Irham Taufiq, S.Sc., M.Sc. (………………………..) Penguji I : Dr. Zainnur Wijayanto, S.Pd., M.Pd. (………………………..) Penguji II : Betty Kusumaningrum, M.Pd. (………………………..) Mengesahkan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Dekan, Dr. Sigit Sujatmika, M.Pd. NIDN. 0526098502

v MOTTOْ َّ َّللاََّ َلَ يُغَيِر ُ مَا بِقَوْم ٍ حَتَّى ٰ يُغَيِرُوا مَا بِأَنْفُسِهِم إِن "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11) “Silahkan bermimpi tidak ada yang tidak mungkin, mimpi itu gratis silahkan ambil yang paling mahal” (Raim Laode)

vi HALAMAN PERSEMBAHAN Dengan mengucapkan syukur kepada Allah, skripsi ini saya persembahkan kepada 1. Kedua orang tua keluarga tercinta, Bapak Kamidi dan Ibu Rohmani yang senantiasa memberikan doa, dukungan, semangat dan motivasi saat kuliah sampai saat ini sehingga skripsi ini dapat selesai. 2. Almamater tercinta Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

vii ABSTRAK Ninda Tri Kurnianingsih, 2022004012. Pengembangan Bahan Ajar Barisan dan Deret Aritmatika dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. Skripsi Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, 2026. Penelitian ini bertujuan menghasilkan bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, serta mengetahui kelayakannya dari aspek validitas, kepraktisan, dan keefektifan. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Penelitian dilakukan di SMK Muhammadiyah Prambanan dengan subjek peserta didik kelas XI TSMC untuk uji coba terbatas dan kelas XI TKRC sebanyak 32 peserta didik untuk uji coba lapangan utama. Data dikumpulkan melalui angket validasi ahli, angket respon peserta didik, serta pretest dan posttest kemampuan berpikir kritis, lalu dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan diuji dengan Wilcoxon Signed Rank Test menggunakan IBM SPSS Statistics 25. Hasil penelitian berupa bahan ajar berbentuk PowerPoint (PPT) dan e-modul yang mengintegrasikan budaya lokal Yogyakarta seperti motif Batik Kawung dan Candi Prambanan. Validasi ahli menunjukkan skor rata-rata PPT 4,44 dan e-modul 4,40 (sangat valid). Respon peserta didik memperoleh skor rata-rata 4,18 untuk PPT dan 4,20 untuk e-modul (baik). Rata-rata pretest 70,86 meningkat menjadi 93,36 pada posttest dengan ketuntasan klasikal 100% dan N-Gain Score 0,7721 (tinggi). Hasil uji Wilcoxon diperoleh Z = -4,867 dan Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 < 0,05, menunjukkan perbedaan signifikan kemampuan berpikir kritis sebelum dan sesudah menggunakan bahan ajar. Bahan ajar ini dinyatakan valid, praktis, dan efektif, sehingga dapat dimanfaatkan oleh guru dan peserta didik SMK serta dikembangkan pada materi lain. Kata Kunci: Bahan ajar, Etnomatematika, Tri-N, Berpikir Kritis, Barisan dan Deret Aritmatika.

viii KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul " Pengembangan Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis". Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi agung Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta kita umatnya sampai hari akhir. Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) bidang studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa tanpa dukungan, bimbingan, dan bantuan dari berbagai pihak, penulis tidak mampu menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Drs. H. Pardimin, M.Pd., Ph.D. Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta yang telah memberikan izin penelitian ini; 2. Bapak Dr. Sigit Sujatmika, M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta yang telah memberikan izin sehingga penelitian ini dapat terlaksana; 3. Ibu Tri Astuti A,S.Si,M.Sc., ketua Program Studi Pendidikan Matematika Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta; 4. Bapak Dr. Zainnur Wijayanto, M.Pd., Dosen Pembimbing 1 yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada penulis dalam penulisan skripsi ini; 5. Ibu Betty Kusumaningrum, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan serta motivasi kepada penulis dalam penulisan skripsi ini. 6. Ibu Istiqomah, S.Si.,M.Sc., selaku Dosen Universitas Sarjanawiyata

ix Tamansiswa yang telah memvalidasi bahan ajar yang dikembangkan; 7. Bapak Krida Singgih Kuncoro, M.Pd., selaku Dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa yang telah memvalidasi bahan ajar yang dikembangkan; 8. Bapak Sigit Rohmadiantoro, S.Pd.T,M.Pd., selaku kepala sekolah SMK Muhammadiyah Prambanan. 9. Ibu Anaria Astuti, S.Pd., selaku Guru Matematika SMK Muhammadiya Prambanan yang telah memvalidasi bahan ajar dalam penelitian yang dikembangkan dan telah membantu penulis dalam melakukan penelitian di sekolah; 10. Teman-teman angkatan 2022 program studi Pendidikan Matematika yang saling memberikan dukungan dan semangat selama perkuliahan hingga penyusunan skripsi; 11. Serta semua pihak, yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang turut membantu dan memberikan dukungan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak untuk perbaikan lebih lanjut. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

x DAFTAR ISI HALAMAN PERNYATAAN............................................................................ i HALAMAN PENGAJUAN SKRIPSI ..............................................................ii HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI.........................................................iii HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI .......................................................... iv MOTTO ........................................................................................................... v HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................... vi ABSTRAK ..................................................................................................... vii KATA PENGANTAR ................................................................................... viii DAFTAR ISI .................................................................................................... x DAFTAR TABEL .......................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiv BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ................................................................................ 5 C. Pembatasan Masalah ............................................................................... 5 D. Rumusan Masalah................................................................................... 5 E. Tujuan Pengembangan ............................................................................ 6 F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan .................................................. 6 G. Manfaat Pengembangan .......................................................................... 7 BAB II KAJIAN TEORI ................................................................................ 9 A. Landasan Teori ....................................................................................... 9 B. Kajian Penelitian yang Relevan ............................................................. 28 C. Kerangka Berpikir ................................................................................ 31 D. Pertanyaan Penelitian ............................................................................ 33 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 35 A. Model Pengembangan ........................................................................... 35 B. Prosedur Pengembangan ....................................................................... 36 C. Subjek dan Objek Penelitian.................................................................. 40 D. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................ 41 E. Jenis data penelitian .............................................................................. 42 F. Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 42 G. Instrumen Penelitian ............................................................................. 44 H. Teknik Analisis Data ............................................................................ 54 I. Indikator Keberhasilan .......................................................................... 66 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. 68 A. Hasil Penelitian..................................................................................... 68 B. Pembahasan ........................................................................................ 123

xi BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 135 A. Kesimpulan .................................................................................... 135 B. Implikasi ........................................................................................ 136 C. Keterbatasan Penelitian ................................................................... 137 D. Saran .............................................................................................. 138 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 140 LAMPIRAN ................................................................................................. 145

xii DAFTAR TABEL Tabel 3. 1 Jadwal Penelitian .............................................................................41 Tabel 3. 2 Validasi Bahan Ajar .........................................................................45 Tabel 3. 3 Hasil Uji Validitas Butir Soal ...........................................................47 Tabel 3. 4 Kisi-Kisi Instrumen Pretest Kemampuan Berpikir Kritis ....................48 Tabel 3. 5 Kisi-Kisi Instrumen Posttest Kemampuan Berpikir Kritis ..................51 Tabel 3. 6 Aturan Pemberian Skor ....................................................................56 Tabel 3. 7 Kriteria dan Batas Nilai Uji Kevalidan ..............................................56 Tabel 3. 8 Aturan Pemberian Skor ...................................................................57 Tabel 3. 9 Kriteria dan Batas Nilai Uji Kepraktisan ...........................................58 Tabel 3. 10 Kriteria Taraf Signifikansi ..............................................................60 Tabel 3. 11 Kategori N-Gain.............................................................................60 Tabel 3. 12 Persentase dan kriteria berdasarkan ketuntasan klasikal ...................61 Tabel 3. 13 Rubrik Penilaian Kemampuan Berpikir Kritis..................................62 Tabel 3. 14 Kategori Presentase Kemampuan Berpikir Kritis .............................65 Tabel 4. 1 Hasil Wawancara .............................................................................68 Tabel 4. 2 Kriteria dan Batas Nilai ....................................................................89 Tabel 4. 3 Kriteria dan Batas Nilai ....................................................................89 Tabel 4. 4 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Isi Materi.....................................90 Tabel 4. 5 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Penyajian Materi .........................90 Tabel 4. 6 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT ...........91 Tabel 4. 7 Ringkasan Hasil Validasi PPT ..........................................................92 Tabel 4. 8 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Isi Materi.....................................93 Tabel 4. 9 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Penyajian Materi .........................93 Tabel 4. 10 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Tampilan Bahan Ajar E-Modul ..94 Tabel 4. 11 Ringkasan Hasil Validasi E-Modul .................................................95 Tabel 4. 12 Saran dan Masukan dari Peserta Didik ............................................97 Tabel 4. 13 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek Tampilan PPT .............................98 Tabel 4. 14 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek Penyajian Materi .........................99 Tabel 4. 15 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek daya tarik PPT........................... 100 Tabel 4. 16 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek kebermanfaatan PPT ................ 100 Tabel 4. 17 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek Tampilan E-Modul .................... 101 Tabel 4. 18 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek Penyajian Materi ....................... 102 Tabel 4. 19 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek daya tarik E-Modul ................... 103 Tabel 4. 20 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek kebermanfaatan E-Modul ......... 104 Tabel 4. 21 Ringkasan Hasil Bahan Ajar PPT.................................................. 105 Tabel 4. 22 Ringkasan Hasil Bahan Ajar E-Modul........................................... 105 Tabel 4. 23 Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk ............................................... 109 Tabel 4. 24 Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank Test ........................................... 110 Tabel 4. 25 Hasil Pretest, Posttest, dan N-Gain Score Peserta Didik ................. 111 Tabel 4. 26 Ringkasan Hasil Analisis Keefektifan Bahan Ajar ......................... 113 Tabel 4. 27 Kategori Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik pada Pretest ... 114 Tabel 4. 28 Kategori Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik pada Posttest .. 115 Tabel 4. 29 Persentase Rata-Rata Per Indikator Kemampuan Berpikir Kritis .... 116

xiii DAFTAR GAMBAR Gambar 2. 1 Kerangka Berpikir ........................................................................33 Gambar 3. 1 Bagan Model ADDIE ...................................................................36 Gambar 4. 1 Tampilan Awal .............................................................................75 Gambar 4. 2 Tampilan Tujuan Dan Manfaat Pembelajaran ................................75 Gambar 4. 3 Tampilan Pretest ...........................................................................75 Gambar 4. 4 Tampilan Pemantik .......................................................................76 Gambar 4. 5 Tampilan Bahan Ajar ....................................................................76 Gambar 4. 6 Tampilan Materi Barisan Aritmatika .............................................77 Gambar 4. 7 Tampilan Materi Deret Aritmatika ................................................77 Gambar 4. 8 Tampilan Niteni............................................................................78 Gambar 4. 9 Tampilan Nirokke .........................................................................78 Gambar 4. 10 Tampilan Nambahi .....................................................................79 Gambar 4. 11 Tampilan Diskusi Kelompok .......................................................79 Gambar 4. 12 Tampilan Posttest .......................................................................80 Gambar 4. 13 Tampilan Awal E-Modul ............................................................80 Gambar 4. 14 Tampilan Kata Pengantar ............................................................81 Gambar 4. 15 Tampilan Pendahuluan ................................................................82 Gambar 4. 16 Tampilan Materi Barisan Aritmatika ...........................................82 Gambar 4. 17 Tampilan Materi Deret Aritmatika...............................................83 Gambar 4. 18 Tampilan dengan Pendekatan Etnomatematika ............................84 Gambar 4. 19 Tampilan Niteni ..........................................................................84 Gambar 4. 20 Tampilan Nirokke .......................................................................85 Gambar 4. 21 Tampilan Nambahi .....................................................................86 Gambar 4. 22 Tampilan Kesimpulan .................................................................86 Gambar 4. 23 Tampilan Latihan Soal ................................................................87 Gambar 4. 24 Tampilan PPT Sebelum Direvisi Slide Pertama.......................... 119 Gambar 4. 25 Tampilan PPT Sesudah Direvisi Slide Pertama .......................... 120 Gambar 4. 26 Tampilan PPT Setelah Revisi Slide Dua .................................... 120 Gambar 4. 27 Tampilan PPT Sebelum Direvisi................................................ 121 Gambar 4. 28 Tampilan PPT Sesudah Direvisi ................................................ 121 Gambar 4. 29 Tampilan E-Modul sebelum direvisi ......................................... 122 Gambar 4. 30 Tampilan E-Modul Sesudah direvisi .......................................... 123

xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Pedoman Wawancara ................................................................................ 145 Lampiran 2 Hasil Wawancara ...................................................................................... 146 Lampiran 3 Kisi-kisi Angket Validasi .......................................................................... 148 Lampiran 4 Angket Validasi Bahan Ajar PPT dan E-Modul.......................................... 150 Lampiran 5 Kisi-kisi Angket Respon Siswa PPT dan E-Modul ..................................... 154 Lampiran 6 Angket Respon Siswa ............................................................................... 156 Lampiran 7 Instrumen Tes Hasil Belajar ...................................................................... 160 Lampiran 8 Hasil Validator 1 Bahan ajar...................................................................... 165 Lampiran 9 Hasil Validator 2 Bahan ajar...................................................................... 169 Lampiran 10 Hasil Validator 3 Bahan ajar .................................................................... 173 Lampiran 11 Rekapitulasi Hasil Validasi Bahan Ajar ................................................... 177 Lampiran 12 Rekapitulasi Respon Siswa Bahan Ajar.................................................... 179 Lampiran 13 Hasil Belajar Peserta Didik Pretest........................................................... 182 Lampiran 14 Hasil Belajar Peserta Didik Postest .......................................................... 183 Lampiran 15 Surat Penugasan Pembimbing Tugas Akhir .............................................. 184 Lampiran 16 Surat Izin Penelitian ................................................................................ 186 Lampiran 17 Surat Keterangan Penelitian..................................................................... 187 Lampiran 18 Dokumentasi Penelitian ........................................................................... 188

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran matematika secara ideal berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, dan kritis peserta didik (Nurlaili et al., 2025). Terutama di tingkat SMK, matematika harus menjadi fondasi kompetensi vokasional dan kognitif, tidak sekadar penguasaan rumus (Sudiansyah et al., 2025). Barisan dan deret aritmatika merupakan salah satu materi matematika kelas XI SMK yang memuat konsep pola, urutan, generalisasi, dan struktur kuantitatif secara eksplisit, sehingga dapat digunakan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis peserta didik (Kharisma, 2018). Di sisi lain, pola-pola matematis yang terkandung dalam materi ini dapat dikaitkan dengan konteks budaya lokal seperti pola motif Batik Kawung dan struktur arsitektur Candi Prambanan sehingga menjadikannya materi yang tepat untuk dikembangkan dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Secara konseptual, pembelajaran matematika ideal tidak hanya menekankan penguasaan rumus, tetapi menuntut pemahaman mendalam terhadap konsep dan pola yang melandasinya (Khishaaluhussaniyyati et al., 2023). Barisan dan deret aritmatika, pada hakikatnya, merupakan representasi matematis dari pola pertumbuhan yang teratur, sehingga memerlukan kemampuan mengidentifikasi hubungan antar suku dan membuat generalisasi (Abidin & Tohir, 2019). Dalam konteks ini, kemampuan berpikir kritis yang mencakup interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan menjadi kompetensi yang paling relevan karena secara langsung memfasilitasi proses bernalar dari pola konkret menuju generalisasi matematis. Berbeda dari kemampuan pemecahan masalah yang lebih menekankan prosedur penyelesaian, atau pemahaman konsep yang berfokus pada representasi, berpikir kritis menuntut peserta didik untuk menilai validitas argumen, menafsirkan makna pola, dan merefleksikan proses penalaran mereka sendiri (Padmakrisya & Meiliasari, 2023). Dengan demikian, dalam pembelajaran

2 barisan dan deret aritmatika, kemampuan berpikir kritis menjadi sasaran kompetensi yang paling mendasar sekaligus paling menantang untuk dikembangkan. Idealnya, peserta didik tidak hanya mampu menghitung suku ke-n atau jumlah n suku pertama, tetapi juga memahami makna pola, menyusun generalisasi, mengevaluasi hasil, serta mengembangkan variasi masalah baru (Juniantika & Sari, 2023). Namun, kondisi ideal tersebut belum sepenuhnya terwujud. Hasil survei internasional PISA 2022 menunjukkan bahwa peserta didik Indonesia masih lemah pada soal-soal yang menuntut penalaran tingkat tinggi, khususnya yang mengharuskan peserta didik untuk menganalisis situasi, membentuk argumen matematis, dan mengevaluasi solusi secara kritis— kemampuan yang secara langsung mencerminkan komponen berpikir kritis dalam matematika (Syaharani et al., 2025). Sebagian besar peserta didik Indonesia hanya mampu menyelesaikan soal prosedural rutin, namun mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada masalah yang membutuhkan penalaran analitis dan penilaian kritis terhadap informasi matematis yang disajikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik Indonesia dalam pembelajaran matematika secara nasional masih berada pada kategori yang perlu mendapat perhatian. (Elyasarikh & Masriyah, 2024). Kondisi serupa juga terdokumentasi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Suraida (2023) melakukan penelitian di SMA Negeri 2 Banguntapan, Yogyakarta dan menemukan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis peserta didik pada materi barisan dan deret aritmetika masih tergolong rendah, di mana 66,7% peserta didik berada pada kategori kurang. Secara lebih rinci, hanya 33% peserta didik yang mampu memenuhi indikator evaluasi dan hanya 11% yang mampu memenuhi indikator inferensi, menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik mengalami kesulitan serius pada tahap penalaran mendalam. Permasalahan serupa juga ditemukan pada jenjang SMK di wilayah DIY. (Diana, 2025) melaporkan bahwa intervensi menggunakan modul berbasis Problem-Based Learning di SMKN 1 Pengasih, Kulon Progo hanya

3 menghasilkan peningkatan kemampuan berpikir kritis yang moderat dengan N- Gain sebesar 65,59%, mengindikasikan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik SMK di wilayah DIY masih memerlukan penanganan yang lebih mendalam dan sistematis. Kondisi serupa terlihat di SMK Muhammadiyah Prambanan. Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru matematika kelas XI, peserta didik cenderung memahami barisan dan deret aritmatika secara mekanis dan hafalan tanpa memahami konsep yang mendasarinya. Peserta didik mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi pola bilangan, tidak mampu menjelaskan mengapa suatu barisan bersifat aritmatika, serta kesulitan menghubungkan konsep dengan situasi nyata di luar prosedur yang diajarkan. Ketika dihadapkan pada soal yang menuntut penalaran lebih dalam seperti mengevaluasi kebenaran suatu generalisasi atau menarik kesimpulan dari pola yang tidak lengkap peserta didik cenderung tidak dapat merespons secara kritis dan hanya mengandalkan hafalan rumus. Kondisi ini diperparah oleh bahan ajar yang digunakan, yang masih bersifat abstrak, prosedural, dan belum mengaitkan materi dengan konteks budaya lokal yang relevan dengan kehidupan peserta didik di sekitar Prambanan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan pengembangan bahan ajar yang kontekstual, relevan dengan lingkungan peserta didik, dan mampu merangsang pengembangan kemampuan berpikir kritis. Pendekatan etnomatematika menjadi pendekatan yang tepat karena mengaitkan konsep matematika dengan budaya lokal yang dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga mendorong peserta didik untuk menganalisis, menalar, dan merefleksikan konsep matematika secara lebih mendalam (Ispita et al., 2023). Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan etnomatematika tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik. (Toha et al., 2023) membuktikan bahwa motif Batik Kawung Yogyakarta dapat dimanfaatkan sebagai konteks pembelajaran barisan dan deret aritmatika yang menuntut peserta didik melakukan pengamatan pola, penalaran, dan

4 generalisasi. Selain itu, (Fadilah et al., 2024) menyatakan bahwa penggunaan konteks budaya lokal dalam pembelajaran matematika mampu membantu peserta didik membangun pemahaman formal melalui proses penalaran yang lebih alami, bermakna, dan kritis. Dengan demikian, etnomatematika merupakan pendekatan yang relevan dan efektif dalam mengatasi rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran matematika. Temuan tersebut diperkuat oleh (Latifa & Sari, 2024) dan (Dina et al., 2025) yang menunjukkan bahwa etnomatematika dapat menunjukkan kecenderungan peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Melalui konteks budaya, peserta didik terdorong untuk menganalisis, menafsirkan, mengevaluasi, dan memecahkan masalah matematis secara mendalam. Agar pembelajaran lebih terstruktur, pendekatan etnomatematika dapat dipadukan dengan berbasis Tri-N (Niteni–Nirokke–Nambahi). (Inayati, 2024) menyatakan bahwa pada tahap Niteni, peserta didik mengamati pola budaya; tahap Nirokke menerapkan pola budaya tersebut ke dalam konsep barisan/deret, dan tahap Nambahi mendorong peserta didik untuk mengembangkan pola, menyusun variasi soal, serta menarik generalisasi matematis. Metode Tri-N sesuai dengan pembelajaran abad ke-21 karena memberikan ruang bagi peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan reflektif (Darmayanti & Rochmiyati, 2025). Selain itu, penelitian oleh (D.A.L.R.B. Kusuma et al., 2023) menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis Tri-N mampu mendorong peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik, khususnya pada indikator menganalisis pola, mengevaluasi strategi penyelesaian, dan menarik kesimpulan logis. Berdasarkan uraian mengenai kondisi ideal pembelajaran matematika, permasalahan pembelajaran barisan dan deret aritmatika di DIY dan di SMK Muhammadiyah Prambanan, serta efektivitas pendekatan etnomatematika yang dipadukan dengan Tri-N dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dapat disimpulkan bahwa pengembangan bahan ajar dengan pendekatan budaya lokal sangat diperlukan. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul: “Pengembangan Bahan Ajar Barisan dan Deret Aritmatika dengan

5 Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis.” B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dibahas di atas, maka diidentifikasi beberapa masalah, sebagai berikut: 1. Pembelajaran barisan dan deret aritmatika kelas XI SMK masih bersifat prosedural dan belum mengembangkan kemampuan berpikir kritis. 2. Kemampuan berpikir kritis peserta didik terutama dalam menganalisis pola dan membuat generalisasi masih rendah. 3. Bahan ajar yang digunakan belum kontekstual dan belum memanfaatkan budaya lokal sebagai sumber belajar. 4. Belum tersedia bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika yang berbasis Tri-N. 5. Belum tersedia bahan ajar yang mengintegrasikan pendekatan etnomatematika dan berbasis Tri-N secara terpadu untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada materi barisan dan deret aritmatika di tingkat SMK. C. Pembatasan Masalah Berdasarkan sejumlah identifikasi masalah yang telah disampaikan, peneliti menyadari bahwa ada beberapa batasan dalam pelaksanaan penelitian ini, yaitu sebagai berikut: 1. Pengembangan bahan ajar barisan dan deret aritmatika kelas XI SMK. 2. Pendekatan etnomatematika dengan berbasis Tri-N. 3. Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE. 4. Kemampuan yang dikaji adalah berpikir kritis matematis. 5. Uji coba dilakukan pada peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka rumusan dalam penelitian ini, sebagai berikut: 1. Bagaimana karakteristik bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan

6 pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) yang dikembangkan untuk memfasilitasi peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik? 2. Bagaimana kelayakan bahan ajar barisan dan deret aritmatika berbasis etnomatematika dengan pendekatan Tri-N ditinjau dari aspek validitas, kepraktisan, dan keefektifan? E. Tujuan Pengembangan Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pengembangan dalam penelitian, sebagai berikut: 1. Menghasilkan bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. 2. Mengetahui kelayakan bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan aspek validitas, kepraktisan, dan efektivitas dalam pembelajaran matematika kelas XI SMK. F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan Spesifikasi produk yang diharapkan untuk meningkatkan berpikir kritis peserta didik, sebagai berikut: 1. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari dua bentuk, yaitu bahan ajar PowerPoint (PPT) untuk pembelajaran tatap muka di kelas dan e-modul matematika yang dapat digunakan secara mandiri, keduanya memuat materi Barisan dan Deret Aritmatika untuk kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan. 2. PPT dan E-modul disusun menggunakan model pengembangan ADDIE dengan Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) sebagai kerangka dasar penyusunan aktivitas pembelajaran yang sekaligus menjadi kerangka berpikir peserta didik dalam memahami konsep. Setiap tahapan Tri-N diintegrasikan dengan kelima indikator kemampuan berpikir kritis (interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan) secara simultan, dengan penekanan yang berbeda pada setiap tahap sesuai karakteristik aktivitas pembelajarannya. Pendekatan ini berorientasi pada pembelajaran

7 aktif, kontekstual, dan berbasis budaya yang melatih peserta didik berpikir sistematis dan reflektif. 3. Pendekatan etnomatematika yang digunakan dalam PPT, e-modul difokuskan pada budaya lokal Yogyakarta, seperti pola batik, arsitektur tradisional, serta aktivitas masyarakat yang relevan dengan konsep barisan dan deret aritmatika. 4. Struktur bahan ajar mencakup bagian pendahuluan, kegiatan pembelajaran dengan pendekatan etnomatematika, latihan soal kontekstual, refleksi berpikir kritis, dan penilaian formatif. 5. Desain tampilan PPT dan e-modul dibuat menarik dan komunikatif, menggunakan ilustrasi budaya lokal serta tata letak yang mudah dipahami oleh peserta didik SMK. G. Manfaat Pengembangan Adapun beberapa manfaat yang diharapkan pada penelitian pengembangan ini, sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis a. Dapat memberikan kontribusi dalam memperluas wawasan, pengetahuan, dan informasi bagi pengembangan ilmu pendidikan matematika, khususnya dalam inovasi bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) pada materi Barisan dan Deret Aritmatika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. b. Dapat menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya dalam mengembangkan bahan ajar matematika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N sebagai media pembelajaran di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK) guna meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis peserta didik. 2. Manfaat Praktis a. Bagi guru Dapat membantu guru dalam menyampaikan materi Barisan dan Deret Aritmatika melalui bahan ajar yang kontekstual, menarik, dan relevan

8 dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, sehingga mempermudah guru dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. b. Bagi peserta didik Dapat meningkatkan motivasi belajar, kemampuan berpikir kritis, dan pemahaman konsep matematis melalui pembelajaran dengan pendekatan budaya lokal berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) yang aktif dan reflektif. c. Bagi sekolah Dapat menjadi inovasi pembelajaran yang memperkaya sumber belajar di sekolah dan mendukung penerapan kurikulum Merdeka yang menekankan pada pembelajaran kontekstual serta penguatan profil pelajar Pancasila. d. Bagi mahasiswa dan peneliti lain Dapat menjadi sumber informasi dan acuan untuk penelitian lanjutan terkait pengembangan bahan ajar atau media pembelajaran matematika dengan pendekatan etnomatematika dan berbasis Tri-N, yang berfokus pada peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

9 BAB II KAJIAN TEORI A. Landasan Teori 1. Bahan Ajar a. Pengertian Bahan Ajar Bahan ajar merupakan salah satu elemen kunci dalam proses pembelajaran karena berperan membantu guru dan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirancang. Menurut (Nurhairunnisah & Sujarwo, 2018), bahan ajar mencakup segala bentuk materi yang disusun secara sistematis untuk memfasilitasi pemahaman konsep serta mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik. Bentuk bahan ajar tidak terbatas pada teks tertulis, tetapi juga dapat berupa media interaktif yang mendorong partisipasi aktif peserta didik selama proses belajar berlangsung. Selanjutnya, (Wafiqah Lubis & Albina, 2025) menjelaskan bahwa bahan ajar yang berkualitas harus memiliki kejelasan tujuan, kesesuaian antara isi dan kompetensi, kegiatan belajar yang bermakna, serta evaluasi yang relevan dengan hasil belajar yang diharapkan. Dalam konteks penelitian ini, bahan ajar yang dikembangkan berupa PowerPoint dan e-modul Barisan dan Deret Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi). Modul ini dirancang untuk membantu peserta didik memahami konsep matematika melalui konteks budaya lokal sekaligus menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. b. Jenis-Jenis Bahan Ajar Bahan ajar memiliki beragam bentuk sesuai dengan karakteristik peserta didik dan kebutuhan pembelajaran. Menurut (Hidayah et al., 2023), bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi: 1) Bahan ajar cetak, seperti buku, modul, dan lembar kerja peserta didik (LKS). Jenis ini mudah digunakan dan tidak memerlukan teknologi.

10 2) Bahan ajar audio, berupa rekaman atau podcast yang membantu memahami materi melalui pendengaran. 3) Bahan ajar visual, meliputi gambar, grafik, dan diagram untuk memperjelas konsep (Yuherni et al., 2020). 4) Bahan ajar audio-visual, seperti video dan animasi pembelajaran yang menarik perhatian peserta didik. 5) Bahan ajar digital/interaktif, seperti e-modul dan media berbasis web yang memungkinkan pembelajaran lebih fleksibel dan interaktif. Dalam penelitian ini, bahan ajar yang dikembangkan berupa PPT dan e-modul dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N pada materi Barisan dan Deret Aritmatika. (Astuti et al., 2021) c. Fungsi Bahan Ajar Bahan ajar memiliki fungsi yang sangat penting dalam proses pembelajaran, baik bagi guru, peserta didik, maupun lembaga pendidikan. Melalui bahan ajar, proses pembelajaran dapat berlangsung secara lebih efektif, efisien, dan terarah. Menurut (Magdalena et al., 2020) bahan ajar berperan sebagai sarana utama untuk memfasilitasi interaksi antara guru dan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, bahan ajar juga berfungsi sebagai pedoman, sumber belajar, serta alat evaluasi yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Adapun fungsi bahan ajar dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Bagi Guru a) Sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran yang terencana dan sistematis. b) Membantu menentukan strategi, metode, dan evaluasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. c) Memudahkan guru mengaitkan konsep matematika dengan konteks budaya lokal melalui pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N.

