View buku refleksi YSI KPM 26 flipbook.
BUKUBUKU REFLEKSIREFLEKSI ORMAWAORMAWA BUKU REFLEKSI ORMAWA“Hilirisasi Inovasi Serbuk Jati dalam“Hilirisasi Inovasi Serbuk Jati dalam Pengembangan Jamur Lingzhi BesertaPengembangan Jamur Lingzhi Beserta Perluasan Pemasaran Olahan Sawo GunaPerluasan Pemasaran Olahan Sawo Guna Mengakselerasi Wirausaha MandiriMengakselerasi Wirausaha Mandiri Berkelanjutan Desa Dlingo.”Berkelanjutan Desa Dlingo.” “Hilirisasi Inovasi Serbuk Jati dalam Pengembangan Jamur Lingzhi Beserta Perluasan Pemasaran Olahan Sawo Guna Mengakselerasi Wirausaha Mandiri Berkelanjutan Desa Dlingo.”Penyusun: Tim YSI ORMAWA KPM UMY Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2026ysi.kpmumy@gmail.com@ysi.kpmumy
Penulis :Asfar Mursid Pratomo Cykha Vallientyra Khairul Aisyah Rona Chairani Muhammad Fadhilah Al Amiin Ghina Najwa Auliya Rini Tri Sugiarti Muhammad Faiq Muhyiddin Iqbal Risqullah Adha Samudra Ichlasul Amal Marlina Intan Winanti Reza Angga Wardana Desain Cover : Ghoida Salima Khoiriyya Azhar Editor : Ghoida Salima Khoiriyya Azhar Fais Husen Adawiyah Jihandini Inove Altantio AminYSI UKM KPM UMY 2026
Perubahan yang berdampak senantiasa lahir dari keberanian untuk melangkah dan mendengar. Sebagai Tim Pelaksana Program YSI UKM KPM UMY 2026, perjalanan ini adalah wujud nyata dari keyakinan bahwa gagasan muda dan potensi lokal mampu menyatu menciptakan dampak yang bermakna. Buku ini hadir sebagai monumen narasi dan refleksi perjalanan—merekam setiap dinamika, proses belajar, serta mozaik kebersamaan yang kami lalui di tengah masyarakat. Setiap kisahnya mencatat bagaimana ide-ide inovasi sosial perlahan mewujud menjadi aksi nyata melalui kolaborasi yang inklusif. Gagasan keberlanjutan dan kemandirian yang kami usung dalam program Young Sustainable Initiative (YSI) ini menjadi kompas gerakan kami sejak awal. Kami tidak datang membawa solusi instan dari atas panggung, melainkan hadir untuk duduk bersanding dan bergerak bersama. Kami meyakini bahwa potensi terbaik senantiasa tersimpan dalam kearifan lokal masyarakat itu sendiri. Tugas kami hanyalah memantik, menyamai langkah, serta belajar dari ketangguhan warga yang tak henti berinovasi dan memperjuangkan masa depan wilayahnya. Keberhasilan dan pembelajaran berharga selama program ini berjalan tidak lepas dari ketulusan dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan. Kami menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada Pemerintah Desa dan segenap jajaran yang telah memberi kepercayaan serta kemudahan dalam setiap tahap pelaksanaan. Ucapan terima kasih dan rasa bangga khusus kami tujukan kepada seluruh mitra penggerak lokal seperti, PRIMA, GAPOKTAN, KWT, Taruna Tani Nawasena, kelompok masyarakat lainnya, serta deretan relawan yang tak pernah lelah menjadi mesin penggerak utama di lapangan. Energi dan dedikasi merekalah yang membuktikan bahwa ketika pemuda dan masyarakat bersatu, tidak ada tantangan yang tidak bisa kita lalui bersama. KATA PENGANTAR
