Al Qur an Hadis MA Kelas X

ii AL-QUR’AN HADIS KELAS X AL-QUR’AN HADIS MA KELAS X Penulis : Syaifullah Amin Editor : H. Ahmad Fawaid Cetakan Ke-1, Tahun 2020 Hak Cipta © 2020 pada Kementerian Agama RI Dilindungi Undang-Undang MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN Disklaimer: Buku Siswa ini dipersiapkan Pemerintah dalam rangka implementasi Kurikulum 2013. Buku ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Agama, dan dipergunakan dalam penerapan Kurikulum 2013. Buku ini merupakan ‚Dokumen Hidup‛ yang senantiasa diperbaiki, diperbaharui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini. ISBN 978-623-6687-43-7(jilid lengkap) ISBN 978-623-6687-44-4 (jilid 1) Diterbitkan oleh: Direktorat KSKK Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Jl. Lapangan Banteng Barat No 3-4 Lantai 6-7 Jakarta 10110

AL-QUR’AN HADIS KELAS X iii KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur hanya milik Allah swt. yang telah menganugerahkan hidayah, taufik dan inayah sehingga proses penulisan buku teks pelajaran PAI dan bahasa Arab pada madrasah ini dapat diselesaikan. Salawat serta salam semoga tercurah keharibaan Rasulullah saw.. Amin. Seiring dengan terbitnya KMA Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum PAI dan Bahasa Arab pada Madrasah, maka Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menerbitkan buku teks pelajaran. Buku teks pelajaran PAI dan Bahasa Arab pada madrasah terdiri dari; al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, SKI dan Bahasa Arab untuk jenjang MI, MTs dan MA/ MAK semua peminatan. Keperluan untuk MA Peminatan Keagamaan diterbitkan buku Tafsir, Hadis, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Usul Fikih, Ilmu Kalam, Akhlak Tasawuf dan Bahasa Arab berbahasa Indonesia, sedangkan untuk peminatan keagamaan khusus pada MA Program Keagamaan (MAPK) diterbitkan dengan menggunakan Bahasa Arab. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi di era global mengalami perubahan yang sangat cepat dan sulit diprediksi. Kurikulum PAI dan Bahasa Arab pada madrasah harus bisa mengantisipasi cepatnya perubahan tersebut di samping menjalankan mandat warisan budaya-karakter bangsa dan nilai-nilai akhlak pada peserta didik. Dengan demikian, generasi muda akan memiliki kepribadian, berkarakter kuat dan tidak tercerabut dari akar budaya bangsa namun tetap bisa menjadi aktor di zamannya. Pengembangan buku teks mata pelajaran pada madrasah tersebut di atas diarahkan untuk tidak sekadar membekali pemahaman keagamaan yang komprehensif dan moderat, namun juga memandu proses internalisasi nilai keagamaan pada peserta didik. Buku mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab ini diharapkan mampu menjadi acuan cara berpikir, bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari, yang selanjutnya mampu ditransnformasikan pada kehidupan sosial- masyarakat dalam konteks berbangsa dan bernegara. Pemahaman Islam yang moderat dan penerapan nilai-nilai keagamaan dalam kurikulum PAI di madrasah tidak boleh lepas dari konteks kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila, berkonstitusi UUD 1945 dalam kerangka memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Guru sebagai ujung tombak implementasi kurikulum harus mampu mengejawantahkan prinsip tersebut dalam proses pembelajaran dan interaksi pendidikan di lingkungan madrasah. Kurikulum dan buku teks pelajaran adalah dokumen hidup. Sebagai dokumen hidup memiliki fleksibilitas, memungkinkan disempurnakan sesuai tuntutan zaman dan implementasinya akan terus berkembang melalui kreatifitas dan inovasi para guru. Jika ditemukan kekurangan maka harus diklarifikasi kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI c.q. Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah (KSKK) untuk disempurnakan. Buku teks pelajaran PAI dan Bahasa Arab yang diterbitkan Kementerian Agama merupakan buku wajib bagi peserta didik dan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran di Madrasah. Agar ilmu berkah dan manfaat perlu keikhlasan dalam proses pembelajaran, hubungan guru dengan peserta didik dibangun dengan kasih sayang dalam ikatan mah}abbah fillah, diorientasikan untuk kebaikan dunia sekaligus di akhirat kelak. Akhirnya ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan atau penerbitan buku ini. Semoga Allah swt. memberikan pahala yang tidak akan terputus, dan semoga buku ini benar-benar berkah-manfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Jakarta, Agustus 2020 Direktur Jenderal Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani

iv AL-QUR’AN HADIS KELAS X PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-INDONESIA Berikut ini adalah pedoman transliterasi yang diberlakukan berdasarkan keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 158 Tahun 1987 dan Nomor 0543/b/u/ 1987 A. KONSONAN No Arab Nama Latin No Arab Nama Latin 1 ا Alif A 16 ط ṭa’ ṭ 2 ب ba’ B 17 ظ ẓa’ ẓ 3 ت ta’ T 18 ع ‘ayn ‘a 4 ث sa’ Ś 19 غ gain G 5 ج Jim J 20 ف fa’ F 6 ح ḥa’ ḥ 21 ق qaf Q 7 خ kha’ Kh 22 ك kaf K 8 د dal D 23 ل lam L 9 ذ z>al z> 24 م mim M 10 ر ra’ R 25 ن nun N 11 ز za’ Z 26 و waw W 12 س Sin S 27 ه ha’ H 13 ش Syin Sy 28 ء hamzah ‘ 14 ص ṣad ṣ 29 ي ya’ Y 15 ض d{ad{ d{

AL-QUR’AN HADIS KELAS X v B. VOKAL ARAB 1. Vokal Tunggal (Monoftong) َـ A ََ هَخَب Kataba ِـ I ََ ظُئِل Suila ُـ U َُ ًَزْهَب Yazhabu 2. Vokal Rangkap (Diftong) َْ ؘي ََ ه َُْف Kaifa َْ ؘو ٌََْ حَى Haula 3. Vokal Panjang (Mad) ؘا a> ٌََ كَا Qa>la َْ ؚيَ i> ََ ك ُِْل Qi>la َْ ؙو u> ٌَُْ ًَلُى Yaqu>lu C. TA’ MARBU>>T}AH Transliterasi untuk ta’ marbut}ah ada dua, yaitu: 1. Ta’ marbut}ah yang hidup atau berharakat fathah, kasrah, atau dammah ditransliterasikan adalah ‚ t ‚. 2. Ta’ marbut}ah yang mati atau yang mendapat harakat sukun ditransliterasikan dengan ‚ h ‛

vi AL-QUR’AN HADIS KELAS X PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU Buku ini disusun berdasarkan standard isi Buku Siswa Madrasah Aliyah Kurikulum 2013. Dalam penulisannya, buku ini menggunakan standar baku untuk memudahkan proses pembelajaran kepada para peserta didik. KI – KD – TUJUAN PEMBELAJARAN – RANGKUMAN – LATIHAN - Setiap awal bab terdapat ilustrasi yang menggambarkan materi pelajaran. - Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Tujuan Pembelajaran adalah panduan dalam proses belajar mengajar. Diharapkan materi-materi yang diajarkan dapat dikuasai oleh peserta didik secara maksimal. - Guru dapat berimprofisasi sesuai muatan kearifan lokal tanpa keluar dari koridor Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. - Diskusi dan Tugas dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi proses belajar peserta didik.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X vii DAFTAR ISI KATA PEGANTAR .............................................................................................. iii PEDOMAN TRANSLITERASI..................................................................................... iv PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU ........................................................................... vi DAFTAR ISI ..................................................................................................................vii SEMESTER 1 BAB I: AL-QUR’AN ADALAH WAHYU ALLAH.............................................................. A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................3 B. MARI MENGAMATI ..........................................................................................................3 C. MEMAHAMI AL-QUR’AN..................................................................................................4 D. MENGANALISIS PERILAKU ORANG YANG MEMAHAMI AL-QUR’AN ..................10 E. MARI BERDISKUSI .............................................................................................................10 F. RANGKUMAN ......................................................................................................................11 G. AYO BERLATIH ..................................................................................................................12 BAB II: KEBENARAN PENURUNAN AL-QUR’AN .......................................................... A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................16 B. MARI MENGAMATI ...........................................................................................................16 C. MENGHAYATI KEBENARAN PENURUNAN AL-QUR’AN ..........................................16 D. MARI BERDISKUSI.............................................................................................................20 E. RANGKUMAN ......................................................................................................................21 F. AYO BERLATIH ...................................................................................................................21 BAB III: MENGHAYATI KEOTENTIKAN AL-QUR’AN .................................................. A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................25 B. MARI MENGAMATI ...........................................................................................................25 C. MEMAHAMI KEOTENTIKAN AL-QUR’AN ....................................................................26 D. MARI BERDISKUSI.............................................................................................................28 E. RANGKUMAN ......................................................................................................................28 F. AYO BERLATIH ...................................................................................................................29 BAB IV: AL-QUR’AN MUKJIZAT NABIKU ..................................................................... A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................33 B. MARI MENGAMATI ...........................................................................................................33 C. MEMAHAMI KEOTENTIKAN AL-QUR’AN ....................................................................34 D. MARI BERDISKUSI.............................................................................................................46 E. RANGKUMAN ......................................................................................................................46 F. AYO BERLATIH ...................................................................................................................47 BAB V: KEBENARAN AL-QUR’AN PADA SEMUA ASPEK KEHIDUPAN .................... A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................52 B. MARI MENGAMATI ...........................................................................................................52 C. KEBENARAN AJARAN AL-QUR’AN MEMUAT SEMUA ASPEK KEHIDUPAN........53 D. PERILAKU ORANG YANG MENJADIKAN AL-QURAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP ...................................................................................................................................62 E. MARI BERDISKUSI .............................................................................................................63 F. RANGKUMAN ......................................................................................................................64 G. AYO BERLATIH .................................................................................................................

viii AL-QUR’AN HADIS KELAS X BAB VI: AL-QUR’AN KEBENARAN BERLAKU SEPANJANG ZAMAN ........................ A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................68 B. MARI MENGAMATI ...........................................................................................................68 C. KEBENARAN AL-QUR’AN BERLAKU SEPANJANG ZAMAN .....................................69 D. MARI BERDISKUSI.............................................................................................................72 E. RANGKUMAN ......................................................................................................................72 F. AYO BERLATIH ...................................................................................................................73 PAS .........................................................................................................................................75 BAB VII: MEMAHAMI HADIS, SUNAH, KHABAR DAN ATSAR................................... A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................84 B. MARI MENGAMATI ...........................................................................................................84 C. MARI MEMAHAMI .............................................................................................................84 D. PERILAKU ORANG YANG BERPEGANG TEGUH PADA HADIS, SUNAH KHABAR DAN ATSAR.......................................................................................................91 E. MARI BERDISKUSI .............................................................................................................92 F. RANGKUMAN ......................................................................................................................92 G. AYO BERLATIH ..................................................................................................................92 BAB VIII: HADIS SUMBER AJARAN ISLAM ................................................................... A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................96 B. MARI MENGAMATI ...........................................................................................................97 C. MEMAHAMI SEJARAH PERKEMBANGAN HADIS .......................................................97 D. PERILAKU ORANG YANG BERPEGANG TEGUH PADA HADIS ................................111 E. MARI BERDISKUSI .............................................................................................................111 F. RANGKUMAN ......................................................................................................................111 G. AYO BERLATIH ..................................................................................................................112 BAB IX: MENGANALISIS UNSUR-UNSUR HADIS ......................................................... A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................115 B. MARI MENGAMATI ...........................................................................................................116 C. MENGANALISIS UNSUR-UNSUR HADIS .......................................................................116 D. PERILAKU ORANG YANG BERPEGANG TEGUH PADA HADIS ................................124 E. MARI BERDISKUSI .............................................................................................................124 F. RANGKUMAN ......................................................................................................................124 G. AYO BERLATIH ..................................................................................................................125 BAB X: MENGHAYATI FUNGSI HADIS TERHADAP AL-QUR’AN ............................... A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................129 B. MARI MENGAMATI ...........................................................................................................129 C. MENGANALISIS FUNGSI HADIS TERHADAP AL-QUR’AN........................................129 D. PERILAKU ORANG YANG BERPEGANG TEGUH PADA HADIS ................................134 E. MARI BERDISKUSI .............................................................................................................134 F. RANGKUMAN ......................................................................................................................134 G. AYO BERLATIH ..................................................................................................................135 BAB XI: HADIS SAHIH SEBAGAI DASAR HUKUM ....................................................... A. MARI RENUNGKAN ....................................

AL-QUR’AN HADIS KELAS X ix F. PERILAKU YANG BERPEGANG TEGUH PADA HADIS SAHIH ..................................155 G. MARI BERDISKUSI.............................................................................................................156 H. RANGKUMAN .....................................................................................................................156 I. AYO BERLATIH....................................................................................................................157 BAB XII: BIOGRAFI SINGKAT TOKOH-TOKOH ILMU HADIS DAN KARYANYA ..... A. MARI RENUNGKAN ...........................................................................................................160 B. MARI MENGAMATI ...........................................................................................................160 C. MARI MEMAHAMI .............................................................................................................161 D. PERILAKU KRITIS ..............................................................................................................172 E. MARI BERDISKUSI .............................................................................................................173 E. RANGKUMAN ......................................................................................................................173 F. AYO BERLATIH ...................................................................................................................173 PAT .........................................................................................................................................175 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 180 GLOSARIUM ....................................................................................................................... 182

AL-QUR’AN ADALAH WAHYU ALLAH

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 1 Islam.nu.or.id KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati al-Qur’an adalah Wahyu Allah swt.. 2. Mengamalkan sikap santun dan kritis dalam menuntut ilmu. 3. Menganalisis pengertian al-Qur’an dan wahyu menurut para ulama. 4. Menyajikan hasil analisis pengertian al-Qur’an dan wahyu dari para ulama.

2 AL-QUR’AN HADIS KELAS X TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mengamati, mengeksplorasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan peserta didik dapat: 1. Menjelaskan pengertian al-Qur’an menurut para ulama. 2. Menjelaskan nama-nama al-Qur’an. 3. Menunjukkan perilaku orang yang berpegang teguh kepada al-Qur’an. PETA KONSEP

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 3 A. MARI RENUNGKAN Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. Allah swt. juga menurunkan kitab-kitab suci kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw.. Kitab-kitab suci yang wajib diimani oleh umat Islam sebelum al-Qur’an adalah Zabur, Taurat dan Injil. Umat Islam harus mengenal al-Qur’an sebagai pedoman hidup (way of life). Oleh karena itu umat islam harus memahami pengertian dan hal-hal yang terkait dengan al- Qur’an. Paling penting adalah memahami isi al-Qur’an dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw. yang berlaku selama- lamanya. Al-Qur’an tidak mungkin dapat ditiru dari aspek mana pun dan oleh siapa pun, baik dari segi indahnya bahasa maupun lainnya. B. MARI MENGAMATI www.nu.or.id

4 AL-QUR’AN HADIS KELAS X C. MARI MEMAHAMI AL-QUR’AN 1. Pengertian Al-Qur’an Para ulama ahli al-Qur’an memiliki beberapa definisi dan pemahaman tentang al-Qur’an, baik dari segi etimologi maupun terminologi. Beberapa pendapat tentang nama Al-Qur’an secara kebahasaan antara lain adalah: a. Menurut al-Lihya>ny (w.215) Qur’an adalah bentuk kata benda/inti (masdar) dari kata kerja ََ كَشَؤ yang artinya membaca. Dari kata ini al-Qur’an bisa diartikan sebagai bacaan atau sesuatu yang dibaca. Adapun potongan perubahan-perubahan (tasrifnya) adalah sebagai berikut: ََ كَشَؤ-َْ ًَلَُشَؤ -كُشْءَاهًا – َ مَلْشُوْء Kata al-Qur’an selanjutnya digunakan untuk menamai kitab suci yang diturunkan Allah swt... kepada Nabi Muhammad saw.. Beberapa ulama juga mengikuti pendapat ini. Dalil dari pendapat ini adalah QS al-Qiyamah ayat 17-18.َ َََبِنـَلََُُْىَاَحَمْفَهَُۥوَكُشْءَاهَهۥَ(٧١) ََفَةِرَاَُكَشَؤْهََْهََُفَاجبِقَكُشْءَاهَهۥ(٧١) Artinya: Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. b. Menurut al-Asy’ari> (w. 324 H) Kata Qur’an berasal dari lafaz ٌَََ قَر artinya menggabungkan sesuatu dengan yang lain. Kata ini lalu dijadikan sebagai nama kumpulan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. pendapat ini juga didasarkan pada kenyataan bahwa surat-surat, ayat-ayat dan huruf-huruf al-Qur’an saling beriringan dan saling digabungkan. Pendapat ini pun memiliki banyak pengikut.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 5 c. Menurut al-Farra>’ (w. 207 H) Asal kata al-Qur’an adalah lafadz َ ٍِ قَرَائ yang merupakan bentuk jama’ dari kata َ قَرِي َُْت yang berarti petunjuk atau indikator. Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa ayat-ayat al-Qur’an saling membenarkan antara yang satu dengan yang lainnya. d. Menurut az-Zuja>j (w.331 H) Kata al-Qur’an berasal dari kata َ اَنْقَرْء yang mengikuti susunan pola (wazan) َ ٌَ فعْال yang artinya َ انْج ًَْع (kumpulan). Argumen pendapat ini adalah karena al- Qur’an terdiri dari kumpulan surat-surat dan ayat-ayat yang memuat kisah-kisah, perintah dan larangan. Pendapat ini juga didasarkan karena al-Qur’an mengumpulkan inti sari dari kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. e. Menurut Asy-Sya>fi’i> (w. 204 H) Imam Syafi’i berpendapat bahwa kata al-Qur’an adalah isim alam (nama) asli. Al-Qur’an menurut imam Syafi’i tidaklah berasal dari kata apa pun. Al- Qur’an memang sejak awal digunakan sebagai nama Kitab suci yang diturunkan Allah swt... kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an memang nama khusus yang diberikan oleh Allah, seperti juga nama-nama kitab suci terdahulu, Zabur, Taurat dan Injil. Abu Syuhbah menganggap bahwa pendapat al-Lihya>ny adalah pendapat paling tepat. Memang pendapat al-Lihyany adalah pendapat yang paling masyhur. Sedangkan perbedaan pendapat tentang definisi al-Qur’an disebabkan adanya perbedaan sudut pandang dan perbedaan dalam menyebutkan unsur-unsur, sifat- sifat atau aspek-aspek yang terkandung di dalam al-Qur’an. Perbedaan-perbedaan ini muncul karena kandungan al-Qur’an yang sangat luas dan komprehensif. Semakin banyak unsur dan sifat dalam mendefinisikan al-Qur’an, maka semakin panjang pengertian dan pemahamannya.

6 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Karenanya, perbedaan pendapat ini justru bisa saling melengkapi. Bila digabungkan, pemahaman terhadap pengertian al-Qur’an akan lebih luas dan komprehensif. Beberapa pendapat ulama mengenai definisi al-Qur’an secara terminologi di antaranya adalah: a. Syeikh Muhammad Khudari Beik Dalam kitab Ta>rikh at-Tasyri>’ al-Isla>m, Syeikh Muhammad Khudari Beik mendefinisikan Al-Qur’an sebagai : اَلْلُشْءَان ََهُى َُاللفْؾ َالْفَشَبِي ٌَُا ْلُْنَزـَلَى َمُحَمذضَلى َُللا َِـَل َُْه ََوَظَلم َِلِلخذَبش َِوَالخزَهش ٌَُْا ْلَْىْلُى مُخَىَاجِشًا ََوَهُىمَا َِدَفـخَيْن َُا ْلَْبْذُوْء َِبِعُىْسَة َِالْفَـاجِحَت َُوَا ْلَْخْخُىْم َِبِعُىْسَة َِالىـاط Artinya: Al-Qur’an ialah lafaz (firman Allah) yang berbahasa Arab, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk dipahami isinya dan selalu diingat, yang disampaikan dengan cara mutawatir, yang ditulis dalam mushaf, yang dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas. b. Subkhi Saleh Subkhi Saleh mendefinisi al-Qur’an sebagai berikut : َُ اَلْلُشْءَان ََهُى َُالْىِخَاب َُا ْلُْعْجِض ٌَُا ْلُْنَزـَلَى َِّالىبِيضَلى َُللا َِـَل َُْه ََوَظَلم َُا ْلَْىْخُىْبفِى َِا ْلَْطَاحِف ٌَُْ ا ْلَْىْلُى ََُْـَلَِه َِبِالخىَاجُش َُا ْلُْخَفَبذ َِبِخِالَوَجِه Artinya: Al-Qur’an adalah kitab (Allah) yang mengandung mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., yang ditulis dalam mushaf-mushaf, yang disampaikan secara mutawatir, dan bernilai ibadah membacanya. c. Muhammad Abduh Muhammad Abduh mendefinisikan al-Qur’an dengan pengertian sebagai berikut : َُ اَلْىِخَاب ََهُى َُالْلُشْءَان َُا ْلَْىْخُىْبفِى َِا ْلَْطَاحِف َُا ْلَْحْفُىْػ َْفِي َِضُذُوْس ًََْمـَجَى َِبِحِفْؽِه ًََِم ََا ْلُْعْلِمِيْن Artinya:

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 7 Kitab (al-Qur’an) adalah bacaan yang tertulis dalam mushaf-mushaf, yang terpelihara di dalam dada (hati) orang-orang yang menjaganya dengan menghafalnya (yakni) orang-orang Islam. Dari ketiga pendapat di atas, dapat disimpulkan beberapa unsur dalam pengertian al-Qur’an sebagai berikut : a. Al-Qur’an adalah firman atau kalam Allah swt. b. Al-Qur’an terdiri dari lafaz berbahasa Arab c. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. d. Al-Qur’an merupakan kitab Allah swt. yang mengandung mukjizat bagi Nabi Muhammad saw. yang diturunkan melalui perantara malaikat Jibril. e. Al-Qur’an disampaikan dengan cara mutawatir (berkesinambungan). f. Al-Qur’an merupakan bacaan mulia dan membacanya merupakan ibadah. g. Al-Qur’an ditulis dalam mushaf-mushaf, yang diawali dengan surah al- Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Nas h. Al-Qur’an senantiasa terjaga/terpelihara kemurniannya dengan adanya sebagian orang Islam yang menjaganya dengan menghafal al-Qur’an. 2. Nama-nama Al-Qur’an Al-Qur’an sebagai kitabullah memiliki banyak nama. Kitab al-Itqa>n karya Imam Suyut}i menyebutkan bahwa al-Qur’an memiliki 55 nama. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Az-Zarkasyi. Pendapat lain menyatakan ada 78 nama. Beberapa nama al-Qur’an yang paling populer adalah : a. Al-Qur’an (ُُاَلْقُرْءَان) Nama al-Qur’an adalah paling populer dan paling sering dilekatkan. Kita tentu masih ingat bahwa al-Qur’an artinya bacaan atau yang dibaca. Adapun beberapa ayat yang di dalamnya terdapat istilah al-Qur’an adalah sebagai berikut: QS al-Baqarah [2]: 185 َُ َََشَهْشََٓسَمَضَانٌَََِالزِيََِؤُهضَف ُِهَُاَلْلُشْءَانََِهُذًيََلِّلىاطَوَب َُِّيًَََِّذََمََِالْهُذَيۚ ََوَالْفُشْكَان

8 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Terjemahnya : Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). QS al-A’ra>f [7]: 204 َََوَإِرَاََُكُشِتََالْلُشْءَانََُفَاظْخَمِفُىاَلَهَۥََْوَؤَهطِخُىاَََلَفَلىُمَجُشْحَمُىن Terjemahnya : Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat. QS T}a>ha>/20: 2 َمَأًََََُْؤَهضَلْىَاَََـَلََٓالْلُشْءَانَلِدَشْلَى Terjemahnya : Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah. Di samping nama al-Qur’an yang telah disebut dalam ayat-ayat di atas masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang di dalamnya terdapat nama al- Qur’an, seperti : QS Yu>nus [10]: 37, QS al-H}ijr [15]: 87, QS an-Nah}l [16]: 97, QS al-H}ijr [17]: 9, QS al-H}asyr [59]: 21, dan QS al-Buru>j [85]: 21. b. Al-Kita>b (ُُاَلْكِتَاب) Al-Qur’an sering disebut sebagai al-Kita>b atau Kitabullah artinya kitab suci Allah. Al-Kita>b juga bisa diartikan yang ditulis. Dalil dari penamaan ini antara lain terdapat pada surat al-Baqarah ayat 2 : َ ًََِرََلَُالْىِخَََبَََلََس ٍَْب َََِۚف ُِه َََۚهُذًيَلِّلْمُخلِين Terjemahnya : Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Dan surat A>li ‘Imra>n ayat 3 ٌََ ًََََُْهَضََـَلََالْىِخََِّبَبِالْحَمَمُطَذِّكًاَََْلَِّاََِبَيْنًٌَََََذ ًَْهًَ ََوَؤَهضََالخىْسَََتو َْلاِْهج ُِل

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 9 Terjemahnya : Dia menurunkan Kitab (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil. c. Al-Furqa>n (اَلْفُرْقَان) Al-Furqa>n artinya pembeda, maksudnya yang membedakan antara yang hak dan yang batil. Al-Furqa>n merupakan salah satu nama al-Qur’an. Penyebutan al-Furqa>n terdapat dalam surat al-furqa>n ayat 1 َ ََجَبََْرَنٌَََالزِيَََهَضََالْفُشْكَانـَلََىَََـَبْذِهََل َُِيُىْنََلِلْفَلَمِيْنََهَز ًِْشًا ۚ Terjemahnya: Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (al-Qur’an) kepada hamba- Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia) d. Az- Zikr (اَلذكْر) Az-Zikr artinya pemberi peringatan. Melalui al-Qur’an Allah swt.. memberi peringatan kepada manusia. Penyebutan Az-Zikr terdapat dalam Surat al-H}ijr ayat 9 ًََُْاِهاَهَحَََهَضلْىَاَالزِّهْشََوَاِهاََلَهََلَحفِؽُىْن Terjemahnya : Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. e. At-Tanzi>l (ُُ اَلتَّنْزِيْل) At-Tanzi>l artinya yang diturunkan. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantaraan malaikat Jibril a.s. untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Penyebutan Tanzi>l ini antara lain terdapat dalam Surat Asy-Syu’ara> ayat 192

10 AL-QUR’AN HADIS KELAS Xَ ََُوَاِههََِّلَخَنْز ًِْلََسَبََالْفۚ ََلَمِيْن Terjemahnya: Sesungguhnya (al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Sedangkan nama-nama lain yang jumlahnya sangat banyak itu lebih merupakan keterangan sifat, fungsi atau indikator al-Qur’an. D. MENGANALISIS PERILAKU ORANG YANG MEMAHAMI AL-QUR’AN Al-Qur’an adalah sumber pertama ajaran Islam. Setiap muslim berkewajiban untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya. Di dalam al- Qur’an terdapat petunjuk tentang perintah-perintah dan larangan-larangan Allah swt.. Al-Qur’an memuat berbagai pedoman dasar bagi kehidupan umat manusia yang berkaitan dengan keimanan/akidah, tuntunan ibadah, budi pekerti dan lain-lain. Akidah adalah ketetapan yang berkaitan dengan iman kepada Allah swt., para malaikat, kitab- kitab, para rasul, hari akhir, serta qada dan qadar (kehendak dan ketentuan Allah). Al- Qur’an juga berisikan tuntunan yang berkaitan dengan ibadah, yakni salat, puasa, zakat dan haji. Sebagai kitab tuntunan hidup bagi setiap umat Islam, hendaknya setiap Muslim dapat menjalani kehidupan menurut tuntunan al-Qur’an. Yakni dengan menerapkan budi pekerti dan etika yang dilandasi keimanan kepada Allah swt.. Umat Islam diwajibkan untuk meenjalani kehidupan sesuai tuntunan al-Qur’an baik dalam kesendiriannya maupun di tengah-tengah pergaulan bermasyarakat. Baik masyarakat yang homogen maupun heterogen. Berpikir, bersikap dan bertindak menurut tuntunan al-Qur’an. E. MARI BERDISKUSI Setelah memahami dan mendalami materi, Sekarang berdiskusilah dengan temanmu atau kelompokmu tentang al-Qur’an dan pengaplikasiannya dalam kehidupan seorang Muslim. Kemudian persiapkan dirimu untuk mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 11 F. RANGKUMAN 1. Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantara Malaikat Jibril yang lafaznya autentik sebagai mukjizat. Al-Qur’an disampaikan kepada kita secara mutawatir dan ditulis dalam mushaf-mushaf yang dimulai dengan Surat al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat An-Nas. Membaca al- Qur’an bernilai ibadah. 2. Al-Qur’an memiliki beberapa nama. G. AYO BERLATIH 1. Penerapan Bacalah dengan seksama pengertian dan nama-nama al-Qur’an di atas dengan baik, kemudian tulis penjelasan anda dalam kolom di bawah ini. Ada beberapa nama yang dimiliki oleh al-Qur’an, jelaskan! Ada pernyataan bahwa bagi pembaca al-Qur’an akan mendapatkan pahala. Jelaskan pernyataan ini! 2. Uraian 1. Jelaskan tentang definisi al-Qur’an yang anda pahami dalam pembahasan di atas! 2. Mengapa al-Qur’an harus menjadi pedoman hidup setiap muslim?

12 AL-QUR’AN HADIS KELAS X 3. Bagaimana menurut anda, supaya mendapatkan petunjuk dari al-Qur’an? 4. Tulislah pendapatmu tentang nama-nama al-Qur’an ! 3. Tugas Amatilah orang-orang di sekitar tempat tinggalmu. Tuliskan contoh tindakan mereka di kolom sebelah kiri dan tuliskan tanggapanmu di sebelah kanan, apakah tindakan itu sudah sesuai tuntunan al-Qur’an dan sebutkan dalilnya. Perilaku yang diamati Tanggapan dan dalil Nilai Paraf Orangtua Paraf Guru

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 13 KEBENARAN PENURUNAN AL-QUR’AN

14 AL-QUR’AN HADIS KELAS X KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 15 KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati kebenaran penurunan al-Qur’an oleh Allah swt... 2. Mengamalkan kritis dalam mempelajari penurunan dan penulisan al-Qur’an secara bertahap. 3. Menganalisis sejarah penurunan dan penulisan al-Qur’an. 4. Menyajikan hasil analisis sejarah penurunan dan penulisan al-Qur’an. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menghayati kebenaran penurunan al-Qur’an. 2. Memahami penurunan dan penulisan al-Qur’an secara bertahap. 3. Menganalisis sejarah penurunan al-Qur’an PETA KONSEP diajarkan Ditulis Diturunkan Al-Qur’an

16 AL-QUR’AN HADIS KELAS X A. MARI RENUNGKAN Turunnya al-Qur’an merupakan suatu kejadian yang sangat mengagetkan sekaligus menggembirakan hati Rasulullah saw.. Proses penurunan wahyu sangatlah berat karena diturunkan melalui perantara malaikat Jibril. Saat malaikat jibril menyampaikan wahyu tersebut, Rasullullah merasa berat karena tidak bisa melaksanakan perintah malaikat Jibril. Tetapi setelah berkali-kali malaikat Jibril mengulang akhirnya Rasullah saw. dapat menerimanya. Begitu pun saat menerima ayat-ayat yang lain, Rasulullah selalu merasa ketakutan dengan segala sesuatu yang mengiringi ayat-ayat tersebut. Begitu sulitnya Rasulullah dalam menerima wahyu membuktikan bahwa peristiwa turunnya al-Qur’an merupakan suatu kejadian yang sangat luar biasa. B. MARI MENGAMATI www.nu.or.id C. MENGHAYATI KEBENARAN PENURUNAN AL-QUR’AN 1. PENGERTIAN TURUNNYA AL QUR’AN Secara majazi turunnya al-Qur’an diartikan sebagai pemberitahuan dengan cara dan sarana yang dikehendaki Allah swt.. sehingga dapat diketahui oleh para malaikat di lauh} mahfu>z} dan oleh nabi Muhammad saw. di dalam hatinya yang suci.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 17 Adapun tentang kaifiyat turunnya al-Qur’an itu terjadi perbedaan antara para ulama. Dalam hal ini ada tiga pendapat : a. Al-Qur’an itu diturunkan ke langit dunia pada malam al-qadr sekaligus lengkap dari awal sampai akhir. Kemudian diturunkan berangsur-angsur sesudah itu dalam tempo 20 tahun atau 23 tahun atau 25 tahun berdasarkan pada perbedaan yang terjadi tentang berapa lama nabi bermukim di Mekkah sesudah beliau di angkat menjadi rasul. Pendapat ini berpegang pada riwayat At- T}abary dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata ‚diturunkan al-Qur’an dalam lailatul qadr dalam bulan Ramadan ke langit dunia sekaligus, kemudian dari sana (langit) diturunkan berangsur-angsur ke dunia‛. b. Al-Qur’an itu di turunkan ke langit dunia sebanyak 20 kali lailatul qadr dalam 20 tahun atau 23 kali lailatul qadr dalam 23 tahun atau 25 kali lailatul qadr dalam 25 tahun. Pada tiap-tiap malam diturunkan ke langit dunia tersebut, sekedar yang hendak di turunkan dalam tahun itu kepada Nabi Muhammad saw. dengan cara berangsur-angsur. c. Al-Qur’an itu permulaan turunnya ialah di malam al-qadr, kemudian diturunkan setelah itu dengan berangsur-angsur dalam berbagai waktu. Adapula pendapat bahwa al-Qur’an di turunkan tiga kali dalam tiga tingkat: 1. Di turunkan ke Lauh} Mahfu>z}. 2. Di turunkan ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. 3. Di turunkan berangsur-angsur ke dunia. Meski sanadnya sahih, Dr. Subkhi Saleh menolak pendapat di atas tersebut karena turunnya al-Qur’an yang demikian itu termasuk bidang yang gaib dan juga berlawanan dengan zahir al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 Zulhijjah haji wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H. Permulaan turunnya al-Qur’an ketika Nabi saw.. bertah}annus| (beribadah) di Gua Hira. Pada saat itu turunlah wahyu dengan perantara Jibril al-Amin dengan membawa beberapa ayat al-Qur’an. Surat

18 AL-QUR’AN HADIS KELAS X yang pertama kali turun adalah surat al-‘Alaq ayat 1-5. Sebelum wahyu diturunkan telah turun sebagian irhas (tanda dan dalil) sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dengan sanad dari Aisyah yang menunjukkan akan datangnya wahyu dan bukti nubuwwah bagi Rasul saw. yang mulia. Diantara tanda-tanda tersebut adalah mimpi yang benar di kala beliau tidur dan kecintaan beliau untuk menyendiri dan berkhalwat di Gua Hira untuk beribadah kepada Tuhannya. 2. PENGERTIAN PENULISAN AL-QUR’AN Penulisan al-Qur’an adalah proses penulisan al-Qur’an dari wahyu yang diterima Nabi Muhammad saw. hingga selesai dikumpulkan dalam sebuah tulisan berupa mushaf (kitab berjilid) pada zaman Khalifah Usman bin Affan. Penulisan dan pengumpulan al-Qur’an ini melewati tiga fase. a. Zaman Nabi Tahap pertama adalah zaman Nabi Muhammad saw. di mana pada tahap ini hafalan para sahabat lebih banyak berperan daripada tulisan-tulisan yang masih terpisah-pisah. Siapa saja di antara para sahabat yang mendengar satu ayat, maka akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dengan sarana seadanya di pelepah kurma, potongan kulit, permukaan batu cadas atau tulang belikat unta. Jumlah para penghafal al-Qur’an sangat banyak. b. Zaman Sahabat Abu Bakar Pada zaman ini terjadi banyak peperangan yang mengakibatkan banyak para sahabat penghafal al-Qur’an meninggal dunia. Di antara para sahabat pilihan penghafal al-Qur’an yang meninggal pada perang Yamamah adalah Salim bekas budak Abu Hudzaifah di mana Rasulullah saw. pernah memerintahkan para sahabat untuk mengambil pelajaran al-Qur’an darinya. Maka Abu Bakar r.a. memerintahkan untuk mengumpulkan al-Qur’an agar tidak hilang. Seusai perang Yamamah, sahabat Umar Ibn Khattab menyampaikan pendapat kepada Abu Bakar untuk menulis ulang dan mengumpulkan catatan-catatan al- Qur’an yang masih terpisah-pisah. Namun Abu Bakar menolaknya, ia tidak ingin melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 19 pandangannya. Akhirnya Allah sswt. membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu, dia lalu memanggil Zaid Ibn Tsabit dan memerintahkannya untuk menuliskan ulang catatan-catatan al-Qur’an dalam sebuah mushaf. Mushaf tersebut berada di tangan Abu Bakar hingga dia wafat, kemudian dipegang oleh Umar hingga wafatnya, dan kemudian di pegang oleh Hafsah Binti Umar. c. Zaman Usman Periode ini adalah periode ketiga proses pengumpulan dan penulisan al- Qur’an. Banyak catatan dan kumpulan-kumpulan catatan al-Qur’an yang berbeda- beda di antara para sahabat. Hal itu dikhawatirkan akan menjadi fitnah, maka Khalifah Usman bin Affan memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf tersebut menjadi satu mushaf sehingga kaum muslimin tidak berbeda bacaannya yang bisa menyebabkan pertengkaran dan perpecahan. Kemudian Usman memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Az-Zubair, Sa’id Ibn al-‘Ash dan Abdurrahman Ibnul Harits Ibn Hisyam r.a. untuk menuliskannya kembali dan memperbanyaknya. Zaid Ibn Tsabit berasal dari kaum Anshar sementara tiga orang yang lain berasal dari Quraisy. Usman mengatakan kepada ketiganya : ‚Jika kalian berbeda bacaan dengan Zaid Ibn Tsabit pada sebagian ayat al-Qur’an, maka tuliskanlah dengan dialek Quraisy, karena al-Qur’an diturunkan dengan dialek tersebut!‛, merekapun lalu mengerjakannya dan setelah selesai, Usman mengembalikan mushaf itu kepada Hafshah dan mengirimkan hasil pekerjaan tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam serta memerintahkan untuk membakar naskah mushaf al-Qur’an selainnya. Sahabat Mush’ab bin Sa’ad mengatakan : ‚Aku melihat orang banyak ketika Usman membakar mushaf-mushaf yang ada, merekapun keheranan melihatnya‛, atau dia katakan : ‚Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya, hal itu adalah termasuk nilai positif bagi Amirul Mukminin Usman Ibn ‘Affan r.a. yang disepakati oleh kaum muslimin seluruhnya.‛ Hal itu adalah penyempurnaan dari pengumpulan yang dilakukan Khalifah Rasulullah saw. Abu Bakar As-S}iddiq r.a..