11 2) Bagi peserta didik a) Sebagai sumber belajar utama untuk memahami materi secara mandiri. b) Meningkatkan kemampuan berpikir kritis melalui kegiatan Niteni, Nirokke, dan Nambahi. c) Menumbuhkan minat dan motivasi belajar karena materi disajikan secara kontekstual dan bermakna. 3) Bagi Lembaga Pendidikan a) Sebagai acuan dalam menjaga kualitas dan konsistensi pembelajaran. b) Mendukung penerapan Kurikulum Merdeka yang berorientasi pada pembelajaran kontekstual dan kompetensi abad ke-21. c) Menjadi inovasi dalam pengembangan media dan bahan ajar kontekstual di lingkungan sekolah. 4) Bagi Proses Evaluasi Pembelajaran a) Sebagai alat untuk menilai sejauh mana peserta didik memahami dan mampu menerapkan konsep yang telah dipelajari. b) Membantu guru melaksanakan penilaian autentik melalui proyek atau aktivitas dengan pendekatan budaya lokal yang mencerminkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. d. Prinsip- Prinsip Bahan Ajar Dalam proses pengembangan bahan ajar, terdapat sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan agar produk yang dihasilkan efektif, menarik, serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Menurut (Lubis & Albina, 2025), bahan ajar yang baik harus memenuhi lima prinsip utama, yaitu relevansi, konsistensi, kecukupan, kontekstualitas, dan keterpaduan. Penerapan prinsip-prinsip tersebut tidak hanya menjadikan bahan ajar lebih informatif, tetapi juga mendorong

12 berkembangnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam memahami konsep matematika. 1) Relevansi Bahan ajar perlu disusun sesuai dengan capaian pembelajaran, karakteristik peserta didik, serta konteks kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini, prinsip relevansi diterapkan dengan mengaitkan materi Barisan dan Deret Aritmatika pada unsur budaya lokal melalui pendekatan budaya, sehingga pembelajaran terasa lebih kontekstual dan bermakna. 2) Konsistensi Keselarasan antara tujuan pembelajaran, isi materi, kegiatan belajar, dan evaluasi harus dijaga agar proses pembelajaran berjalan secara terarah. Prinsip ini memastikan setiap komponen bahan ajar saling mendukung dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. 3) Kecukupan Materi yang disajikan harus proporsional, mencakup ruang lingkup yang memadai untuk mencapai kompetensi dasar. Materi yang terlalu sedikit dapat menghambat pemahaman, sedangkan materi yang berlebihan dapat membebani peserta didik. Oleh karena itu, keseimbangan isi menjadi kunci agar pembelajaran tetap fokus dan efektif. 4) Kontekstualitas Bahan ajar sebaiknya dikaitkan dengan pengalaman dan lingkungan sekitar peserta didik (Getu et al., 2024). Menghubungkan konsep matematika dengan aspek budaya, seperti pola batik atau bentuk arsitektur tradisional, membantu peserta didik memahami materi secara lebih mendalam, konkret, dan aplikatif. 5) Keterpaduan Bahan ajar idealnya mengintegrasikan unsur pengetahuan,

13 keterampilan, dan sikap. Melalui penerapan Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi), peserta didik diajak untuk mengamati, meniru, dan mengembangkan konsep secara mandiri. Pendekatan ini menumbuhkan proses belajar yang aktif, reflektif, dan bermakna. e. Standar Kelayakan Bahan Ajar Bahan ajar yang dikembangkan perlu memenuhi standar kelayakan agar dapat berfungsi secara optimal dalam proses pembelajaran. Menurut (Anwas et al., 2022), aspek yang harus diperhatikan meliputi kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan kegrafikan. Keempat aspek tersebut berperan penting sebagai acuan dalam menilai kualitas bahan ajar yang dihasilkan. 1) Kelayakan Isi Isi bahan ajar harus selaras dengan capaian pembelajaran, akurat secara konsep, serta relevan dengan kebutuhan dan pengalaman peserta didik. Dalam penelitian ini, konten disusun dengan mengaitkan materi Barisan dan Deret Aritmatika pada unsur budaya lokal melalui pendekatan etnomatematika, sehingga konsep yang dipelajari menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik. 2) Kelayakan Penyajian Materi perlu disajikan secara runtut, menarik, dan mendorong keterlibatan aktif peserta didik dalam proses belajar. Penggunaan Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) memfasilitasi proses pembelajaran bertahap, di mana peserta didik belajar mengamati, meniru, dan mengembangkan pengetahuan secara mandiri. 3) Kelayakan Bahasa Bahasa yang digunakan dalam bahan ajar harus komunikatif, sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia, dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik agar mudah dipahami (Hasibuan et al., 2021) Penggunaan bahasa yang jelas

14 dan tidak berbelit membantu peserta didik memahami materi tanpa kebingungan. 4) Kelayakan Kegrafikan Aspek visual bahan ajar perlu dirancang dengan menarik, meliputi tata letak, jenis huruf, warna, dan ilustrasi yang mendukung pemahaman. Elemen grafis tidak hanya berfungsi estetis tetapi juga dapat memuat nilai budaya lokal, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual, menyenangkan, dan bermakna bagi peserta didik. 2. Barisan dan Deret Aritmatika a. Pengertian barisan dan deret aritmatika Barisan dan deret aritmatika merupakan konsep matematika yang berkaitan dengan pola bilangan yang tersusun secara teratur (Qolbi et al., 2022). Barisan adalah susunan bilangan yang mengikuti aturan tertentu, sedangkan deret merupakan penjumlahan suku-suku dalam suatu barisan. Pemahaman terhadap konsep ini penting karena menjadi dasar dalam berbagai materi matematika serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Shah, 2024). Salah satu jenis barisan yang banyak dipelajari adalah barisan aritmatika, yaitu barisan yang memiliki selisih tetap antara dua suku yang berurutan. Selisih tetap tersebut disebut beda (b). Secara matematis, suatu barisan disebut barisan aritmatika apabila memenuhi: 𝑎𝑛 − 𝑎𝑛−1 = 𝑑 untuk setiap 𝑛 > 1. Adapun deret aritmatika merupakan penjumlahan suku-suku pada barisan aritmatika hingga suku ke-(n). Dengan demikian, deret aritmatika digunakan untuk menentukan jumlah nilai dari suatu pola bilangan yang bertambah atau berkurang secara teratur. b. Barisan aritmatika Barisan aritmatika adalah barisan bilangan yang memiliki

15 beda tetap antara dua suku yang berurutan (Safari & Maulia, 2025). Jika suku pertama dinyatakan dengan (a) dan beda dinyatakan dengan (b), maka suku ke-(n) barisan aritmatika dapat ditentukan menggunakan rumus (Konanza et al., 2025): 𝑈𝑛 = 𝑎 + (𝑛 − 1)𝑏 Keterangan: 𝑈𝑛= suku ke-n, 𝑎= suku pertama, 𝑏= beda antar suku, 𝑛= nomor urut suku. Sebagai contoh, pada barisan 3, 6, 9, 12, ..., diperoleh (a=3) dan (b=3). Suku ke-10 dapat dihitung menggunakan rumus barisan aritmatika. Sebagai contoh, misalkan dalam suatu bangunan tradisional terdapat deretan tiang yang disusun secara berjarak sama. Tiang pertama berjarak 1 meter dari dinding utama, dan setiap tiang berikutnya berjarak 0,5 meter lebih jauh dari tiang sebelumnya. Jarak antara dinding dengan tiang ke-6 dapat dihitung menggunakan rumus: 𝑈6 = 1 + (6 − 1)(0,5) = 1 + 2,5 = 3,5 Artinya, tiang keenam berjarak 3,5 meter dari dinding utama. Pola jarak ini menunjukkan penerapan konsep barisan aritmatika dalam kehidupan sehari-hari. c. Deret aritmatika Deret aritmatika merupakan hasil penjumlahan dari suku-suku dalam suatu barisan aritmatika (Royyani et al., 2022). Bentuk umum deret aritmatika dapat dituliskan sebagai: 𝑆𝑛 = 𝑎 + (𝑎 + 𝑏) + (𝑎 + 2𝑏) + ⋯ + (𝑎 + (𝑛 − 1)𝑏) Jumlah 𝑛 suku pertama dari deret aritmatika dapat dihitung dengan menggunakan rumus: 𝑆𝑛 = 𝑛 2 (2𝑎 + (𝑛 − 1)𝑏)

16 atau dapat pula ditulis sebagai: 𝑆𝑛 = 𝑛 2 (𝑎 + 𝑈𝑛 ) dengan keterangan: 𝑆𝑛= jumlah n suku pertama, 𝑎= suku pertama, 𝑏= beda antar suku, 𝑈𝑛= suku terakhir, dan 𝑛= banyaknya suku. Sebagai contoh, dalam proses pembuatan pagar kayu tradisional, jumlah kayu yang digunakan di setiap lapisan meningkat secara tetap. Misalnya, lapisan pertama menggunakan 4 batang kayu, lapisan kedua menggunakan 6 batang, lapisan ketiga menggunakan 8 batang, dan seterusnya hingga lapisan kelima. Dengan demikian, diperoleh: 𝑎 = 4, 𝑏 = 2, 𝑛 = 5 Maka jumlah seluruh batang kayu yang dibutuhkan dapat dihitung dengan: 𝑆5 = 5 2 (2(4) + (5 − 1)(2)) = 5 2 (8 + 8) = 5 2 (16) = 40 Artinya, total kayu yang digunakan untuk lima lapisan adalah 40 batang. Berdasarkan uraian tersebut, barisan aritmatika berfokus pada pola dan nilai setiap suku, sedangkan deret aritmatika berfokus pada jumlah suku-suku dalam barisan tersebut. Kedua konsep ini menjadi dasar penting dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi pola bilangan dan pemecahan masalah yang melibatkan hubungan kuantitatif. 3. Pendekatan Etnomatematika a. Pengertian Etnomatematika Istilah etnomatematika pertama kali diperkenalkan oleh Ubiratan D’Ambrosio pada tahun 1977. Secara etimologis, istilah ini berasal dari tiga kata, yakni ethno yang berarti kelompok budaya,

17 mathema yang berarti pengetahuan atau pembelajaran, serta tics yang berarti cara atau teknik. Berdasarkan pengertian tersebut, etnomatematika dapat dimaknai sebagai studi yang menelaah bagaimana suatu kelompok budaya memahami, mengekspresikan, serta memanfaatkan konsep-konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari (Neves Fraz et al., 2023) Menurut (Orey & Rosa, 2023), etnomatematika merupakan pendekatan pembelajaran yang mengaitkan konsep-konsep matematika formal dengan praktik budaya yang ditemukan dalam kehidupan nyata. Setiap masyarakat memiliki cara unik dalam menerapkan prinsip-prinsip matematis, baik dalam seni, arsitektur, sistem perdagangan, maupun adat istiadat. Melalui pendekatan ini, peserta didik dapat menyadari bahwa matematika bukanlah ilmu yang jauh dari realitas, melainkan bagian dari kehidupan yang mereka jalani sehari-hari. b. Tujuan Etnomatematika 1) Menghubungkan pembelajaran matematika di kelas dengan pengetahuan yang sudah dimiliki peserta didik dari kehidupan sehari-hari (Wulandari et al., 2024). 2) Menjadikan pembelajaran matematika lebih relevan, kontekstual, dan bermakna melalui pengaitannya dengan budaya. 3) Membantu peserta didik memahami konsep matematika melalui pengalaman, praktik budaya, dan objek yang dekat dengan kehidupan mereka. 4) Menjadikan matematika tidak terkesan abstrak dan jauh dari kehidupan, melainkan bagian dari realitas budaya yang mereka jumpai setiap hari. c. Manfaat Etnomatematika 1) Meningkatkan motivasi belajar, karena peserta didik melihat keterkaitan langsung antara matematika dan kehidupan serta budaya mereka.

18 2) Menumbuhkan rasa bangga dan apresiasi terhadap budaya lokal, melalui pengenalan praktik budaya yang mengandung unsur matematis. 3) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, melalui aktivitas mengamati pola, menganalisis fenomena budaya, menalar hubungan matematis, dan menyelesaikan masalah. 4) Mendorong terjadinya meaningful learning atau pembelajaran bermakna karena peserta didik belajar melalui pengalaman nyata dan konteks yang mereka pahami. 5) Membantu peserta didik berpindah dari pemahaman konkret (fenomena budaya) menuju abstraksi matematis melalui proses observasi, representasi, dan analisis (Khaerani et al., 2024). d. Penerapan Etnomatematika dalam Pembelajaran Matematika Penerapan pembelajaran dengan pendekatan konteks budaya memberikan berbagai manfaat. Pertama, dapat meningkatkan motivasi belajar karena peserta didik melihat hubungan langsung antara matematika dan kehidupan mereka. Kedua, menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal melalui pengenalan nilai-nilai dan praktik budaya yang memiliki unsur matematis. Ketiga, melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif melalui proses pengamatan, penalaran, serta pemecahan masalah yang bersumber dari lingkungan sekitar. Selain itu, pembelajaran semacam ini juga mendorong terciptanya meaningful learning atau pembelajaran bermakna karena peserta didik belajar dari pengalaman langsung (Zulfriman et al., 2024). Dalam pembelajaran matematika, pendekatan budaya ini dapat diterapkan pada berbagai topik, termasuk barisan dan deret aritmatika. Misalnya, peserta didik dapat mengamati pola susunan batu pada tangga candi, jumlah motif pada kain batik, atau susunan anyaman bambu. Aktivitas tersebut dapat dikembangkan menjadi kegiatan

19 menemukan konsep barisan dan deret aritmatika melalui observasi langsung. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya memahami rumus secara teoritis, tetapi juga dapat menemukan makna dari pola dan keteraturan yang ada di lingkungan mereka. Proses pembelajaran dapat dimulai dengan kegiatan mengamati fenomena budaya yang mengandung keteraturan bilangan, kemudian dilanjutkan dengan merepresentasikan pola tersebut dalam bentuk model matematis seperti barisan atau deret. Tahap terakhir adalah menganalisis model tersebut untuk menarik kesimpulan matematis. Proses bertahap ini membantu peserta didik memahami konsep dari konteks konkret menuju abstraksi yang lebih tinggi (Maulida & Ghufron, 2025). Selain memperkaya makna pembelajaran matematika, pendekatan ini juga berperan penting dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Ketika dihadapkan pada permasalahan nyata, peserta didik terbiasa untuk mengamati pola, menemukan hubungan antarunsur, menganalisis data, dan menyimpulkan hasil pengamatannya. Kegiatan tersebut menjadi sarana efektif untuk melatih higher order thinking skills atau kemampuan berpikir tingkat tinggi yang sangat dibutuhkan dalam pendidikan abad ke-21 (Halimah, 2021). Secara keseluruhan, pembelajaran matematika yang dikaitkan dengan konteks budaya menjadikan proses belajar lebih bermakna, kritis, dan reflektif. Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya memahami matematika sebagai kumpulan rumus, tetapi juga sebagai representasi cara berpikir manusia yang tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan sehari-hari. Sebagai contoh penerapan etnomatematika pada materi barisan dan deret aritmatika, peserta didik dapat mengamati keteraturan jumlah anak tangga pada bangunan candi, susunan motif batik yang berulang dengan selisih tertentu, atau pola penambahan anyaman bambu pada kerajinan tradisional. Pola-pola

20 tersebut dapat direpresentasikan dalam bentuk barisan aritmatika dengan selisih tetap, kemudian dikembangkan menjadi konsep suku ke-n dan jumlah n suku pertama. Melalui aktivitas tersebut, peserta didik tidak hanya mempelajari rumus secara prosedural, tetapi juga memahami asal-usul konsep barisan dan deret sebagai hasil dari proses pengamatan, penalaran, dan generalisasi terhadap fenomena budaya yang nyata.. 4. Tri-N a. Pengertian Tri-N Pembelajaran berbasis Tri-N merupakan pendekatan pembelajaran yang berakar pada filosofi pendidikan Tamansiswa. Pendekatan ini menekankan proses belajar yang berlangsung secara berkelanjutan melalui tiga tahapan utama, yaitu niteni (mengamati dan memahami), nirokke (menirukan atau mempraktikkan), dan nambahi (mengembangkan atau memodifikasi). Ketiga tahapan ini menggambarkan proses belajar yang alami dan kontekstual, di mana peserta didik belajar melalui pengalaman langsung, meniru, lalu mengembangkan pengetahuan secara mandiri (A. Kusuma & Santosa, 2024). b. Tahapan Tri-N 1) Niteni Niteni, menekankan kemampuan peserta didik untuk memperhatikan dan memahami sesuatu secara cermat. Dalam pembelajaran matematika, tahap ini dilakukan dengan cara mengamati pola, fenomena, atau permasalahan yang diberikan guru. Misalnya, peserta didik mengamati keteraturan bilangan, susunan benda, atau pola pada motif tradisional seperti batik dan genting. Pada fase ini, guru berperan sebagai pembimbing yang menuntun peserta didik agar lebih peka dalam mengamati serta menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap konsep yang sedang dipelajari (Asmoro & Mukti, 2019).

21 2) Nirokke Nirokke merupakan proses menirukan atau mempraktikkan apa yang telah diamati sebelumnya. peserta didik mulai menerapkan hasil pengamatannya dengan menuliskan bentuk matematis dari pola yang ditemukan, seperti barisan atau deret aritmatika, kemudian menggunakan rumus untuk menemukan nilai tertentu. Proses ini tidak hanya melatih keterampilan prosedural, tetapi juga memperkuat pemahaman konseptual peserta didik melalui kegiatan belajar yang bermakna dan kontekstual (Mangiri & Prabawanto, 2024). 3) Nambahi Nambahi adalah fase pengembangan ide. Pada tahap ini, peserta didik didorong untuk berkreasi dan berpikir kritis. Setelah memahami dan mempraktikkan konsep, peserta didik diminta mengembangkan gagasan baru, seperti menciptakan variasi soal, menemukan pola lain, atau menerapkan konsep yang sama pada situasi berbeda. Dalam konteks pembelajaran matematika, tahap ini melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills), karena peserta didik tidak hanya meniru, tetapi juga mencipta dan mengevaluasi hasil belajarnya (Ferdiansyah et al., 2025). c. Landasan pembelajaran berbasis Tri-N Pembelajaran berbasis Tri-N memiliki dasar filosofis yang kuat karena sejalan dengan prinsip pembelajaran humanistik dan kontekstual. Proses belajar berfokus pada pengalaman nyata yang dialami peserta didik sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dan bermakna. Selain itu, pendekatan ini menekankan pembelajaran yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman peserta didik sebagaimana diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara (Yanuarti, 2017).

22 d. Relevansi Tri-N dalam Pembelajaran Matematika Dalam pembelajaran matematika, Tri-N menjadi kerangka berpikir yang memandu peserta didik memahami konsep abstrak melalui pengalaman konkret secara bertahap. Setiap tahapan Tri-N mengintegrasikan kelima indikator berpikir kritis (interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan) dengan penekanan yang berbeda sesuai karakteristik aktivitas pembelajaran. Integrasi ini bersifat saling melengkapi dan tidak linear satu-satu, melainkan berkembang secara simultan dalam setiap tahapan. Berikut adalah gambaran komprehensif keterkaitan antara tahapan Tri-N dengan indikator berpikir kritis menurut (Yani et al., 2024): 1) Tahap Niteni (Mengamati) Pada tahap Niteni, peserta didik melakukan pengamatan terhadap pola budaya lokal. Tahap ini mengintegrasikan kelima indikator berpikir kritis sebagai berikut: Pertama, interpretasi menjadi fokus utama pada tahap ini, dimana peserta didik memahami informasi visual dan kontekstual dari objek budaya yang diamati, mengidentifikasi elemen-elemen penting, serta mengaitkan pola yang ditemukan dengan konsep matematika yang relevan. Kedua, analisis berkembang ketika peserta didik menguraikan objek budaya menjadi komponen- komponen dan mencari hubungan antar elemen yang diamati. Ketiga, evaluasi muncul saat peserta didik menilai kelengkapan pengamatan mereka dan mempertimbangkan kredibilitas sumber informasi budaya yang digunakan. Keempat, inferensi terlihat ketika peserta didik membuat dugaan awal tentang keteraturan atau pola matematika yang mungkin terkandung dalam objek budaya tersebut. Kelima, penjelasan ditunjukkan melalui kemampuan peserta didik mendeskripsikan hasil pengamatan dengan jelas dan memberikan alasan mengapa elemen tertentu dianggap penting untuk dikaji lebih lanjut.

23 2) Tahap Nirokke (Meniru/Menerapkan) Pada tahap Nirokke, peserta didik merepresentasikan pola yang telah diamati ke dalam bentuk matematika formal, kemudian menerapkan rumus serta prosedur matematis untuk menyelesaikan masalah. Tahap ini mengintegrasikan kelima indikator berpikir kritis sebagai berikut: Pertama, interpretasi berkembang ketika peserta didik memahami makna simbolik dari rumus matematika yang digunakan, menerjemahkan pola budaya ke dalam bahasa matematika, serta menginterpretasikan hasil perhitungan dalam konteks permasalahan awal. Kedua, analisis menjadi fokus utama pada tahap ini, dimana peserta didik menguraikan masalah menjadi komponen matematis yang dapat diselesaikan, mengidentifikasi hubungan antara unsur-unsur, serta menentukan struktur matematika yang sesuai. Ketiga, evaluasi ditunjukkan melalui penilaian peserta didik terhadap kesesuaian antara representasi matematis dengan pola budaya asli, serta keakuratan penerapan rumus yang dipilih. Keempat, inferensi terlihat ketika peserta didik menarik kesimpulan dari hasil perhitungan dan memprediksi pola berikutnya. Kelima, penjelasan muncul saat peserta didik menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah, memberikan justifikasi pemilihan rumus tertentu, serta mengomunikasikan hubungan antara prosedur matematis dengan konteks budaya yang mendasarinya. 3) Tahap Nambahi (Mengembangkan) Pada tahap Nambahi, peserta didik mengembangkan variasi masalah baru, menyusun generalisasi konsep, menerapkan konsep pada konteks yang berbeda, atau menciptakan inovasi berdasarkan pemahaman yang telah dibangun pada tahap-tahap sebelumnya. Tahap ini mengintegrasikan kelima indikator berpikir kritis sebagai berikut:

24 Pertama, interpretasi berkembang ketika peserta didik memahami implikasi konsep matematika dalam berbagai konteks baru dan menginterpretasikan kembali pola-pola yang telah dipelajari untuk situasi yang berbeda. Kedua, analisis ditunjukkan melalui kemampuan peserta didik mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan antara konteks asli dengan konteks baru, serta menguraikan prinsip-prinsip dasar yang dapat ditransfer ke situasi lain. Ketiga, evaluasi muncul saat peserta didik menilai keefektifan strategi penyelesaian yang dikembangkan dan mengkritisi kelebihan serta kekurangan pendekatan yang digunakan. Keempat, inferensi menjadi fokus utama pada tahap ini, dimana peserta didik membuat kesimpulan logis berdasarkan penalaran matematis, memprediksi kemungkinan penerapan konsep pada situasi yang belum dikenal, serta menyusun generalisasi yang dapat diterapkan secara luas. Kelima, penjelasan berkembang ketika peserta didik mengomunikasikan alasan dan justifikasi hasil pengembangan ide dengan argumen yang koheren serta menjelaskan proses berpikir dalam menciptakan variasi atau inovasi. Berdasarkan uraian di atas, kelima indikator berpikir kritis (interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan) berkembang secara simultan dan terintegrasi pada setiap tahap Tri-N. Kelima aspek tersebut saling terkait dan mendukung satu sama lain sepanjang proses pembelajaran. Dengan demikian, tahapan Tri-N berfungsi memfasilitasi perkembangan kemampuan berpikir kritis secara holistik, memungkinkan peserta didik mengalami pembelajaran bermakna dari pengamatan konkret hingga pengembangan konsep matematika. e. Keunggulan Pembelajaran Berbasis Tri-N Penerapan pembelajaran berbasis Tri-N memberikan sejumlah keunggulan, antara lain: meningkatkan kemandirian belajar peserta

25 didik, menghubungkan pengalaman nyata dengan konsep teoretis, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna. Pendekatan ini juga dapat dikombinasikan dengan pembelajaran budaya agar peserta didik menyadari bahwa ilmu pengetahuan, termasuk matematika, lahir dari pengalaman dan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pembelajaran berbasis Tri-N tidak hanya berfungsi sebagai strategi pembelajaran, tetapi juga sebagai filosofi pendidikan yang menuntun peserta didik untuk belajar melalui pengalaman, refleksi, dan pengembangan diri. Dalam penerapannya di kelas, pendekatan ini menjadi jembatan yang menghubungkan antara teori dan praktik, antara konsep abstrak dan pengalaman nyata, serta antara kemampuan kognitif dan kreativitas peserta didik (Ardhyantama, 2020). 5. Kemampuan Berpikir Kritis a. Pengertian Kemampuan Berpikir kritis Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) yang sangat penting dalam pembelajaran matematika. Menurut (Manurung et al., 2023) berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara masuk akal dan reflektif dengan berfokus pada pengambilan keputusan tentang apa yang harus dipercaya atau dilakukan. Dalam konteks pembelajaran, kemampuan ini menuntut peserta didik untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menganalisis, mengevaluasi, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti dan alasan yang logis. Menurut (Paramitha et al., 2024) berpikir kritis mencakup proses kognitif yang melibatkan interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan refleksi terhadap informasi. Dalam pembelajaran matematika, kemampuan ini membantu peserta didik memahami konsep secara mendalam, menyelesaikan masalah secara sistematis,

26 dan memberikan alasan atas langkah penyelesaian yang mereka pilih. Dengan demikian, berpikir kritis tidak hanya meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, tetapi juga menumbuhkan kemandirian berpikir peserta didik. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, berpikir kritis merupakan kompetensi yang perlu dikembangkan karena berkontribusi pada kemampuan peserta didik dalam menghadapi tantangan dunia nyata yang kompleks. Oleh karena itu, pengembangan kemampuan berpikir kritis melalui pembelajaran matematika menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. b. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Indikator berpikir kritis dapat mengacu pada kerangka yang dikembangkan oleh (Setiana et al., 2021) dan disesuaikan dengan konteks pembelajaran matematika. Dalam penelitian ini, indikator kemampuan berpikir kritis yang digunakan meliputi: 1) Interpretasi Kemampuan peserta didik dalam memahami informasi, mengidentifikasi fakta penting, serta mengaitkan simbol dan konsep matematika yang relevan. 2) Analisis Kemampuan menguraikan masalah menjadi bagian-bagian penting, menemukan hubungan antar konsep, serta menilai struktur matematika yang digunakan. 3) Evaluasi Kemampuan menilai kebenaran argumen, memverifikasi langkah-langkah penyelesaian, dan mengevaluasi keefektifan strategi yang digunakan dalam pemecahan masalah. 4) Inferensi Kemampuan membuat kesimpulan logis berdasarkan bukti matematika, memperkirakan solusi, atau memprediksi pola

27 melalui penalaran deduktif dan induktif. 5) Penjelasan (Explanation) Kemampuan mengkomunikasikan alasan, langkah-langkah berpikir, dan justifikasi dari hasil penyelesaian secara jelas dan logis. Indikator-indikator tersebut digunakan sebagai dasar dalam penyusunan soal tes hasil belajar dan analisis kemampuan berpikir kritis peserta didik. c. Kemampuan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika Matematika merupakan bidang ilmu yang sangat erat dengan penalaran logis dan pengambilan keputusan, sehingga menjadi wahana yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Menurut (Bees, 2025), pembelajaran matematika yang menekankan pada proses analisis, penyelidikan pola, evaluasi strategi, dan penyusunan generalisasi dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Pada materi barisan dan deret aritmatika, kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan karena peserta didik harus: ➢ Mengidentifikasi pola bilangan, ➢ Menentukan hubungan antar suku, ➢ Mengevaluasi keakuratan rumus, ➢ Menyusun generalisasi dari pola, ➢ Menyelesaikan masalah kontekstual menggunakan penalaran matematis. Jika pembelajaran hanya menekankan hafalan rumus, kemampuan berpikir kritis tidak akan berkembang secara optimal. Oleh karena itu, materi barisan dan deret aritmatika dapat dijadikan sarana untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis melalui aktivitas analisis pola dan penyelesaian masalah berbasis penalaran.

28 d. Relevansi Etnomatematika dan Tri-N dalam Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Pendekatan etnomatematika dan Tri-N sangat relevan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis karena keduanya menekankan proses belajar yang aktif, kontekstual, dan reflektif. 1) Etnomatematika Menghubungkan matematika dengan budaya lokal mendorong peserta didik untuk: ➢ Mengamati pola budaya (interpretasi), ➢ Menganalisis keteraturan bilangan dalam motif budaya (analisis), ➢ Menilai kesesuaian pola dengan konsep matematika (evaluasi), ➢ Membuat generalisasi matematis berdasarkan konteks budaya (inferensi). 2) Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) Tahapan Tri-N secara langsung menstimulasi proses berpikir kritis: ➢ Niteni → mengamati dan menginterpretasi fenomena, ➢ Nirokke → meniru dan menerapkan konsep secara analitis, ➢ Nambahi → mengembangkan ide baru, menyusun generalisasi, serta mengevaluasi pola. Paduan etnomatematika dan Tri-N memberikan pengalaman belajar yang konkret, bermakna, dan menuntut peserta didik berpikir secara sistematis. Dengan demikian, kedua pendekatan ini efektif digunakan sebagai strategi untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi barisan dan deret aritmatika. B. Kajian Penelitian yang Relevan Sebagai landasan untuk penelitian ini, beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan judul “Pengembangan bahan ajar barisan dan deret

29 aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis” akan dijelaskan sebagai berikut: Pertama, penelitian oleh Lina Fatmasari dengan judul “Pengembangan E-Modul Berbasis Etnomatematika pada Materi Barisan dan Deret Aritmatika” bertujuan untuk menghasilkan e-modul berbasis etnomatematika yang valid, praktis, dan efektif digunakan dalam proses pembelajaran matematika. Hasil validasi menunjukkan bahwa e-modul memperoleh kriteria sangat valid dengan persentase 84% pada aspek media, 87% pada aspek materi, dan 87% pada aspek budaya. Selain itu, hasil respon peserta didik mencapai 92% dengan kategori sangat praktis, serta hasil tes efektivitas menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar peserta didik di atas KKM. Secara keseluruhan, e- modul yang dikembangkan dinyatakan valid, praktis, dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran matematika berbasis etnomatematika. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan penulis, yaitu sama-sama menggunakan model pengembangan ADDIE, menerapkan pendekatan etnomatematika, dan mengembangkan bahan ajar pada materi barisan dan deret aritmatika. Namun, terdapat perbedaan mendasar, yaitu penelitian Lina mengembangkan e-modul digital, sedangkan penelitian penulis mengembangkan bahan ajar dengan berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) yang difokuskan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Kedua, penelitian oleh Muhammad Arif Syaifudin dan Nida Sri Utami yang berjudul “Pengembangan LKPD Berbasis STEM pada Materi Barisan dan Deret untuk meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas XI” bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kelayakan serta kepraktisan LKPD berbasis STEM dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ADDIE yang terdiri dari lima tahapan, yaitu analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Implementasi produk dilakukan pada peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah 01 Boyolali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD yang dikembangkan memenuhi kriteria sangat

30 layak dengan persentase kelayakan sebesar 97% dan sangat praktis dengan persentase 97% berdasarkan hasil uji ahli materi, ahli media, dan respon peserta didik. Selain itu, uji validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan valid dan reliabel, dengan nilai reliabilitas 0,759. Berdasarkan hasil uji coba lapangan, diperoleh rata-rata tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik berada pada kategori sedang, yang menunjukkan bahwa LKPD berbasis STEM dapat membantu peserta didik meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan penulis, yaitu sama-sama mengembangkan bahan ajar pada materi barisan dan deret aritmatika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik serta menggunakan model pengembangan ADDIE. Namun, terdapat beberapa perbedaan mendasar. Penelitian Arif menggunakan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), sedangkan penelitian penulis menggunakan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi). Selain itu, penelitian Arif berfokus pada pengembangan LKPD, sedangkan penelitian penulis mengembangkan bahan ajar kontekstual yang memadukan unsur budaya lokal guna menumbuhkan kemampuan berpikir kritis melalui pendekatan berbasis nilai-nilai budaya. Ketiga, penelitian oleh Thia Amelia Hardiyanti, Agus Hikmat Syaf, dan Tutut Widiastuti A. (2022) yang berjudul “Pengembangan Modul Berbasis Etnomatematika pada Materi Barisan dan Deret.” Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul pembelajaran berbasis etnomatematika dengan mengaitkan konsep matematika pada nada angklung modern serta menguji kelayakan dan efektivitasnya dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model Borg and Gall yang dimodifikasi menjadi tujuh tahap, yaitu penelitian dan pengumpulan informasi awal, perencanaan, pengembangan produk awal, uji coba awal, revisi desain, uji coba lapangan skala besar, dan revisi produk akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul berbasis etnomatematika yang dikembangkan memperoleh validitas sangat tinggi, dengan hasil penilaian

31 ahli media sebesar 92,11%, ahli materi pertama 93,42%, ahli materi kedua 90,79%, dan ahli seni 100%. Selain itu, respon peserta didik terhadap modul mencapai 88,47% dengan kategori sangat layak. Dari segi efektivitas, modul memperoleh persentase 77,42% yang dikategorikan sangat efektif dalam meningkatkan kreativitas matematis peserta didik. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian penulis, yaitu sama-sama mengembangkan bahan ajar pada materi barisan dan deret aritmatika berbasis etnomatematika serta menekankan pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Namun, perbedaannya terletak pada pendekatan yang digunakan. Penelitian Thia Amelia menggunakan etnomatematika berbasis seni musik angklung dan berfokus pada peningkatan kreativitas matematis peserta didik, sedangkan penelitian penulis menggunakan dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan model pengembangan ADDIE. C. Kerangka Berpikir Kerangka berpikir dalam pengembangan bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis ini awalnya dipicu oleh permasalahan yang dihadapi di SMK Muhammadiyah prambanan, yakni: minimnya keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas XI dalam pembelajaran matematika serta kurangnya bahan ajar inovatif yang dapat menghubungkan konsep matematika dengan kondisi nyata dan budaya lokal. Pembelajaran matematika yang masih bersifat konvensional dan berpusat pada guru membuat peserta didik cenderung tidak aktif dan mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara mendalam, terutama di materi barisan dan deret aritmatika bersifat abstrak dan memerlukan penalaran logis. Lebih lanjut, bahan ajar yang telah ada belum sepenuhnya menyerap nilai-nilai budaya lokal (etnomatematika), meskipun konteks budaya bisa menjadi penghubung antara konsep matematika formal dan pengalaman sehari- hari para peserta didik. Situasi ini semakin rumit dengan kurang efektifnya

32 penerapan metode pembelajaran yang mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis, padahal keterampilan ini sangat diperlukan bagi peserta didik SMK untuk menghadapi tantangan dalam dunia kerja dan kehidupan di abad ke-21. Memperhatikan masalah tersebut, dibutuhkan bahan ajar yang inovatif yang mampu menghubungkan antara konsep matematika, unsur budaya lokal, dan peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Oleh sebab itu, penelitian ini menciptakan bahan ajar untuk barisan dan deret aritmatika yang berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) berdasarkan etnomatematika, yang dirancang untuk mendukung peserta didik memahami konsep secara bertahap dimulai dari mengamati (niteni), meniru (nirokke), hingga mengembangkan ide baru (nambahi). Dengan pendekatan etnomatematika, peserta didik diajak mengenali penerapan konsep barisan dan deret aritmatika dalam budaya dan kehidupan lokal di sekitar mereka, seperti pola ukiran batik, susunan tegel, atau bentuk atap tradisional Jawa. Melalui integrasi konteks budaya tersebut, diharapkan pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, dan mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N yang valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik di SMK Muhammadiyah Prambanan. Pengembangan bahan ajar ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep matematis, tetapi juga membentuk karakter berpikir reflektif, logis, dan kreatif melalui pemanfaatan nilai-nilai budaya dalam pembelajaran matematika.

33 Gambar 2. 1 Kerangka Berpikir D. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian yang dapat dikembangkan peneliti adalah sebagai

34 berikut: 1. Bagaimana kebutuhan pengembangan bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika berbasis etnomatematika dan Tri-N untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik? 2. Bagaimana karakteristik bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika berbasis etnomatematika dan Tri-N yang dikembangkan? 3. Bagaimana tingkat validitas bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika berbasis etnomatematika dan Tri-N yang dikembangkan? 4. Bagaimana tingkat kepraktisan bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika berbasis etnomatematika dan Tri-N yang dikembangkan? 5. Bagaimana tingkat keefektifan bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika berbasis etnomatematika dan Tri-N dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik?