Profil dan PotensiProfil dan Potensi Desa DlingoDesa Dlingo Profil dan Potensi Desa Dlingo Desa Dlingo terletak di Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah ini membentang di kawasan perbukitan dataran tinggi dengan udara yang sejuk serta pemandangan alam yang asri. Dikelilingi oleh kawasan hutan perhutani, potensi perkebunan sawo, serta sentra industri kreatif kayu dan mebel, Desa Dlingo menyimpan kekayaan alam dan budaya lokal yang melimpah. Karakteristik masyarakatnya yang guyub dan berjiwa gotong royong menjadikan desa ini sebagai ruang tumbuh yang sangat potensial bagi pengembangan inovasi sosial dan kemandirian ekonomi. Di balik keindahan bentang alamnya, Desa Dlingo memiliki potensi besar di sektor pertanian dan budidaya lokal. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah sektor pertanian jamur serta potensi budidaya jamur herbal berkhasiat tinggi seperti jamur lingzhi. Namun, seiring meningkatnya aktivitas budidaya, timbul tantangan baru berupa penumpukan limbah baglog (media tanam) sisa panen. Limbah baglog yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal dapat memicu dampak lingkungan jika tidak dikelola secara bijak. Padahal, limbah baglog jamur lingzhi memiliki kandungan organik yang sangat kaya seperti selulosa dan lignin, yang berpotensi besar untuk diolah kembali (circular economy). Melalui sentuhan inovasi, limbah baglog tersebut dapat ditransformasikan menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti pupuk organik kaya nutrisi hingga media tanam alternatif. Pengolahan sirkular ini tidak hanya mampu menyelesaikan permasalahan lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru berbasis zero-waste bagi warga desa. BAB 1
Selain pemanfaatan limbah, tantangan lain yang dihadapi pelaku UMKM dan kelompok tani lokal di Desa Dlingo adalah keterbatasan akses pasar dan optimalisasi teknologi informasi. Produk-produk unggulan desa selama ini masih dipasarkan secara konvensional, sehingga jangkauan pasar dan nilai jualnya belum maksimal. Oleh karena itu, percepatan perekonomian digital melalui pendampingan e-commerce, strategi pemanduan merek (branding), pemasaran digital (Marketplace & Social Media Marketing), serta literasi keuangan digital menjadi kunci strategis untuk memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat nasional. Hadirnya Program YSI (Young Sustainable Initiative) UKM KPM UMY 2026 berkomitmen untuk hadir bersinergi bersama masyarakat Desa Dlingo. Melalui pendekatan kolaboratif berbasis inovasi sirkular dan digitalisasi UMKM, program ini dirancang untuk mewujudkan Desa Dlingo sebagai ikon desa wirausaha mandiri, hijau, dan berdaya saing tinggi demi kemajuan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Program Sapa Dlingo merupakan kolaborasi Tim Pelaksana Youth Sustainable Initiative (YSI) UKM KPM UMY bersama Pemerintah Kalurahan Dlingo yang bertujuan memperkenalkan enam agenda pemberdayaan, yaitu Sapa Dlingo, Lentera, Limbara, Loka Digitala, Dlingo UMKM & Cultural Festival, serta Dlingo Awards. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 18 Juli 2026, di Balai Kalurahan Dlingo, Kabupaten Bantul, melalui sosialisasi program dan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pemerintah kalurahan, kelompok masyarakat, dan warga setempat. FGD bertujuan menggali potensi, mengidentifikasi permasalahan, serta menghimpun aspirasi masyarakat sebagai dasar penyusunan program yang sesuai dengan kebutuhan desa. Kegiatan ini menghasilkan masukan masyarakat mengenai pengembangan desa, salah satunya terkait kebutuhan sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) bagi produk UMKM yang belum memilikinya. Aspirasi tersebut menjadi bahan pertimbangan tim dalam merancang program pemberdayaan yang lebih tepat sasaran. Selain itu, tim menyediakan layanan konsultasi lanjutan bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai program yang direncanakan. Melalui kegiatan ini, terbangun langkah awal kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah kalurahan, dan masyarakat untuk mendorong Kalurahan Dlingo menjadi desa yang berdaya secara sosial, ekonomi, dan digital. 1. Sapa DlingoRincian KegiatanRincian KegiatanRincian Kegiatan BAB 2