20 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Perbedaan antara pengumpulan yang dilakukan Usman bin ‘Affan dan pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar As-S}iddiq adalah : Tujuan dari pengumpulan al-Qur’an di zaman Abu Bakar adalah menuliskan dan mengumpulkan keseluruhan ayat-ayat al-Qur’an dalam satu mushaf agar tidak tercecer dan tidak hilang tanpa membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf; hal itu dikarenakan lebih terlihat pengaruh dari perbedaan dialek bacaan yang mengharuskannya membawa mereka untuk bersatu pada satu mushaf al-Qur’an saja. Sedangkan tujuan dari pengumpulan al-Qur’an di zaman Khalifah Usman r.a. adalah : Mengumpulkan dan menuliskan al-Qur’an dalam satu mushaf dengan satu dialek bacaan dan membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf al- Qur’an karena timbulnya pengaruh yang mengkhawatirkan pada perbedaan dialek bacaan al-Qur’an. Hasil yang didapatkan dari pengumpulan ini terlihat dengan timbulnya kemaslahatan yang besar di tengah-tengah kaum muslimin, di antaranya : Persatuan dan kesatuan, kesepakatan bersama dan saling berkasih sayang. Kemudian mudarat yang besarpun bisa dihindari yang di antaranya adalah : Perpecahan umat, perbedaan keyakinan, tersebar luasnya kebencian dan permusuhan. Mushaf al-Qur’an tetap seperti itu sampai sekarang dan disepakati oleh seluruh kaum muslimin serta diriwayatkan secara mutawatir. Dipelajari oleh anak- anak dari orang dewasa, tidak bisa dipermainkan oleh tangan-tangan kotor para perusak dan tidak sampai tersentuh oleh hawa nafsu orang-orang yang menyeleweng. D. MARI BERDISKUSI Diskusikan dengan temanmu tentang proses pengumpulan dan penulisan al-Qur’an lalu presentasikan hasilnya di depan kelas.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 21 E. RANGKUMAN 1. Al-Qur’an itu diturunkan ke langit dunia pada malam al-qadr sekaligus lengkap dari awal sampai akhir. Kemudian diturunkan berangsur-angsur sesudah itu dalam tempo 23 tahun; 2. Penulisan dilaksanakan sejak wahyu diterima Nabi Muhammad saw. hingga selesai dikumpulkan dalam sebuah tulisan berupa mushaf (kitab berjilid) pada zaman khalifah Usman bin Affan; 3. Banyaknya para penghafal al-Qur’an yang gugur di medan perang membuat Sahabat Umar menyampaikan pendapat kepada Sahabat Abu Bakar untuk mengumpulkan catatan-catatan al-Qur’an; 4. Proses penulisan al-Qur’an menjadi sebuah mushaf utuh selesai pada zaman khalifah Utsman bin Affan. F. AYO BERLATIH I. Penerapan Tulislah wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. di gua Hira II. Uraian 1. Kapankah wahyu pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.? 2. Jelaskan proses turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur.! 3. Jelaskan kenapa Sahabat Abu Bakar menolak usulan Sahabat Umar untuk mengumpulkan dan menuliskan catatan wahyu.? 4. Apa yang dilakukan Khalifah Usman ketika selesai menuliskan al-Qur’an secara utuh di dalam satu mushaf?

22 AL-QUR’AN HADIS KELAS X MENGHAYATI KEOTENTIKAN AL-QUR’AN

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 23 www.Bumiqu.org KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati keotentikan al-Qur’an. 2. Mengamalkan sikap jujur sebagai cerminan pemahaman bukti keotentikan al-Qur’an. 3. Menganalisis bukti-bukti keotentikan al-Qur’an. 4. Menyajikan contoh bukti-bukti keotentikan al-Qur’an.

24 AL-QUR’AN HADIS KELAS X TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menjelaskan bukti-bukti keotentikan al-Qur’an. 2. Membuktikan keotentikan al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya. 3. Menunjukkan contoh keotentikan al-Qur’an. PETA KONSEP PENJAGAAN ALLAH MUTAWATIR

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 25 A. MARI RENUNGKAN َََوَمَاََوَانهََزَاَُالْلُشْاََْنََاَنًَ فْتَرًََِْيََِمََّللاََِٰدُوْنًَِْوَلَََىََْجَطْذ ًِْمَََالزِيََِبَيْنًََََذ ًَْهََوَجَفْط ُِْلَِالْىِخَََبَََلََِس ٍَْبًََِْف ُِْه ََِّمََسبَ َالْفلَمِيْن Dan tidak mungkin al-Qur’an ini dibuat-buat oleh selain Allah; tetapi (al-Qur’an) membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan seluruh alam. (QS Yunus [10]:37) ًََُْاِهاَهَحَََهَضلْىَاَالزِّهْشََوَاِهاََلَهََلَحفِؽُىْن Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. (QS Al-Hijr [15]:9) B. MARI MENGAMATI Amati gambar berikut ini, kemudian berikan tanggapanmu Salah satu mushaf tertua al-Qur’an di Dunia. https://www.liputan6.com/ Mushaf al-Qur’an tertua jelas yang diselesaikan pada zaman Khalifah Usman, hingga sampai sekarang tulisan al-Qur’an disebut sebagai rasm us|ma>ni> (tulisan Usman). Selain beberapa pihak di Timur Tengah yang mengklaim menemukan al-Qur’an kuno, di Nusantara juga ditemukan beberapa tulisan kuno al-Qur’an. Hingga saat ini, Mushaf yang diklaim sebagai yang tertua di Nusantara karya Mas Khalifah Ibnu al-Habib al- Masfuh dari Banyuwangi. Al-Qur’an ini selesai penulisannya pada tanggal 6 Juma>dil S|a>ni> 1221 H atau sekitar tahun 1806 M. Kini mushaf itu berada di Perpustakaan Nasional Malaysia.

26 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Guru bercerita kemudian murid memberikan tanggapan. C. MEMAHAMI KEOTENTIKAN AL-QUR’AN Dalam Surat al-Hijr ayat 9 Allah swt. menjamin keotentikan dan kesucian serta kemurnian kitab suci al-Qur’an. Allah swt... berfirman: ًََُْاِهاَهَحَََهَضلْىَاَالزِّهْشََوَاِهاََلَهََلَحفِؽُىْن Terjemahnya: ‚Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.‛ (QS al-Hijr [15]: 9) Kemurnian dan Keotentikan al-Qur’an selalu terjaga sejak saat diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. hingga akhir zaman kelak. Keindahan bahasa dan kandungan ajaran serta tuntunan hidup umat manusia adalah salah satu kemukjizatan yang menjaminnya. Tidak akan ada satu pun manusia yang bisa menirunya. Al-Qur’an akan terus begitu adanya, kalimatnya dan bunyinya. Dalam hal kandungan isinya, al-Qur’an mengajukan tantangan kepada orang- orang kafir dan siapapun yang meragukan kebenarannya. Sejak dahulu, orang-orang kafir menuduh bahwa al-Qur’an hanyalah sejenis mantera-mantera tukang tenung dan kumpulan syair-syair. Mereka mengira bahwa al-Qur’an adalah karangan Nabi Muhammad saw. Tantangan al-Qur’an yang dimaksudkan antara lain adalah : a. Al-Qur’an menantang siapapun yang meragukan kebenaran al-Qur’an untuk mendatangkan semisalnya secara keseluruhan. Hal ini terkandung dalam firman Allah swt. QS at-T}u>r [52]: 33-34 َْ َََاَمًَََلُىْلُىْنََْجَلَىلَهََبَلََل ًَُاْمِىُىْن ََفَل َُْإْجُىْآََبِحَذ ًِْثََْمِّشْلِهَاِنََوَاهُىْاَ َضذِكِيْن

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 27 Terjemahnya : Ataukah mereka berkata, ‛Dia (Muhammad) mereka-rekanya.‛ Tidak! Merekalah yang tidak beriman. Maka cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al- Qur’an) jika mereka orang-orang yang benar. Ditegaskan pula bahwa manusia dan jin tidak akan pernah mampu untuk mendatangkan semisal al-Qur’an secara keseluruhan. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah swt. QS al- Isra>’[17]: 88 َْ ََكُلَِلىََِنََُاحْخَمَفَذًِ ََْلاِْوْغََٓوَالْجـَلََْىَاَنًََِ إْجُىْاََبِمِشْلهََزَاَِالْلُشْاَََنَََلًَََإْجُىْنََْبِمِشْلِهَََوَلَىََْوَانََبَفْضُهُم َلِبَفْضؼَهِيْرًا Terjemahnya: Katakanlah, ‛Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain. b. Al-Qur’an menantang siapapun yang meragukan kebenaran al-Qur’an untuk mendatangkan 10 surah semisalnya. Hal ini terkandung dalam QS Hu>d [11] : 13 َْ َََاَمًَََلُىْلُىْنَُافْتَرًََه ََْۚكُلََِفَإْجُىْاََبِفَشْشََظُىَسًَ ََمِّشْلِهَمُفْتَرَذًَََِوادْـُىْاََْمًََِّْاظْخَعَفْخُمََِمََّْللاََِٰدُوْنََْاِنََهُىْخُم ََضذِكِيْن Terjemahnya: Bahkan mereka mengatakan, ‛Dia (Muhammad) telah membuat-buat Al-Qur’an itu. Katakanlah, (Kalau demikian), datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Al-Qur’an) yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. c. Al-Qur’an menantang siapapun yang meragukan kebenaran al-Qur’an untuk mendatangkan satu surah saja semisal al-Qur’an. Hal ini terkandung dalam QS al- Baqarah [2] ayat 23 َ وَََْْاِنََْهُىْخُمََفِيَس ٍَْبَمِّماََهَضلْىَاـَلَىَـَبْذِهَاََفَإْجُىْاًََِّْبِعُىْسَةََمۚ ََمِّشْلِهََوَادْـُىْاَْشُهَذَاًََِّْءَهُمََِمََّْللاََِٰدُوْنََْاِن ََهُىْخُمََضذِكِيْن Terjemahnya: Dan jika kamu meragukan (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong- penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

28 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Ketiga tantangan menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah mukjizat. Terbukti hingga sekarang, belum ada satu pun manusia dan bahkan jin yang mampu membuat kalimat seindah al-Qur’an. Apalagi mampu memiliki kandungan makna dan berita yang lebih hebat dari al-Qur’an. Hal ini membuktikan bahwa al-Qur’an memang bukan buatan manusia, al-Qur’an adalah wahyu Allah swt.. Di saat sekarang tentu kita mengetahui, bahwa sering ada berita viral tentang al-Qur’an yang salah cetak atau ada kekeliruan. Tentu saja kesalahan-kesalahan cetak ini sangat mudah diketahui karena banyaknya orang yang menghafalkan al- Qur’an. Informasi sejarah juga telah terbukti bahwa al-Qur’an terjaga kemurniannya. Al-Qur’an tidak dapat dipalsukan. Banyaknya para penghafal al-Qur’an adalah salah satu benteng penjaga kemurnian dan keotentikan al-Qur’an. Para penghafal al-Qur’an tidak pernah putus generasi sejak pertama kali al- Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.. Cetakan-cetakan hingga kini terus dibuat, disimpan, diteliti dan diperbaharui sejak dahulu waktu wahyu disalin di atas batu, lembaran kulit binatang, pelepah kurma dan tulang-tulang. Seluruh cetakan dan apa pun bentuk media yang menyimpan al-Qur’an saat ini, semuanya bersumber pada satu titik, yakni mushaf al-Qur’an yang selesai dikodifikasi pada zaman Khalifah Usman bin Affan. Turun temurun terus dijaga secara mutawatir lintas zaman dalam berbagai media yang terus berkembang dan di hafalan-hafalan para penghafal al-Qur’an. D. MARI BERDISKUSI Setelah mendalami materi tentang keotentikan al-Qur’an, lakukanlah diskusi dengan teman dan kelompokmu. Kemudian persiapkan diri untuk presentasi di depan kelas. Guru bertugas mendampingi dalam diskusi tersebut. E. RANGKUMAN 1. Kemurnian dan keotentikan al-Qur’an dijamin oleh Allah dan akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman; 2. Dari zaman dahulu hingga sekarang, banyak sekali orang-orang yang berlomba- lomba untuk menandingi al-Qur’an, namun usaha-usaha tersebut selalu gagal;

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 29 3. Cetakan-cetakan al-Qur’an terus diteliti dan diperbaharui agar semakin banyak bisa diakses oleh masyarakat dalam rangka menjaga keotentikan al-Qur’an. F. AYO BERLATIH Umat Islam meyakini, bahwa al-Qur’an terjaga keasliannya hingga saat ini. Buatlah diagram/peta konsep yang menunjukkan al-Qur’an terjaga keasliannya. Dan tidak mungkin al-Qur’an ini dibuat-buat oleh selain Allah; tetapi (al-Qur’an) membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan seluruh alam.

30 AL-QUR’AN HADIS KELAS X AL-QUR’AN MUKJIZAT NABIKU

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 31 www.islam.nu.or.id KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati kemukjizatan al-Qur’an 2. Mengamalkan sikap cinta terhadap al-Qur’an sebagai cerminan pemahaman kemukjizatan al-Qur’an

32 AL-QUR’AN HADIS KELAS X 3. Menganalisis kemukjizatan al-Qur’an 4. Menyajikan contoh kemukjizatan al-Qur’an TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menyajikan tentang kemukjizatan al-Qur’an. 2. Mencintai al-Qur’an 3. Menjelaskan tentang kemukjizatan al-Qur’an 4. Menyampaikan contoh-contoh kemukjizatan al-Qur’an PETA KONSEP KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN SYARAT-SYARAT A S P E K

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 33 A. MARI RENUNGKAN Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah yang ditugaskan untuk mengemban tugas mengembalikan manusia ke jalan yang benar. Nabi di utus di tengah-tengan kaum jahiliyah yang menganut hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa dan dapat melakukan apa saja sesuai keinginannya. Masyarakat Arab pada zaman itu adalah masyarakat yang gemar berperang dan adu kekuatan. Selain itu mereka juga gemar berlomba-lomba dalam membuat karangan-karangan yang indah. Dalam kondisi itulah al-Qur’an sebagai kalamullah adalah mukjizat teragung yang dikaruniakan Allah kepada Nabi-Nya. Mukjizat al-Qur’an ini melebihi mukjizat-mukjizat lain yang diberikan kepada para nabi sebelumnya. B. MARI MENGAMATI Amatilah gambar di bawah ini dan diskusikan dengan temanmu

34 AL-QUR’AN HADIS KELAS X C. KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN 1. Pengertian Mukjizat Secara etimologi kata Mukjizat berbentuk isim fa’il yang berasal dari kata: ََ اَعْجَض– ٌَُُعْجِض– ًَاِعْجَاص– َمُعْجِض/ َمُعْجِضَة Awalnya, kata ini berarti melemahkan atau mengalahkan lawan. Namun dalam perkembangannya, kata mukjizat juga digunakan untuk memberikan arti pada sesuatu yang hebat atau luar biasa. Manna>’ al-Qat}t}a>n mendefinisikan mukjizat sebagai berikut: َُ ا َْلُْعْجِضَة ََهِي َاَمْش َخَاسِق َِلِلْفَـادَة َمَلْشُوْنبِالخحَذِّي َظَالِم ًََِـ َِا ْلُْفَاسَضَت Artinya: Mukjizat adalah hal yang bertolak belakang dengan kebiasaan, tidak seperti biasanya dan melawan tantangan dengan selamat. Dalam penggunaannya kata mukjizat hanya diperuntukkan kepada hal-hal luar biasa yang dikaruniakan oleh Allah swt. kepada para nabi dan rasul. Tujuan dari diturunkannya mukjizat adalah untuk membuktikan kebenaran pengakuan dan ajaran-ajaran para rasul. Tujuan ini khususnya berkenaan dengan tantangan yang harus dihadapi oleh para nabi dan rasul saat berdakwah. Mukjizat berfungsi sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulan mereka, bahwa mereka adalah benar-benar para nabi dan rasul (utusan) Allah yang membawa risalah kebenaran dari Allah swt.. Dengan datangnya mukjizat, para nabi dan rasul mampu melemahkan dan mengalahkan orang-orang kafir yang menentang dan tidak mengakui atas kebenaran kenabian dan kerasulan mereka. Biasanya mukjizat para nabi dan rasul itu berkaitan dengan masalah yang dianggap mempunyai nilai tinggi dan diakui sebagai suatu keunggulan oleh masing-masing umatnya pada masa itu. Zaman Nabi Musa a.s. adalah zaman kejayaan tukang sihir, maka mukjizat Nabi Musa a.s. adalah mengalahkan para tukang sihir. Sedangkan Nabi Isa a.s. hidup di zaman kemajuan ilmu kedokteran. Maka mukjizat utama Nabi Isa a.s. adalah mampu

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 35 menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan pengobatan biasa, yaitu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan dan orang yang berpenyakit kusta, serta menghidupkan orang yang sudah mati. Meski zaman hidup Nabi Muhammad saw. disebut sebagai zaman jahiliyah, namun zaman itu juga merupakan zaman keemasan kesusastraan Arab. Firman Allah menjadi mukjizat utama Nabi Muhammad saw. karena ayat-ayat al-Qur’an mengandung nilai sastra yang amat tinggi. Tidak ada seorang manusia pun dapat membuat serupa dengan al-Qur’an, baik pada zaman itu maupun hingga zaman sekarang. 2. Syarat-syarat Mukjizat Suatu hal dapat dikategorikan sebagai mukjizat karena memenuhi syarat-syarat berikut: a. Sesuatu yang tidak sanggup dilakukan oleh siapapun selain Allah swt.; b. Mukjizat adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam (sunnatullah); c. Mukjizat harus berupa hal yang dijadikan saksi oleh seseorang yang mengaku membawa risalah Ilahi sebagai bukti atas kebenaran pengakuannya; d. Mukjizat terjadi bertepatan dengan pengakuan Nabi dan penolakan suatu kaum atas pengakuan tersebut; e. Tidak ada seorang manusia pun, bahkan jin sekalipun yang dapat mengalahkan suatu mukjizat yang sudah diberikan oleh Allah. Suatu hal disebut mukjizat bila memenuhi kelima unsur tersebut di atas. 3. Macam-macam Mukjizat Mukjizat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : a. Mukjizat h}issi> (kasat mata), yakni mukjizat yang dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung, diraba oleh tangan, dan atau dirasa oleh lidah, tegasnya dapat dicapai dan ditangkap oleh pancaindera; b. Mukjizat ini sengaja ditunjukkan atau diperlihatkan manusia biasa, yakni mereka yang tidak biasa menggunakan kecerdasan akal pikirannya, yang tidak cakap padangan mata hatinya dan yang rendah budi dan perasaanya. Karena bisa dicapai dengan panca indera, maka mukjizat ini bisa juga disebut mukjizat inderawi. Mukjizat h{issi> ini dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya hanya diperlihatkan kepada umat tertentu dan di masa tertentu.

36 AL-QUR’AN HADIS KELAS X c. Mukjizat ma’nawi> (tidak kasat mata), yakni mukjizat yang tidak mungkin dapat dicapai dengan kekuatan panca indera, tetapi harus dicapai dengan kekuatan ‘aqli> atau dengan kecerdasan pikiran intelektual atau mata batin. Karena orang tidak akan mungkin mengenal mukjizat ma’nawi> ini melainkan orang yang berpikir sehat, cerdas, bermata hati, berbudi luhur dan yang suka mempergunakan kecerdasan pikirannya dengan jernih serta jujur. Karena harus menggunakan akal pikiran untuk mencapainya, maka bisa disebut juga mukjizat ‘aqli> atau mukjizat rasional. Mukjizat h}issi> bersifat sementara hanya pada saat suatu mukjizat terjadi , sedangkan mukjizat ma’nawi> bersifat universal dan eternal (abadi), yakni berlaku untuk semua umat manusia sampai akhir zaman. 4. Pengertian I’ja>z al-Qur’an Kata mukjizat dilekatkan dengan kitab suci al-Qur’an memiliki dua konotasi. Pertama, manusia tidak akan pernah mampu untuk membuat redaksi kalimat-kalimat yang bisa menandingi keindahan ayat-ayat al-Qur’an. Apalagi menyaingi kandungan isi al-Qur’an yang banyak sekali menceritakan tentang hal-hal terkait kisah-kisah zaman dahulu, masa depan dan hal-hal gaib lainnya. Kedua, kemukjizatan al-Qur’an mempunyai sifat menantang manusia dan jin untuk membuat semacam al-Qur’an. Sehingga karena tidak akan pernah berhasil maka mereka menginsyafi kelemahannya dan mengakui kehebatan ayat-ayat al-Qur’an. I’ja>z al-Qur’an adalah teguhnya kehebatan al-Qur’an di hadapan kelemahan manusia dan jin yang tidak akan mampu membuat karya sehebat al-Qur’an. Kemukjizatan al-Qur’an menumbuhkan kesadaran pada manusia bahwa al-Qur’an adalah nyata-nyata wahyu Allah swt. dan sekaligus merupakan bukti kerasulan Muhammad saw. bahwa al-Qur’an bukan karangan Nabi Muhammad saw. Prof. Quraish Shihab berpendapat bahwa kemukjizatan al-Qur’an terbukti karena al-Qur’an mampu melemahkan orang-orang kafir pada zaman itu yang mengira al- Qur’an adalah sihir. Bahkan mampu melemahkan orang-orang pada masa kini yang ingin membuat kalimat-kalimat seindah ayat-ayat al-Qur’an. Sungguh siapa pun tidak akan mampu membuatnya.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 37 5. Aspek-aspek Kemukjizatan Al-Qur’an I’ja>z al-Qur’an terdapat dalam kandungan al-Qur’an, bukan pada tampak fisik luarnya. Al-Qur’an tidak membutuhkan bukti pendukung bahwa ia adalah kalamullah, mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw. Ada pun hal-hal lain di luar al-Qur’an sifatnya adalah untuk membuktikan kepada para makhluk yang tidak mempercayainya. Secara garis besar ada dua aspek kemukjizatan al-Qur’an yaitu: a. Gaya Bahasa ( Uslu>b) Gaya bahasa al-Qur’an adalah gaya bahasa khas yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun. Susunannya sangat otentik dan indah. Para sastrawan Arab pun bahkan tidak mampu menirunya. Al-Qur’an memakai bahasa dan lafaz Arab yang meskipun indah tetapi bukan puisi, bukan prosa dan bukan pula syair. Dari sisi kemukjizatan, inilah yang kemudian membuat mereka tidak pernah mampu untuk menandinginya dan putus asa lalu merenungkannya, kemudian merasa kagum dan menerimanya, lalu sebagian masuk Islam. Contoh dalam sejarah diterangkan bahwa Umar bin Khattab r.a. menyatakan diri masuk Islam setelah mendengar ayat-ayat pertama surat T}a>ha>, dan masih banyak contoh lainnya. Inilah bukti kemukjizatan al-Qur’an dari segi bahasanya. Al-Qur’an menggunakan gaya bahasa ( uslu>b) yang sangatlah indah. Sejak diturunkan hingga saat ini, keindahan uslu>b al-Qur’an benar-benar telah membuat orang-orang Arab dan atau luar Arab kagum dan terpesona. Ditambah lagi kandungan nilai dan ajaran dalam al-Qur’an yang sangat istimewa. di mana tidak akan terdapat dalam ucapan manusia menyamai isi yang terkandung di dalamnya. Keistimewaan uslu>b al-Qur’an antara lain : 1) Keindahan dan kelembutan bahasa al-Qur’an sejak dari bentuk lafaznya dan susunan kalimatnya; 2) Keserasian al-Qur’an dapat dirasakan oleh semua lapisan manusia. Kaum cendikiawan maupun kaum awam dapat merasakan keagungan dan keindahan al-Qur’an;

38 AL-QUR’AN HADIS KELAS X 3) Sesuai dengan akal dan perasaan. Al-Qur’an menyampaikan doktrin dan pengetahuan dengan kalimat-kalimat yang indah; 4) Keindahan kalimat serta keanekaragaman susunannya. Satu makna diungkapkan dalam beberapa bentuk lafaz dan susunan yang bermacam- macam; 5) Al-Qur’an mencakup dan memenuhi persyaratan antara bentuk global ( ijma>l) dan bentuk yang terperinci ( tafs}i>l); 6) Kalimat-kalimat yang lugas dapat dimengerti dengan secara langsung. Hal-hal lain yang menjadi kehebatan dan kemukjizatan al-Qur’an dari aspek bahasa adalah ketelitian, kerapihan dan keseimbangan kata-kata yang digunakan. Ketelitian dan kerapian yang dimaksudkan antara lain adalah: 1. Ketelitian pengungkapan kata-kata Suatu surat yang diawali dengan huruf-huruf tertentu, biasanya menggunakan huruf-huruf itu dalam jumlah lebih banyak dibanding huruf lain. Misalnya: a) Dalam surat Qaf, dapat ditemukan huruf qaf (ق) berulang-ulang dalam jumlah lebih banyak dari jumlah huruf lainnya. Jumlah rata-rata huruf qaf (ق) yang terbanyak di dalam surat Qaf itu ternyata juga merupakan jumlah huruf qaf (ق) yang terbanyak pula dibandingkan dengan jumlah huruf qaf (ق) yang terdapat di dalam surah-surah lainnya dalam al-Qur’an. b) Huruf alif (ا), lam (ل) dan mim (و) yang mengawali surah al-Baqarah. Jumlah masing-masing huruf tersebut ternyata lebih banyak daripada huruf-huruf yang lain. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut : - Huruf alif ( ا ) berulang sebanyak 4.592 kali - Huruf lam ( ل ) berulang sebanyak 3.204 kali - Huruf mim ( و ) berulang sebanyak 2.195 kali c) Huruf alif (ا), lam (ل) dan mim (م) yang mengawali surah Ali ‘Imra>n. - Huruf alif ( ا ) berulang sebanyak 2.578 kali - Huruf lam ( ل ) berulang sebanyak 1.885 kali - Huruf mim ( و ) berulang sebanyak 1.251 kali

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 39 d) Huruf alif (ا), lam (ل) dan mim (م) yang mengawali surah al-‘Ankabu>t : - Huruf alif ( ا ) berulang sebanyak 784 kali - Huruf lam ( ل ) berulang sebanyak 554 kali - Huruf mim ( و ) berulang sebanyak 344 kali Dan masih banyak bukti lainnya dalam surah-surah yang lain di dalam Al- Qur’an. 2) Keseimbangan penggunaan kata-kata Dalam al-Qur’an terlihat pula keseimbangan kata-kata yang digunakan secara simetris, misalnya : a) Kata َ اَنْحَيَاة berjumlah 145 kali, sama dengan kata َ اَن ًَْوْث yang berjumlah 145 kali b) Kata اَند َُّْيَا berjumlah 115 kali, sama dengan kataَ اَألَخِرَة yang berjumlah 115 kali c) Kata َ يَالَئِكَت berjumlah 88 kali, sama dengan kata َ ٌ شَيْطَا yang berjumlah 88 kali d) Kataَ زَكَاة berjumlah 32 kali, sama dengan kata َ بَرَكَت yang berjumlah 32 kali 3) Misteri angka 19 Angka 19 adalah angka istimewa dalam al-Qur’an. Jumlah huruf yang terdapat pada kalimat basmalah بسىَهللاًٍَانرحَانرحيى terdiri dari 19 huruf dan setiap katanya terulang 19 kali dalam surah-surah al-Qur’an, atau beberapa kali kelipatan angka 19. Keunikan ini antara lain sebagai berikut: a) Kata اِسْى berulang 19 kali di dalam al-Qur’an b) Kata َِ هللا berulang 2698 kali, itu berarti = 19 x 142 c) Kata ًٍََِْ انرَّح berulang 57 kali, itu berarti = 19 x 3 d) Kata َِ انرَّحِيْى berulang 144 kali, itu berarti = 19 x 6 Huruf terpisah yang mengawali surah-surah ( fawa>tih as-suwar) berulang dalam hasil jumlah kali lipat angka 19. Perhatikan contoh-contoh berikut ini : a) Huruf qaf ( ق )dalam surah Qaf berulang 57 kali, berarti = 19 x 3

40 AL-QUR’AN HADIS KELAS X b) Huruf kaf ( ك ), ha’ ( ِ ), ya’ ( ي ), ‘ain ( ع ), dan s}ad (ص) yang mengawali surah Maryam, berulang sebanyak 789 kali, berarti = 19 x 42 c) Huruf nun ( ٌ ) dalam surah al-Qalam berulang sebanyak 133 kali, berarti = 19 x 7 d) Huruf ya ( ي ) dan sin ( ش ) yang mengawali surah yasin, dalam surah tersebut berulang sebanyak 285 kali, berarti = 19 x 15, dan sebagainya. Keunikan ini merupakan satu tanda kerapian, ketelitian dan keseimbangan huruf dan kata yang digunakan dalam al-Qur’an. b. Isi Kandungannya Dilihat dari isi kandungannya, kemukjizatan al-Qur’an antara lain adalah: 1) Al-Qur’an mengungkapkan berita-berita yang bersifat gaib. Hal-hal yang bersifat gaib yang diungkap dalam al-Qur’an dapat dipilah menjadi 2 (dua) yaitu : Pertama, berita tentang masa lalu, seperti kisah Nabi Adam a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s, Nabi Musa a.s. dan kisah lain di masa lalu. Salah satu contoh lainnya sebagaimana diungkapkan dalam QS Yu>nus [10]: 92 ََ ًَََُِّْفَال َُْىْمًَََِهُىَجَََبِبَذَهًََََْلًَََِْلِخَيُىْنََخَلْفًَاًَََت ََۚوَاِنًَََِّهَشِيْرًاََِمًَََْالىاطََـً َاََدِىَاََلَغفِلُىْن Terjemahnya: Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Ayat tersebut menceritakan tentang Fir'aun yang diawetkan dengan cara dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang. Hal itu bersifat gaib, karena tidak ada orang yang mengenalnya. Akan tetapi berita al-Qur’an itu ternyata terbukti kebenarannya kemudian. Kedua, berita tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi baik di dunia maupun di akhirat, misalnya dalam QS ar-Rūm [30]: 1-3:

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 41َ َّالََم َُِۚ ََغُلِبَذالشوْم َْٓفِيَاَدْوَىََِْلاَْسْضََْوَهُمََ ًِّْمََِبَفْذََْغَلَبِهِمََ َظ ََُغْلِبُىْن Terjemahnya: Alif Lām Mim. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang. Ayat ini bercerita tentang kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia. Padahal ketika ayat ini diturunkan, belum terjadi peperangan yang dimaksudkan. Akan tetapi kebenaran berita itu terbukti sembilan tahun kemudian. Contoh berita gaib tentang hal-hal yang belum terjadi saaat diturunkan antara lain adalah berita kemenangan umat Islam dalam perang Badar yang dijelaskan dalam QS al-Qamar [54]: 45, peristiwa Fathu Makkah dijelaskan dalam QS al-Fath} [48]: 27, dan sebagainya. Banyak sekali kisah-kisah di dalam al-Qur’an yang belum dipahami pada saat diturunkan, kemudian bisa dipahami dan terbukti di masa- masa berikutnya. 2) I’ja>z ‘ilmi>, yakni kemukjizatan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an mengungkapkan isyarat-isyarat rumit terhadap suatu pengetahuan sebelum dunia ilmu pengetahuan itu sendiri sanggup menemukannya. Pengalaman-pengalaman ini membuktikan bahwa al-Qur’an sama sekali tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan baru yang didasarkan pada penelitian ilmiah. Kenyataan ini sesuai dengan firmankan Allah swt. dalam QS Fus}s}ilat [41]:53 َْ ََظَنُرِيْهِمً َاَدِىَاَِْلاْ ََفِىََْٓفَاقََْوَفِيََٰاَهْفُعِهِمحَتَََىًَََْدَبَينََُلَهُمََاَههََْالْحَمََِاَوَلَمًًََََِّىْفََبِشَبََاَههـَلََِّىََوُلََشخَيْء شَه ُِْذ Terjemahnya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? Banyak ayat al-Qur’an yang mengungkapkan isyarat tentang ilmu pengetahuan, seperti: terjadinya perkawinan dalam tiap-tiap benda, perbedaan

42 AL-QUR’AN HADIS KELAS X sidik jari manusia, berkurangnya oksigen di angkasa, khasiat madu, asal kejadian alam semesta, penyerbukan dengan angin, dan masih banyak lagi isyarat-isyarat ilmu pengetahuan yang bersifat potensial, yang kemudian berkembang menjadi ilmu pengetahuan modern. Salah satu isyarat ilmu pengetahuan tersebut adalah mengenai perbedaan sidik jari manusia, firman Allah QS al-Qiya>mah [75] : 3-4 َُ َََا ًََحْعَبَُْلاِْوْعًََْانَََاَلََهجْمَقۚ ََـِؽَامَه َ بَلًٍَََِْىََٓكَادِسـَلََْىَََاَنََوعَىِّيبَىَاهَه Terjemahnya: Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? (Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. 3) Al-Qur’an merupakan sumber aturan hukum Islam yang bersifat universal dan mencakup segala urusan hidup dan kehidupan manusia. Prof. Dr. H. Said Agil Husin al-Munawar, M.A. Merumuskan aspek-aspek kemukjizatan al-Qur’an sebagai berikut : a. Susunan bahasa yang sangat indah, berbeda dengan setiap susunan bahasa yang ada dalam bahasa orang-orang Arab; b. Adanya uslu>b yang luar biasa, berbeda dengan semua uslu>b-uslu>b bahasa Arab; c. Sifat agung yang tidak mungkin lagi seorang makhluk untuk mendatangkan hal yang seperti al-Qur’an; d. Bentuk undang-undang yang detail dan sempurna yang melebihi setiap undang-undang buatan manusia; e. Mengabarkan hal-hal gaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan wahyu; f. Tidak bertentangan dengan pengetahuan-pengetahuan umum yang dipastikan kebenarannya; g. Menepati janji dan ancaman yang telah dikabarkan di dalamnya; h. Memenuhi segala kebutuhan manusia;

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 43 i. Berpengaruh kepada hati pengikut dan musuh (orang yang menentangnya). 6. Mukjizat Rasulullah saw. Selain al-Qur’an dan Mukjizat Para Nabi Lainnya. Kemukjizatan al-Qur’an merupakan mukjizat ma’nawi>. Karenanya, untuk memahaminya harus menggunakan akal pikiran yang rasional dan kecerdasan hati. Orang yang tidak menggunakan akal pikiran dan kejernihan hati tidak akan dapat memahami kemukjizatan al-Qur’an. Bukan berarti harus menjadi cendikiawan untuk memahami kemukjizatan al-Qur’an, tetapi orang-orang yang akal pikiran atau hatinya tertutup tentu tidak akan dapat memahami kemukjizatan al-Qur’an. Padahal al-Qur’an adalah mukjizat yang terbesar bagi Nabi Muhammad saw. yang berlaku kekal sampai akhir zaman. Selain al-Qur’an yang bersifat ma’nawi>, Nabi Muhammad saw. juga dikarunia mukjizat h}issi>. Misalnya: jari-jari beliau bisa mengeluarkan air pada saat sahabat- sahabat sedang kehausan. Nabi Muhammad pernah membelah bulan menjadi dua hanya dengan menggunakan jari yang ditunjukkan ke bulan untuk memenuhi tantangan orang kafir, dan masih banyak lainnya. Di dalam al-Qur’an banyak digambarkan mengenai mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad saw. di antaranya adalah : a. Mukjizat Nabi Nuh a.s. berupa kemampuan untuk membuat kapal yang sangat besar untuk menampung dan menyelamatkan kaum yang beriman dari banjir besar, padahal saat itu sama sekali belum dikenal cara pembuatan kapal. Allah swt. berfirman dalam QS Hu>d [11]: 37-38 َِ ًَََْوَاضْىَقَالْفُلَبِاَـ ُُْيِىَاَََوَوَح ُِْىَاََْوَلَجُخَاظِبْجِيًًَََِْفِىَالزَْۚ ََؼَلَمُىْاَََاِنهُممغْشَكُىْن َُو ٍََطْىَقََ ًَْالْفُلَوَوُلمَاََمَشََِ ـَل َُْهََ َمَالًََِّْمََكَىْمِهَسَخِشُوْاََُمِىْهََ ٌََۚكَاََْاِنَحَسْخَشُوْاَمِىاَفَاِهاََُوَسْخَشََْمِىَْىُمَهَمَاََ َحَسْخَشُوْن Terjemahnya: Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali

44 AL-QUR’AN HADIS KELAS X pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, ‛Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami). b. Mukjizat Nabi Ibrahim a.s. berupa keistimewaan tidak hangus dibakar dalam api oleh raja Namruz. Allah swt. berfirman dalam QS al-Anbiya>’ [21]: 68-69 sebagai berikut: ََُكَالُىْآََْحَشِّكُىْهوَاهْطُشُوََاَْاََْلِهَخَىُمََْاِنََهُىْخُمََففِلِيْن َكُلْىَاًَََُاََْهَاسَوُىْوِيََبَشْدًاوظَلََٓمًاـَلََىََاِبْشََه ُِْم ۚ Terjemahnya : Mereka berkata, ‛Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar- benar hendak berbuat. Kami (Allah) berfirman, ‛Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim! c. Mukjizat Nabi Musa a.s. berupa tongkat yang dapat berubah menjadi ular besar untuk mengalahkan tukang-tukang sihir Firaun yang menyihir tali menjadi ular-ular kecil. Di samping itu tongkat beliau tersebut juga bisa menimbulkan 12 sumber mata air yang memancar ketika dipukulkan kepada sebuah batu pada saat beliau memohon air minum untuk kaumnya sebanyak 12 suku. Al-Qur’an menggambarkan kehebatan tongkat Nabi Musa as. ini dalam firman Allah swt. QS al-A’raf [7]: 107 َ فَاَلْلََُىَـَطَاهَََفَاِرَاََهِيََسُفْبَانَمبِيْنَ ۖ Terjemahnya: Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya. Dan firman Allah swt. QS al-Baqarah [2]: 60 َِ ََوَاِراظْدَعْلََىمُىْسخََىَلِلَىْمِهََْفَلُلْىَاَََاضْشِبَ ََبِّفَطَانََْالْحَجَشََُفَاهْفَجَشَثَمِىْهَََازْيَخَاَـَشْشَةََـ َُْىًا ََََْۚكَذ ََـَلِمََوُلََْاُهَاطۚ ََمشْشَبَهُمَوُلُىْاًََِْوَاشْشَبُىْاََِمَََّللاََِٰسِّصْقَوَلَحَفْشَىْاََِفِىًًَََِْْلاَْسْضمُفْعِذ Terjemahnya: Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‚Pukullah batu itu dengan tongkatmu!‛ Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 45 dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan. d. Mukjizat Nabi Dawud a.s. adalah kemampuan untuk melunakkan besi dengan tangan kosong, sehingga bisa dibentuk menjadi baju besi dan senjata untuk dapat mengalahkan raja Jalut. Allah menggambarkan mukjizat Nabi Dawud ini dalam firman-Nya QS Saba’ [34]:10-11 : َْ ََوَلَلَذاََج َِْىَاََدَاوَدً ََمِىاًٌَُ ََفَضْالََْجِبَاََاَوِّبِيَََمَفَهۚ ََوَالعيْرََُوَاَلَىاَََلَهََِالْحَذ ًِْذََْاَنََاـْمَلَظَبِغََْذََِوكَذِّسفََِى َالعشْدََوَاـْمَلُىْاََْضَالِحًاَاِوِّيَََبِمَاََحَفْمَلُىْنبَطِيْر Terjemahnya: Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman), ‚Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang- ulang bersama Dawud,‛ dan Kami telah melunakkan besi untuknya. (yaitu) Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. e. Mukjizat Nabi Sulaiman a.s. berupa kemampuan untuk mendengar dan memahami bahasa binatang, seperti burung hud-hud dan semut. Sebagaimana digambarkan dalam firman Allah swt. QS an-Naml [27]: 16-18ََ ََوَوَسِرًَََُظُل َُْمََدَاوٌَََدً ََٓوَكَاََُاَيهَاَالىاطَََـُلِّمْىَاََِمَىْعِمَالعيْرًََِْوَاُوْج ِِْىَاََِّمََوُلََشخَيْءََاِنهَََزَاََُلَهُىََُالْفَضْل َََا ْلُْبِيْنََوَحُشِشًََََلِعُل َُْمًَََِحُىُىْدُهًََِِّمََِالْجََِو َْلاِْوْغََْوَالعيْرَََفَهُمًََُٰىْصَـُىْنَٓحَتََٓىَاِرَاََاَجَىْاـَلََِىِ ََوَادََْالىمْل ََكَالَذًََٰٓهَمْلَتََُاَيهَاَالىمْلََادْخُلُىْاْ َمَعَََىِىَىُمََْلًَََحْعِمَىىُمًَََُظُل َُْمََْوَحُىُىْدُهَََوَهُمَََلٌَشْفُشُوْن Terjemahnya : Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia (Sulaiman) berkata, ‚Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia yang nyata. Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib. Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‚Wahai semut- semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.