35 BAB III METODE PENELITIAN A. Model Pengembangan 1. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan (Research and Development) yang bertujuan untuk menghasilkan produk pendidikan yang inovatif serta menguji tingkat kevalidan, kepraktisan, dan keefektifannya. Menurut (Waruwu, 2024) penelitian dan pengembangan merupakan metode yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu sekaligus menguji efektivitas produk tersebut agar layak digunakan dalam pembelajaran. Metode ini dipilih karena mampu menjembatani antara kebutuhan teoretis dan praktis dalam dunia pendidikan melalui pengembangan produk yang didasarkan pada hasil analisis kebutuhan di lapangan. Proses penelitian dilakukan secara sistematis melalui tahapan- tahapan yang mencakup analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan tujuan pembelajaran dan dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di sekolah. 2. Model Pengembangan Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Model ini dikembangkan oleh (Dick, 1996) serta disempurnakan oleh (Molenda, 2003). Model ADDIE memberikan langkah-langkah yang sistematis dalam mengembangkan produk pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik. Model ini banyak digunakan dalam penelitian dan pengembangan karena memberikan pedoman yang jelas mulai dari tahap analisis kebutuhan hingga evaluasi produk yang dihasilkan. Peneliti memilih model ini karena setiap tahapannya bersifat terstruktur dan berurutan, sehingga memudahkan proses pengembangan produk pendidikan yang valid, praktis, dan efektif. Melalui model ADDIE,

36 pengembangan produk pembelajaran dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan aspek kebutuhan pengguna, kualitas desain, keefektifan penerapan, serta hasil evaluasi untuk perbaikan produk. Berikut adalah tahapan dari model ADDIE. Gambar 3. 1 Bagan Model ADDIE B. Prosedur Pengembangan 1. Prosedur Penelitian Berdasarkan model penelitian yang digunakan, yaitu ADDIE, maka prosedur penelitian dalam mengembangkan produk dilakukan dalam lima tahap berikut (Rustandi, 2021) a) Analysis (Analisis) Tahap analisis bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan pembelajaran yang mendasari pengembangan bahan ajar. Analisis dilakukan melalui pengumpulan data di SMK Muhammadiyah Prambanan untuk mengetahui kondisi aktual pembelajaran matematika, khususnya pada materi barisan dan deret aritmatika. 1) Analisis kebutuhan peserta didik Peneliti melakukan survei terhadap peserta didik dan guru untuk

37 mengetahui kesulitan belajar, ketersediaan bahan ajar, serta minat peserta didik terhadap pembelajaran dengan pendekatan budaya. Data ini digunakan untuk menentukan arah pengembangan bahan ajar agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik SMK. 2) Evaluasi formatif tahap analisis Hasil analisis kebutuhan kemudian dievaluasi untuk memastikan keakuratan dan relevansi data. Evaluasi ini menjadi dasar dalam merumuskan tujuan pengembangan serta kriteria bahan ajar yang efektif dan kontekstual. b) Design (perancangan produk) Tahap ini bertujuan untuk menyusun rancangan awal bahan ajar berdasarkan hasil analisis kebutuhan. Desain dilakukan dengan mempertimbangkan integrasi antara konten matematika, konteks budaya lokal, dan penerapan berbasis Tri-N. 1) Rancangan isi materi ajar Materi barisan dan deret aritmatika disusun sesuai dengan capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka. Penyajian materi dihubungkan dengan unsur etnomatematika agar peserta didik dapat memahami konsep matematika melalui fenomena budaya di sekitar mereka. 2) Pemilihan software untuk pengembangan Peneliti memilih perangkat lunak yang sesuai untuk mengembangkan bahan ajar digital. Pemilihan software mempertimbangkan kemudahan penggunaan, desain visual, serta kemampuan mendukung interaktivitas pembelajaran. 3) Rancangan produk Berdasarkan rancangan isi dan perangkat lunak yang dipilih, dibuat rancangan produk awal (draft I) yang memuat tampilan, struktur isi, kegiatan belajar, dan penerapan berbasis Tri-N. Rancangan ini dikonsultasikan kepada ahli media dan ahli materi

38 untuk memperoleh masukan sebelum tahap pengembangan. 4) Evaluasi tahap design Setelah rancangan produk selesai dibuat, dilakukan evaluasi terhadap kesesuaian desain dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik peserta didik. Evaluasi ini melibatkan dosen pembimbing dan ahli media untuk memastikan rancangan bahan ajar layak dikembangkan lebih lanjut. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar revisi sebelum melanjutkan ke tahap Development. c) Development (pengembangan) Tahap ini berfokus pada realisasi rancangan menjadi produk bahan ajar yang siap diuji coba. 1) Pembuatan produk bahan ajar Berdasarkan rancangan yang telah disetujui, peneliti mengembangkan bahan ajar dalam bentuk digital interaktif. Konten disusun secara menarik, memuat aktivitas belajar dengan pendekatan etnomatematika, serta dilengkapi ilustrasi etnomatematika yang relevan dengan kehidupan peserta didik. 2) Validasi ahli dan revisi Produk yang dikembangkan divalidasi oleh ahli materi, ahli media, dan ahli pembelajaran. Masukan dari validator digunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan bahan ajar agar layak digunakan dalam uji coba lapangan. 3) Evaluasi formatif tahap development Setelah revisi, produk dinilai kembali untuk memastikan bahwa hasil pengembangan telah memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif sebelum digunakan dalam tahap implementasi. d) Implementation (implementasi) Tahap implementasi dilakukan untuk menguji kepraktisan dan efektivitas bahan ajar dalam pembelajaran nyata di kelas dengan menggunakan desain One-Group Pretest–Posttest.

39 1) Uji coba lapangan terbatas Uji coba lapangan terbatas dilakukan pada kelompok kecil peserta didik untuk melihat respon awal terhadap tampilan, isi, serta kemudahan penggunaan bahan ajar. Pada tahap ini, peserta didik terlebih dahulu diberikan pretest untuk mengukur kemampuan berpikir kritis awal mereka pada materi barisan dan deret aritmatika. Selanjutnya, peserta didik menggunakan bahan ajar yang dikembangkan dalam proses pembelajaran dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Setelah pembelajaran selesai, peserta didik diberikan posttest dengan instrumen yang sama dengan pretest untuk mengukur kemampuan berpikir kritis akhir. Peneliti juga mengumpulkan respon awal dari peserta didik dan guru melalui angket atau observasi. Berdasarkan hasil uji coba dan respon awal tersebut, peneliti melakukan revisi dan penyempurnaan bahan ajar sesuai dengan temuan, masukan, dan kendala yang muncul selama uji coba. 2) Uji coba lapangan utama Setelah revisi dari hasil uji terbatas, bahan ajar yang telah disempurnakan diimplementasikan pada kelompok peserta didik yang lebih luas. Tahapan dalam uji coba lapangan utama sama dengan uji coba terbatas, yaitu dimulai dengan pemberian pretest untuk mengukur kemampuan awal peserta didik, dilanjutkan dengan pembelajaran menggunakan bahan ajar yang telah direvisi dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N, dan diakhiri dengan posttest untuk mengukur kemampuan berpikir kritis akhir peserta didik. Berdasarkan hasil uji coba lapangan utama, peneliti kembali melakukan penyempurnaan bahan ajar jika diperlukan. 3) Evaluasi formatif tahap implementation Peneliti menganalisis peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan membandingkan skor pretest dan posttest,

40 serta menilai seberapa praktis bahan ajar digunakan dalam pembelajaran melalui angket respon peserta didik dan guru. e) Evaluation (evaluasi) Evaluation adalah tahap terakhir dalam model penelitian ADDIE. Pada tahap ini dilakukan penilaian secara keseluruhan terhadap bahan ajar yang dikembangkan serta mengevaluasi kualitas dan kelayakan produk yang dihasilkan agar bahan ajar yang dikembangkan sesuai dan dapat digunakan oleh sekolah secara umum. Evaluasi ini dilakukan melalui penilaian dari ahli materi, ahli media, dan guru, serta uji coba kepada peserta didik untuk mendapatkan respons terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Hasil evaluasi digunakan untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan produk pembelajaran peserta didik. C. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan yang terlibat pada tahap implementation dalam model pengembangan ADDIE. Subjek penelitian digunakan untuk memperoleh data mengenai kepraktisan dan keefektifan bahan ajar yang dikembangkan. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Pertimbangan tersebut meliputi: peserta didik telah mempelajari atau sedang mempelajari materi Barisan dan Deret Aritmatika, memiliki karakteristik yang sesuai dengan sasaran pengguna produk yang dikembangkan, dan direkomendasikan oleh guru mata pelajaran matematika sebagai kelas yang representatif untuk pelaksanaan uji coba. Uji coba terbatas dilakukan pada peserta didik kelas XI TSMC, sedangkan uji coba lapangan utama dilakukan pada peserta didik kelas XI TKRC. Pemilihan kedua kelas tersebut didasarkan pada kesesuaian jadwal

41 pembelajaran, karakteristik peserta didik, serta rekomendasi guru matematika sehingga dapat mendukung pelaksanaan penelitian secara optimal. 2. Objek penelitian Objek penelitian digunakan pada tahap pengembangan (development). Objek yang digunakan yaitu pengembangan bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N untuk meningkatkan berpikir kritis pada barisan dan deret aritmatika di SMK Muhammadiyah Prambanan. D. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian Tempat penelitian yang digunakan pada tahap implementation dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Prambanan. 2. Waktu Penelitian Waktu penelitian yang digunakan dari tahap analysis hingga tahap evaluation. Pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Januari 2026. Adapun untuk jadwal penelitian dapat dilihat pada tabel 3.1 Tabel 3. 1 Jadwal Penelitian No Kegiatan Bulan Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar AprMei Jun 1. Persiapan 2. Penyusunan Proposal 3. Pengumpulan Data 4. Pembuatan Produk 5. Validasi Ahli dan Revisi Produk 6. Uji Coba Produk dan Revisi Produk 7. Uji Coba Utama dan Revisi Produk 8. Penyusunan Laporan

42 E. Jenis data penelitian Ada Dua jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini 1. Data Kuantitatif Data kuantitatf berupa angka yang diperoleh dari hasil validasi ahli media dan ahli materi yang menilai kelayakan bahan ajar. Angket respon peserta didik yang mengukur kepraktisan bahan ajar. Hasil pretest dan posttest yang mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik. Pretest diberikan sebelum pembelajaran untuk mengetahui kemampuan awal, sedangkan posttest diberikan setelah pembelajaran untuk mengetahui kemampuan akhir. 2. Data Kualitatif Data Kualitatif dalam penelitian ini diperoleh dari hasil validasi ahli media dan ahli materi serta angket respon peserta didik yang berupa tanggapan, kritik, saran, dan masukan yang dituliskan dalam angket agar digunakan sebagai dasar untuk merevisi bahan ajar yang dikembangkan. F. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan metode yang digunakan peneliti untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam proses pengembangan bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara, observasi, angket, dan tes hasil belajar. 1. Wawancara Wawancara dilakukan kepada guru mata pelajaran matematika untuk memperoleh informasi awal mengenai kebutuhan pengembangan bahan ajar. Melalui wawancara ini peneliti menggali data terkait pelaksanaan pembelajaran barisan dan deret aritmatika di kelas XI, karakteristik peserta didik termasuk kemampuan berpikir kritis yang tampak selama pembelajaran, bahan ajar yang selama ini digunakan beserta kendalanya, serta kebutuhan guru terhadap bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Hasil wawancara ini menjadi dasar dalam melakukan analisis kebutuhan pada tahap Analyze.

43 2. Observasi Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi pembelajaran matematika pada materi barisan dan deret aritmatika di kelas XI. Observasi ini meliputi fasilitas sekolah yang mendukung penggunaan bahan ajar, kondisi kelas, aktivitas belajar peserta didik yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis, serta penggunaan bahan ajar yang tersedia di sekolah. Data hasil observasi digunakan untuk memastikan bahwa bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan kondisi lapangan dan kebutuhan peserta didik. 3. Angket Angket digunakan untuk memperoleh data mengenai kualitas dan kelayakan bahan ajar yang dikembangkan. Angket terdiri dari angket validasi ahli media, angket validasi ahli materi, dan angket respon peserta didik. Angket validasi ahli digunakan untuk menilai kevalidan bahan ajar dari aspek tampilan, penerapan berbasis Tri-N, kesesuaian unsur etnomatematika, serta ketepatan penyajian materi barisan dan deret aritmatika. Angket respon peserta didik digunakan untuk mengetahui tingkat kepraktisan bahan ajar serta bagaimana bahan ajar tersebut membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Ketiga angket menggunakan skala Likert dengan pilihan: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). 4. Tes Hasil Belajar Tes hasil belajar diberikan kepada peserta didik setelah mereka menggunakan bahan ajar yang dikembangkan. Tes ini bertujuan untuk meningkatkan pencapaian belajar peserta didik pada materi Barisan dan Deret Aritmatika, menilai kemampuan berpikir kritis setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N, serta menentukan efektivitas bahan ajar sebagai produk pengembangan. Hasil tes dianalisis melalui perbandingan nilai pretest dan posttest untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik setelah menggunakan bahan ajar yang

44 dikembangkan. G. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah pedoman tertulis mengenai wawancara, pengamatan, dan pertanyaan yang dipersiapkan untuk mendapatkan informasi (Jailani, 2023). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut. 1. Lembar angket Angket yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk meningkatkan persepsi, sikap, maupun pendapat seseorang atau kelompok mengenai sebuah peristiwa maupun fenomena sosial (Febtriko & Puspitasari, 2018). Responden memilih salah satu jawaban yang tersedia pada kolom jawaban yang disediakan. Lembar angket dalam penelitian ini meliputi: a) Lembar Validasi Angket Lembar validasi angket digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan angket yang disusun sebagai instrumen penelitian. Angket validasi diserahkan kepada validator untuk dinilai dari aspek kesesuaian isi, kejelasan bahasa, dan ketepatan format. Validator terdiri dari ahli media, ahli materi, serta guru mata pelajaran matematika yang memahami konteks pembelajaran barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Aspek yang dinilai pada lembar validasi angket meliputi: a) Kesesuaian format angket b) Kejelasan dan ketepatan bahasa c) Kesesuaian isi pernyataan dengan tujuan penelitian b) Lembar validasi ahli media dan ahli materi Lembar validasi ahli media dan ahli materi digunakan untuk mengetahui kevalidan bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N yang dikembangkan. Ahli media menilai aspek teknis penyajian, tampilan, keterbacaan, navigasi, dan kelayakan desain bahan ajar. Ahli materi menilai aspek kesesuaian isi, kedalaman materi, keakuratan konsep matematika,

45 relevansi etnomatematika, dan kesesuaian langkah-langkah Tri-N. Tabel 3.2 berikut menunjukkan jenis validasi yang dilakukan: Tabel 3. 2 Validasi Bahan Ajar No Jenis Validasi Aspek Teknik Pengumpulan Data Instrumen 1. Validasi Ahli Media Syarat Teknis Angket dan diskusi validator Lembar Validasi 2. Validasi Ahli Materi 1. Syarat Didaktif 2. Syarat Konstruktif c) Lembar angket respon peserta didik Lembar angket respon peserta didik digunakan untuk mengetahui kepraktisan bahan ajar barisan dan deret aritmatika yang dikembangkan dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Angket respon digunakan pada uji coba terbatas dan uji coba lapangan utama untuk mengetahui kemudahan penggunaan, daya tarik, manfaat, serta kebermaknaan bahan ajar dalam pembelajaran matematika. Indikator angket respon peserta didik sebagai berikut:Tampilan bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N menarik minat peserta didik dalam penggunaannya. 1) Tampilan bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N menarik minat peserta didik. 2) Peserta didik merasa lebih tertarik belajar barisan dan deret aritmatika menggunakan bahan ajar yang dikembangkan. 3) Bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika bersifat praktis dan mudah digunakan sesuai kecepatan belajar. 4) Bahan ajar mampu meningkatkan aktivitas belajar peserta didik. 5) Bahan ajar mampu menuntun peserta didik menemukan konsep

46 barisan dan deret aritmatika secara mandiri melalui langkah Tri- N. 6) Bahan ajar mampu merangsang kemampuan berpikir kritis peserta didik. 7) Bahan ajar membantu pemahaman materi dan melatih kemampuan pemecahan masalah matematis. 8) Bahan ajar membuat proses pembelajaran lebih efektif dan efisien. 9) Bahan ajar menyediakan latihan soal yang membantu peserta didik memahami materi dan meningkatkan keterlibatan belajar. 2. Soal Tes Hasil Belajar Soal tes hasil belajar digunakan untuk mengukur peningkatan kemampuan berpikir kritis dan penguasaan konsep barisan dan deret aritmatika setelah peserta didik menggunakan bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Tes berbentuk uraian yang terdiri dari lima soal yang disusun berdasarkan kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi. Setiap butir soal dirancang untuk memuat unsur interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan sebagai representasi indikator kemampuan berpikir kritis. Sebelum digunakan dalam uji coba lapangan utama, instrumen tes terlebih dahulu divalidasi oleh ahli materi untuk memastikan kesesuaian konsep matematika, tingkat kesulitan, kejelasan instruksi, serta relevansinya dengan tujuan pembelajaran. Selanjutnya, instrumen diujicobakan pada 21 peserta didik kelas XI TSMC SMK Muhammadiyah Prambanan dalam rangka uji coba lapangan terbatas. Data hasil uji coba tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui validitas butir soal, reliabilitas instrumen, tingkat kesukaran, dan daya pembeda sebagai dasar penilaian kelayakan instrumen sebelum digunakan pada uji coba lapangan utama.

47 a) Uji Validitas Butir Soal Validitas butir soal dihitung menggunakan rumus korelasi product- moment Pearson, yaitu dengan mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total. Butir soal dinyatakan valid apabila r hitung > r tabel. Dengan n = 21 dan taraf signifikansi α = 0,05, diperoleh r tabel = 0,433. Hasil perhitungan disajikan pada tabel berikut. b) Hasil Uji Validitas Butir Soal Tabel 3. 3 Hasil Uji Validitas Butir Soal Butir Soal r Hitung r Tabel Keterangan 1A 0,857 0,433 Valid 3A 0,608 0,433 Valid 2A 0,663 0,433 Valid 4A 0,595 0,433 Valid 3B 0,474 0,433 Valid 5B 0,267 0,433 Tidak Valid 2B 0,354 0,433 Tidak Valid 5A -0,147 0,433 Tidak Valid 1B 0,669 0,433 Valid 4B 0,438 0,433 Valid Berdasarkan tabel di atas, tujuh dari sepuluh butir soal dinyatakan valid. Tiga butir yang tidak valid (5B, 2B, dan 5A) selanjutnya direvisi redaksinya agar lebih jelas dan sesuai dengan indikator yang diukur sebelum digunakan pada uji coba lapangan utama. c) Uji Reliabilitas Reliabilitas instrumen dihitung menggunakan rumus Cronbach Alpha. Instrumen dinyatakan reliabel apabila nilai Alpha ≥ 0,60. Hasil perhitungan menunjukkan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,632 yang termasuk dalam kategori Tinggi, sehingga instrumen dinyatakan reliabel dan layak digunakan. d) Tingkat Kesukaran Tingkat kesukaran dihitung dengan membagi rata-rata skor tiap butir dengan skor maksimal. Hasil perhitungan menunjukkan seluruh butir soal berada pada kategori Mudah dengan nilai P berkisar antara 0,80 hingga 0,94. Hal ini dapat dipahami karena analisis dilakukan pada

48 data posttest uji coba terbatas, di mana peserta didik telah melalui proses pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis etnomatematika Tri-N, sehingga penguasaan materi dan kesiapan menjawab soal secara alami meningkat. e) Daya Pembeda Daya pembeda dihitung dengan membandingkan rata-rata skor kelompok atas (10 siswa dengan skor tertinggi) dan kelompok bawah (10 siswa dengan skor terendah). Hasil perhitungan menunjukkan seluruh butir berada pada kategori jelek dengan nilai D berkisar antara -0,03 hingga 0,18. Rendahnya daya pembeda ini merupakan konsekuensi dari homogenitas skor posttest uji coba terbatas, di mana hampir seluruh peserta didik memperoleh nilai tinggi pada setiap butir soal sehingga perbedaan antara kelompok atas dan bawah sangat kecil. Kondisi ini lazim terjadi pada instrumen yang diujicobakan setelah proses pembelajaran yang efektif. Meskipun demikian, mengingat tujuh dari sepuluh butir telah memenuhi kriteria validitas dan instrumen secara keseluruhan reliabel, instrumen tetap layak digunakan dengan perbaikan pada tiga butir yang tidak valid. 3. Kisi-Kisi Instrumen Tes Berpikir Kritis Kisi-kisi instrumen tes kemampuan berpikir kritis disusun sebagai pedoman dalam mengembangkan soal pretest dan posttest. Kisi-kisi ini memuat aspek kemampuan berpikir kritis yang meliputi interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan (explanation) yang disesuaikan dengan materi barisan dan deret aritmatika dengan konteks etnomatematika. Setiap butir soal dirancang berdasarkan indikator pembelajaran dan indikator soal yang spesifik. Kisi-kisi instrumen pretest dan posttest disajikan pada tabel berikut: Tabel 3. 4 Kisi-Kisi Instrumen Pretest Kemampuan Berpikir Kritis No Aspek Indikator Pembelajaran Indikator Soal Level Kognitif Butir 1 Interpretasi Kemampuan untuk Disajikan konteks C4 1a

49 menyatakan atau memahami maksud dari data, peristiwa, atau prosedur. motif kawung yang tersusun dalam beberapa baris, peserta didik diminta untuk mengamati dan mendeskripsikan perubahan jumlah motif kawung dari satu baris ke baris berikutnya. Penjelasan (explanatio n) Kemampuan menjelaskan langkah-langkah penyelesaian secara sistematis dengan justifikasi yang kuat. Peserta didik dapat menjelaskan secara runtut langkah- langkah menentukan jumlah motif kawung pada baris ke-5 dan ke-6 dengan cara meneruskan pola disertai alasan pada setiap langkah. C4 1b 2 Analisis Kemampuan untuk mengidentifikasi kesimpulan yang tepat antara pernyataan dan penjelasan berdasarkan informasi maupun pendapat yang ada. Disajikan konteks jumlah panil relief Candi Prambanan pada setiap tingkat, peserta didik diminta untuk mengidentifikasi apakah pertambahan jumlah panil pada setiap tingkat bersifat konstan dan menunjukkan buktinya. C5 2a Inferensi Kemampuan membuat kesimpulan logis berdasarkan pola yang ditemukan. Disajikan pola jumlah panil relief Candi Prambanan, peserta didik diminta untuk menarik kesimpulan tentang sifat pola dan memprediksi suku ke- 7 dengan meneruskan pola secara langsung. C5 2b 3 Interpretasi Kemampuan untuk Disajikan konteks C4 3a

50 menyatakan atau memahami maksud dari data, peristiwa, atau prosedur. susunan motif kawung yang membentuk pola bilangan tertentu, peserta didik diminta untuk menyatakan pola bilangan tersebut dan meneruskannya sampai suku ke-6. Evaluasi Kemampuan menilai akurasi pernyataan atau penyajian lain dengan menilai pengalaman atau situasi menggunakan kekuatan logika. Disajikan pola motif kawung beserta sebuah klaim tentang nilai suku ke-10, peserta didik diminta untuk menilai kebenaran klaim tersebut dengan meneruskan pola dan memberikan justifikasi. C6 3b 4 Analisis Kemampuan untuk mengidentifikasi kesimpulan yang tepat antara pernyataan dan penjelasan berdasarkan informasi maupun pendapat yang ada. Disajikan konteks pola susunan batu Candi Prambanan, peserta didik diminta untuk menentukan selisih konstan pola tersebut dan menjelaskan hubungan antar suku yang berdekatan. C5 4a Penjelasan (Explanatio n) Kemampuan menjelaskan langkah-langkah penyelesaian secara sistematis dengan justifikasi yang kuat. Disajikan pola susunan batu Candi Prambanan, peserta didik diminta untuk menjelaskan secara runtut langkah- langkah menentukan suku ke-8 dengan cara meneruskan pola disertai justifikasi tiap langkah. C6 4b 5 Inferensi Kemampuan membuat kesimpulan logis dan prediksi Disajikan konteks pola produksi motif harian seorang pengrajin batik, peserta didik C5 5a

51 berdasarkan pola yang ditemukan. diminta untuk meneruskan pola tersebut dan memprediksi jumlah motif yang diproduksi pada hari ke-10. Evaluasi Kemampuan menilai kecukupan dengan menggunakan perhitungan matematis dan memberikan justifikasi. Disajikan pola produksi motif harian pengrajin batik dan target produksi sebanyak 80 motif dalam 6 hari, peserta didik diminta untuk menilai apakah target tersebut tercapai dengan menjumlahkan suku-suku pola dan memberikan justifikasi. C6 5b Tabel 3. 5 Kisi-Kisi Instrumen Posttest Kemampuan Berpikir Kritis No Aspek Indikator Pembelajaran Indikator Soal Level Kognitif Butir 1 Interpretasi Kemampuan untuk menyatakan atau memahami maksud dari data, peristiwa, atau prosedur. Disajikan konteks jalur setapak yang dihiasi batu-batu penyusun dengan pola tertentu (jalur 1: 20 batu, jalur 2: 26 batu, jalur 3: 32 batu, ...), peserta didik diminta untuk menginterpretasikan pola jumlah batu pada setiap jalur dan menentukan beda serta suku pertamanya. C4 1a Penjelasan (explanatio n) Kemampuan menjelaskan langkah-langkah penyelesaian secara sistematis dengan justifikasi Disajikan pola jumlah batu pada jalur setapak (20, 26, 32, ...), peserta didik diminta untuk menjelaskan secara runtut langkah-langkah C6 1b

52 yang kuat. menentukan jumlah batu pada jalur ke-12 disertai alasan pada setiap langkah. 2 Analisis Kemampuan untuk mengidentifikasi kesimpulan yang tepat antara pernyataan dan penjelasan berdasarkan informasi maupun pendapat yang ada. Disajikan konteks desain batik kawung dengan jumlah titik (ceplok) yang berpola (desain 1: 15 titik, desain 2: 22 titik, desain 3: 29 titik, ...), peserta didik diminta untuk menganalisis beda dari barisan tersebut dan menentukan rumus suku ke-n. C5 2a Inferensi Kemampuan membuat kesimpulan logis berdasarkan pola yang ditemukan. Disajikan pola yang sama (titik batik: 15, 22, 29, ...), peserta didik diminta untuk membuat inferensi: jika seorang pembeli menginginkan desain dengan 120 titik, desain ke berapakah yang harus dibuat. C5 2b 3 Interpretasi Kemampuan untuk menyatakan atau memahami maksud dari data, peristiwa, atau prosedur. Disajikan konteks ukiran pada pilar Candi Prambanan dengan ketinggian yang menurun dari atas ke bawah (ukiran 1: 50 cm, ukiran 2: 47 cm, ukiran 3: 44 cm, ...), peserta didik diminta untuk menginterpretasikan pola penurunan ketinggian ukiran tersebut. C4 3a Evaluasi Kemampuan menilai akurasi pernyataan atau penyajian lain dengan menilai pengalaman atau situasi Disajikan pola yang sama (tinggi ukiran: 50, 47, 44, ... cm), peserta didik diminta untuk mengevaluasi pada ukiran ke berapa ketinggiannya akan C6 3b

53 menggunakan kekuatan logika. mencapai 20 cm atau kurang dan menilai apakah logis dalam konteks arsitektur candi. 4 Analisis Kemampuan untuk mengidentifikasi kesimpulan yang tepat antara pernyataan dan penjelasan berdasarkan informasi maupun pendapat yang ada. Disajikan konteks festival budaya dengan sistem diskon bertingkat (pembeli 1: Rp5.000, pembeli 2: Rp8.000, pembeli 3: Rp11.000, ...), peserta didik diminta untuk menganalisis dan menghitung total diskon yang diberikan kepada 15 pembeli pertama. C5 4a Penjelasan (explanatio n) Kemampuan menjelaskan langkah-langkah penyelesaian secara sistematis dengan justifikasi yang kuat. Disajikan situasi yang sama (diskon: Rp5.000, Rp8.000, Rp11.000, ...), peserta didik diminta untuk menjelaskan secara rinci metode dan rumus yang digunakan untuk menghitung total diskon tersebut. C6 4b 5 Inferensi Kemampuan membuat kesimpulan logis dan prediksi berdasarkan pola yang ditemukan. Disajikan konteks taman di sekitar Candi Prambanan dengan pola pot bunga melingkar (lingkaran 1: 8 pot, lingkaran 2: 13 pot, lingkaran 3: 18 pot, ...), peserta didik diminta untuk membuat inferensi untuk menentukan jumlah pot bunga pada lingkaran ke-20. C5 5a Evaluasi Kemampuan menilai kecukupan dengan menggunakan perhitungan matematis dan Disajikan pola yang sama (pot bunga: 8, 13, 18, ... pot) dan informasi bahwa tersedia 500 pot bunga, peserta didik diminta untuk mengevaluasi apakah cukup untuk C6 5b

54 memberikan justifikasi. membuat 12 lingkaran pertama dan memberikan perhitungan yang mendukung jawabannya. H. Teknik Analisis Data Teknik analisis data merupakan metode pengolahan data untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat. Analisis data adalah proses mencari serta menyusun data secara sistematis yang diperoleh dari catatan lapangan, angket respon, serta hasil validasi terkait pengembangan bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N, sehingga mudah dipahami (Martha & Andini, 2019). Teknik analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Analisis Data Kualitatif Analisis data kualitatif digunakan untuk mengolah masukan dan saran dari validator ahli media, ahli materi, serta respon peserta didik terhadap bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Analisis dilakukan untuk memperbaiki dan menyempurnakan bahan ajar agar sesuai tujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Adapun langkah-langkah dalam teknik analisis data kualitatif sebagai berikut: a) Pengumpulan data Data terdiri dari masukan ahli materi, ahli media, serta respon peserta didik mengenai penggunaan bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. b) Reduksi data Reduksi data adalah proses penyederhanaan data (meringkas data) yang dilakukan dengan pengumpulan data ke dalam konsep, kategori maupun tema-tema tertentu. Reduksi data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan masukan dan saran validator ahli media dan ahli materi, serta respon peserta didik.