Program LIMBARA (Limbah Bernilai dan Ramah Lingkungan) merupakan program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh Tim Pelaksana Youth Sustainable Initiative (YSI) UKM KPM UMY bersama Kelompok Wanita Tani (KWT), perangkat desa, dan masyarakat Kelurahan Dlingo, Kabupaten Bantul, pada 4 Juli 2026 di halaman BUMDes Kelurahan Dlingo. Program ini bertujuan mengatasi penumpukan limbah baglog jamur Lingzhi setelah masa panen dengan mengolahnya menjadi pupuk kompos organik dan media tanam yang bermanfaat bagi pertanian. Kelompok sasaran kegiatan ini adalah anggota KWT dan masyarakat setempat yang dapat memanfaatkan hasil pengolahan limbah untuk mendukung kegiatan pertanian serta memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam pengelolaan limbah organik. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui praktik pengolahan serbuk baglog sebagai bahan utama kompos dengan penambahan bakteri EM4 Pertanian untuk mempercepat proses fermentasi selama sekitar 14–21 hari. Kegiatan ini menghasilkan pupuk kompos organik yang kemudian dibagikan kepada peserta untuk dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian. Selain menghasilkan produk yang bermanfaat, program LIMBARA meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna. Melalui program ini, masyarakat diharapkan mampu mengolah limbah baglog secara mandiri, mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat penumpukan limbah, serta mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. 2. LIMBARA
Program Loka Digitala merupakan salah satu bagian dari program pemberdayaan dalam rangkaian Sapa Dlingo yang berfokus pada penguatan kapasitas pelaku UMKM di Kalurahan Dlingo, Kabupaten Bantul. Program ini terdiri atas dua kegiatan utama, yaitu Loka Digitala 1 — Digital Marketing UMKM dan Loka Digitala 2 — Legalitas Usaha UMKM. Kegiatan Loka Digitala 1 dilaksanakan untuk membantu pelaku UMKM memasarkan produk secara lebih efektif melalui pemanfaatan teknologi digital, sedangkan Loka Digitala 2 berfokus pada pendampingan legalitas usaha melalui pendaftaran Nomor Induk Berusaha (NIB). Salah satu kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, di Balai Kalurahan Dlingo, Kabupaten Bantul, dengan melibatkan pelaku UMKM dan berkolaborasi dengan DPMPTSP Kabupaten Bantul. Pelaksanaan Loka Digitala 1 mencakup edukasi dasar digital marketing dan branding produk, pengenalan target pasar, pelatihan pemanfaatan media sosial dan marketplace, serta penyusunan strategi promosi dan rencana tindak lanjut. Sementara itu, Loka Digitala 2 meliputi sosialisasi pentingnya legalitas usaha, pendampingan proses pendaftaran NIB, serta penjelasan tahapan dan persyaratan perizinan usaha. Melalui kegiatan ini, sebanyak 17 pelaku UMKM berhasil memperoleh NIB. Program ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pelaku UMKM mengenai pemasaran digital, memperluas jangkauan pasar, memperkuat identitas produk, serta mendorong pelaku usaha untuk memiliki legalitas yang diperlukan dalam mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. 3.LOKA DIGITALA