46 AL-QUR’AN HADIS KELAS X f. Mukjizat Nabi Isa a.s. berupa kemampuan untuk membuat burung dari tanah, menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penyakit kusta, dan dapat menghidupkan orang yang sudah mati atas izin Allah swt. seperti yang digambarkan dalam QS A>li ‘Imra>n [3]: 49 ًَ ََوَسَظُىْلاِلََْٓىََبَجِيََاِظْشَاََء ًِْلََْەََْاَوِّيََْكَذََحِئْخُىُمَبِاًًَََِّْتََْمََسبِّىُم َََُْۚٓاَوِّيََْاَخْلُمًَََِّلَىُمََِمََالعِّيْنَِهَه َُْـََِتََُالعيْر ََِفَاَهْفُخََُف ُِْهََف ََُيُىْنََِظَيْرًاَُۚ ََّللاََِٰبِاِرْنَََوَاُبْشِتَََْلاَْهْمَهََِو َْلاَْبْشَصََوَاُحْيا ْلَْىْحََِىَُۚ ََّللاََِٰبِاِرْنَْوَاُهَبِّئَىُمَََبِمَا َجَإْوُلُىْنَََوَمَاَْۚ ََجَذخِشُوْنََْفِيََب ُُُىْجِىُم َََْۚاِنََفِيًََِرََل ًََلًَََْتََْلىُمََْاِنَ ََهُىْخُمماْمِىِيْن Terjemahnya: Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata), ‛Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman. Selain hal-hal yang disebutkan di atas, al-Qur’an juga menceritakan banyak sekali mukjizat para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad saw. D. MARI BERDISKUSI Setelah memahami definisi mukjizat serta kemukjizatan al-Qur’an, diskusikanlah bersama dengan teman-temanmu dan presentasikan hasilnya di depan kelas. E. RANGKUMAN 1. Mukjizat adalah keistimewaan dan kehebatan yang dikaruniakan oleh Allah swt. kepada para nabi dan rasul sebagai bukti kebenaran risalah dan ajarannya. Mukjizat juga berfungsi sebagai sarana untuk mengalahkan orang-orang yang menentang para nabi dan rasul; 2. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar dan teragung yang dikaruniakan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. hingga saat ini belum ada yang bisa membuat tiruannya;

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 47 3. Al-Qur’an menjadi mukjizat teragung karena dua hal, pertama karena keindahan gaya bahasa ( uslu>bnya). Kedua karena kandungan isi al-Qur’an yang universal, menyangkut hal-hal gaib berkenaan masa yang telah lampau maupun masa yang akan datang; 4. Kemukjizatan al-Qur’an lainnya adalah kandungan ilmu pengetahuan yang tidak terbantahkan dan semakin banyak terbukti hingga saat ini; 5. Kemurnian dan keotentikan al-Qur’an dijamin oleh Allah dan akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman. F. AYO BERLATIH I. Penerapan Tuliskan apa yang anda pahami tentang pembagian i’ja>z al-Qur’an dalam kolom di bawah ini: II. Uraian 1. Jelaskan pengertian mukjizat al-Qur’an ! 2. Bagaimana pendapat anda dengan keajaiban yang terdapat dalam benda lain? Apakah dapat disebut sebagai mukjizat? 3. Coba anda sajikan dalam bentuk kalimat tentang aspek-aspek yang terkandung dalam mukjizat al-Qur’an! 4. Sebutkan macam-macam mukjizat! 5. Jelaskan mengapa al-Qur’an adalah Mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw.!

48 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Tugas Amatilah orang-orang di sekitar tempat tinggalmu. Tuliskan contoh tindakan mereka yang mengindikasikan sedang menerapkan/mengaplikasikan kemukjizatan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari dan tuliskan tanggapanmu. Perilaku yang diamati Tanggapan Nilai Paraf Orangtua Paraf Guru

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 49 KEBENARAN AL-QUR’AN PADA SEMUA ASPEK KEHIDUPAN

50 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Selat Gibraltar menjadi bukti atas kebenaran QS al-Rahmān: 19-20, yaitu pertemuan dua air yang berbeda. Foto: hidabrud.com KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 51 KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati kebenaran al-Qur’an memuat semua aspek kehidupan; 2. Mengamalkan sikap teliti dalam mempelajari pokok-pokok isi al-Qur’an; 3. Menganalisis pokok-pokok isi al-Qur’an; 4. Mengomunikasikan pokok-pokok ajaran al-Qur’an dan contoh ayatnya. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menghayati kebenaran al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan; 2. Mengidentifikasi pokok-pokok isi al-Qur’an; 3. Menunjukkan ayat terkait dengan pokok isi al-Qur’an; 4. Menjelaskan kandungan ayat yang terkait dengan isi pokok ajaran al-Qur’an. PETA KONSEP

52 AL-QUR’AN HADIS KELAS X A. MARI RENUNGKAN Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6.325 ayat. Beberapa ulama menyebutkan 6.666 ayat. Kesemua bagian tersebut adalah kalamullah yang dapat dijadikan rujukan oleh umat Islam dalam kehidupan keseharian mereka. Dari sanalah hukum, ajaran dan pokok-pokok keimanan serta pengetahuan umat Islam berasal dan dikembangkan. Isi dan kandungan al-Qur’an yang sangat luas dapat mencakup seluruh aspek kehidupan umat Islam yang meliputi akidah, ibadah dan muamalah, akhlak, hukum, sejarah dan dasar-dasar ilmu pengetahuan (sains) serta teknlogi. B. MARI MENGAMATI Amatilah gambar-gambar berikut ini kemudian berikan tanggapanmu Aparat kepolisian melaksanakan salat di jalan ketika sedang menjalankan tugas negara www.Republika.co.id

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 53 C. MEMAHAMI KEBENARAN AJARAN AL-QUR’AN MEMUAT SEMUA ASPEK KEHIDUPAN Isi kandungan al-Qur’an digali dan dikembangkan ke dalam berbagai bidang disiplin keilmuan. Isi kandungan al-Qur’an secara garis besar meliputi : 1. Akidah Secara etimologi akidah artinya kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah ( ‘aqi>dah) adalah ‘aqa>’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan. Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (mukmin). Sedangkan secara terminologi akidah diartikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan. Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis. Seseorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak cukup hanya mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal saleh) dalam kehidupannya sehari-hari. Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah swt.. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah dinamakan musyrik. Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Adalah tidak benar bila ada seseorang mengaku berakidah/beriman, tetapi hanya beriman kepada Allah saja atau ia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja. Melainkan seorang mukmin wajib meyakini keenam rukun iman, yakni iman kepada Allah swt., iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab- kitab Allah, iman kepada rasul-rasul Allah, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qada’ dan qadar.

54 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Penjelasan al-Qur’an tentang pokok-pokok ajaran akidah yang wajib diyakini oleh umat Islam di antaranya adalah sebagai berikut : a. QS al-Ikhla>s} [112]: 1-4 َْ َََكُلََّللاََُٰهُىاَحَذ(٧) ََّللاََََُٰ ُالطمَذَ(٢َ)َْلَمًَََْلِذََْوَلَمََ ًُْىْلَذَ(٣َ)َْوَلَمًًَََُْىََلهََُهُفىًاََاَحَذَ(٤)َ Terjemahnya: Katakanlah (Muhammad), ‛Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. b. QS al-Baqarah [2]: 163 َ َْوَاِلََِهُىُمَاَلََهَََٓواحِذَلََاِلَََْلاِ ََهََهُىًَََُُالشحْمالشح ُِْم Terjemahnya: Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. c. QS al-Baqarah [2]: 285 َ ًَََاٌََُْمََٓالشظُىٌَََِبِمَاََِاُهْضًََِْاِل َُْهََمَ ََسبِّهََوَا ْلُْاْمِىُىْنََوُلًَََاّللََِٰمََبِاَوَمَلَىََىَخِهََوَهُخُبِهَََوَسُظُلِهََُلَََهُفَشِّقََبَيْنًَِّْاَحَذ ََمۚ ََسظُلِهَوَكَالُىْاَظَمِفْىَاًََََوَاَظَفْىَاَغُفْشَاهًََََُْسَبىَاََُوَاِلا ْلَْطِيْر Terjemahnya: ‚Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‛Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.‛ Dan mereka berkata, ‛Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali. 2. Ibadah dan Muamalah Secara bahasa, ibadah berasal dari kata َ عِبَادَة /ََ عَبَد – َ يَعْبد – ََ عَبََدا artinya mengabdi atau menyembah. Sedangkan secara terminologi, ibadah berarti menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah swt. dengan tunduk, taat dan

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 55 patuh kepada-Nya. Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan karena keyakinan terhadap keesaan dan keagungan Allah swt., sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah swt. sebagaimana tersurat dalam firman Allah swt. QS az- Zariyat [51] : 56 ََُوَمَاًِ ََخَلَلْذَََالْجََِْلاِ ََو َْلاِْوْغل َُِفْبُذُوْن Terjemahnya: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada- Ku. Manusia beribadah hanya kepada Allah swt. karena meyakini bahwa seluruh alam adalah ciptaan Allah swt.. Karenanya, manusia sepenuhnya sadar bahwa seluruh alam membutuhkan Allah swt.. Kesadaran pada kebutuhannya pada Sang Pencipta inilah yang kemudian mewujud dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah swt.. Terutama sekali karena memang Allah memerintahkan kepada seluruh manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya. Karena manusia hanya menyembah dan meminta pertolongan kepaada Allah swt., bukan selainnya sebagaimana firman Allah swt. dalam QS al-Fatihah [1]: 5 ََ ََُا ًِ انَََوَفْبُذُ ََوَا ًِ انوَعْخَفِيْن Terjemahnya: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. 3. Macam-macam Sifat Ibadah Dari sisi tata caranya, ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :

56 AL-QUR’AN HADIS KELAS X a. Ibadah mahd}ah, yaitu ibadah yang tata cara dan tekniknya telah ditentukan secara jelas dalam syariat seperti salat, puasa, zakat dan haji. b. Ibadah gairu mahd}ah, artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus. Ibadah gairu mahd}ah ada yang memang bentuknya adalah ibadah seperti membaca al-Qur’an atau bersedekah. Selain itu ibadah gairu mahd}ah juga bisa berupa kegiatan umum tetapi menjadi bernilai ibadah karena diniatkan untuk mencari rida Allah swt., seperti bekerja mencari rezeki nafkah yang halal diniatkan sebagai ibadah. Untuk mengatur dinamika kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, al- Qur’an mengajarkan tata cara berinteraksi dengan sesama manusia yang biasa disebut sebagai h}abl min an-na>s (َحَبْمٍَََِيََِان َُاش) . Sedangkan hubungan atau interaksi manusia sebagai individu dengan Tuhannya biasa disebut sebagai hablun minallah (َحَبْمٍَََِيََِهللا) . Di mana dua jenis interaksi ini juga diatur oleh al-Qur’an. Bagaimana caranya manusia bersilaturrahim, berjual beli, hutang piutang dan lain-lainnya diatur oleh hukum Islam yang sumber utamanya adalah al-Qur’an. Kegiatan dalam hubungan antar manusia juga biasa disebut dengan muamalah. Kita dapat menemukan banya sekali tuntunan al-Qur’an tentang tata cara bermuamalah, antara lain dalam QS al-Baqarah [2]: 282 َٓ ً ًًَََِْاَيهَاََالزَْٓامَىُىَاََْاِرَاًًَْ ََجَذَا ًَيْخُمََٓبِذاِلََىَاَحَلُ ََمعَمًّىََْفَاهْخُبُىْهََْوَل َُْىْخُبََب ِْىَىُمٌِْ ََوَاجِبَََبِالْفَذَََوَلًَََإْب ََْوَاجِبَََاَنًَ ىْخُبََُهَمَاْ ََّللاََُٰـَلمَهََِفَل َُْىْخُبََْوَل ُُْمْلِلََِالزِيََْـَل َُْهَالََِحَمََّللاَََٰوَل َُْخمَََسَبهََْوَلًَََُبْخَغًََٔمِىْهَش َُْـََْا َََفَاِنََْوَانََِالزِيََـَل َُْهَالْحَمََْظَفِيْهًاَاَوََْضَف ُِْفًاَََاَوََُلٌَََْعْخَع ُِْقََاَنمِل ًَََََْهُىََفَل ُُْمْلِلََوَل ُِ ه ٌَِْبِالْفَذ ًًَََِْوَاظْدَشْهِذُوْاًََِْشَه ُِْذََم ََْْسِّحَالِىُمََْفَاِنَلمًَََِيُىْهَاََسَحُلَيْنََفَشَحُلًًَََِْوامْشَاَجَََمِمًَََِجَشْضَىْنََم ََِالشهَذََْاءََاَن ََجَضِلاِحْذَََىهُمَاََفَخُزَهِّشاِحْذََىهُمَاَْلاُْخْشَََيَََوَلًَََإْب ََُالشهَذَاءَاِرَاَمَاََۚ ََدُـُىْاََوَلَْٓحَعْـمُىََْاََُاَنَجَىْخُبُىْهََْضَغِيْرًا َاَوََٓهَبِيْرًااِلََىََاَحَلِهَْرََُلِىُمَََاَكْعَغََُّللاََِٰـِىْذََِوَاَكْىَمََلِلشهَادَةَٓوَاَدْوََْْٓلاَ ََىجَشْجَابُىََْْلاِ ََٓاَََاَنًََجَيُىْنًََجِجَاسَةَحَاضِشَة ََْجُذ ًِْشُوْنَهَاَََب َِْىَىُمََْفَل َِْغََـَل َُْىُمََْلاَ ََحُىَاحََْٓجَىْخُبُىْهَاوَاَشْهِذُوَاََْاِرَاََۚ ََجَبَا ٌَفْخُمََوَلًَُضَاََسَََوَاجِبََولََشَه ُِْذَْە َوَاِنََجَفْفَلُىْاََفَاِههََْفُعُىْقۚ ََبِىُمَُۚ ََّللاَََٰوَاجلُىاَّللاَُٰۚ ََّللاََُٰو ََُفَلِّمُىُمََِّوََبِيُلََشخَيْءـَل ُِْم

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 57 Terjemahnya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. 4. Akhlak Secara etimologi, akhlak (َ اَخْالَق) berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Kata akhlak adalah bentuk jama’ dari kata (خهق). Secara terminologi, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari. Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak biasa diartikan sebagai etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam. Rasulullah saw. bahkan menegaskan bahwa tujuan diutusnya beliau adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia. ًََْ ـؤَبِي ََهُش ٍَْشَة ٌََكَا ٌََكَا ٌَُسَظُىّللا َِ ضَلىّللا َُ َِـَل َُْه ََوَظَلمبِهمَا َُبُفِشْذ ََِلُِجَمِّم ََضَالِح َِْلاَْخْالَق)سواه احمذ(

58 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. berkata; Rasulullah saw. bersabda: "Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.‛ (HR. Ahmad) Al-Qur’an adalah sumber pokok ajaran Isam tentang akhlak mulia, di mana Nabi Muhammad saw. adalah model dan suri tauladan pelaksanaanya. Nabi Muhammad saw. adalah manusia yang mencerminkan ajaran al-Qur’an sebagai perilakunya. Sehingga ketika Aisyah r.a. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak rasul, maka Aisyah r.a. menjawab dengan menyatakan ٌََ كَاََ ّخهقٌَََانقرْا (akhlaknya adalah al-Qur’an). Adapun di antara ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad saw. antara lain adalah : a. QS al-Qalam [68]: 4 ًََ ََوَاِهلَفَلََىََخُلُمـَؽ ُِْم Terjemahnya: Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. b. QS al-Ah}za>b [33]: 21 َْ َََلَلَذََْوَانََْلَىُمٌََِْفِيََّللاََِٰسَظُىََاُظْىَةَََْلًَََِّْحَعَىَتَوَانَََّللاًََََٰشْحُىاََْلاْ ََوَال َُْىْمَََخِشََّللاَََٰوَرَهَشهَشِيْرًا Terjemahnya: Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. 5. Hukum Dalam masalah hukum, al-Qur’an memuat kaidah-kaidah dan ketentuan dasar bagi umat manusia. Salah satu isi pokok ajaran al-Qur’an ini bertujuan untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat. Kandungan-

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 59 kandungan hukum yang terdapat di dalam al-Qur’an ada yang bersifat global (garis besar/ mujmal) dan ada yang bersifat rincian ( tafs}i>l). Beberapa ayat-ayat al-Qur’an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah : a. QS an-Nisa>’ [4]: 105 َٓ ََٓاِهاًََََُْاَهْضَلْىَاََاِلََالْىِخََِّبَََبِالْحَمََلِخَََحْىُمََِبَيْنََٓالىاطََبِمَاََّللاًًََََُٰاَس ًََََُْۚوَلََجَىًََ َلِّلْخَاَىِيْنََخَط ُِْمًا ۚ Terjemahnya: Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat b. QS al-Ma>idah [5]: 90 َٓ ً ًًَََِْاَيهَاََالزَْٓامَىُىَاََُاِهمَاََُالْخَمْشََُوَا ْلَِْْعِشََُو َْلاَْهْطَابََو َْلاَْصْلَمًََِّْسِحْغََِمََـَمَلًَََُِالش ُْعََْفَاحْخَيِبُىْهَََلَفَلىُم جُفْلِحُىْن Terjemahnya: Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat al-Qur’an antara lain adalah: a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS al-Baqarah: 221; QS al- Ma>idah: 5; QS an-Nisa>’: 22-24; QS an-Nu>r: 2; QS al-Mumtah}anah: 10-11. b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS an-Nisa>’: 7-12 dan 176, QS al- Baqarah:180; QS al-Ma>idah:106. c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS al-Baqarah: 279, 280 dan 282; QS al-Anfa>l: 56 dan 58; QS at-Taubah: 4. d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS al-Baqarah: 178; QS an-Nisa>’: 92 dan 93; QS al-Ma>idah: 38; QS Yu>nus: 27; QS al-Isra>’: 33; QS asy-Syu’ara>: 40.

60 AL-QUR’AN HADIS KELAS X e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS al-Baqarah: 190-193; QS al- Anfa>l: 39 dan 41; QS at-Taubah: 5,29 dan 123, QS al-H}a>jj: 39 dan 40. f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS al-H}ujura>t: 13 g. Dan lain-lain 6. Sejarah / Kisah Umat Masa Lalu Seperti telah kita ketahui pada pembahasan sebelumnya, al-Qur’an banyak menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah- kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam. Dengan berkaca dari kisah-kisah terdahulu, umat Islam bisa menjalani kehidupan agar sesuai dengan petunjuk yang diberikan al-Qur’an. Hal ini ditegaskan Allah swt. dalam firman-Nya QS Yusuf [12]: 111 َْ َََلَلَذََْوَانََْفِيََكَطَطِهِمَـِبْرَةِ ََلُِّولِىَْلاَْلْبَابَََمَاَوَانََحَذ ًِْشًاًَ فْتَرََيًَِْوَلَََىََْجَطْذ ًِْمَََالزِيََِبَيْنًََََذ ًَْه ََِّوَجَفْط ُِْلوُلَََشخَيْءًََوهُذًيََوسَحْمَتَََلِّلَىْمً اْمِىُىْن Terjemahnhya: Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dengan banyaknya kisah-kisah umat terdahulu di dalam al-Qur’an diharapkan umat Islam bisa mencontoh umat-umat yang taat kepada Allah swt. dan menghindari perbuatan maksiat kepada-Nya sebagaimana dilakukan oleh sebagaian umat terdahulu. Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain terdapat dalam QS al-Furqa>n [25]: 37-39 ََ ََوَكَىْمَهُىْحَْلاَََهَزبُىاَََالشظُلَؤَْغْشَكْنََهُمَْوَحَفَلْنََِهُمََلِلىاطً َاًََتََٰوَاَـْخَذْهَاََلِلؽَلِمِيْنَـَزَابًاََاَل ُِْمًا ًَۚ وَـَادََاََوزَمُىْدَاََوَاَصْحََِّبََالشطَََوَكُشُوْهًاََبَيْنًََِرَلهَشِيْرًا ًَّوَهُالَضَشَبْىَاََُلَهََ ٌَْلاَْمْشَاًََّوَهُالَجَبرْهَاَجَدْبِيْرًا

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 61 Terjemahnya : Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih. Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya. 6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) Dan Teknologi Al-Qur’an menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah hal yang sangat penting dalam meningkatkan peradaban manusia. Sebagai kalamullah, al-Qur’an banyak mengandung ayat-ayat yang memuat pengetahuan dan teknologi. Karenanya al-Qur’an adalah kitab suci yang ilmiah. Pengetahuan dan teknologi yang tersirat dalam kandungan al-Qur’an dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat al-Qur’an untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yaitu QS al-‘Alaq [96]: 1-5َْ ََِاِكْشَؤًَََِّبِاظْمََْسَبَ ََالزِيخَلَم ََخَلَمَََْلاِْوْعَانًََِْمََـَلَم َْاِكْشَؤًَََوَسَبَْلاَََْ ُهْشَم َْالزِيَََـَلمََ ِبِالْلَلَم ََـَلمَََ ْلاِْوْعَانَمَاََْلَمََ ٌَْفْلَم' Terjemahnya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Ini mengindikasikan bahwa al-Qur’an menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan. Ayat lain yang berisi dorongan untuk menguasai ilmu pengetahuan juga dijelaskan dalam QS al-Muja>dilah [58]: 11

62 AL-QUR’AN HADIS KELAS Xَٓ ً ًًَََِْاَيهَاََالزَْٓامَىُىَاَََاِرَاََْك ُِْلَلَىُمَجَفَسحُىْاََفِىَِا ْلَْجَلِغََِفَافْسَحُىْاْ ََّللاًَََُٰفْسَحَلَىُمَََوَاِرَاَك ُِْلَاوْشُضُوْا ََِفَاوْشُضُوْاًًَََِّْللاًَََُٰشْفَقََالزاْ ََمَىُىْاًًَََِْمِىْىُمََُوَالزؤَََوْجُىاََالْفِلْمَدَسَحَّللاََُٰذَوَََبِمَاََحَفْمَلُىْنخَبِيْر Terjemahnya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‚Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,‛ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‚Berdirilah kamu,‛ maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. Al-Qur’an banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut diantaranya berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya. Di mana dalam sejarah perkembangan peradabannya, umat Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil membuahkan penemuan-penemuan bersejarah dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, al-Khawarizmi, dan lain-lain. Penemuan- penemuan ini kemudian dikembangkan lagi oleh para ilmuwan barat ketika peradaban mereka meningkat. D. PERILAKU ORANG YANG MENJADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP Sebagai wahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi terakhir, al-Qur’an mengandung semua kunci untuk membuka pengetahuan Allah yang tidak terbatas. Hal ini tersurat dalam firman Allah swt. QS al-Kahfi [18]:109َْ ََْكُلَََلىََُوَانَالْبَحْشََمِذَادًاَِلِّيَلِمََْذَََسَبِّيََُلَىَفِذَََالْبَحْشََْكَبْلَََاَنََجَىْفَذَُوَلِمََْذََْسَبِّيَوَلَىََحِئْىَاَبِمِشْلِهمَذَدًا

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 63 Terjemahnya: Katakanlah (Muhammad), ‚Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). Dan tentu saja al-Qur`an adalah petunjuk Allah untuk menyingkap semua misteri ilmu pengetahuan yang belum terpecahkan. (QS Al-Baqarah [2]: 2). Maka tinggal kita sebagai umat Islam yang hidup di masa kini dan yang akan datang, sanggupkah untuk mengungkap pengetahuan lebih banyak lagi dari kandungan- kandungan yang tersurat di dalam al-Qur’an. Umat Islam mestinya terus mempelajari al-Qur’an dan kandungan-kandungan yang terdapat di dalamnya sesuai dengan kapasitas dan bidang keilmuannya masing- masing. Dengan mempelajari al-Quran, setidaknya seseorang akan terlepas dari kebodohan dan kesesatan dalam mengarungi kehidupan ini. Orang-orang yang selalu berpedoman pada ajaran yang disampaikan oleh al- Qur’an maka hatinya menjadi lembut serta senantiasa berlapang dada. Jiwa mereka seluas samudera dalam menerima petunjuk-petunjuk dan titah-titah ketuhanan. Mereka tumbuh dan menjelma menjadi pribadi terbaik dalam potensinya. Rasulullah saw. bersabda : ‚Sebaik-baik manusia adalah siapa yang belajar al-Quran dan mengajarkannya kepada orang lain‛. (H.R. Bukhari dari Usman ibn `Affan r.a). Membaca, menelaah, menganalisa, memahami, mendalami, menyelami, mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupan keseharian, akan menumbuhkan hikmah dan kebijaksanaan dalam kehidupan. Proses mengamalkan dan menjadikannya al- Qur’an sebagai akhlak dalam kehidupan sehari-hari seringkali disebut sebagai upaya untuk membumikan al-Quran. E. MARI BERDISKUSI Diskusikan dengan teman dan kelompokmu tentang pokok-pokok kandungan isi al- Qur’an kemudian bersiaplah mempresentasikan hasilnya di depan kelas.

64 AL-QUR’AN HADIS KELAS X F. RANGKUMAN 1. Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang lengkap dan sempurna. Al-Qur’an juga memuat isi dan kandungan kitab-kitab suci sebelumnya; 2. Al-Qur’an mengandung 6 isi pokok ajaran yang meliputi : akidah, ibadah dan muamalah, akhlak, hukum, sejarah/kisah umat zaman dahulu dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi; G. AYO BERLATIH I. Bacalah ayat al-Qur’an di bawah ini dan sebutkan kandungan pokoknyaََ َْلَََلَذََْوَانََْلَىُمٌََِْفِيََّللاََِٰسَظُىََاُظْىَةَََْلًَََِّْحَعَىَتَوَانَََّللاًََََٰشْحُىاََْلاْ ََوَال َُْىْمَََخِشََّللاَََٰوَرَهَشهَشِيْرًا II. Uraian 1. Sebutkan isi pokok kandungan al-Qur’an ! 2. Jelaskan pengertian ibadah ! 3. Bagaimana analisis saudara tentang ayat-ayat saintifik dalam al-Qur’an? Jelaskan.! 4. Jelaskan maksud hukum Islam bersumber dari al-Qur’an. ! Tugas Amati perilaku orang di sekitarmu yang berpegang teguh kepada al-Qur’an. Berikan tanggapanmu terkait dengan pengetahuan dari al-Qur’an Perilaku yang Diamati Tanggapanmu Nilai Paraf Orangtua Paraf Guru

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 65 KEBENARAN AL-QUR’AN BERLAKU SEPANJANG ZAMAN

66 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Rumuspintar.com KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunnya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 67 KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati Kebenaran al-Qur’an berlaku sepanjang zaman 2. Memiliki disiplin dalam memmpelajari struktur al-Qur’an 3. Menganalisis struktur ayat dan surat dalam al-Qur’an 4. Mempraktikkan cara pencarian ayat dengan menggunakan kitab indeks atau kitab mu’jam. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Mengidentifikasi kebenaran al-Qur’an berlaku sepanjang zaman. 2. Menganalisis struktur ayat-ayat dan surat dalam al-Qur’an. 3. Menggunakan kitab indeks atau kitab mu’jam untuk mempelajari al-Qur’an. PETA KONSEP

68 AL-QUR’AN HADIS KELAS X A. MARI RENUNGKAN Al-Qur’an adalah Kitabullah yang memuat seluruh aspek kehidupan manusia beserta seluruh hal yang melingkupinya. Sejak manusia dahulu zaman belum diciptakan dan dilahirkan hingga kelak setelah manusia meninggal dunia dan akhir zaman. Betapa luasnya pembahasan al-Qur’an dan betapa luasnya kandungan al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur dalam waktu sekitar 23 tahunan sejak pertama kali diwahyukan di gua Hira Makkah sebagai tanda kerasulan Muhammad saw. hingga sebellum wafatnya Rasulullah saw. di Madinah. Di salin dan di hafalkan oleh para sahabat dan kemudian selesai dikumpulkan/dikodifikasi pada zaman khalifah Usman r.a. Kini kita mendapati al-Qur’an sebagai kitab suci yang utuh dalam satu mushaf, yang rapi tersimpan di rak-rak di atas meja dan terinstal di dalam gadget kita. Lalu bagaimana cara kita dapat menemukan suatu pedoman di dalamnya? Atau bagaimana kita memahami kisah-kisahnya? Potongan-potongannya? B. MARI MENGAMATI Amatilah gambar di bawah ini lalu berikan tanggapanmu Nahdlatululama.id

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 69 C. KEBENARAN AL-QUR’AN BERLAKU SEPANJANG ZAMAN Al-Qur’an yang kita gunakan sekarang sudah sedemikian rupa adanya. Tercetak dengan rapi pada sejilid kertas dengan berbagai tanda baca dan hiasan di dalam maupun di luarnya. Dengan terjemahan dan keterangan-keterangan penunjang dan berbagai variasinya. Atau berupa tulisan di layar-layar computer/laptop dan handphone atau peralatan lainnya. Dalam bentuk aplikasi tersendiri maupun include di berbagai laman- laman internet. Al-Qur’an juga diperdengarkan dalam berbagai acara perkumpulan, baik acara keagamaan, bisnis, sosial maupun pemerintahan. Berbagai penggalan al-Qur’an juga sering kita dengar dari para penceramah, motivator dan terutama para ulama setiap mereka berpidato. Pernahkah kita berpikir bagaimana mereka menggunakan kutipan- kutipan al-Qur’an dalam setiap pembicaraan mereka? Mari kita belajar struktur al-Qur’an dan cara mencari dan menggunakannya. 1. Komposisi dan Pembagian Al-Qur’an Dalam bab sebelumnya tentang kemukjizatan al-Qur’an, kita pernah belajar bahwa salah satu keunikan kemukjizatan al-Qur’an adalah keunikannya yang tidak bisa ditiru oleh siapa pun. Banyak rahasia yang masih belum terungkap dalam al- Qur’an. Sekarang mari kita bedah tentang struktur al-Qur’an dan hal-hal yang biasa digunakan oleh para pembelajar al-Qur’an untuk mengkajinya. Al-Qur’an terdiri atas 114 surah, 30 juz dan 6236 ayat menurut riwayat Imam Hafs}, 6262 ayat menurut riwayat ad-Dur, atau 6214 ayat menurut riwayat Warsy. Secara tradisional bahkan lebih mudah di katakan bahwa al-Qur’an terdiri dari 6.666 ayat. Pendapat ini pernah disampaikan dalam bab sebelumnya. Secara umum, al- Qur’an terbagi menjadi 30 bagian yang dikenal dengan nama juz. Pembagian juz memudahkan mereka yang ingin menuntaskan pembacaan al-Qur’an dalam kurun waktu 30 hari. Pembagian ini paling terkenal karena digunakan seluruh dunia dan di tandai dengan jelas oleh setiap percetakan dan penerbit al-Qur’an. Terdapat pembagian lain yang disebut manzil, yang membagi al-Qur’an menjadi 7 bagian. Manzil يُسل dalam bahasa Arab juga biasa diartikan tempat

70 AL-QUR’AN HADIS KELAS X istirahat, secara istilah disini adalah sebuah sistem pembagian pembacaan al-Qur’an untuk memudahkan penyelesaian (pengkhataman) al-Qur’an selama tujuh hari (seminggu). Manzil terdiri dari tujuh bagian yakni: Manzil Juz Surah Dari Surah Hingga Surah 1 1-6 1-4 Al-Fa>tih}ah An-Nisa>' 2 6-11 5-9 Al-Ma>'idah At-Taubah 3 11-14 10-16 Yu>nus An-Nah}l 4 15-19 17-25 Al-Isra>' Al-Furqa>n 5 19-23 26-36 Asy-Syu'ara> Ya>si>n 6 23-26 37-49 As}-S}affa>t Al-H}ujura>t 7 26-30 50-114 Qaf An-Na>s 2. Makkiyah dan Madaniyah Secara garis besar, Rasulullah saw. menerima wahyu di Makkah sebelum hijrah dan di Madinah setelah hijrah. Para ulama kemudian mengkategorikan ayat- ayat yang diterima sebelum hijrah sebagai Makkiyah dan yang diwahyukan setelah hijrah sebagai Madaniyah meskipun diwahyukan di Makkah seperti pada waktu haji wada.’ Namun ada juga ulama yang berpendapat bahwa Makkiyah adalah ayat-ayat yang diterima Rasulullah saw. di Makkah meskipun setelah hijrah ke Madinah, sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang diterima Rasulullah saw. di Madinah. Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah dianggap lebih tepat, sebab terdapat surah Madaniyah yang turun di Makkah. Ciri-ciri Makkiyah antara lain: a. Surat-surat pendek b. Ayat-ayatnya pendek-pendek

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 71 c. Membahas prinsip keimanan dan akhlak d. Ayat yang jika dibaca, maka disunnahkan kepada pembaca dan pendengarnya untuk melakukan sujud (ayat Sajdah) e. Terdapat kata kalla> (disebut 33 kali) f. Kisah nabi-nabi dan umat-umat terdahulu (kecuali surah al-Baqarah) g. Kisah Nabi Adam a.s. dan Iblis (kecuali surah al-Baqarah) h. Pembukaan surah berupa huruf-huruf lepas, seperti qaf, s}ad, alif-lam-mim-ra, alif- lam-mim (kecuali surah al-Baqarah dan surah A>li ‘Imra>n) i. Cenderung puitis, menyentuh hati dan banyak terdapat kesamaan bunyi j. Contoh surat al-ikhla>s}, surat an-na>s dan surat al-falaq Ciri-ciri Madaniyah antara lain: a. Surat dan ayatnya panjang-panjang b. Izin untuk perang dan hukum-hukumnya c. Rincian hukum tentang hudud, ibadah, undang-undang sipil, sosial, dan hubungan antar-negara d. Penyebutan tentang kaum munafik (kecuali surah al-‘Ankabu>t) e. Penyebutan tentang ahli kitab f. Ungkapannya tenang, cenderung prosais, yang ditujunya adalah akal pikiran g. Banyak mengemukakan bukti dan argumentasi mengenai kebenaran-kebenaran agama. h. Contoh : Surat al-Baqarah dan A>li ‘Imra>n 3. Maqra’ atau ruku>’ Maqra’ adalah sub pembahasan dalam al-Qur’an yang pada al-Qur’an model lama biasanya ditandai dengan huruf ain (ع) di sisi kiri atau kanan halaman al- Qur’an. Sub pembahasan ini juga biasa disebut sebagai ruku>’ dinisbatkan kepada ruku>’ salat karena dahulu biasanya dibaca setelah al-Fatihah sebelum rukuk pada waktu salat. Setiap maqra’ atau ruku>’ biasanya berisi satu sub pembahasan tertentu. Misal pembahasan tentang kisah Nabi Musa, pembahasan tentang Nabi Yusuf, pembahasan

72 AL-QUR’AN HADIS KELAS X tentang akhirat dan lain sebagainya. Maqra' juga biasa digunakan oleh para qari atau qariah ketika membackan ayat-ayat al-Qur’an pada acara-acara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan acara-acara keagamaan lainnya. 4. Lafaz Basmalah Lafaz Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m (ًَََِِالشح ُِم َِّللاَِّالشحْم بِعْم) merupakan ciri di hampir seluruh pembuka surah di al-Qur’an selain Surah at-Taubah. Walaupun demikian, terdapat 114 lafaz Bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m yang setara dengan jumlah 114 surah dalam al-Quran, oleh sebab lafaz ini disebut dua kali dalam Surah an-Naml, yakni pada bagian pembuka surah serta pada ayat ke-30 yang berkaitan dengan sebuah surat dari raja Sulaiman kepada ratu Saba. 5. Mu’jam (Kamus kumpulan) Untuk mencari ayat-ayat yang berhubungan dengan suatu istilah tertentu, biasanya digunakan kamus khusus al-Qur’an yang biasa disebut sebagai mu’jam. Kamus-kamus al-Qur’an ini biasa menggunakan daftar istilah untuk mengumpulkan daftar bahasan-bahasan tertentu dalam al-Qur’an. Di antara kitab-kitab kamus al- Qur’an yang terkenal adalah Kitab al-Mu’jam al-Mufahras Lialfaz}i al-Qur’an al- Kari>m karya Syekh Muhammad Fuad Abdul Baqi dan al-Mu'jam al-Mufahras li- Ma’a>ni al-Qur’an al-Kari>m karya Muhammad Bassam Rusydi al-Zain. D. MARI BERDISKUSI Diskusikan pengetahuanmu tentang struktur al-Qur’an bersama dengan temanmu dan presentasikan di depan kelas, Sekaligus juga berlatih tentang cara mencari ayat al-Qur’an dengan menggunakan Mu’jam al-Qur’an. E. RANGKUMAN 1. Pembagian al-Qur’an dimaksudkan untuk memudahkan bagi umat Islam dalam membaca dan mempelajari kandungan isi al-Qur’an; 2. Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah menunjukkan fase-fase turunnya al-Qur’an;

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 73 3. Jumlah Basmalah sama di dalam al-Qur’an sama dengan jumlah surat dalam al- Qur’an. Surat at-Taubah tanpa basmalah dan surat an-Naml memiliki dua basmalah, di permulaan surat dan di dalam surat; 4. Maqra’ berfungsi untuk menandai bacaan al-Qur’an pada sub pembahasan tertentu. F. AYO BERLATIH I. Penerapan Tulislah salah satu ayat al-Qur’an dari surat al-Baqarah dan sebutkan keselarasannya ketika dibaca dalam suatu acara: Acara Silaturrahmi II. Uraian 1. Jelaskan maksud dari pembagian struktur al-Qur’an! 2. Jelaskan ciri-ciri surat Makkiyah ! 3. Jelaskan ciri-ciri surat Madaniyah ! 4. Sebutkan penyebutan lengkap ayat al-Qur’an yang mengandung kalimat basmalah. !

