Tambahkan judul

Created in Canva

COVER

Begitu kaki melangkah melewati gapura bergaya Majapahit di depan Keraton Kasepuhan, ada rasa yang sulit dijelaskan. Bata merah yang menjulang, gapura bersayap seperti candi bentar, dan warna putih yang mendominasi bangunan utama membuat siapa pun sadar sedang berdiri di ambang sesuatu yang jauh lebih tua dari usia mereka sendiri. Dulu, tempat ini bernama Keraton Pakungwati, diambil dari nama Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana yang kemudian menikah dengan Sunan Gunung Jati dan menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon. Yang membuat Kasepuhan istimewa bukan cuma usianya, tapi caranya menyatukan empat budaya sekaligus dalam satu kompleks. Sentuhan Hindu-Majapahit terlihat jelas pada bentuk gapura dan candi bentar, sementara ornamen keramik di dinding menghadirkan jejak Tiongkok, dan seluruh tatanan ruang tetap berpijak pada nilai Islam sebagai kesultanan. Kompleks Siti Hinggil sendiri terdiri dari beberapa bangunan tanpa dinding, salah satunya bernama Malang Semirang yang ditopang enam tiang sebagai lambang rukun iman.

Di antara semua koleksi di Museum Pusaka Kasepuhan, Kereta Kencana Singa Barong selalu jadi pusat perhatian. Kereta ini dipercaya dibuat oleh Panembahan Losari, dengan bentuk yang menggabungkan empat unsur hewan yakni kepala naga, sayap garuda, belalai gajah, dan tubuh singa. Setiap bentuk itu bukan hiasan sembarangan. Kepala naga melambangkan hubungan Cirebon dengan Tiongkok, belalai gajah dengan India, dan sayap garuda dengan Mesir, sementara senjata trisula di bagian depan menyimbolkan cipta, rasa, dan karsa manusia. Kereta ini dahulu ditarik oleh empat kerbau bule dan terakhir digunakan pada tahun 1942, sebelum akhirnya disimpan sebagai pusaka yang hanya dimandikan setiap 1 Syawal.. Berdiri di depan kereta ini, pengunjung sebenarnya sedang menyaksikan bagaimana Cirebon dulu membangun jati dirinya. Bukan dengan menutup diri dari budaya luar, tapi dengan meraciknya menjadi sesuatu yang benar benar baru dan menjadi milik sendiri.

Di antara semua koleksi di Museum Pusaka Kasepuhan, Kereta Kencana Singa Barong selalu jadi pusat perhatian. Kereta ini dipercaya dibuat oleh Panembahan Losari, dengan bentuk yang menggabungkan empat unsur hewan yakni kepala naga, sayap garuda, belalai gajah, dan tubuh singa. Setiap bentuk itu bukan hiasan sembarangan. Kepala naga melambangkan hubungan Cirebon dengan Tiongkok, belalai gajah dengan India, dan sayap garuda dengan Mesir, sementara senjata trisula di bagian depan menyimbolkan cipta, rasa, dan karsa manusia. Kereta ini dahulu ditarik oleh empat kerbau bule dan terakhir digunakan pada tahun 1942, sebelum akhirnya disimpan sebagai pusaka yang hanya dimandikan setiap 1 Syawal.. Berdiri di depan kereta ini, pengunjung sebenarnya sedang menyaksikan bagaimana Cirebon dulu membangun jati dirinya. Bukan dengan menutup diri dari budaya luar, tapi dengan meraciknya menjadi sesuatu yang benar benar baru dan menjadi milik sendiri.

Di antara semua koleksi di Museum Pusaka Kasepuhan, Kereta Kencana Singa Barong selalu jadi pusat perhatian. Kereta ini dipercaya dibuat oleh Panembahan Losari, dengan bentuk yang menggabungkan empat unsur hewan yakni kepala naga, sayap garuda, belalai gajah, dan tubuh singa. Setiap bentuk itu bukan hiasan sembarangan. Kepala naga melambangkan hubungan Cirebon dengan Tiongkok, belalai gajah dengan India, dan sayap garuda dengan Mesir, sementara senjata trisula di bagian depan menyimbolkan cipta, rasa, dan karsa manusia. Kereta ini dahulu ditarik oleh empat kerbau bule dan terakhir digunakan pada tahun 1942, sebelum akhirnya disimpan sebagai pusaka yang hanya dimandikan setiap 1 Syawal.. Berdiri di depan kereta ini, pengunjung sebenarnya sedang menyaksikan bagaimana Cirebon dulu membangun jati dirinya. Bukan dengan menutup diri dari budaya luar, tapi dengan meraciknya menjadi sesuatu yang benar benar baru dan menjadi milik sendiri.