Lentera adalah singkatan dari program Lingzhi Terpadu untuk Masyarakat Desa dimana pengadaannya dirancang sebagai langkah optimalisasi potensi Desa Dlingo yang telah memiliki 19.000 baglog jamur lingzhi. Dalam pelaksanaan program tersebut, tim pelaksana YSI UKM KPM UMY menggaet dua kelompok utama yang memiliki peranan penting pada budidaya jamur lingzhi di Desa Dlingo, yaitu kelompok Tani Nawasena serta BUMDES (Badan Usahah Milik Desa). Kedua kelompok tersebut dipandang sebagai penggagas budidaya jamur lingzhi di Desa Dlingo dan berhasil memproduksi jamur dengan kualitas unggul, dilihat dari ukuran jamur lingzhi yang telah berhasil dipanen selama ini. Keberhasilan tersebut kemudian menjadi penguat dan bukti nyata potensi desa yang harus dioptimalisasikan. Oleh karenanya, team pelaksana YSI UKM KPM mendorong terbentuknya indikator pengukur guna menilai capaian target yang diharapkan pasca pelaksanaan program Lentera. Terdapat beberapa aspek pada indikator capaian yang diinginkan dalam program lentera yaitu diantaranya; Perluasan produksi jamur lingzhi minimal ke-5 padukuhan di desa Dlingo, sebagai langkah awal optimalisasi produksi jamur lingzhi dengan menargetkan kelompok desa lainya seperti PRIMA, PKK, Gapoktan, KWT, dll. Penargetan tersebut kemudian menjadi dorongan dalam optimalisasi sumber daya manusia (SDM) di Desa Dlingo, Berikutnya ialah dengan mendorong kelompok masyarakat yang aktif pada produksi jamur lingzhi (Kelompok Tani Nawasena dan BUMDES) dapat memiliki alat cetak baglog dan mesin sterilisasi berkapasitas besar sendiri. Pengadaan tersebut diharapkan akan menekan cost biaya produksi masyarakat, mengingat selama ini pengadaan baglog belum sepenuhnya tercukupi apabila diproduksi sendiri yang disebabkan oleh keterbatasan alat, tidak hanya itu pengadaan alat kemudian diharapkan akan membuka peluang kerja baru dan meningkatkan minat masyarakat Desa Dlingo atas potensi (jamur lingzhi) yang telah dimiliki. Pada skema perluasan pasar pula, Bumdes hadir sebagai penjamin pasar para petani jamur lingzhi yang telah berhasil memproduksi jamur lingzhi. Siklus tersebut mendorong perputaran yang sehat dan menguntungkan masyarakat desa secara berkelanjutan dengan menjamin pertumbuhan ekonomi berbasis potensi desa yang sirkular. Penerapan konsep tersebut dieralisasi team pelaksana YSI UKM KPM UMY melalui pendampingan proposal CSR (Corporate Society Responsibility) dimana kelompok masyarakat didorong untuk melakukan pengajuan proposal pengadaan alat cetak baglog dan sterilisasi baglog yang ditujukan kepada perusahaan-perusahaan besar sebagai bentuk dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat desa, terutama Desa Dlingo. 4.LENTERA
Pengadaan Lentera kemudian sejalan dengan paham pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dengan membawa segudang manfaat serta keberdampakan. Dimana Lentera hadir guna menggaet peluang-peluang besar yang melibatkan peranan masyarakat secara langsung. Selain pada aspek indikator pertumbuhan ekonomi sirkular, pelatihan kepenulisan dari team pelaksana YSI UKM KPM UMY kepada masyarakat diharapkan dapat menjadi tambahan skill dan ilmu baru kedepan.