55 c) Penyajian data Penyajian data adalah proses mengabungkan data yang memberikan kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data dalam penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan masukan dan saran dari validator ahli media dan ahli materi, serta respon peserta didik terhadap penggunaan bahan ajar pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. d) Penarikan Kesimpulan Penarikan kesimpulan dilakukan secara terus menerus selama berada di lapangan. Kesimpulan berupa jawaban atas rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian. Pada penelitian ini, penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan data yang telah diperoleh. 2. Analisis Data Kuantitatif Analisis data kuantitatif digunakan untuk mengelompokkan data berdasarkan variabel serta jenis responden dan mendeskripsikan kualitas bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan penilaian instrument yang diberikan kepada validator dan angket respon peserta didik. Data yang diperoleh akan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menentukan rata-rata untuk menyatakan kelayakan bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N yang dihasilkan. Adapun langkah-langkah analisis data kuantitatif pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Analisis Data Kuantitatif Hasil Uji Validitas Instrumen yang digunakan untuk menganalisis kevalidan produk yaitu menggunakan hasil dari angket penilaian ahli media dan ahli materi. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: 1) Mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif Data yang telah diperoleh dari validasi ahli materi, ahli media, dan angket respon peserta didik diubah menjadi nilai kuantitatif. Adapun aturan pemberian skor dapat dilihat pada Tabel berikut:

56 Tabel 3. 6 Aturan Pemberian Skor Keterangan Skor Sangat Setuju (SS) 5 Setuju (S) 4 Netral (N) 3 Tidak Setuju (TS) 2 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 2) Menghitung rata-rata dari data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 𝑥̄ = ∑ 𝑥𝑖 𝑛 𝑖=1 𝑁 𝑥̄ : Skor rata-rata ∑ 𝑥𝑖 𝑛 𝑖=1 : Jumlah skor 𝑁: jumlah penilaian 3) Mengonversi skor rata-rata menjadi nilai kualitatif Data yang diperoleh dari angket diringkas ke dalam tabel dengan memperhitungkan skor angket sebagai berikut: 𝑀𝑖 = 1 2 (𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑖𝑡𝑒𝑚 + 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑒𝑚) 𝑆𝐷𝑖 = 1 6 (𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑖𝑡𝑒𝑚 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑒𝑚) Keterangan: 𝑀𝑖: Rata-rata ideal 𝑆𝐷𝑖 : Standar Deviasi Ideal Adapun untuk kriteria dan batas nilai disajikan pada tabel 3.6 Tabel 3. 7 Kriteria dan Batas Nilai Uji Kevalidan Kriteria Batas Nilai Sangat Baik (SB) 𝑥̄ > 𝑀𝑖 + 1,8𝑆𝐷𝑖 Baik (B) 𝑀𝑖 + 0,6𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 + 1,8𝑆𝐷𝑖 Kurang baik (KB) 𝑀𝑖 − 0,6𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 + 0,6𝑆𝐷𝑖

57 Tidak Baik (TB) 𝑀𝑖 − 1,8𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 − 0,6𝐷𝑖 Sangat Tidak Baik (STB) 𝑥̄ ≤ 𝑀𝑖 − 1,8𝑆𝐷𝑖 Keterangan: 𝑥̄ : Skor rata-rata 𝑀𝑖: Rata-rata ideal 𝑆𝐷𝑖 : Standar Deviasi Ideal Kevalidan produk dalam penelitian ini ditentukan dengan menghitung rata-rata skor yang selanjutnya dicocokan dengan kriteria dan batas nilai. Hasil uji validitas dikatakan valid apabila hasil rata-rata angket memiliki nilai 𝑀𝑖 + 0,6𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 + 1,8𝑆𝐷𝑖 b) Analisis Data Kualitatif Hasil Uji Kepraktisan Analisis data kualitatif hasil uji kepraktisan dilakukan dengan mengolah data yang diperoleh dari angket respon peserta didik terhadap bahan ajar yang telah dikembangkan, adapun langkah- langkahnya. 1) Mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif Data yang telah diperoleh dari angket respon peserta didik diubah menjadi nilai kuantitatif. Aturan pemberian skor dapat dilihat pada Tabel 3.8 Tabel 3. 8 Aturan Pemberian Skor Keterangan Skor Sangat Setuju (SS) 5 Setuju (S) 4 Netral (N) 3 Tidak Setuju (TS) 2 Sangat Tidak Setuju (STS) 1

58 2) Menghitung rata-rata dari data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 𝑥̄ = ∑ 𝑥𝑖 𝑛 𝑖=1 𝑁 𝑥̄ : Skor rata-rata ∑ 𝑥𝑖 𝑛 𝑖=1 : Jumlah skor 𝑁: jumlah penilaian 3) Mengonversi skor rata-rata menjadi nilai kualitatif Data yang diperoleh dari angket respon peserta didik dirangkum ke dalam bentuk tabel dengan perhitungan skor angket sebagai berikut: 𝑀𝑖 = 1 2 (𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑖𝑡𝑒𝑚 + 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑒𝑚) 𝑆𝐷𝑖 = 1 6 (𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑖𝑡𝑒𝑚 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑒𝑚) Keterangan: 𝑀𝑖: Rata-rata ideal 𝑆𝐷𝑖 : Standar Deviasi Ideal Adapun untuk kriteria dan batas nilai disajikan pada tabel berikut: Tabel 3. 9 Kriteria dan Batas Nilai Uji Kepraktisan Kriteria Batas Nilai Sangat Baik (SB) 𝑥̄ > 𝑀𝑖 + 1,8𝑆𝐷𝑖 Baik (B) 𝑀𝑖 + 0,6𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 + 1,8𝑆𝐷𝑖 Kurang Baik (KB) 𝑀𝑖 − 0,6𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 + 0,6𝑆𝐷𝑖 Tidak Baik (TB) 𝑀𝑖 − 1,8𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 − 0,6𝐷𝑖 Sangat Tidak Baik (STB) 𝑥̄ ≤ 𝑀𝑖 − 1,8𝑆𝐷𝑖 Keterangan: 𝑥̄ : Skor rata-rata 𝑀𝑖: Rata-rata ideal 𝑆𝐷𝑖 : Standar Deviasi Ideal Kepraktisan bahan ajar yang dikembangkan ditentukan dengan

59 menghitung rata-rata skor angket respon peserta didik yang dicocokan dengan tabel kriteria dan batas nilai pada tabel 3.8 bahan ajar yang dikembangkan dikatakan praktis apabila hasil angket memiliki skor > 𝑀𝑖 + 0,6𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 + 1,8𝑆𝐷𝑖 c) Analisis Data Kuantitatif Hasil Uji Efektifitas Untuk menguji efektivitas bahan ajar dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, digunakan desain One- Group Pretest–Posttest, yaitu dengan membandingkan skor tes hasil belajar sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) penggunaan bahan ajar. Analisis dilakukan melalui tahapan berikut: 1) Uji Normalitas Data Sebelum melakukan uji beda, dilakukan uji normalitas untuk mengetahui apakah data pretest dan posttest berdistribusi normal. Uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk dengan bantuan software IBM SPSS Statistics 25. Kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut: • Jika nilai signifikansi > 0,05 → data berdistribusi normal • Jika nilai signifikansi ≤ 0,05 → data tidak berdistribusi normal 2) Uji Beda (Uji Efektivitas) Berdasarkan hasil uji normalitas, analisis dilanjutkan dengan uji beda untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest. Uji yang digunakan bergantung pada hasil uji normalitas: a. Jika data berdistribusi normal: Paired Sample t-Test paired Sample t-Test digunakan untuk menguji apakah terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest. Hipotesis: • H₀ (Hipotesis Nol): Tidak ada perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest kemampuan berpikir kritis peserta didik

60 • H₁ (Hipotesis Alternatif): Terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest kemampuan berpikir kritis peserta didik Kriteria: Jika nilai sig. (2-tailed) < 0,05 → H₀ ditolak (ada peningkatan signifikan) b. Jika data tidak berdistribusi normal, digunakan Wilcoxon Signed Rank Test sebagai uji alternatif non-parametrik. Tabel 3. 10 Kriteria Taraf Signifikansi Nilai Signifikasi (p-value) Kriteria p < 0,01 Sangat Signifikan 0,01 ≤ p < 0,05 Signifikan p ≥ 0,05 Tidak Signifikan Keterangan: Jika nilai signifikansi (p-value) kurang dari 0,05, maka H₀ ditolak, yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest. Sebaliknya, jika nilai signifikansi lebih besar atau sama dengan 0,05, maka H₀ diterima, yang berarti tidak terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest. 3) Perhitungan N-Gain Untuk mengetahui besarnya peningkatan kemampuan berpikir kritis, dihitung menggunakan rumus N-Gain menurut (Hunaepi et al., 2020): 𝑁 − 𝐺𝑎𝑖𝑛 = 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 − 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 − 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 Kategori N-Gain: Tabel 3. 11 Kategori N-Gain Nilai N-Gain Kategori g ≥ 0,70 Tinggi 0,30 ≤ g < 0,70 Sedang

61 g < 0,30 Rendah Keterangan: Tabel kategori N-Gain digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik setelah menggunakan bahan ajar: • Kategori Tinggi (g ≥ 0,70): Menunjukkan bahwa bahan ajar sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan peningkatan minimal 70% dari potensi maksimal. • Kategori Sedang (0,30 ≤ g < 0,70): Menunjukkan bahan ajar cukup efektif dengan peningkatan antara 30-70% dari potensi maksimal. • Kategori Rendah (g < 0,30): Menunjukkan bahan ajar kurang efektif karena peningkatan yang terjadi di bawah 30% dari potensi maksimal, sehingga perlu dilakukan revisi atau perbaikan pada bahan ajar. 4) Ketuntasan Klasikal Selain uji peningkatan, efektivitas juga dilihat dari persentase ketuntasan peserta didik: 𝑝𝑟𝑒𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑘𝑒𝑡𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠𝑎𝑛 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑇𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠 (≥ 𝐾𝐾𝑀) 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑥100 % Kriteria efektivitas berdasarkan ketuntasan klasikal: Tabel 3. 12 Persentase dan kriteria berdasarkan ketuntasan klasikal Persentase Kriteria 85% < x ≤ 100% Sangat Efektif 70% < x ≤ 85% Efektif 55% < x ≤ 70% Cukup Efektif 40% < x ≤ 55% Kurang Efektif 0% < x ≤ 40% Tidak Efektif Bahan ajar dinyatakan efektif apabila:

62 • Terdapat peningkatan skor yang signifikan (berdasarkan Paired Sample t-Test atau Wilcoxon) • N-Gain minimal berkategori Sedang (≥ 0,30) • Ketuntasan klasikal minimal Efektif (> 70%) 3. Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan soal barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N, digunakan rubrik penilaian kemampuan berpikir kritis. Rubrik ini dikembangkan berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis yang meliputi interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan. a) Rubrik Penilaian Kemampuan Berpikir Kritis Tabel 3. 13 Rubrik Penilaian Kemampuan Berpikir Kritis Indikator Skor 4 (Sangat Baik) Skor 3 (Baik) Skor 2 (cukup) Skor 1 (Kurang) Intepretasi peserta didik mampu mengidentifikasi seluruh informasi penting dengan tepat, memahami konteks etnomatematika yang diberikan, dan mengaitkannya dengan konsep barisan/deret aritmatika secara jelas dan lengkap. peserta didik mampu mengidentifikas i sebagian besar informasi penting, memahami konteks etnomatematika, dan mengaitkan dengan konsep barisan/deret aritmatika dengan sedikit kekurangan. peserta didik hanya mampu mengidentifikasi sebagian kecil informasi penting, kurang memahami konteks etnomatematika, dan mengaitkan dengan konsep barisan/deret aritmatika secara terbatas. peserta didik tidak mampu mengidentifikasi informasi penting, tidak memahami konteks etnomatematika, atau tidak mengaitkan dengan konsep barisan/deret aritmatika.

63 Analisis peserta didik mampu menguraikan masalah dengan sistematis, menemukan hubungan pola etnomatematika dengan rumus barisan/deret aritmatika, dan menentukan strategi penyelesaian yang tepat dan efisien. peserta didik mampu menguraikan masalah, menemukan hubungan pola dengan rumus barisan/deret aritmatika, dan menentukan strategi penyelesaian dengan sedikit kesalahan. peserta didik kurang mampu menguraikan masalah secara sistematis, menemukan hubungan yang kurang tepat, atau strategi penyelesaian kurang efisien. peserta didik tidak mampu menguraikan masalah, tidak menemukan hubungan antara pola dan rumus, atau tidak menentukan strategi penyelesaian. Evaluasi peserta didik mampu memverifikasi seluruh langkah penyelesaian dengan benar, menilai kebenaran argumen matematis secara logis, dan mengevaluasi keefektifan strategi yang digunakan. peserta didik mampu memverifikasi sebagian besar langkah penyelesaian, menilai kebenaran argumen dengan cukup baik, dan mengevaluasi strategi meskipun kurang mendalam. peserta didik hanya mampu memverifikasi beberapa langkah penyelesaian, kurang mampu menilai kebenaran argumen, atau evaluasi strategi sangat terbatas. peserta didik tidak melakukan verifikasi, tidak menilai kebenaran argumen, atau tidak mengevaluasi strategi yang digunakan.

64 Inferensi peserta didik mampu membuat kesimpulan yang logis dan tepat, memprediksi pola dengan akurat, dan menyusun generalisasi matematis yang valid berdasarkan konteks etnomatematika. peserta didik mampu membuat kesimpulan yang cukup logis, memprediksi pola dengan sedikit kesalahan, dan menyusun generalisasi dengan kurang lengkap. peserta didik membuat kesimpulan yang kurang logis, prediksi pola kurang akurat, atau generalisasi yang dibuat tidak jelas. peserta didik tidak mampu membuat kesimpulan, tidak dapat memprediksi pola, atau tidak menyusun generalisasi. Penjelasan (Explanatio n) peserta didik mampu menjelaskan seluruh langkah penyelesaian dengan jelas, logis, dan sistematis, serta memberikan justifikasi yang kuat atas jawaban yang diberikan. peserta didik mampu menjelaskan sebagian besar langkah penyelesaian dengan cukup jelas dan memberikan justifikasi yang memadai. peserta didik hanya mampu menjelaskan beberapa langkah penyelesaian dengan kurang jelas atau justifikasi yang diberikan lemah. peserta didik tidak mampu menjelaskan langkah penyelesaian atau tidak memberikan justifikasi atas jawaban. b) Perhitungan Skor Kemampuan Berpikir Kritis Skor kemampuan berpikir kritis peserta didik yang diperoleh dari hasil penskoran kemudian dikonversi ke dalam bentuk persentase menggunakan rumus berikut.

65 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝐾𝑒𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 𝐵𝑒𝑟𝑝𝑖𝑘𝑖𝑟 𝐾𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 = (𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 ) × 100 Selanjutnya, persentase kemampuan berpikir kritis dikategorikan berdasarkan kriteria yang diadaptasi dari Karim dan Normaya (2015) sebagaimana disajikan pada Tabel 3.14. Tabel 3. 14 Kategori Presentase Kemampuan Berpikir Kritis Presentase (%) Kategori 81,25 < x ≤ 100 Sangat Tinggi 71,5 < x ≤ 81,25 Tinggi 62,5 < x ≤ 71,5 Sedang 43,75 < x ≤ 62,5 Rendah 0 < x ≤ 43,75 Sangat Rendah c) Analisis Data Kemampuan Berpikir Kritis Data kemampuan berpikir kritis yang diperoleh dari hasil tes akan dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui: 1) Distribusi Kemampuan Berpikir Kritis • Persentase peserta didik pada setiap kategori (Sangat Tinggi, Tinggi, Sedang, Rendah, Sangat Rendah) • Rata-rata skor kemampuan berpikir kritis kelas 2) Analisis Per Indikator • Skor rata-rata untuk setiap indikator (interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan) • Identifikasi indikator yang paling dikuasai dan yang masih lemah 3) Hubungan dengan Pembelajaran Berbasis Tri-N • Mengaitkan hasil kemampuan berpikir kritis dengan tahapan Tri-N yang diterapkan • Mengevaluasi efektivitas setiap tahapan (Niteni, Nirokke, Nambahi) dalam mengembangkan indikator berpikir kritis

66 tertentu Data hasil analisis kemampuan berpikir kritis ini akan digunakan sebagai salah satu indikator keefektifan bahan ajar yang dikembangkan dan untuk menjawab pertanyaan penelitian terkait kemampuan berpikir kritis peserta didik setelah menggunakan bahan ajar dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Bahan ajar dinyatakan efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis apabila minimal 70% peserta didik mencapai ketuntasan belajar dengan skor ≥75 sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah. I. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ditetapkan berdasarkan tiga aspek utama, yaitu validitas, kepraktisan, dan efektivitas bahan ajar. Bahan ajar dinyatakan berhasil apabila memenuhi kriteria layak pada ketiga aspek tersebut. Pada aspek validitas, bahan ajar dikatakan valid apabila hasil penilaian ahli materi dan ahli media menunjukkan skor rata-rata berada pada kategori valid atau sangat valid, baik ditinjau dari kesesuaian materi, keakuratan konsep, ketepatan penerapan etnomatematika berbasis Tri-N, maupun kualitas desain dan tampilan bahan ajar. Pada aspek kepraktisan, bahan ajar dinyatakan praktis apabila hasil angket respon peserta didik menunjukkan skor rata-rata pada kategori baik atau sangat baik, yang mencakup kemudahan penggunaan, kemenarikan tampilan, kejelasan petunjuk, relevansi konteks budaya, dan kebermanfaatan bahan ajar dalam proses pembelajaran. Sementara itu, pada aspek efektivitas, bahan ajar dinyatakan efektif apabila mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik yang ditunjukkan oleh beberapa kriteria: terdapat peningkatan skor yang signifikan antara pretest dan posttest (p-value < 0,05), nilai N-Gain minimal berkategori sedang (≥ 0,30), serta minimal 70% peserta didik mencapai nilai di atas Kriteria

67 Ketuntasan Minimal (KKM) dan nilai rata-rata klasikal hasil belajar mencapai minimal 75. Dengan terpenuhinya ketiga aspek tersebut, bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N yang dikembangkan dinyatakan berhasil dan layak digunakan dalam pembelajaran matematika kelas XI SMK.

68 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil dari penelitian ini adalah Bahan Ajar yang berbasis Etnomatematika dan Tri-N yang dapat digunakan untuk Pembelajaran Tatap Muka dan Pembelajaran Jarak Jauh. Bahan ajar berbentuk PowerPoint (PPT) dan e-modul. Materi yang dibahas dalam penelitian ini adalah Barisan dan Deret Aritmatika. Hasil penelitian ini dikembangkan menggunakan model ADDIE yang terdiri dari lima tahapan yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. Hasil dari setiap tahapan dijabarkan sebagai berikut. 1. Hasil Analisis (Analysis) Pada tahap analisis (analisis kebutuhan peserta didik) dilakukan observasi di SMK Muhammadiyah Prambanan untuk mengetahui permasalahan yang ada saat proses belajar mengajar berlangsung. Dengan melakukan wawancara bersama guru matematika dengan hasil wawancara sebagai berikut. Tabel 4. 1 Hasil Wawancara Pertanyaan Hasil Wawancara Apakah dalam pembelajaran materi Barisan dan Deret Aritmatika sudah menggunakan pendekatan etnomatematika? Pembelajaran matematika belum pernah dikaitkan secara langsung dengan budaya lokal. Materi disampaikan secara prosedural tanpa menghubungkan konsep dengan konteks nyata yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Apa bahan ajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar? Bahan ajar yang sering digunakan adalah buku paket.

69 Selain buku paket, apakah ada sumber lain yang digunakan peserta didik? Selain buku paket, peserta didik juga menggunakan LKS sebagai sumber belajar tambahan. Apa permasalahan yang sering terjadi saat proses pembelajaran? Daya tarik peserta didik terhadap pembelajaran matematika yang masih rendah dan peserta didik menjadi kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan matematika masih perlu ditingkatkan. Bagaimana kemampuan berpikir kritis peserta didik secara spesifik dalam pembelajaran Barisan dan Deret Aritmatika? Peserta didik umumnya mampu mengerjakan soal rutin secara prosedural, namun mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada soal non-rutin yang menuntut kemampuan analisis dan inferensi. Peserta didik cenderung kesulitan dalam mengidentifikasi pola, menjelaskan alasan di balik langkah penyelesaian, serta menarik kesimpulan dari suatu permasalahan kontekstual. Indikator evaluasi dan interpretasi juga belum tampak secara optimal dalam proses pengerjaan soal. Apakah Ibu pernah mencoba atau mempertimbangkan penggunaan motif batik kawung maupun konteks Belum pernah mencoba secara langsung mengintegrasikan motif batik kawung maupun konteks Candi Prambanan ke dalam pembelajaran matematika. Padahal, kedua elemen

70 Candi Prambanan sebagai media atau konteks dalam pembelajaran matematika? budaya tersebut sangat dekat dengan kehidupan peserta didik di wilayah Prambanan, Yogyakarta. Guru menyadari potensi tersebut, namun belum ada bahan ajar yang secara khusus mengaitkan unsur budaya lokal tersebut dengan konsep matematika, termasuk Barisan dan Deret Aritmatika. Bagaimana kondisi penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran, dan adakah kendala yang dihadapi? Penggunaan teknologi dalam pembelajaran masih terbatas. Sebagian besar peserta didik memiliki akses terhadap smartphone, namun pemanfaatannya belum optimal untuk keperluan belajar. Kendala yang kerap muncul antara lain keterbatasan jaringan internet di lingkungan sekolah, kurangnya bahan ajar digital yang sesuai dengan materi, serta belum adanya panduan yang memudahkan guru untuk mengintegrasikan teknologi secara sistematis ke dalam pembelajaran matematika. Dari hasil wawancara tersebut ditemukan beberapa permasalahan mendasar dalam pembelajaran matematika di kelas. Daya tarik peserta didik terhadap pembelajaran matematika masih rendah sehingga peserta didik cenderung kurang antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu, pembelajaran matematika pada materi Barisan dan Deret Aritmatika belum pernah dikaitkan dengan pendekatan etnomatematika, sehingga pembelajaran terasa kurang bermakna dan kontekstual bagi peserta didik.

71 Lebih spesifik, kemampuan berpikir kritis peserta didik masih belum berkembang secara optimal. Peserta didik umumnya mampu mengerjakan soal-soal rutin secara prosedural, namun mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada permasalahan non-rutin yang menuntut kemampuan analisis, inferensi, dan evaluasi. Indikator berpikir kritis seperti interpretasi pola, pemberian penjelasan yang terstruktur, serta penarikan kesimpulan dari konteks permasalahan belum tampak secara konsisten dalam proses pengerjaan peserta didik. Hasil wawancara juga mengungkap bahwa potensi budaya lokal, khususnya motif batik kawung dan konteks Candi Prambanan yang sangat dekat dengan kehidupan peserta didik di wilayah Prambanan, Yogyakarta, belum pernah diintegrasikan ke dalam pembelajaran matematika. Guru menyadari potensi tersebut, namun belum tersedia bahan ajar yang secara khusus mengaitkan unsur budaya lokal dengan konsep Barisan dan Deret Aritmatika. Hal ini menjadi dasar pertimbangan pemilihan konteks etnomatematika dalam pengembangan bahan ajar pada penelitian ini. Selain melakukan wawancara, dilakukan juga observasi untuk mengetahui kondisi fasilitas sekolah. Hasil observasi menunjukkan bahwa fasilitas di sekolah sudah memadai untuk menunjang proses pembelajaran, seperti tersedianya Smart TV dan pengeras suara di setiap kelas. Akan tetapi, fasilitas tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal selama pembelajaran berlangsung sehingga pembelajaran masih kurang menarik dan berakibat pada kurangnya pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan. Kondisi ini diperparah dengan belum optimalnya pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran. Meskipun sebagian besar peserta didik memiliki akses terhadap smartphone, pemanfaatannya untuk keperluan belajar masih sangat terbatas. Kendala yang kerap muncul antara lain keterbatasan jaringan internet di lingkungan sekolah serta belum tersedianya bahan ajar digital yang sesuai dengan materi. Di sisi lain, fitur-fitur teknologi yang sebenarnya dapat memperkaya

72 pembelajaran, seperti animasi pada PowerPoint, belum dimanfaatkan secara maksimal karena pendidik masih sering terfokus pada model ceramah. Materi Barisan dan Deret Aritmatika merupakan salah satu materi yang membutuhkan penalaran lebih tinggi, mengingat materi ini berfungsi sebagai prasyarat untuk mempelajari barisan dan deret geometri, deret tak hingga, serta berbagai aplikasi matematika lainnya. Tidak semua peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis yang setara, sehingga diperlukan bahan ajar yang dapat digunakan secara mudah dan efisien sekaligus mampu mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kritis secara bertahap. Oleh karena itu, perlu dikembangkan bahan ajar berbasis etnomatematika dengan metode Tri-N yang menghadirkan konteks budaya lokal sebagai jembatan antara pengalaman nyata peserta didik dan konsep matematika formal, guna meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada materi Barisan dan Deret Aritmatika. Berdasarkan uraian di atas, hasil yang diperoleh pada tahap analisis yaitu: a) Pembelajaran matematika pada materi Barisan dan Deret Aritmatika belum menggunakan pendekatan etnomatematika, padahal potensi konteks budaya lokal seperti motif batik kawung dan Candi Prambanan sangat relevan untuk diintegrasikan. b) Kemampuan berpikir kritis peserta didik, khususnya pada indikator analisis, inferensi, evaluasi, interpretasi, dan penjelasan, masih perlu ditingkatkan secara terstruktur melalui bahan ajar yang tepat. c) Peserta didik masih kurang tertarik pada pelajaran matematika sehingga dibutuhkan bahan ajar yang kontekstual dan menarik. d) Fasilitas yang terdapat di sekolah sudah memadai untuk menunjang pembelajaran, namun belum dimanfaatkan secara optimal. e) Kemajuan teknologi belum dimanfaatkan secara maksimal dalam proses pembelajaran akibat keterbatasan infrastruktur dan ketersediaan bahan ajar digital.

73 f) Materi Barisan dan Deret Aritmatika dinilai membutuhkan penalaran lebih tinggi sehingga diperlukan bahan ajar yang kontekstual, bermakna, dan mampu mendorong kemampuan berpikir kritis peserta didik secara bertahap. 2. Hasil Perencanaan Produk (Design) Tahapan selanjutnya adalah tahapan perencanaan (design), tahapan ini merupakan tahapan yang kedua dari model ADDIE. Pada tahapan ini dilakukan perancangan materi yang akan disajikan dalam bahan ajar. Selanjutnya memilih template dan background yang akan digunakan dalam pembuatan PPT dan e-modul serta menyiapkan gambar dan elemen yang akan digunakan untuk mempermudah peserta didik dalam memahami materi dan menambah daya tarik peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Elemen-elemen yang digunakan dalam bahan ajar juga disesuaikan dengan unsur budaya lokal sebagai bentuk penerapan pendekatan etnomatematika pada materi Barisan dan Deret Aritmatika. Selain merancang bahan ajar, dilakukan juga perancangan instrumen-instrumen yang mendukung kelancaran penelitian. Instrumen ini antara lain angket validasi materi, angket validasi media, angket respon peserta didik, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Penyusunan instrumen-instrumen ini memperhatikan aspek-aspek yang dapat mendukung dan memperlancar penelitian ini. Dari uraian di atas, hasil pada tahap perencanaan (design) adalah: a. Materi Barisan dan Deret Aritmatika berbasis Etnomatematika dan Tri-N telah tersusun. b. Template dan background yang akan digunakan dalam PPT dan e- modul sudah ditentukan. c. Instrumen penelitian berupa angket validasi materi, angket validasi media, angket respon peserta didik, RPP, dan LKPD telah dirancang. 3. Hasil Pengembangan Produk (Development) Hasil dari tahap pengembangan produk (development) antara lain:

74 a. Produk PowerPoint (PPT) b. Produk e-modul c. Skor validasi ahli d. Tingkat kelayakan Bahan Ajar Berdasarkan Ahli Pada tahapan ini dilakukan pengembangan produk, selain itu dilakukan juga validasi kepada validator-validator yang paham tentang bahan ajar yang baik dan benar. Adapun validator-validator tersebut antara lain dua dosen pendidikan matematika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan satu guru matematika SMK Muhammadiyah Prambanan. Berikut merupakan uraian hasil pada tahapan pengembangan produk (development): a. Produksi PowerPoint (PPT) Tahapan produksi PowerPoint ini merupakan tahapan pembuatan bahan ajar yang nantinya akan digunakan dalam proses pembelajaran materi Barisan dan Deret Aritmatika berbasis Etnomatematika dan Tri-N. Oleh karena itu, pembuatan PowerPoint ini dilakukan dengan semaksimal mungkin agar mengurangi kesalahan yang terjadi sehingga bahan ajar yang dihasilkan dapat digunakan secara optimal. Dalam pembuatan bahan ajar ini ditambahkan beberapa elemen yang diambil dari Canva serta elemen- elemen yang mencerminkan unsur budaya lokal sebagai bentuk penerapan pendekatan etnomatematika sehingga menambah daya tarik peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Berikut merupakan tampilan bahan ajar PowerPoint. 1) Tampilan awal

75 Gambar 4.1 merupakan tampilan awal PowerPoint yang berisikan logo UST, judul materi yaitu barisan dan deret aritmatika, nama pembuat bahan ajar, instansi asal pembuat dan target jenjang sekolah yaitu SMK. 2) Tampilan Tujuan pembelajaran dan manfaat pembelajaran Pada bagian ini terdapat beberapa tujuan pembelajaran yang akan didapat peserta didik jika menggunakan bahan ajar ini dan manfaat pembelajaran. 3) Tampilan Pretest Gambar 4. 3 Tampilan Pretest Pada bagian ini terdapat tampilan pretest session yang berfungsi Gambar 4. 2 Tampilan Tujuan Dan Manfaat Pembelajaran Gambar 4. 1 Tampilan Awal

76 untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik mengenai materi pola bilangan sebagai pengantar dalam pembelajaran barisan dan deret aritmatika. Kegiatan pretest dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dalam menganalisis dan memahami pola bilangan, sehingga dapat membantu peserta didik lebih siap dalam mengikuti pembelajaran barisan dan deret aritmatika pada tahap selanjutnya. 4) Tampilan Pemantik Diawali dengan munculnya sub judul berupa materi kontekstual dan dilanjutkan dengan gambar motif batik sebagai pemantik berpikir peserta didik. Selanjutnya dimunculkan pertanyaan pemantik yang mendorong peserta didik untuk mengamati dan menemukan pola keteraturan pada motif batik tersebut sebelum memasuki konsep barisan aritmatika. 5) Tampilan Bahan Ajar Pada bagian ini terdapat tampilan bahan ajar yang memuat kode Gambar 4. 4 Tampilan Pemantik Gambar 4. 5 Tampilan Bahan Ajar

77 barcode sebagai akses menuju e-modul. Tampilan ini berfungsi sebagai jembatan antara kegiatan apersepsi dan penyajian materi inti. 6) Tampilan Materi Barisan Aritmatika Pada bagian ini terdapat sub judul berupa Barisan Aritmetika. Dilanjutkan muncul definisi barisan aritmatika, kemudian dimunculkan rumus barisan aritmatika beserta keterangan variabelnya. 7) Tampilan Materi Deret Aritmatika Pada bagian ini terdapat sub judul berupa Deret Aritmatika. Dimunculkan pengertian deret aritmatika, selanjutnya ditampilkan rumus deret beserta keterangan masing-masing variabel. Gambar 4. 6 Tampilan Materi Barisan Aritmatika Gambar 4. 7 Tampilan Materi Deret Aritmatika

78 8) Tampilan Niteni Gambar 4.8 merupakan salah satu tahapan awal dari ajaran Tri-N yaitu Niteni. Diawali dengan muncul sebuah gambar motif batik berpola sebagai konteks soal, kemudian dimunculkan contoh soal yaitu menentukan motif baris dan total motif, dilanjutkan dengan penyelesaiannya secara lengkap dan bertahap. 9) Tampilan Nirokke Gambar 4.9 merupakan tahapan kedua dari Tri-N yaitu Nirokke. Terdapat dua soal yang modelnya sama persis seperti tahapan Niteni. Fungsi dari tahapan ini agar peserta didik dapat mencoba mengerjakan soal secara mandiri dengan mengikuti pola penyelesaian yang telah diamati pada tahap Niteni, sehingga peserta didik benar-benar memahami materi sebelum menghadapi soal yang lebih kompleks. Gambar 4. 8 Tampilan Niteni Gambar 4. 9 Tampilan Nirokke

79 10) Tampilan Nambahi Gambar 4.10 merupakan tahapan Nambahi. Terdapat satu soal yang merupakan pengembangan dari contoh soal sebelumnya sehingga peserta didik dilatih menggunakan penalaran yang kritis dalam menyelesaikannya. Soal disajikan bersama gambar Candi Prambanan sebagai konteks permasalahan. 11) Tampilan Diskusi Kelompok Pada bagian ini terdapat tampilan kegiatan diskusi kelompok yang terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu pengerjaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) secara berkelompok dan presentasi hasil kerja kelompok di depan kelas. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan kolaborasi dan komunikasi matematis peserta didik, serta sebagai sarana pengambilan nilai melalui presentasi hasil kerja kelompok. Gambar 4. 10 Tampilan Nambahi Gambar 4. 11 Tampilan Diskusi Kelompok

80 12) Tampilan posttest Pada bagian ini terdapat kegiatan posttest yang dilakukan setelah seluruh materi pembelajaran selesai disampaikan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah dipelajari, mengetahui hasil belajar peserta didik, serta sebagai sarana evaluasi terhadap efektivitas proses pembelajaran yang telah berlangsung. b. Produksi E-modul Pada tahapan ini dilakukan pembuatan e-modul yang akan digunakan peserta didik dalam proses pembelajaran selain PPT, E-modul berisikan materi yang digunakan untuk mempermudah peserta didik. 1) Tampilan Awal E-modul Gambar 4. 12 Tampilan Posttest Gambar 4. 13 Tampilan Awal E-Modul

81 Gambar 4.13 merupakan tampilan awal atau cover E-Modul yang menampilkan judul "E-Modul", sub judul materi yaitu Barisan dan Deret Aritmatika, nama penyusun, serta keterangan bahwa modul ini diperuntukkan bagi SMK Kelas XI. Pada bagian pojok kanan atas terdapat dua logo instansi yaitu logo Tut Wuri Handayani dan logo Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). 2) Tampilan Kata Pengantar Gambar 4.14 merupakan tampilan halaman kata pengantar pada E-Modul yang berisi ungkapan rasa syukur penulis serta tujuan penyusunan E-Modul Barisan dan Deret Aritmatika Berbasis Etnomatematika. Gambar 4. 14 Tampilan Kata Pengantar

82 3) Tampilan Pendahuluan Gambar 4.15 merupakan tampilan halaman pendahuluan pada E- Modul yang berisi latar belakang, tujuan pembelajaran, dan petunjuk penggunaan bahan ajar. Pada bagian ini dijelaskan penerapan etnomatematika melalui unsur budaya Indonesia, seperti Batik Kawung dan Candi Prambanan, sebagai konteks pembelajaran barisan dan deret aritmatika. 4) Tampilan Materi Barisan Aritmatika Gambar 4. 15 Tampilan Pendahuluan Gambar 4. 16 Tampilan Materi Barisan Aritmatika

83 Pada bagian ini disajikan materi barisan aritmatika secara lengkap dan sistematis. Diawali dengan pengertian dan definisi barisan aritmatika, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan bentuk umum barisan serta notasi dan istilah-istilah penting yang digunakan. Selanjutnya disajikan rumus suku ke-n beserta cara menentukan nilai beda, dan diakhiri dengan penjelasan jenis-jenis barisan aritmatika berdasarkan nilai bedanya yaitu barisan aritmatika naik, barisan aritmatika turun, dan barisan aritmatika tetap. 5) Tampilan Materi Deret Aritmatika Bagian ini menyajikan materi deret aritmatika yang meliputi pengertian, notasi, dan rumus-rumus yang digunakan. Deret aritmatika didefinisikan sebagai jumlah dari suku-suku pada barisan aritmatika. Disajikan dua bentuk rumus jumlah n suku pertama beserta panduan pemilihan rumus yang tepat berdasarkan informasi yang diketahui dalam soal. Selain itu juga dijelaskan hubungan antara jumlah n suku pertama dengan suku ke-n sebagai pelengkap pemahaman konsep deret aritmatika secara menyeluruh. Gambar 4. 17 Tampilan Materi Deret Aritmatika

84 6) Tampilan dengan Pendekatan Etnomatematika Pada bagian ini disajikan pembelajaran dengan pendekatan etnomatematika yang mengintegrasikan konsep barisan dan deret aritmatika dengan warisan budaya Indonesia, yaitu Batik Kawung, yang dijelaskan sejarah dan makna filosofis motif batik, kemudian dikaitkan dengan pola matematis yang terbentuk dari susunan motifnya. 7) Tampilan Niteni Pada bagian ini peserta didik diajak untuk mengamati dan Gambar 4. 18 Tampilan dengan Pendekatan Etnomatematika Gambar 4. 19 Tampilan Niteni

85 memahami pola atau informasi yang disajikan dalam contoh soal berbasis etnomatematika. Melalui kegiatan mengamati, peserta didik berlatih mengidentifikasi konsep, mengenali rumus yang relevan, serta membangun pemahaman awal sebelum mencoba menyelesaikan masalah secara mandiri. 8) Tampilan Nirokke Gambar 4. 20 Tampilan Nirokke Pada bagian ini peserta didik diajak untuk menirukan langkah- langkah penyelesaian yang telah dicontohkan sebelumnya dengan soal yang berbeda namun sejenis. Melalui kegiatan ini, peserta didik memperkuat pemahaman prosedural secara terbimbing sehingga tumbuh rasa percaya diri dalam menerapkan konsep yang telah dipelajari.