74 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Tugas 1. Amatilah prosesi pembacaan al-Qur’an pada acara-acara harian/insidental di sekelilingmu. Berikan tanggapanmu kenapa ayat/surat tersebut yang dibaca. 2. Coba anda deskripsikan tentang operasional mencari al-Qur’an dengan menggunakan Mu’jam al-Qur’an secara rimci dan detail! Acara Ayat/Surat yang dibaca Tanggapanmu : Nilai Paraf Orangtua Paraf Guru

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 75 PENILAIAN AKHIR SEMESTER Pilihlah Jawaban yang paling benar! 1. Al-Qur’an secara etimologi memiliki arti bacaan, definisi tersebut dikemukakan oleh …. A. al-Asy’ari C. Al-Farra’ E. Asy-Syafi’i B. Al-Lihyaniy D. az-Zujaj 2. ‚Al-Qur’an ialah lafaz (firman Allah Swt.) yang berbahasa Arab, yang diturunkan kepada Muhammad saw., untuk dipahami isinya dan selalu diingat, yang disampaikan dengan cara mutawatir, yang ditulis dalam mushaf, yang dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas.‛ …. A. Subkhi Shalih C. Muhammad Abduh E. Muhammad Khudhary Beik B. Manna’ Qat}t}a>n D. Imam Asy-Syafi’i 3. اَْلًََََِا ْلُْعْلِمِيْن ًََْـَجَى َبِحِفْؽِه َِم لُشْؤَن َُهُى ََالْلُشْؤَن َُا ْلَْىْخُىْب َُفِى َا ْلَْطَاحِف َِا ْلَْحْفُىْػ َِفِى َضُذُوْس َم Al-Qur’an adalah bacaan yang tertulis dalam mushaf-mushaf yang terjaga dalam hati orang yang menghafalnya di antara orang-orang Islam. Pendapat ini dikemukakan oleh…. A. Muhammad Khudhary Beik C. Muhammad Abduh E. Subkhi Shalih B. Manna’ Qaththan D. Imam Asy-Syafi’i 4. ََْ اَلٌََُْـَلَى َالىبِي َِّضَلى َللا َُـَل َُْه َِوَظَلم ََا َْلَْى لُشْؤَن َُهُى ََهِخَاب َُا ْلُْعْجِض َِا ْلُْنَزٌََُِْـَل َُْه خُىْب َُفِى َا ْلَْطَاحِف َِا َْلَْىْلُىَِ بِالخىَاجُش َِا َْلُْخَفَبذ َُبِخِالَوَجِه Definisi al-Qur’an di atas dinyatakan oleh …. A. Subkhi Shalih C. Muhammad Abduh E. Muhammad Khudhary Beik B. Manna’ Qaththan D. Imam Asy-Syafi’i 5. Berikut ini unsur-unsur al-Qur’an, kecuali…. A. firman Allah Swt D. Disampaikan dengan cara mutawatir B. berbahasa Arab E. Diturunkan kepada nabi Muhammad saw. C. tidak ada unsur mukjizat 6. Al-Qur’an adalah nama khusus yang di berikan Allah untuk kitab suci yang di turunkan kepada Nabi Muhammad saw., hal ini adalah menurut pendapat…. A. Imam Al Farra’ C>. Al-Zujaj E. Imam Syafi’i B. Al-Asy’ari D. Imam Hanafi 7. Nama lain al-Qur’an ada beberapa. Di bawah yang tidak termasuk nama al-Qur’an adalah…. A. al-Mukarram B. az-Zikr C. al- Furqan D. a t- Tanzil E. al-Kitab 8. Nama lain al-Qur’an adalah al-Kitab artinya adalah …. A. yang diturunkan B. yang dibaca C. pembeda D. peringatan E. yang ditulis 9. Nama lain al-Qur’an adalah al-Furqan artinya adalah …. A. yang ditulis C. pembeda B. yang dibaca D. peringatan E.yang diturunkan 10. Nama lain al-Qur’an yang berarti ‚ pemberi peringatan‛ adalah …. A . at-Tanziil B . az- zikr C . al-Furqaan D . al-Kitaab E . al-Qur’an 11. Berikut ini perilaku orang-orang yang berpegang teguh pada al-Qur’an kecuali …. A. memiliki budi pekerti yang luhur D. taat beribadah B. bergaul sesama manusia dengan baik E. berakhlak mulia C. malas mengaji

76 AL-QUR’AN HADIS KELAS X 12. Arti mukjizat secara etimologi adalah …. A. menakjubkan B. menandingi C. melemahkan D. melawan E. memusuhi 13. Fungsi pokok mukjizat bagi Nabi dan Rasul adalah sebagai…. A. bukti bahwa kenabian/kerasulan D. alat untuk menyombongkan diri B. bukti kekuatan fisiknya E. alat untuk menakuti musuhnya C. obat untuk menyembuhkan penyakit 14. Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Saw. Di bawah ini adalah bukti bahwa al-Qur’an sebagai mukjizat yang terbesar adalah .… A. kitab yang berisi ajaran yang kurang sempurna B. diberikan kepada semua nabi dan rasul C. hanya orang cerdas yang dapat memahami D. al-Qur’an berlaku kekal sepanjang masa E. isinya sangat rumit, sehingga sulit dipahami 15. Berikut merupakan aspek kemu’jizatan al-Qur’an dilihat dari aspek bahasa yang digunakannya …. A. mengandung isyarat-isyarat yang ilmiah B. bahasa dan susunan kalimatnya biasa saja C. keseimbangan penggunaan kata-kata D. berisi berita tentang hal-hal yang bersifat gaib E. pengungakapan kata-kata yang kurang teliti 16. Berikut merupakan aspek kemu’jizatan al-Qur’an dilihat dari aspek kandungannya …. A. berisi berita tentang hal-hal yang bersifat gaib B. bahasa dan susunan kalimatnya biasa saja C. berisi hukum-hukum yang berlaku di tanah Arab saja D. mengandung isyarat-isyarat yang tidak ilmiah E. bahasanya sulit dimengerti oleh orang awam 17. Perhatikan ayat berikut! ََ ًَُْهَضلْىَا َالزِّهْش بِها َهَح ََ وَإِها َلَه َُلَحَافِؽُىْن Terjemahan kalimat yang bergaris bawah adalah ‚dan pasti Kami yang …. A. menyimpangnya C. menjaganya E. yang menguncinya B. menciptakannya D. menghancurkannya 18. Perhatikan ayat berikut! ًَِْ ًَِْمِّشْلِه َِوَدْـُىْا َشُهَذَاءَهُم َْم َْوَإِن َْهُىْخُم َْفِى َس ٍَْب َمِما َهَضلْىَا َـَلَى َـَبْذِهَا َفَإْجُى َْبِعُىْسَة َمََدُوْن َِللا َِبِن َْهُىْخُم ضَادِكِيْن. Ayat tersebut merupakan tantangan Allah Swt kepada manusia untuk mendatangkan semisal al-Qur’an sebanyak …. A. keseluruhan ayat C. sepuluh surah semisal E. satu surah B. sepuluh ayat D. satu ayat 19. Al-Qur’an adalah sumber ajaran Islam yang .… A. pertama B. kedua C. ketiga D. keempat E. kelima 20…. ًََِالْىِخَاب َُل ََس ٍَْب ََف ُِْه َِهُذًي رَال Lanjutan ayat di atas…. A. ََ لِلْمُحْعِىِيْن B. َِ لِلىاط C. ََ لِلْمُاْمِىِيْن D. ََ لِلْمُخلِيْن E. ًَ وَسَحْمَت

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 77 21. Berdasarkan QS. al-Baqarah: 2, al-Qur’an berfungsi sebagai…. A. Peringatan B. Pelajaran C. Petunjuk D. Penyelamat E. Pembeda 22. ل ََس ٍَْب ََف ُِْه َِهُذًي... Terjemahannya potongan ayat di atas ‚ tidak ada …‛ A. kesalahan didalam al-Qur’an D. kesulitan di dalam al-Qur’an B. keraguan di dalam al-Qur’an E. kelemahan di dalam al-Qur’an C. kekurangan di dalam al-Qur’an 23. Potongan ayat yang mengandung makna tentang fungsi al-Qur’an sebagai peringatan pada ayat di di bawah adalah… ًََْحَىْلَهَا وَهَزَا َهِخَاب َؤَهْضَلْىَاه َُمُبَاسَن َمُطَذِّق َالزِي َْبَيْن ًَََذ ًَْه َِوَلِخُىْزِس ََؤُم َالْلُشَي َوَم A. َُ ؤَهْضَلْىَاه B. َ مُبَاسَن C. ََ لِخُىْزِس D. َ ؤُم َالْلُشَي E. ًََْحَىْلَهَا م 24. Al-Qur’an berfungsi sebagai sumber pokok ajaran Islam. Hal ini dijelaskan dalam … A. Q.S. an-Nisa 105 C. Q.S. an-Nisa 106 E. Q.S. an-Nisa 107 B. Q.S. al-Baqarah 105 D. Q.S. al-Baqarah 106 25. Al-Qur’an berfungsi sebagai peringatan dan pelajaran bagi manusia. Hal ini dijelaskan dalam … A. Q.S. al-A’raf:1 C. Q.S. al-A’raf:2 E. Q.S. al-A’raf: 3 B. Q.S. al-A’raf: 4 D. Q.S. al-A’raf: 5 26. Dalam al-Qur’an banyak terkandung kisah-kisah umat masa lalu, tujuan utamanya untuk … A. menakut-nakuti manusia C. menambah pengetahuan E. menghibur manusia B. melengkapi isi al-Qur’an D. menjadi pelajaran dan peringatan 27.َْ َْلاَْمْش َِمِىْىُم ًًََِْؤَمَىُى َْؤَظ ُِْفُىْا َ... َوَؤَظ ُِْفُىْا َالشظُى ٌََْوَؤُوْلِى ًَا َؤَيهَا َالز Lanjutan ayat di atas…. A.ََ الش ُّْعَان B. َِ الىاط C.ََ مُحَمّذ D. ََ مَلَئِىَت E. ََ للا 28. Maksud ayat di atas (no. 27) perintah untuk taat kepada .... A. Allah, Rasul dan manusia D. semua pimpinan B. Presiden, Gubernur dan walikota E. Allah, Rasul dan Pemerintah C. Allah, Rasul dan Malaikat 29. Tujuan utama diturunkannya al-Qur’an kepada umat manusia adalah agar manusia … A. selamat di dunia saja D. bisa melihat dan menyaksikannya B. tahu cara mencari rezeki E. mau membacanya tiap hari C. selamat dan bahagia dunia dan akhirat 30. Isi pokok ajaran al-Qur’an ada 6, yaitu… A. akidah, ibadah dan mu’amalah, akhlak, hukum, sejarah dan dasar-dasar sains B. akidah, ibadah, akhlak, hukum atau syari’ah, sejarah, dan kisah umat terdahulu C. akidah, ketauhidan, akhlak, hukum, sejarah, sejarah dan dasar-dasar sains D. akidah, ibadah mahdah, ibadah ghairu mahdah, hukum, sejarah, dan sains E. akidah, ibadah, mu’amalah, hukum, sejarah, kisah-kisah umat terdahulu, dan sains

78 AL-QUR’AN HADIS KELAS X 31. Ayat berikut ini berisi tentang masalah akidah… A.ًََِ َو َْلاِْوْغ ََبِل ٌََفْبُذُوْن وَمَاخَلَلْذ َُالْج D.َ ًِ ًََوَعْخَفِيْن ب ًِ ان ََوَفْبُذ َُوَإ B. َْ ًََِّالزِي َْخَلَم بِكْشؤ َْبِاظْم َِسَب E.ًََُالشح ُِْمَُ وَإِلَهُىُم َْبِلَه َواحِذ َل ََبِلَه ََبِل َهُى ََالشحْم C.َِ للَذ َْوَان ََلَىُم َْفِى َسَظُى ٌَِْللََؤُظْىَة َحَعَىَت 32. Ayat berikut ini berisi tentang masalah akhlak… A.ََ ًِ َو َْلاِْوْغ ََبِل ٌََفْبُذُوْن وَمَاخَلَلْذ َُالْج D. َُ ًََُالشح ُِْم وَإِلَهُىُم َْبِلَه َواحِذ َل ََبِلَه ََبِل َهُى ََالشحْم B.َْ ًََِّالزِي َْخَلَم بِكْشؤ َْبِاظْم َِسَب E. َ ًِ ًََوَعْخَفِيْن ب ًِ ان ََوَفْبُذ َُوَإ C. َ لَلَذ َْوَان ََلَىُم َْفِى َسَظُى ٌَِْلل َِؤُظْىَة َحَعَىَت 33. Ayat berikut ini berisi tentang masalah ibadah… A. َ لَلَذ َْوَان ََلَىُم َْفِى َسَظُى ٌَِْلل َِؤُظْىَة َحَعَىَت D.َِ وَإِلَهُىُم َْبِلَه َواحِذ َل ََبًَََُُالشح ُِْم لَه ََبِل َهُى ََالشحْم B. َ ًِ ًََوَعْخَفِيْن ب ًِ ان ََوَفْبُذ َُوَإ E. َْ ًََِّالزِي َْخَلَم بِكْشؤ َْبِاظْم َِسَب C. ََ ًِ َو َْلاِْوْغ ََبِل ٌََفْبُذُوْن وَمَاخَلَلْذ َُالْج 34. Perhatikan ayat berikut!ََ ًَََُْالْىَخَاب بِها َؤَهْضَلْىَا َبِلََِبِالْحَم َِّلِخَحْىُم ََبَيْن َََالىاط Ayat di atas berisi ajaran al-Qur’an tentang .... A. hukum C. ibadah E. iptek B. muamalah D. akhlak 35. Perhatikan ayat berikut! . ًََِّالزِي َْخَلَم بِكْشؤ َْبِاظْم َِسَب Ayat di atas berisi ajaran al-Qur’an tentang .... A. muamalah C. akidah E. iptek B. akhlak D. kisah-kisah 36. َ ًََلَفَلَى َخُلْم َـَؽ ُِْم وَإِه Ayat di atas berisi ajaran al-Qur’an tentang ... A. muamalah C. akhlak E. iptek B. akidah D. kisah-kisah 37. ًَِْ ًَشْفَق َِللا َُالزًًََِْؤُوْجُى َْالْفِلْم ََدَسَحَذ... ًََؤَمَىُى َْمِىْىُم َْوَالز Ayat di atas berisi ajaran al-Qur’an tentang .... A. kisah-kisah C. akhlak E. iptek B. ibadah D. muamalah 38. َ ًَِْظُالَلَت َْلاِْوْعَان ََم وَلَلَذ َْخَلَلْىَا Ayat diatas mengaskan bahwa manusia diciptakan dari … A. tanah D. kuasa Allah Swt B. tulang rusuk E. manusia laki-laki dan perempuan C. sari pati tanah

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 79 39. ََ وَحَفَل ََلَىُم َُالعمْق ََو َْلاَْبْطَاس ََو َْلاَْفْئِذَة ... Dalam perkembangan fungsi indra pada seorang bayi menurut ayat diatas, urutan perkembangannya adalah … A. penglihatan, pendengaran dan hati D. hati, penglihatan dan pendengaran B. pendengaran, hati dan penglihatan E. pendengaran, penglihatan dan hati C. penglihatan, hati dan pendengaran 40. Manusia ditugaskan sebagai khalifah, maksudnya … A. wakil B. melaksanakan tugas C. pemimpin di muka bumi D. penegak hukum di antara manusia E. merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt.

80 AL-QUR’AN HADIS KELAS X SEMESTER GENAP

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 81 MEMAHAMI HADIS, SUNNAH, ATSAR DAN KHABAR

82 AL-QUR’AN HADIS KELAS X www.Islam.nu.or.id KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunnya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 83 KOMPETENSI DASAR 1. Menerima perbedaan hadis, sunah, khabar dan atsar Rasulullah; 2. Mengamalkan sikap kritis dalam mempelajari perbedaan antara hadis, sunah, khabar dan atsar; 3. Membandingkan pengertian hadis, sunah, khabar dan atsar (macam-macam sunah); 4. Menyajikan hasil perbandingan hadis, sunah, khabar dan atsar. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menjelaskan pengertian hadis, sunah, khabar dan atsar; 2. Membedakan hadis, sunah, khabar dan atsar; 3. Mengidentifikasi persamaan hadis, sunah, khabar dan atsar. PETA KONSEP

84 AL-QUR’AN HADIS KELAS X A. MARI RENUNGKAN Sunah adalah sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an, sehingga kedudukannya sangatlah penting di dalam hukum dan ajaran-ajaran Islam. Sunah sangat berkaitan erat dengan al-Qur’an, khususnya dalam hal pentingnya sunah untuk memahami al-Qur’an. Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa tanpa sunah tidak ada seorangpun yang mampu memahami al-Qur’an. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa sunah tidak dapat ditinggalkan dalam mempelajari agama Islam. B. MARI MENGAMATI Amatilah gambar di bawah ini lalu berikan tanggapanmu Salah satu gambar dalam kitab aṭlās al-hadīs| yang mengambarkan peta pencarian hadis oleh Imam Bukhari C. MARI MEMAHAMI 1. Pengertian Hadis Kata hadis berasal dari bahasa arab حدث،َيحدثَحدثاَحديثا yang memiliki arti bercerita atau memberitahu informasi. Sedangkan menurut terminologi, hadis diberi pengertian yang berbeda–beda oleh para ulama berdasarkan bidang keilmuannya, antara lain:

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 85 Menurut ulama us}u>l, pengertian hadis dijelaskan sebagai berikut: َولَماًَضذسَـَالىبىَصَمَغيرَاللشاناًَلىشٍمٌََمَكىَاوففلَاوجلشٍشَمماًَطلحََانًَيىنَدلُال َلحىمششعى Artinya: Hadis yaitu segala sesuatu yang dikeluarkan dari Nabi saw.. selain al Qur’an al Karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan hukum syara Sedangkan menurut ulama fikih, hadis dijelaskan sebagai: َولًَمازبذَـَالىبىَصَمًَولمًًَىَمَبابَالفشضَولالىاحب Artinya: Segala sesuatu yang ditetapkan Nabi saw.. yang tidak bersangkut paut dengan masalah-masalah fardu atau wajib Para ahli us}u>l memberi pengertian yang demikian disebabkan mereka bergelut dalam ilmu us}u>l yang banyak mempelajari tentang hukum syariat saja. Dalam pengertian tersebut hanya yang berhubungan dengan syara’ saja yang merupakan hadis, selain itu bukan hadis, misalnya urusan berpakaian. Sedangkan menurut ulama hadis mendefinisikan hadis sebagai berikut : َولَماؤًَزشَـَالىبىَصًَمٌََمَكىؤَوَففلؤَوَجلشٍشؤَوَضفتََخللُتؤَوخللُت Artinya: Segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi saw.. baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, sifat–sifat maupun hal ihwal Nabi. Menurut jumhur muh}addis|i>n (mayoritas ahli hadis) sebagaimana ditulis oleh Fatchur Rahman adalah sebagai berikut: َماؤَضُفَللىبىَصَمَكىلؤَوَففالؤَوَجلشٍشاؤَوهحىها

86 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Artinya: Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw.. baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan dan yang sebagainya‛ Perbedaan pengertian antara ulama us}u>l dan ulama hadis di atas disebabkan adanya perbedaan disiplin ilmu yang mempunyai pembahasan dan tujuan masing– masing. Ulama us}u>l membahas pribadi dan prilaku Nabi saw.. sebagai peletak dasar hukum syara’ yang dijadikan landasan ijtihad oleh kaum mujtahid dizaman sesudah beliau. Sedangkan ulama hadis membahas pribadi dan perilaku Nabi saw.. sebagai tokoh panutan (pemimpin) yang telah diberi gelar oleh Allah swt. sebagai Uswah wa Qudwah (teladan dan tuntunan). Oleh sebab itu ulama hadis mencatat semua yang terdapat dalam diri Nabi saw.. baik yang berhubungan dengan hukum syara’ maupun tidak. Sehingga hadis-hadis yang dikemukakan oleh ahli us}u>l yang hanya mencakup aspek hukum syara’ saja, adalah hadis sebagai sumber tasyri>’. Sedangkan definisi yang dikemukan oleh ulama hadis mencakup hal-hal yang lebih luas. Jadi, Hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw., baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, sifat-sifat, keadaan dan himmahnya. Takrir adalah perbuatan atau keadaan sahabat yang diketahui Rasulullah dan beliau mendiamkannya atau mengisyaratkan sesuatu yang menunjukkan perkenannya atau beliau tidak menunjukkan pengingkarannya. Himmah adalah hasrat beliau yang belum terealisir, contohnya hadis riwayat Ibnu Abbas : Dikala Rasulullah saw. berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat menghadap kepada Nabi, mereka berkata : ‘Ya Rasulullah, bahwa hari ini adalah yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani, Rasulullah menyahuti : ‘Tahun yang akan datang, Insya Allah aku akan berpuasa tanggal sembilan. (HR Muslim dan Abu Dawud) Rasulullah tidak sempat merealisasikannya, disebabkan beliau telah wafat pada tahun berikutnya.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 87 Menurut Imam Syafi’i bahwa menjalankan himmah itu termasuk sunah, tetapi Imam Syaukani mengatakan tidak termasuk sunah karena belum dilaksanakan oleh Rasulullah. 2. Definisi Sunah Di samping istilah hadis terdapat sinonim istilah yang sering digunakan oleh para ulama yaitu sunah. Pengertian istilah tersebut hampir sama, walaupun terdapat beberapa perbedaan. Maka dari itu kami kemukakan pengertiannya agar lebih jelas. Definisi sunah dalam kitab al-sunnah wa makanatuhā fī al-tasyrī ’ al-Islāmī adalah sebagai berikut: َماؤًَزشَـَالىبىَصًَمٌََمَكىؤَوَففلؤَوَجلشٍشؤَوَضفتَخللُتؤَوََظيرةَظىاءَوانَكبلَالبفشتؤَو بفذها Artinya: Segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi saw., baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perkjalanan hidup, baik sebelum Nabi diangkat jadi Rasul atau sesudahnya. Dalam pengertian tersebut tentu ada kesamaan antara hadis dan sunah, yang sama–sama bersandar pada Nabi saw.., tetapi terdapat kekhususan bahwa sunah sudah jelas segala yang bersandar pada pribadi Muhammad baik sebelum atau sesudah diangkat menjadi Nabi, misalnya mengembala kambing, menikah minimal umur 25 tahun dan sebagainya. Walaupun demikian terdapat perbedaan yang sebaiknya kita tidak berlebihan dalam menyikapinya. Sebab keduanya sama–sama bersumber pada Nabi Muhammad saw.. Seperti juga pada definisi hadis, terjadi perbedaan definisi sunah menurut para ulama. Kalangan ahli agama di dalam memberikan pengertian sunah berbeda-beda, sebab para ulama memandang dan membicarakan sunah dari segi yang berbeda-beda. a. Ulama Hadis Menurut para ulama hadis, pengertian sunah meliputi biografi Nabi, sifat- sifat Nabi baik yang berupa fisik, umpamanya; mengenai tubuhnya, rambutnya dan

88 AL-QUR’AN HADIS KELAS X sebagainya, maupun yang mengenai psikis dan akhlak Nabi dalam keadaan sehari- harinya, baik sebelum atau sesudah bi’s|ah atau di angkat sebagai nabi. b. Ulama Usul Fikih Ulama Usul Fikih memberikan pengertian bahwa sunah adalah segala yang di nukilkan dari Nabi Muhammad saw. baik berupa perkataan, perbuatan maupun takrirnya yang ada sangkut pautnya dengan hukum. c. Ulama Fikih Menurut Ulama Fikih, sunah ialah perbuatan yang di lakukan dalam agama, tetapi tingkatannya tidak sampai wajib atau fardu. Jadi suatu pekerjaan yang utama di kerjakan. Atau dengan kata lain sunah ialah suatu amalan yang di beri pahala apabila di kerjakan, dan tidak dituntut apabila ditinggalkan. 3. Definisi Khabar Menurut bahasa khabar berarti an-Naba’ (berita-berita), sedang jamaknya adalah Akhba>r. Sedangkan secara terminologi, khabar adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi dan para sahabat, jadi setiap hadis termasuk khabar tetapi tidak setiap khabar adalah hadis. Secara terminologi, terdapat tiga pendapat mengenai khabar, yakni: a. Khabar merupakan sinonim bagi hadis, yakni keduanya berarti satu atau sama. b. Khabar berbeda dengan hadis, karena hadis adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi saw.., sedang khabar adalah sesuatu yang datang dari selain Nabi saw.. c. Khabar lebih umum dari hadis, karena hadis hanya datang dari Nabi saja, sedang khabar datang dari Nabi saw.. maupun para sahabat. 4. Definisi Atsar Atsar menurut etimologi ialah dampak/imbas sesuatu, atau sisa sesuatu, atau berarti sisa reruntuhan rumah dan sebagainya. Atsar juga berarti nukilan (yang dinukilkan). Sesuatu do’a umpamanya yang dinukilkan dari Nabi dinamai do’a ma’tsur.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 89 Sedangkan menurut istilah atau terminologi, terdapat dua pendapat mengenai atsar. Pertama, kata atsar sinonim atau artinya sama dengan hadis. Kedua, atsar adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan sahabat. Jumhur (mayoritas) ahli hadis mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar juga hadis, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw.., sahabat, dan tabi’in. Dari pengertian menurut istilah ini, terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. Menurut ulama Khurasan, bahwa Atsar untuk yang mauqu>f (yang disandarkan kepada sahabat) dan khabar untuk yang marfu>’ (yang disandarkan kepada Nabi saw..). Jadi, atsar merupakan istilah bagi segala yang disandarkan kepada para sahabat atau tabi’in, tapi terkadang juga digunakan untuk hadis yang disandarkan kepada Nabi saw.. Contoh Atsar Perkataan Hasan al-Bas}ri rahimahullaahu tentang hukum salat di belakang ahlul bid’ah: ٌََ ًَََُوَكَاَالْحَع:َََِِّضَلََُوَـَل َُْهبِذَـَخُه Artinya: Salatlah (di belakangnya), dan tanggungan dia bidah yang dia kerjakan. 5. Persamaan Hadis, Sunah, Khabar dan Atsar Menurut sebagian ulama, keempat hal ini adalah sama atau mura>dif. Dianggap sama karena sama-sama disandarkan kepada nabi, baik perkataan, perbuatan maupun ketetapannya. َماَؤضُفَبلىَالىبيَضلىَللاَـلُهًَوظلمَمَكى ٌ،َؤوَففلَؤوجلشٍش Artinya: ‚ Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw.., baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir (ketetapan) beliau.‛ Akan tetapi sebahagian ulama membedakan pengertian antara sunah dan hadis. Sunah itu adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi saw.. baik

90 AL-QUR’AN HADIS KELAS X perkataaan maupun perbuatan beliau, sedangkan hadis hanya khusus mengenai perkataan beliau. Ada juga yang berpendapat bahwa sunah Nabi saw.. hanyalah tata cara dan perilaku Nabi yang beliau praktekkan terus menerus dan diikuti oleh para sahabatnya, sedangkan hadis adalah perkataan Nabi saw.. yang diriwayatkan oleh orang seorang atau dua orang, lalu hanya mereka saja yang mengetahuinya dan tidak menjadi pegangan atau amalan umum. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa persamaan antara sunnah dengan hadis adalah: baik sunnah maupun hadis keduanya adalah bersumber dari Rasulullah saw.. 6. Perbedaan Hadis Sunah Khabar dan Atsar Menurut sebagian ulama, sunah lebih luas dari hadis. Sunah adalah segala yang dinukilkan dari Nabi Muhammad saw., baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, maupun pengajaran, sifat, kelakuan dan perjalanan hidup, baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Titik berat sunah adalah kebiasaan normatif Nabi Muhammad saw. Khabar selain dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw., dapat juga dinisbahkan kepada sahabat dan tabiin. Khabar lebih umum dari hadis, karena masuk didalamnya semua riwayat yang bukan dari Nabi Muhammad saw. Atsar lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan sahabat Nabi Muhammad saw., meskipun kadang-kadang dinisbahkan kepada beliau. 7. Perbedaan al-Qur’an dan al-Hadis a. Perbedaan dari segi bahasa dan makna 1) Al-Qur’an diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. dengan bahasa dan maknanya langsung dari Allah swt., diterima dalam bentuk wahyu. 2) Al-Hadis adalah perkataan Nabi Muhammad saw., bahasa dan maknanya dari Nabi

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 91 b. Perbedaan dari segi periwayatan 1) Al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan dengan maknanya saja. Al-Qur’an harus dibaca apa adanya seperti adanya diturunkan dan diajarkan. Al-Qur’an tidak boleh diucapkan dengan redaksi berbeda, karena menghilangkan unsur kemukjizatan. 2) Hadis boleh diucapkan dengan redaksi kata atau lafaz yang berbeda tanpa mengurangi maknanya. c. Perbedaan dari segi kemukjizatan 1) Pada al-Qur’an, lafaz dan maknanya adalah mukjizat 2) Hadis bukan merupakan mukjizat d. Perbedaan dari segi membacanya 1) Membaca al-Qur’an bernilai ibadah, baik dalam salat maupun di luar salat. 2) Membaca hadis tidak termasuk ibadah, kecuali belajar hadis adalah ibadah karena mempelajari sumber hukum kedua dalam agama Islam. Hadis tidak boleh dibaca ketika salat. D. PERILAKU ORANG YANG BERPEGANG TEGUH KEPADA HADIS, SUNAH, KHABAR DAN ATSAR Jika seseorang telah mempelajari tentang hadis, sunah, khabar, dan atsar, dengan memahami hal tersebut maka memiliki sikap sebagai berikut : 1. Mempelajari hadis dan hal-hal yang terkait dengannya bagi seorang Muslim merupakan suatu keniscayaan. Bagi umat Islam hadis merupakan sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an. Oleh karena itu, rasa ingin tahu tentang hadis harus ditumbuhkembangkan untuk dapat menjadi seorang muslim yang sesungguhnya 2. Mempelajari hadis mendatangkan banyak manfaat. oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim mengetahui banyak hal tentang hadis dan ilmunya dengan meningkatkan kegiatan gemar membaca baik pada saat di madrasah maupun di luar madrasah.

92 AL-QUR’AN HADIS KELAS X 3. Para ulama ahli hadis dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana pada saat itu mampu menghasilkan berbagai karya monumental yang hingga saat ini masih dapat kita pelajari. Kitab-kitab karya mereka masih ada meskipun mereka sudah meninggalkan dunia ini berabad-abad yang lalu. Hal ini tentunya dapat membangkitkan siswa untuk menghargai karya-karya mereka dan selanjutnya terdorong untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain. E. MARI BERDISKUSI Diskusikan dengan teman dan kelompokmu tentang hadis, sunah, khabar dan atsar dengan teman dan kelompokmu. Bersiaplah presentasi di depan kelas. F. RANGKUMAN 1. Hadis adalah segala ucapan, perbuatan dan ketetapan (takrir) Nabi Muhammad saw.; 2. Terdapat persamaan dan perbedaan pendapat tentang hadis, sunah, khabar dan atsar; 3. Perbedaan al-Qur’an dan hadis terdapat dalam sisi lafaz dan makna, periwayatan, kemukjizatan dan hukum membacanya. G. AYO BERLATIH I. Uraian : 1. Apa yang anda ketahui tentang hadis, sunah, atsar dan khabar? 2. Apakah umat Islam harus mengikuti sunah nabi? Jelaskan ! 3. Bagaimana tips dan trik menurut anda supaya kita dapat mengamalkan hadis nabi dalam kehidupan seharian kita. Jelaskan! 4. Bagaimana pendapat anda tentang pemalsuan hadis, adakah? Jika ada mengapa?