5. Dlingo UMKM & Cultural Festival Program Dlingo UMKM & Cultural Festival merupakan hasil kolaborasi aktif tim pelaksana YSI UMK KPM UMY bersama Pemerintah Desa Dlingo guna memperingati hari jadi Desa Dlingo yang ke-151 Tahun. Sebagaimana namanya, Dalam pelaksanaan Dlingo UMKM & Cultural Festival menyorot dua aspek utama yaitu promosi UMKM Desa Dlingo yang banyak digagas oleh para ibu-ibu KWT, PKK, PRIMA, Desa Prenure, dan kelompok desa lainya serta menyoroti Dlingo Desa Budaya yang memperkenalkan tarian khas Dlingo yaitu Ngambar Arum. Pelaksanaan kegiatan Dlingo UMKM & Cultural Festival dilaksanakan selama 2 hari yaitu pada 22-23 Agustus 2026. Pengadaan kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak baik yang terlibat secara langsung seperti Pemerintah Desa Dlingo dan Sanggar Hastabrata sebagai mitra budaya Tim Pelaksana YSI UKM KPM UMY, hingga secara tidak langsung dari Pemerintah Kabupaten Bantul (Dinas Koperasi, Pariwisata, Kebudayaan, DPMPTSP), Pemerintah DIY (Sibakul Yogyakarta), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan lainya. Program ini kemudian berhasil mempromosikan UMKM Desa melalui skema bazar dan stand gratis dari Tim Pelaksana YSI UKM KPM UMY serta berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Dari aspek budaya sendiri, pengadaan kegiatan kian berhasil mempromosikan budaya khas Dlingo dengan menghadirkan pihak Kraton.
Pun, pada kegiatan tersebut dilaksanakan pula uji coba atau ujian sertifikasi tari bagi anak-anak dari 10 Pedukuhan di Desa Dlingo yang telah berlatih lama di Sanggar Hasta Brata. Pengadaan ujian tersebut dinilai langsung oleh petinggi Sanggar Hasta Brata, dewan juri, hingga pihak Kraton. Pengadaan ujian kompetensi diselingi dengan pengadaan jatilan yang berhasil mengundang semangat serta antusiasme masyarakat. Sikap semangat tersebut tidak hanya berasal dari masyarakat Desa Dlingo, namun kian mengundang masyarakat lainya seperti dari desa tetangga. Kehadiran tersebut kemudian team pelaksana manfaatkan untuk memperkenalkan UMKM dan produk asli Desa Dlingo. 6. Dlingo Award Kegiatan ini dilaksanakan pada akhir keseluruhan program pemberdayaan dari Tim Pelaksana YSI UKM KPM UMY. Pengadaan program Dlingo Award diharapkan sebagai wadah dan ruang apresiasi bersama yang diberikan oleh tim Pelaksana kepada seluruh mitra pemberdayaan baik internal maupun eksternal. Kegiatan dilaksanakan dengan sesi non-formal yang berlandaskan nilai keluarga yang telah berhasil dibangun selama kegiatan pemberdayaan. Pelaksana Dlingo Award juga dilaksanakan berbarengan dengan malam perpisahan Tim Pelaksana YSI UKM KPM UMY yang menyelipkan sesi salam- salaman di akhir kegiatan. Dlingo Award semula dibuka oleh MC kegiatan dengan mempersilahkan Ketua Pelaksana YSI, Bapak Carig, dan Bapak Lurah Dlingo untuk memberikan sambutan hingga pesan dan kesan selama Pelaksana pemberdayaan YSI UKM KPM di desa Dlingo. Berikutnya, Dlingo Award dimeriahkan dengan penampilan tim Pelaksana yang menyajikan tarian India, penampilan tersebut sukses menghibur para tamu undangan yang hadir dalam membersamai kegiatan. Bukan hanya itu, perwakilan ibu-ibu juga turut menyumbangkan suara emas yang kian menghibur para tamu undangan dan Tim Pelaksana.
Keseluruhan kegiatan ini terlaksana dengan hikmat dan berjalan dengan lancar. Pembacaan-pembacaan nominasi memuat beberapa kategori baik secara apresiasi, voting, dan penilaian berbasis indikator yang telah dirancang oleh tim Pelaksana. Diantaranya ialah kategori mitra pemberdayaan masyarakat yang diberikan langsung kepada Pemerintah Desa Dlingo, kategori mitra pemberdayaan ekonomi diberikan kepada BUMDES, kemitraan pemberdayaan budaya diberikan kepada Sanggar Hastra Batra. Bukan hanya kategori juga diberikan kepada individu teraktif, terinovatif, dan terinspiratif.