86 9) Tampilan Nambahi Gambar 4. 21 Tampilan Nambahi Pada bagian ini peserta didik diajak untuk mengembangkan pemahaman secara lebih mandiri melalui permasalahan yang lebih kompleks. Peserta didik tidak hanya meniru, tetapi juga dituntut untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan secara kritis sehingga kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat terlatih dengan baik. 10) Tampilan Kesimpulan Gambar 4. 22 Tampilan Kesimpulan

87 Bagian kesimpulan merangkum seluruh materi yang telah dipelajari dalam e-modul ini. Disajikan kembali poin-poin penting meliputi konsep barisan aritmatika, konsep deret aritmatika, serta kaitannya dengan kedua konteks budaya yang digunakan. 11) Tampilan latihan soal Gambar 4. 23 Tampilan Latihan Soal Pada bagian ini terdapat tampilan latihan soal yang digunakan untuk melatih pemahaman dan kemampuan berpikir kritis peserta didik setelah mempelajari materi barisan dan deret aritmatika. Latihan soal disusun berdasarkan materi yang telah dipelajari serta dikaitkan dengan konteks etnomatematika agar peserta didik dapat menerapkan konsep matematika dalam situasi yang lebih nyata dan bermakna. Melalui kegiatan ini, peserta didik diharapkan mampu menganalisis, menyelesaikan, dan mengembangkan penyelesaian masalah secara mandiri. c. Penilaian Ahli Media dan Materi Pada tahap ini dilakukan validasi kepada validator yang berkompeten dalam bidangnya yaitu dalam bidang materi dan media. Tujuan dilakukannya validasi ini yaitu untuk melakukan penilaian terhadap bahan ajar apakah sudah layak digunakan untuk peserta didik atau belum. Terdapat tiga aspek yang dilakukan validasi yaitu aspek kesesuain materi, aspek penyajian materi dan aspek rancangan media. Para Ahli yang melakukan validasi terdiri dari dua dosen pendidikan matematika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

88 (UST) sebagai validator satu (V1) dan validator dua (V2). Validator ketiga (V3) adalah guru matematika SMK Muhammadiyah Prambanan. Aturan pemberian skor terdapat pada BAB III. Perhitungan mean ideal dan standar deviasi ideal dilakukan pada tahapan ini yang digunakan untuk menentukan kriteria pengubah skor rata-rata. Perhitungan tersebut dapat dilihat sebagai berikut. 𝑀𝑖 = 1 2 (𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑖𝑡𝑒𝑚 + 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑒𝑚) 𝑆𝐷𝑖 = 1 6 (𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑖𝑡𝑒𝑚 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑒𝑚) Keterangan: 𝑀𝑖: Rata-rata ideal 𝑆𝐷𝑖: Standar Deviasi Ideal Dilihat dari angket yang dibuat nilai tertinggi item adalah 5 dan nilai terendah item adalah 1, sehingga daidapat nilai mean ideal sebagai berikut. 𝑀𝑖 = 1 2 (5 + 1) = 1 2 (6) = 3 Selanjutnya adalah perhitungan deviasi ideal dengan nilai tertinggi 5 dan nilai terendah adalah 1 maka dapat dihitung sebagai berikut. 𝑀1 = 1 6 (5 − 1) = 1 6 (4) = 0,67 Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan diatas dapat disimpulkan nilai mean ideal adalah 3 dan standar deviasi ideal adalah 0,67. Sedangkan kriteria dan batas nilai disajikan pada tabel berikut.

89 Tabel 4. 2 Kriteria dan Batas Nilai Kriteria Batas Nilai Sangat Baik (SB) 𝑥̄ > 𝑀𝑖 + 1,8𝑆𝐷𝑖 Baik (B) 𝑀𝑖 + 0,6𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 + 1,8𝑆𝐷𝑖 Kurang baik (KB) 𝑀𝑖 − 0,6𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 + 0,6𝑆𝐷𝑖 Tidak Baik (TB) 𝑀𝑖 − 1,8𝑆𝐷𝑖 < 𝑥̄ ≤ 𝑀 − 0,6𝐷𝑖 Sangat Tidak Baik (STB) 𝑥̄ ≤ 𝑀𝑖 − 1,8𝑆𝐷𝑖 Keterangan: 𝑥̄ : Skor rata-rata 𝑀𝑖: Rata-rata ideal 𝑆𝐷𝑖 : Standar Deviasi Ideal Setelah nilai Mean Ideal dan SD Ideal dimasukkan diperoleh tabel sebagai berikut. Tabel 4. 3 Kriteria dan Batas Nilai Kriteria Batas Nilai Sangat Valid (SV) 𝑥̄ > 4.2 Valid (V) 3.4 < 𝑥̄ ≤ 4.2 Kurang Valid (KV) 2.5 < 𝑥̄ ≤ 3.4 Tidak Valid (TV) 1.8 < 𝑥̄ ≤ 2.4 Sangat Tidak Valid (STV) 𝑥̄ ≤ 1.8 Berikut ini merupakan hasil rekapitulasi validasi ahli materi dan media tentang bahan ajar yang digunakan untuk pembelajaran disajikan pada tabel:

90 1) Bahan ajar PowerPoint a) Aspek Isi Materi Tabel 4. 4 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Isi Materi No Aspek Yang dinilai Validasi Ahli Kategori V1 V2 V3 Rerata Aspek Isi Materi 1. Materi sesuai dengan kompetensi dasar 4 4 5 4,33 SV 2. Soal-soal latihan sesuai dengan materi 4 4 5 4,33 SV Jumlah 8 8 10 26 Rerata = 8+8+10 3(2) = 26 6 = 4,33 (SV: Sangat Valid) V1: Validator 1, V2: Validator 2, V3: Validator 3 Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa rerata skor validasi aspek isi materi adalah 4,33 sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek isi materi termasuk sangat valid. b) Aspek penyajian materi Tabel 4. 5 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Penyajian Materi No Aspek Yang dinilai Validasi Ahli Kategori V1 V2 V3 Rerata Aspek penyajian materi 3. Materi lengkap (pembukaan, rumus, contoh soal dan latihan soal) 5 4 4 4,33 SV 4. Ilustrasi yang disajikan pada materi menarik 4 4 5 4,33 SV

91 5. Sistem penyajian materi terstruktur 5 4 5 4,67 SV 6. Materi yang disajikan mudah dipahami 5 4 5 4,67 SV 7. Contoh soal dan pembahasan mudah dipahami 4 4 5 4,33 SV Jumlah 23 20 24 67 Rerata = 23+20+24 3(5) = 67 15 = 4,47 (SV: Sangat Valid) V1: Validator 1, V2: Validator 2, V3: Validator 3 Tabel 4.5 memperlihatkan bahwa rerata skor Aspek penyajian materi adalah 4,47 sehingga dapat disimpulkan bahwa Aspek penyajian materi termasuk sangat valid. c) Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT Tabel 4. 6 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT No Aspek Yang dinilai Validasi Ahli Kategori V1 V2 V3 Rerata Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT 8. Bahan ajar PPT dapat digunakan secara mandiri 5 4 5 4,67 SV 9. Tampilan bahan ajar PPT menarik 5 4 5 4,67 SV 10. Banyaknya kata dalam slide sesuai 5 4 4 4,33 SV 11. Jenis huruf yang digunakan mudah dibaca 5 4 5 4,67 SV 12. Ukuran huruf yang digunakan dapat terbaca dengan jelas 5 4 5 4,67 SV 13. Gambar yang dipilih menarik 5 4 5 4,67 SV

92 dan tidak buram. 14. Ketepatan komposisi warna background, gambar, huruf dan angka yang digunakan sudah sesuai 5 4 4 4,33 SV 15. Efek transisi pada bahan ajar PPT sudah menarik 5 4 5 4,67 SV 16. Bahasa telah menggunakan Bahasa yang komunikatif 4 5 4 4,33 SV 17. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami 4 5 4 4,33 SV Jumlah 48 42 46 136 Rerata = 48+42+46 3(10) = 136 30 = 4,53 (SV: Sangat Valid) V1: Validator 1, V2: Validator 2, V3: Validator 3 Tabel 4.6 memperlihatkan bahwa rerata skor validasi aspek tampilan bahan ajar PPT adalah 4,53 sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek tampilan bahan ajar PPT termasuk sangat valid. Tabel 4. 7 Ringkasan Hasil Validasi PPT No Aspek yang dinilai Rerata Kriteria 1. Aspek Isi Materi 4,33 Sangat Valid 2. Aspek Penyajian Materi 4,47 Sangat Valid 3. Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT 4,53 Sangat Valid Rerata 4,44 Sangat Valid Penentuan kriteria berdasarkan Tabel 4.3

93 2) Penilaian Bahan Ajar E-Modul a) Aspek Isi Materi Tabel 4. 8 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Isi Materi No Aspek Yang dinilai Validasi Ahli Kategori V1 V2 V3 Rerata Aspek Isi Materi 1. Materi sesuai dengan kompetensi dasar 4 5 4 4,33 SV 2. Soal-soal latihan sesuai dengan materi 4 4 5 4,33 SV Jumlah 8 9 9 26 Rerata = 8+9+9 3(2) = 26 6 = 4,33 (SV: Sangat Valid) V1: Validator 1, V2: Validator 2, V3: Validator 3 Tabel 4.8 memperlihatkan bahwa rerata skor validasi aspek isi materi adalah 4,33 sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek isi materi termasuk sangat valid. b) Aspek penyajian materi Tabel 4. 9 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Penyajian Materi No Aspek Yang dinilai Validasi Ahli Kategori V1 V2 V3 Rerata Aspek penyajian materi 3. Materi lengkap (pembukaan, rumus, contoh soal dan latihan soal) 5 5 4 4,67 SV 4. Ilustrasi yang disajikan pada materi menarik 4 4 5 4,33 SV

94 5. Sistem penyajian materi terstruktur 5 4 4 4,33 SV 6. Materi yang disajikan mudah dipahami 4 4 4 4 V 7. Contoh soal dan pembahasan mudah dipahami 4 4 5 4,33 SV Jumlah 22 20 24 67 Rerata = 22+20+24 3(5) = 66 15 = 4,4 (SV: Sangat Valid) V1: Validator 1, V2: Validator 2, V3: Validator 3 Tabel 4.9 memperlihatkan bahwa rerata skor Aspek penyajian materi adalah 4,4 sehingga dapat disimpulkan bahwa Aspek penyajian materi termasuk sangat valid. c) Aspek Tampilan Bahan Ajar E-Modul Tabel 4. 10 Rekapitulasi Hasil Validasi Aspek Tampilan Bahan Ajar E-Modul No Aspek Yang dinilai Validasi Ahli Kategori V1 V2 V3 Rerata Aspek Tampilan Bahan Ajar E-Modul 8. Bahan ajar E-Modul dapat digunakan secara mandiri 5 4 5 4,67 SV 9. Tampilan bahan ajar E- Modul menarik 4 4 5 4,33 SV 10. Banyaknya kata dalam slide sesuai 5 4 4 4,33 SV 11. Jenis huruf yang digunakan mudah dibaca 5 4 5 4,67 SV 12. Ukuran huruf yang digunakan dapat terbaca 5 5 4 4,67 SV

95 dengan jelas 13. Gambar yang dipilih menarik dan tidak buram. 4 4 5 4,33 SV 14. Ketepatan komposisi warna background, gambar, huruf dan angka yang digunakan sudah sesuai 5 5 4 4,67 SV 15. Efek transisi pada bahan ajar E-Modul sudah menarik 5 4 4 4,33 SV 16. Bahasa telah menggunakan Bahasa yang komunikatif 4 4 5 4,33 SV 17. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami 4 5 4 4,33 SV Jumlah 46 43 45 136 Rerata = 46+43+45 3(10) = 134 30 = 4,47 (SV: Sangat Valid) V1: Validator 1, V2: Validator 2, V3: Validator 3 Tabel 4.10 memperlihatkan bahwa rerata skor validasi aspek tampilan bahan ajar E-Modul adalah 4,47 sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek tampilan bahan ajar E-Modul termasuk sangat valid. Tabel 4. 11 Ringkasan Hasil Validasi E-Modul No Aspek yang dinilai Rerata Kriteria 1. Aspek Isi Materi 4,33 Sangat Valid 2. Aspek Penyajian Materi 4,4 Sangat Valid 3. Aspek Tampilan Bahan Ajar E-Modul 4,47 Sangat Valid Rerata 4,4 Sangat

96 Valid Penentuan kriteria berdasarkan Tabel 4.3 d. Kelayakan Bahan Ajar Berdasarkan Ahli Media dan Materi 1) Kelayakan bahan ajar Aspek kesesuaian materi, aspek penyajian materi dan aspek rancangan bahan ajar adalah aspek-aspek yang telah dinilai oleh ahli media dan ahli materi. Ahli media dan ahli materi terdiri dari dua dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan satu guru matematika SMK Muhammadiyah Prambanan. Berdasarkan penilaian bahan ajar PPT, Aspek Isi Materi yang terdiri dari dua butir item pertanyaan mendapat skor rata- rata 4.33 dan dikategorikan sangat valid. Sedangkan pada Aspek Penyajian Materi terdiri dari lima butir item pertanyaan dengan skor rata-rata yang diperoleh adalah 4.47 dengan kategori sangat valid Untuk aspek yang terakhir adalah Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT yang terdiri dari sepuluh item pertanyaan dengan memperoleh skor rata-rata 4,53 termasuk kategori sangat valid. Dari ketiga aspek yang dinilai memperoleh skor rata-rata total adalah 4,44 termasuk kategori sangat valid. Sedangkan berdasarkan penilaian bahan ajar E-Modul, Aspek Isi Materi yang terdiri dari dua butir item pertanyaan mendapat skor rata-rata 4.33 dan dikategorikan sangat valid. Sedangkan pada Aspek Penyajian Materi terdiri dari lima butir item pertanyaan dengan skor rata-rata yang diperoleh adalah 4.4 dengan kategori sangat valid Untuk aspek yang terakhir adalah Aspek Tampilan Bahan Ajar E-Modul yang terdiri dari sepuluh item pertanyaan dengan memperoleh skor rata-rata 4,47 termasuk kategori sangat valid. Dari ketiga aspek yang dinilai memperoleh skor rata-rata total adalah 4,4 termasuk kategori sangat valid. Dari penilaian bahan ajar PPT dan E-Modul dapat

97 disimpulkan bahwa bahan ajar yang digunakan untuk pembelajaran tatap muka layak digunakan dalam proses pembelajaran. 4. Hasil Implementasi (implementation) Pada tahap implementasi adalah tahapan proses menerapkan bahan ajar yang telah dikembangkan kepada peserta didik di sekolah. Pada tahap ini dilaksanakan uji coba lapangan terbatas dan uji coba lapangan utama produk yang telah dikembangkan kepada peserta didik kelas SMK Muhammadiyah Prambanan. a. Uji Coba Lapangan Terbatas Uji coba lapangan terbatas bertujuan untuk mendapatkan saran dan masukan dari peserta didik tentang bahan ajar yang dikembangkan. Saran dan masukan dari peserta didik nantinya akan digunakan sebagai pertimbangan untuk peneliti melakukan perbaikan bahan ajar yang dikembangkan sebelum dilakukan uji coba lapangan utama. Uji coba lapangan terbatas dilaksanakan pada peserta didik kelas XI TSMC yang berjumlah 21 orang. Pada model pembelajaran, penyampaian materi menggunakan PPT dan e-modul. Sebelum pembelajaran dimulai, peserta didik diberikan soal pretest untuk mengukur kondisi awal sebelum pembelajaran. Setelah penyampaian materi selesai, peserta didik diminta untuk mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan posttest. Selain itu, peserta didik juga diminta mengisi angket respon peserta didik yang telah dipersiapkan serta memberikan saran dan masukan. Saran dan masukan dari peserta didik dirangkum dalam Tabel 4.12 berikut. Tabel 4. 12 Saran dan Masukan dari Peserta Didik No. Saran dan Masukan 1. Materi yang dipelajari menarik dan menyenangkan 2. e-modulnya masih terlalu polos, tambahi animasi

98 yang membuat lebih bersemangat membaca b. Uji Coba Lapangan Utama Uji coba lapangan utama dilaksanakan dengan prosedur yang sama seperti pada uji coba lapangan terbatas. Dalam kegiatan pembelajaran, penyampaian materi dilakukan menggunakan PPT dan e-modul. Sebelum pembelajaran dimulai, peserta didik diberikan soal pretest untuk mengukur kondisi awal peserta didik sebelum menerima materi pembelajaran. Setelah penyampaian materi selesai, peserta didik diminta untuk mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan posttest. Selain itu, peserta didik juga diminta mengisi angket respons peserta didik yang telah dipersiapkan serta memberikan saran dan masukan terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Uji coba lapangan utama dilaksanakan pada kelas XI TKRC dengan jumlah peserta didik sebanyak 32 orang. Adapun hasil rekapitulasi angket respon peserta didik disajikan pada tabel berikut. 1. Aspek Penilaian PPT a) Aspek tampilan PPT Tabel 4. 13 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek Tampilan PPT No Pernyataan Jawaban STS TS N S SS Aspek Tampilan PPT 1. Teks atau tulisan pada PPT mudah Dibaca. 2 24 6 2. Background menarik. 2 18 12 3. Gambar yang disajikan menarik. 1 17 14 Jumlah 5 59 32 Rerata = 5(3)+59(4)+32(5) 32(3) = 411 96 = 4,28 SS: skor 5, S: skor 4 , N: skor 3, TS: skor 2, STS: skor 1

99 Jumlah skor siswa yang menjawab STS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab TS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab N adalah 5, Jumlah skor siswa yang menjawab S adalah 59, jumlah skor siswa yang menjawab SS adalah 32. Rerata aspek tampilan PPT adalah 4,28 kategori sangat baik. b) Aspek penyajian materi Tabel 4. 14 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek Penyajian Materi No Pernyataan Jawaban STS TS N S SS Aspek Penyajian Materi 4. Materi pada PPT jelas dan mudah dipahami 1 20 11 5. Contoh dan latihan soal pada PPT jelas dan mudah dipahami. 2 19 11 6. Saya dapat memahami dengan jelas kalimat yang digunakan dalam PPT ini. 1 18 13 7. Tidak ada kalimat yang menimbulkan makna ganda dalam PPT ini. 3 21 8 8. Saya dapat memahami simbol yang digunakan dalam PPT ini. 1 22 9 9. Simbol yang digunakan dalam PPT ini menambah pengetahuan. 20 12 10. Gambar yang disajikan sesuai dengan materi 19 13 Jumlah 8 139 77 Rerata = 8(3)+139(4)+77(5) 32(7) = 965 224 = 4,31

100 SS: skor 5, S: skor 4 , N: skor 3, TS: skor 2, STS: skor 1 Jumlah skor siswa yang menjawab STS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab TS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab N adalah 8, Jumlah skor siswa yang menjawab S adalah 139, jumlah skor siswa yang menjawab SS adalah 77. Rerata aspek tampilan PPT adalah 4,31 kategori sangat baik. c) Aspek daya tarik PPT Tabel 4. 15 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek daya tarik PPT No Pernyataan Jawaban STS TS N S SS Aspek Daya Tarik PPT 11. Materi yang disajikan menarik. 2 25 5 12. PPT ini membuat saya tertarik dalam belajar matematika. 7 21 4 Jumlah 9 46 9 Rerata = 9(3)+46(4)+9(5) 32(2) = 256 64 = 4 SS: skor 5, S: skor 4 , N: skor 3, TS: skor 2, STS: skor 1 Jumlah skor siswa yang menjawab STS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab TS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab N adalah 9, Jumlah skor siswa yang menjawab S adalah 46, jumlah skor siswa yang menjawab SS adalah 9. Rerata aspek tampilan PPT adalah 4 kategori baik. d) Aspek kebermanfaatan PPT Tabel 4. 16 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek kebermanfaatan PPT No Pernyataan Jawaban STS TS N S SS Aspek Kebermanfaatan PPT 13. Saya dapat mengikuti 6 21 5

101 pelajaran matematika dengan mudah 14. Saya dapat memahami materi barisan dan deret aritmatika. 2 19 11 15. Dengan adanya inovasi pendekatan etnomatematika dan berbasis Tri-N dapat meningkatkan motivasi saya mengikuti pembelajaran matematika. 4 20 8 Jumlah 12 60 24 Rerata = 12(3)+60(4)+24(5) 32(3) = 396 96 = 4,13 SS: skor 5, S: skor 4 , N: skor 3, TS: skor 2, STS: skor 1 Jumlah skor siswa yang menjawab STS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab TS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab N adalah 12, Jumlah skor siswa yang menjawab S adalah 60, jumlah skor siswa yang menjawab SS adalah 24. Rerata aspek tampilan PPT adalah 4,13 kategori baik. 2. Aspek Penilaian E-Modul a) Aspek tampilan E-Modul Tabel 4. 17 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek Tampilan E-Modul No Pernyataan Jawaban STS TS N S SS Aspek Tampilan E-Modul 1. Tampilan halaman e-modul (warna, tata letak, dan desain) menarik dan nyaman dibaca. 24 8 2. Jenis dan ukuran huruf yang digunakan pada e-modul mudah dibaca. 1 18 13

102 3. Gambar dan ilustrasi budaya lokal (batik, candi) yang disajikan dalam e-modul jelas dan menarik. 1 17 14 4. Desain e-modul mencerminkan unsur budaya lokal Yogyakarta sehingga terasa kontekstual. 4 24 4 Jumlah 6 83 39 Rerata = 6(3)+83(4)+39(5) 32(4) = 411 96 = 4,26 SS: skor 5, S: skor 4 , N: skor 3, TS: skor 2, STS: skor 1 Jumlah skor siswa yang menjawab STS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab TS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab N adalah 6, Jumlah skor siswa yang menjawab S adalah 83, jumlah skor siswa yang menjawab SS adalah 39. Rerata aspek tampilan E-Modul adalah 4,26 kategori sangat baik. b) Aspek penyajian materi Tabel 4. 18 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek Penyajian Materi No Pernyataan Jawaban STS TS N S SS Aspek Penyajian Materi 5. Materi Barisan dan Deret Aritmatika pada e-modul disajikan secara runtut dan mudah dipahami. 2 19 11 6. Contoh soal dan latihan soal dalam e-modul jelas dan mudah dikerjakan. 4 17 11 7. Bahasa yang digunakan dalam e-modul komunikatif dan 3 16 13

103 tidak menimbulkan makna ganda. 8. Simbol dan notasi matematika yang digunakan dalam e- modul mudah dipahami. 2 22 8 9. Setiap tahapan Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) dalam e- modul membantu saya memahami konsep secara bertahap. 1 21 10 10. Konteks budaya lokal yang disajikan dalam e-modul membantu saya memahami konsep barisan dan deret aritmatika. 1 19 12 Jumlah 13 114 65 Rerata = 13(3)+114(4)+65(5) 32(6) = 820 192 = 4,27 SS: skor 5, S: skor 4 , N: skor 3, TS: skor 2, STS: skor 1 Jumlah skor siswa yang menjawab STS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab TS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab N adalah 13, Jumlah skor siswa yang menjawab S adalah 114, jumlah skor siswa yang menjawab SS adalah 65. Rerata aspek tampilan E - Modul adalah 4,27 kategori sangat baik. c) Aspek daya tarik E-Modul Tabel 4. 19 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek daya tarik E-Modul No Pernyataan Jawaban STS TS N S SS Aspek Daya Tarik E-Modul 11. E-modul ini membuat saya lebih tertarik dan bersemangat 4 20 8

104 belajar matematika. 12. Tampilan e-modul yang menggunakan unsur budaya lokal membuat pembelajaran terasa menyenangkan. 5 21 6 Jumlah 9 41 14 Rerata = 9(3)+41(4)+14(5) 32(2) = 261 64 = 4,1 SS: skor 5, S: skor 4 , N: skor 3, TS: skor 2, STS: skor 1 Jumlah skor siswa yang menjawab STS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab TS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab N adalah 9, Jumlah skor siswa yang menjawab S adalah 41, jumlah skor siswa yang menjawab SS adalah 14. Rerata aspek tampilan E-modul adalah 4,1 kategori baik. d) Aspek kebermanfaatan E-Modul Tabel 4. 20 Rekapitulasi Hasil Angket Aspek kebermanfaatan E- Modul No Pernyataan Jawaban STS TS N S SS Aspek Kebermanfaat E-Modul 13. E-modul membantu saya memahami materi Barisan dan Deret Aritmatika dengan lebih baik. 5 21 6 14. Penggunaan pendekatan etnomatematika berbasis Tri- N dalam e-modul melatih kemampuan berpikir kritis saya. 2 18 12 15. E-modul ini dapat saya gunakan secara mandiri di 4 20 8

105 luar jam pelajaran. Jumlah 11 59 26 Rerata = 11(3)+59(4)+26(5) 32(3) = 399 96 = 4,16 SS: skor 5, S: skor 4 , N: skor 3, TS: skor 2, STS: skor 1 Jumlah skor siswa yang menjawab STS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab TS adalah 0, jumlah skor siswa yang menjawab N adalah 11, Jumlah skor siswa yang menjawab S adalah 59, jumlah skor siswa yang menjawab SS adalah 26. Rerata aspek tampilan E-Modul adalah 4,16 kategori baik. Berikut ini merupakan ringkasan rekapitulasi angket respon siswa untuk bahan ajar PPT dan E-Modul barisan dan deret aritmatika. Tabel 4. 21 Ringkasan Hasil Bahan Ajar PPT No Aspek yang dinilai Rerata Kriteria 1. Aspek Tampilan PPT 4,28 SB 2. Aspek Penyajian Materi 4,31 SB 3. Aspek Daya Tarik PPT 4 B 4. Aspek Kebermanfaatan PPT 4,13 B Rerata 4,18 B Tabel 4. 22 Ringkasan Hasil Bahan Ajar E-Modul No Aspek yang dinilai Rerata Kriteria 1. Aspek Tampilan e-modul 4,26 SB 2. Aspek Penyajian Materi 4,27 SB 3. Aspek Daya Tarik e-modul 4,1 B 4. Aspek Kebermanfaatan e- modul 4,16 B Rerata 4,2 B Berdasarkan Tabel 4.21 dan Tabel 4.22, dapat dilihat bahwa ringkasan hasil bahan ajar PPT memiliki nilai 4,18 yang

106 termasuk dalam kategori baik, dan untuk ringkasan hasil bahan ajar E-Modul memiliki nilai 4,2 yang termasuk dalam kategori baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang telah dikembangkan memenuhi syarat kepraktisan, artinya perangkat pembelajaran baik digunakan dalam kegiatan pembelajaran. 5. Hasil Evaluasi Pada tahap evaluasi terdapat 2 jenis evaluasi yang dilakukan, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilakukan pada setiap tahap model ADDIE, antara lain: a. Evaluasi dilakukan terhadap materi bahan ajar yang akan dibuat. Sebelum masuk ke perencanaan, telah dibuat terlebih dahulu materi pada microsoft word terkait Barisan dan Deret Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) sehingga menjadi acuan dalam pembuatan bahan ajar. Materi yang dibuat mencakup konsep barisan aritmatika, deret aritmatika, penerapan budaya lokal Yogyakarta seperti motif batik dan Candi Prambanan, serta aktivitas pembelajaran berbasis Tri-N untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Materi yang dibuat pada microsoft word selanjutnya dievaluasi oleh dosen pembimbing agar mendapatkan masukan dan saran. b. Evaluasi dilakukan terhadap instrumen penelitian pada tahap perancangan. Penelitian kali ini menggunakan instrumen berupa angket validasi ahli media dan materi, angket respon peserta didik, serta instrumen pretest dan posttest kemampuan berpikir kritis. Seluruh instrumen tersebut disusun dan dikonsultasikan kepada dosen pembimbing untuk dilakukan evaluasi sehingga instrumen tersebut mencakup hal-hal yang dibutuhkan untuk validasi dan uji coba bahan ajar yang dikembangkan. c. Evaluasi dilakukan terhadap Pretest dan Posttest pada tahap perancangan. Pretest dan posttest mencakup soal-soal yang mencakup

107 materi Barisan dan Deret Aritmatika yang nantinya akan diajarkan menggunakan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Soal disusun berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis seperti interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan. Evaluasi dilakukan agar instrumen pretest dan posttest ini sudah mencakup materi dan sudah sesuai dengan yang diajarkan. Berdasarkan hasil uji coba terbatas, beberapa soal pada pretest direvisi karena tingkat kesukaran soal dinilai masih terlalu tinggi bagi peserta didik sehingga dilakukan penyederhanaan redaksi dan penyesuaian tingkat kesukaran soal agar lebih sesuai dengan karakteristik peserta didik. d. Evaluasi dilakukan terhadap bahan ajar pada tahap pengembangan. Pemilihan background pada e-modul dan PowerPoint (PPT), penyusunan ilustrasi budaya lokal, tata letak materi, serta banyaknya materi pada setiap halaman dan slide dikonsultasikan kepada dosen pembimbing sehingga banyaknya tulisan, gambar, dan unsur visual yang digunakan tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Selain itu, tahapan Tri-N dalam bahan ajar juga dievaluasi agar sesuai dengan tujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Setelah e-modul dan PowerPoint (PPT) dirasa cukup, bahan ajar dikonsultasikan kepada dosen pembimbing sebelum dilanjutkan kepada validator ahli media dan ahli materi untuk memperoleh masukan dan saran terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Evaluasi yang selanjutnya adalah evaluasi sumatif. Pada penelitian ini, evaluasi sumatif dilakukan pada akhir tahapan model ADDIE. Evaluasi ini dilakukan dengan merevisi bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan masukan dan saran dari validator ahli media dan ahli materi yang diperoleh melalui angket validasi. Berikut hasil evaluasi bahan ajar yang dikembangkan. a. Hasil Analisis Data Validasi Ahli Media dan Materi Tingkat kelayakan bahan ajar ditentukan berdasarkan hasil validasi oleh ahli media dan ahli materi. Hasil validasi menunjukkan

108 bahwa bahan ajar berupa PowerPoint (PPT) memperoleh skor rata- rata 4,44 dengan kategori sangat valid, sedangkan bahan ajar berupa e-modul memperoleh skor rata-rata 4,40 dengan kategori sangat valid. Berdasarkan perolehan skor tersebut, bahan ajar yang dikembangkan telah memenuhi aspek kevalidan dan dinyatakan layak digunakan dalam proses pembelajaran matematika kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan. Selain penilaian kuantitatif, validator juga memberikan beberapa masukan kualitatif terhadap bahan ajar yang dikembangkan, antara lain: 1) animasi masih terlalu polos sehingga dapat ditambahkan elemen yang lebih menarik 2) perlu ditambahkan tujuan pembelajaran dan manfaat pembelajaran 3) perlu ditambahkan identitas institusi dan sasaran pengguna 4) perlu diperjelas penerapan tahapan Tri-N dalam aktivitas pembelajaran. Seluruh masukan tersebut menjadi dasar dalam melakukan revisi produk sebelum tahap implementasi. b. Hasil Analisis Data Angket Respon Peserta Didik Hasil analisis data angket respon peserta didik menunjukkan bahwa bahan ajar PowerPoint (PPT) memperoleh rerata total 4,18 dengan kategori baik, sedangkan bahan ajar e-modul memperoleh rerata total 4,20 dengan kategori baik. Kedua hasil tersebut berada di atas batas minimal kepraktisan, sehingga bahan ajar yang dikembangkan dinyatakan memenuhi syarat kepraktisan. Peserta didik menilai bahwa bahan ajar disajikan secara menarik, kontekstual dengan budaya lokal Yogyakarta, mudah dipahami, serta dapat membantu peserta didik memahami konsep Barisan dan Deret Aritmatika secara mandiri. Dengan demikian, bahan ajar berupa PPT dan e-modul dinyatakan praktis digunakan

109 dalam kegiatan pembelajaran. c. Hasil Analisis Data Keefektifan Keefektifan bahan ajar diukur menggunakan desain One- Group Pretest–Posttest dengan membandingkan kemampuan berpikir kritis peserta didik sebelum dan sesudah menggunakan bahan ajar. Analisis dilakukan melalui tiga tahapan yaitu uji normalitas, uji beda, dan perhitungan N-Gain, serta dilengkapi dengan analisis ketuntasan klasikal. KKM mata pelajaran matematika yang ditetapkan sekolah adalah 75. 1) Uji Normalitas (Shapiro-Wilk) Sebelum melakukan uji beda, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk dengan bantuan IBM SPSS Statistics 25. Uji ini dipilih karena sesuai untuk sampel dengan n ≤ 50. Hasil uji normalitas disajikan pada tabel berikut. Tabel 4. 23 Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk Berdasarkan Tabel 4.23, hasil uji normalitas Shapiro- Wilk menunjukkan bahwa nilai signifikansi data pretest adalah 0,037 dan data posttssest adalah 0,001. Kedua nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 (sig. ≤ 0,05), sehingga H₀ ditolak dan dapat disimpulkan bahwa data pretest dan posttest tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu, dilakukan uji beda yang digunakan adalah uji non-parametrik Wilcoxon Signed Rank Test sebagai alternatif pengganti Paired Sample t-Test. 2) Uji Beda (Wilcoxon Signed Rank Test) Karena data tidak berdistribusi normal, uji beda dilakukan menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dengan bantuan IBM SPSS Statistics 25.