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 93 II. Tugas Amatilah perilaku orang di sekitarmu yang menunjukkan tindakan berpegang teguh kepada hadis, sunah, khabar dan atsar. Kemudian berikan tanggapanmu Perilaku yang diamati Tanggapanmu Nilai Paraf Orangtua Paraf Guru

94 AL-QUR’AN HADIS KELAS X HADIS SUMBER AJARAN ISLAM

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 95 Islam.nu.or.id KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunnya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati hadis Rasulullah sebagai sumber ajaran Islam; 2. Mengamalkan sikap implementasi dari pemahaman sejarah perkembangan hadis;

96 AL-QUR’AN HADIS KELAS X 3. Menganalis sejarah perkembangan hadis; 4. Menyajikan hasil analisis sejarah perkembangan hadis. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menyajikan sumber agama Islam yang terdapat di dalam hadis nabi; 2. Memahami sejarah perkembangan hadis; 3. Menganalisis perkembangan hadis; 4. Menyajikan hasil analisis sejarah perkembangan hadis; PETA KONSEP A. MARI RENUNGKAN Nabi melewati perjalanan hidupnya dengan banyak cerita suka duka. Sejak lahir sebagai yatim kemudian tumbuh kanak-kanak bersama kakeknya dan melalui masa remaja bersama pamannya. Nabi kemudian menjadi suami Khadijah yang berprofesi sebagai saudagar. Hingga ketika Nabi sering berkhalwat dan menerima wahyu pertamanya di Gua Hira, Nabi belumlah menjadi pemimpin kaumnya. Saat masa-masa awal wahyu diturunkan, Nabi belum memiliki banyak pengikut. Artinya tidak semua perkataan Nabi terdokumentasikan secara rapi pada masa-masa

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 97 awal. Kemudian saat Nabi telah menjadi pemimpin besar di Madinah, pun waktu itu masyarakat di sana masih memiliki banyak keterbatasan. Artinya zaman itu belum tersusun struktur pemerintahan yang ditopang oleh fasilitas lengkap untuk menunjang administrasi dan pencatatan. Proses pencatatan dan perapian dokumentasi terkait perkataan-peerkataan Nabi berkembang melalui berbagai zaman, dari zaman Nabi, zaman para sahabat hingga zaman tabi’in dan tabi’it tabi’in. B. MARI MENGAMATI Mari amati perubahan cara ibadah pada gambar di bawah ini, maka kamu bisa hubungkan dengan pelajaran pada bab ini tentang perkembangan hadis. C. MEMAHAMI SEJARAH PERKEMBANGAN HADIS Sejarah penulisan hadis merupakan masa atau periode yang telah dilalui oleh hadis dari masa lahirnya dan tumbuh dalam pengenalan, penghayatan, dan pengamalan umat dari generasi ke generasi. Dengan memerhatikan masa yang telah dilalui hadis sejak masa timbulnya/lahirnya di zaman Nabi saw.. meneliti dan membina hadis, serta segala hal yang memengaruhi hadis tersebut, para ulama ahli hadis ( muh}addis|i>n) membagi sejarah hadis dalam beberapa periode.

98 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Adapun para ulama penulis sejarah hadis berbeda-beda dalam membagi periode sejarah hadis. Ada yang membagi dalam tiga periode, lima periode, dan tujuh periode. M. Hasbi Asy-Shidieqy membagi perkembangan hadis menjadi tujuh periode, sejak periode Nabi saw.. hingga sekarang, yaitu sebagai berikut: 1. Periode Pertama: Perkembangan Hadis pada Masa Rasulullah saw. Periode ini disebut ‘`As}r al-Wah}yi wa at-Takwi>n (masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat Islam). Pada periode inilah, hadis lahir berupa sabda ( aqwa>l), perbuatan ( af’a>l), dan takrir Nabi yang berfungsi menerangkan aI-Qur’an untuk menegakkan syariat Islam dan membentuk masyarakat Islam. Para sahabat menerima hadis secara langsung dan tidak langsung. Penerimaan secara langsung misalnya saat Nabi saw.. memberi ceramah, pengajian, khutbah, atau penjelasan terhadap pertanyaan para sahabat. Adapun penerimaan secara tidak langsung adalah mendengar dari sahabat yang lain atau dari utusan-utusan, baik dari utusan yang dikirim oleh Nabi ke daerah-daerah atau utusan daerah yang datang kepada Nabi. Pada masa Nabi saw.., kepandaian baca tulis di kalangan para sahabat sudah bermunculan, hanya saja terbatas sekali. Karena kecakapan baca tulis di kalangan sahabat masih kurang, Nabi menekankan untuk menghafal, memahami, memelihara, mematerikan, dan memantapkan hadis dalam amalan sehari-hari, serta menyebarkannya kepada orang lain. 2. Periode Kedua: Perkembangan Hadis pada Masa al-Khulafa>’ Ar-Ra>syidi>n (11 H- 40 H) Periode ini disebut ‘As}r at-Tas|abbut wa al-Iqla>l min al-Riwa>yah (masa membatasi dan menyedikitkan riwayat). Nabi saw. wafat pada tahun 11 H. Kepada umatnya, beliau meninggalkan dua pegangan sebagai dasar bagi pedoman hidup, yaitu al-Qur’an dan hadis (as-Sunnah yang harus dipegangi dalam seluruh aspek kehidupan umat).

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 99 Pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadis tersebar secara terbatas. Penulisan hadis pun masih terbatas dan belum dilakukan secara resmi. Bahkan, pada masa itu, Umar melarang para sahabat untuk memperbanyak meriwayatkan hadis, dan sebaliknya, Umar menekankan agar para sahabat mengerahkan perhatiannya untuk menyebarluaskan al-Qur’an. Dalam praktiknya, para sahabat meriwayatkan hadis melalui dua cara, yakni: a. Dengan lafaz asli, yakni menurut lafaz yang mereka terima dari Nabi saw. yang mereka hafal benar lafaz dari Nabi. b. Dengan maknanya saja yakni para sahabat meriwayatan maknanya karena tidak hafal lafaz asli dari Nabi saw. 3. Periode Ketiga: Perkembangan pada Masa Sahabat Kecil dan Tabiin Periode ini disebut ‘As}r Intisya>r al-Riwa>yah ila> al-Amslaar’ (masa berkembang dan meluasnya periwayatan hadis). Pada masa ini, daerah Islam sudah meluas, yakni ke negeri Syam, Irak, Mesir, Samarkand, bahkan pada tahun 93 H, meluas sampai ke Spanyol. Hal ini bersamaan dengan berangkatnya para sahabat ke daerah-daerah tersebut, terutama dalam rangka tugas memangku jabatan pemerintahan dan penyebaran ilmu hadis. Para sahabat kecil dan tabiin yang ingin mengetahui hadis-hadis Nabi saw. diharuskan berangkat ke seluruh pelosok wilayah Daulah Islamiyah untuk menanyakan hadis kepada sahabat-sahabat besar yang sudah tersebar di wilayah tersebut. Dengan demikian, pada masa ini, di samping tersebarnya periwayatan hadis ke pelosok-pelosok daerah Jazirah Arab, perlawatan untuk mencari hadis pun menjadi ramai. Karena meningkatnya periwayatan hadis, muncullah bendaharawan dan lembaga-lembaga (Centrum Perkembangan) hadis di berbagai daerah di seluruh negeri.

100 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Adapun lembaga-lembaga hadis yang menjadi pusat bagi usaha penggalian, pendidikan, dan pengembangan hadis terdapat di Madinah, Makkah, Bashrah, Syam dan Mesir. Pada periode ketiga ini mulai muncul usaha pemalsuan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini terjadi setelah wafatnya Sahabat Ali r.a. Pada masa ini, umat Islam mulai terpecah-pecah menjadi beberapa golongan: Pertama, golongan Ali Ibn Abi Talib, yang kemudian dinamakan golongan Syiah. Kedua, golongan Khawarij, yang menentang Ali, dan golongan Muawiyah, dan ketiga; golongan Jumhur (golongan pemerintah pada masa itu). Terpecahnya umat Islam tersebut, memacu orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mendatangkan keterangan-keterangan yang berasal dari Rasulullah saw. untuk mendukung golongan mereka. Oleh sebab itulah, mereka membuat hadis palsu dan menyebarkannya kepada masyarakat. 4. Periode Keempat: Perkembangan Hadis pada Abad II dan III Hijriah Periode ini disebut As}r al-Kita>bah wa al-Tadwi>n (masa penulisan dan pembukuan). Maksudnya, penulisan dan pembukuan secara resmi, yakni yang diselenggarakan oleh atau atas inisiatif pemerintah. Adapun kalau secara perseorangan, sebelum abad II H hadis sudah banyak ditulis, baik pada masa tabiin, sahabat kecil, sahabat besar, bahkan masa Nabi saw. meskipun dengan kondisi seadanya. Masa pembukuan secara resmi dimulai pada awal abad II H, yakni pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz tahun 101 H, Sebagai khalifah, Umar Ibn Abdul Aziz sadar bahwa para perawi yang menghimpun hadis dalam hafalannya semakin banyak yang meninggal. Beliau khawatir apabila tidak membukukan dan mengumpulkan dalam buku-buku hadis dari para perawinya, ada kemungkinan hadis-hadis tersebut akan lenyap dari permukaan bumi bersamaan dengan kepergian para penghafalnya ke alam barzakh. Untuk mewujudkan maksud tersebut, pada tahun 100 H, Khalifah meminta kepada Gubernur Madinah, Abu Bakr Ibn Muhammad Ibn Amr Ibn Hazmin (120

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 101 H) yang menjadi guru Ma'mar al-Laits, al-Auza'i, Malik, Ibnu Ishaq, dan Ibnu Abi Dzi'bin untuk membukukan hadis Rasul yang terdapat pada penghafal wanita yang terkenal, yaitu Amrah binti Abd. Rahman Ibn Sa'ad Ibn Zurarah Ibn `Ades, seorang ahli fikih, murid Aisyah r.a. (20 H/642 M-98 H/716 M atau 106 H/ 724 M), dan hadis-hadis yang ada pada al-Qasim Ibn Muhammad Ibn Abi Bakr as- S}iddiq (107 H/725 M), seorang pemuka tabiin dan salah seorang fukaha Madinah yang tujuh. Di samping itu, Umar mengirimkan surat-surat kepada gubernur yang ada di bawah kekuasaannya untuk membukukan hadis yang ada pada ulama yang tinggal di wilayah mereka masing-masing. Di antara ulama besar yang membukukan hadis atas kemauan Khalifah adalah Abu Bakr Muhammad Ibn Muslim ibn Ubaidillah Ibn Syihab Az-Zuhri, seorang tabiin yang ahli dalam urusan fikih dan hadis. Mereka inilah ulama yang mula-mula membukukan hadis atas anjuran Khalifah. Pembukuan seluruh hadis yang ada di Madinah dilakukan oleh Imam Muhammad Ibn Muslim Ibn Syihab Az-Zuhri, yang memang terkenal sebagai seorang ulama besar dari ulama-ulama hadis pada masanya. Setelah itu, para ulama besar berlomba-lomba membukukan hadis atas anjuran Abu Abbas As-Saffah dan anak-anaknya dari khalifah-khalifah ‘Abbasiyah. Berikut tempat dan nama-nama tokoh dalam pengumpulan hadis : 1. Pengumpul pertama di kota Makkah, Ibnu Juraij (80-150 H) 2. Pengumpul pertama di kota Madinah, Ibnu Ishaq (w. 150 H) 3. Pengumpul pertama di kota Bashrah, al-Rabi' Ibn Shabih (w. 160 H) 4. Pengumpul pertama di Kuffah, Sufyan at-Tsaury (w. 161 H.) 5. Pengumpul pertama di Syam, al-Auza'i (w. 95 H) 6. Pengumpul pertama di Wasith, Husain al-Wasithy (104-188 H) 7. Pengumpul pertama diYaman, Ma'mar al-Azdy (95-153 H)

102 AL-QUR’AN HADIS KELAS X 8. Pengumpul pertama di Rei, Jarir ad-Dhabby (110-188 H) 9. Pengumpul pertama di Khurasan, Ibn Mubarak (11 -181 H) 10. Pengumpul pertama di Mesir, al-Laits Ibn Sa'ad (w. 175 H).[13] Semua ulama yang membukukan hadis ini terdiri dari ahli-ahli pada abad kedua Hijriah. Kitab-kitab hadis yang telah dibukukan dan dikumpulkan dalam abad kedua ini, jumlahnya cukup banyak. Akan tetapi, yang masyhur di kalangan ahli hadis adalah: 1. Al-Muwat}}t}a', susunan Imam Malik (95 H-179 H) 2. Al-Maga>zi wa al-Siyar, susunan Muhammad ibn Ishaq (150 H) 3. Al-Ja>mi', susunan Abdul Razzaq As-San'any (211 H) 4. Al-Mus}annaf, susunan Syu'bah Ibn Hajjaj (160 H) 5. Al-Mus}annaf, susunan Sufyan ibn 'Uyainah (198 H) 6. Al-Mus}annaf, susunan Al-Laits Ibn Sa'ad (175 H) 7. Al-Mus}annaf, susnan Al-Auza'i (150 H) 8. Al-Mus}annaf, susunan Al-Humaidy (219 H) 9. Al-Magazi> an-Nabawiyah, susunan Muhammad Ibn Waqid Al¬Aslamy. 10. A1-Musnad, susunan Abu Hanifah (150 H). 11. Al-Musnad, susunan Zaid Ibn Ali. 12. Al-Musnad, susunan Al-Imam Asy-Syafi'i (204 H). 13. Mukhtalif Al-Hadi>s|, susunan Al-Imam Syafi'i. Tokoh-tokoh yang masyhur pada abad kedua hijriah adalah Malik,Yahya ibn Sa'id aI-Qat}t}an, Waki Ibn Al-Jarrah, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Uyainah, Syu'bah Ibnu Hajjaj, Abdul Ar-Rahman ibn Mahdi, Al-Auza'i, Al-Laits, Abu Hanifah, dan Syafi'i.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 103 5. Periode Kelima: Masa Mentashihkan Hadis dan Penyusunan Kaidah-Kaidahnya Abad ketiga Hijriah merupakan puncak usaha pembukuan hadis. Sesudah kitab-kitab Ibnu Juraij, kitab Muwat}t}a' al-Malik tersebar dalam masyarakat dan disambut dengan gembira, kemauan menghafal hadis, mengumpul, dan membukukannya semakin meningkat dan mulailah ahli-ahli ilmu berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dari sebuah negeri ke negeri lain untuk mencari hadis. Pada awalnya, ulama hanya mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat di kotanya masing-masing. Hanya sebagian kecil di antara mereka yang pergi ke kota lain untuk kepentingan pengumpulan hadis. Keadaan ini diubah oleh aI-Bukhari. Beliaulah yang mula-mula meluaskan daerah-daerah yang dikunjungi untuk mencari hadis. Beliau pergi ke Maru, Naisabur, Rei, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Madinah, Mesir, Damsyik, Qusariyah, `Asqalani,dan Himsh. Imam Bukhari membuat terebosan dengan mengumpulkan hadis yang tersebar di berbagai daerah. Enam tahun lamanya al-Bukhari terus menjelajah untuk menyiapkan kitab Sahih-nya. Para ulama pada mulanya menerima hadis dari para rawi lalu menulis ke dalam kitabnya, tanpa mengadakan syarat-syarat menerimanya dan tidak memerhatikan sahih-tidaknya. Namun, setelah terjadinya pemalsuan hadis dan adanya upaya dari orang-orang zindiq untuk mengacaukan hadis, para ulama pun melakukan hal-hal berikut: a. Membahas keadaan rawi-rawi dari berbagai segi, baik dari segi keadilan, tempat kediaman, masa, dan lain-lain. b. Memisahkan hadis-hadis yang sahih dari hadis yang daif yakni dengan men- tashihkan hadis. Ulama hadis yang mula-mula menyaring dan membedakan hadis-hadis yang sahih dari yang palsu dan yang lemah adalah Ishaq ibn Rahawaih, seorang imam hadis yang sangat masyhur.

104 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Pekerjaan yang mulia ini kemudian diselenggarakan dengan sempurna oleh Imam al-Bukhari. Al-Bukhari menyusun kitab-kitabnya yang terkenal dengan nama al-Ja>mi’ as-S}ah}i>h}. Di dalam kitabnya, ia hanya membukukan hadis-hadis yang dianggap sahih. Kemudian, usaha a1-Bukhari ini diikuti oleh muridnya yang sangat alim, yaitu Imam Muslim. Sesudah Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, bermunculan imam lain yang mengikuti jejak Bukhari dan Muslim, di antaranya Abu Dawud, at-Tirmidzi,dan an-Nasa>'i. Mereka menyusun kitab-kitab hadis yang dikenal dengan S}ah}i>h} al- Bukha>ri>, S}ah}i>h} Muslirn, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi,dan Sunan an- Nasa>'i. Kitab-kitab itu kemudian dikenal di kalangan masyarakat dengan judul al- Us}u>l al-Khamsah. Di samping itu, Ibnu Majah menyusun Sunannya. Kitab Sunan ini kemudian digolongkan oleh para ulama ke dalam kitab-kitab induk sehingga kitab-kitab induk itu menjadi sebuah, yang kemudian dikenal dengan nama al-Kutub al- Sittah. Tokoh-tokoh hadis yang lahir pada masa ini adalah: 1. `Ali Ibnul Madani> 2. Abu Hatim ar-Ra>zi> 3. Muhammad Ibn Jari>r at- T}abari> 4. Muhammad Ibn Sa'ad 5. Ishaq Ibnu Rahawaih 6. Ahmad 7. Al-Bukhari 8. Muslim 9. An-Nasa'i 10. Abu Dawud 11. At-Tirmidzi 12. Ibnu Majah 13. Ibnu Qutaibah ad-Dainuri

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 105 6. Periode Keenam: Dari Abad IV hingga Tahun 656 H. Periode keenam ini dimulai dari abad IV hingga tahun 656 H, yaitu pada masa `Abasiyyah angkatan kedua. Periode ini dinamakan ‘As}r at-Tahzi>b wa at-Tarti>bi wa al-Istidra>qi wa al-ja>mi'. Ulama-ulama hadis yang muncul pada abad ke-2 dan ke-3, digelari Mutaqaddimin, yang mengumpulkan hadis dengan semata-mata berpegang pada usaha sendiri dan pemeriksaan sendiri, dengan menemui para penghafalnya yang tersebar di setiap pelosok dan penjuru negara Arab, Parsi, dan lain-lainnya. Setelah abad ke-3 berlalu, bangkitlah pujangga abad keempat. Para ulama abad keempat ini dan seterusnya digelari Mutaakhirin. Kebanyakan hadis yang mereka kumpulkan adalah petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutaqaddimin, hanya sedikit yang dikumpulkan dari usaha mencari sendiri kepada para penghafalnya. Pada periode ini muncul kitab-kitab sahih yang tidak terdapat dalam kitab sahih pada abad ketiga. Kitab-kitab itu antara lain: 1. As-S}ah}i>h}, susunan Ibnu Khuzaimah 2. At-Taqsi>m wa Anwa>', susunan Ibnu Hibban 3. Al-Mustadrak, susunan al-Hakim 4. As-S}a>lih, susunan Abu `Awanah 5. Al-Muntaqa>, susunan Ibnu Jarud 6. Al-Mukhta>rah, susunan Muhammad Ibn Abdul Wahid al-Maqdisi>. Di antara usaha-usaha ulama hadis yang terpenting dalam periode ini adalah: 1. Mengumpulkan hadis al-Bukhari/Muslim dalam sebuah kitab. Di antara kitab yang mengumpulkan hadis-hadis al-Bukhari dan Muslim adalah Kitab Al-Ja>mi' Bain As-S}ah}i>h}ain oleh Ismail Ibn Ahmad yang terkenal dengan nama Ibnu Al-Furat (414 H), Muhammad Ibn Nashr Al-Humaidy (488 H); Al-Baghawi oleh Muhammad Ibn Abdul Haq Al-Asybily (582 H). 2. Mengumpulkan hadis-hadis dalam kitab enam.

106 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Di antara kitab yang mengumpulkan hadis-hadis kitab enam, adalah Tajri>du As-S}ih}ah oleh Razin Mu'awiyah, Al-Ja>mi' oleh Abdul Haqq Ibn Abdul Ar- Rahman Asy-Asybily, yang terkenal dengan nama Ibnul Kharrat (582 H). 3. Mengumpukan hadis-hadis yang terdapat dalam berbagai kitab. Di antara kitab-kitab yang mengumpulkan hadis-hadis dari berbagai kitab adalah: (1) Mas}a>bi>h as-Sunnah oleh al-Imam Husain Ibn Mas'ud al-Baghawi (516 H); (2) Ja>mi'ul Masa>ni>d wa al-Alqa>b, oleh Abdur Rahman ibn Ali al-Jauzy (597 H); (3) Bakr al-Asa>ni>d, oleh al-Hafiz al-Hasan Ibn Ahmad al-Samarqandy (49I H). 4. Mengumpulkan hadis-hadis hukum dan menyusun kitab-kitab At}ra>f. 7. Periode Ketujuh (656 H-Sekarang) Periode ini adalah masa sesudah meninggalnya Khalifah Abasiyyah ke XVII al-Mu'tas}im (w. 656 H.) sampai sekarang. Periode ini dinamakan ‘Ahdu As-Syarh}i wa al-Ja>mi' wa at-Takhri>ji> wa al-Bah}s|i, yaitu masa pensyarahan, penghimpunan, pentakhrijan dan pembahasan. Usaha-usaha yang dilakukan oleh ulama dalam masa ini adalah menerbitkan isi kitab-kitab hadis, menyaringnya, dan menyusun kitab enam kitab takhrij, serta membuat kitab-kitab ja>mi' yang umum. Pada periode ini disusun kitab-kitab Zawa>'id, yaitu usaha mengumpulkan hadis yang terdapat dalam kitab yang sebelumnya ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya Kitab Zawa>'id susunan Ibnu Majah, Kitab Zawa>'id as-Sunan Al- Kubra> disusun oleh al-Bus}iry>, dan masih banyak lagi kitab Zawa>'id yang lain. Di samping itu, para ulama hadis pada periode ini mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat dalam beberapa kitab ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya adalah Kitab Ja>mi' al-Masa>ni>d wa as-Sunan al-Ha>di> li Aqwami Sunan, karangan al-Hafidz Ibnu Katsir, dan Ja>mi' al-Jawa>mi’ susunan al-Hafiz} as-Suyu>t}i> (911 H). Banyak kitab dalam berbagai ilmu yang mengandung hadis-hadis yang tidak disebut perawinya dan pentakhrijnya. Sebagian ulama pada masa ini berusaha

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 107 menerangkan tempat-tempat pengambilan hadis-hadis itu dan nilai-nilainya dalam sebuah kitab yang tertentu, di antaranya Takhrij Hadis, al-Ka>fi> as-Sya>fi> fi> Takhri>j Ah}a>di>s| al-Kasysya>f oleh Ibnu Hajar al-‘`Asqala>ni>, dan masih banyak lagi kitab takhrij lain. Sebagaimana periode keenam, periode ketujuh ini pun muncul ulama-ulama hadis yang menyusun kitab-kitab At}ra>f, di antaranya It}a>f al-Maha>rah bi At}ra>f al- ‘Asyrah oleh Ibnu Hajar al-‘`Asqala>ni>, At}ra>f al-Musnad al-Mu'tali bi At}ra>f al- Musnad al-Hanbali oleh Ibnu Hajar, dan masih banyak lagi kitab At}ra>f yang lainnya. Tokoh-tokoh hadis yang terkenal pada masa ini adalah: (1) Adz-Dzahaby (748 H), (2) Ibnu Sayyidinnas (734 H), (3) Ibnu Daqi>q al-‘`I>d, (4) Muglathai (862 H), (5) Al-Asqalany (852 H), (6) Ad¬Dimyaty (705 H), (7) Al-`Ainy (855 H), (8) As-Suyuthi (911 H), (9) Az-Zarkasy (794 H), (10) Al-Mizzy (742 H), (11) Al- `Alay (761 H), (12) Ibnu Katsir (774 H), (13) Az-Zaily (762 H), (14) Ibnu Rajab (795 H), (15) Ibnu Mulaqqin (804 H), (16) Al-Bulqiny (805 H), (` 7) Al-`Iraqy (w. 806 H), (18) Al-Hais|amy (807 H), dan (19) A’u Zurah (826 H). 8. Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadis 1) Pengumpulan Hadis Pada abad pertama Hijriah, yakni masa Rasulullah saw., Khulafa Rasyidin dan sebagian besar masa Bani Umayyah hingga akhir abad pertama Hijrah, hadis-hadis itu berpindah-pindah dan disampaikan dari mulut ke mulut. Masing-masing perawi pada waktu itu meriwayatkan hadis berdasarkan kekuatan hafalannya. Hafalan mereka terkenal kuat sehingga mampu mengeluarkan kembali hadis-hadis yang pernah direkam dalam ingatannya. Ide penghimpunan hadis Nabi secara tertulis untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Khalifah Umar bin Khat}t}a>b (w. 23 H/644 M). Namun, ide tersebut tidak dilaksanakan oleh Umar karena khawatir bila umat Islam terganggu perhatiannya dalam mempelajari al-Qur’an.

108 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dinobatkan akhir abad pertama Hijriah, yakni tahun 99 Hijriyah, datanglah angin segar yang mendukung kelestarian hadis. Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai seorang khalifah dari Bani Umayyah yang terkenal adil dan wara' sehingga dipandang sebagai Khalifah Rasyidin yang kelima. Beliau sangat waspada dan sadar bahwa para perawi yang mengumpulkan hadis dalam ingatannya semakin sedikit jumlahnya karena meninggal dunia. Beliau khawatir apabila tidak segera dikumpulkan dan dibukukan dalam buku- buku hadis dari para perawinya, mungkin hadis-hadis itu akan lenyap bersama lenyapnya para penghafalnya. Tergeraklah hatinya untuk mengumpulkan hadis- hadis Nabi dari para penghafal yang masih hidup. Pada tahun 100 H, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkah kepada Gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm untuk membukukan hadis-hadis Nabi dari para penghafal. Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm, yaitu, "Perhatikanlah apa yang dapat diperoleh dari hadis Rasul lalu tulislah karena aku takut akan lenyap ilmu disebabkan meninggalnya ulama, dan jangan diterima selain hadis Rasul saw., dan hendaklah disebarluaskan ilmu dan diadakan majelis-majelis ilmu supaya orang yang tidak mengetahuinya dapat mengetahuinya, maka sesungguhnya ilmu itu dirahasiakan." Selain kepada Gubernur Madinah, khalifah juga menulis surat kepada Gubernur lain agar mengusahakan pembukuan hadis. Khalifah juga secara khusus menulis surat kepada Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab az-Zuhri. Kemudian, Syihab Az-Zuhri mulai melaksanakan perintah khalifah tersebut sehingga menjadi salah satu ulama yang pertama kali membukukan hadis. Setelah generasi az-Zuhri, pembukuan hadis dilanjutkan oleh Ibn Juraij (w. 150 H.), ar-Rabi' bin S}abih (w. 160 H), dan masih banyak lagi ulama lainnya. Sebagaimana telah disebutkan bahwa pembukuan hadis dimulai sejak akhir masa pemerintahan Bani Umayyah, tetapi belum begitu sempurna. Pada

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 109 masa pemerintahan Bani Abbasiyah, yaitu pada pertengahan abad II H, dilakukan upaya penyempunaan. Sejak saat itu, tampak gerakan secara aktif untuk membukukan ilmu pengetahuan, termasuk pembukuan dan penulisan hadis-hadis Rasul saw. Kitab-kitab yang terkenal pada waktu itu yang ada hingga sekarang dan sampai kepada kita, antara lain al-Muwat}t}a oleh Imam Malik dan al-Musnad oleh Imam as-Sya>fi'i> (w. 204 H). Pembukuan hadis itu kemudian dilanjutkan secara lebih teliti oleh imam-imam ahli hadis, seperti Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain. Dari mereka itu, kita kenal al-Kutubu as-Sittah (kitab-kitab enam), yaitu Sahih Al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan An-Nasal, dan At-Tirmizi. Tidak sedikit pada masa berikutnya dari para ulama yang menaruh perhatian besar pada al-Kutubu as-Sittah tersebut beserta kitab Muwat}t}a dengan cara mensyarahinya dan memberi catatan kaki, meringkas atau meneliti sanad dan matan-matannya. 2) Penulisan Hadis Sebelum agama Islam datang, bangsa Arab tidak mengenal kemampuan membaca dan menulis. Mereka lebih dikenal sebagai bangsa yang ummi> (tidak bisa membaca dan menulis). Namun, ini tidak berarti bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menulis dan membaca. Keadaan ini hanyalah sebagai ciri kebanyakan mereka. Sejarah telah mencatat sejumlah orang yang mampu membaca dan menulis. Adi bin Zaid al-Adi (w. 35 H) misalnya, sudah belajar menulis hingga menguasainya, dan merupakan orang pertama yang menulis dengan bahasa Arab dalam surat yang ditujukan kepada Kisra. Sebagian orang Yahudi juga mengajari anak-anak di Madinah untuk menulis Arab. Kota Makkah dengan pusat perdagangannya sebelum kenabian, menjadi saksi adanya para penulis dan orang yang mampu membaca. Sebagaimana dinyatakan bahwa orang yang mampu membaca dan menulis di kota Makkah hanya sekitar 10 orang. Inilah yang dimaksud bahwa orang Arab adalah bangsa yang ummi>. Banyak kabar yang menunjukkan bahwa para penulis lebih banyak terdapat di Makkah daripada di Madinah. Hal ini dibuktikan dengan adanya

110 AL-QUR’AN HADIS KELAS X izin Rasulullah kepada para tawanan dalam Perang Badar dari Makkah yang mampu menulis untuk mengajarkan menulis dan membaca kepada 10 anak Madinah sebagai tebusan diri mereka. Pada masa Nabi, tulis-menulis sudah tersebar luas. Apalagi al-Qur’an menganjurkan untuk belajar dan membaca. Rasulullah pun mengangkat para penulis wahyu hingga jumlahnya mencapai 40 orang. Nama-nama mereka disebut dalam kitab at-Tara>ti>b al-Ida>riyyah. Baladzuri dalam kitab Futu>h} al- Bulda>n menyebutkan sejumlah penulis wanita, di antaranya Ummul Mukminin Hafs}ah, Ummu Kultsum binti Uqbah, as-Syifa' binti Abdullah al-Qurasyiyah, `Aisyah binti Sa'ad, dan Karimah binti al-Miqda>d. Para penulis semakin banyak di Madinah setelah hijrah setelah Perang Badar. Nabi menyuruh Abdullah bin Sa'id bin ‘A>s} agar mengajar menulis di Madiah, sebagaimana disebutkan Ibnu Abdil Barr dalam al-Isti>'a>b. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa nama asli `Abdullah bin Sa'id bin al-'A>s} adalah al-Hakam, lalu Rasulullah memberinya nama `Abdullah, dan menyuruhnya agar mengajar menulis di Madinah. Para penulis sejarah Rasul, ulama hadis, dan umat Islam sependapat bahwa al-Qur’an telah memperoleh perhatian yang penuh dari Rasul dan para sahabatnya. Rasul mengharapkan para sahabat untuk menghafalkan al-Qur’an dan menuliskannya di tempat-tempat tertentu, seperti keping-keping tulang, pelepah kurma, batu, dan sebagainya. Oleh karena itu, ketika Rasulullah wafat, al-Qur’an telah dihafalkan dengan sempurna oleh para sahabat. Seluruh ayat suci al-Qur’an pun telah lengkap ditulis, tetapi belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Adapun hadis atau sunnah dalam penulisannya ketika itu kurang memperoleh perhatian seperti halnya al-Qur’an. Penulisan hadis dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi karena tidak diperintahkan oleh Rasul. Diriwayatkan bahwa beberapa sahabat memiliki catatan hadis-hadis Rasulullah. Mereka mencatat sebagian hadis yang pernah mereka dengar dari Rasulullah saw..

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 111 D. PERILAKU ORANG YANG BERPEGANG TEGUH PADA HADIS Uraian Bab ini menunjukkan kepada kita, betapa proses yang sangat panjang dilalui untuk mengumpulkan, menuliskan dan menguji serta menyebarkan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. kepad umat Islam dari masa ke masa. Kini kita menyadari bahwa butuh perjuangan yang keras dan panjang agar hadis-hadis itu sampai kepada kita. Karenanya kita harus turut berperan dalam perjalanan hadis ini, setidaknya sebagai pembelajar yang serius dan tekun. Sehingga hadis-hadis Nabi tetap terjaga keotentikannya ketika kelak kita sampaikan kepada masyarakat. Kelak ketika kita menyampaikan hadis-hadis Rasulullah kepada masyarakat, kita dapat benar-benar menghayati ajaran-ajaran yang terkandung di dalam suatu hadis dan dapat menghayati betapa ajaran itu butuh proses yang panjang ketika sampai kepada masyarakat kelak. Dan kita menjadi bagian dari sampainya ajaran-ajaran Rasulullah saw. tersebut kepada masyarakat. E. MARI BERDISKUSI Diskusikan tentang proses pengumpulan dan penulisan hadis dengan teman dan kelompokmu lalu presentasikan di depan kelas. F. RANGKUMAN 1. Para sahabat menerima hadis secara langsung dan tidak langsung. Penerimaan secara langsung misalnya saat Nabi saw. memberi ceramah, pengajian, khutbah, atau penjelasan terhadap pertanyaan para sahabat; 2. Para sahabat meriwayatkan hadis melalui dua cara, yakni dengan lafaz asli menurut lafaz yang mereka terima dari Nabi saw. yang mereka hafal benar lafaz dari Nabi, dan dengan maknanya saja; yakni para sahabat meriwayatan maknanya karena tidak hafal lafaz asli dari Nabi saw.; 3. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin. Abdul Aziz dimulailah upaya resmi kenegaraan untuk mengumpulkan dan membukukan hadis-hadis Rassulullah saw..

112 AL-QUR’AN HADIS KELAS X G. AYO BERLATIH Uraian 1. Jelaskan maksud hadis nabi sebagai sumber ajaran agama Islam ! 2. Jelaskan sejarah perkembangan hadis nabi! 3. Bagaimana pendapat anda tentang perkembangan hadis dari masa Nabi hingga hadis tersebut dibukukan? Jelaskan secara rinci! 4. Sajikan hasil analisis anda tentang hadis yang tidak dapat dijadikan sebagai sumber ajaran islam!