Program-program ini menjadi wadah bagi tim YSI untuk mengembangkan potensi, mengasah keterampilan, serta meningkatkan kemampuan diri. Setiap tantangan dan permasalahan yang dihadapi selama pelaksanaan program menjadi pembelajaran yang memberikan pengalaman dan pelajaran hidup yang berharga. Pengalaman tersebut tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk pola pikir, melatih kemampuan penyelesaian masalah, dan mengembangkan keterampilan yang tidak pernah didapat di perkuliahan. Kemampuan Komunikasi: berkomunikasi dengan berbagai pihak, antara lain sesama anggota, mitra, bahkan masyarakat mengajarkan kami bagaimana cara menyampaikan ide dan pendapat dengan jelas, menggunakan bahasa yang santun, serta menyesuaikan cara berkomunikasi dengan situasi yang dihadapi. Kami juga menjadi lebih paham tentang pentingnya menjadi pendengar yang baik, menerima berbagai kritik dan saran, serta mengharagai perbedaan pendapat. melalui program ini kami menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan gagasan dan membangun hubungan baik dengan orang lain. Kemampuan Kepemimpinan: Kami belajar menjadi pemimpin yang mampu mengarahkan, membimbing, dan memberikan contoh yang baik. Melalui pelaksanaan program, kami belajar bagaimana cara mengambil keputusan, membagi tanggung jawab, dan menjaga semangat serta kekompakan tim ketika mendapatkan masalah. kami juga belajar bahwa menjadi pemimpin bukan hanya menyuruh, tetapi juga tentang mendengarkan pendapat, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.1. Keterampilan Tim Pelaksana YSI UKM KPM UMY Refleksi Dan DampakRefleksi Dan DampakRefleksi Dan Dampak BAB 3
Kemampuan Kerja Sama Tim ; Keberhasilan suatu program tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada kerja sama tim. Dalam pelaksanaan program, kami dilatih untuk saling membantu, berbagi tugas, menghargai pendapat, dan menyatukan berbagai macam ide. Kami juga beajar mengahdapi karakter orang lain, menyelasaikan kesalahpahaman, dan menjaga komitmen terhadap tanggung jawab masing masing Kemampuan pemecahan masalah : Program ini menjadi pendorong kami untuk berpikir kritis, mengidentifikasi penyebab masalah, mempertimbangkan berbagai macam alternatif, dan menentukan solusi yang paling cocok terhadapa masalah yang dialami. kami belajar untuk tidak terbru buru dalam pengambilan keputusan serta memhami pentingnya diskusi dan mengevaluasi setiap tindakan. program ini membantu kai menjadi pribadi yang lebih tangguh, kreatif, dan mampu beradaptasi saat menghadapi kondisi yang tidak sesuai harapan. Kemampuan Manajemen : Kami diajarkan bagaimana cara melaksanakan program dengan sistematis, dimulai dari merancang ide kegiatan, menetapkan tujuan, mendistribusikan tugas, mengatur jadwal, hingga melakukan penilaian setelah program berakhir. Selama proses tersebut, kami mempelajari cara menetapkan prioritas dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Kami juga belajar bahwa pelaksanaan program tidak selalu sesuai rencana, sehingga diperlukan adaptasi dan kesiapan untuk melakukan perubahan. Kemampuan ini mengajarkan kita untuk beroperasi dengan lebih teratur, disiplin, dan bertanggung jawab, baik dalam kegiatan organisasi maupun dalam kehidupan akademik.