110 Berdasarkan Tabel 4.24, hasil Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan bahwa terdapat 31 peserta didik dengan Positive Ranks (nilai posttest lebih tinggi dari pretest), 0 peserta didik dengan Negative Ranks, dan 1 peserta didik dengan Ties (nilai posttest sama dengan pretest), yaitu S17 yang memperoleh nilai 100 pada kedua tes. Hasil tersebut tidak menunjukkan bahwa peserta didik telah menguasai materi Barisan dan Deret Aritmatika sebelum pembelajaran dilaksanakan, karena instrumen pretest dalam penelitian ini disusun berdasarkan materi prasyarat, yaitu Pola Bilangan, untuk mengukur kemampuan berpikir kritis awal peserta didik. Nilai sempurna yang diperoleh S17 menunjukkan bahwa peserta didik tersebut telah memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik pada materi prasyarat. Selain itu, berdasarkan informasi dari guru mata pelajaran, S17 termasuk peserta didik dengan kemampuan akademik yang baik sehingga mampu menyelesaikan soal-soal pretest secara optimal. Oleh karena itu, peserta didik tersebut termasuk dalam kategori ties karena tidak mengalami perubahan skor antara pretest dan posttest. Selanjutnya, Nilai Z yang diperoleh adalah -4,867 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000. Karena nilai signifikansi Tabel 4. 24 Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank Test

111 0,000 < 0,05, maka H₀ ditolak dan H₁ diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara skor pretest dan posttest kemampuan berpikir kritis peserta didik setelah menggunakan bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. 3) Perhitungan N-Gain Score Selain uji beda, besarnya peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik dihitung menggunakan rumus N- Gain. Hasil perhitungan N-Gain untuk setiap peserta didik disajikan pada tabel berikut. Tabel 4. 25 Hasil Pretest, Posttest, dan N-Gain Score Peserta Didik Kode Pretest Posttest N-Gain (g) Kategori S01 72,5 90 0,6364 Sedang S02 55 75 0,4444 sedang S03 90 95 0,5000 Sedang S04 50 87,5 0,7500 Tinggi S05 72,5 92,5 0,7273 Tinggi S06 60 90 0,7500 Tinggi S07 72,5 92,5 0,7273 Tinggi S08 70 97,5 0,9167 Tinggi S09 90 92,5 0,2500 Rendah S10 60 90 0,7500 Tinggi S11 70 87,5 0,5833 Sedang S12 65 95 0,8571 Tinggi S13 80 97,5 0,8750 Tinggi S14 60 87,5 0,6875 Sedang S15 60 97,5 0,9375 Tinggi S16 70 95 0,8333 Tinggi

112 S17 100 100 Tidak Terdefinisi - S18 60 90 0,7500 Tinggi S19 65 97,5 0,9286 Tinggi S20 70 95 0,8333 Tinggi S21 85 100 1,0000 Tinggi S22 62,5 95 0,8667 Tinggi S23 90 100 1,0000 Tinggi S24 60 92,5 0,8125 Tinggi S25 72,5 95 0,8182 Tinggi S26 80 97,5 0,8750 Tinggi S27 60 92,5 0,8125 Tinggi S28 70 95 0,8333 Tinggi S29 75 97,5 0,9000 Tinggi S30 60 92,5 0,8125 Tinggi S31 90 95 0,5000 Sedang S32 70 90 0,6667 Sedang Rata-rata 70,86 93,36 0,7721 Tinggi Berdasarkan Tabel 4.25, diperoleh rata-rata N-Gain score sebesar 0,7721 yang termasuk dalam kategori tinggi (g ≥ 0,70). Hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik mengalami peningkatan yang tinggi setelah mengikuti pembelajaran menggunakan bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N. Temuan ini mengindikasikan bahwa bahan ajar yang dikembangkan efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

113 4) Ketuntasan Klasikal Tabel 4. 26 Ringkasan Hasil Analisis Keefektifan Bahan Ajar Indikator Pretest Posttest Rata-rata Nilai 70,86 93,36 Jumlah Peserta Didik Tuntas (KKM ≥ 75) 9 siswa 32 siswa Persentase Ketuntasan Klasikal 28,13% 100% Kriteria Efektivitas Tidak Efektif Sangat Efektif Rata-rata N-Gain Score 0,7721 (Kategori Tinggi) Hasil Wilcoxon Signed Rank Test Z = -4,867 | Sig. = 0,000 (Sangat Signifikan) Berdasarkan Tabel 4.26, terdapat peningkatan yang sangat signifikan pada kemampuan berpikir kritis peserta didik. Pada saat pretest, rata-rata nilai peserta didik adalah 70,86 dengan persentase ketuntasan klasikal hanya 28.13% (9 dari 32 peserta didik tuntas), sehingga termasuk kategori Tidak Efektif. Setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar yang dikembangkan, rata- rata nilai posttest meningkat menjadi 93,36 dengan ketuntasan klasikal mencapai 100%, sehingga termasuk kategori Sangat Efektif. Peningkatan ini diperkuat oleh hasil Wilcoxon Signed Rank Test yang menunjukkan nilai Z = -4,867 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000, jauh di bawah taraf signifikansi 0,05, sehingga peningkatan dinyatakan sangat signifikan. Rata-rata N-Gain score sebesar 0,7721 juga berada pada kategori Tinggi. Dengan terpenuhinya ketiga kriteria keefektifan, yaitu peningkatan signifikan berdasarkan Wilcoxon (sig. < 0,05), N-Gain berkategori Tinggi (g ≥ 0,70), dan ketuntasan klasikal Sangat Efektif, maka bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N dinyatakan efektif

114 dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan. d. Analisis Data Kemampuan Berpikir Kritis Analisis kemampuan berpikir kritis dilakukan secara deskriptif berdasarkan hasil pretest dan posttest yang diberikan kepada 32 peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan. Pretest dan Posttest terdiri dari 5 soal Uraian. Analisis dilakukan dalam tiga aspek berikut ini. 1) Distribusi Kemampuan Berpikir Kritis Distribusi kemampuan berpikir kritis diperoleh dari persentase peserta didik pada setiap kategori berdasarkan nilai pretest dan posttest. Data distribusi pretest disajikan pada tabel berikut. Tabel 4. 27 Kategori Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik pada Pretest No Kategori Rentang Nilai Jumlah Peserta Didik Persentase (%) 1 Sangat Tinggi 81,25 < x ≤ 100 6 18,75 2 Tinggi 71,5 < x ≤ 81,25 7 21,88 3 Sedang 62,5 < x ≤ 71,5 8 25,00 4 Rendah 43,75 < x ≤ 62,5 11 34,38 5 Sangat Rendah 0 < x ≤ 43,75 0 0 Jumlah 32 100 Rata-rata Nilai Kelas 70,86 Berdasarkan Tabel 4.27, rata-rata nilai pretest peserta didik adalah 70,86 dengan sebaran kategori sebagai berikut: 6 peserta didik (18,75%) berada pada kategori Sangat Tinggi, 7 peserta didik (21,88%) berada pada kategori Tinggi, 8 peserta

115 didik (25,00%) berada pada kategori Sedang, dan 11 peserta didik (34,38%) berada pada kategori Rendah. Tidak terdapat peserta didik yang termasuk dalam kategori Sangat Rendah. Selain itu, peserta didik yang mencapai skor ≥75 berjumlah 9 orang atau 28,13%. Persentase tersebut masih berada di bawah ketuntasan klasikal yang ditetapkan, yaitu minimal 70% peserta didik mencapai skor ≥75. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik sebelum pembelajaran masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran yang dapat memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui aktivitas belajar yang lebih bermakna dan mendorong keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar yang dikembangkan, dilakukan posttest untuk mengukur kemampuan berpikir kritis akhir peserta didik. Hasilnya disajikan pada tabel berikut. Tabel 4. 28 Kategori Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik pada Posttest No Kategori Rentang Nilai Jumlah Peserta Didik Persentase (%) 1 Sangat Tinggi 81,25 < x ≤ 100 31 96,88 2 Tinggi 71,5 < x ≤ 81,25 1 3,13 3 Sedang 62,5 < x ≤ 71,5 0 0,00 4 Rendah 43,75 < x ≤ 62,5 0 0,00 5 Sangat Rendah 0 < x ≤ 43,75 0 0,00 Jumlah 32 100 Rata-rata Nilai Kelas 93,36 — Berdasarkan Tabel 4.28 di atas, terjadi peningkatan yang

116 sangat signifikan. Rata-rata nilai posttest meningkat menjadi 93,36 dengan kategori Sangat Tinggi. Sebanyak 31 peserta didik (96,88%) berada pada kategori Sangat Tinggi dan 1 peserta didik (3,13%) pada kategori Tinggi. Tidak ada peserta didik yang berada pada kategori Sedang, Rendah, maupun Sangat Rendah. Seluruh 32 peserta didik (100%) mencapai skor ≥ 75, jauh melampaui batas minimal 70%, sehingga bahan ajar yang dikembangkan dinyatakan efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. 2) Analisis Per Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Analisis per indikator dilakukan untuk mengetahui pencapaian peserta didik pada masing-masing indikator berpikir kritis, yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan. Persentase rata-rata setiap indikator pada pretest dan posttest disajikan pada tabel berikut. Tabel 4. 29 Persentase Rata-Rata Per Indikator Kemampuan Berpikir Kritis No Indikator Berpikir Kritis Pretest (%) Posttest (%) Peningkatan 1 Interpretasi 73,83 94,92 21,09 2 Analisis 71,88 95,31 23,43 3 Evaluasi 69,14 92,19 23,05 4 Inferensi 70,70 93,36 22,66 5 Penjelasan 68,75 91,02 22,27 Rata-rata Keseluruhan 70,86 93,36 22,5 Berdasarkan Tabel 4.29 di atas, pada pretest indikator interpretasi memperoleh persentase tertinggi sebesar 73,83%, diikuti analisis 71,88%, inferensi 70,70%, evaluasi 69,14%, dan penjelasan sebagai yang terendah 68,75%. Rendahnya indikator

117 penjelasan menunjukkan bahwa peserta didik belum terbiasa mengomunikasikan alasan dan justifikasi penyelesaian secara runtut dan logis, yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pada posttest, seluruh indikator mengalami peningkatan yang signifikan. Indikator analisis mencapai persentase tertinggi sebesar 95,31%, sekaligus menjadi indikator dengan peningkatan terbesar. Disusul indikator interpretasi 94,92%, inferensi 93,36%, evaluasi 92,19%, dan penjelasan 91,02%. Meskipun indikator interpretasi dan penjelasan mencatat peningkatan yang relatif lebih kecil dibandingkan indikator lainnya, keduanya tetap berada pada kategori Sangat Tinggi. Tidak ada indikator yang masih berada pada kategori lemah setelah pembelajaran, menandakan bahwa bahan ajar telah berhasil mengembangkan seluruh indikator berpikir kritis peserta didik secara menyeluruh. 3) Hubungan Kemampuan Berpikir Kritis dengan Pembelajaran Berbasis Tri-N Peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik tidak terlepas dari proses pembelajaran yang dirancang melalui tahapan Tri-N, yaitu Niteni, Nirokke, dan Nambahi. Ketiga tahapan ini saling berkesinambungan dan secara bersama-sama mendukung berkembangnya kelima indikator berpikir kritis— interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan—tanpa terpisah pada satu tahap tertentu. Pada tahap Niteni, peserta didik diajak mengamati pola matematis yang tersembunyi dalam konteks budaya lokal Yogyakarta, seperti motif Batik Kawung dan susunan batu Candi Prambanan. Proses pengamatan ini melatih kemampuan interpretasi karena peserta didik dituntut memaknai pola yang muncul, sekaligus mulai mengasah kemampuan analisis sederhana ketika mereka mengidentifikasi unsur-unsur

118 pembentuk pola seperti urutan suku dan selisih antarsuku. Pemahaman awal ini menjadi dasar bagi peserta didik untuk melangkah ke tahap berikutnya. Pada tahap Nirokke, peserta didik menerjemahkan pola budaya yang telah diamati ke dalam representasi matematis formal dan menerapkannya pada soal-soal kontekstual yang berkaitan dengan barisan dan deret aritmatika. Tahap ini memperkuat kemampuan analisis melalui proses menguraikan masalah dan menentukan rumus yang sesuai, sekaligus melatih kemampuan evaluasi ketika peserta didik memeriksa kembali kesesuaian representasi dan memverifikasi langkah-langkah penyelesaian. Kemampuan interpretasi yang telah terbentuk pada tahap sebelumnya juga terus diperkuat melalui penerapan pada konteks soal yang lebih beragam. Pada tahap Nambahi, peserta didik didorong melampaui batas peniruan dengan menciptakan variasi masalah baru, menyusun generalisasi konsep, dan menerapkan pengetahuan pada situasi yang berbeda. Kegiatan ini melatih kemampuan inferensi dalam menarik kesimpulan logis dari pola yang telah dipelajari, sekaligus melatih kemampuan penjelasan ketika peserta didik menuliskan justifikasi penyelesaian secara runtut. Pada tahap ini pula, kemampuan evaluasi kembali diasah melalui penilaian terhadap soal baru dan generalisasi yang mereka susun sendiri. Dengan demikian, ketiga tahapan Tri-N bekerja secara berkesinambungan dalam mengembangkan kelima indikator berpikir kritis peserta didik, tanpa membatasi satu indikator hanya pada satu tahap tertentu. Integrasi konteks budaya lokal Yogyakarta membuat pembelajaran lebih bermakna karena peserta didik tidak hanya memahami konsep barisan dan deret aritmatika secara prosedural, tetapi juga terlatih menafsirkan,

119 menganalisis, mengevaluasi, menyimpulkan, dan menjelaskan fenomena budaya yang mereka temui. Hal ini turut didukung oleh data keefektifan, yaitu 100% peserta didik mencapai skor ≥ 75 dan rata-rata N-Gain Score sebesar 0,7721 dengan kategori Tinggi, sehingga bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N dapat dikatakan efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan. e. Revisi Produk Setelah mendapatkan berbagai masukan dari ahli media dan ahli materi untuk bahan ajar yang dikembangkan. Berdasarkan masukan tersebut dilakukan beberapa revisi pada bahan ajar yang dikembangkan baik untuk PPT maupun E-Modul. Berikut merupakan revisi yang dilakukan Gambar 4. 24 Tampilan PPT Sebelum Direvisi Slide Pertama Pada Gambar 4.24 slide hanya terdiri dari judul materi penelitian, nama peneliti dan beberapa elements untuk menambah daya tarik peserta didik. Berdasarkan masukan dari ahli media dan materi, maka hasil revisi dapat dilihat pada Gambar 4.25

120 Pada Gambar 4.25 dilakukan revisi dengan menambah logo dan nama instansi yaitu Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, target pembuatan bahan ajar yaitu SMK Kelas XI. Gambar 4. 26 Tampilan PPT Setelah Revisi Slide Dua Pada Gambar 4.26 berdasarkan masukan ahli media dan materi dilakukan revisi dengan menambahkan tujuan pembelajaran dan manfaat pembelajaran pada bahan ajarnya yang sebelumnya belum ada. Selain penambahan tujuan pembelajaran dan manfaat pembelajaran, validator juga memberikan masukan agar implementasi pendekatan Tri-N pada bahan ajar ditampilkan secara lebih eksplisit sehingga peserta didik dapat memahami tahapan pembelajaran yang digunakan. Berdasarkan masukan tersebut, dilakukan revisi pada bagian latihan penerapan materi dengan mengelompokkan aktivitas pembelajaran ke dalam tahapan Niteni, Nirokke, dan Nambahi. Gambar 4. 25 Tampilan PPT Sesudah Direvisi Slide Pertama

121 Gambar 4. 27 Tampilan PPT Sebelum Direvisi Pada Gambar 4.27, aktivitas pembelajaran masih disajikan dalam satu slide dengan judul "Ayo Menerapkan" yang memuat contoh permasalahan dan soal latihan. Penyajian tersebut belum menunjukkan secara jelas tahapan pembelajaran berbasis Tri-N sehingga karakteristik pendekatan yang digunakan dalam bahan ajar belum tampak secara eksplisit. Gambar 4. 28 Tampilan PPT Sesudah Direvisi Pada Gambar 4.28 dilakukan revisi dengan membagi aktivitas pembelajaran ke dalam tahapan Niteni, Nirokke, dan Nambahi. Pada tahap Niteni, peserta didik diarahkan untuk mengamati pola dan informasi yang disajikan pada konteks etnomatematika. Tahap Nirokke memfasilitasi peserta didik untuk menirukan atau menerapkan konsep yang telah dipelajari melalui penyelesaian

122 masalah yang sejenis. Selanjutnya, pada tahap Nambahi, peserta didik diberikan permasalahan yang lebih bervariasi sehingga dapat mengembangkan ide dan strategi penyelesaian secara mandiri. Revisi ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas masukan validator agar implementasi pendekatan Tri-N sebagai karakteristik utama bahan ajar dapat terlihat lebih sistematis dan mendukung peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Selanjutnya pada E-Modul juga dilakukan revisi sesuai dengan masukan ahli media dan materi. Tampilan sebelum direvisi dapat dilihat pada tampilan berikut. Gambar 4. 29 Tampilan E-Modul sebelum direvisi Pada Gambar 4.29 merupakan E-Modul bagian isi dilakukan juga perubahan dengan menambah baground yang terlalu polos yang membuat peserta didik tidak bersemangat untuk membacanya. Tampilan sesudah direvisi pada bagian isi dapat dilihat pada Gambar 4. 30

123 Gambar 4. 30 Tampilan E-Modul Sesudah direvisi B. Pembahasan Pembahasan mencakup dua aspek utama dari hasil penelitian, yaitu deskripsi proses pengembangan bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, serta kelayakan bahan ajar yang dikembangkan ditinjau dari aspek validitas, kepraktisan, dan keefektifan. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari dua bentuk produk, yaitu PowerPoint (PPT) untuk pembelajaran tatap muka di kelas dan e-modul matematika yang dapat digunakan secara mandiri. Keduanya memuat materi barisan dan deret aritmatika yang diintegrasikan dengan konteks budaya lokal Yogyakarta melalui pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi). Bahan ajar yang dikembangkan bertujuan memfasilitasi peningkatan

124 kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas XI SMK melalui konteks budaya yang bermakna. Proses pengembangannya mengikuti model ADDIE yang terdiri dari lima tahap, yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation, yang berjalan secara sistematis dan saling mendukung dalam membentuk produk pembelajaran yang kontekstual, valid, dan mampu mendorong kemampuan berpikir kritis secara terstruktur. Pada tahap Analysis, dilakukan wawancara dan observasi langsung di SMK Muhammadiyah Prambanan untuk mengidentifikasi permasalahan dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan wawancara dengan guru matematika, diketahui bahwa pembelajaran barisan dan deret aritmatika selama ini berlangsung secara prosedural materi disampaikan langsung dalam bentuk rumus tanpa dikaitkan dengan konteks nyata atau budaya lokal, sehingga peserta didik tidak mendapat kesempatan mengamati pola, menalar hubungan antar konsep, maupun menyusun generalisasi matematis secara mandiri. Bahan ajar yang digunakan hanya berupa buku paket dan LKS konvensional yang belum mampu mendorong keterlibatan kognitif tingkat tinggi. Fasilitas Smart TV dan pengeras suara yang tersedia di setiap kelas pun belum dimanfaatkan secara maksimal karena pembelajaran masih didominasi model ceramah. Kondisi ini memperkuat urgensi dikembangkannya bahan ajar yang tidak hanya informatif, tetapi juga kontekstual dan mampu memancing proses berpikir kritis peserta didik. Temuan ini selaras dengan (Kharisma, 2018) yang menyatakan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta

125 didik SMK pada materi barisan dan deret masih tergolong rendah, terutama pada aspek menganalisis pola dan menyusun generalisasi. Pada tahap Design, dirancang bahan ajar dengan memilih konteks etnomatematika berupa motif Batik Kawung dan arsitektur Candi Prambanan sebagai representasi budaya lokal Yogyakarta yang berkaitan erat dengan konsep barisan dan deret aritmatika. Motif Batik Kawung dipilih karena pola susunannya menunjukkan keteraturan yang sesuai dengan konsep barisan aritmatika, sedangkan struktur Candi Prambanan memberikan konteks yang tepat untuk mengeksplorasi konsep deret aritmatika. Pemilihan konteks budaya ini didasarkan pada kedekatannya dengan kehidupan peserta didik agar konsep matematika dapat dipahami secara lebih konkret dan bermakna. Pada tahap ini juga disusun instrumen penelitian berupa angket validasi, angket respon peserta didik, LKPD, serta instrumen pretest dan posttest yang dikembangkan berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis menurut (Setiana et al., 2021), yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan. Pada tahap Development, rancangan tersebut diwujudkan menjadi dua produk yang saling melengkapi. PPT dikembangkan dengan elemen-elemen visual dari Canva yang mengintegrasikan unsur budaya lokal, dilengkapi animasi dan transisi untuk mendukung keterlibatan aktif peserta didik di kelas. E-modul dirancang lebih komprehensif karena memuat seluruh konsep barisan dan deret aritmatika, konteks etnomatematika secara mendalam, aktivitas Tri-N yang lengkap, serta latihan soal yang secara eksplisit melatih

126 kelima indikator berpikir kritis. Setelah produk selesai dikembangkan, dilakukan validasi oleh tiga validator yang terdiri dari dua dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan satu guru matematika SMK Muhammadiyah Prambanan. Proses validasi menghasilkan masukan yang substantif, antara lain perlunya penambahan logo institusi dan identitas sasaran pengguna, penegasan tahapan Tri-N, penambahan tujuan dan manfaat pembelajaran, serta perbaikan tampilan latar e-modul agar lebih menarik. Seluruh masukan ditindaklanjuti dalam revisi produk sebelum tahap implementasi dilaksanakan. Pada tahap Implementation, produk diuji cobakan dalam dua siklus. Uji coba terbatas pada 21 peserta didik kelas XI TSMC menghasilkan masukan bahwa materi yang disajikan menarik dan menyenangkan, namun e- modul perlu ditambahkan animasi agar lebih mendorong semangat membaca. Setelah revisi dilakukan, uji coba lapangan utama dilaksanakan pada 32 peserta didik kelas XI TKRC dengan prosedur pretest, pembelajaran menggunakan PPT dan e-modul berbasis etnomatematika Tri-N, kemudian posttest dan pengisian angket respon peserta didik. Tahap Evaluation berjalan secara formatif di setiap fase ADDIE mulai dari evaluasi materi oleh dosen pembimbing, evaluasi instrumen, hingga evaluasi tampilan produk dan secara sumatif pada akhir keseluruhan proses melalui analisis data validasi, respon peserta didik, serta hasil pretest-posttest. Dengan kelima tahapan ADDIE yang berjalan sistematis, produk bahan ajar yang dihasilkan tidak hanya didasarkan pada kebutuhan nyata di lapangan,

127 tetapi juga telah melalui pengujian dan penyempurnaan yang terukur. Salah satu aspek penting yang dikaji adalah kevalidan bahan ajar. PPT dan e-modul dipilih karena keduanya bersifat fleksibel, mudah diakses melalui perangkat digital yang tersedia di sekolah, serta dapat memvisualisasikan pola budaya lokal secara menarik sehingga mendukung proses pengamatan pada tahap Niteni maupun penerapan konsep pada tahap Nirokke dan Nambahi. Validasi dilakukan oleh tiga validator dua dosen pendidikan matematika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan satu guru matematika SMK Muhammadiyah Prambanan, yang komposisinya sengaja dipilih untuk menghadirkan penilaian seimbang antara perspektif akademis dan perspektif praktis lapangan. Keputusan menggunakan validator yang sama untuk menilai kedua produk (PPT dan e-modul) didasarkan pada pertimbangan bahwa PPT dan e- modul merupakan satu kesatuan bahan ajar yang dikembangkan dalam satu alur ADDIE dan mengintegrasikan pendekatan etnomatematika berbasis Tri- N yang sama, sehingga konsistensi penilaian antara dua produk tersebut justru diperlukan agar validator dapat menilai keselarasan keduanya sebagai satu sistem bahan ajar yang utuh. Selain itu, ketiga validator telah memiliki kompetensi yang relevan dan saling melengkapi, dua dosen pendidikan matematika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa yang menguasai aspek akademis dan pedagogis, serta satu guru matematika SMK Muhammadiyah Prambanan yang memahami konteks lapangan. Sehingga penilaian yang dihasilkan mencerminkan perspektif yang komprehensif terhadap kedua

128 produk sekaligus. Penggunaan satu tim validator untuk lebih dari satu produk dalam satu penelitian pengembangan juga telah lazim diterapkan, sebagaimana dilakukan oleh (Fatmasari, 2024) dan (Nuridha & Hardianti, 2022), dengan pertimbangan bahwa konsistensi instrumen dan standar penilaian lebih mudah dijaga ketika validator yang sama menilai semua komponen bahan ajar dalam satu rangkaian penelitian. Untuk penelitian lanjutan, disarankan agar mempertimbangkan penggunaan validator berbeda untuk masing-masing produk guna memperoleh penilaian yang lebih independen. Hasil validasi menunjukkan bahwa bahan ajar PPT memperoleh rata- rata keseluruhan sebesar 4,44 dan e-modul sebesar 4,40, yang keduanya termasuk dalam kategori Sangat Valid. Pada aspek isi materi, keduanya memperoleh skor 4,33 karena konten dinilai telah selaras dengan Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka sekaligus mempertahankan ketepatan substansi matematis. Validator menilai bahwa materi tidak disajikan sebagai kumpulan rumus yang berdiri sendiri, melainkan dibangun secara induktif melalui pengamatan pola budaya. Soal-soal latihan berbasis Batik Kawung dan Candi Prambanan juga dinilai mampu mengukur kemampuan peserta didik hingga level analisis, evaluasi, dan penciptaan. Hal ini sejalan dengan prinsip relevansi yang dikemukakan (Wafiqah Lubis & Albina, 2025), bahwa bahan ajar yang baik harus disusun sesuai capaian pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan konteks kehidupan sehari-hari. Pada aspek penyajian materi, PPT memperoleh skor 4,47 dan e-modul

129 4,40. Skor ini mencerminkan bahwa alur penyajian dari observasi pola batik, pengenalan konsep, contoh soal, latihan terbimbing, hingga eksplorasi konteks candi dinilai runtut, sistematis, dan mudah diikuti. Kemenarikan ilustrasi menggunakan gambar motif Batik Kawung dan foto Candi Prambanan mendapat apresiasi karena berfungsi bukan sekadar sebagai dekorasi visual, melainkan sebagai jangkar kontekstual yang menghubungkan konsep matematis dengan realitas budaya yang dikenal peserta didik. Validator juga menekankan pentingnya langkah pemeriksaan hasil dan penarikan kesimpulan yang disertakan secara eksplisit dalam setiap contoh soal, karena kedua langkah tersebut merupakan cerminan langsung dari indikator evaluasi dan penjelasan dalam berpikir kritis. Aspek tampilan mencatat skor tertinggi, yaitu 4,53 untuk PPT dan 4,47 untuk e-modul. Desain visual dinilai menarik, sesuai dengan karakteristik peserta didik SMK, serta mengintegrasikan elemen budaya lokal yang memperkuat identitas kontekstual bahan ajar. Validator menekankan bahwa tampilan yang menarik berperan penting dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik karena secara langsung memengaruhi kemauan mereka untuk terlibat aktif dalam tahapan Tri-N. Satu-satunya catatan pada aspek ini adalah perlunya penambahan animasi pada e-modul yang awalnya dinilai masih terlalu statis, dan masukan tersebut langsung ditindaklanjuti dalam revisi. Secara keseluruhan, hasil validasi menunjukkan bahwa bahan ajar PPT dan e-modul berbasis etnomatematika Tri-N telah memenuhi kriteria

130 sangat valid. Tingginya tingkat kevalidan pada ketiga aspek mengindikasikan bahwa bahan ajar ini mampu menjadi media pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan secara pedagogis dirancang untuk memfasilitasi perkembangan kemampuan berpikir kritis melalui integrasi budaya lokal Yogyakarta. Selain kevalidan, kepraktisan bahan ajar juga menjadi fokus penting dalam penelitian ini. Kepraktisan menentukan seberapa lancar dan bermakna proses pembelajaran dapat berlangsung, sekaligus mencerminkan kemudahan penggunaan bahan ajar bagi peserta didik. Penggunaan PPT dan e-modul berbasis teknologi digital juga mendukung ketertarikan peserta didik, karena mereka lebih terbiasa dengan media berbasis teknologi dibandingkan media cetak konvensional. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pemanfaatan teknologi dapat memberikan dampak positif terhadap minat belajar peserta didik. Hasil angket respon peserta didik menunjukkan bahwa PPT memperoleh rerata total 4,18 dan e-modul 4,20, keduanya berkategori Baik dan berada di atas batas minimal kepraktisan. Selama penerapannya, peserta didik tampak lebih aktif mengikuti pembelajaran, banyak yang bertanya dan berdiskusi terutama pada bagian Niteni di mana pola budaya lokal diamati bersama sebelum dikaitkan dengan konsep matematis. Sebanyak 30 dari 32 peserta didik menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa gambar yang disajikan sesuai dengan materi, dan tahapan Tri-N dinilai membantu mereka memahami konsep secara bertahap dari sekadar mengamati hingga mampu

131 menyelesaikan masalah yang kompleks secara mandiri. Pengalaman belajar bertahap seperti inilah yang menjadikan bahan ajar berfungsi sebagai scaffolding kognitif yang nyata bagi peserta didik (Mangiri & Prabawanto, 2024). Dari sisi kebermanfaatan, sebanyak 28 dari 32 peserta didik menyatakan bahwa pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N meningkatkan motivasi mereka dalam mengikuti pembelajaran matematika. Lebih dari itu, 30 peserta didik menyatakan bahwa penggunaan bahan ajar ini melatih kemampuan berpikir kritis mereka. Kesadaran metakognitif peserta didik atas perubahan cara berpikir mereka sendiri merupakan indikator yang sangat berarti, karena menunjukkan bahwa dampak bahan ajar tidak hanya dirasakan pada tataran hasil tes, tetapi juga pada tataran kesadaran diri dalam proses belajar (Manurung et al., 2023). Selain itu, e-modul dinilai dapat digunakan secara mandiri di luar jam pelajaran, menjadikannya sumber belajar yang fleksibel dan mendukung kemandirian belajar sesuai semangat Kurikulum Merdeka. Berdasarkan penilaian peserta didik tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar berbasis etnomatematika Tri-N memiliki tingkat kepraktisan yang baik dan layak digunakan dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi barisan dan deret aritmatika di kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan. Sebelum digunakan pada uji coba lapangan utama, instrumen pretest dan posttest telah melalui analisis kelayakan berdasarkan data uji coba

132 lapangan terbatas, yang menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh butir soal valid, instrumen reliabel dengan kategori tinggi, sehingga layak digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik. Aspek keefektifan bahan ajar juga dianalisis secara menyeluruh. Sebelum pembelajaran, rata-rata nilai pretest peserta didik mencapai 70,86 dengan ketuntasan klasikal sebesar 28,13%, menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis awal peserta didik masih perlu ditingkatkan. Setiap soal pada ketiga tahapan Tri-N dirancang untuk melatih kelima indikator berpikir kritis secara bersamaan dengan perbedaan antar tahap yang terletak pada tingkat kompleksitas tuntutan berpikir, sehingga kemampuan berpikir kritis peserta didik terlatih secara holistik dan berkelanjutan sepanjang proses pembelajaran. Keefektifan bahan ajar dibuktikan melalui peningkatan rata-rata nilai dari 70,86 menjadi 93,36 dengan N-Gain sebesar 0,7721 kategori Tinggi, hasil uji Wilcoxon yang sangat signifikan (p = 0,000), serta ketuntasan klasikal yang mencapai 100% jauh melampaui batas minimal 70%. Besaran peningkatan ini sejalan dengan temuan penelitian sejenis: (Fatmasari, 2024) melaporkan peningkatan hasil belajar di atas KKM,(Nuridha & Hardianti, 2022) menghasilkan efektivitas 77,42% kategori sangat efektif, sementara Syaifudin dan Utami menghasilkan kemampuan berpikir kritis pada kategori sedang. N-Gain 0,7721 yang diperoleh berada pada posisi yang lebih optimal, dan hal ini dapat dipertanggungjawabkan secara pedagogis melalui tiga keunggulan desain: konteks budaya lokal yang dekat dengan keseharian

133 peserta didik memperkuat keterlibatan kognitif, struktur Tri-N membangun scaffolding berpikir kritis secara bertahap, serta penggunaan dua produk saling melengkapi meningkatkan frekuensi latihan secara signifikan. Peningkatan terjadi pada seluruh indikator berpikir kritis (Setiana et al., 2021) dengan pola yang mencerminkan logika desain bahan ajar. Analisis meningkat paling tinggi karena setiap soal Tri-N secara struktural selalu dimulai dari proses menguraikan pola budaya menjadi komponen matematis, menjadikannya keterampilan yang paling konsisten dilatih sepanjang pembelajaran. Evaluasi dan inferensi menyusul karena keduanya hadir di setiap tahap melalui tuntutan pemeriksaan hasil dan penarikan kesimpulan, sejalan dengan temuan(D. A. L. R. B. Kusuma et al., 2023). Sementara itu, penjelasan meningkat paling kecil karena mengartikulasikan alasan di balik setiap langkah penyelesaian secara tertulis membutuhkan pembiasaan lebih lama bagi peserta didik yang sebelumnya terbiasa dengan pembelajaran prosedural, dan interpretasi menjadi indikator dengan ruang peningkatan paling terbatas karena sebagian kemampuan ini telah dimiliki peserta didik sebelum pembelajaran dimulai. Meski demikian, penting untuk mendiskusikan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan tersebut. Peningkatan yang terjadi paling utama didorong oleh desain bahan ajar itu sendiri struktur Tri-N yang bertahap, konteks budaya yang bermakna, dan latihan berpikir kritis yang konsisten terbukti membentuk kebiasaan berpikir yang berbeda dari kondisi awal. Di sisi lain, kesesuaian konteks soal posttest dengan bahan ajar yang

134 telah dipelajari juga turut berkontribusi, karena peserta didik yang telah terpapar konteks Batik Kawung dan Candi Prambanan selama pembelajaran akan lebih siap menghadapi soal yang menggunakan konteks serupa. Dengan demikian, peningkatan yang diperoleh kemungkinan merupakan kombinasi dari efektivitas desain bahan ajar dan meningkatnya kesiapan peserta didik setelah melalui proses pembelajaran yang kontekstual dan terstruktur. Berdasarkan hasil analisis terhadap aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan, bahan ajar barisan dan deret aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N dinyatakan layak digunakan dalam pembelajaran matematika kelas XI SMK. Ketiga aspek tersebut terpenuhi secara keseluruhan, sehingga bahan ajar ini dapat menjadi alternatif pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan berakar pada kekayaan budaya lokal Yogyakarta.