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 113 MENGANALISIS UNSUR-UNSUR HADIS

114 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Islam.nu.or.id KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunnya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. KOMPETENSI DASAR 1. Menghargai pentingnya berpegang teguh kepada hadis Rasulullah; 2. Mengamalkan sikap kritis sebagai perwujudan dari pemahaman unsur-unsur hadis;

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 115 3. Menganalisis unsur-unsur hadis; 4. Menyajikan unsur-unsur hadis. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menjelaskan pengertian sanad dan matan; 2. Menerapkan pengertian sanad dan matan dalam hadis; 3. Membedakan sanad matan dan rawi dalam hadis. PETA KONSEP A. MARI RENUNGKAN Bila kita melihat langsung sebuah kejadian atau sebuah pernyataan, tentu kita tidak butuh mendengar dari orang lain untuk menguji kebenarannya. Hanya saja kita mungkin butuh berdiskusi dengan orang lain untuk memahami peristiwa atau pernyataan yang kita lihat atau dengar langsung tersebut. Maka barangkali orang lain butuh croscek atau mencari sumber pendamping saat kita menyampaikan sebuah kejadian atau sebuah pernyataan kepadanya. Begitu pun hanya dengan kita apa bila kita mendengar suatu kejadian dari orang lain, atau suatu pernyataan yang disampaikan secara tidak langsung kepada kita. Mungkin sebuah pesan disampaikan oleh seseorang kepada kita melalui perantara teman kita. Tentu kita akan butuh meneliti si pembawa berita, apakah dia adalah orang yang bisa dipercaya atau tidak, apakah dia kita anggap bisa menangkap dan menyampaikan berita dengan benar atau tidak. SANAD MATAN RAWI UNSUR-UNSUR HADIS

116 AL-QUR’AN HADIS KELAS X B. MARI MENGAMATI Amatilah gambar berikut ini kemudian berikan tanggapanmu C. MENGANALISIS UNSUR HADIS Suatu hadis harus memenuhi tiga unsur. Unsur-unsur ini dapat mempengaruhi tingkatan hadis, apakah hadis tersebut asli atau tidak. Unsur – unsur tersebut yaitu: 1. Sanad Secara bahasa, sanad berasal dari kata ظىذ yang berarti اهضمامَالشحئَالىَالشحئ (penggabungan sesuatu ke sesuatu yang lain). Di dalam susunan sanad terdapat banyak nama yang tergabung dalam satu rentetan jalan. Sanad bisa juga berarti انًعتًد

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 117 (pegangan/tempat bersandar, tempat berpegang, yang dipercaya atau yang sah). Sanad diartikan sebagai sandaran karena sanad hadis merupakan sesuatu yang menjadi sandaran dan pegangan. Sedangkan secara terminologi, sanad adalah jalan yang dapat menghubungkan matan hadis sampai kepada Nabi Muhammad saw. Dengan kata lain, sanad adalah rentetan perawi-perawi (silsilah). Artinya susunan atau rangkaian orang-orang yang meyampaikan materi hadis tersebut, sejak yang disebut pertama sampai kepada Rasul saw. Dengan pegertian ini, maka sebutan sanad hanya berlaku pada serangkaian (banyak) orang, bukan dilihat dari sudut pribadi secara perorangan. Kata-kata lain yang berkaitan dengan istilah sanad, adalah seperti al-isna>d, al- musnad. Kata-kata ini secara terminologi mempunyai arti yang cukup luas, sebagaimana yang dikembangkan oleh para ulama. Kata al-isna>d berarti menyandarkan, mengasalkan (mengembalikan ke asal). Maksudnya ialah menyandarkan hadis kepada orang yang mengatakan ( raf’u al-h}adi>s| ila> qa>ilih atau ‘audu al-h}adi>s| ila> qa>ilih). Sedangkan kata al-musnad mempunyai beberapa arti, bisa berarti hadis yang disandarkan atau diisnadkan oleh seseorang, bisa juga berarti kumpulan hadis yang diriwayatkan dengan menyebutkan sanad-sanadnya secara lengkap, seperti musnad al-Firdaus. Kata Musnad juga biasa digunakan untuk menamai suatu kitab yang menghimpun hadis-hadis dengan sistem penyusunan berdasarkan nama-nama para sahabat para perawi hadis, seperti kitab Musnad Ahmad, tetapi bisa juga berarti nama bagi hadis yang marfu>’ dan muttas}il yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. dan sanadnya bersambung. Contohnya pada kitab Sahih Bukhari sebagai berikut : حذزىا ًابَظالم ٌكاَاخبرهادمحم ًبَفضُلٌَكاَحذزىاًَحيًَبَظفُذًَـَابىَظلمتًَـَ ابىَهشٍشةٌَكاََ:ٌكاٌََسظىَللاَصَمََ:ًمَضامسمضانَاًماهاَواحدعاباغفشَلهَماَجلذمًَ مَرهبه Dari hadis diatas sanadnya adalah orang-orang yang menyampaikan matan hadis sampai pada Imam Bukhari, sehingga orang yang menyampaikan kepada Imam

118 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Bukhari adalah sanad pertama dan sanad terakhir adalah Abu Hurairah. Sedangkan Imam Bukhari adalah orang yang mengeluarkan hadis atau yang menulis hadis dalam kitabnya. Para ahli hadis memberi penilaian terhadap sahih atau tidaknya dapat berdasarkan pada sanad tersebut. Jika terdapat salah satu sanad yang kurang memenuhi syarat maka dapat mengurangi atau bahkan dapat meragukan kesahihan hadis. Berikut adalah contoh sanad lainnya : َحذزىاَالحمُذيَـبذًَللاَبٌَالضبيرَكاَحذزىاٌَظفُانَكاَحذزىاًًَححىَبََظفُذ ٌَْلاهطاسيَكاَؤخبرويًَدمحمَبَببشاهُمَالخُميَؤههَظمقًَـللمتَبَوكاصٌََاللُثيًَلى َظمفذًَـمشَبَالخعابَسضخيَللاَـىهَـلىٌَاْلىبرَكاٌََظمفذَسظىَللاَضلىَللاَـلُهَو ٌََظلمًلى Artinya: Al-Humaidi ibn al-Zubair telah menceritakan kepada kami seraya berkata Sufyan telah mmenceritakan kepada kami seraya berkata Yahya ibn Sa’id al- Ansari telah menceritakan kepada kami seraya berkata Muhammad ibn Ibrahim al-Taimi telah memberitakan kepada saya bahwa dia mendengar ‘Alqamah ibn Waqqas al-Laisi berkata ‚saya mendengar Umar ibn al-Khattab ra berkata di atas mimbar ‚Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda…‛ 2. Matan Matan, berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari huruf و-َث-ٌَ Matan memiliki makna ma> s}aluba wa irtafa’a min al-ard}i (tanah yang meninggi) atau punggung jalan atau bagian tanah yang keras dan menonjol ke atas,. Secara terminologis, istilah matan dalam ilmu hadis adalah redaksi sabda Nabi Muhammad saw. atau isi dari hadis tersebut. Matan ini adalah inti dari apa yang dimaksud oleh hadis. Apabila dirangkai menjadi kalimat matn al-h}adi}s| maka defenisinya adalah: َؤلفاػَالحذًثَالتىَجخلىمَبهااْلفاوى Artinya:

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 119 Kata-kata hadis yang dengannya terbentuk makna-makna. misalnya:ً اْلامًَللمامَوالبيُانٌَشذَبفضهَبفضاَ(سواهَالشُخانًَـَابىَمىسخى) Artinya: Orang mukmin yang satu dengan orang mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan yang saling menopang antara satu dengan yang lainnya. Matan hadis terdiri dari dua elemen yaitu teks atau lafal dan makna (konsep), sehingga unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh suatu matan hadis yang sahih yaitu terhindar dari syadz dan ’illat, contohnya: ٌَبهماَْلاـماَبالىُاثَوإهماَليلَامشيءََماًَهىيَفمَواهذَهجشجهَبلىَدهُاًَطُبهاَؤوَبلىَامشؤة ًىىحَهاَفهجشجهَبلىَماهاحش… Artinya: Amal-amal perbuatan itu hanya tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrah karena untuk mendapatkan dunia atau karena perempuan yang akan dinikahinya maka hijrahnya (akan mendapatkan) sesuai dengan tujuan hijrahnya…‛ 3. Penelitian Sanad dan Matan Hadis Penelitian terhadap sanad dan matan hadis (sebagai dua unsur pokok hadis) sangat diperlukan. Penelitian ini dilakukan untuk meyaring unsur-unsur luar yang masuk kedalam hadis baik yang disegaja maupun yang tidak disengaja, baik yang sesuai dengan dalil-dalil naqli lainya atau tidak sesuai. maka dengan penelitian terhadap kedua unsur hadis di atas, hadis-hadis masa Rasul saw. dapat terhindar dari segala hal yang dapat mengotorinya. Faktor yang paling utama perlunya dilakukan penelitian ini, ada dua hal yaitu: pertama, karena beredarnya hadis palsu ( maud}u>’) pada kalangan masyarakat; kedua hadis-hadis tidak ditulis secara resmi pada masa Rasulullah saw. (berbeda dengan al-

120 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Qur’an), sehinga penulisan hanya bersifat individual (tersebar di tangan pribadi sahabat) dan tidak meyeluruh. 4. Rawi Kata rawi berarti orang yang meriwayatkan atau yang memberitakan suatu hadis. Orang-orang yang menerima hadis kemudian mengumpulkanya dalam suatu kitab tadwin disebut dengan rawi. Perawi dapat disebutkan dengan mudawwin (orang yang mengumpulkan). Sedangkan orang-orang yang menerima hadis dan hanya meyampaikan kepada orang lain, tanpa membukukannya disebut sanad hadis. Setiap sanad adalah perawi pada setiap tabaqah (levelnya), tetapi tidak setiap perawi disebut sanad hadis karena ada perawi yang langsung membukukanya. Pada silsilah sanad, yang disebut sanad pertama adalah orang yang langsung meyampaikan hadis tersebut kepada penerimanya. Sedangkan pada rawi yang disebut rawi pertama ialah para sahabat Rasulullah saw.. Dengan demikian penyebutan silsilah antara kedua istilah ini (sanad dan rawi) berlaku kebalikannya. Artinya rawi pertama sanad terakhir dan sanad pertama adalah rawi terakhir. 5. Contoh Agar menjadi jelas yang apa dimaksudkan sebagai sanad, matan dan rawi, perhatikan contoh di bawah ini: Contoh Sanad: ََُحَذزَىَاًََُْظَف ُِذََبٌَََـُفَيْرَكَاََُحَذزَجِيٌَََالل ُْثَكَاََحَذزَجِيًَََْـُل َُْلًََِْـََابًَََْشِهَابَََـًََِْحَمْضَةََِب ًََِّْللا ََِـَبْذَََبََـُمَشًَََْؤَنَََابٌَََـُمَشََُكَاٌَََظَمِفْذَّللا ََِسَظُىََِّللا ََُضَلىَََـَل َُْهٌَََوَظَلمكَا Contoh Matan:

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 121 ب َِْىَاَؤَهَاََهَاثِمََُؤُج ِِذََِبِلَذَحََلَبَنََُفَشَشِبْذَحَتىَبِوِّيََِلََسَيََالشِّيًَََُخْشُجَفِيََؤَؼْفَاسِيََزُمََُؤَـْع َُْذَ فَضْلِيَََـُمَشًَََْبََِالْخَعابَكَالُىاَفَمَاََُؤَولْخَهًََاٌَََسَظُىَّللا ٌََََِكَاَََالْفِلْم Contoh Rawi ََسواهالبخاسي Yang disebut rawi atau mukharrij adalah orang yang mengeluarkan hadis atau membukukan hadis. 6. Syarat-syarat Rawi Rawi adalah orang orang yang memindahkan hadis dari seorang guru kepada orang lain dengan membukukannya ke dalam suatu kitab hadis. Syarat-syarat Rawi adalah: a. Adil Adil dalam konteks studi hadis berbeda dengan adil dalam konteks persaksian atau hukum. Menurut muh}addis|i>n yang dimaksud dengan adil adalah istiqa>matuddin dan al-muru>’ah. Istiqa>matuddin adalah melaksanakan kewajiban- kewajiban dan menjauhi perbuatan-perbuatan haram yang mengakibatkan pelakunya fasik. Sedangkan al-muru>’ah adalah melaksanakan adab dan akhlak yang terpuji dan meninggalkan perbuatan yang menyebabkan orang lain mencelanya. b. Muslim. Menurut ijmak seorang rawi pada waktu meriwayatkan suatu hadis maka ia harus muslim. Periwayatan kafir tidak sah. Seandainya seorang fasik saja kita disuruh klarifikasi, maka lebih-lebih rawinya yang kafir. Kaitan dengan masalah ini berdasarkan firman Allah swt. QS al-H}ujura>t [49] : 6

122 AL-QUR’AN HADIS KELAS X ًَاَؤَيهَاًًَََِالزَآمَىُىاََْبِنََْحَاءَهُمََفَاظِمََبِيَبَةَفَخَب َِ ىُىاََْؤَنَجُط ِِبُىاَكَىْمًاََبِجَهَالَتَفَخُطْبِحُىاََـَلَىَ مَاََْفَفَلْخُمَََهَادِمِين Terjemahnya : Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. c. Balig d. Berakal e. Tidak pernah melakukan perbuatan dosa besar f. Tidak sering melakukan dosa kecil g. Dabit Dabit mempunyai dua pengertian yaitu: a. Dabit dalam arti kuat hafalan serta daya ingatnya dan bukan pelupa yang sering disebut dengan istilah d}a>bit al-s}adri. b. Dabit dalam arti dapat memelihara kitab hadis dari gurunya sebaik-baiknya, sehingga tidak mungkin ada perubahan yang disebut dengan d}a>bit al-kita>bah. Berikut ini adalah daftar para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis ( al-muks|iru>na fi> al-h}adi>s|) atau disebut juga bendaharawan hadis antara lain: 1) Abu Hurairah, meriwayatkan 5.374 hadis. 2) Abdullah bin Umar, meriwayatkan 2.630 hadis. 3) Anas bin Malik, meriwayatkan 2.286 hadis. 4) Aisyah Ummul Mukminin, meriwayatkan 2.210 hadis. 5) Abdullah bin Abbas, meriwayatkan 1.660 hadis. 6) Jabir bin Abdullah, meriwayatkan hadis 1.540 hadis. 7) Abu Sa’id Al-Khudri, meriwayatkan 1.170 hadis.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 123 7. Memahami Pengertian Rija>l al- H}adi>s} Para rawi hadis disebut juga rija>l al-h}adi>s|. Untuk dapat mengetahui keadaan para rawi hadis itu terdapat ilmu rija>l al-h}adi>s yaitu: ‚Ilmu yang membahas para rawi hadis, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in dan orang-orang (angkatan) sesudah mereka.‛ Dalam ilmu rija>l al-h}adi>s ini dijelaskankan tentang sejarah ringkas para rawi hadis dan riwayat hidupnya, dan mazhab yang dianut serta sifat-sifat rawi dalam meriwayatkan hadis. Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini banyak macamnya. Ada yang hanya menerangkan riwayat singkat dari sahabat Nabi dan ada yang menerangkan riwayat hidup rawi secara lengkap. Ada juga yang menjelaskan para rawi yang dipercayai ( s|iqah) saja. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat para rawi yang lemah-lemah, atau para mudallis, atau para pembuat hadis mau>d}u>’. Dan ada yang menjelaskan sebab-sebab dicatat dan sebab-sebab dipandang adil dengan menyebut kata-kata yang dipakai untuk itu serta martabat-martabat perkataan. Pertama seorang ulama yang menyusun kitab riwayat ringkas para sahabat, ialah: Imam al-Bukhari ( w. 256 H). Kemudian, usaha itu dilaksanakan oleh Muhammad ibn Sa’ad (w. 230 H). Sesudah itu bangunlah beberapa ahli lagi. Di antaranya, yang penting diterangkan ialah Ibn Abdil Barr ( w. 463 H). Kitabnya bernama al-Isti>’a>b. Pada permulaan abad yang ketujuh Hijrah berusahalah ‘Izzuddin Ibnul Asir (630 H) mengumpulkan kitab-kitab yang telah disusun sebelum masanya dalam sebuah kitab besar yang dinamai ‚Usd al- Ga>bah‛. Ibnul Asir ini adalah saudara dari Majduddin Ibnu Asir penulis An-Niha>yah fi Gari>b al-H}adi>s|. Kitab ‘Izzuddin diperbaiki oleh Az-Zahabi (w. 747 H) dalam kitab at-Tajri>d. Sesudah itu di dalam abad yang ke sembilan Hijrah, bangunlah al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqala>ni> menyusun kitabnya yang terkenal dengan nama al-Is}a>bah. Dalam kitab ini dikumpulkan al-Isti>’a>b dengan Usd al-Ga>bah dan ditambah dengan yang

124 AL-QUR’AN HADIS KELAS X tidak terdapat dalam kitab-kitab tersebut. Kitab ini telah diringkaskan oleh as-Sayu>t}i> dalam kitab ‘Ain al-Is}a>bah. D. PERILAKU ORANG YANG BERPEGANG TEGUH PADA HADIS Setelah belajar tentang unsur-unsur hadis maka kita mesti memahami bahwa semestinya sebagai seorang pembelajar hadis, kita harus bersikap: 1. Mempelajari lebih serius unsur-unsur hadis dengan dilandasi oleh rasa ingin tahu dan semangat untuk menumbuhkembangkannya di dalam diri kita. 2. Kita mesti sepaham bahwa mempelajari unsur-unsur ilmu hadis adalah hal yang semestinya dilakukan dengan sepenuh hati dan terus dilakukan, baik selama di dalam madrasah maupun di luar madrasah. 3. Tetap teguh mempelajari para pelaku sejarah yang telah menjadi unsur-unsur hadis (sanad dan rawi) melalui karya-karya mereka dan sedapat mungkin belajar menjadi penerus mereka. E. MARI BERDISKUSI Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan tentang alasan mengapa perawi hadis harus beragama Islam, berakal, balig dan ḍābiṭ. lalu mempresentasikannya di depan kelas. F. RANGKUMAN 1. Sanad adalah rentetan perawi-perawi (silsilah) atau rangkaian orang-orang yang meyampaikan materi hadis Rasulullah saw. 2. Matan hadis adalah redaksi hadis nabi atau isi perkataan Rasulullah. 3. Orang-orang yang menerima hadis kemudian mengumpulkanya dalam suatu kitab tadwin disebut dengan rawi. 4. Ilmu rija>l al-h}adi>s adalah ilmu yang mempelajari para perawi hadis, dari zaman sahabat, tabiin hingga para pengumpul yang membukukan hadis.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 125 G. AYO BERLATIH I. Penerapan Terjemahkan hadis dibawah ini dan identifikasi sanad, matan dan rawinya ! ََُحَذزَىَاًََُْظَف ُِذََبٌَََـُفَيْرَكَاََُحَذزَجِيٌَََالل ُْثَكَاََحَذزَجِيًَََْـُل َُْلًََِْـََابًَََْشِهَابَََـًََِْحَمْضَةََِبًََِّْللا ََِـَبْذَََب ََـُمَشًَََْؤَنَََابٌَََـُمَشََُكَاٌَََظَمِفْذَّللا ََِسَظُىََِّللا ََُضَلىَََـَل َُْهٌَََوَظَلمَكَاَب َِْىَاَََؤَهَاَهََُاثِمََِؤُج ِِذََبِلَذَحََُلَبَن َفَشَشِبْذَحَتىََبِوِّيََِلََسَيََُالشِّيًََخْشُجََفِيََؤَؼْفَاسِيََُزُمَؤَـْع َُْذَََفَضْلِيًَََْـُمَشََِبَالْخَعابَكَالُىاََُفَمَاَؤَولْخَهًٌََََا ٌَََّللا ََِسَظُىَََكَاََالْفِلْم..ََسواهالبخاسي Sanad : Matan : Rawi : II. Uraian 1. Apa yang dimaksud dengan sanad dan matan? 2. Bagaimana pendapat anda tentang syarat perawi harus ḍābiṭ? Jelaskan pengertian ḍābiṭ dan macam-macamnya? 3. Bagaimana ciri orang yang berpegang teguh terhadap hadis? Jelaskan. 4. Apa yang anda ketahui tentang rija>l al-h}adi>s? Jelaskan! III. Tugas Amatilah perilaku yang menunjukkan sebagai orang yang berpegang teguh dengan hadis di lingkungan tempat tinggalmu dan berikan tanggapanmu. Perilaku yang diamati Tanggapanmu Nilai Paraf Orangtua Paraf Guru

126 AL-QUR’AN HADIS KELAS X MENGHAYATI FUNGSI HADIS TERHADAP AL-QUR’AN

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 127 www.islam.nu.or.id KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunnya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

128 AL-QUR’AN HADIS KELAS X KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati fungsi hadis terhadap al-Qur’an 2. Mengamalkan sikap proaktif dalam lingkungannya sebagai implementasi dari pemahaman fungsi hadis terhadap al-Qur’an. 3. Menganalisis fungsi hadis terhadap al-Qur’an 4. Menyajikan contoh-contoh fungsi hadis terhadap al-Qur’an TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menghayati fungsi hadis terhadap al-Qur’an 2. Mengimplementasikan fungsi hadis dalam memahami al-Qur’an. 3. Menganalisis fungsi hadis terhadap al-Qur’an 4. Menyajikan contoh-contoh fungsi hadis terhadap al-Qur’an PETA KONSEP

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 129 A. MARI RENUNGKAN Dalam hukum Islam, hadis menjadi sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Sejak masa sahabat sampai hari ini para ulama telah bersepakat dalam penetapan hukum didasarkan juga kepada sunah Nabi, terutama yang berkaitan dengan petunjuk operasional. Hadis berfungsi sebagai penjelas bagi al-Qur’an dan perinci pesan-pesan al-Qur’an karena kebanyakan kandungan al-Qur’an yang bersifat ijmali (global). Rasululllah juga menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk dengan istilah halal dan haram. Segala hewan-hewan (binatang-binatang) buas, yang mempunyai taring, dan burung- burung yang mempunyai kuku yang mencakar dan yang menyambar diharamkan melalui hadis. B. MARI MENGAMATI Amatilah perilaku orang disekitarmu yang menggambarkan contoh perilaku menggunakan hadis sebagai penjabaran al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. C. MENGANALISIS FUNGSI HADIS TERHADAP AL-QUR’AN 1. Fungsi Hadis terhadap Al-Qur`an Al-Qur’an dan hadis Rasulullah adalah dasar dari pengetahuan Islam. Sunah Rasulullah yang diberitakan dan diinformasikan melalui hadis tentu memiliki fungsi terhadap pemahaman dan penafsiran al-Qur’an. Fungsi hadis terhadap al-Quran tentu saja sangat dipengaruhi dari kevalidan hadis tersebut. Hadis berfungsi memperjelas pesan-pesan al-Quran secara lebih lengkap dan juga dalam mencapai tujuan penciptaan manusia dan menjabarkan hukum-hukum dan ajaran Islam. Manafsirkan dan memfungsikan hadis tidak bisa sembarangan, dan harus dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli dan memiliki ilmu pengetahuan terkait tentangnya. Untuk itu, berikut adalah penjelasan mengenai fungsi hadis terhadap al- Qur’an.

130 AL-QUR’AN HADIS KELAS X a. Baya>n at-Taqri>r Baya>n at-taqri>r adalah menetapkan juga memperkuat dari apa yang sudah diterangkan dalam al-Quran. Di sini hadis berfungsi untuk membuat kandungan al-Qur’an semakin kokoh dengan adanya penjelasan hadis tersebut. Contoh fungsi ini seperti sebuah hadis yang menjelaskan firman Allah swt. dalam QS al Baqarah [2]: 185َُ َََشَهْشََْٓسَمَضَانٌَََِالزِيََِاُهْضََف ُِْهَُالْلُشْاَنََِهُذًيََلِّلىاطَوَب َُِّيًَََِّذََمالْهُذََي ًَََِْوَالْفُشْكَانَََفَمََُشَهِذَََمِىْىُم ََُالشهْشََفَل َُْطُمْه ًَََََْۚوَمَوَانََْمَش ٍِْضًاََاَوـَلََىََظَفَشًََِّْفَفِذةََمَََا ًَ امََاُخَش َََُِّۚللاًََُُٰش ٍِْذَُبَََىُمَََال ُِْعْشََُوَل ًََُُش ٍِْذَََبِىُمۚ ََالْفُعْشَََوَلِخُىْمِلُىاَالْفِذةََّللاَََٰوَلِخُىَبِّرُواـَلَىََمَاَْهَذًََْىُمَََوَلَفَلىُمحَشْىُشُوْن Terjemahnya : Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur. Ayat ini dikuatkan dan ditetapkan oleh hadis : َضىمىاَلشئ ٍخهَوؤَفعشوالشئ ٍخهَ Artinya : Berpuasalah ketika kalian melihat ( ru’yah) bulan sabit dan berbukalah ketika kalian juga melihat ( ru’yah) bulan sabit. (HR Muslim) Contoh lain dari baya<n at-taqri>r ini adalah sabda Rasulullah saw., ‚Tidak diterima salat seseorang yang berhadas sampai ia berwudu‛ (HR.Bukhari dan Abu Hurairah) Hadis ini mentakrir (menetapkan dan menguatkan) firman Allah swt. dalam QS al-Ma>idah [5]: 6 yang berbunyi: ًًًَََِْاَاَيهَاالزَاَمَىُىْاََْاِرَاَكُمْخُمََِاِلَىَالطّلَىةََْفَاغْعِلُىْاََْوُحُىْهَىُمَوَؤ ًَْذ ًَِىُمََِاِلَىَا ْلَْشَافِمََْوَامْسَحُىْا بِشُءُوْظِىُمَََََوَْؤَسْحُلَىُمََِاِلَىالْىَفْبَيْن

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 131 Terjemahnya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. b. Baya>n at-Tafsi>r Fungsi hadis sebagai baya>n at-tafsi>r berarti memberikan tafsiran (perincian) terhadap isi al-Qur’an yang masih bersifat umum ( mujmal) serta memberikan batasan-batasan (persyaratan) pada ayat-ayat yang bersifat mutlak ( taqyi>d). Mungkin di dalam al-Qur’an masih bersifat umum, sedangkan dalam hadis diperinci dan didetailkan serta mentekniskan apa yang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an. Misalnya Allah memerintahkan orang beriman untuk melaksanakan salat. Mengenai teknis detail dan caranya, hal ini diperjelas dengan hadis sebagaimana yang telah Rasulullah lakukan. Contoh hadis sebagai baya>n at-tafsi>r adalah penjelasan nabi Muhammad saw. mengenai hukum pencurian. َؤَحَىََِبِعَاَََسِقََُفَلَعَقًًَََِْذَهََِمََِّمِفْطَلالْىَف Artinya: Rasulullah saw. didatangi seseorang yang membawa pencuri, maka beliau memotong tangan pencuri tersebut dari pergelangan tangan. Hadis ini menafsirkan frman Allah swt. dalam QS al-Mai>dah [5] : 38 َُ ََُوَالعاسِقََِوَالعاسِكَتَفَاكْعَفُىْاا ًَْذًََيَهُمَاَحَضَاءَبِمَاًََهَعَبَاًَََِهَيَالََِمللا Terjemahnya: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Al-Quran memerintahkan hukuman bagi seorang pencuri dengan memotong tangannya. Ayat ini masih bersifat umum, kemudian Nabi saw. memberikan batasan bahwa yang dipotong dari pergelangan tangan.

132 AL-QUR’AN HADIS KELAS X c. Baya>n at-Tasyri>’ Hadis sebagai baya>n at-tasyri>’ ialah sebagai pemberi kepastian hukum atau ajaran-ajaran Islam yang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an. Biasanya al-Qur’an hanya menerangkan pokok-pokoknya saja. Sebagaimana contohnya hadis mengenai zakat fitrah, dibawah ini: َ ٌََُْاِنََِسَظُىَللاََُضَلىََِللاَََـَل َُْهَََوَظَلمَفَشَضَََصَوَاََِةًََِْالفِعْشَََمَسَمَضَانََِـَلَىَالىاطَضَاًََِْـًاََْمَجَمَشاَو ًََِْضَاََـًامَشَفِيْرََِّـَلَىََوُل ََّحُشََاَوْـَبْذََْرَهَشَؤَوًَََِؤُهْثَىَََما ْْلُعْلِمِيْن Artinya : Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat Islam pada bulan Ramadan satu s}a>’ kurma atau gandum untuk setiap orang, beik merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan. (HR. Muslim) Baya>n at-tasyri>’ memiliki maksud untuk mewujudkan hukum atau aturan yang tidak didapat dalam al-Qur’an secara eksplisit. Hal ini berfungsi untuk menunjukkan suatu kepastian hukum dengan berbagai persoalan yang ada di kehidupan namun tidak dijelaskan al-Qur’an. d. Baya>n an-Nasakh Secara etimologi, an-nasakh memiliki banyak arti di antaranya at-tagyi>r (mengubah), al-ibt}a>l (membatalkan), at-tah}wi>l (memindahkan), atau iza>lah (menghilangkan). Para ulama mendefinisikan baya>n an-nasakh sebagai ketentuan yang datang kemudian dapat menghapuskan ketentuan yang terdahulu, sebab ketentuan yang baru dianggap lebih cocok dengan lingkungannya dan lebih luas. Salah satu contohnya yakni hadis: ََ ََلَوَض ُِ تلِىَاسِر Artinya: Tidak ada wasiat bagi ahli waris. Hadis ini menasakh QS al-Baqarah [2] : 180 ََ ََْهُخِبَََـَل َُْىُمَََاِرَاحَضَشََْاَحَذََُهُمََْا ْلَىْثَََاِنََُجَشَنَََخَيْرَالىَض ُِ تَْلاًًَََََِْْلِلْىَالِذَََوََِكْشَبِيْنَبِا ْلَْفْشُوْفَحَلًّا َََـَلَىا ْلُخلِيْن

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 133 Terjemahnya: Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda- tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu- bapak dan karib kerabat secara makruf. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. Untuk fungsi hadis sebagai baya>n nasakh ini masih terjadi perdebatan di kalangan ulama. Para ulama Ibn Hazm dan Mutaqaddimin membolehkan menasakh al-Qur’an dengan segala hadis walaupun hadis ahad. Kelompok Hanafiyah berpendapat boleh menasakh dengan hadis masyhur tanpa harus mutawatir. Sedangkan para muktazilah membolehkan menasakh dengan syarat hadis harus mutawatir. Selain itu, ada juga yang berpendapat baya>n nasakh bukanlah fungsi hadis. 2. Kedudukan Hadis terhadap al-Qur’an Al-Qur`an sebagai sumber pokok dan hadis sebagai sumber kedua mengisyaratkan pelaksanaan dari keyakinan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang tertuang dalam dua kalimat syahadat. Karena itu menggunakan hadis sebagai sumber ajaran merupakan suatu keharusan bagi umat Islam. Setiap muslim tidak bisa hanya menggunakan al-Qur’an, tetapi ia juga harus percaya kepada hadis sebagai sumber kedua ajaran Islam. Hadis mempunyai kedudukan sebagai sumber hukum Islam kedua. Hadis tidak boleh diabaikan peranannya dalam ajaran Islam karena Allah swt. berfirman dalam QS an-Nisa [4]: 80ًََْ ََِمًٌَََُعِقََْالشظُىَََفَلَذًََْۚ ََّللا َََؤَظَاؿََوَمَجَىَلىَََفَمَاََْؤَسْظَلْىَانَـَلَيْهِمحَف ُِؽًا Terjemahnya : Barangsiapa yang mentaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.

134 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Allah swt. juga menekankan dalam QS al-H}asyr [59]:7 …..…َْ وَمَااَجَاهُمٌََُْالشظُىََُفَخُزُوْهَوَمَانَهَاََْهُمََُـَىْهَََفَاهْتهُىْا …… Terjemahnya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. D. PERILAKU ORANG YANG BERPEGANG TEGUH PADA HADIS Setelah belajar tentang fungsi hadis terhadap al-Qur’an maka kita mesti bisa memahami dan menganalisa bahwa seorang muslim wajib menerapkan keduanya di dalam kehidupan. Tanpa keduanya tidak mungkin seseorang tumbuh dan berkembaang sebagai pribadi muslim yang saleh. Al-Qur’an meskipun mencakup seluruh aspek kehidupan, umat Islam wajib menggunakan hadis-hadis Nabi sebagai penerjemahan perintah-perintah al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bagi masyarakat awam, al-Qur’an dan hadis pun belumlah cukup untuk memahami maksud ajaran-ajaran Islam. Masih butuh keterangan dari para ulama mengenai ketetapan dan hukum-hukum Islam. E. MARI BERDISKUSI Diskusikan bersama teman dan kelompokmu tentang fungsi hadis terhadap al- Qur’an kemudian presentasikan hasilnya di depan kelas. F. RANGKUMAN 1. Baya>n at-taqri>r adalah menetapkan dan memperkuat dari apa yang sudah diterangkan dalam al-Quran. Di sini hadis berfungsi untuk membuat kandungan al-Qur’an semakin kokoh. 2. Baya>n at-tafsi>r adalah tafsiran (perincian) terhadap isi al-Qur’an yang masih bersifat umum ( mujmal) serta memberikan batasan-batasan (persyaratan) pada ayat-ayat yang bersifat mutlak ( taqyi>d). 3. Hadis sebagai baya>n at-tasyri>’ ialah sebagai pemberi kepastian hukum atau ajaran- ajaran Islam yang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an. 4. Para ulama berbeda pendapat mengenai baya>n nasakh

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 135 G. AYO BERLATIH I. Uraian 1. Apa fungsi-fungsi hadis terhadap al-Qur’an? Jelaskan! 2. Bagaimana sikap proaktif dalam lingkungannya sebagai implementasi dari pemahaman fungsi hadis terhadap al-Qur’an? 3. Analisis fungsi hadis terhadap al-Qur’an! 4. Sajikan contoh-contoh fungsi hadis terhadap al-Qur’an! II. Tugas Amatilah perilaku orang di sekitarmu. Sebutkan contoh penggunaan hadis sebagai penjelas dari al-Qur’an dan tuliskan tanggapanmu. Perilaku yang diamati Tanggapanmu Nilai Paraf Orangtua Paraf Guru

136 AL-QUR’AN HADIS KELAS X HADIS SAHIH SEBAGAI DASAR HUKUM

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 137 KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunnya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan

138 AL-QUR’AN HADIS KELAS X peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati keberadaan hadis sahih dapat dijadikan sebaagai dasar hukum; 2. Mengamalkan sikap kritis terhadap suatu informasi sebagai implementasi dari pemaahaman pembagian hadis dari segi kuantitas dan kualitas; 3. Menganalisis pembagian hadis dari segi kuantitas dan pembagian hadis dari segi kualitas; 4. Menyajikan pembagian hadis dari segi kuantitas dan kualitas dalam bentuk bagan/skema. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menghayati keberadaan hadis sahih dapat dijadikan sebaagai dasar hukum; 2. Mengamalkan sikap kritis terhadap suatu informasi sebagai implementasi dari pemaahaman pembagian hadis dari segi kuantitas dan kualitas; 3. Menganalisis pembagian hadis dari segi kuantitas dan pembagian hadis dari segi kualitas; 4. Menyajikan pembagian hadis dari segi kuantitas dan kualitas dalam bentuk bagan/skema. PETA KONSEP

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 139 A. MARI RENUNGKAN Seumpama kita menerima kabar dari seseorang yang tidak dapat kita percaya, bagaimanakah sikap kita? Bandingkan apabila kita menerima kabar dari orang yang dapat kita percaya. Terutama bila kabar itu menyangkut persoalan-persoalan penting. Maka seperti itulah kedudukan hadis sahih di antara hadis-hadis daif. Hal-hal yang menyangkut ibadah-ibadah mahda didasarkan pada hadis sahih. Demikian juga hal-hal yang menyangkut masalah keimanan atau ideologi. Kita tidak menerima hadis daif sebagai dasar keimanan kita. B. MARI MENGAMATI Amatilah gambar di bawah ini dan berikan tanggapanmu Republika.com C. MARI MENGANALISIS Selain bertopang pada al-Quran, hukum yang ditetapkan dalam agama Islam haruslah berlandaskan hadis sahih, bukan hadis daif. Allah swt. telah mengistimewakan agama ini dengan adanya sanad (jalur periwayatan) hadis. Sanad merupakan penopang agama. Oleh karena itu, hadis sahih wajib diamalkan. Hadis hasan hanya digunakan untuk fad}a>il al-a’ma>l (motivasi amal ibadah). Sedangkan hadis yang sampai pada tingkatan maud}u>’ sama sekali tidak boleh digunakan. Adapun bila tidak sampai maud}u>, maka masih boleh digunakan, tetapi bukan untuk menentukan hukum.

140 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, َظالذًَابيَـََالشحلًَيىنَـىذهَالىخبَاْلطىفتٌََفيهاٌََكىَسظىَللاَضلىَللاَـلُهَوَظلم–َ َوالصحابتَوالخابفينَولِغَللشحلَبطشَبالحذًثَالضفُفَاْلترونَولََْلاظىادًَاللىيَم ََالضفُفَفُجىَصَانٌَفملَبماَشاءَوٍخخيرَمنهاَفُفتىَبهَوَفملٌَبهَكاَلٌَفملٌَحتىٌَعإَما ًَاخزَبهََمنهاَف ُيىنٌَفملَـلىَامشٌَصحُحًٌَعاًَـَرلَاهلالفلم Artinya: Saya bertanya kepada ayahku (Imam Ahmad) mengenai seorang yang memiliki berbagai kitab yang memuat sabda Nabi saw., perkataan para sahabat, dan tabiin. Namun, dia tidak mampu untuk mengetahui hadis yang lemah, tidak pula mampu membedakan sanad hadis yang sahih dengan sanad yang lemah. Apakah dia boleh mengamalkan dan memilih hadis dalam kitab-kitab tersebut semaunya, dan berfatwa dengannya? Ayahku menjawab, ‚Dia tidak boleh mengamalkannya sampai dia bertanya hadis mana saja yang boleh diamalkan dari kitab-kitab tersebut, sehingga dia beramal dengan landasan yang tepat, dan (hendaknya) dia bertanya kepada ulama mengenai hal tersebut.‚ Imam Muslim rahimahullah berkata, ‚Ketahuilah, -semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu, bahwa seluk beluk hadis dan pengetahuan terhadap hadis yang sahih dan cacat hanya menjadi spesialisasi bagi para ahli hadis. Hal itu dikarenakan mereka adalah pribadi yang menghafal seluruh periwayatan para rawi yang sangat menguasai jalur periwayatan. Sehingga, pondasi yang menjadi landasan beragama mereka adalah hadis dan atsar yang dinukil (secara turun temurun) dari masa Nabi saw. hingga masa kita sekarang.‛ Menurut Imam al-Ans}a>r, seorang yang ingin berdalil dengan suatu hadis yang terdapat dalam kitab Sunan dan Musnad, (maka dia berada dalam dua kondisi). Jika dia seorang yang mampu untuk mengetahui (kandungan) hadis yang akan dijadikan dalil, maka dia tidak boleh berdalil dengannya hingga dia meneliti ketersambungan sanad hadis tersebut dan kapabilitas para perawinya. Jika dia tidak mampu, maka dia boleh berdalil dengannya apabila menemui salah seorang imam yang menilai hadis tersebut berderajat sahih atau hasan. Jika tidak menemui seorang imam yang mensahihkan hadis tersebut, maka dia tidak boleh berdalil dengan hadis tersebut.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 141 D. PEMBAGIAN HADIS BERDASAR KUANTITAS Adapun berdasarkan jumlah kuantitas atau berdasarkan jumlah perawinya, hadis terbagi menjadi dua bagian. Pertama, hadis mutawatir, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang banyak. Kedua hadis ahad, yang diriwayatkan oleh orang yang banyak, tapi tidak sampai sejumlah hadis mutawatir. Hadis ahad itu bukanlah hadis palsu atau hadis bohong, namun hadis yang sahih pun bisa termasuk hadis ahad juga, yang tidak sampai derajat mutawatir. Hadis ahad tidak ditempatkan secara berlawanan dengan hadis sahih, melainkan ditempatkan berlawanan dengan hadis mutawatir. 1. Hadis Mutawatir Hadis mutawatir adalah hadis hasil tanggapan dari pancaindera yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat berdusta. a. Syarat-syarat Hadis Mutawatir Untuk bisa dikatakan sebagai hadis mutawatir, ada beberapa syarat minimal yang harus terpenuhi: 1) Pemberitaan yang disampaikan oleh perawi harus berdasarkan tanggapan pancainderanya sendiri. 2) Jumlah perawinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat dusta. 3) Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi dalam t}abaqah (lapisan) pertama dengan jumlah perawi dalam lapisan berikutnya. Karena syaratnya yang sedemikian ketat, maka kemungkinan adanya hadis mutawatir sedikit sekali dibandingkan dengan hadis-hadis ahad. b. Klasifikasi Hadis Mutawatir Hadis mutawatir itu sendiri masih terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu mutawatir lafz}i> dan mutawatir ma’nawi>. Hadis mutawatir lafz}i adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang yang susunan redaksi dan maknanya sesuai benar antara riwayat yang satu dengan yang lainnya. Atau boleh disebut juga dengan hadis yang mutawatir lafaznya.