Berikut adalah hasil dari program YSI yang telah dijalankan yaitu LENTERA yang berupa pengembangan jamur Lingzhi menjadi Kopi Lingzhi bersama Taruna Tani Nawasena. Pengembangan ini memberikan pengalaman kepada masyarakat untuk melihat komoditas Lingzhi tidak hanya sebagai hasil budidaya, tetapi juga sebagai bahan yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Bagi kami, proses ini menjadi pembelajaran bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi dapat dimulai dengan melihat potensi yang sudah ada dari sudut pandang yang berbeda. Selanjutnya, melalui Program LIMBARA, sisa plastik baglog diarahkan untuk diolah menggunakan mesin penyulingan sederhana menjadi petasol. Program ini menjadi pengalaman penting dalam melihat permasalahan limbah sebagai peluang untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai guna. Selain plastik, sisa media baglog juga dimanfaatkan menjadi media tanam dan pupuk kompos. Hal tersebut memperlihatkan bahwa proses budidaya Lingzhi dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan melalui pemanfaatan hasil samping. Kemudian pada Lokadigitala 1 menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk mengenal pasar digital dan pemanfaatan AI dalam mendukung kegiatan usaha. Sementara itu, Lokadigitala 2 berfokus pada pendampingan pembuatan NIB sebagai upaya memperkuat legalitas usaha. Kedua kegiatan tersebut memberikan pemahaman kepada kami bahwa pengembangan UMKM tidak hanya membutuhkan produk yang baik, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan teknologi dan memiliki dasar administrasi usaha yang lebih tertata. Rangkaian tersebut kemudian diperkuat melalui Dlingo UMKM & Cultural Festival yang dilaksanakan bersama pemerintah desa dalam perayaan HUT Desa. Penyediaan stand bagi UMKM memberikan ruang bagi masyarakat untuk menjual dan memperkenalkan produknya secara langsung. Bagi kami, festival ini menjadi gambaran bahwa pengembangan produk, peningkatan kapasitas, dan pemasaran dapat saling terhubung sehingga inovasi yang dihasilkan memiliki ruang untuk dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat.2. Hasil Produk, Inovasi, dan Kualitas
Dampak YSI terlihat dari adanya upaya peningkatan nilai tambah terhadap potensi lokal Desa Dlingo. Pengembangan Kopi Lingzhi memberikan alternatif bagi Taruna Tani Nawasena untuk mengembangkan hasil budidaya menjadi produk olahan. Masyarakat memperoleh pengalaman baru dalam memahami bahwa sebuah komoditas dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih besar ketika dikembangkan melalui proses inovasi dan pengolahan. Pada aspek lingkungan, Program LIMBARA serta pemanfaatan sisa media baglog memberikan pendekatan baru terhadap pengelolaan limbah. Plastik baglog diarahkan untuk diproses menjadi petasol, sedangkan sisa media baglog dimanfaatkan sebagai media tanam dan pupuk kompos. Bagi kami, hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat dapat berjalan berdampingan dengan upaya mengurangi dan memanfaatkan kembali limbah yang dihasilkan. Dampak lainnya terlihat pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM melalui Lokadigitala 1 dan Lokadigitala 2. Pengetahuan mengenai pasar digital dan AI memberikan wawasan baru dalam menghadapi perkembangan teknologi, sedangkan pendampingan pembuatan NIB membantu masyarakat memahami pentingnya legalitas usaha. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesiapan UMKM dalam mengembangkan usaha secara lebih tertata dan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan bisnis. Secara keseluruhan, YSI memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, Taruna Tani Nawasena, pelaku UMKM, dan pemerintah Desa Dlingo. Dlingo UMKM & Cultural Festival menjadi ruang yang mempertemukan berbagai hasil program dengan masyarakat melalui aktivitas pemasaran dan kebudayaan. Dari seluruh rangkaian tersebut, kami belajar bahwa dampak yang paling penting bukan hanya produk atau kegiatan yang berhasil dilaksanakan, tetapi tumbuhnya pengetahuan, pengalaman, dan kepercayaan masyarakat untuk terus mengembangkan potensi Desa Dlingo secara mandiri dan berkelanjutan.3.Dampak Nyata bagi Warga dan Desa
@ysi.kpmumyPeneliti Mudakpm@umy.ac.idysi.kpmumy@gmail.com