135 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan tujuan pengembangan yang telah ditetapkan dan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Penelitian ini berhasil mengembangkan bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari dua bentuk produk, yaitu bahan ajar berbasis PowerPoint yang digunakan dalam pembelajaran tatap muka di kelas, dan e-modul matematika yang dapat digunakan secara mandiri baik secara luring maupun daring. Karakteristik utama bahan ajar adalah pengintegrasian unsur budaya lokal Yogyakarta seperti motif Batik Kawung dan arsitektur Candi Prambanan ke dalam setiap aktivitas pembelajaran, serta penyajian materi yang berjalan bertahap melalui tiga tahapan Tri-N sehingga mendorong peserta didik mengamati, meniru, dan mengembangkan konsep secara mandiri dan reflektif. Pengembangan dilaksanakan menggunakan model ADDIE secara sistematis mulai dari tahap analisis kebutuhan hingga evaluasi akhir produk. 2. Bahan ajar yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kelayakan berdasarkan hasil validasi dari tiga validator yang terdiri dari dua dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan satu guru matematika SMK Muhammadiyah Prambanan. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh skor rata-rata validasi bahan ajar PowerPoint sebesar 4,44 dengan kategori sangat valid dan skor rata-rata validasi e-modul sebesar 4,40 dengan kategori sangat valid. Hasil ini menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan layak digunakan dalam proses pembelajaran ditinjau dari aspek isi materi, penyajian materi, tampilan, dan bahasa. 3. Kepraktisan bahan ajar yang dikembangkan dapat diketahui melalui

136 angket respon siswa yang diberikan kepada 32 peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan. Berdasarkan perhitungan data angket respon siswa, diperoleh skor rata-rata respon terhadap bahan ajar PowerPoint sebesar 4,18 dengan kategori baik dan skor rata-rata respon terhadap e- modul sebesar 4,20 dengan kategori baik. Hasil ini menunjukkan bahwa bahan ajar berbasis etnomatematika dengan pendekatan Tri-N mendapatkan tanggapan positif dari peserta didik, serta mampu meningkatkan motivasi, ketertarikan, dan kemudahan peserta didik dalam memahami materi Barisan dan Deret Aritmatika. 4. Keefektifan bahan ajar ditinjau dari hasil belajar peserta didik yang diukur melalui pretest dan posttest kemampuan berpikir kritis. Sebelum pembelajaran menggunakan bahan ajar yang dikembangkan, rata-rata nilai pretest peserta didik adalah 70,86. Setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis etnomatematika berbasis Tri-N, rata-rata nilai posttest meningkat menjadi 93,36 dengan persentase ketuntasan klasikal mencapai 100%, artinya seluruh 32 peserta didik telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Besarnya peningkatan kemampuan berpikir kritis diukur menggunakan N-Gain Score dan diperoleh nilai rata-rata sebesar 0,7721 yang termasuk dalam kategori tinggi. Selain itu, karena data pretest dan posttest tidak berdistribusi normal berdasarkan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji beda dilakukan menggunakan uji non- parametrik Wilcoxon Signed Rank Test dengan bantuan IBM SPSS Statistics 25. Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai Z = -4,867 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 < 0,05, sehingga terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kemampuan berpikir kritis peserta didik sebelum dan sesudah menggunakan bahan ajar. Dengan demikian, bahan ajar Barisan dan Deret Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N dinyatakan sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan. B. Implikasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar Barisan dan Deret

137 Aritmatika dengan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N yang terdiri atas PPT dan e-modul dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber belajar dalam pembelajaran matematika di SMK. E-modul yang dikembangkan dapat digunakan secara mandiri oleh peserta didik baik di dalam maupun di luar jam pelajaran sehingga mendukung fleksibilitas dan kemandirian belajar. E-modul tersebut dapat diakses melalui tautan https://s.id/BarDerAritmatika. Selain itu, PPT yang dikembangkan dapat membantu guru melaksanakan pembelajaran yang lebih terarah melalui tahapan Tri-N (Niteni, Nirokke, dan Nambahi), sehingga peserta didik lebih aktif dalam mengamati, menerapkan, dan mengembangkan konsep matematika. Secara teoretis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi pendekatan etnomatematika dan Tri-N dalam bahan ajar matematika dapat mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penggunaan konteks budaya lokal Yogyakarta, seperti motif Batik Kawung dan Candi Prambanan, membantu peserta didik menghubungkan konsep matematika dengan lingkungan yang dekat dengan kehidupan mereka sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Secara praktis, hasil penelitian ini mendukung implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran kontekstual, berpusat pada peserta didik, serta pengembangan kompetensi abad ke-21. Bahan ajar yang dikembangkan dapat menjadi referensi bagi guru dalam merancang pembelajaran matematika yang mengintegrasikan budaya lokal dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik. C. Keterbatasan Penelitian Penelitian pengembangan ini telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang direncanakan. Namun demikian, terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. 1. Pada tahap uji keefektifan penelitian ini tidak melibatkan kelas kontrol sehingga hasil peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik belum dapat dibandingkan secara langsung dengan kelompok yang menggunakan bahan ajar lain.

138 2. Uji coba produk dilakukan pada peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan sehingga hasil penelitian ini masih terbatas pada karakteristik peserta didik dan kondisi pembelajaran di sekolah tersebut. 3. Selama pelaksanaan penelitian terdapat faktor-faktor di luar kendali peneliti yang dapat memengaruhi hasil penelitian, seperti kondisi dan kesiapan belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. D. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan ini, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut: 1. Bagi Peserta Didik Peserta didik diharapkan dapat memanfaatkan bahan ajar PPT dan e-modul yang telah dikembangkan secara maksimal, baik selama proses pembelajaran di kelas maupun secara mandiri di luar jam pelajaran. Peserta didik juga dianjurkan untuk aktif dalam setiap tahapan Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) guna melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis secara berkelanjutan. 2. Bagi Guru Guru matematika diharapkan dapat menggunakan bahan ajar berbasis etnomatematika dengan pendekatan Tri-N ini sebagai salah satu alternatif media pembelajaran yang kontekstual dan inovatif. Guru juga dapat mengembangkan bahan ajar serupa untuk materi matematika lain dengan mengintegrasikan unsur budaya lokal yang relevan dengan lingkungan peserta didik, sehingga pembelajaran matematika lebih bermakna dan menyenangkan. 3. Bagi Sekolah Pihak sekolah diharapkan mendukung dan memfasilitasi penerapan bahan ajar berbasis budaya lokal ini sebagai salah satu inovasi pembelajaran yang sejalan dengan Kurikulum Merdeka. Dukungan berupa ketersediaan

139 sarana teknologi seperti akses perangkat digital akan sangat membantu peserta didik dalam memanfaatkan e-modul secara optimal. 4. Bagi Peneliti Selanjutnya Peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan uji coba pada subjek yang lebih luas dan beragam agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai penggunaan bahan ajar yang dikembangkan. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan penggunaan kelompok pembanding untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai efektivitas bahan ajar. Penelitian lanjutan juga dapat mengembangkan bahan ajar pada materi matematika lainnya serta mengintegrasikan konteks budaya lokal yang berbeda sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.

140 DAFTAR PUSTAKA Abidin, Z., & Tohir, M. (2019). KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI DALAM MEMECAHKAN DERET ARITMATIKA DUA DIMENSI BERDASARKAN TAKSONOMI BLOOM. Alifmatika: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Matematika, 1(1), 44–60. https://doi.org/10.35316/alifmatika.2019.v1i1.44-60 Anwas, E. O. M., Afriansyah, A., Iftitah, K. N., Firdaus, W., Sugiarti, Y., Sopandi, E., & Hediana, D. (2022). Students’ Literacy Skills and Quality of Textbooks in Indonesian Elementary Schools. International Journal of Language Education, 6(3), 233–244. https://doi.org/10.26858/ijole.v6i3.32756 Ardhyantama, V. (2020). CREATIVITY DEVELOPMENT BASED ON THE IDEAS OF KI HAJAR DEWANTARA. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 5(1), 73–86. https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1502 Asmoro, B. P., & Mukti, F. D. (2019). Peningkatan rasa ingin tahu ilmu pengetahuan alam melalui model contextual teaching and learning pada siswa kelas va sekolah dasar negeri karangroto 02. Jurnal Abdau: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 2(1), 115–142. Astuti, D. D., Rahmatullah, S., Sukmawardani, Y., & Subarkah, C. Z. (2021). Utilization of e-module in polymer synthetic based on green chemistry to improve student high level thinking. Journal of Physics: Conference Series, 1869(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/1869/1/012028 Bees, N. L. (2025). Pendekatan PBL Berbasis Etnomatematika untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Matematis Siswa di Kawasan Perbatasan. Nabla Dewantara: Jurnal Pendidikan Matematika, 10(2), 115– 122. Darmayanti, H., & Rochmiyati, S. (2025). Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Berbasis Tri-N: Niteni, Nirokke, Nambahi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Wawancara Bahasa Indonesia Kelas IV Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dan Teknologi Indonesia, 5(11), 3084–3092. https://doi.org/10.52436/1.jpti.1099 Diana, R. (2025). Pengembangan Modul Pembelajaran PBL untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Kreatif Siswa SMK. Kajian Ilmu Administrasi, 22(2), 189–202. https://doi.org/10.21831/efisiensi.v22i2.86927 Dick, W. (1996). The Dick and Carey model: Will it survive the decade? Educational Technology Research and Development, 44(3), 55–63. Dina, A., Ikrimah, D., & Argarini, D. F. (2025). ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MASALAH ETNOMATEMATIKA. Jurnal Ilmiah Matematika Realistik (JI-MR, 6(1), 131–137. Elyasarikh, A. A., & Masriyah, M. (2024). Bagaimana Literasi Matematis Siswa pada Penyelesaian Soal PISA-Like Berdasarkan Tingkat Kecerdasan Logis Matematis? MATHEdunesa, 13(2), 451–467. https://doi.org/10.26740/mathedunesa.v13n2.p451-467 Fadilah, E. R., Nugraha, A., & Marissa, E. I. (2024). Learning Trajectory of Arithmetic Sequences and Series with a PMRI Approach Using the Context of Yogyakarta’s Kawung Batik Fabric. Journal of Society and Development,

141 4(2), 12–18. https://doi.org/10.57032/jsd.v4i2.292 Fatmasari, L. (2024). Pengembangan E-Modul Berbasis Etnomatemtika Pada Materi Barisan dan Deret Aritmatika. https://doi.org/Fatmasari,L.(2024).PengembanganE- ModulBerbasisEtnomatematikaPadaMateriBarisanDanDeretAritmatika(Doct oraldissertation,IAINMetro). Febtriko, A., & Puspitasari, I. (2018). Mengukur kreatifitas dan kualitas pemograman pada siswa smk kota pekanbaru jurusan teknik komputer jaringan dengan simulasi robot. Rabit, 3(1), 1–9. Ferdiansyah, F., Sri Hastuti Noer, & Widyastuti, W. (2025). ENHANCING SECONDARY STUDENTS’ MATHEMATICAL CREATIVE THINKING THROUGH STEM PROJECT-BASED LEARNING. Kalamatika: Jurnal Pendidikan Matematika, 10(1), 47–66. https://doi.org/10.22236/kalamatika.vol10no1.2025pp47-66 Getu, G. tsadik, Mebrahitu, G. kidan, & Yohannes, G. (2024). Effects of Context- Based Teaching Chemistry on Students’ Achievement: A Systematic Review. Jurnal Pijar Mipa, 19(2), 190–197. https://doi.org/10.29303/jpm.v19i2.6458 Halimah, S. (2021). Implementasi Pendekatan Hots (Higher Order Thinking Skills) Dalam Pembelajaran Pai. Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 5(2), 342–362. Hasibuan, A. L., Harahap, R., & Harahap, N. (2021). TEACHING MATERIALS OF INDONESIAN LANGUAGE BASED ON COMPETENCE. Advances in Social Sciences Research Journal, 8(11), 101–110. https://doi.org/10.14738/assrj.811.10637 Hidayah, N., Sumarno, S., & Dwijayanti, I. (2023). Analisis bahan ajar terhadap kebutuhan guru dan peserta didik kelas V. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(2), 128. https://doi.org/10.30659/pendas.10.2.128-142 Hunaepi, H., Firdaus, L., Samsuri, T., Susantini, E., & Raharjo, R. (2020). Efektifitas perangat pembelajaran inkuiri terintegrasi kearifan lokal terhadap keterampilan berpikir kritis mahasiswa. Scholaria: Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 10(3), 269–281. Inayati, U. (2024). Pengembangan E-Modul Matematika Terintegrasi PBL, Etnomatematika, dan Tri-N untuk Meningkatkan Kemandirian Siswa SD. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar, 2, 81–91. Ispita, I., Indrayati, H., & Lismareni, N. (2023). Etnomatematika pada Materi Barisan dan Deret Aritmetika Menggunakan Anyaman Tikar untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa. Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 7(3), 3203–3210. https://doi.org/10.31004/cendekia.v7i3.2692 Jailani, M. S. (2023). Teknik pengumpulan data dan instrumen penelitian ilmiah pendidikan pada pendekatan kualitatif dan kuantitatif. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 1(2), 1–9. Juniantika, M. I., & Sari, R. M. M. (2023). RETRACTED: ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA KELAS X DALAM MENYELESAIKAN MATERI BARISAN DAN DERET ARITMATIKA. ALGORITMA: Journal of Mathematics Education, 5(2),

142 153–163. https://doi.org/10.15408/ajme.v5i2.36804 Khaerani, K., Arismunandar, A., & Tolla, I. (2024). Peran etnomatematika dalam meningkatkan mutu pembelajaran matematika: tinjauan literatur. Indonesian Journal of Intellectual Publication, 5(1), 20–26. Kharisma, E. N. (2018). Analisis kemampuan berpikir kritis matematis siswa SMK pada materi barisan dan deret. JRPM (Jurnal Review Pembelajaran Matematika), 3(1), 62–75. Khishaaluhussaniyyati, M., Faiziyah, N., & Sari, C. K. (2023). Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas 10 SMK dalam Menyelesaikan Soal HOTS Materi Barisan dan Deret Aritmetika Ditinjau dari Self Regulated Learning. Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 7(1), 905–923. https://doi.org/10.31004/cendekia.v7i1.2170 Konanza, M., Novita, D., Manda, E. E., & Sari, N. H. M. (2025). Pola Siklus Nama Anak Bali: Representasi Pola Berulang dalam Kajian Matematika. SANTIKA: Seminar Nasional Tadris Matematika, 5, 411–422. Kusuma, A., & Santosa, N. (2024). Upaya Peningkatan Kemampuan Berpikir Analisis Siswa dengan Problem Based Learning terintegrasi Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi). PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN PROFESI GURU, 3(1), 1784–1790. Kusuma, D. A. L. R. B., Sulistyowati, F., Widodo, S. A., Istiqomah, I., & Sukiyanto, S. (2023). Analisis Respon Siswa Terhadap Penggunaan E-LKPD Berbasis Tri-N dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. SEMANTIK: Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika, 1(1), 103–114. Latifa, A., & Sari, A. (2024). PENGEMBANGAN MODUL AJAR BERBASIS ETNOMATEMATIKA UNTUK MELATIH SIKAP BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS IV SD/MI. In Jurnal Mahasiswa Pendidikan Matematika) (Vol. 4, Number 3). http://jtam.ulm.ac.id/index.php/jurmadikta Lubis, F. W., & Albina, M. (2025). Urgensi Pengembangan Bahan Ajar Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama ISlam. AL-MUADDIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan, 7(1), 73–89. Magdalena, I., Sundari, T., Nurkamilah, S., Nasrullah, N., & Amalia, D. A. (2020). Analisis bahan ajar. Nusantara, 2(2), 311–326. Mangiri, G. R. P., & Prabawanto, S. (2024). Meaningful Learning: A Problem- Based Learning Approach to Arithmetic Sequences and Series. Proceedings of International Conference on Multidiciplinary Research, 7(1), 20–29. https://doi.org/10.32672/picmr.v7i1.2184 Manurung, A. S., Fahrurrozi, F., Utomo, E., & Gumelar, G. (2023). Implementasi berpikir kritis dalam upaya mengembangkan kemampuan berpikir kreatif mahasiswa. Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar, 5(2), 120– 132. Martha, N. U., & Andini, N. P. (2019). Pengembangan Bahan Ajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Cerita Rakyat Kabupaten Banjarnegara. JINoP (Jurnal Inovasi Pembelajaran), 5(2), 185–197. Maulida, A. F., & Ghufron, A. (2025). Dampak Model Pembelajaran Matematika Berbasis Budaya Lokal terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Bangun Datar Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika Dan Sains, 13(2), 409–418.

143 https://doi.org/10.21831/jpms.v13i2.89761 Molenda, M. (2003). In search of the elusive ADDIE model. Performance Improvement, 42(5), 34–37. Neves Fraz, J., Barbosa de Moura, E. M., Gomes dos Santos, K. V., & Moreira, G. E. (2023). The Brazilian Mathematics Educator Ubiratan D’Ambrosio in vídeos. TANGRAM - Revista de Educação Matemática, 6(1), 100–118. https://doi.org/10.30612/tangram.v6i1.16878 Nurhairunnisah, N., & Sujarwo, S. (2018). Bahan ajar interaktif untuk meningkatkan pemahaman konsep Matematika pada siswa SMA kelas X. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, 5(2), 192–203. https://doi.org/10.21831/jitp.v5i2.15320 Nuridha, S., & Hardianti, R. D. (2022). PENGUKURAN CRITICAL THINKING SKILLS SISWA MENGGUNAKAN FOUR-TIER MULTIPLE REPRESENTATION TEST. Nurlaili, V. D., Setyawati, M., Lailiyah, S., & Sulistyowati, Y. T. (2025). Analisis Berpikir Logis Siswa dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Berpikir Analitis. JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika Dan IPA, 5(4), 1388–1399. https://doi.org/10.53299/jagomipa.v5i4.2766 Orey, D. C., & Rosa, M. (2023). REVISITING THE THEORETICAL FOUNDATIONS OF ETHNOMODELLING. Educação Por Escrito, 14(1), e45054. https://doi.org/10.15448/2179-8435.2023.1.45054 Padmakrisya, M. R., & Meiliasari, M. (2023). Studi Literatur: Keterampilan Berpikir Kritis dalam Matematika. Jurnal Basicedu, 7(6), 3702–3710. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i6.6327 Paramitha, W., Pujiastuti, E., & Noor Asih, T. S. (2024). Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Pada Pembelajaran Project Based Learning Berbasis Aplikasi MathCityMap Ditinjau Dari Gaya Belajar Siswa. Teorema: Teori Dan Riset Matematika, 9(1), 1. https://doi.org/10.25157/teorema.v9i1.13962 Pertiwi, B. R. (2017). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Metode Socrates. Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling, 3, 269–278. Qolbi, G., Dewi, P. A., Sholiha, S., Pangestu, T. A., & Fu’adin, A. (2022). Analysis of Students’ Mathematical Understanding on Arithmetic Sequences and Series in 12th Grade Senior High School. Brillo Journal, 2(1), 13–21. https://doi.org/10.56773/bj.v2i1.24 Royyani, A., Marhayati, M., & Rofiki, I. (2022). Eksplorasi pola barisan aritmetika dalam tarian hadrah. Galois: Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika, 1(2), 23–32. Rustandi, A. (2021). Penerapan model ADDIE dalam pengembangan media pembelajaran di SMPN 22 Kota Samarinda. Jurnal Fasilkom, 11(2), 57–60. Safari, Y., & Maulia, M. (2025). Memahami Konsep Barisan dan Deret Geometri Secara Lengkap. Karimah Tauhid, 4(6), 3559–3567. Setiana, D. S., Purwoko, R. Y., & Sugiman. (2021). The application of mathematics learning model to stimulate mathematical critical thinking skills of senior high school students. European Journal of Educational Research, 10(1), 509–523. https://doi.org/10.12973/EU-JER.10.1.509 Shah, Y. P. (2024). An Analysis of Sequence and Series. Historical Journal, 15(1),

144 40–44. https://doi.org/10.3126/hj.v15i1.63974 Sudiansyah, S., Dinoto, M., Apriani, F., Rhohaila, R., & Feriyadi, D. (2025). Keterukuran Modul Ajar Matematika SMK Bidang Keahlian Teknologi Kontruksi Dan Bangunan. J-SAVE: Jurnal Of Science and Vocational Education, 1(1), 15–29. Syaharani, D. N., Pasaribu, F. T., Gustiningsi, T., & Nusantara, D. S. (2025). Pengembangan E-Modul Berbasis Problem Based Learning-Augmented Reality Bermuatan Soal PISA untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran Matematis Siswa SMP. JURNAL PENDIDIKAN MIPA, 15(3), 961–974. Toha, A. M., Septi, A. D., Astuti, W., & Bisri, M. (2023). Etnomatematika Batik Kawung Solo sebagai Media Pembelajaran Transformasi Geometri Berbasis STEM. SEMANTIK: Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika, 1(1), 398–412. Wafiqah Lubis, F., & Albina, M. (2025). URGENSI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. AL- MUADDIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan, 7(1), 73–89. https://doi.org/10.46773/muaddib.v7i1.1465 Waruwu, M. (2024). Metode Penelitian dan Pengembangan (R&D): Konsep, Jenis, Tahapan dan Kelebihan. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 9(2), 1220–1230. https://doi.org/10.29303/jipp.v9i2.2141 Wulandari, D. U., Mariana, N., Wiryanto, W., & Amien, M. S. (2024). Integration of Ethnomathematics Teaching Materials in Mathematics Learning in Elementary School. IJORER : International Journal of Recent Educational Research, 5(1), 204–218. https://doi.org/10.46245/ijorer.v5i1.542 Yani, L. A. F., Johan, A. B., & Hidayati, N. (2024). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VII Melalui Problem Based Learning Berbasis Tri N. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru, 3(1), 1546–1555. Yanuarti, E. (2017). Pemikiran pendidikan ki. Hajar dewantara dan relevansinya dengan kurikulum 13. Jurnal Penelitian, 11(2), 237–265. Yuherni, Y., Maimunah, M., & Yuanita, P. (2020). BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS KONTEKSTUAL PADA MATERI FUNGSI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS. AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 9(4), 1293. https://doi.org/10.24127/ajpm.v9i4.2976 Zulfriman, R., Kustanti, M., Amelia, R., & Gusmirawati, G. (2024). Implementasi metode outdoor learning dalam membentuk lingkungan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. AMI: Jurnal Pendidikan Dan Riset, 2(2), 70–76.

145 LAMPIRAN Lampiran 1 Pedoman Wawancara PEDOMAN WAWANCARA Judul Penelitian :Pengembangan Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mata Pelajaran : Matematika Pokok Bahasan : Barisan dan Deret Aritmatika Sasaran : Guru Matematika kelas XI Pedoman Wawancara Guru Matematika Kelas XI No Aspek Inti Pertanyaan 1. Pendekatan Etnomatematika dalam Pembelajaran Apakah dalam pembelajaran materi Barisan dan Deret Aritmatika sudah menggunakan pendekatan etnomatematika? 2. Bahan Ajar yang Digunakan Apa bahan ajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar? 3. Sumber Belajar Tambahan Selain buku paket, apakah ada sumber lain yang digunakan peserta didik? 4. Permasalahan dalam Proses Pembelajaran Apa permasalahan yang sering terjadi saat proses pembelajaran? 5. Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Bagaimana kemampuan berpikir kritis peserta didik secara spesifik dalam pembelajaran Barisan dan Deret Aritmatika, terutama dalam menganalisis pola, menarik kesimpulan, dan menjelaskan alasan penyelesaian? 6. Potensi Konteks Budaya Apakah Bapak/Ibu pernah mencoba

146 Lokal dalam Pembelajaran atau mempertimbangkan penggunaan motif batik kawung maupun konteks Candi Prambanan sebagai media atau konteks dalam pembelajaran matematika? 7. Kendala Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran Bagaimana kondisi penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran, dan adakah kendala yang dihadapi? Lampiran 2 Hasil Wawancara HASIL WAWANCARA Judul Penelitian: Pengembangan Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mata Pelajaran : Matematika Pokok Bahasan : Barisan dan Deret Aritmatika Sasaran : Guru Matematika kelas XI Hasil Wawancara No Pertanyaan Hasil Wawancara 1. Pertanyaan Hasil Wawancara 2. Apakah dalam pembelajaran materi Barisan dan Deret Aritmatika sudah menggunakan pendekatan etnomatematika? Pembelajaran matematika belum pernah dikaitkan secara langsung dengan budaya lokal. Materi disampaikan secara prosedural tanpa menghubungkan konsep dengan konteks nyata yang dekat dengan kehidupan peserta didik. 3. Apa bahan ajar yang digunakan dalam proses Bahan ajar yang sering digunakan adalah buku paket.

147 belajar mengajar? 4. Selain buku paket, apakah ada sumber lain yang digunakan peserta didik? Selain buku paket, peserta didik juga menggunakan LKS sebagai sumber belajar tambahan. 5. Apa permasalahan yang sering terjadi saat proses pembelajaran? Daya tarik peserta didik terhadap pembelajaran matematika yang masih rendah dan peserta didik menjadi kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan matematika masih perlu ditingkatkan. 6. Bagaimana kemampuan berpikir kritis peserta didik secara spesifik dalam pembelajaran Barisan dan Deret Aritmatika? Peserta didik umumnya mampu mengerjakan soal rutin secara prosedural, namun mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada soal non-rutin yang menuntut kemampuan analisis dan inferensi. Peserta didik cenderung kesulitan dalam mengidentifikasi pola, menjelaskan alasan di balik langkah penyelesaian, serta menarik kesimpulan dari suatu permasalahan kontekstual. Indikator evaluasi dan interpretasi juga belum tampak secara optimal dalam proses pengerjaan soal. 7. Apakah Ibu pernah mencoba atau mempertimbangkan penggunaan motif batik kawung maupun konteks Candi Prambanan sebagai media atau konteks dalam Belum pernah mencoba secara langsung mengintegrasikan motif batik kawung maupun konteks Candi Prambanan ke dalam pembelajaran matematika. Padahal, kedua elemen budaya tersebut sangat dekat dengan kehidupan peserta didik di wilayah Prambanan, Yogyakarta. Guru menyadari

148 pembelajaran matematika? potensi tersebut, namun belum ada bahan ajar yang secara khusus mengaitkan unsur budaya lokal tersebut dengan konsep matematika, termasuk Barisan dan Deret Aritmatika. Lampiran 3 Kisi-kisi Angket Validasi Kisi-Kisi Angket Validasi Ahli Media dan Materi Judul penelitian : Pengembangan Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mata Pelajaran : Matematika Pokok Bahasan : Barisan dan Deret Aritmatika Sasaran : Guru Matematika Kelas XI A. Kisi Angket Validasi Bahan Ajar PPT No. Aspek Indikator Nomor Butir 1 Aspek Isi Materi Kesesuaian materi dengan kompetensi dasar 1 Kesesuaian soal latihan dengan materi 2 2 Aspek Penyajian Materi Kelengkapan materi (pembukaan, rumus, contoh soal, dan latihan soal) 3 Kemenarikan ilustrasi yang disajikan pada materi 4 Keterstrukturan sistem penyajian materi 5 Kemudahan memahami materi yang disajikan 6 Kemudahan memahami contoh soal dan pembahasan 7 3 Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT Kemudahan penggunaan bahan ajar secara mandiri 8 Kemenarikan tampilan bahan ajar PPT 9 Kesesuaian banyaknya kata dalam setiap slide 10 Kemudahan membaca jenis huruf yang digunakan 11

149 Kejelasan ukuran huruf yang digunakan 12 Kemenarikan dan kejelasan gambar yang dipilih 13 Ketepatan komposisi warna background, gambar, huruf, dan angka 14 Kemenarikan efek transisi bahan ajar 15 Penggunaan bahasa yang komunikatif 16 Kejelasan dan kemudahan bahasa yang digunakan 17 B. Kisi-Kisi Angket Validasi Bahan Ajar E-Modul No. Aspek Indikator Nomor Butir 1 Aspek Isi Materi Kesesuaian materi dengan kompetensi dasar 1 Kesesuaian soal latihan dengan materi 2 2 Aspek Penyajian Materi Kelengkapan materi (pendahuluan, penjelasan konsep, contoh soal, dan latihan soal) 3 Kemenarikan dan relevansi ilustrasi budaya lokal dengan materi 4 Keterstrukturan dan kerunutan sistem penyajian materi 5 Kemudahan memahami materi yang disajikan 6 Kemudahan memahami contoh soal dan pembahasan 7 3 Aspek Tampilan Bahan Ajar E- Modul Kemudahan penggunaan e-modul secara mandiri 8 Kemenarikan tampilan halaman e-modul 9 Proporsionalitas teks dalam setiap halaman e- modul 10 Kemudahan membaca jenis huruf di layar 11 Kejelasan ukuran huruf yang digunakan 12 Kemenarikan dan kejelasan gambar/ilustrasi yang dipilih 13 Ketepatan komposisi warna latar, gambar, huruf, dan angka 14 Kemudahan navigasi/perpindahan halaman pada e- modul 15 Penggunaan bahasa yang komunikatif 16 Kejelasan dan kemudahan bahasa yang digunakan 17

150 Lampiran 4 Angket Validasi Bahan Ajar PPT dan E-Modul ANGKET VALIDASI BAHAN AJAR PPT DAN E-MODUL Judul penelitian : Pengembangan Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Sasaran : Peserta didik kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan Peneliti : Ninda Tri Kurnianingsih Identitas Validator Nama : Jabatan/Pekerjaan : Instansi Asal : Petunjuk Umum: 1. Sebelum mengisi angket ini, pastikan bapak/ibu telah membuka dan melihat bahan ajar yang telah dikembangkan. 2. Tulislah identitas Bapak/Ibu terlebih dahulu pada tempat yang telah disediakan. 3. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti dan berikan jawaban Bapak/Ibu di kolom yang tersedia. Petunjuk Pengisian Berilah tanda centang (✓,) pada kolom yang telah tersedia sesuai dengan pendapat bapak/ibu terhadap setiap pertanyaan tentang Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. Atas kesediaan bapak/ibu untuk mengisi lembar angket ini, diucapkan terimakasih. Keterangan: SS :: Sangat Setuju S :: Setuju N :: Netral TS :: Tidak Setuju

151 STS :: Sangat Tidak Setuju A. Penilaian Bahan Ajar PPT No Pertanyaan Jawaban SS S N TS STS Aspek Isi Materi 1. Materi sesuai dengan kompetensi dasar 2. Soal-soal latihan sesuai dengan materi Aspek Penyajian Materi 3. Materi lengkap (pembukaan, rumus, contoh soal dan latihan soal) 4. Ilustrasi yang disajikan pada materi menarik 5. Sistem penyajian materi terstruktur 6. Materi yang disajikan mudah dipahami 7. Contoh soal dan pembahasan mudah dipahami Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT 8. Bahan ajar PPT dapat digunakan secara mandiri 9. Tampilan bahan ajar PPT menarik 10. Banyaknya kata dalam slide sesuai 11. Jenis huruf yang digunakan mudah dibaca 12. Ukuran huruf yang digunakan dapat terbaca dengan jelas 13. Gambar yang dipilih menarik dan tidak buram. 14. Ketepatan komposisi warna background, gambar, huruf dan angka yang digunakan sudah sesuai 15. Efek transisi pada bahan ajar sudah menarik 16. Bahasa telah menggunakan Bahasa yang komunikatif 17. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami

152 B. Penilaian Bahan Ajar E-Modul No. Pertanyaan SS S N TS STS Aspek Isi Materi 1. Materi sesuai dengan kompetensi dasar. 2. Soal-soal latihan sesuai dengan materi. Aspek Penyajian Materi 3. Materi lengkap (pendahuluan, penjelasan konsep, contoh soal, dan latihan soal). 4. Ilustrasi budaya lokal yang disajikan pada e-modul menarik dan relevan dengan materi. 5. Sistem penyajian materi dalam e-modul terstruktur dan urut. 6. Materi yang disajikan mudah dipahami. 7. Contoh soal dan pembahasan mudah dipahami. Aspek Tampilan Bahan Ajar E-Modul 8. Bahan ajar e-modul dapat digunakan secara mandiri. 9. Tampilan halaman e-modul menarik. 10. Banyaknya teks dalam setiap halaman e- modul proporsional dan tidak terlalu padat. 11. Jenis huruf yang digunakan mudah dibaca di layar. 12. Ukuran huruf yang digunakan dapat terbaca dengan jelas. 13. Gambar/ilustrasi yang dipilih menarik, jelas, dan tidak buram. 14. Ketepatan komposisi warna latar, gambar, huruf, dan angka sudah sesuai. 15. Navigasi/perpindahan halaman pada e- modul mudah digunakan. 16. Bahasa telah menggunakan bahasa yang komunikatif.