142 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Hadis mutawatir ma’nawi> adalah hadis mutawatir yang perawinya berlainan dalam menyusun redaksi hadis, tetapi terdapat persamaan dalam maknanya. Atau menurut definisi lain adalah kutipan sekian banyak orang yang menurut adat kebiasaan mustahil bersepakat dusta atas kejadian-kejadian yang berbeda-beda tetapi bertemu pada titik persamaan. Hadis mutawatir memberi manfaat ilmu d}aru>ri> yakni keharusan untuk menerimanya bulat-bulat sesuatu yang diberitakan oleh hadis mutawatir sehingga membawa kepada keyakinan yang qat}’i> (pasti). 2. Hadis Ahad Hadis ahad adalah semua hadis yang tidak mencapai derajat mutawatir. Dengan demikian, sudah bisa dipastikan bahwa jumlah hadis ahad itu pasti lebih banyak dibandingkan dengan hadis mutawatir. Bahkan boleh dibilang bahwa nyaris semua hadis yang kita miliki dalam ribuan kitab, derajatnya hanyalah ahad saja, sebab yang mutawatir itu sangat sedikit, bahkan lebih sedikit dari ayat-ayat al-Qur’an. a. Klasifikasi Hadis Ahad Kalau kita berbicara hadis ahad, sebenarnya kita sedang membicarakan sebagian besar hadis. Sehingga kita masih leluasa untuk mengklasifikasikannya lagi menjadi beberapa kelompok hadis ahad. 1) Hadis Masyhu>r : Hadis masyhu>r adalah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih serta belum mencapai derajat mutawatir. Hadis masyhur sendiri masih terbagi lagi menjadi tiga macam, yaitu masyhur di kalangan para muh}addis|i>n dan golongannya; masyhur di kalangan ahli-ahli ilmu tertentu dan masyhur dikalangan orang umum. 2) Hadis ‘Azi>z Hadis ‘azi>z adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang walaupun dua orang rawi tersebut terdapat pada satu lapisan saja, kemudian setelah itu orang- orang lain meriwayatkannya.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 143 3) Hadis G}ari>b Hadis g}ari>b adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat seorang (rawi) yang menyendiri dalam meriwayatkan di mana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi. E. PEMBAGIAN HADIS BERDASARKAN KUALITAS Berdasarkan kualitasnya, hadis dapat dibagi menjadi tiga, yakni hadis sahih, hadis hasan dan hadis daif. 1. Hadis Sahih Secara etimologi, kata sahih (Arab: صحيح) artinya: sehat. Kata ini merupakan antonim dari kata saqi>m (Arab: سقيم) yang artinya: sakit. Bila digunakan untuk menyifati badan, maka makna yang digunakan adalah makna hakiki (yang sebenarnya), tetapi bila diungkapkan di dalam hadis dan pengertian-pengertian lainnya, maka maknanya hanya bersifat kiasan ( maja>z). Sedangkan secara istilah, pengertian yang paling tepat tentang hadis sahih adalah adalah: َماَاجطلَظىذهٌَبىللَالفذًَالضابغ،َـَمشلهَبلىًَمىتهاه،َمَغيرَشزور،َولـلت Artinya : Hadis yang bersambung sanadnya (jalur periwayatan) melalui penyampaian para perawi yang adil, dabit, dari perawi yang semisalnya sampai akhir jalur periwayatan, tanpa ada syuzu>z, dan juga tanpa ‘illat. Bersambung sanadnya berarti masing-masing perawi mengambil hadis dari perawi di atasnya secara langsung, dari awal periwayatan hingga ujung (akhir) periwayatan. Seorang perawi disebut adil jika memenuhi kriteria: muslim, balig, berakal, tidak fasik, dan juga tidak cacat muruah wibawanya (di masyarakat). Perawi yang dabit adalah orang yang kuat hafalannya. Sehingga hadis yang dia bawa tidak mengalami perubahan. Perawi yang dabit ada 2: a. Dabit karena kekuatan hafalan, yang disebut d}abt} al-s}adr. b. Dabit karena ketelitian catatan, yang diistilahkan dengan d}abt al-kita>bah.

144 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Perawi yang memiliki d}abt al-kita>bah, hadisnya bisa diterima jika dia menyampaikannya dengan membaca catatan. Tanpa syuzu>z artinya hadis yang diriwayatkan itu tidak bertentangan dengan hadis lain yang diriwayatkan dengan jalur lebih terpercaya. ‘Illat (cacat hadis) adalah sebab tersembunyi yang mempengaruhi kesahihan hadis, meskipun bisa jadi zahirnya tampak sahih. Sehingga hadis sahih harus benar-benar bebas dari ‘illat (cacat). Definisi hadis sahih secara konkrit baru muncul setelah Imam Syafi’i memberikan penjelasan tentang riwayat yang dapat dijadikan hujah, yaitu: Pertama, apabila diriwayatkan oleh para perawi yang dapat dipercaya pengamalan agamanya, dikenal sebagai orang yang jujur memahami hadis yang diriwayatkan dengan baik, mengetahui perubahan arti hadis bila terjadi perubahan lafaznya; mampu meriwayatkan hadis secara lafaz, terpelihara hafalannya bila meriwayatkan hadis secara lafaz, bunyi hadis yang dia riwayatkan sama dengan hadis yang diriwayatkan orang lain dan terlepas dari tadli>s (penyembuyian cacat), Kedua, rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi Muhammad saw. atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi. Satu hal yang penting untuk kita jadikan catatan, berdasarkan keterangan bahwa seseorang tidak mungkin bisa menilai kesahihan suatu hadis sampai dia betul-betul mendalami ilmu hadis. Karena itu, bagi orang yang merasa belum memiliki ilmu yang cukup tentang masalah hadis, selayaknya dia merujuk kepada ahlinya, ketika hendak menilai keabsahan suatu hadis. Imam Bukhari dan Imam Muslim membuat kriteria hadis sahih sebagai berikut: 1) Rangkaian perawi dalam sanad itu harus bersambung mulai dari perawi pertama sampai perawi terakhir 2) Para perawinya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal s|iqat, dalam arti adil dan dabit 3) Hadisnya terhindar dari ‘illat (cacat) dan syadz (janggal), dan 4) Para perawi yang terdekat dalam sanad harus sezaman.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 145 Syarat-syarat Hadis Sahih Berdasarkan definisi hadis sahih diatas, dapat dipahami bahwa syarat- syarat hadis sahih dapat dirumuskan sebagai berikut: a. Sanadnya Bersambung Maksudnya adalah tiap-tiap perawi dari perawi lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya, dari sejak awal hingga akhir sanadnya. Untuk mengetahui dan bersambungnya dan tidaknya suatu sanad, biasanya ulama hadis menempuh tata kerja sebagai berikut; 1. Mencatat semua periwayat yang diteliti 2. Mempelajari kehidupan masing-masing periwayat 3. Meneliti kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad, yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa h}addas|ani>, akhbarana>, akhbarani>, ‘an, anna, atau kata-kata lainnya. b. Perawinya Bersifat Adil Maksudnya adalah tiap-tiap perawi itu seorang muslim, bersetatus mukallaf (balig), bukan fasik dan tidak pula jelek prilakunya. Dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakukan dengan salah satu teknik berikut: 1. Keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta’di>l bahwa seorang itu bersifat adil, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab al-jarh} wa at- ta’di>l. 2. Ketenaran seseorang bahwa ia bersifast adil, seperti imam empat Hanafi, Maliki, Asy-Syafi’i, dan Hambali. 3. Khusus mengenai perawi hadis pada tingkat sahabat, jumhur ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil. Pandangan berbeda datang dari golongan Muktazilah yang menilai bahwa sahabat yang terlibat dalam pembunuhan Ali dianggap fasik, dan periwayatannya pun ditolak. c. Perawinya Bersifat Dabit Maksudnya masing-masing perawinya sempurna daya ingatannya, baik berupa kuat ingatan dalam dada maupun dalam kitab (tulisan).

146 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Dabit dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan, sejak ia manerima hadis sampai meriwayatkannya kepada orang lain, sedang, dabit dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan. Adapun sifat-sifat kedabitan perawi, menurut para ulama, dapat diketahui melalui: 1. kesaksian para ulama 2. berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedabitannya. d. Tidak Syadz Maksudnya ialah hadis itu benar-benar tidak syadz, dalam arti bertentangan atau menyalesihi orang yang terpercaya dan lainnya. Menurut asy-Syafi’i, suatu hadis tidak dinyatakan sebagai mengandung syuzu>z, bila hadis itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang s|iqah, sedang periwayat yang s|iqah lainnya tidak meriwayatkan hadis itu. Artinya, suatu hadis dinyatakan syuzu>z, bila hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang s|iqah tersebut bertentengan dengan hadis yang dirirwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat s|iqah. e. Tidak memilik ’illat Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya, dalam arti adanya sebab yang tersembunyi yang dapat menciderai pada kesahihan hadis, sementara zahirnya selamat dari cacat. ‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad maupun pada matan atau pada keduanya secara bersama-sama. Namun demikian, ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad, seperti menyebutkan muttas}il terhadap hadis yang munqat}i’ atau mursal. Pembagian Hadis Sahih Para ahli hadis membagi hadis sahih kepada dua bagian, yaitu s}ah}ih} li- za>tih dan s}ah}i>h} li-gairih. perbedaan antara keduanya terletak pada segi hafalan atau ingatan perawinya. pada s}ah}ih} li-za>tih, ingatan perawinya sempurna, sedang pada hadis s}ah}i>h} li-gairih, ingatan perawinya kurang sempurna. a. Hadis S}ah}ih} li-za>tih

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 147 Maksudnya ialah syarat-syarat lima tersebut benar-benar telah terbukti adanya, bukan dia itu terputus tetapi sahih dalam hakikat masalahnya, karena bolehnya salah dan khilaf bagi orang kepercayaan. b. Hadis S}ah}i>h} li-gairih Maksudnya ialah hadis tersebut tidak terbukti adanya lima syarat hadis sahih tersebut baik keseluruhan atau sebagian. Bukan berarti sama sekali dusta, mengingat bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah. Kehujahan Hadis Hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis sahih wajib diamalkan sebagai hujah atau dalil syarak sesuai ijmak para uluma hadis dan sebagian ulama us}u>l dan fikih. Kesepakatan ini terjadi dalam soal-soal yang berkaitan dengan penetapan halal atau haramnya sesuatu, tidak dalam hal-hal yang berhubungan dengan aqidah. Sebagian besar ulama menetapkan dengan dalil-dalil qat}’i>, yaitu al-Qur’an dan hadis mutawatir. oleh karena itu, hadis ahad tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan aqidah. Dari segi persyaratan sahih yang terpenuhi dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan, yang secara berurutan sebagai berikut: a. Hadis yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim ( muttafaq ‘alaih), b. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari saja, c. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim saja, d. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim, e. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Bukhari saja, f. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Muslim saja, g. Hadis yang dinilai sahih menurut ulama hadis selain Bukhari dan Muslim dan tidak mengikuti persyratan keduanya, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan lain-lain. Kitab-kitab hadis yang menghimpun hadis sahih secara berurutan sebagai berikut:

148 AL-QUR’AN HADIS KELAS X a. Sahih al-Bukhari (w.250 H). b. Sahih Muslim (w. 261 H). c. Sahih Ibnu Khuzaimah (w. 311 H). d. Sahih Ibnu Hiban (w. 354 H). e. Mustadrak al-hakim (w. 405). 2. Hadis Hasan Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya tersambung, dengan perantara perawi yang adil, yang sedikit lemah hafalannya, tidak ada syadz (berbeda dengan hadis yang lebih sahih) dan ‘illat (penyakit). Kata al-h}asan secara bahasa merupakan sifat musya>bahah dari kata al-h}usna yang berarti al-jama>l, yang baik/bagus. Secara istilah, ulama hadis berbeda pendapat mengenai definisi hadis hasan sebab tingkatan hadis hasan berada di pertengahan antara sahih dan daif. Imam Tirmizi mendefinisikannya sebagai hadis yang perawinya tidak ada yang dicurigai pembohong, tidak bertentangan dengan hadis lain, dan diriwayatkan lebih dari satu sanad. Namun definisi yang lebih disepakati para ulama hadis adalah definisi yang disebutkan pada awal artikel, pengertian itu didapat berdasarkan pendapat Ibnu Hajar tentang hadis sahih. Hadis hasan sebagaimana kedudukannya hadis sahih, meskipun derajatnya dibawah hadis sahih, dapat dijadikan sebagai hujah dalam penetapan hukum maupun dalam beramal. Para ulama hadis dan ulama usul fikih, serta para fukaha sependapat tentang kehujahan hadis hasan ini. Berdasarkan pengamalannya, sebagaimana hadis sahih, hadis hasan dapat dijadikan sebagai ranah penggalian hukum-hukum Islam sekalipun tidak sekuat hadis sahih, mayoritas para ahli fikih dan usul fikih menggunakannya sebagai landasan dalil kecuali para ulama yang tergolong mutasyaddid (keras). Terkadang para ulama yang mutasahhil (tidak terlalu ketat) seperti Ibnu Hibban, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah menggolongkan hadis hasan sebagai hadis sahih. Contoh hadis hasan ditemukan dalam Sunan Tirmidzi َبنَؤبىابَالحىتٌَجحذَؼالالعُىف

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 149 Artinya: ‚Sesungguhnya pintu surga berada di bawah bayangan pedang.‛ (HR. Tirmizi) Menurut Imam Tirmizi, hadis ini adalah hadis hasan garib. Garib karena diriwayatkan oleh satu jalur perawi. Sementara hadis ini dinilai hasan karena empat perawinya s|iqah (terpercaya) kecuali Ja’far bin Sulaiman al-D}a’i yang kekuatan hafalannya sedikit lemah sehingga hadis ini dari sahih turun derajatnya menjadi hasan. Contoh lain hadis hasan adalah : ََُحَذزَىَاَـَفان،َََُحَذزَىَاَشُفْبَت،ٌََََكَاََُؤَهْبَإَوِيًََُْظَفْذَََبَبِبْشَاه ُِم،ًَََََْـََِّمَفْبَذَالْج َُهَِي،ٌَََََكَا:ََََُوَان َمُفَاو ٍَِتََُكَلمَاًًَََُْحَذِّرٌََِـَّللا ََِسَظُىََِّللا ََُضَلىَََـَل َُْهَوَظَلمٌََُش َِْئًاََِو ٍََلُىََِهَاُلءَالْيَلِمَاثًُ ََكَلمَا ًََذَـُه،ََََُْؤَوًََُِحَذِّرَب ًَِهََِفِيًَََِالْجُمَقََِّـَالىبِيََِّللا ََُضَلىَََـَل َُْهَوَظَلم،ٌَََََكَا:ًََََِْمََِّللا ًََُُشِدَبِه ََْخَيْرًاًَُفَلِّهَهًًََِِّفِيَالذ،َََوَإِنٌَهَزَاََا ْلَْاََحُلْىًَََْخَضِشََُفَمًَََِإْخُزْهََْبِحَلِّهًََُُبَاسَنََِلَهَف ُِه،ََْ َََوَإ ًِ اهُمََُوَالخمَادُحََُفَةِههالزبْح(.َسواهؤحمذ) Hadis tersebut di atas bersambung sanadnya dan semua perawinya termasuk orang-orang terpercaya kecuali Ma’bad al-Juhany menurut adz- Zahaby, Ma’bad termasuk orang yang kurang adil. Kriteria Hadis Hasan Berdasarkan pada pengertian-pengertian yang telah dikemukakan di atas, para ulama hadis merumuskan kriteria hadis hasan, kriterianya sama dengan hadis sahih, Hanya saja pada hadis hasan terdapat perawi yang tingkat kedabitannya kurang atau lebih rendah dari perawi hadis sahih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hadis hasan mempunyai kriteria sebagai berikut: a. Sanad hadis harus bersambung b. Perawinya adil c. Perawinya mempunyai sifat dabit, namun kualitasnya lebih rendah (kurang) dari yang dimiliki oleh perawi hadis sahih. d. Hadis yang diriwayatkan tersebut tidak syaz

150 AL-QUR’AN HADIS KELAS X e. Hadis yang diriwayatkan terhindar dari ‘illat yang merusak Pembagian Hadis Hasan Hadis hasan dibagi menjadi dua, yaitu: a. Hadis hasan li za>tihi> Hadis hasan li za>tihi> adalah hadis yang dengan sendirinya telah memenuhi kriteria hadis hasan sebagaimana tersebut diatas, dan tidak memerlukan riwayat lain untuk mengangkatnya ke derajat hasan. b. Hadis hasan li gairihi> Hadis hasan li gairihi> adalah hadis daif apabila jalan (datang)-nya berbilang (lebih dari satu), dan sebab-sebab kedaifannya bukan karena perawinya fasik atau pendusta. Dengan demikian hadis hasan li gairihi> pada mulanya merupakan hadis daif, yang naik menjadi hasan karena ada riwayat penguat, jadi dimungkinkan berkualitas hasan karena riwayat penguat itu, seandainya tidak ada penguat tentu masih berstatus daif. Imam adz-Zahaby mengatakan, tingkat hasan tertinggi adalah riwayat Bahz ibn Hukaim dari bapaknya dari kakeknya, Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Ibn Ishaq dari at-Taimy dan sanad sejenis yang menurut para ulama dikatakan sebagai sanad sahih, yakni merupakan derajat sahih terendah. Contoh hadis sahih li ghairihi: ََُحَذزَىَاَشُفْبَت،ًَََََِْـًََِْـَاضِمََِبَّللا ََِـُب َُْذ،ٌَََُكَاَََظَمِفْذًَََّْللا ََِـَبْذََِبًََِْـَامِشَََبَسَب ُِفَت،ًَََْ ََِـََؤَب ُِه:َََؤًََنًََِْامْشَؤَةَمَََبَجِيََْفَضَاسَةَجَضَوحَذََِـَلَىََوَفْلَيْن.ٌٌََََُفَلَاَّللا ََِسَظُىََِّللا ََُضَلىَََـَل َُْه ََوَظَلم":ًَََِِْؤَسَض ِِذًََِِمًََِِهَفْعََِوَمَالَبِىَفْلَيْنَ؟"َََْكَالَذ:َََْوَفَم.ٌََََكَا:ََُفَإَحَاصَه(.َسواه الترمزي) Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari jalur Syu’bah dari ‘ashim bin ‘Ubaidillah,dari Abdillah bin Amir bin Rabi’ah, dari ayahnya

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 151 bahwasanya seorang wanita dari bani Fazarah menikah dengan mahar sepasang sandal. Kemudian at-Tirmidzi berkata,‛pada bab ini juga diriwayatkan (hadis yang sama) dari ‘Umar, Abi Hurairah,Aisyah dan Abi Hadrad.‛Jalur ‘Ashim didha’ifkan karena buruk hafalannya, kemudian hadis ini dihasankan oleh at- Tirmidzy melalui jalur riwayat yang lain. Kitab-kitab Yang Memuat Hadis Hasan Para ulama hadis tidak membukukan kitab khusus yang memuat hadis hasan sebagaimana mereka membukukan hadis sahih dalam satu kitab. Akan tetapi terdapat kitab yang sekiranya memuat banyak hadis hasan di dalamnya, di antaranya; a. Sunan at-Tirmidzi b. Sunan Abu Daud c. Sunan ad-Daruqut}ni> 3. Hadis Daif Daif secara bahasa adalah kebalikan dari kuat yaitu lemah, sedangkan secara istilah yaitu; ََْمَاََْلَمًَََُجْمَقَضِفَت،ًَِ ََِالْحَعََبِفَلْذًََِْشَشْطََِمشُشُوْظِه ‚Apa yang sifat dari hadis hasan tidak tercangkup (terpenuhi) dengan cara hilangnya satu syarat dari syarat-syarat hadis hasan.‛ Dengan demikian, jika hilang salah satu kriteria saja, maka hadis itu menjadi tidak sahih atau tidak hasan. Lebih-lebih jika yang hilang itu sampai dua atau tiga syarat maka hadis tersebut dapat dinyatakan sebagai hadis daif yang sangat lemah. Karena kualitasnya daif, maka sebagian ulama tidak menjadikannya sebagai dasar hukum. Adapun penyebab kedaifannya karena beberapa hal: a. Sebab terputusnya sanad secara nyata 1) Mu’allaq adalah apa yang dibuang dari permulaan sanad baik satu rawi atau lebih secara berurutan.

152 AL-QUR’AN HADIS KELAS X 2) Mursal adalah apa yang terputus dari akhir sanadnya yaitu orang sesudah tabiin (sahabat). 3) Mu’d}al adalah apa yang terputus dari sanadnya 2 atau lebih secara berurutan. 4) Munqat}i’ adalah apa yang sanadnya tidak tersambung. b. Terputus secara khafi> (tersembunyi) yaitu: 1) Mudallas adalah menyembunyikan cacat (aib) pada sanadnya dan memperbagus untuk zahir hadisnya. 2) Mursal Khafi> adalah meriwayatkan dari orang yang ia bertemu atau sezaman dengannya apa yang ia tidak pernah dengar dengan lafaz yang memungkinkan ia dengar dan yang lainnya seperti qa>la. c. Sebab penyakit pada rawi Penyakit pada rawi terbagi atas 2 penyakit tentang ketakwaan yang meliputi : 1). Pendusta 2). Tertuduh dusta 3). Fasik 4). Bidah 5). Kebodohan Dan penyakit pada dabit (hafalan ) yang meliputi: 1). Jelek hafalannya 2). Lalai 3). Menyelisihi yang s|iqat 4). Ucapan yang menipu Klasifikasi Hadis Daif a. Daif karena tidak bersambung sanadnya. 1). Hadis Munqat}i’ Hadis yang gugur sanadnya di satu tempat atau lebih, atau pada sanadnya disebutkan nama seseorang yang tidak dikenal. 2). Hadis Mu’allaq

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 153 Hadis yang rawinya digugurkan seorang atau lebih dari awal sanadnya secara berturut-turut. 3). Hadis Mursal Hadis yang gugur sanadnya setelah tabiin. Yang dimaksud dengan gugur di sini, ialah nama sanad terakhir tidak disebutkan. Padahal sahabat adalah orang yang pertama menerima hadis dari Rasul saw. 3). Hadis Mu’d}al Hadis yang gugur rawinya, dua orang atau lebih, berturut-turut, baik sahabat bersama ta>bi’, ta>bi’ bersama ta>bi’ al-ta>bi’i>n maupun dua orang sebelum sahabat dan ta>bi’. 4). Hadis Mudallas Hadis yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan bahwa hadis itu tidak terdapat cacat. b. Daif karena tiadanya syarat adil 1). Hadis Maud}u>’ Hadis yang dibuat-buat oleh seorang (pendusta) yang ciptaannya dinisbatkan kepada Rasulullah secara paksa dan dusta, baik sengaja maupun tidak. 2). Hadis Matru>k dan Hadis Munkar Hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta (terhadap hadis yang diriwayatkannya), atau tampak kefasikannya, baik pada perbuatan ataupun perkataannya, atau orang yang banyak lupa maupun ragu. c. Daif karena tidak dabit. 1). Hadis Mudraj Hadis yang menampilkan (redaksi) tambahan, padahal bukan (bagian dari) hadis 2). Hadis Maqlu>b Hadis yang lafaz matannya terukur pada salah seorang perawi, atau sanadnya. Kemudian didahulukan pada penyebutannya, yang seharusnya disebutkan belakangan, atau mengakhirkan penyebutan, yang

154 AL-QUR’AN HADIS KELAS X seharusnya didahulukan, atau dengan diletakkannya sesuatu pada tempat yang lain. 3). Hadis Mud}t}arib Hadis yang diriwayatkan dengan bentuk yang berbeda padahal dari satu perawi dua atau lebih, atau dari dua perawi atau lebih yang berdekatan tidak bisa ditarjih. 4). Hadis Mus}ah}h{af dan Muh}arraf Hadis Mus}ah}h}af yaitu hadis yang perbedaannya dengan hadis riwayat lain terjadi karena perubahan titik kata, sedangkan bentuk tulisannya tidak berubah. Hadis Muh}arraf yaitu hadis yang perbedaannya terjadi disebabkan karena perubahan syakal kata sedangkan bentuk tulisannya tidak berubah. d. Daif karena Kejanggalan dan kecacatan 1). Hadis Syadz Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang maqbu>l, akan tetapi bertentangan (matannya) dengan periwayatan dari orang yang kualitasnya lebih utama. 2). Hadis Mu’allal Hadis yang diketahui ‘Illatnya setelah dilakukan penelitian dan penyelidikan meskipun pada lahirnya tampak selamat dari cacat e. Daif dari segi matan 1). Hadis Mauqu>f Hadis yang diriwayatkan dari para sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan, atau takrirnya. Periwayatannya, baik sanadnya bersambung maupun terputus. 2). Hadis Maqt}u>’ Hadis yang diriwayatkan dari tabiin dan disandarkan kepadanya, baik perkataan maupun perbuatannya. Dengan kata lain, hadis maqt}u>’ adalah perkataaan atau perbuatan tabiin.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 155 Kehujahan Hadis Daif Khusus hadis daif, maka para ulama hadis kelas berat semacam al-Hafiz} Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebutkan bahwa hadis daif boleh digunakan, dengan beberapa syarat: 1. Level kedaifannya tidak parah Hadis daif sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. Dari yang paling parah sampai yang mendekati sahih atau hasan. Maka menurut para ulama, masih ada di antara hadis daif yang bisa dijadikan hujah, asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). Hadis yang level kedaifannya tidak terlalu parah, boleh digunakan untuk perkara fad}a>il al-a’ma>l (keutamaan amal). 1. Berada di bawah nas} lain yang sahih Maksudnya hadis yang daif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fad}a>il al-a’ma>l, harus didampingi dengan hadis lainnya. Bahkan hadis lainnya itu harus sahih. Maka tidak boleh hadis daif jadi pokok, tetapi dia harus berada di bawah nas} yang sudah sahih. 2. Ketika mengamalkannya, tidak boleh meyakini kesabitannya Maksudnya, ketika kita mengamalkan hadis daif itu, kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah saw. atau perbuatan beliau. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah saw.. F. PERILAKU YANG BERPEGANG TEGUH PADA HADIS SAHIH Sebagai seorang Muslim yang berpegang teguh kepada hadis sahih, kita hendaknya tidak menggampangkan persoalan-persoalan yang sudah termaktub di dalam hadis-hadis sahih baik berupa perintah maupun larangan. Perintah-perintah yang termaktub di dalam hadis sahih antara lain adalah perintah untuk mengimani rukun iman. Kita tidak boleh sekehendaknya menambah atau mengurangi rukun iman yang sesuai ajaran hadis:

156 AL-QUR’AN HADIS KELAS Xًََْ ََِـًََِْالْبَرَاءََبَََـَاصِبََُّللا ََُسَضخِيٌَََـَىْهَكَاٌََُؤَمَشَهَاَّللا ََِسَظُىََِّللا ََُضَلىَََـَل َُْهََوَظَلمَبِعَبْقًَََْوَنَهَاهَاََـ َظَبْقََِؤَمَشَهَاََِبِف َُِادَةََِا ْلَْش ٍِضََِوَاجِّبَاؿََِالْجَىَاصَةََِوَحَشْم ُِذََِالْفَاظِغََِوَإِبْشَاسََْالْلَعَمََِؤَوََِا ْلُْلْعِمََِوَهَطْش ََِا ْلَْؽْلُىمَوَإِحَابَتََِالذاعِيََِوَإِفْشَاءَالعالَمًَََْوَنَهَاهَاَََـََْخَىَاج ُِمًَََْؤَوََـََِجَخَخمًَََْبِالزهَبََوَـََِشُشْب ًَََِبِالْفِضتََِوَـًَََِا ْلََُْازِشََِّوَـًَََْالْلَسخِّيََِوَـََِلُبْغََِالْحَش ٍِشًَِّو َْلاِْظْخَبْرَقَِوَالذبَاج Artinya: Dari Barra bin Azib ra. berkata: Rasululllah saw. memerintahkan kami melakukan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara juga. Rasulullah memerintahkan kami untuk menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menunaikan sumpah, menolong orang yang terzalimi, memenuhi undangan dan menebarkan salam. Rasulullah saw. melarang kami dari memakai cincin yang terbuat dari emas, minum dengan bejana perak, memakai mi>s|arah (alas duduk yang terbuat dari sutra), qassiyyi (salah satu jenis pakaian sutra dari daerah Qass), memakai sutra, melarang kami dari istabraq (pakaian sutra yang tebal), dan dîbâj (pakaian terbuat dari sutra terbaik) [HR. al- Bukhâri dan Muslim]. G. MARI BERDISKUSI Diskusikan dengan teman dan kelompokmu tentang pembagian hadis dari sisi kuantitas dan kualitas dan berikan contoh masing-masing penjelasan. Lalu presentasikan di depan kelas ! H. RANGKUMAN 1. Berdasarkan jumlah kuantitas atau berdasarkan jumlah perawinya, hadis terbagi menjadi dua bagian, hadis mutawatir dan hadis ahad. 2. Hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang yang tidak mungkin lagi ada kebohongan. 3. Berdasarkan kualitasnya, hadis dapat dibagi menjadi tiga, yakni hadis sahih, hadis hasan dan hadis daif. 4. Hadis sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya (jalur periwayatan) melalui penyampaian para perawi yang adil, dabit, dari perawi yang semisalnya sampai akhir jalur periwayatan, tanpa ada syuzu>z, dan juga tanpa ‘illat. 5. Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya tersambung, dengan perantara perawi yang adil, yang sedikit lemah hafalannya, tidak ada syadz (berbeda dengan hadis yang lebih sahih) dan ’illat (penyakit).

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 157 I. AYO BERLATIH Uraian 1. Sebutkan syarat-syarat hadis mutawatir ! 2. Sebutkan secara berurutan, tujuh tingkatan hadis yang terpenuhi kesahihannya ! 3. Sebutkan kriteria hadis hasan ! Tugas Buatlah Bagan atau skema dari pembagian hadis dari sisi kuantitas dan kualitas. Nilai Paraf Orangtua Paraf Guru

158 AL-QUR’AN HADIS KELAS X BIOGRAFI SINGKAT TOKOH-TOKOH ILMU HADIS DAN KARYANYA

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 159 KOMPETENSI INTI (KI) 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetauan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunnya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengambangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. KOMPETENSI DASAR 1. Menghargai semangat dan karya tokoh-tokoh hadis sebagai khazanah intelektual Islam. 2. Mengamalkan sikap kritis dalam mempelajari tokoh hadis dan kitabnya. 3. Menganalisis biografi tokoh hadis dan kitabnya 4. Menyajikan hasil analisis biografi tokoh-tokoh hadis dan kitabnya TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Peserta didik dapat menghargai semangat dan karya tokoh-tokoh hadis sebagai khazanah intelektual Islam. 2. Peserta didik dapat mengamalkan sikap kritis dalam mempelajari tokoh hadis dan kitabnya. 3. Peserta didik dapat menganalisis biografi tokoh hadis dan kitabnya. 4. Peserta didik dapat menyajikan hasil analisis biografi tokoh-tokoh hadis dan kitabnya.

160 AL-QUR’AN HADIS KELAS X PETA KONSEP A. MARI RENUNGKAN Orang yang mempelajari sejarah Islam sejak zaman dahulu hingga hari ini, tentu akan menemukan bahwa ahli hadis adalah pengikut Nabi yang paling kokoh dan teguh mengikuti Nabi Muhammad dalam hal akidah, manhaj, ibadah, dakwah, muamalah, dan berhujah. Mereka, ahlul hadis, benar-benar berada pada titik tertinggi dalam keyakinan dan ketenangan sehingga dapat menghafal, menjaga hafalan dan mengajarkan atau menularkan hafalannya kepada generasi sesudahnya. Tanpa peran perjuangan dan pengabdian keilmuan dan ketakwaan para ahli hadis ini, mustahil kita dapat meyakini kesahihan dan keotentikan hadis-hadis Rasulullah saw. yang merupakan sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an. B. MARI MENGAMATI Amatilah keseharian orang-orang di sekitarmu, manakah yang bisa lebih dipercaya dan manakah yang lebih jujur. Tentu kita bisa membandingkan suatu berita yang sama apabila dicerikatan oleh orang-orang yang berbeda. Maka begitulah gambaran kecil dari upaya para ulama memeriksa dan mengkodifikasikan hadis.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 161 C. MARI MENGANALISIS 1. BIOGRAFI SINGKAT TOKOH-TOKOH ULAMA HADIS a. Imam Malik (93-179 H) 1) Riwayat Singkat Keluarga beliau berasal dari Yaman. Imam Malik tinggal bersama istrinya Fatimah dan tiga orang anaknya, Yahya, Muhammad dan Hammad. Kesungguhannya dalam menekuni pengetahuan agama telah menjadikan Imam Malik sebagai seorang panutan di bidang fikih dan hadis. Bahkan di bidang fikih, ia dikenal sebagai pendiri salah satu Mazhab Fikih yaitu Mazhab Maliki. Menurut Imam al-Suyu>t}i, kitab al-Muwat}t}a’ disusun selama hampir empat puluh tahun. Dan ia keberatan kalau al-Muwat}t}a’ dijadikan kitab pegangan resmi bagi pemerintah, sementara kitab yang memuat pendapat lain harus dibuang. Tampaknya ia menyadari bahwa pendapatnya yang juga dituangkan di dalam al-Muwat}t}a’ ada peluang berbeda dengan pendapat ulama lain. Imam Malik menyadari bahwa Islam yang dipraktikkan di tempat lain tidak harus sama dengan masyarakat Madinah, yang merupakan masyarakat ideal di dalam al-Muwat}t}a’. Maka jika kitabnya dipaksakan untuk diberlakukan di semua masyarakat, ia khawatir justru membingungkan dan tidak menimbulkan maslahat. Disini ia agaknya hendak menghargai pendapat lain berkembang juga. 2) Kitab al-Muwat}t}a’ Menurut Imam Malik, sangat penting untuk mencatat dan mendokumentasikan perilaku Nabi dan tanggapan atau komentar para sahabat terhadapnya. Bahkan Imam Malik beranggapan perlunya mendokumentasikan pendapat para penerusnya (tabiin). Oleh karena itu, di dalam kitab al-Muwat}t}a’ juga didokumentasikan tentang pendapat para sahabat, tabiin dan bahkan ia menuliskan pendapatnya sendiri.

162 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Kitab al-Muwat}t}a’ adalah salah satu karya fenomenal Imam Malik yang memuat berita perilaku Nabi Muhammad saw. (perbuatan, perkataan, sifat dan pembiarannya). Dalam pandangan Imam Malik, menuliskan pendapat para sahabat dan tabiin adalah sangat penting karena ada kejadian yang tidak terjadi di masa Nabi, tetapi terjadi dimasa sesudahnya. Bisa dikatakan bahwa al-Muwat}t}a’ tidak hanya memuat hadis Nabi, tetapi juga fatwa lain. Banyak ulama berpendapat bahwa susunan semacam itulah yang paling tepat dan paling baik pada masanya. Di dalam al-Muwat}t}a’ dimuat 1720 hadis. Hadis musnad berjumlah 600 buah, yang mursal tidak semuanya diterima. Yang mursal 222 buah, yang mauqu>f 613 dan yang qaul ta>bi’i>n 285 buah. Menurut Imam Malik hadis yang dapat diterima harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Hadis itu tidak bertentangan dengan al-Qur’an. Atas dasar ini ia menolak hadis yang menyatakan melarang makan burung apa saja yang berkuku kuat karena hadis ini bertentangan dengan ayat al- Qur’an. b. Hadis itu masyhur atau diamalkan oleh masyarakat Madinah. Imam Malik tidak meriwayatkan hadis yang tidak terkenal. Ia meninggalkan hadis yang asing. Beberapa kitab yang ditulis oleh Imam Malik antara lain adalah : a. Risa>lah ila> ibn Wahab fi> al-Qadri b. Kitab an-Nuju>m c. Risa>lah fi> al-‘Aqi>dah d. Tafsi>r li Gari>b al-Qur’a>n e. Risa>lah Ii al-Lais| bin Sa’ad f. Risa>lah Ii Abi> Gisan

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 163 g. Kitab al-Sir h. Kitab al-Mana>sik i. Kitab al Muwat}t}a’ b. Imam al-Bukhari 1. Riwayat Singkat Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn ibn al-Mugirah ibn Bardizyah al-Jufi al-bukhari. Lahir pada hari Jumat 13 Syawal 194 H di kota Bukhara. Kegemaran belajar agama dimiliknya semenjak ia masih kecil di kampung halamanya. Beberapa buku tulisan ulama seperti Ibn al-Mubarak (guru ayahnya) dan al-Waki’ sempat dihafalkannya. Beberapa negeri yang pernah disinggahinya antara lain, Makkah, Bagdad, Basrah, Kufah, Syam, Himsh, Asqalan, Mesir dan lain-lain. Riwayat yang populer tentang kebesaran al-Bukhari sebagai ulama hadis adalah ketika ia memasuki kota Bagdad. Tidak seorang ulama pun membantah pendapat-pendapatnya. Karenanya tidak heran kalau hadis riwayat al-Bukhari dinilai paling berkualitas dibanding dengan riwayat lain. Al-Bukhari wafat di dekat kota Samarqand pada 30 Ramadan tahun 252 H. 2. Karya-karyanya a. Qad}a>ya> al-S}ah}a>bah wa al-Ta>bi’i>n b. Raf’u al-yadain fi> a-S}ala>h c. Qira>’at khalfaa al-Ima>m d. Khalq af’a>l al-‘Iba>d e. Al-Tafsi>r al-Kabi>r f. Al-Musnad al-Kabi>r g. Ta>ri>kh al-S}agi>r h. Ta>ri>kh al-Ausat} i. Ta>ri>kh al-Khabi>r

164 AL-QUR’AN HADIS KELAS X j. Al-Adab al-Mufrad k. Bir al-wa>lidain l. Al-D}u’afa> m. Al-Ja>mi’ al-Kabi>r n. Al-Usyriban o. Al-Hibah p. Asma> al-S}ah}a>bah q. Al-Wuhdan r. Al-Mabsu>t} s. Al-‘Ilal t. Al-Kuna u. Al-Fawa>id dan v. Al-Ja>mi’ al-S}ah}i>h} 3. Al-Jami al-Sahih Semua karya al-Bukhari sangat penting dalam ilmu hadis. Tetapi yang paling terkenal adalah kitabnya al-Ja>mi’ al-S}ah}i>h}. Kitab ini mulai ditulis ketika ia berada di Makkah dan berakhir ketika ia berada di Madinah. Dari kesekian ratus ribu hadis yang dihafalnya, untuk dimasukan di dalam kitabnya ia melakukan salat sunah. Al-Bukhari sering memotong bagian hadis untuk dijadikan judul bab, yang kemudian disii hadis-hadis. Jumlah hadis yang diriwayatkan al-Bukhari sebanyak 9.082 buah, termasuk yang disebut ulang. Bila tidak diulang jumlah hadis itu 2.602 buah. 4. Kritik terhadap al-Bukhari Ada juga kritik terhadapnya ada kira-kira 110 hadis yang kena sasaran kritik. Demikian juga ada yang mengatakan bahwa dari 435 orang rija>l hadis, ada 80 rija>l dinilai daif. Tetapi tentu al-Bukhari lebih mengetahui tentang persepsi

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 165 dirinya terhadap tokoh hadis dari pada orang lain. Ada pertimbangan tertentu yang tidak diperhitungkan ulama lain. c. Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi 1. Latar Belakang Kehidupannya Imam Muslim lahir pada 204 H. Keramahannya kepada orang lain telah membuat dirinya sebagai seorang pedagang yang sukses. Ia dikenal sebagai dermawan Naisabur. Seperti pada umumnya ulama lain, ia belajar semenjak kecil tahun 218 H. Pelajaran dimulai dari kampung halamannya dihadapan para syekh di sana. Hampir semua negeri pusat kajian hadis tidak luput dari persinggahannya, seperti Irak (Bagdad), Hijaz, Mesir, Syam, dan lain-lain. Imam Muslim wafat pada 26 Rajab 261 H) di dekat Naisabur. Banyak ulama ditemui untuk periwayatan hadis, seperti Imam Ahmad ibn Hanbal, Ishaq, ibn Rahawih (Guru al-Bukhari juga) dan lain-lain. Di antara mereka al-Bukharilah yang paling berpengaruh terhadap dirinya dalam metodologi penelitian hadisnya. Imam Muslim mempunyai banyak murid terkenal, seperti Imam al- Tirmidzi, Ibn Khuzaimah, Abdurrahman ibn Abi Hatim. 2. Kitab Sahihnya Ada lebih dari dua puluh buku telah ditulis oleh Imam Muslim. Yang terkenal adalah Sahih Muslim itu sendiri, nama singkat dari judul aslinya: َاْلعىذالصْلَحُحاخًَخطشَمَالعننبىَللالفًٌَذَـالفٌَذَالىٌََسظىَللاَضلى َللاَـلُهَوظلم Di dalam kitabnya ini termuat 3.030 hadis (tidak termasuk di dalamnya yang ditulis berulang-ulang). Jumlah hadis seluruhnya ada lebih kurang 10.000 buah.