153 17. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami. Komentar dan Saran ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… Kesimpulan Pengembangan produk ini dinyatakan ( ) Layak untuk digunakan tanpa revisi ( ) Layak digunakan dengan revisi sesuai saran ( ) Tidak layak untuk digunakan Yogyakarta, April 2026 Validator ( )

154 Lampiran 5 Kisi-kisi Angket Respon Siswa PPT dan E-Modul Kisi-Kisi Angket Respon Siswa PPT dan E-Modul Judul penelitian : Pengembangan Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mata Pelajaran : Matematika Pokok Bahasan : Barisan dan Deret Aritmatika Sasaran : Peserta Didik Kelas XI A. Kisi-Kisi Angket Respon Siswa terhadap Bahan Ajar PPT Aspek Indikator Nomor Butir Tampilan PPT Keterbacaan teks pada PPT 1 Kemenarikan background 2 Kemenarikan gambar yang disajikan 3 Penyajian Materi Kejelasan materi yang disajikan 4 Kejelasan contoh dan latihan soal 5 Kejelasan kalimat yang digunakan 6 Tidak adanya kalimat bermakna ganda 7 Kemudahan memahami simbol matematika 8 Simbol yang digunakan menambah pengetahuan 9 Kesesuaian gambar dengan materi 10 Daya Tarik PPT Kemenarikan materi yang disajikan 11 Kemampuan PPT memotivasi belajar matematika 12 Kebermanfaatan PPT Kemudahan mengikuti pelajaran matematika 13 Kemudahan memahami materi barisan dan deret aritmatika 14 Peningkatan motivasi melalui pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N 15

155 B. Kisi-Kisi Angket Respon Siswa terhadap Bahan Ajar E-Modul Aspek Indikator Nomor Butir Tampilan E- Modul Kemenarikan tampilan halaman (warna, tata letak, desain) 1 Keterbacaan jenis dan ukuran huruf 2 Kejelasan gambar dan ilustrasi budaya lokal 3 Kontekstualitas desain unsur budaya lokal 4 Penyajian Materi Keruntutan dan kemudahan memahami materi 5 Kejelasan contoh soal dan latihan soal 6 Keterkomunikatifan bahasa yang digunakan 7 Kemudahan memahami simbol dan notasi matematika 8 Ketahapan Tri-N dalam membantu pemahaman konsep 9 Konteks budaya lokal membantu pemahaman konsep 10 Daya Tarik E- Modul Kemenarikan e-modul dalam pembelajaran matematika 11 Kesenangan belajar melalui unsur budaya lokal 12 Kebermanfaatan E-Modul Kemudahan memahami materi barisan dan deret aritmatika 13 Pelatihan kemampuan berpikir kritis melalui Tri-N 14 Kemandirian belajar di luar jam pelajaran 15

156 Lampiran 6 Angket Respon Siswa ANGKET RESPON SISWA Identitas Responden Nama :.……………………………………………………………… Kelas :………………………………………………………………. Sekolah :………………………………………………………………. Judul Penelitian : Pengembangan Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mata Pelajaran : Matematika Pokok Bahasan : Barisan dan Deret Aritmatika Petunjuk Umum 1. Sebelum mengisi angket ini, pastikan anda telah mempelajari bahan ajar berupa PPT dan E-modul pada pokok bahasan barisan dan deret aritmatika. 2. Tulislah terlebih dahulu identitas Anda pada tempat yang sudah disediakan. 3. Bacalah dengan teliti setiap pertanyaan dalam angket ini sebelum Anda memilih jawaban. 4. Jika Anda tidak mengerti, bertanyalah pada Guru dan Peneliti. Petunjuk Penilaian • Isilah tanda check (√) pada pilihan yang telah disediakan sesuai dengan jawaban Anda. • Kriteria penilaian: SS : Sangat Setuju S : Setuju N : Netral TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju Atas kesediaan Anda untuk mengisi angket ini, Saya mengucapkan terima kasih.

157 A. Aspek Penilaian PPT No Pertanyaan Jawaban STS TS N S SS Aspek Tampilan PPT 1. Teks atau tulisan pada PPT mudah Dibaca. 2. Background menarik. 3. Gambar yang disajikan menarik. Aspek Penyajian Materi 4. Materi pada PPT jelas dan mudah dipahami 5. Contoh dan latihan soal pada PPT jelas dan mudah dipahami. 6. Saya dapat memahami dengan jelas kalimat yang digunakan dalam PPT ini. 7. Tidak ada kalimat yang menimbulkan makna ganda dalam PPT ini. 8. Saya dapat memahami simbol yang digunakan dalam PPT ini. 9. Simbol yang digunakan dalam PPT ini menambah pengetahuan 10. Gambar yang disajikan sesuai dengan materi Aspek Daya Tarik PPT 11. Materi yang disajikan menarik. 12. PPT ini membuat saya tertarik dalam belajar matematika. Aspek Kebermanfaatan PPT 13. Saya dapat mengikuti pelajaran matematika dengan mudah 14. Saya dapat memahami materi barisan dan deret aritmatika. 15. Dengan adanya inovasi pendekatan etnomatematika dan berbasis Tri-N dapat meningkatkan motivasi saya mengikuti pembelajaran matematika.

158 B. Aspek Penilaian E-Modul No. Pernyataan SS S N TS STS Aspek Tampilan E-Modul 1. Tampilan halaman e-modul (warna, tata letak, dan desain) menarik dan nyaman dibaca. 2. Jenis dan ukuran huruf yang digunakan pada e-modul mudah dibaca. 3. Gambar dan ilustrasi budaya lokal (batik, candi) yang disajikan dalam e- modul jelas dan menarik. 4. Desain e-modul mencerminkan unsur budaya lokal Yogyakarta sehingga terasa kontekstual. Aspek Penyajian Materi E-Modul 5. Materi Barisan dan Deret Aritmatika pada e-modul disajikan secara runtut dan mudah dipahami. 6. Contoh soal dan latihan soal dalam e- modul jelas dan mudah dikerjakan. 7. Bahasa yang digunakan dalam e-modul komunikatif dan tidak menimbulkan makna ganda. 8. Simbol dan notasi matematika yang digunakan dalam e-modul mudah dipahami. 9. Setiap tahapan Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) dalam e-modul membantu saya memahami konsep secara bertahap. 10. Konteks budaya lokal yang disajikan dalam e-modul membantu saya memahami konsep barisan dan deret aritmatika. Aspek Daya Tarik E-Modul 11. E-modul ini membuat saya lebih tertarik dan bersemangat belajar matematika.

159 12. Tampilan e-modul yang menggunakan unsur budaya lokal membuat pembelajaran terasa menyenangkan. Aspek Kebermanfaatan E-Modul 13. E-modul membantu saya memahami materi Barisan dan Deret Aritmatika dengan lebih baik. 14. Penggunaan pendekatan etnomatematika berbasis Tri-N dalam e- modul melatih kemampuan berpikir kritis saya. 15. E-modul ini dapat saya gunakan secara mandiri di luar jam pelajaran. Komentar dan Saran Guna memperbaiki media ini, tuliskan komentar dan saran Anda terhadap kualitas media ini dari segi tampilan, penyajian materi, daya tarik dan kebermanfaatannya. …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Kesimpulan Pilih salah satu jawaban dengan melingkari huruf yang Anda pilih. 1. Apakah Anda tertarik dengan bahan ajar ini? a. Ya b. Tidak 2. Mengapa Anda tertarik dengan bahan ajar ini maupun tidak tertarik dengan bahan ajar ini? a. Sangat baik digunakan dalam pembelajaran matematika (tanpa perbaikan). b. Baik digunakan dalam pembelajaran matematika, namun masih perlu diadakan perbaikan. c. Kurang baik jika digunakan dalam pembelajaran matematika. Yogyakarta, 9 April 2026 Peserta Didik

160 Lampiran 7 Instrumen Tes Hasil Belajar SOAL PRETEST MATEMATIKA KELAS XI Nama : Kelas : No. Absen : Kerjakan soal-soal berikut! 1. Batik Kawung merupakan salah satu motif batik tertua di Indonesia yang berasal dari Keraton Yogyakarta. Motifnya terdiri dari susunan lingkaran-lingkaran kecil menyerupai buah kawung (kolang-kaling) yang tersusun rapi dan berulang. Seorang pengrajin batik kawung menyusun motif lingkaran pada selembar kain. Ia mencatat jumlah motif kawung di setiap baris kainnya sebagai berikut: Baris ke-1 Baris ke-2 Baris ke-3 Baris ke-4 3 motif 5 motif 7 motif 9 motif a. Amati data susunan motif kawung di atas. Apa yang terjadi pada jumlah motif dari satu baris ke baris berikutnya? Nyatakan pengamatanmu secara jelas dan lengkap! b. Jelaskan secara sistematis dan runtut langkah-langkah yang kamu lakukan untuk menentukan jumlah motif kawung pada baris ke-5 dan baris ke-6! Setiap langkah harus disertai alasan (justifikasi) mengapa langkah tersebut dilakukan. Tuliskan pula pola lengkap dari baris ke-1 sampai baris ke-6. 2. Candi Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang terletak di Yogyakarta. Candi ini memiliki arsitektur bertingkat yang megah dengan dinding berukir relief-relief indah. Seorang peneliti mencatat jumlah panil relief pada setiap tingkat dinding candi:

161 Tingkat ke-1 Tingkat ke-2 Tingkat ke-3 Tingkat ke-4 4 panil 7 panil 10 panil 13 panil a. Hitung selisih jumlah panil antara tingkat ke-2 dan ke-1, antara tingkat ke- 3 dan ke-2, serta antara tingkat ke-4 dan ke-3. Apakah selisihnya selalu sama? Tunjukkan perhitunganmu dan berikan kesimpulan! b. Berdasarkan sifat pola yang kamu temukan pada soal 2a, teruskan pola tersebut dan tentukan berapa jumlah panil relief pada tingkat ke-7! Tuliskan seluruh suku mulai tingkat ke-1 hingga ke-7 dan jelaskan penalaranmu! 3. Pada sebuah pameran batik di Yogyakarta, seorang pengrajin memamerkan kain batik kawung dengan susunan motif lingkaran sebagai berikut: Baris ke-1 Baris ke-2 Baris ke-3 Baris ke-4 2 motif 6 motif 10 motif 14 motif Seorang siswa yang melihat kain tersebut membuat klaim: “Pada baris ke-10, jumlah motif kawung yang tersusun pasti 42 motif.” a. Nyatakan pola bilangan dari susunan motif kawung di atas! Berapa pertambahan jumlah motif dari satu baris ke baris berikutnya? Teruskan polanya dan tuliskan jumlah motif dari baris ke-1 hingga baris ke-6! b. Gunakan cara meneruskan pola yang kamu temukan pada soal 3a untuk memeriksa klaim siswa tersebut! Teruskan pola hingga baris ke-10, kemudian nilai apakah klaim “42 motif” itu benar atau salah! Berikan justifikasi yang kuat berdasarkan penelusuran polamu! 4. Tim arkeolog yang meneliti pondasi Candi Prambanan menemukan bahwa susunan batu pada setiap lapisan pondasi membentuk pola bilangan. Dari lapisan pertama hingga keempat, jumlah batunya adalah: Lapisan ke-1 Lapisan ke-2 Lapisan ke-3 Lapisan ke-4 5 batu 8 batu 11 batu 14 batu

162 a. Hitung selisih jumlah batu antara setiap dua lapisan yang berurutan (lapisan ke-2 − ke-1, ke-3 − ke-2, ke-4 − ke-3). Apakah selisihnya selalu sama? Tuliskan hubungan antara satu lapisan dengan lapisan berikutnya secara matematis! b. Jelaskan secara sistematis dan runtut langkah-langkah yang kamu tempuh untuk menentukan jumlah batu pada lapisan ke-8! Setiap langkah harus disertai alasan (justifikasi) mengapa langkah itu dilakukan. Tuliskan seluruh suku dari lapisan ke-1 hingga ke-8 secara eksplisit! 5. Seorang pengrajin batik kawung di Yogyakarta terinspirasi dari pola relief Candi Prambanan untuk menciptakan motif batik baru. Ia mencatat jumlah motif yang berhasil ia selesaikan setiap harinya: Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4 3 motif 7 motif 11 motif 15 motif Pengrajin tersebut memiliki target menyelesaikan minimal 80 motif dalam 6 hari untuk memenuhi pesanan. a. Identifikasi pola jumlah motif harian pengrajin tersebut. Buatlah kesimpulan tentang sifat pola tersebut, kemudian gunakan kesimpulan itu untuk memprediksi jumlah motif yang akan dibuat pada hari ke-10! Tuliskan seluruh suku dari hari ke-1 hingga ke-10! b. Teruskan pola hingga hari ke-6, kemudian jumlahkan seluruh motif dari hari ke-1 sampai hari ke-6. Apakah total motif yang dihasilkan dalam 6 hari mencapai target 80 motif? Nilai pernyataan pengrajin tersebut menggunakan penelusuran pola secara langsung dan berikan justifikasi lengkap atas jawabanmu!

163 SOAL POSTTEST MATEMATIKA KELAS XI Nama : Kelas : No. Absen : Kerjakan soal-soal berikut! 1. Pada kompleks Candi Prambanan, terdapat jalur setapak yang dihiasi batu-batu penyusun dengan pola tertentu. Jalur pertama menggunakan 20 batu, jalur kedua 26 batu, jalur ketiga 32 batu, dan seterusnya. a. Interpretasikan pola jumlah batu pada setiap jalur! Tentukan beda dan suku pertamanya! b. Analisislah berapa banyak batu yang diperlukan untuk jalur ke-12! 2. Pengrajin batik kawung membuat desain dengan jumlah titik (ceplok) yang berpola. Desain pertama memiliki 15 titik, desain kedua 22 titik, desain ketiga 29 titik, dan seterusnya. Pertanyaan: a. Analisislah beda dari barisan tersebut dan tentukan rumus suku ke-n! b. Jika seorang pembeli menginginkan desain dengan 120 titik, desain ke berapakah yang harus dibuat? 3. Ukiran pada pilar Candi Prambanan memiliki ketinggian yang menurun dari atas ke bawah. Ukiran teratas 50 cm, ukiran kedua 47 cm, ukiran ketiga 44 cm, dan seterusnya. a. Interpretasikan pola penurunan ketinggian ukiran tersebut! b. Pada ukiran ke berapa ketinggiannya akan mencapai 20 cm atau kurang? Apakah logis dalam konteks arsitektur candi? 4. Dalam festival budaya, pengrajin batik kawung menjual karyanya dengan sistem diskon bertingkat. Pembeli pertama mendapat diskon Rp5.000, pembeli kedua Rp8.000, pembeli ketiga Rp11.000, dan seterusnya mengikuti pola. Pertanyaan: a. Analisislah pola diskon yang diberikan kepada setiap pembeli, kemudian tentukan total diskon yang diberikan kepada 15 pembeli pertama! b. Jelaskan secara rinci metode dan rumus yang kamu gunakan untuk

164 menghitung total diskon tersebut! 5. Seorang arsitek merencanakan taman di sekitar Candi Prambanan dengan menanam bunga dalam pola melingkar. Lingkaran pertama 8 pot bunga, lingkaran kedua 13 pot, lingkaran ketiga 18 pot, dan seterusnya. Pertanyaan: a. Buatlah inferensi untuk menentukan jumlah pot bunga pada lingkaran ke 20! b. Jika tersedia 500 pot bunga, apakah cukup untuk membuat 12 lingkaran pertama? Berikan perhitungan yang mendukung jawabanmu!

165 Lampiran 8 Hasil Validator 1 Bahan ajar ANGKET VALIDASI BAHAN AJAR DAN MATERI Judul penelitian : Pengembangan Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Sasaran : Siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan Peneliti : Ninda Tri Kurnianingsih Nama : Istiqomah, S.Si.,M.Sc. Jabatan/Pekerjaan : Dosen Instansi Asal : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Petunjuk Umum: 1. Sebelum mengisi angket ini, pastikan bapak/ibu telah membuka dan melihat bahan ajar yang telah dikembangkan. 2. Tulislah identitas Bapak/Ibu terlebih dahulu pada tempat yang telah disediakan. 3. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti dan berikan jawaban Bapak/Ibu di kolom yang tersedia. Petunjuk Pengisian Berilah tanda centang (✓,) pada kolom yang telah tersedia sesuai dengan pendapat bapak/ibu terhadap setiap pertanyaan tentang Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. Atas kesediaan bapak/ibu untuk mengisi lembar angket ini, diucapkan terimakasih. Keterangan: SS : Sangat Setuju S : Setuju N : Netral TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju

166 A. Penilaian Bahan Ajar PPT No Pertanyaan Jawaban SS S N TS STS Aspek Isi Materi 1. Materi sesuai dengan kompetensi dasar ✓ 2. Soal-soal latihan sesuai dengan materi ✓ Aspek Penyajian Materi 3. Materi lengkap (pembukaan, rumus, contoh soal dan latihan soal) ✓ 4. Ilustrasi yang disajikan pada materi menarik ✓ 5. Sistem penyajian materi terstruktur ✓ 6. Materi yang disajikan mudah dipahami ✓ 7. Contoh soal dan pembahasan mudah dipahami ✓ Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT 8. Bahan ajar PPT dapat digunakan secara mandiri ✓ 9. Tampilan bahan ajar PPT menarik ✓ 10. Banyaknya kata dalam slide sesuai ✓ 11. Jenis huruf yang digunakan mudah dibaca ✓ 12. Ukuran huruf yang digunakan dapat terbaca dengan jelas ✓ 13. Gambar yang dipilih menarik dan tidak buram. ✓ 14. Ketepatan komposisi warna background, gambar, huruf dan angka yang digunakan sudah sesuai ✓ 15. Efek transisi pada bahan ajar sudah menarik ✓ 16. Bahasa telah menggunakan Bahasa yang komunikatif ✓ 17. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami ✓

167 B. Penilaian Bahan Ajar E-Modul No. Pertanyaan SS S N TS STS Aspek Isi Materi 1. Materi sesuai dengan kompetensi dasar. ✓ 2. Soal-soal latihan sesuai dengan materi. ✓ Aspek Penyajian Materi 3. Materi lengkap (pendahuluan, penjelasan konsep, contoh soal, dan latihan soal). ✓ 4. Ilustrasi budaya lokal yang disajikan pada e-modul menarik dan relevan dengan materi. ✓ 5. Sistem penyajian materi dalam e-modul terstruktur dan urut. ✓ 6. Materi yang disajikan mudah dipahami. ✓ 7. Contoh soal dan pembahasan mudah dipahami. ✓ Aspek Tampilan Bahan Ajar E-Modul 8. Bahan ajar e-modul dapat digunakan secara mandiri. ✓ 9. Tampilan halaman e-modul menarik. ✓ 10. Banyaknya teks dalam setiap halaman e- modul proporsional dan tidak terlalu padat. ✓ 11. Jenis huruf yang digunakan mudah dibaca di layar. ✓ 12. Ukuran huruf yang digunakan dapat terbaca dengan jelas. ✓

168 13. Gambar/ilustrasi yang dipilih menarik, jelas, dan tidak buram. ✓ 14. Ketepatan komposisi warna latar, gambar, huruf, dan angka sudah sesuai. ✓ 15. Navigasi/perpindahan halaman pada e- modul mudah digunakan. ✓ 16. Bahasa telah menggunakan bahasa yang komunikatif. ✓ 17. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami. ✓ Komentar dan Saran ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… Kesimpulan Pengembangan produk ini dinyatakan ( ) Layak untuk digunakan tanpa revisi (✓) Layak digunakan dengan revisi sesuai saran ( ) Tidak layak untuk digunakan Yogyakarta, 26 Februari 2026 Validator (Istiqomah)

169 Lampiran 9 Hasil Validator 2 Bahan ajar ANGKET VALIDASI BAHAN AJAR DAN MATERI Judul penelitian : Pengembangan Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Sasaran : Siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan Peneliti : Ninda Tri Kurnianingsih Identitas Validator Nama : Krida Singgih Kuncoro, M.Pd. Jabatan/Pekerjaan : Dosen Instansi Asal : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Petunjuk Umum: 1. Sebelum mengisi angket ini, pastikan bapak/ibu telah membuka dan melihat bahan ajar yang telah dikembangkan. 2. Tulislah identitas Bapak/Ibu terlebih dahulu pada tempat yang telah disediakan. 3. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti dan berikan jawaban Bapak/Ibu di kolom yang tersedia. Petunjuk Pengisian Berilah tanda centang (✓,) pada kolom yang telah tersedia sesuai dengan pendapat bapak/ibu terhadap setiap pertanyaan tentang Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. Atas kesediaan bapak/ibu untuk mengisi lembar angket ini, diucapkan terimakasih. Keterangan: SS : Sangat Setuju S : Setuju N : Netral TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju

170 A. Penilaian Bahan Ajar PPT No Pertanyaan Jawaban SS S N TS STS Aspek Isi Materi 1. Materi sesuai dengan kompetensi dasar ✓ 2. Soal-soal latihan sesuai dengan materi ✓ Aspek Penyajian Materi 3. Materi lengkap (pembukaan, rumus, contoh soal dan latihan soal) ✓ 4. Ilustrasi yang disajikan pada materi menarik ✓ 5. Sistem penyajian materi terstruktur ✓ 6. Materi yang disajikan mudah dipahami ✓ 7. Contoh soal dan pembahasan mudah dipahami ✓ Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT 8. Bahan ajar PPT dapat digunakan secara mandiri ✓ 9. Tampilan bahan ajar PPT menarik ✓ 10. Banyaknya kata dalam slide sesuai ✓ 11. Jenis huruf yang digunakan mudah dibaca ✓ 12. Ukuran huruf yang digunakan dapat terbaca dengan jelas ✓ 13. Gambar yang dipilih menarik dan tidak buram. ✓ 14. Ketepatan komposisi warna background, gambar, huruf dan angka yang digunakan sudah sesuai ✓ 15. Efek transisi pada bahan ajar sudah menarik ✓ 16. Bahasa telah menggunakan Bahasa yang komunikatif ✓ 17. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami ✓

171 B. Penilaian Bahan Ajar E-Modul No. Pertanyaan SS S N TS STS Aspek Isi Materi 1. Materi sesuai dengan kompetensi dasar. ✓ 2. Soal-soal latihan sesuai dengan materi. ✓ Aspek Penyajian Materi 3. Materi lengkap (pendahuluan, penjelasan konsep, contoh soal, dan latihan soal). ✓ 4. Ilustrasi budaya lokal yang disajikan pada e-modul menarik dan relevan dengan materi. ✓ 5. Sistem penyajian materi dalam e-modul terstruktur dan urut. ✓ 6. Materi yang disajikan mudah dipahami. ✓ 7. Contoh soal dan pembahasan mudah dipahami. ✓ Aspek Tampilan Bahan Ajar E-Modul 8. Bahan ajar e-modul dapat digunakan secara mandiri. ✓ 9. Tampilan halaman e-modul menarik. ✓ 10. Banyaknya teks dalam setiap halaman e- modul proporsional dan tidak terlalu padat. ✓ 11. Jenis huruf yang digunakan mudah dibaca di layar. ✓

172 12. Ukuran huruf yang digunakan dapat terbaca dengan jelas. ✓ 13. Gambar/ilustrasi yang dipilih menarik, jelas, dan tidak buram. ✓ 14. Ketepatan komposisi warna latar, gambar, huruf, dan angka sudah sesuai. ✓ 15. Navigasi/perpindahan halaman pada e- modul mudah digunakan. ✓ 16. Bahasa telah menggunakan bahasa yang komunikatif. ✓ 17. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami. ✓ Komentar dan Saran ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… Kesimpulan Pengembangan produk ini dinyatakan ( ) Layak untuk digunakan tanpa revisi (✓) Layak digunakan dengan revisi sesuai saran ( ) Tidak layak untuk digunakan Yogyakarta, 12 Februari 2026 Validator (Krida Singgih Kuncoro, M.Pd.)

173 Lampiran 10 Hasil Validator 3 Bahan ajar ANGKET VALIDASI BAHAN AJAR DAN MATERI Judul penelitian : Pengembangan Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Sasaran : Siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Prambanan Peneliti : Ninda Tri Kurnianingsih Identitas Validator Nama : Anaria Astuti, S.Pd. Jabatan/Pekerjaan : Guru Matematika Instansi Asal : SMK Muhammadiya Prambanan Petunjuk Umum: 1. Sebelum mengisi angket ini, pastikan bapak/ibu telah membuka dan melihat bahan ajar yang telah dikembangkan. 2. Tulislah identitas Bapak/Ibu terlebih dahulu pada tempat yang telah disediakan. 3. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti dan berikan jawaban Bapak/Ibu di kolom yang tersedia. Petunjuk Pengisian Berilah tanda centang (✓,) pada kolom yang telah tersedia sesuai dengan pendapat bapak/ibu terhadap setiap pertanyaan tentang Bahan Ajar Barisan Dan Deret Aritmatika Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Tri-N Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. Atas kesediaan bapak/ibu untuk mengisi lembar angket ini, diucapkan terimakasih. Keterangan: SS : Sangat Setuju S : Setuju N : Netral TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju

174 A. Penilaian Bahan Ajar PPT No Pertanyaan Jawaban SS S N TS STS Aspek Isi Materi 1. Materi sesuai dengan kompetensi dasar ✓ 2. Soal-soal latihan sesuai dengan materi ✓ Aspek Penyajian Materi 3. Materi lengkap (pembukaan, rumus, contoh soal dan latihan soal) ✓ 4. Ilustrasi yang disajikan pada materi menarik ✓ 5. Sistem penyajian materi terstruktur ✓ 6. Materi yang disajikan mudah dipahami ✓ 7. Contoh soal dan pembahasan mudah dipahami ✓ Aspek Tampilan Bahan Ajar PPT 8. Bahan ajar PPT dapat digunakan secara mandiri ✓ 9. Tampilan bahan ajar PPT menarik ✓ 10. Banyaknya kata dalam slide sesuai ✓ 11. Jenis huruf yang digunakan mudah dibaca ✓ 12. Ukuran huruf yang digunakan dapat terbaca dengan jelas ✓ 13. Gambar yang dipilih menarik dan tidak buram. ✓ 14. Ketepatan komposisi warna background, gambar, huruf dan angka yang digunakan sudah sesuai ✓ 15. Efek transisi pada bahan ajar sudah menarik ✓ 16. Bahasa telah menggunakan Bahasa yang komunikatif ✓ 17. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami ✓

175 B. Penilaian Bahan Ajar E-Modul No. Pertanyaan SS S N TS STS Aspek Isi Materi 1. Materi sesuai dengan kompetensi dasar. ✓ 2. Soal-soal latihan sesuai dengan materi. ✓ Aspek Penyajian Materi 3. Materi lengkap (pendahuluan, penjelasan konsep, contoh soal, dan latihan soal). ✓ 4. Ilustrasi budaya lokal yang disajikan pada e-modul menarik dan relevan dengan materi. ✓ 5. Sistem penyajian materi dalam e-modul terstruktur dan urut. ✓ 6. Materi yang disajikan mudah dipahami. ✓ 7. Contoh soal dan pembahasan mudah dipahami. ✓ Aspek Tampilan Bahan Ajar E-Modul 8. Bahan ajar e-modul dapat digunakan secara mandiri. ✓ 9. Tampilan halaman e-modul menarik. ✓ 10. Banyaknya teks dalam setiap halaman e- modul proporsional dan tidak terlalu padat. ✓ 11. Jenis huruf yang digunakan mudah dibaca di layar. ✓

176 12. Ukuran huruf yang digunakan dapat terbaca dengan jelas. ✓ 13. Gambar/ilustrasi yang dipilih menarik, jelas, dan tidak buram. ✓ 14. Ketepatan komposisi warna latar, gambar, huruf, dan angka sudah sesuai. ✓ 15. Navigasi/perpindahan halaman pada e- modul mudah digunakan. ✓ 16. Bahasa telah menggunakan bahasa yang komunikatif. ✓ 17. Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami. ✓ Komentar dan Saran ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… Kesimpulan Pengembangan produk ini dinyatakan ( ) Layak untuk digunakan tanpa revisi (✓) Layak digunakan dengan revisi sesuai saran ( ) Tidak layak untuk digunakan Yogyakarta, 1 April 2026 Validator (Anaria Astuti, S.Pd.)

177 Lampiran 11 Rekapitulasi Hasil Validasi Bahan Ajar A. Hasil Validasi Bahan Ajar PPT No Kode Validator V1 V2 V3 1 4 4 5 2 4 4 5 3 5 4 4 4 4 4 5 5 5 4 5 6 5 4 5 7 4 4 5 8 5 4 5 9 5 4 5 10 5 4 4 11 5 4 5 12 5 4 5 13 5 4 5 14 5 4 4 15 5 4 5 16 4 5 4 17 4 5 4 Jumlah 79 70 80 B. Hasil Validasi Bahan Ajar E-Modul No Kode Validator V1 V2 V3 1 4 5 4 2 4 4 5 3 5 5 4 4 4 4 5 5 5 4 4 6 4 4 4 7 4 4 5 8 5 4 5 9 4 4 5 10 5 4 4 11 5 4 5 12 5 5 4 13 4 4 5 14 5 5 4 15 5 4 4 16 4 4 5 17 4 5 4

178 Jumlah 76 73 76

179 Lampiran 12 Rekapitulasi Respon Siswa Bahan Ajar A. Rekapitulasi Respon Siswa Bahan Ajar PPT No Kode Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah 1 S01 4 5 4 4 4 5 4 5 4 4 5 5 4 4 4 65 2 S02 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 5 4 68 3 S03 4 4 4 4 4 4 4 5 4 5 5 4 5 4 4 64 4 S04 4 5 5 4 5 5 4 4 4 5 4 4 3 4 4 64 5 S05 4 3 4 4 5 5 3 4 4 4 4 4 4 5 5 62 6 S06 4 5 4 4 5 4 4 4 5 4 4 3 4 5 3 62 7 S07 5 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 60 8 S08 4 4 4 5 4 5 4 4 5 5 4 4 4 3 4 63 9 S09 5 5 5 4 5 4 4 4 5 4 3 4 4 4 4 64 10 S10 5 4 5 5 3 3 4 4 5 5 4 4 5 5 5 66 11 S11 4 4 5 5 4 5 4 3 5 4 4 5 4 3 4 63 12 S12 4 5 4 4 5 4 3 4 4 4 5 4 4 5 4 63 13 S13 4 4 4 3 4 4 4 4 5 4 4 3 4 5 4 60 14 S14 5 4 4 4 5 5 5 4 5 4 4 5 4 4 5 67 15 S15 4 3 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 5 5 5 64 16 S16 5 5 5 4 4 4 5 5 4 4 3 3 4 4 4 63 17 S17 4 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 63 18 S18 4 5 5 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 63 19 S19 4 4 5 4 4 5 3 4 4 5 5 3 4 5 3 62 20 S20 4 4 4 5 4 4 4 5 4 4 4 4 3 4 3 60 21 S21 4 5 5 4 5 5 4 4 5 4 4 4 4 4 5 66 22 S22 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 62 23 S23 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 3 5 4 63 24 S24 3 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 5 4 5 63 25 S25 4 4 5 5 4 5 5 5 4 4 4 4 3 4 4 64 26 S26 4 4 4 4 4 5 4 4 4 5 4 4 5 4 4 63 27 S27 4 4 5 5 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 3 64

180 No Kode Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah 28 S28 4 4 4 5 5 4 5 4 5 5 4 3 4 4 4 64 29 S29 4 5 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 63 30 S30 3 4 4 5 5 4 4 5 4 5 4 4 3 4 5 63 31 S31 4 5 5 5 4 4 5 5 4 5 4 3 3 5 4 65 32 S32 4 4 5 4 3 4 5 4 4 4 4 3 4 5 5 62 B. Rekapitulasi Respon Siswa Bahan Ajar E-Modul No Kode Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah 1 S01 5 3 5 4 4 5 5 5 4 5 4 4 4 5 5 67 2 S02 5 5 4 4 5 4 5 5 5 4 3 5 5 5 5 69 3 S03 4 4 4 4 4 5 4 4 5 5 4 4 3 3 4 61 4 S04 4 4 4 4 5 3 3 4 5 4 5 5 5 5 4 64 5 S05 4 5 4 5 4 4 4 4 5 4 5 3 5 4 5 65 6 S06 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 3 4 3 60 7 S07 4 4 5 5 5 5 5 5 4 5 4 4 5 5 4 69 8 S08 5 5 4 4 5 4 5 4 4 4 4 5 4 4 4 65 9 S09 5 5 4 3 4 5 5 5 4 5 4 4 4 4 4 65 10 S10 4 4 4 3 4 4 4 5 4 4 5 4 4 5 5 63 11 S11 4 4 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 4 4 4 64 12 S12 4 5 5 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 5 4 60 13 S13 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 63 14 S14 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 3 4 3 4 59 15 S15 4 5 4 4 5 4 5 4 4 5 5 4 5 5 4 67 16 S16 4 4 5 4 4 5 4 3 5 4 3 4 4 5 4 62 17 S17 4 5 5 4 5 5 4 4 4 4 4 4 5 4 4 65 18 S18 4 4 5 4 4 5 5 4 5 4 5 4 4 4 4 65 19 S19 4 5 4 3 4 4 5 4 4 4 4 4 4 5 4 62 20 S20 4 5 4 3 5 3 3 4 5 4 4 4 4 4 3 59

181 No Kode Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah 21 S21 5 4 5 4 3 5 4 4 4 4 5 5 4 4 3 63 22 S22 4 5 4 4 4 5 4 5 4 5 5 4 4 4 4 65 23 S23 5 4 5 4 5 4 5 4 4 4 4 4 4 5 5 66 24 S24 4 4 4 5 5 3 5 3 4 4 3 4 4 4 4 60 25 S25 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 62 26 S26 4 5 5 4 4 4 5 4 4 5 4 3 4 4 4 63 27 S27 5 4 4 4 5 4 4 4 5 5 3 4 3 4 5 63 28 S28 5 4 4 4 3 4 5 4 4 5 4 4 4 5 4 63 29 S29 4 4 5 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 63 30 S30 4 4 3 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 60 31 S31 4 4 5 4 4 3 4 4 3 4 5 3 3 5 3 58 32 S32 4 5 5 5 4 4 3 5 4 4 4 5 4 4 5 65

182 Lampiran 13 Hasil Belajar Peserta Didik Pretest No Nama Nilai No Nama Nilai 1 S01 72,5 17 S17 100 2 S02 55 18 S18 60 3 S03 90 19 S19 65 4 S04 50 20 S20 70 5 S05 72,5 21 S21 85 6 S06 60 22 S22 62,5 7 S07 72,5 23 S23 90 8 S08 70 24 S24 60 9 S09 90 25 S25 72,5 10 S10 60 26 S26 80 11 S11 70 27 S27 60 12 S12 65 28 S28 70 13 S13 80 29 S29 75 14 S14 60 30 S30 60 15 S15 60 31 S31 90 16 S16 70 32 S32 70

183 Lampiran 14 Hasil Belajar Peserta Didik Postest No Nama Nilai No Nama Nilai 1 S01 90 17 S17 100 2 S02 75 18 S18 90 3 S03 95 19 S19 97,5 4 S04 87,5 20 S20 95 5 S05 92,5 21 S21 100 6 S06 90 22 S22 95 7 S07 92,5 23 S23 100 8 S08 97,5 24 S24 92,5 9 S09 92,5 25 S25 95 10 S10 90 26 S26 97,5 11 S11 87,5 27 S27 92,5 12 S12 95 28 S28 95 13 S13 97,5 29 S29 97,5 14 S14 87,5 30 S30 92,5 15 S15 97,5 31 S31 95 16 S16 95 32 S32 90

184 Lampiran 15 Surat Penugasan Pembimbing Tugas Akhir

185