166 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Dengan sebutan Sahih Muslim, penulisnya bermaksud menjamin bahwa semua hadis yang terkandung di dalamnya adalah sahih. Menurut penelitian para ulama, persyaratan yang ditetapkan Imam Muslim bagi sahihnya suatu hadis pada dasarnya sama dengan persyaratan yang ditetapkan oleh al-Bukhari. Ibnu S}alah mengatakan bahwa persyaratan Muslim dalam kitab sahihnya adalah : a. Hadis itu bersambung sanadnya. b. Diriwayatkan oleh orang kepercayaan ( s|iqat) dari generasi permulaan hingga akhir. c. Terhindar dari syuzu>z dan ‘illat. Persyaratan ini juga dipergunakan oleh Imam al-Bukhari. Hanya apa yang dimaksud dengan bersambung sanadnya, ada sedikit perbedaan antara kedua imam ini. Setelah melihat prestasi gemilang yang diraih oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, para ulama generasi berikutnya membanding hasil karya kedua tokoh ini. Dan sikap ini memang manusiawi. Di antara yang baik, masih saja dipilih, mana yang lebih baik. Sebagian hasil perbandingan itu adalah: Menurut al-Bukhari, seorang periwayat harus benar-benar bertemu dengan pemberi hadis, kendati hanya satu kali. Di antara indikatornya, bentuk serah terima dengan ungkapan akhbarana>, sami’tu dan sebagainya. Sementara, menurut Imam Muslim, asal mereka itu semasa sudah dinilai bersambung sanadnya. Tampaknya inilah yang menyebabkan para ulama generasi berikutnya menilai Sahih al-Bukhari lebih tinggi tingkat kesahihannya dibanding dengan Sahih Muslim. Tetapi para ulama Magribi ada yang berpendapat bahwa Sahih Muslim lebih unggul dari Sahih al-Bukhari. Dalam hal sistematika, tampaknya disepakati bahwa sistematika Sahih Muslim lebih baik dari pada Sahih al-Bukhari. Dengan sistematika yang bagus

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 167 ini Imam Muslim telah memudahkan jalan menelusuri hadis Sahihnya bagi siapa saja yang ingin meneliti. Sama baiknya karya al-Bukhari dan Muslim terungkap dalam syair. حشاَحشكَىمفَىالبََخاَسَيَوَمعلمَلذيََوكالىَاًًَايَرََجلذمَكلذَللذَفاقالبَخاََسي َصحتهمَاَفاقفًَىَحعالطىاَـتمعلم Artinya : Orang-orang bertengkar tentang al-Bukhari dan Muslim di hadapan saya dengan berkata, mana yang harus didahulukan atau diutamakan? Saya menjawab, ‚Sungguh al-Bukhari unggul di bidang kesahihan sebagaimana Muslim unggul di bidang sistematika.‛ Kendati sikap hati-hati itu sudah dicurahkan sepenuhnya ulama hadis sekelas Imam Muslim, tetapi ada saja kritik yang muncul. Konon jumlah rija>l Sahih Muslim ada 620 orang, 160 antaranya dinilai lemah. Al-‘Asqalani mengadakan pembelaan, pemilik rija>l lebih mengenal rija>lnya dari pada pengkritiknya. Di samping itu, matan hadis juga tidak luput dari kritik. Misalnya pada sebuah hadis yang berbunyi: ََ ًََََْمََََِجَطَبحَََبِعَبْقََجََمََشًََاثَََعَجْىَةَْلًََََُمَضَُشًَََِهَََرَلََُال َُْىمَظَََمََوََِلَْسَحَش Artinya: ‚Barang siapa setiap pagi makan kurma (ajwa) tujuh biji tidak akan dilanda oleh bahaya racun atau sihir pada hari itu.‛ al-S}iba>’i membantah hadis ini dengan pernyataan, sebuah hadis dapat kita terima kebenarannya selama sanadnya sahih dan matannya juga sahih meskipun secara ijmal. Persoalannya, pernahkah ilmu kedokteran melakukan penelitian untuk membuktikan kebenaran hadis tersebut? d. Abu Daud al-Sijistani 1. Riwayat Singkat Namanya adalah Sulaiman ibn al-Asy’as| ibn Ishaq al-Adzawi al-Sijistani. Ia lahir pada 202 H. Belajar ilmu merupakan kesenangannya semenjak masih

168 AL-QUR’AN HADIS KELAS X kecil. Sebelum mendalami hadis, Abu Daud telah mempelajari al-Qur’an dan bahasa Arab serta materi lainnya. Dalam menempa diri agar menjadi ulama besar, ia malang melintang ke berbagai negeri seperti Khurasan, Ray, Harat, Kufah dan Bagdad. Banyak guru terkemuka dijumpainya seperti Abu Amr al-Dharir, Abu al-Walid al-Thayalisi, Sulaiman ibn Harb, Ahmad ibn Hanbal. Reputasi keulamaannya melejit ketika ia tinggal di Basrah. Kala itu Basrah ditimpa peceklik disebabkan serangan musuh pada tahun 257 H. Abu Ahmad, Gubernur Basrah yang juga saudara Khalifah al-Muwaffiq meminta agar Abu Daud bersedia tinggal di sana untuk menjadi guru, khususnya ilmu Hadis. Abu Daud Kemudian tinggal di Basrah memenuhi permintaan tersebut. Abu Daud meninggal di sana pada 16 Syawal tahun 275 H. Di samping ahli bidang hadis, ia juga ahli di bidang fikih. ini dapat dilihat bahwa kitab sunannya yang bercorak fikih. 2. Sunan Abu Daud Imam Abu Daud menyusun kitab sunannya dengan sistematika fikih. Kitab ini berisi 4.800 hadis sebagai inti dari 500.000 hadis yang dikuasainya dengan baik. Kitab ini sangat memudahkan pembaca dalam mencari hadis- hadis hukum. Abu Daud mengakui bahwa tidak semua hadis yang ditulisnya sahih. Karenanya ia memberi catatan bahwa sejumlah hadis lemah yang dimasukkan dalam kitabnya itu bukan asal masuk saja. Imam Abu Daud tidak memasukkan hadis yang diriwayatkan dari orang yang matru>k al-h}adi>s|. Dalam pemikiran Abu Daud, hadis yang kurang sahih masih lebih berbobot dibanding pendapat ulama. Dari keterangannya ini suatu hadis-hadis Abu Daud berada di bawah tingkatan Sahih al-Bukhari dan Muslim.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 169 Seperti halnya kitab hadis induk lain, kitab Sunan Abu Daud disyarahi oleh beberapa ulama. ‘Aun al-Ma’bu>d Syarh Sunan Abi Daud, tulisan Syamsul Haq Azimabadi dikenal sebagai kitab syarahnya yang baik. Di samping itu ada lagi Bazl al-Majhu>d fi Halli Abi Daud ditulis oleh Khalil Ahmad Ansari. d. Imam al-Tirmidzi 1. Latar Belakang Kehidupannya Imam al-Tirmidzi lahir pada tahun 209 H di kampung Tirmidz dekat sungai Jaihun. Semenjak kecil ia senang belajar. Tirmidzi tidak mau ketinggalan dari ulama hadis lain. Ia juga ikut mengembara ke berbagai negeri pusat ilmu pengetahuan, seperti Irak, Hijaz, Khurasaan dan lain-lain. Banyak guru terkemuka dijumpai agar ilmu mereka mengalir kepadanya seperti al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, Qutaibah ibn Sa’id dan Muhammad ibn Masyr. Ia pengagum berat al-Bukhari dan ia memang berada di bawah asuhan al-Bukhari. Karenanya ia mengaku sepanjang hayat tidak menjumpai orang yang sepadan dengan al-Bukhari di bidang hadis apalagi melebihinya. Imam al-Tirmidzi wafat di kampungnya, pada malam senin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun. 2. Karya Imam al-Tirmidzi Karyanya Imam al-Tirmidzi yang terkenal adalah kitab al-Ja>mi’ al- Mukhtas}ar min Sunan Rasulillah. Kitab lain yang ditulisnya antara lain al-As|ar al-Muqu>fah, al-Asma> wa al-Kuna, Asma> al-S}ah>abah, al-Syama>il al- Nabawiyyah, al-‘Ilal, al-Ta>ri>kh, al-Zuhd. Imam al-Tirmidzi memberi catatan bahwa hadisnya sesuai dengan predikatnya, seperti sahih atau hasan. Bila ada hadis daif karena mengandung ‘illat, ia menujukkan ‘illatnya. Begitu juga bila hadis itu munkar, ia menunjukkan di mana munkarnya. Tetapi ia tidak memasukkan di dalam kitabnya hadis yang diriwayatkan dari orang yang dicurigai bohong.

170 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Al-Tirmidzi adalah ulama hadis yang pertama sekali mempopulerkan predikat hadis hasan. Yaitu hadis yang kurang pantas dinilai sahih, artinya hadis tersebut menurut al-Tirmidzi adalah hadis hasan. Hadis ini bukan daif dan tidak layak dimasukkan dalam kategori daif. Jika para ulama sebelum al-Tirmidzi (seperti ulama fikih pendiri Mazhab empat) mengatakan bahwa hadis daif untuk kepentingan tertentu dapat dijadikan hujah, maka yang dimaksudkan adalah hadis hasan menurut al- Tirmidzi. Jadi, bukan sembarang hadis daif. e. Al-Imam al-Nasai 1. Latar Belakang Kehidupannya Nama lengkap Imam al-Nasai adalah Imam al-Hafizh Abu Abdirrahman Ahmad ibn Syu’aib ibn Ali al-Khurasani al-Nasa’i. Dikenal dengan nama Imam Nasai karena dinisbatkan dengan kampung Nasa, bagian dari negeri Khurasan. Imam Nasai lahir pada tahun 215 H. Semenjak kecil ia menuntut ilmu dan mulai berkelana semenjak berumur 15 tahun. Pusat-pusat studi yang dikunjunginya antara lain, Hijaz, Irak, Mesir, Syam. Setelah berkelana ke sana kemari ia memutuskan menetap di Mesir. Sebagai diketahui bahwa Imam Syafi’i pernah bermukim dan mempunyai banyak murid di Mesir, bahkan wafat dan dimakamkan di sana, maka tidak aneh bila Imam Nasai terpengaruh pemikiran Imam Syafi’i di bidang fikih. Imam Nasai dikenal tegas dan pemberani. Ia tidak hanya berfatwa tetapi ikut berjihad menyertai Gubernur Mesir bersama tentara. al-Nasai wafat di Palestina pada 13 Safar tahun 303 H dan dimakamkan di Baitul Maqdis. 2. Sunan al-Nasai Mulanya Imam Nasai menyusun kitab hadis dengan nama al-Sunan al- Kubra>. Di dalamnya dimuat hadis sahih, hasan dan daif. Setelah membaca kitab tersebut, Gubernur al-Ramlah bertanya, apakah semua hadisnya sahih.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 171 Al-Nasai menjawab di dalamnya ada yang sahih, ada yang hasan dan ada yang daif. Kemudian Imam Nasai kembali memilih hadis-hadisnya. Dari hasil seleksinya itu tersusunlah kitab al-Sunan al-Mujtaba> seperti yang kita dapatkan sekarang. Meski demikian, masih terdapat juga hadis hasan dan daif dalam kitab al-Mujtaba>. Tentu saja terhadap hadis-hadis daif, Imam Nasai menunjukkan di mana letak kedaifannya. Agaknya ia bermaksud menunjukkan bahwa hadis yang diriwayatkan oleh ulama lain itu sebenarnya lemah berdasarkan hasil penelitiannya. Menurut catatan Prof A’zami, Imam Nasai tidak mau mengambil hadis melalui Ibn Luhai’ah karena dinilai sangat lemah. Ini menujukkan bahwa Imam Nasai selektif dalam memimilih rija>l. Konon, ia berbeda paham dengan guru yang bernama al-Harits ibn Miskin. Namun, perselisihan paham ini tidak menghalanginya untuk belajar kepadanya, kendati tidak menghadiri halaqah gurunya itu. Untuk hadis yang melalui jalur al-Harits, ia menulis ‚Saya mendengar hadis ini pada saat hadis ini dibacakan oleh al-Harits ibn Miskin.‛ f. Al-Imam Ibn Majah 1. Latar Belakang Kehidupannya Namanya al-Imam al-Hafiz} Abu Abdillah, Muhammad ibn Yazid al- Qazwaini Ibn Majah. Majah adalah laqab (nama panggilan) ayahnya. Ibn Majah lahir di Qazwain pada tahun 209 H. Semenjak kecil ia mulai bersekolah dan mengembara ke Irak, Hijaz, Mesir, Syam dan lain-lain. Ibn Majah wafat pada 22 Ramadhan 273 H. 2. Kitab Sunan Ibnu Majah menulis beberapa kitab. Di banding para ulama yang disebut terdahulu, karya Ibn Majah tergolong sedikit. Tercatat, ia menulis Kitab Sunan,

172 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Kitab Tafsir, dan Kitab Tarikh. Karyanya yang dapat ditemukan sekarang adalah kitabnya Sunan Ibn Majah. Karyanya yang lain tidak jelas. Hadis yang terdapat di dalam kitabnya sebanyak 4.341. Dari jumlah itu, ada 3002 hadis telah dibukukan oleh penulis Kitab al-Us}u>l al-Sittah artinya masih tersisa 1.339 hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Majah sendiri. Ibn Majah tidak memberi catatan apa-apa tentang nilai hadis yang ditulis di dalam kitab sunannya itu. Agaknya, penilaian sahih atau tidaknya hadis di dalam kitabnya, diserahkan kepada pembaca yang mau meneliti. Dr. Fuad Abdul Baqi mencatat, dari 1339 hadis itu terdapat 482 hadis yang bernilai sahih 199 bernilai hasan 619 lemah sanadnya, dan 99 hadis munkar dan makzu>b. Sikapnya yang terbuka kepada pembaca itu tampaknya telah menempatkan kitab sunannya pada peringkat keenam dari kuttubus sittah. Pada sisi lain, kitab ini dinilai bermutu tinggi karena paling sedikit dalam pengulangan hadis, dibanding kitab-kitab lain. Hal ini memudahkan pembaca untuk melacak hadis yang diriwayatkannya. D. PERILAKU KRITIS Kini kita mengerti bahwa tidak semua hadis adalah sahih. Kini kita mengerti bahwa para Imam ahli hadis telah berjuang keras untuk meneliti kesahihan derajat hadis dan tingkatan-tingkatan lainnya. Semua dilakukan dengan kerja keras dan penuh dedikasi yang tinggi serta semangat mengabdi untuk menyelamatkan hadis- hadis Rasulullah. Tanpa perjuangan keras mereka dalam menelusuri dan membukukan derajat hadis, mungkin kini kita tidak bisa lagi mendapati hadis yang sahih karena susahnya menusia menjaga ketakwaan dan kehati-hatiannya. Sehingga andai tidak ditulis dan telah dibukukan dengan rapi, mungkin hadis sahih bisa menjadi daif atau setidaknya turun derajatnya bila sanadnya melalui para ulama di zaman sekarang tanpa terbukukan terlebih dahulu.

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 173 Oleh karena itu, sudah seharusnya kita sebagai pembelajar ilmu hadis sangat menghargai dan mengapresiasi perjuangan para ulama hadis dengan berpegang teguh kepada al-Qur’an dan hadis sebagai sumber hukum Islam. Kita juga semestinya melakukan ibadah dan bermuamalah dengan berpegang pada kedua sumber pokok hukum Islam tersebut. E. MARI BERDISKUSI Diskusikan bersama teman dan kelompokmu tentang usaha para ulama ahli hadis dalam mencatat dan menelusuri derajat hadis lalu presentasikan hasilnya di depan kelas. F. RANGKUMAN 1. Kitab al-Muwat}t}a’ disusun selama hampir empat puluh tahun. Dan Imam Malik keberatan kalau al-Muwat}t}a’ dijadikan kitab pegangan resmi bagi pemerintah, karena berarti kitab yang memuat pendapat lain harus dibuang. 2. Menurut Imam Malik hadis yang dapat diterima tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an dan harus masyhur atau diamalkan oleh masyarakat Madinah. 3. Kitab karya Imam Bukhari paling terkenal adalah al-Ja>mi’ al-S}ah}i>h}. Kitab ini mulai ditulis ketika ia berada di Makkah dan berakhir ketika ia berada di Madinah. 4. Imam Ahmad ibn Hanbal adalah guru Imam Bukhari dan juga guru Imam Muslim. Imam Bukhari adalah juga guru Imam Muslim. Murid-murid Imam Muslim yang terkenal antara lain adalah Imam al-Tirmidzi, Ibn Khuzaimah, Abdurrahman ibn Abi Hatim. 5. Menurut Imam Abu Daud, hadis yang kurang sahih masih lebih berbobot dibanding pendapat ulama. G. AYO BERLATIH Uraian 1. Sebutkan beberapa kitab yang ditulis oleh Imam Malik ! 2. Sebutkan Kitab-kitab yang ditulis Imam Bukhari ! 3. Sebutkan kitab-kitab Imam al-Tirmidzi ! 4. Tulislah nama lengkap Imam an-Nasai !

174 AL-QUR’AN HADIS KELAS X Nilai Paraf Orangtua Paraf Guru

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 175 PENILAIAN AKHIR TAHUN (PAT) 1. Secara etimologi, kata hadis mempunyai beberapa arti, di antaranya adalah .… A. perintah B. aturan C. dekat D. acara E. bekas 2. Perhatikan definisi berikut! َُ ؤَكْىَالُه َُضَلى َللا َُـَل َُْه َِوَظَلم ََوَؤَفْفَالُه َُوَؤَحْىَالُه Definisi di atas adalah pengertian dari .... A. sunnah B. khabar C. hadis qudsi D. atsar E. hadis 3. Sunnah secara bahasa memiliki beberapa arti. Yang bukan merupakan arti sunnah secara bahasa adalah …. A. cara C. adat E. jalan yang ditempuh B. tradisi D. baru 4. Perhatikan definisi berikut! َ ًَِْكَى ٌْ َوَفَفْل َؤَو َْجَلْش ٍِْش َؤَو َْضِفَت َخَلْل ُِ ت ًََِالىبِي َِّضَلى َللا َُـَل َُْه َِوَظَلم ََم َوُل َمَاؤُزِش ََـَََؤَو َْظِيْرَةَظَىَاء َوَان ًََِكَبْل ََالْبِفْشَت َِؤَم َْبَفْذَهَا. رَال Definisi di atas adalah pengertian dari .... A. sunnah B. khabar C. atsar D. hadis E. al-Qur’an 5. Ahli hadis mendefinisikan khabar adalah …. A. suatu berita yang berasal dari ulama hadis B. suatu berita yang khusus dari sahabat Nabi C. suatu berita yang hanya mengandung hukum D. suatu berita yang diterima dari sahabat dan tabiin E. suatu berita yang diterima dari Nabi Muhammad Saw, sahabat dan tabiin 6. Kata atsar secara etimologi mempunyai arti …. A. do’a C. sesuatu yang baru E. barang bekas B. sisa dari sesuatu D. debu 7. Secara garis besar persamaan antara sunnah dan hadis adalah …. A. keduanya merupakan perbuatan sahabat. B. keduanya merupakan perkataan Nabi Saw, sahabat dan tabiin. C. keduanya merupakan taqrir Nabi Saw, sahabat dan tabiin.. D. keduanya bersumber kepada Nabi Saw. E. keduanya terkadang bersumber dari selain Nabi saw. 8. Menurut ahli Hadis bahwa perbedaan hadis dengan sunnah adalah…. A. hadis bisa disandarkan pada selain Nabi Muhammad saw. B. hadis dan sunnah sama saja. C. sunnah hanya khusus pada Nabi Muhammad saw. D. hadis lebih kuat dari sunnah. E. sunnah lebih luas pengertiannya dari hadis. 9. Berikut ini pernyataan yang tidak benar terkait dengan hadis, sunnah, khabar dan atsar adalah …. A. sunnah lebih luas daripada hadis

176 AL-QUR’AN HADIS KELAS X B. hadis lebih luas daripada sunnah C. khabar juga dinisbahkan kepada sahabat dan tabiin D. khabar lebih umum daripada hadis E. atsar lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan sahabat 10. Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan perbedaan al-Qur’an dengan hadis nabi adalah …. A. al-Qur’an diturunkan dari Allah sedang hadis dari Nabi Muhammad saw. B. al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan maknanya saja, hadis boleh. C. al-Qur’an baik lafaz dan maknanya merupakan mukjizat, hadis bukan mu’jizat D. al-Qur’an diturunkan melalui perantara Jibril, hadis melalui mimpi Nabi. E. membaca al-Qur’an bernilai ibadah dan berpahala, membaca hadis tidak. 11. Dari segi bahasa sanad dapat diartikan .... A. isi hadis C. riwayat E. periwayat B. sandaran D. makna 12. Perhatikan definisi berikut! َِ اَلعش ٍِْم َُا ْلَىْضِل َُبِلَى َا ْلَْتْن Definisi di atas adalah pengertian dari …. A. sanad C. sunnah E. rawi B. matan D. sahih 13. Dari segi bahasa matan dapat diartikan .... A. panggung C. tanah gersang E. periwayat B. silsilah D. makna 14. Perhatikan definisi berikut! َُ ًَِْالْىَالَم َِفَهُى َْهَفْغ َُالْحَذ ًِْث َِالزِي َْرُهِش ََاِظْىَادُه ًََِاهْخَهَى َبِل َُْه َِالعىَذ َُم م Definisi di atas adalah pengertian dari …. A. sunnah C. sanad E. rawi B. matan D. perawi 15. Orang yang memindahkan hadis dari seorang guru kepada orang lain atau membukukannya ke dalam suatu kitab hadis disebut …. A. matan C. sanad E. rawi B. hadis D. sunnah 16. Perhatikan hadis berikut! َِ ٌَُبِالى َُِّاث َْلاْـْمَا ٌََسَظُى ٌَُْللا َِضَل َللا َُـَل َُْه َِوَظَلم ََ: َبِهمَا ٌََكَا ًَِْالْخَعاب َِكَا ًََْـُمَش ََاب ََـوَإِهّمَا َلِيُل َِّامْشِت مَاهَىَي َ(سَوَاه َُالْبُخَاسِي َوَمُعْلِم) Yang termasuk matan hadis di atas adalah …. A.َِ ًَِْالْخَعاب ًََْـُمَش ََاب ـ D.َ ٌَُبِالى َُِّاث َِوَإِهّمَا َلِيُل َِّامْشِت َمَاهَىَي َْلاْـْمَا بِهمَا B.َُ سَوَاهمُعْلِم E.َْ الْبُخَاسِي C.َ ٌََسَظُى ٌَُْللا َِضَل كَاىََّللا َُـَل َُْه َِوَظَلََم

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 177 17. Perhatikan hadis berikut! َِ ٌَِبِلَى َللا َْلاَْـْمَا ًََْـَاجِشَت ََسَضخِي ََللا َُـَنْهَا َؤَن َسَظُى ٌََْللا َِضَلى َللا َُـَل َُْه َِوَظَلم ََكَا ٌَ: َؤَحَب ـَََحَفَالَىؤَدْوَامُهَا وَإِن َْكَل َ(سَوَاه َُالْبُخَاسِيْ) Yang termasuk rawi hadis di atas adalah …. A.َِ ؤَن َسَظُى ٌََْللا D.َُ سَوَاه B.َِ ٌَِبِلَى َللا َْلاَْـْمَا ؤَحَب E.َْ الْبُخَاسِي C.َّ ؤَدْوَامُهَا َوَإِن َْكَل 18. Perhatikan hadis berikut! ًَِْ ًََْـُمَش ََب ٌَََـٌََ: َهُىذ َُغُالمًا َفي َحَجْش َِالىبِي َِّملسو هيلع هللا ىلص, َوواهَذ ًََْذِي َْجَع ِِش َُفِي َالصحْفَت َِفَلَا َََاَبِي َْظَلَمَت ََكَاًا "َ : ًَُِْ"(سواه َمعلم َوالعبراوي َوالبيهلى َ) ًََِووُل َْمِما ًََل غُالم َُظَم َِّللا َووُل َْب َُِم ُِْى Yang termasuk sanad hadis di atas adalah …. A.ََ ًَِْؤَبِي َْظَلَمَت ًََْـُمَش ََاب ـ D.َْ ًا ََغُالم َُظَم َِّللا َووُل B.َِّ هُىذ َُغُالمًا َفي َحَجْش َِالىبِي E. سَوَاه َُمُعْلِم َوَالعبَرَاوِي َْوَاْلبَيْهَلِى C.َُ وواهَذ ًََْذِي َْجَع ِِش 19. Yang dimaksud dengan sunnah qauliyah adalah …. A. komentar dan tanggapan yang diberikan Nabi Muhammad Saw. B. pengawasan syariat Islam yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. C. petunjuk Nabi Muhammad Saw, yang berkaitan dengan syariat Islam D. perkataan Nabi Muhammad Saw, yang berhubungan dengan syariat Islam E. isyarat yang diberikan kepada Nabi Saw, berkaitan dengan syariat Islam 20. Suatu perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah pengertian sunnah .... A. qauliyah C. hammiyah E. fi’liyah B. sifatiyah D. taqririyah 21. Suatu perbuatan yang dikehendaki Nabi saw tetapi belum sempat dikerjakan disebut sunnah …. A. qauliyah C. hammiyah E. sifatiyah B. fi’liyah D. taqririyah 22. Sunnah Nabi yang berupa penetapan Nabi terhadap perbuatan para sahabat yang diketahui Nabi tidak menegornya atau melarangnya bahkan Nabi cenderung mendiamkannya disebut sunnah …. A. qauliyah C. hammiyah E. sifatiyah B. fi’liyah D. taqririyah 23. Perhatikan hadis berikut! ََ ًََْـُشْمَان َـًََْحَفَلم ََالْلُشْؤَن ََوَـَلمَه َُ. َسَوَاه َُا َسَضخِي ََللا َُـَىْه َُؤَن َالىبِي َضَلى َللا َُـَىْه َُكَا ٌَ: َخَيْرُهُم َْملْبُخَاسِي Hadis di atas termasuk sunnah .... A. qauliyah C. hammiyah E. sifatiyah B. fi’liyah D. Taqririyah

178 AL-QUR’AN HADIS KELAS X 24. Perhatikan hadis berikut! َ ضَلىْا َهَمَا َسَؤ ًَْخُمُىْوِي َْؤُضَلِّي َْ. َسَوَاه َُالْبُخَاسِيَ Hadis di atas termasuk sunnah .... A. qauliyah C. hammiyah E. sifatiyah B. fi’liyah D. taqririyah 25. Hadis tentang daging dab (sejenis biawak) termasuk kategori sunnah .... A. sifatiyah C. taqririyah E. qauliyah B. fi’liyah D. hammiyah 26. Perintah untuk melaksanakan puasa sunnah pada tanggal 9 Muharram merupakan isyarat dari sunnah …. A. qauliyah C . taqririyah E . sifatiyah B. fi’liyah D . hammiyah 27. Hadis dari tanggapan panca indera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi yang menurut adat kebiasaan, mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk berdusta adalah pengertian dari …. A. hadis aziz C. hadis mutawatir E. hadis hasan B. hadis masyhur D. hadis gharib 28. Hadis dari yang diriwayatkan oleh banyak orang tetapi jumlahnya tidak sebanyak perawih hadis mutawatir adalah pengertian dari …. A. hadis aziz C. hadis hasan E. hadis mutawatir B. hadis masyhur D. hadis gharib 29. Hadis yang pada salah satu atau setiap tabaqah (tingkatan) rawinya hanya dijumpai dua rawi saja, maka hadis tersebut dikatagorikan sebagai hadis ..... A. masyhur C. sahih E. aziz B. garib D. daif 30. Apabila anda menjumpai sebuah hadis dan setelah anda teliti ternyata hanya diriwayatkan oleh hanya satu orang rawi saja, maka hadis tersebut dikatagorikan sebagai hadis ..... A. garib C. sahih E. masyhur B. aziz D. daif 31. Hadis yang bersambung sanadnya, dan dinukil oleh seorang yang adil dan dabit dari orang yang adil dan dhabit, hingga akhir sanadnya, tanpa ada kejanggalan dan cacat., adalah pengertian dari …. A. hadis sahih C. hadis hasan E. hadis mutawatir B. hadis daif D. hadis gharib 32. Hadis dari yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, kurang kuat ke- dhabit-annya, sanadnya bersambung, tidak mengandung illat dan tidak syaz. adalah pengertian dari …. A. hadis aziz C. hadis hasan E. hadis mutawatir B. hadis masyhur D. hadis gharib 33. Perhatikan definisi berikut! ‚Hadis yang tidak memenuhi syarat diterimanya suatu hadis dikarenakan hilangnya salah satu syarat dari beberapa syarat yang ada‛ A. hadis sahih C. hadis mutawatir E. hadis masyhur B. hadis hasan D. hadis daif

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 179 34. Kata (ْ ِينُسُك) pada QS. al-An’am [6] ayat 162 artinya …. A. salatku C. matiku E. amalanku B. ibadahku D. hidupku 35. Kata (ْ ن يمُخيلِصِي) pada QS. al-Bayyinah: [98] ayat 5 artinya …. A. dengan mulus C. dengan tabah E. dengan ikhlas B. dengan senang D. dengan bersungguh-sunguh 36. Kata (ِْينقُويم ُْمِن ن ْاللَّييل) pada hadis nabi Muhammad saw. artinya melaksanakan …. A. shalat dhuha C. shalat magrib E. shalat dhuhur B. shalat malam D. shalat i’d 37. Dalam Surah al-An’am [6]: 162, Allah memerintahkan kepada manusia agar seluruh amalannya bernilai ibadah, Hal ini bisa dilakukan dengan niat …. A. Harus jelas tujuan ibadah yang dikerjakan B. Harus sesuai dengan kondisinya dan situasi C. Hanya untuk mencari rida Allah D. Untuk mendapat petunjuk yang lurus dari Allah E. Untuk mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat 38. Kandungan surat al-Bayyinah ayat 5 adalah perintah untuk.... A. beramal shaleh B. beribadah atau menyembah Allah C. berpuasa D. berhaji E. berbuat baik kepada orang tua 39. Kandungan yang terdapat QS al-Bayyinah [98] Ayat 5, bahwa ibadah seseorang dapat diterima jika disertai…. A. Ikhlas karena Allah B. Pengulangan yang aktif dan tekun C. Kesungguhan dan tidak putus asa D. Sabar dan tawakkal E. Khusyuk dan tawaduk 40. Makna ikhlas yang paling tepat adalah …. A. Melakukan aktivitas dengan mengharap imbalan B. Melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk orang lain C. Menolong sesama manusia yang paling memerlukan D. Menyelamatkan manusia dari dari kesesatan E. Usaha memurnikan dan menyucikan hati supaya benar-benar terarah kepada Allah

180 AL-QUR’AN HADIS KELAS X DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahid Ramli. Ulumul Qur’an, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002 Ahad Syadali,. Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an 1, CV Pustaka setia abadi, Bandung, 1997 Ahmad Syadali. ‘Ulumul Qur’an I. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997. Al-Alwi Sayyid Muhammad Ibn Sayyid Abbas, Faidl Al-Khobir, Al-Hidayah, Surabaya Al-Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Litera Antar Nusa, Jakarta, 2000 Al-Shalih, Shubhi, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran, Dar al ‘Ilm Li al-Malayin, Beirut, 1977 Al-Shobuny, Mohammad Aly, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an, Alam al-Kitab, Beirut al-Suyuti, Jalaluddin, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Cet.I; Beirut: Muassasah al-Risalah, 2008 Al-Salih, Subhi, Membahas Ilmu – Ilmu Hadis. Pustaka Firdaus: Jakarta, 2000. Al-Zarqany, Muhammad Abd al-Azhim, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Juz I, Isa al- Baby al-Halaby wa Syirkah, Mesir Factur Rahman. Ikhtisar Musthalahul Hadis. Al-Ma’rif, Bandung, 1985 Hasbi ash-Shidiqi, Tengku Muhammad, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2009 Hudhari Bik, Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, (Terj. Mohammad Zuhri, Rajamurah Al-Qanaah), 1980, Ismail, Muhammad Bakri, Dirasat fi Ulum al-Qur’an, Cet. II; Kairo: Dar al-Manar, 1999 Jalal al-Din ‘Abd al- Rahman ibn Abi bakr al-Suyuthi, Tadrib al-RAwi fi Syarh Taqrib an- Nawawi, jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr Kahar Masyur, Pokok-pokok Ulumul Qur’an,Rineka Cipta, Jakarta, 1992 Kamaluddin Marzuki, Ulumul Quran, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1994 Khatib, Al.M. Ajjaj. Al Sunah Qobla Al Tadwin.Dar Al Fikr: Beirut, 1997 Mana’ul Quthan, Pembahasan ilmu Al-Qur’an, PT Rineka cipta, Jakarta, 1993 M. Hasbi Ashshiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu alqur’an dan Tafsir, PT Bulan Bintang, Jakarta, 1992 Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Dana Bakti Primayasa, Yogyakarta, 1998 M. Quraish Shihab, ‚Membumikan‛ Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999) Muhammad Ahmad & M. Mudzakir, Ilmu Hadis (Cet – 10), Pustaka Setia, Bandung, 2000

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 181 Muhammad Ahmad. Ulumul Hadis. Pustaka Setia, Bandung, 2004 Nawir Yuslem. MA, ulumul Hadis, Mutiara sumber widya, Jakarta 2001 Rofi’i, Ahmad & Ahmad Syadali. Ulumul Quran Pustaka Setia, Bandung 1997. Subhi Ash-Shalih, Membahas ilmu-ilmu Al-quran, terjemah Nur Rakhim, Pustaka Firdaus Jakarta, 1993 Suparta, Munzier. Ilmu Hadis, Raja Grapindo: Jakarta, 2002 Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1998 Zarkasih, M.Ag., Pengantar Studi Hadis, Aswaja Presindo, Yogyakarta, 2012

182 AL-QUR’AN HADIS KELAS X GLOSARIUM Ijmal : ringkasan, secara umum ikhtisar, tidak terinci Maknawi : tentang makna, berkaitan dengan makna, yang tersirat, inti, penting Masdar : bentuk asli, bentuk asal, verbal Mukjizat : kejadian luar biasa yang dialami nabi yang di luar jangkauan akal manusia Rida : rela, suka, senag hati Risalah : ringkasan yang dikirimkan, surat edaran, notulensi rapat, keterangan ringkas tentang suatu bahasan ilmu pengetahuan Tarikh : Penanggalan, perhitungan tantang tanggal, penanda waktu Tasrif : Sistem perubahan bentuk kata dalam bahasa arab yang menandakan waktu, pelaku dan, pekerjaan, benda atau keterangan

AL-QUR’AN HADIS KELAS X 183